• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pendekatan MSDM

Dalam dokumen MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (Halaman 21-26)

Manajemen SDM biasa melakukan tiga metode pende-katan, di antaranya adalah:

1. Pendekatan mekanis, 2. Pendekatan paternalis, dan 3. Pendekatan sistem sosial.

Pengadaan

Pengembangan

Pengkompensasian

Pengintegrasian

Pemeliharaan

PHK

Perencanaan, Pengorganisasian,

Pengarahan dan Pengevaluasian

Manajer SDM

Ketiga metode pendekatan tersebut tidak ada yang sempurna, kesemuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Penggunaan pendekatan tersebut harus memperhatikan permasalahan perusahaan secara seksama kemudian memilih metode yang tepat dalam mengatasi permasalahan perusahaan secara efektif. Pengalaman manajer dalam penggunaan metode pendekatan di waktu yang lampau, dapat dijadikan dasar dalam pemilihan dan pengaplikasian pendekatan di masa yang akan datang.

1. Pendekatan Mekanis

Pendekatan mekanis atau biasa disebut mekanisasi meru-pakan penggantian fungsi tenaga kerja dari manusia dengan te-naga mesin dalam menyelesaikan pekerjaan. Pendekatan ini biasa-nya dengan pertimbangan efektivitas, ekonomis, dan produk-tivitas yang lebih tinggi. Pendekatan mekanis menekankan analisis pada spesialisasi, standarisasi, produktivitas dan memandang ma-nusia sama dengan mesin. Spesialisasi merujuk pada pekerjaan mesin yang spesifik pada pekerjaan tertentu, standarisasi merujuk pada pekerjaan mesin lebih seragam atau terstandar dibanding-kan manusia, produktivitas merujuk pada mesin yang dapat ber-produksi lebih banyak dibandingkan manusia. Sehingga manajer selalu membandingkan antara manusia dengan mesin adalah sama, sehingga dalam pemilihan tenaga kerja manusia atau tenaga kerja mesin, manajer tinggal memperhatikan spesifikasi peker-jaan, kemudian mempertimbangkan penggunaan manusia atau mesin.

Kelebihan pendekatan ini adalah produksi yang sangat terstandar karena pekerjaan mesin lebih terstandar dibandingkan pekerjaan manusia. kemudian produktivitas yang tinggi karena

penggunaan mesin dapat dijalankan 24 jam per hari, tanpa menga-lami resitensi atau penolakan dari mesin. Sedangkan kelehannya adalah pekerjaan membosankan untuk para pekerja ma-nusia. Kemudian kreativitas menurun dan kebanggan karyawan dalam bekerjapun juga menurun.

Penetapan standarisasi mengarahkan manajer menga-lihkan tenaga kerja manusia ke tenaga kerja mesin. Dimana antara satu komponen dengan lainnya dapat dipertukarkan satu dengan lainnya, serta mesin dapat bekerja spesifik pada pekerjaan ter-tentu saja.

Standarisasi juga dapat diterapkan secara mendalam di-mana jika sebuah suku cadang rusak dapat digantikan dan penggantian ini dapat dikendalikan sepenuhnya. Contohnya busi yang rusak, dimana busi ini spesialisasinya untuk menyambung api yang telah distandarisasi. Dimana jika busi tersebut telah rusak dapat digantikan dengan yang baru yang tidak akan menimbulkan masalah karena busi yang lama dan baru telah terstandar fung-sinya dan busi ini dapat dikuasai sepenuhnya.

Pengaplikasian penggantian busi tersebut tidak dapat diterapkan kepada karyawan dikarenakan karyawan tidak dapat sepenuhnya dikuasai oleh manajer disebabkan karyawan memi-liki perasaan, pikiran, keinginan, harga diri dan sejenis, yang men-jadi resistensi buat manajer.

Manajer tidak bisa semaunya memberhentikan karyawan kemudian mengganti dengan karyawan baru, sepeti penggantian suku cadang busi pada mesin. Hal ini disebabkan masalah penghentian karyawan (PHK) harus mengacu pada kontrak kerja, perjanjian kerja bersama, dan undang-undang ketenagakerjaan yang berlaku.

Pendekatan mekanis dapat menimbulkan berbagai masalah, di antaranya adalah:

a. Pengangguran teknologis b. Keamanan ekonomis c. Organisasi buruh

d. Kebanggaan dalam pekerjaan 2. Pendekatan Paternalistis

Pendekatan paternalistis merupakan pendekatan keba-pakan, dimana manajer berperilaku sebagai seorang ayah dalam mengarahkan bawahannya. Bawahan memperoleh perlakuan yang sangat baik, dimana fasilitas diberikan tanpa pertimbangan matang atas urgensi dari fasilitas tersebut. Cotohnya: karyawan diberikan pinjaman uang, pendirian toko karyawan yang me-mungkinkan karyawan dapat membeli secara kredit di toko tersebut.

Secara garis besar, pendekatan paternalistis merupakan perlakuan manajer ke karyawan selayaknya perlakuan ayah ke anaknya. Kelemahan pendekatan paternalistis membuat kar-yawan menjadi manja, yang dapat menurunkan produktivitasnya karyawan, serta menurunkan keuntungan perusahaan, dan ke-langsungan hidup perusahaan dapat terancam. Pendekatan ini kemudian menstimulus munculnya pendekatan sistem sosial.

3. Pendekatan Sistem Sosial

Pendekatan sistem sosial merupakan pendekatan yang memandang bahwa perusahaan merupakan organisasi yang memiliki sistem yang kompleks, dan organisasi yang berjalan di lingkungan yang kompleks juga.

Manajer harus mengetahui bahwa tujuan perusahaan akan tercapai secara maksimal jika terjalin hubungan yang harmonis antara seluruh atasan dan bawahan, serta terjalin kerjasama

antara sesama karyawan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa seluruh komponen perusahaan saling bergantung antara satu dengan yang lainnya. Sehingga interaksi dan kerjasama antara seluruh anggota dalam perusahaan sangatlah penting, baik itu pemilik, para manajer dan para staf.

Tiap karyawan dalam struktur perusahaan dimanapun posisinya baik di atas maupun yang paling bawah memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Dimana dengan peran dan fungsi yang spesifik ini membuat tujuan perusahaan dapat tercapai secara maksimal. Ego manusia yang sering beranggapan masing-masing memiliki kontribusi yang paling penting harus dimi-nimalis.

Perusahaan adalah suatu organisasi yang berjalan melalui bermacam unsur atau komponen yang tiap komponen memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Dimana tiap komponen akan saling menunjang dengan komponen yang lain, sesuai peran dan fungsinya masing-masing. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap komponen memiliki peran yang sangat penting bagi perusahaan, sehingga jika ada komponen yang tidak berfungsi dapat mengakibatkan tidak tercapainya tujuan perusahaan secara maksimal.

Sistem operasi dalam perusahaan secara umum di bagi ke dalam tiga bagian yaitu masukan, proses, dan keluaran, yang me-rupakan satu kesatuan yang saling berkaitan satu dengan lainnya, dan tidak dapat berdiri sendiri.

Pendekatan sistem sosial pada intinya berlandaskan pada interaksi yang harmonis, saling membutuhkan, saling melengkapi, saling menghargai, sehingga menjadi suatu sistem sosial yang seutuhnya, dikarenakan seluruh komponen sosial berfungsi sesuai dengan peran masing-masing.

Pendekatan sistem sosial dapat berjalan dengan baik, dengan indikator interaksi vertikal dan horisontal berjalan mulus, serta produktivitas dan loyalitas karyawan yang meningkat, dapat dicapai melalui komunikasi baik itu formal maupun informal di dalam organisasi.

Gambar 4. Pendekatan Sistem Sosial

Dalam dokumen MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (Halaman 21-26)

Dokumen terkait