• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode/Pendekatan

Dalam dokumen Penyelenggaraan Sektor Publik (Halaman 85-97)

Pendekatan normatif dipilih untuk menganalisis kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan pada kebebasan berpendapat yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pada dasarnya, pendekatan ini menekankan pada tindakan apa

73

yang seharusnya dilakukan, mengusulkan arah tindakan yang dapat menjadi solusi masalah kebijakan, dan menghasilkan informasi berupa rekomendasi. Oleh karena itu, tulisan analisis kebijakan ini lebih bersifat deskriptif-preskriptif (Dunn, 2000).

Dalam konteks studi kebijakan ini, pendekatan normatif akan membantu mengelaborasi celah apa saja yang timbul dari UU 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Celah tersebut lantas dikawinkan dengan fenomena interaksi daring yang diambil dari catatan kasus defamasi menggunakan UU ITE dan tren relasi kuasa yang ada antara sejumlah pelapor dan terlapor pada kasus-kasus tersebut. Gambaran kondisi kebebasan berpendapat dari kasus-kasus tersebut lalu dihadapkan dengan perlindungan yang seharusnya disediakan dalam UU 9/1998. Dari perjalanan tersebut, rekomendasi lantas ditarik dan dilampirkan sebagai satu opsi yang dapat dipertimbangkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan: mulai dari pemerintah, pembuat undang-undang di parlemen, penyedia layanan internet, hingga kelompok masyarakat sipil.

Tinjauan Pustaka

1. Kebebasan Berpendapat

Konsep yang sangat mendasar yang ingin disampaikan dalam penelitian ini adalah kebebasan berpendapat. Amnesty Internasional Inggris Raya (2020) mendefinisikan kebebasan berpendapat sebagai “hak menyebarkan informasi dan ide dalam bentuk apapun, dengan cara apapun.” Ketika ditarik lebih umum, kebebasan berpendapat ini sejatinya ialah satu dari beberapa bentuk kebebasan berekspresi. Pembicaraan yang berkaitan dengan subyek kebebasan berekspresi sendiri sudah berlangsung lama, dan berkaitan erat dengan penegakan hukum.

Wolff (dalam Wellington, 1979) memposisikan dirinya pada kebebasan berekspresi sebagai berikut:

[I]t is not to assist the advance of knowledge that free debate is needed. Rather, it is in order to guarantee that every legitimate interest shall make itself known and felt in the political process. Every party to the decisions of the government-which is to say, every citizen-must have

74

the opportunity to argue his case and bring his pressure to bear. A voice silenced is a grievance unredressed or an interest denied a measure of satisfaction. Justice, not truth, is the ideal served by liberty of speech. Kalimat terakhir kutipan Wolff di atas menekankan dengan sangat jelas bagaimana keadilan menjadi orientasi utama dari eksistensi kebebasan berpendapat. Hubungan erat antara kebebasan berekspresi atau berpendapat dengan keadilan juga ditegaskan oleh Cohen (1993), yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang sama antara nilai-nilai kebebasan berekspresi dengan “penemuan kebenaran, ekspresi diri individu, demokrasi yang berfungsi dengan baik, dan keseimbangan stabilitas sosial dan perubahan sosial.” Oleh karena itu, kita harus setuju dengan Carlsson dan Weibull (2018) yang berpandangan bahwa kebebasan berekspresi tidak hanya “masalah hukum, tetapi juga masalah etika dan moralitas.” Mereka juga berpendapat bahwa kebebasan berekspresi “menyangkut persamaan hak asasi manusia yang hakiki, sebagaimana ditetapkan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB,” (Carlsson & Weibull, 2018).

Kebebasan berekspresi saat ini juga dipengaruhi oleh perkembangan internet. Seorang sejarawan dari Columbia University, Richard R. John (2019) menghadirkan gambaran tentang tantangan atas kebebasan berekspresi dalam era digital. Dia menyatakan bahwa upaya untuk membuat kebebasan berekspresi dipertahankan sebagai bagian esensial dari hak dan pelindung dari kebebasan adalah dengan merancang norma “untuk memulihkan batas spasial dan batas waktu yang oleh rezim peraturan saat ini telah mendorong penyedia platform sosial media untuk melangkahi.” Meskipun intervensi oleh penyedia layanan internet seringkali juga disebabkan oleh tekanan yang mereka dapatkan dari negara, namun harus diakui bahwa semua kegiatan terkait kebebasan berekspresi tidaklah bergantung pada medium yang digunakan oleh masyarakat (Momen, 2020), termasuk media sosial yang disediakan oleh penyedia layanan internet. Kondisi tersebut kemudian membuat korelasi antara penyampaian pendapat dan ruang digital menjadi sangat erat.

2. Ruang Digital

Dalam membahas kebebasan berpendapat di era digital, studi ini juga merujuk ke definisi ruang digital sebagai lokus dalam memperbincangkan

75

soal hak berekspresi. Trevor G. Smith (2017), dosen School of Journalism and Communication di Carleton University, Kanada, mendefinisikan ruang daring sebagai pengalaman interaksi baru yang ditandai dengan perbedaan dari bentuk ruang luring yang tradisional. Ruang baru tersebut kemudian membuka metode baru untuk terlibat dalam interaksi. Interaksi tersebut, mengacu pada Smith, juga dapat memunculkan cara-cara baru dalam berpolitik yang dapat memicu perdebatan terkait dengan ranah politik.

Segala kendala terkait keterbatasan ruang dan waktu fisik yang pernah menghambat pembicaraan tentang ranah politik dalam bentuk tradisional kemudian hilang. Oleh karena itu, ruang daring dapat menentang argumen yang berusaha membatasi akses ke ranah politik untuk alasan-alasan yang diduga bersifat praktis. Hal ini disebabkan karena ruang ini memberikan lebih banyak kemudahan untuk dibuat, dibentuk, dan dikembangkan (Smith, 2017).

Hasil dan Pembahasan

1. Interaksi Daring dan Relasi Kuasa

Kehadiran ruang digital yang semula dianggap dapat membantu proses demokratisasi kini mengalami pergeseran. Penggunaannya yang kian luas, bahkan oleh otoritas seperti negara, akhirnya menghadirkan banyak titik singgung baru dari pemanfaatan internet. Dalam konteks Indonesia, wajah yang demikian itu sudah semakin familiar. Hal ini, salah satunya, juga disebabkan karena masyarakat yang mengoptimalisasi penggunaan teknologi sebagai saluran untuk menyampaikan pendapat atau kritik kian sering berbenturan dengan penalisasi atau kriminalisasi. Bahkan tak jarang, aktor-aktor yang berasal dari negaralah yang justru mengisi daftar panjang pelapor pada penyampaian kritik masyarakat melalui platform daring.

Parahnya, sektor pers yang kerja-kerjanya merupakan bentuk perwujudan dari Pasal 19 Universal Declaration of Human Rights (Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Hak Asasi Manusia/Piagam PBB tentang HAM) dan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers (UU Pers) saja masih ternodai oleh praktik kriminalisasi dan penalisasi. Padahal, Pasal 19 Piagam PBB tentang HAM dengan jelas menyatakan bahwa: “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hak ini termasuk

76

kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah”. Sementara itu, Pasal 6 UU Pers juga menekankan bahwa satu dari banyak peranan penting pers adalah mengembangkan pendapat umum (huruf c) dan juga mengawasi, mengkritik, mengoreksi, serta memberi saran pada hal yang berkaitan dengan kepentingan umum (huruf d).

Namun, catatan tahunan dari Lembaga Bantuan Hukum Pers/LBH Pers (2020) masih memperlihatkan adanya 12 serangan digital selama tahun 2020 yang dialami oleh jurnalis saat menjalankan tugasnya. Kasus publikasi informasi pribadi tanpa persetujuan (doxing) serta peretasan adalah dua kasus serangan siber tertinggi yang dialami oleh jurnalis sepanjang tahun 2020, yaitu sebanyak tujuh kasus untuk doxing dan lima kasus untuk peretasan. Selain itu, terdapat dua kasus ancaman secara daring, serta satu kasus untuk masing-masing kejahatan daring seperti penolakan layanan secara terdistribusi (distributed denial-of-service/ddos), bullying, fitnah atau duplikasi, serta pelecehan daring. Dua isu sepanjang tahun 2020 yang menurut LBH Pers menjadi faktor utama terjadinya kekerasan pada jurnalis adalah pengesahan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja dan penanganan COVID-19.

Ketika ditarik secara lebih umum, rekaman dari Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Dittipidsiber Bareskrim Polri) yang diolah oleh Southeast Asia Freedom of Expression Network/ SAFEnet (2021) memperlihatkan sebanyak 15.056 laporan telah diselidiki oleh Dittipidsiber dalam kurun waktu hampir tiga tahun, sejak bulan Mei 2017 hingga tahun 2020 (lihat Grafik 5.1). Dari total laporan yang diterima Dittipidsiber, sebanyak 5.064 laporan (32 persen) berkaitan dengan pasal penghinaan dan pencemaran nama baik. Diikuti juga dengan 1.169 laporan (7 persen) yang berkaitan dengan ujaran kebencian.

77

Grafik 5.1 Laporan Diselidiki Dittipidsiber Terbanyak

Sumber: SAFEnet, 2021.

Ketimpangan terpampang nyata pada catatan kasus ini. Jika menyelaraskan kalangan terlapor dan pelapor, akan terlihat secara nyata adanya perbedaan latar belakang sosial antara dua kalangan itu. Dalam laporan yang sama, SAFEnet memperlihatkan bahwa sebanyak 69 terlapor (37,5 persen) berasal dari kelompok masyarakat kritis (lihat Grafik 2). Kelompok-kelompok tersebut diantaranya seperti aktivis (24 terlapor), jurnalis atau media (19 terlapor), pengajar (19 terlapor), serta buruh (7 terlapor). Belum lagi, terdapat juga 103 terlapor (56 persen) dalam kurun waktu Mei 2017 hingga tahun 2020 yang berasal dari kalangan warga biasa.

Sementara, kalangan pelapor sepanjang tahun 2017 hingga 2020 yang berasal dari kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kelebihan ataupun kekuasaan mencapai 73,92 persen. Kelompok-kelompok tersebut terdiri dari pejabat publik (90 pelapor/47,87 persen), kalangan profesional (40 pelapor/21,27 persen), dan juga kalangan berpunya (9 pelapor/4,78 persen). Secara lebih rinci, catatan pelapor dan terlapor dapat dilihat pada Grafik 5.2 dan 5.3 di bawah.

78

Grafik 5.2 Profesi Dilaporkan

Sumber: SAFEnet, 2021.

Grafik 5.3. Profesi Melaporkan

Sumber: SAFEnet, 2021.

2. Tenggelamnya Jaminan Berpendapat di Ruang Digital

Ketika kita merujuk pada UU 9/1998 yang mengatur tentang kemerdekaan berpendapat di muka umum, nampak jelas ada lokus yang hilang serta tertinggal dari perkembangan zaman. Padahal, UU 9/1998 dapat diposisikan

79

sebagai peraturan yang mampu menghadirkan perlindungan bagi kebebasan berpendapat. Data-data pada bagian tulisan sebelumnya telah menunjukkan bahwa keberadaan UU ITE sebagai ‘pengatur utama’ kebebasan berpendapat di ruang digital malah menimbulkan kriminalisasi dan penalisasi pada upaya-upaya kritis. Misalnya, melalui pasal defamasi yang bersifat multi-interpretasi. Permasalahan ini tidak serta merta muncul karena keberadaan UU ITE sendiri, namun disebabkan oleh kesenjangan pengetahuan yang cukup besar dalam memahami konteks-konteks kebebasan berpendapat di ruang digital. Disparitas pengetahuan tersebut tidak hanya ditemui pada kalangan awam, yang tidak memahami apa yang limitasi mereka saat berselancar di dunia maya. Kelompok seperti aparat kepolisian dan pejabat publik, juga masih memiliki permasalahan dalam menginterpretasikan pasal-pasal bermasalah UU ITE terkait ekspresi-ekspresi daring. Padahal, pihak kepolisian sebagai aparat penegak hukum serta para pejabat publik seringkali menjadi pihak yang melaporkan tindak ujaran kebencian yang terdapat pada Pasal 28 ayat (2) UU ITE. Pasal ini dianggap menjadi salah satu pasal karet yang akan terus menimbulkan kasus-kasus baru pelaporan tindak pidana yang sebenarnya malah membatasi kebebasan berpendapat di ruang digital.

Oleh karena itu, perluasan konteks kebebasan berpendapat di ruang digital melalui perbaikan UU 9/1998 sangat diperlukan, sehingga ruang lingkup dalam UU ITE dapat kembali mengurusi persoalan transaksi elektronik saja. Perluasan konteks ini berguna untuk menyelesaikan persoalan kesenjangan pengetahuan antara kelompok masyarakat yang berwawasan dan yang awam. Terlebih mengingat bahwa pejabat publik sebagai pelaksana kebijakan dan aparat kepolisian sebagai penegak hukum juga terlihat awam dan sering menafsirkan secara bebas aturan UU ITE, khususnya pada Pasal 27 ayat (3) mengenai defamasi dan Pasal 28 ayat (2) mengenai hate speech.

Sementara, UU 9/1998 yang telah berusia lebih dari dua dekade belum juga diperbaharui, sehingga prinsip-prinsip kebebasan berpendapat di muka umum masih terbatas pada bentuk-bentuk fisik semata. Padahal, Pasal 5 UU 9/1998 telah menyebutkan bahwa setiap warga negara Indonesia dalam menyatakan pendapat memiliki hak untuk: a. mengeluarkan pikiran secara bebas; serta b. memperoleh perlindungan hukum. Belum lagi, Pasal 7 regulasi ini juga menyebutkan bahwa aparatur pemerintah berkewajiban dan bertanggung

80

jawab salah satunya untuk melindungi hak asasi manusia dan menghargai prinsip praduga tak bersalah. Disayangkan, hak menyatakan pendapat serta kewajiban aparatur negara untuk melindunginya di dalam UU 9/1998 masih terbatas pada bentuk-bentuk seperti unjuk rasa atau demonstrasi, pawai, rapat umum, dan/atau mimbar bebas.

Tulisan ini kemudian berpendapat bahwa untuk menjamin kemerdekaan menyampaikan pendapat di dunia digital diperlukan penambahan terhadap bentuk-bentuk cara menyampaikan pendapat pada Pasal 9 UU 9/1998. Penambahan bentuk ini tentunya menghadirkan konsekuensi logis berupa pengaturan hak-haknya. Dengan demikian, dalam UU 9/1998, perlu diatur pula batasan berupa pengaturan yang rigid mengenai pelanggaran hak orang lain pada saat menyampaikan pendapat di ruang digital. Harus ada penjelasan mengenai bentuk-bentuk dan batas-batas penghinaan, sehingga tidak akan ada multi interpretasi pada pasal-pasal pelanggaran seperti yang telah lama terjadi. Hal ini juga berlaku pada pengaturan mengenai penghasutan berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Dengan adanya penormaan yang jelas dalam UU 9/1998, diharapkan tidak ada lagi kriminalisasi dengan tuduhan penyebaran ujaran kebencian, selain untuk mencegah penghasutan berbasis SARA yang sudah diperbaiki limitasi bentuk-bentuk pelanggarannya.

Penambahan bentuk penyampaian pendapat secara daring dan pendefinisian ulang mengenai batasan-batasannya pada UU 9/1998 diperlukan untuk mencegah adanya kesenjangan pengetahuan, pemahaman, penginterpretasian, serta mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Penyelesaian kasus-kasus terkait penyampaian pendapat pun harus mengedepankan restorative justice dan asas praduga tak bersalah. Selain itu, mengingat penghinaan dan pencemaran seharusnya berdasarkan delik aduan, aparat tidak perlu melakukan razia seperti yang saat ini dilakukan secara luring dan daring. Kemudian, Pasal 18 UU 9/1998 juga harus mengatur bentuk-bentuk kekerasan atau ancaman kekerasan dalam menghalang-halangi hak menyampaikan pendapat. Hal tersebut penting untuk dilakukan mengingat terdapat bentuk-bentuk upaya dalam menghalangi penyampaian pendapat di dunia digital dapat berupa peretasan, doxing, ddos, bullying, fitnah atau duplikasi, serta pelecehan daring. Kedepannya, hal-hal seperti ini harus diatur dalam UU 9/1998. Dengan demikian, UU ITE juga harus disesuaikan, di mana penggunaan UU ITE nantinya hanya untuk transaksi elektronik.

81

Sementara, bagaimana soal makna ‘di muka umum’ yang menjadi elemen tak terpisahkan dari kemerdekaan berpendapat di UU 9/1998? Definisi ‘di muka umum’ yang ada di dalam UU 9/1998 merujuk pada kondisi di hadapan orang banyak, atau orang lain termasuk juga di tempat yang dapat didatangi dan atau dilihat setiap orang. Sedangkan, ruang digital telah kita definisikan sebagai pengalaman interaksi baru yang ditandai dengan perbedaan dari bentuk ruang tradisional yang berbentuk fisik. Ruang baru tersebut kemudian membuka metode baru untuk terlibat dalam interaksi. Ruang digital telah memberikan bentuk-bentuk interaksi yang baru dalam penyampaian pendapat, utamanya berkaitan dengan ranah politik. Kedua definisi ini memiliki titik temu pada kata kunci interaksi. Baik ‘di muka umum’ secara luring maupun ruang digital sama-sama berbicara mengenai interaksi. Terlebih, penyebutan kata ‘dapat dilihat setiap orang’ telah mengakomodasi bentuk interaksi ruang digital sebagai konsep ‘di muka umum’. Oleh karena itu, tulisan ini melihat bahwa definisi mengenai ruang digital sudah patut dimasukkan juga ke dalam UU 9/1998 agar diakui oleh UU sebagai bagian dari ‘di muka umum’.

Kesimpulan

Upaya demokratisasi pasca runtuhnya rezim Orde Baru telah diwujudkan dalam berbagai upaya. Salah satunya dilindungi dan diakuinya bentuk-bentuk menyatakan pendapat di muka umum melalui UU 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Namun, dapat dikatakan bahwa UU ini kehilangan lokusnya dalam perkembangan teknologi dan informasi. Ditemukan bahwasanya ruang digital, sebagai arena baru dalam penyampaian pendapat, belum diakomodasi oleh negara. Bentuk penyampaian pendapat di ruang digital akhirnya juga belum dapat diatur secara jelas, dan penegakan kebebasannya seringkali tercederai. Hal ini terjadi karena penggunaan UU ITE sebagai perangkat hukum kebebasan berpendapat di ruang digital malah sering mereduksi kebebasan itu sendiri. Ancaman UU ITE pada kebebasan berpendapat dapat dilihat dari data-data penalisasi atau kriminalisasi yang seringkali dihiasi oleh pelapor yang berasal dari kalangan penyelenggara negara dan aparat penegak hukum. Dari data tersebut dapat ditemukan pula adanya ketimpangan relasi kuasa antara terlapor dan pelapor.

82

Oleh karena itu, negara perlu adaptif terhadap perkembangan teknologi yang sangat cepat. Terlebih, catatan kalangan yang beraktivitas di ruang digital di Indonesia juga terus bertambah. Syahdan, hal ini membuat ruang digital menjadi penampang bagi banyak opini serta kritik. Maka dari itu, aktivitas baru ini perlu diakui, dijamin, dan dilindungi. Upaya ini dapat diwujudkan melalui melalui pendefinisian ruang digital sebagai ruang spasial baru yang di dalamnya terdapat aktivitas warga negara, termasuk dalam melontarkan kritik kepada pemerintah. Dalam hal ini, aktivisme digital warga negara patut dilihat sebagai bagian dari partisipasi masyarakat dalam proses kebijakan yang seharusnya juga patut didorong, difasilitasi dan dilindungi oleh pemerintah dalam sistem yang demokratis.

Dari pendefinisian tersebut, penambahan bentuk-bentuk penyampaian pendapat serta pengaturannya dalam UU 9/1998 akhirnya menjadi elemen yang mengikuti. Hal ini sangat patut untuk dipertimbangkan, agar aktivitas digital kita tidak hanya dilindungi konstitusi, tetapi juga dijamin dalam UU. Penjaminan melalui UU ini juga menjadikan tugas negara untuk menjamin hak-hak warganya dapat terwujud dalam bentuk yang lebih konkrit dari adanya aturan dan limitasi yang disediakan dalam bentuk UU.

Rekomendasi

Berdasarkan analisis terhadap temuan dan kesimpulan di atas, terdapat sejumlah rekomendasi yang dapat diberikan berkaitan dengan permasalahan yang ada.

Pertama, perlu adanya kesepahaman yang sama mengenai definisi ruang digital sebagai arena baru bagi bentuk-bentuk penyampaian pendapat. Dengan adanya kesamaan pandangan, hak berpendapat di ruang digital akan dapat diakui. Pendefinisian serta pengakuan pada ruang digital memberikan konsekuensi logis berupa pengakuan, perlindungan, serta pengaturan pada aktivitas-aktivitas penyampaian pendapat di ruang digital. Perbaikan substansi UU 9/1998 oleh Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), serta masukan dari masyarakat sipil, terkait penambahan bentuk dan pengaturan penyampaian pendapat di ruang digital menjadi opsi yang bisa ditawarkan. Dalam hal ini, perlu dipertimbangkan pula posisi ruang digital sebagai suatu

83

ruang yang telah mengakomodasi prasyarat ‘di muka umum’. Agar bentuk-bentuk interaksi dalam ruang digital juga dapat diakui.

Kedua. Pelaksanaan atas pengakuan dan pengaturan kebebasan berpendapat di ruang digital di masa yang akan datang harus dapat dijamin sebaik-baiknya. Penyelesaian permasalahan di ruang digital harus mengedepankan prinsip restorative justice, asas praduga tak bersalah, dan berdasarkan pada delik aduan. Hal tersebut ditujukan agar hanya pihak yang dirugikan secara langsunglah yang dapat memperkarakan. Patut diingat, walau ditemui perbedaan bentuk yang berbeda dari penyampaian pendapat secara luring dan daring, terdapat kesamaan bahwa keduanya dapat melanggar hak-hak warga negara lain. Hal ini sesuai dengan amanat konstitusi Pasal 28 UUD 1945, bahwa negara harus menjamin kebebasan berpendapat. Konteks hari ini, perkembangan teknologi dan informasi tidak boleh membuat kewajiban untuk menjamin HAM menjadi hilang. Justru, negara serta perangkat hukumnya harus mampu untuk terus menjadi relevan dengan perkembangan zaman, termasuk salah satunya dengan menjamin dan melindungi, serta mendorong kebebasan berpendapat setiap warga negaranya, termasuk dalam memberikan kritik dan masukan terhadap pemerintah.

84

UPAYA PENEGAKAN SISTEM

Dalam dokumen Penyelenggaraan Sektor Publik (Halaman 85-97)

Dokumen terkait