Sebagai ummat yang telah dianugrahi Allah Kitab Al-Quran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari Al Qur‟an dan Hadits. Diantara metode-metode
pendidikan akhlak adalah :26
1) Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik.
2) Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Prinsip dasar
25
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996), 320 26
metode ini terdapat dalam hadits tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman, islam, dan ihsan.
3) Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah.
4) Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh guru dan murid harus mempertanggung jawabkannya.
5) Metode Demontrasi
Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya.
6) Metode Eksperimen
Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan.
7)Metode Amsal/Perumpamaan
Yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan. Perumpamaan dilakukan oleh Rasul SAW sebagai satu metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi pelajaran dapat dicerna dengan baik. Metode ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah SAW sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehingga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat jelas.
8)Metode Targhib dan Tarhib
Metode targhib dan tarhib yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Sanksi dalam pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk pelajar kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya
dihindari kalau tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan mendidik, bukan balas dendam.
9) Metode Pengulangan (Takrar)
Metode pengulangan yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan. Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental dimana seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun latihan motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat bantu ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik. Proses pengulangan juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau kode visual mempermudah pengulangan. Metode pengulangan dilakukan Rasulullah SAW ketika menjelaskan sesuatu yang
penting untuk diingat para sahabat.27
10)Metode Kisah
27
Kisah merupakan sarana yang mudah untuk mendidik manusia. Model ini sangat banyak dijumpai dalam al-Qur'an. Abdurrahman an-Nahlawy berpendapat bahwa metode kisah yang terdapat dalam al-Qur'an mempunyai sisi keistimewaan dalam proses pendidikan dan pembinaan manusia. Menurutnya, metode kisah dalam al-Qur'an berefek positif pada perubahan sikap dan perbaikan niat atau motivasi seseorang. 28
11)Metode Pembiasaan
Proses pendidikan yang terkait dengan prilaku ataupun sikap tanpa diikuti dan didukung adanya praktik dan pembiasaan pada diri, maka pendidkan itu hanya jadi angan-angan belaka karena pembiasaan dalam proses pendidikan sangat dibutuhkan. Model pembiasaan ini mendorong dan memberikan ruang kepada anak didik pada teori-teori yang membutuhkan aplikasi langsung, sehingga teori yang berat bisa menjadi ringan bagi anak didik bila kerap kali dilaksanakan.
12)Metode Qudwah (Teladan)
Qudwah merupakan aspek terpenting dalam proses pendidikan. Para pendidik dituntut untuk memeliki kepribadian dan intelektualitas yang baik dan sesuai dengan Islam sehingga konsep pendidikan yang diajarkan dapat langsung diterjemahkan melalui diri para pendidik. Para pendidik
28
Ulil Amri Syarif, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Quran (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2012), 125-126
dalam Islam adalah qudwah dalam setiap kehidupan pribadinya, Pendidik jadi cermin bagi peserta didik.29
a. Pendidikan Karakter
1) Definisi Karakter
Secara harfiah kata karakter bersal dari bahasa Inggris (character) dan
Yunani yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak atau sifat batin manusia
yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku.30
Karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah “asli” dan mengakar pada kepribadian benda/individu tersebut, dan merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu. Ciri khas ini pun yang diingat oleh orang lain tentang orang tersebut, dan menentukan suka atau tidak sukanya mereka terhadap sang individu. Orang yang memiliki karakter yang kuat, akan memiliki momentum untuk mencapai tujuan. Di sisi lain, mereka yang karakternya mudah goyah, akan lebih lambat untuk bergerak dan tidak bisa menarik orang lain untuk bekerja sama dengannya.
29
Ibid, 139-140 30
Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), 12.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan keperibadian khusus yang menjadi pendorong
dan penggerak, serta membedakan dengan individu lain.31
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Pengertian yang sederhana pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang diajarkan. Pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya. Pendidikan karakter telah menjadi sebuah pergerakan pendidikan yang mendukung pengembangan social, pengembangan emosional, dan mengembangan etik para siswa.
Pendidikan karakter juga dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang
mengembangkan karakter yang mulia (good charakter) dari peserta didik
dengan mempraktikan dan mengajarkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan yang beradap dalam berhubungan dengan sesama manusia maupun dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun dalam hubungannya dengan Tuhannya. Departemen pendidikan Amerika Serikat mendefinisikan pendidikan karakter sebagai berikut: “pendidikan karakter
31
mengajarkan kebiasaan berfikir dan kebiasaan berbuat yang dapat membantu orang-orang hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga,
sahabat, tetangga, masyarakat, dan bangsa.” Menjelaskan pengertian
tersebut dalam brosur pendidikan karakter (character Education
Brochure) dinyatakan bahwa: pendidikan karakter adalah suatu proses pembelajaran yang memberdayakan siswa dan orang dewasa di dalam komunitas sekolah untuk memahami, peduli tentang, dan berbuat berlandaskan nilai-nilai etik seperti respek, keadilan, kebajikan warga dan kewarganegaraan, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Lickoa mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Secara sederhana, Lickona mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk memperbaikai karakter para siswa. Sementara itu Alfie Kohn, dalam Noll mengatakan bahwa pada hakikatnya “pendidikan karakter dapat didefinisikan secara luas maupun secara sempit. Dalam makna yang luas pendidikan karakter mencakup hampir seluruh usaha sekolah di luar bidang akademis terutama yang bertujuan untuk membantu siswa tumbuh menjadi seseorang yang memiliki karakter yang baik. Dalam makna yang sempit pendidikan karakter dimaknai sebagai sejenis pelatihan moral yang merefleksikan nilai tertentu.”
Menurut Scerenko pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana ciri kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian (sejarah, dan biografi para bijak dan pemikir besar), serta praktik emulasi (usaha yang maksiamal untuk mewujudkan hikmah dari apa-apa yang dinikmati dan dipelajari). Sementara itu, Arthur mendefinisikan pendidikan karakter sebagai aktifitas berbasis sekolah yang mengungkap secara sistematis bentuk perilaku dari siswa ternyata dalam perkataannya: pendidikan karakter didefinisikan sebagai setiap rencana sekolah, yang dirandang bersama lembaga masyarakat yang lain, untuk membentuk secara langsung dan sistematis perilaku orang muda dengan memengaruhi secara eksplesit nilai-nilai kepercayaan non-relativistik (diterima luas), yang dilakukan secara langsung menerapkan nilai-nilai tersebut.
Jadi, pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam
dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa.32
Pendidikan karakter juga dapat didefinisikan sebagai metode mengajarkan kebiasaan cara berfikir dan berperilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja sama sebagai anggota keluarga,
32
Muchlas Samani, Harianto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013),43-45.
masyarakat dan bernegara serta membantu mereka untuk mampu membuat keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan.
Menurut Fakhry Gaffar, pendidikan karakter ialah proses trasformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkankembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan.
Nurul Zuhriyah juga berpandangan bahwa pendidikan karakter sama dengan pendidikan budi pekerti. Tujuan budi pekerti adalah untuk mengembangkan watak murid dengan cara menghormati nilai-nilai keyakianan masyarakat sebagai kekuatan moral hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya dan kerja sama. Seseorang dapat dikatakan telah berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatam dalam hidupnya.
Pendidikan karakter ialah sistem penanaman nilai-nilai karakter pada warga sekolah yang meliputi komponan pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk merealisasikan nilai-nilai tersebut. Pungkasnya, pendidikan karakter dimaknai sebagai nilai, budi pekerti, moral, watak atau pendidikan etika. Tujuannya untuk mengembangkan potensi murid untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa
yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari.33
33
M. Mahbubi, Pendidikan Karakter Implementasi Aswaja Sebagai Nilai Pendidikan Karakter, (Yogyakarta: Pustaka Ilmu Yogyakarta, 2012 ), 40-42.