• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PELAKSANAAN KAJIAN…

A. Metode Pendokumentasian

Pada pelaksanaan Kajian Pencocokan Kepala Arca Buddha Candi Borobudur, metode yang digunakan adalah dekriptif analitis yang menguraikan hasil pengkuran berbagai macam data dengan penjabaran sebagai berikut :

1. Penelusuran literatur dan studi pustaka. 2. Observasi lapangan.

3. Pelaksanaan.

Pengukuran Ikonometri Kepala dan Tubuh Arca

Pengukuran dilakukan tidak hanya pada kepala arca maupun arca yang tanpa kepala namun juga arca Dhyani Buddha yang masih utuh. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui ikonometri arca sehingga dapat menjadi perbandingan antara tubuh dan kepala arca Dhyani Buddha.

Pendokumentasian

Pendokumentasian dilakukan secara khusus pada kepala arca dan tubuh arca untuk mengetahui detil objek.

Pengambilan Data Teknis Arca

Untuk melakukan pencocokan kepala arca Dhyani Buddha, maka data teknis yang diambil pada kepala maupun tubuh arca untuk dicocokkan di antaranya adalah, ciri fisik berupa keterawatan objek, warna material, kekompakan material, kandungan unsur mineral, kandungan magnetik material, dan cepat rambat gelombang ultrasonik.

4. Analisa dan evaluasi data 5. Rekomendasi

Pada tahap penelusuran literatur dan studi pustaka dapat dilakukan dengan mencari pustaka yang sesuai khususnya menyangkut ikonografi dan ikonometri arca Buddha khususnya Candi Borobudur. Selain itu, studi pustaka juga dilakukan pada kajian-kajian yang pernah dilakukan sebelumnya mengenai ikonometri arca Buddha. Arca Buddha yang dimaksud dala hal ini adalah arca yang berasal dari Kerajaan Mataram Kuna Periode Jawa Tengah. Sehingga data ikonometri bisa digunakan sebagai data pembanding dalam melakukan pencocokan kepala arca Buddha di Candi Borobudur. Beberapa acuan pustaka yang digunakan dalam kajian ini dapat berupa prinsip-prinsip ikonografi arca Buddha secara umum dari berbagai kitab di India yang menyampaikan informasi mengenai ikonografi dan ikonometri arca Buddha.

dikompilasi dan dijadikan acuan dalam melakukan perbandingan. Beberapa komponen ikonografi arca akan diperbandingkan dengan hasil pengukuran ikonometri arca Buddha Candi Borobudur. Sehingga setelah melakukan pengukuran di lapangan, hasil pengukuran tersebut akan diperbandingkan dengan acuan dari ikonometri arca Buddha berdasarkan kitab dari India.

Setelah acuan baku ikonometri arca Buddha didapatkan maka tahap selanjutnya adalah melalukan observasi di lapangan. Observasi dilakukan secara kangsung pada kepala arca Buddha yang disimpan di kantor Balai Konservasi Borobudur, maupun tubuh arca Buddha yang masih berada pada struktur Candi Borobudur. Pada pelaksanaan observasi juga dilakukan pengukuran dan dokumentasi. Pengukuran dilakukan secara langsung pada objek untuk mengetahui ikonometri kepala arca maupun tubuh arca. Pada pengukuran yang dilakukan satuan yang digunakan adalah cm (centimeter). Satuan centimeter tersebut kemudian dikonversi menjadi satuan tala, angula, dan yava. Tala adalah satuan pengukuran yang didapatkan dari penjumlahan pada pengukuran panajang garis dahi sampai hidung dan panjang garis hidung sampai batas dagu. Angula adalah satuan pengukuran yang pada konsep dasarnya adalah dengan membagi satuan tala menjadi 12. Sedangkan untuk satuan yava didapatkan dengan membagi angula menjadi 8. Hal ini penting untuk mendapatkan perbandingan dimensi arca berdasarkan konsep dasar ikonometrinya.

Sebelum dilakukan pengukuran, dokumentasi dilakukan pada kepala maupun tubuh arca. Dokumentasi menggunakan alat utama berupa kamera digital SLR dengan alat bantu berupa tripod, penyangga objek, papan nama, dan alas pemotretan. Pemotretan dilakukan dari berbagai arah tampilan objek, di antaranya dari depan, belakang, samping, dan bagian leher atau penggalan kepala arca.

Selain pengukuran ikonometri kepala arca Buddha Candi Borobudur, pengukuran kandungan unsur dan kandungan magnetik material kepala arca dilakukan dengan alat yang berbeda. Pengukuran kandungan unsur dilakukan dengan alat berupa X-Ray Fluoresence (XRF). Alat tersebut merupakan alat yang memancarkan sinar x pada material yang ditembak. Setelah sinar x tersebut terpantul pada material dan kembali kepada alat tersebut maka kandungan unsur dari material tersebut akan dapat terbaca pada monitor alat. Pengukuran menggunakan alat pengkuran cepat rambat gelombang ultra pada material dilakukan dengan alat ultrasonic pulse velocity tester. Alat ultrasonic pulse velocity tester dapat mengukur cepat rambat gelombang

ultrasonic di dalam material. Alat ini sebenarnya berfungsi untuk mengetahui adanya celah ataupun retakan pada material. Namun dengan tambahan aplikasi lain, alat ini mampu membedakan kualitas material melalui cepat rambat gelombang ultrasonik. Pengukuran kandungan magnetik unsur material kepala arca dilakukan menggunakan alat berupa magnetic susceptibility meter. Alat tersebut bentuknya mirip dengan senter berbentuk silinder. Kandungan magnetik unsur yang ditembak menggunakan alat magnetic susceptibility meter berupa satuan angka.

Pada tahap analisa dan evaluasi, metode pencocokan yang digunakan yakni pengukuran ikonometri, pengukuran XRF, pengukuran cepat rambat gelombang ultra dan pengukuran menggunakan magnetic susceptibility meter kemudian disimpulkan hasilnya. Sehingga diketahui apakah metode tersebut dapat digunakan untuk mencocokkan kepala arca ataupun tidak.

Setelah melalui tahap analisi maka selanjutnya adalah penyusunan rekomendasi kajian. Pada rekomendasi tersebut akan disampaikan hasil dan tindak lanjut dari metode pencocokan yang diaplikasikan maupun metode yang nantinya diaplikasikan untuk kajian selanjutnya.

B. Alat dan Bahan

Pada pelaksanaan kajian peralatan yang dibutuhkan diantaranya :

1. Peralatan dokumentasi : merupakan peralatan yang digunakan untuk mendokumentasikan objek arkeologi baik secara piktorial maupun secara verbal. Peralatan tersebut terdiri dari, kamera digital SLR, kamera digital pocket, flash kamera SLR, tripod kamera, skala arkeologi, penggaris, papan keterangan, alas pemotretan, dll.

2. Peralatan pengukuran dimensi : merupakan peralatan yang digunakan untuk melakukan pengukuran menyangkut dimensi kepala arca dan tubuh arca. Peralatan tersebut terdiri dari, meteran 5 m, roll meter 50 m, penggaris segitiga, papan alas, alat tulis, gambar objek, dll.

3. Peralatan pengukuran warna : merupakan peralatan yang digunakan untuk mendeskripsikan warna material kepala arca dan tubuh arca. Skala waran tersebut pada dasarnya merupakan skala warna tanah. Namun demikian untuk mendapatkan deskripsi yang baku dari warna batu dapat menggunakan skala ini dengan nomor-nomor yang bervariasi menyangkut jenis warnanya.

4. Peralatan pengukuran kandungan unsur material : peralatan yang digunakan untuk mengetahui kandungan unsur dari kepala dan tubuh arca adalah berupa X Ray Fluoresence (XRF). Alat ini merupakan salah satu alat analisis kandungan unsur yang bersifat non destruktif. Dari bentunya yang mirip dengan pistol, penggunaan alat ini adalah dengan menembakkan sinar x pada material sebanyak lebih kurang 3 kali atau lebih.

5. Peralatan pengukuran kandungan magnetik material : pengukuran kandungan magnetik material dilakukan menggunakan alat yang disebut sebagai magnetic susceptibility meter. Sepertihalnya alat XRF, penggunaan alat ini adalah dengan cara menembakkannya pada material yang akan di ukur.

6. Peralatan pengukuran cepat rambat gelombang ultrasonik pada material : untuk mengetahui cepat rambat gelombang digunakan alat ultrasonic pulse velocity tester. Alat ini dapat memancarkan suara ultrasonik yang kemudian dirambatkan pada material batu. Pemancar gelombang tersebut terdiri dari 1 buah pemancar, 1 buah receiver/ penerima, dan 1 buah monitor untuk mengetahui satuan kecepatan rambat gelombang ultrasonik.

BAB IV

PELAKSANAAN KAJIAN

A. Metode Pendokumentasi

dimensi kepala termasuk didalamnya elemen ikonografi pada bagian wajah. Hal ini penting untuk dilakukan karena pola penggambaran wajah dari kepala arca tersebut. Selain itu pemotretan pada bagian penggalan leher juga dimaksudkan untuk mengetahui bentuk penggalan ataupun pola patahan pada bagian leher. Pemotretan kepala arca terdiri dari dua beberapa sisi yaitu sisi depan, sisi belakang, samping kanan, samping kiri, dan bagian patahan/ penggalan pada leher. Adapun untuk pemotretan tubuh arca pada struktur Candi Borobudur dilakukan pada bagian depan dan bagian patahan/ penggalan leher.

Pelaksanaan pemotretan didahului dengan menyiapkan alat pemotretan dan label pemotretan. Selanjutnya untuk memotret dengan hasil yang baik digunakan tripod dan flash yang disesuikan dengan kondisi penyinaran pada lokasi pemotretan. Pemotretan pada tubuh arca yang berada pada struktur Candi Borobudur memerlukan teknik yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. Hal ini karena pada pemotretan di lapangan tidak hanya memerlukan alat bantu pemotretan seperti pada pemotretan kepala arca. Alat bantu berupa skafolding, tali pengaman, dan pemantul cahaya diperlukan untuk menghasilkan foto yang sesuai dengan kebutuhan data kajian. Secara umum, proses hasil pemotretan kepala arca adalah sebagai berikut :

Foto IV.2. Hasil pemotretan kepala arca bagian samping kiri (Dok: Tim Kajian, 2015).

Foto IV.3. Hasil pemotretan kepala arca bagian samping kanan (Dok: Tim Kajian, 2015).

Foto IV.5. Hasil pemotretan kepala arca bagian patahan leher (Dok: Tim Kajian, 2015).

Foto IV.6. Pemasangan skafolding untuk pemotretan tubuh arca pada struktur candi (Dok: Tim Kajian, 2015).

Foto IV.7. Hasil pemotretan tubuh arca pada struktur Candi Borobudur (Dok: Tim Kajian, 2015).

Foto IV.8. Hasil pemotretan bagian patahan leher pada tubuh arca di struktur Candi Borobudur (Dok: Tim Kajian, 2015).

Dokumen terkait