ex Heyne) TERHADAP SERANGAN RAYAP TANAH ( Coptotermes curvignathus Holmgren)
METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu disk flaker, ember, timbangan, spray gun, blender, kotak kayu ukuran 30 x 30 cm, teflon sheet, plat aluminium (caul), kempa dingin, kempa panas, oven, desikator, alumunium foil, cawan porselin, tabung reaksi, saringan, water bath, sarung tangan, kamera, dan botol kaca untuk pengujian ketahanan terhadap rayap tanah.
Bahan yang digunakan adalah parafin, limbah kayu dari jenis Dipterocarpaceae, Sengon (Paraserianthes falcataria), Akasia (Acacia mangium), anyaman Bambu Betung (Dendrocalamus asper), perekat melamin formaldehyde (MF), perekat Isocyanate, aquadestilasi, pasir steril dan rayap tanah C. curvignathus.
Pembuatan Papan Komposit
Papan komposit yang akan dibuat adalah papan komposit berlapis tiga (three layers composite board) berukuran 30 cm x 30 cm x 1 cm dengan nisbah kempa 1,3. Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini difokuskan terhadap komposisi campuran perekat Isocyanate dan MF serta kadar parafin yang diberikan pada papan komposit yang dibuat. Perbandingan komposisi campuran antara perekat Isocyanate dan MF yang ditetapkan adalah 1:0, 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, serta 0:1. Sedangkan kadar parafin yang ditetapkan yaitu 0 % (kontrol), 2 %, 4 % , 6 %, dan 8 %. Ulangan untuk setiap parameter yang diamati sebanyak 5 ulangan.
Uji Ketahanan Terhadap Rayap Tanah C. curvignathus Holmgren
Pengujian terhadap rayap tanah menggunakan standar Modified Wood Block Test (MWBT). Pengujian papan komposit terhadap serangan rayap ini dilakukan dengan cara contoh uji terlebih dahulu dikeringkan sampai kering oven, kemudian dimasukkan ke dalam botol kaca yang berisi 30 g pasir steril dan 6 ml aquadestilasi. Ke dalam botol kaca tersebut dimasukkan rayap tanah C. curvignathus sebanyak 200 ekor rayap pekerja dan 20 ekor rayap prajurit. Botol kaca kemudian ditutup dengan aluminium foil lalu ditempatkan di ruangan gelap. Kehilangan berat dan mortalitas dihitung setelah 21 hari pengumpanan. Kehilangan berat dan mortalitas rayap ini merupakan parameter kualitas dari papan komposit terhadap serangan rayap.
53
Wo-W1
Kehilangan Berat = x 100% Wo
Keterangan :
Wo = Berat kering oven contoh uji sebelum diumpankan ke rayap (g) W1 = Berat kering oven contoh uji setelah diumpankan ke rayap (g)
Persentase jumlah individu rayap yang mati (mortalitas) dihitung dengan rumus: No-N1
Mortalitas = x 100% No
Keterangan :
No = Jumlah individu rayap sebelum pengumpanan N1 = Jumlah individu rayap setelah pengujian Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif sederhana untuk menentukan nilai rata-rata dan RAL 2 faktorial. Sedangkan untuk melihat pengaruh perlakuan mana yang berbeda nyata terhadap respon yang diuji dilakukan uji wilayah berganda Duncan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ketahanan Papan Komposit Terhadap Rayap Tanah C. curvignathus Holmgren Pengujian dilakukan dengan uji laboratoris, dimana contoh uji diumpankan pada rayap tanah C. curvignathus selama 21 hari. Untuk melihat ketahanan papan komposit terhadap serangan rayap tanah C. curvignathus berdasarkan pengaruh komposisi perekat Isocyanate-MF dan kadar parafin. Hal ini, dapat dilihat dari persentase kehilangan berat papan komposit serta mortalitas rayap tanah C. curvignathus.
Kehilangan Berat Contoh Uji
Rata-rata persentase kehilangan berat akibat serangan rayap dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Persentase kehilangan berat contoh uji. Keterangan :
A = perekat Isocyanate : MF = 1 : 0 C = perekat Isocyanate : MF = 1 : 2 E = perekat Isocyanate : MF = 1 : 4 B = perekat Isocyanate : MF = 1 : 1 D = perekat Isocyanate : MF = 1 : 3 F = perekat Isocyanate : MF = 0 : 1
54
Dari Gambar 1. dapat dilihat bahwa secara keseluruhan besar kehilangan berat contoh uji berkisar antara 4,45 % – 12,78 %. Terlihat pula dari grafik bahwa jenis papan B2 memiliki persentase kehilangan berat terkecil yaitu sebesar 4,45 % dan persentase kehilangan berat tertinggi dimiliki oleh jenis papan E2 sebesar 12,78 %. Semakin kecil persentase kehilangan berat contoh uji menunjukkan bahwa semakin tidak disukai oleh rayap tanah C. curvignathus. Hal ini, dapat diakibatkan adanya pengaruh kandungan perekat serta parafin dengan komposisi yang sesuai dengan kondisi yang tidak disukai oleh rayap, sehingga contoh uji yang dimakan oleh rayap sangat sedikit. Rayap yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru akan mati, sedangkan yang masih bertahan akan semakin lemah dan berangsur-angsur akan sakit dan mati.
Tabel 1 menunjukkan hubungan persentase kehilangan berat contoh uji dengan tingkat ketahanannya untuk standar MWBT (modified wood block test) mengikuti kriteria dari Sornnuwat (1996) yang dikelompokkan ke dalam lima tingkatan, yakni ketahanan tinggi, tahan, ketahanan sedang, tidak tahan, dan rentan. Dari hasil pengujian yang dilakukan dengan standar MWBT ini, ditunjukkan pada Tabel 2 hubungan persentase kehilangan berat dengan tingkat ketahanan contoh uji serta tingkat ketahanannya terhadap C. curvignathus setelah 21 hari pengujian. Berdasarkan komposisi perekat, jenis papan A, B, dan C dapat diklasifikasikan dalam kelompok ketahanan sedang, sedangkan jenis papan D, E, dan F dapat diklasifikasikan dalam kelompok tidak tahan.
Tabel 1 Persentase rata-rata kehilangan berat contoh uji pada standar MWBT (modified wood block test) serta tingkat ketahanannya (Sornnuwat 1996)
Persentase Kehilangan Berat(%) (No-choice test) Tingkat Ketahanan 0 Ketahanan tinggi 1 – 3 Tahan 4 – 8 9 – 15 >15 Ketahanan sedang Tidak tahan Rentan
Tabel 2 Persentase rata-rata kehilangan berat contoh uji berdasarkan perekat serta tingkat ketahanannya terhadap rayap tanah C. curvignathus
Jenis Papan Persentase Kehilangan Berat (%) Tingkat Ketahanan A 8 Ketahanan sedang B 7 Ketahanan sedang C 8 Ketahanan sedang D 9 Tidak tahan E 11 Tidak tahan F 9 Tidak tahan
Mortalitas Rayap Tanah (C. curvignathus Holmgren)
Hasil pengujian menunjukkan bahwa rata-rata mortalitas rayap tanah C. curvignathus pada seluruh contoh uji berada pada kisaran nilai di atas 60 %. Rata-rata persentase mortalitas akibat serangan rayap dapat dilihat pada Gambar 2.
Pada grafik terlihat bahwa tingkat persentase mortalitas rayap cukup tinggi dengan nilai kisaran 65,91 % – 97,73 %. Secara umum berdasarkan hasil pengujian, persentase mortalitas terbesar juga dimiliki oleh jenis papan B2 (97,73 %), tetapi persentase mortalitas terkecil ada pada jenis papan A2 (65,91 %).
55
Supriana (1983) dalam Saragih (2009) juga menyatakan bahwa dalam uji preferensi makanan tunggal di laboratorium, rayap hanya dihadapkan pada satu pilihan makanan saja. Dalam keadaan terpaksa tersebut, rayap memakan bahan makanan atau akan mati kelaparan. Oleh karena itu, dalam pengujian ini, dapat dilihat bahwa contoh uji yang digunakan merupakan satu-satunya sumber makanan bagi rayap uji, sehingga berdasarkan persentase hasil kehilangan berat (Gambar 11.) menunjukkan nilai yang tinggi. Selain itu, karena standar uji yang digunakan bukan standar untuk papan komposit sehingga rayap dapat menyerang contoh uji dari samping.
Gambar 2 Persentase mortalitas rayap tanah C. curvignathus.
Tingginya nilai mortalitas diakibatkan oleh penguapan gas dari emisi formaldehida yang ada di dalam botol pengujian yaitu dari contoh uji itu sendiri terutama yang mengandung perekat melamin formaldehid, sehingga dimungkinkan emisi tersebut menyerang syaraf rayap dan mengakibatkan kematian pada rayap C. curvignathus yang terjadi di akhir pengujian. Penyebab lain dari mortalitas rayap tanah adalah kandungan perekat yang terdapat dalam papan komposit ini bersifat racun bagi flagelata yang bersimbiosis pada usus rayap. Dan dengan memanfaatkan sifat biologis rayap itu sendiri, yakni sifat trofalaksis, maka rayap akan saling menyalurkan makanan, feromon, atau flagelata melalui perilaku trofalaksis ini. Oleh karena itu, terserangnya flagelata ini mengakibatkan aktivitasnya yang tidak aktif lagi dan lama-kelamaan rayap pun akan mati. Bentuk Serangan Rayap Tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren) Terhadap Contoh Uji
Menurut Krisna & Weeaner (1971) dalam Rismayadi (1999), rayap akan cenderung memilih makanan yang mengandung banyak selulosa, mudah digigit dan dihancurkan. Serangan rayap tanah (C. curvignathus Holmgren) pada contoh uji terjadi hanya pada bagian samping.
Termakannya contoh uji pada bagian samping, sangat dimungkinkan bagian tersebut tidak tertutupi oleh perekat dan parafin. Tidak terlapisnya perekat dan parafin disebabkan saat pengambilan contoh uji, pemotongan pengambilan contoh uji tersebut berada pada bagian tengah, sehingga bagian core yang berisi wafers terpotong. Dimana pada bagian wafers yang terpotong tersebut tidak terlapisi oleh perekat dan parafin, kemudian untuk lapisan luar yaitu anyaman bambu pun (face dan back papan) memang
Keterangan :
A = perekat Isocyanate : MF = 1 : 0 C = perekat Isocyanate : MF = 1 : 2 E = perekat Isocyanate : MF = 1 : 4 B = perekat Isocyanate : MF = 1 : 1 D = perekat Isocyanate : MF = 1 : 3 F = perekat Isocyanate : MF = 0 : 1
56
tidak diberi perekat dan parafin sama sekali. Hal ini, memberikan peluang besar bagi rayap untuk menyerang contoh uji tersebut. Dan juga pencampuran serbuk parafin dengan wafers dilakukan secara manual, sehingga pencampuran ini juga mengakibatkan tidak meratanya keberadaan parafin di dalam bagian core papan. Akan tetapi ternyata bagian yang terserang oleh rayap tetap terfokus pada bagian samping yakni pada wafers yang terdiri dari jenis kayu sengon, akasia, dan meranti kuning.
KESIMPULAN
1. Penggunaan perekat Isocyanate-MF dan penambahan parafin memberikan pengaruh yang nyata terhadap kehilangan berat contoh uji tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas rayap dengan nilai mortalitas lebih dari 60 %.
2. Papan komposit yang memiliki ketahanan terhadap serangan rayap tanah C. curvignathus yang terbaik adalah jenis papan B2, yakni papan yang memiliki komposisi perekat Isocyanate-MF 1 : 1 dengan kadar parafin 2 %, sehingga kombinasi komposisi perekat dan kadar parafin ini merupakan kondisi optimum untuk pembuatan papan komposit dari limbah kayu dan anyaman bambu.
3. Komposisi perekat berpengaruh terhadap tingkat ketahanan papan komposit, dimana papan A, B dan C termasuk dalam kelompok ketahanan sedang, sedangkan papan D, E, dan F termasuk dalam kelompok tidak tahan menurut klasifikasi Sornnuwat (1996).
DAFTAR PUSTAKA
Febrianto F, Hadi YS dan Karina M. 2001. Teknologi Produksi Recycle Komposit Bemutu Tinggi dari Limbah Kayu dan Plastik : Sifat-sifat Papan Partikel pada Berbagai Nisbah Campuran Serbuk dan Plastik Polipropilene Daur Ulang dan Ukuran Serbuk. Laporan Akhir Hibah Bersaing IX/1. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
Massijaya MY, Hadi YS. 2008. Pengembangan Papan Komosit Unggulan dari Limbah Kayu dan Anyaman Bambu. Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
Nandika D, Adijuwana H. 1995. Ekstraksi Enzim, Selulase dari Rayap Kayu Kering Crytotermes cynochephalus Light serta Rayap Tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dan Macrotermes gilvus Hagen. Teknologi 8 (1): 35-40.
Rismayadi Y. 1999. Penelaahan Daya Jelajah dan Ukuran Populasi Koloni Rayap Tanah (Schedorhinotermes javanicus Kemner (Isoptera : Rhinitermitidae) serta Microtermes inspiratus Kemner (Isoptera : Termitidae)) [tesis]. Bogor : Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Saragih R. 2009. Uji Laboratoris Daya Tahan Komposit Serbuk Kayu Plastik Polietilena Berkerapatan Tinggi Setelah Pelunturan Terhadap Serangan Rayap Tanah (Coptotermes gestroi) [skripsi]. Bogor : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Sornnuwat Y. 1996. Studies on Damage of Contruction caused by Subterranean Termites and Its Control in Thailand. Thailand.
57