• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di BMT Tadbiirul Ummah yang beralamat di Jalan Raya Darmaga Bogor 16620 Jawa Barat. Pemilihan BMT ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa BMT Tadbiirul Ummah memiliki nasabah untuk pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis yaitu petani. Selain itu, alasan memilih lokasi BMT Tadbiirul Ummah di Kabupaten Bogor karena BMT Tadbiirul Ummah menerapkan sistem pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis yang murni sesuai dengan prinsip syariah yaitu berbisnis sesuai dengan keadilan dan kepercayaan serta menerapkan prinsip bagi untung dan bagi rugi (profit and loss sharing) dalam usaha untuk membantu petani, sehingga dalam hal ini dapat dilihat peran dari lembaga keuangan mikro syariah untuk pembangunan pertanian. Waktu yang dibutuhkan untuk penelitian ini selama tiga bulan April-Juni 2009. Namun, secara menyeluruh dalam pembuatan skripsi ini membutuhkan waktu enam bulan.

4.2. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode pengamatan (observasi), penelusuran literatur, penggunaan kuisioner (angket), dan wawancara (interview). Dalam hal ini, informasi atau keterangan diperoleh melalui data primer langsung dari responden dan pihak KBMT Tadbiirul Ummah dengan cara tatap muka atau bercakap-cakap dan alat yang digunakan berupa kuisioner dan data-data sekunder yang didapatkan dari berbagai macam sumber terkait baik dari KBMT Tadbiirul Ummah maupun dari berbagai macam literatur.

4.3. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif yang berkaitan dengan penelitian ini. Data primer didapatkan dari hasil penyebaran kuisioner kepada para nasabah responden dan hasil wawancara langsung dengan pihak pengelola BMT. Sedangkan data sekunder akan didapatkan dari berbagai arsip dan administrasi

54

BMT, Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Masyarakat Ekonomi Syariah, Pusat Ekonomi Syariah serta literatur terkait yang diperlukan untuk menunjang pembuatan laporan penelitian ini.

Data yang diperoleh melalui BMT merupakan data pada tahun 2004-2008, data tersebut digunakan untuk menunjukan trend perkembangan pembiayaan yang terjadi. Sedangakan, data yang diperoleh dari responden merupakan data yang berasal pada tahun 2008 saja. Data tersebut digunakan untuk menunjukan permintaan pembiayaan yang menjadi trend saat ini. Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jenis data yang dibutuhkan dalam Penelitian di BMT Tadbiirul Ummah Tahun 2004-2008

JENIS DATA SATUAN

1. Data Kuantatif

a. Jumlah pengambilan pembiayaan b. Bagi hasil

c. Pendapatan usaha keluarga d. Pengalaman usaha

e. Frekuensi pinjaman f. Besar tunggakan g. Jangka waktu angsuran h. Jumlah tanggungan keluarga

i. Alamat nasabah pembiayaan pertanian.

2. Data Kualitatif

a. Tahap pengajuan pembiayaan b. Produk-produk pembiayaan BMT c. Tahap penyaluran pembiayaan d. Tahap pengelolaan pembiayaan e. Tahap pengembalian pembiayaan. f. Dampak pembiayaan terhadap

nasabah. g. Tingkat pendidikan. Rupiah Persentase Rupiah perbulan Tahun Kali X % dari pinjaman Bulan Orang

4.4. Metode Pengambilan Sampel

Contoh (sampel) yang diambil adalah nasabah pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis. Alasan fokus penelitian hanya pada pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis yaitu karena jenis pembiayaan tersebut termasuk pembiayaan modal kerja dan investasi sehingga semua nasabah peminjam pembiayaannya merupakan nasabah yang mempunyai kegiatan usaha produktif dalam bidang

55

pertanian. Selain itu, pada dasarnya secara operasional pada jenis pembiayaan inilah yang benar-benar menawarkan prinsip bagi untung dan bagi rugi (profit and loss sharing) dalam usaha untuk membantu petani.

Pengambilan contoh dilakukan secara Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling) dengan metode berimbang (proporsional). Dalam hal ini nasabah yang menjadi anggota KBMT Tadbiirul Ummah memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel khususnya untuk nasabah yang memiliki unit usaha pertanian atau agribisnis. Hal tersebut digunakan untuk mempermudah dalam melihat karakteristik yang terjadi pada pola pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis.

Berdasarkan data yang didapat maka jumlah yang sampel yang diambil sebanyak 22 orang. Jumlah tersebut diambil secara proposional sebanyak 50 persen dari jumlah seluruh populasi yang layak untuk diwawancarai yaitu sebanyak 44 orang. Responden yang berjumlah 22 orang distratifikasi berdasarkan sektor usaha yaitu sektor usaha berbasis on-farm dan off-farm. Selanjutnya distratifikasi berdasarkan jumlah plafon pembiayaan yang didapatkan yaitu jumlah plafon yang memiliki rentang Y < Rp 1.000.000, Rp 1.000.000 <Y< Rp 3.000.000 dan Y > Rp 3.000.000. Stratifikasi yang dibuat dilakukan untuk memenuhi keterwakilan jumlah responden pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis.

4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh merupakan data kualitatif dan data kuantitatif. Sebelum diolah dan dianalisis, dilakukan beberapa prosedur pendahuluan terhadap data yang diperoleh yaitu mengedit data, membuat koding, melakukan skoring dan menggolongkan beberapa kategori jawaban. Data akan disajikan dalam bentuk uraian, bagan/gambar dan tabel. Pengolahan dan analisis data untuk menjawab tujuan penelitian dilakukan dengan dua metode, yaitu :

4.5.1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui apakah pemberian pembiayaan dari BMT efektif dalam pengelolaannya maupun dampaknya terhadap usaha yang dijalankan, apakah pemanfaatannya sudah tepat atau belum.

56

Analisis dampak pembiayaan tersebut menggunakan perbandingan antara kondisi sebelum pembiayaan dengan sesudah pembiayaan secara kualitatif. Untuk analisis ini akan digunakan data kaulitatif yang dibuat dalam bentuk tabulasi dan kemudian dideskripsikan.

Faktor-faktor yang berpengaruh pada penyaluran pembiayaan sistem syariah sektor agribisnis diuraikan secara deskriptif. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keinginan responden untuk memperoleh pembiayaan sistem syariah sektor agribisnis dilakukan secara deskriptif, yang sebelumnya dianalisa melalui model persamaan regresi linear berganda, yang dipakai melihat faktor- faktor yang berhubungan nyata dan tidak berpengaruh nyata serta mempengaruhi secara signifikan.

Analisis efektivitas yang dilakukan dengan cara melakukan persentase pencapaian antara target dan realisasi pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis. Persentase tersebut akan menunjukan jumlah pencapaian berdasarkan akad, sektor usaha, dan peruntukan baik dilihat secara jumlah mitra maupun dihitung secara nominal jumlah pembiayaan yang bergulir.

4.5.2. Analisis Data dan Interpretasi

Pada penelitian untuk mencari faktor-faktor apa saja yang berpengaruh pada efektivitas pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis. Dalam hal ini akan dikaji bagaimana beberapa variabel independen mempengaruhi variabel dependen dalam suatu fenomena yang kompleks. Jika X1, X2, X3…Xk adalah variabel-

variabel independen dan Y adalah variabel dependen, maka terdapat hubungan fungsional antara variabel X dan Y, dimana variasi dari X akan diiringi pula oleh variasi dari Y. secara matematika, hubungan diatas dapat dijabarkan sebagai berikut, Nazir (2005) :

Dimana:

Y = Variabel Dependen. X = Variabel Independen. e = Disturbance Term.

Dengan perkataan lain, variasi dari Y disebabkan oleh variasi dari variabel independen X dan oleh variasi random lainnya yang tidak dapat diketahui secara

57

pasti. Perlu perhitungan lebih detail untuk mengetahui apa yang menjadi variabel Y dan apa yang menjadi varibel X analisis regresi yang digunakan ialah analisis regresi berganda. Oleh karena itu, analisis regresi bergandalah yang digunakan sebagai pengukur pencarian faktor penduga penyaluran pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis yang signifikan mempengaruhi variabel dependen.

Jika parameter dari suatu hubungan fungsional antara satu variabel dependen dengan lebih dari satu variabel ingin diestimasikan, maka analisis regresi yang dikerjakan berkenaan dengan regresi berganda (multiple regression). Analisis regresi berganda mempunyai kaedah yang sama seperti analisis regresi sederhana. Rumus-rumus yang digunakan pun tidak lain dari pengembangan dari rumus-rumus yang digunakan pada regresi sederhana.

Teknik regresi untuk berhubungan variabel yang mempunyai lebih dari dua variabel independen dapat dikembangkan dari prosedur di atas. Misalnya, untuk analisis regresi dari persamaan stokhastik.

Berdasarkan persamaan diatas maka untuk menentukan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pembiayaan agribisnis syariah dapat diturunkan pada persamaan rumus dibawah ini:

Dugaan nilai parameter:

a0 ,a1, a2, a3, a4, a5, a6, a7 dan, b1 < 0 adalah nilai koefisien untuk setiap faktor

Dimana:

Y = Jumlah pembiayaan yang diambil (rupiah/tahun) X1 = Pengalaman usaha (tahun)

X2 = Profit usaha (rupiah/tahun)

X3 = Frekuensi pembiayaan(kali/tahun)

X4 = Nisbah bagi hasil((persen/rupiah)/tahun)

X5 = Tahun pendidikan(tahun)

X6 = Komposisi modal usaha (Rupiah/tahun)

D1 = Sektor usaha

58 b1 = Koefisien dummy

e = Galat (variabel penggangu) a0 = Intersep

Berdasarkan persamaan diatas perlu ada beberapa hipotesis awal yang akan dilihat sesuai dengan persamaan diatas. Dalam penelitian ini, hipotesis faktor- faktor yang diduga mempengaruhi realisasi pembiayaan syariah untuk sektor agribisnis adalah sebagai berikut :

1) Pengalaman usaha, semakin lama seseorang berpengalaman dalam usaha maka diduga akan lebih memiliki kemampuan dalam memperhitungkan kebutuhan pembiayaan dalam menjalankan usahanya, sehingga dapat memanfaatkan pembiayaan relatif lebih besar, berdasarkan hal tersebut digunakan hipotesis sebagai berikut:

Ho = Koefisien pengalaman usaha tidak signifikan atau bernilai 0

Ha1 = Koefisien pengalaman usaha signifikan atau tidak bernilai 0

2) Profit usaha merupakan bagian yang muncul atas biaya dan pendapatan usaha. Diduga akan mempengaruhi jumlah nilai pembiayaan yang diambil, semakin baik profit usaha seseorang maka akan semakin tinggi pihak KBMT memberikan dana pembiayaan pada usahanya, berdasarkan hal tersebut digunakan hipotesis sebagai berikut:

H0 = Koefisien profit usaha tidak signifikan atau bernilai 0

Ha2 = Koefisien profit usaha signifikan atau tidak bernilai 0

3) Frekuensi pembiayaan merupakan pengalaman mengambil pembiayaan. Semakin tinggi frekuensi pengambilan pembiayaan diduga akan menimbulkan kepercayaan antara KBMT dan mitra. Sehingga, peluang mitra untuk pembiayaan akan lebih besar pada frekuesi ini juga akan dilihat data jangka waktu angsuran dan jangka waktu pembiayaan yang akan diberikan oleh pihak KBMT, berdasarkan hal tersebut digunakan hipotesis sebagai berikut:

H0 = Frekuensi pembiayaan tidak signifikan atau bernilai 0

Ha3 = Frekuensi pembiayaan signifikan atau tidak bernilai 0

4) Nisbah bagi hasil merupakan bagian dari profit sharing dan risk sharing

dalam pengambilan pembiayaan. Nasabah diduga akan tertarik untuk mengambil pembiayaan yang ada pada BMT dengan nisbah bagi hasil yang

59

ditawarkan. Semakin besar nisbahnya akan semakin tertarik mitra untuk melakukan pembiayaan pada usahanya, berdasarkan hal tersebut digunakan hipotesis sebagai berikut:

H0 = Nisbah bagi hasil tidak signifikan atau bernilai 0

Ha4 = Nisbah bagi hasil signifikan atau tidak bernilai 0

5) Tahun pendidikan merupakan waktu yang dimiliki oleh nasabah untuk mengenyam pendidikan secara formal. Faktor ini diduga berimplikasi pada pengetahuan nasabah/petani terhadap pembiayaan. Semakin besar tahun pendidikan mengidentikan semakin tinggi mengenyam pendidikan maka peluang untuk mendapatkan pembiayaan lebih besar karena memiliki pengetahuan.

H0 = Tahun pendidikan tidak signifikan atau bernilai 0

Ha5 = Tahun pendidikan signifikan atau tidak bernilai 0

6) Komposisi modal usaha merupakan bagian yang harus diketahui pada awal permintaan pembiayaan. Karena faktor ini akan diduga berpengaruh kepada pengambilan keputusan BMT untuk memberikan bantuan pembiayaan jika komposisi modal yang dimiliki secara pribadi lebih besar dibandingkan modal bantuan dari pihak lain.

H0 = komposisi modal usaha tidak signifikan atau bernilai 0

Ha6 = komposisi modal usaha signifikan atau tidak bernilai 0

7) Sektor usaha merupakan ukuran apakah nasabah melakukan usaha pertanian pada sistem on-farm atau sektor usaha perdagangan, pengolahan produk pertanian. Hal ini diduga bahwa sektor usaha yang off-farm akan lebih besar mendapatkan pembiayaan karena resiko yang muncul lebih sedikit dan siklus bisnis yang cepat dibandingkan dengan sektor usaha yang on farm.

H0 = sektor usaha tidak signifikan atau bernilai 0

Ha7 = sektor usaha signifikan atau tidak bernilai 0

60

Uji t digunakan untuk melihat apakah koefisien berbeda signifikansi dari nol atau tidak untuk menentukan faktor yang berpengaruh nyata dan tidak berpengaruh nyata digunakan uji, sebagai berikut :

1. Pengujian parsial terhadap parameter dugaan (uji-t) Statistik yang digunakan,

Untuk Dimana:

ai = parameter penduga.

Sai = standar deviasi parameter a0

Hipotesa:

H0 = ai = 0

H1 = ai ≠0

Kriteria uji:

H0 ditolak apabila : thitung > ttabel, derajat bebas tertentu

H0 diterima apabila : thitung < ttabel, derajat bebas tertentu

2. Pengujian serentak seluruh parameter dugaan (uji-F) Statistik uji:

Dimana:

ESS= jumlah kuadrat yang dijelaskan RSS= jumlah kuadrat residual

k = banyaknya parameter dugaan termasuk intersep n = jumlah sampel

Hipotesa:

H0 = ai = 0

H1 = ai ≠0

Kriteria uji:

H0 ditolak apabila : Fhitung > Ftabel, derajat bebas tertentu

H1 diterima apabila : Fhitung < Ftabel, derajat bebas tertentu

3. Pengujian terhadap adanya masalah multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedasitas

61

Pengujian masalah multikoliniearitas dilakukan dengan melihat nilai VIF

(Variance Inflation Factors) pada setiap variabel bebas, jika nilai VIF lebih besar dari sepuluh menunjukan adanya masalah multikolinearitas. Pengujian masalah autokorelasi digunakan uji Durbin-Wastson, jika nilai d yang berkisar pada angka 2 menunjukan bahwa model tersebut tidak mengandung autokorelasi. Sedangkan penguian masalah heteroskedasitas digunakan uji white heterokedasticity. Jika nilai obs*R-square > X2 df = 2 atau probability (P-value) < α, maka model tersebut tidak mengadung heteroskedasitas. Analisis dilakukan dengan software Minitab versi 15 untuk mengetahui hasil-hasil analisisnya.

62

Dokumen terkait