Menurut Nasution (2003), studi kasus adalah bentuk penelitian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia di dalamnya. Studi kasus dapat dilakukan terhadap seorang individu (misal suatu keluarga), segolongan manusia, lingkungan hidup manusia atau lembaga sosial. Studi kasus dapat mengenai perkembangan sesuatu, dapat pula memberi gambaran tentang suatu keadaan. Dalam studi kasus dapat digunakan berbagai cara pengumpulan seperti observasi, wawancara, angket, studi dokumenter dan alat pengumpulan data lainnya.
Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Dengan wawancara, peneliti bertujuan untuk memperoleh data yang dapat diolah untuk memperoleh generalisasi yang menunjukkan kesamaan dengan situasi-situasi lain. Wawancara dapat berfungsi deskriptif, yaitu melukiskan kenyataan seperti dialami orang lain sehingga peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih obyektif tentang masalah yang diselidikinya. Wawancara dapat juga berfungsi eksploratif, yakni bila masalah yang dihadapi masih samar-samar karena belum pernah diteliti secara mendalam oleh orang lain. Secara umum, dapat dibedakan dua jenis wawancara yakni berstruktur dan tak berstruktur. Wawancara berstruktur dilakukan berdasarkan daftar pertanyaan dengan maksud dapat mengontrol dan mengatur berbagai dimensi pertanyaan ataupun jawabannnya. Wawancara tak berstruktur dilakukan secara spontan tanpa dipersiapkan daftar pertanyaan sebelumnya (Nasution, 2003).
F. Efisiensi Pemasaran
Menurut Sudiyono (2002), pemasaran sebagai kegiatan produktif mampu meningkatkan guna tempat, guna bentuk dan guna waktu. Dalam menciptakan guna tempat, guna bentuk dan guna waktu ini diperlukan biaya pemasaran. Biaya pemasaran ini diperlukan untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran oleh lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran dan produsen sampai kepada konsumen akhir. Pengukuran kinerja pemasaran ini memerlukan ukuran efisiensi pemasaran. Secara sederhana konsep efisiensi ini didekati dengan rasio output-input. Suatu Proses pemasaran dikatakan efisien apabila :
1). Output tetap dicapai dengan input yang lebih sedikit 2). Output meningkat sedangkan input yang digunakan tetap
3). Output dan input sama-sama mengalami kenaikan, tetapi laju kenaikan output lebih cepat daripada laju input
4). Output dan input sama-sama mengalami penurunan, tetapi laju penurunan output lebih lambat daripada laju penurunan input
Output pemasaran ini berupa kepuasan konsumen akibat pertambahan utiliti terhadap output-output pertanian yang dikonsumsi tersebut. Biaya pemasaran seringkali digunakan untuk mendekati input pemasaran. Penilaian efisiensi pemasaran dengan menggunakan rasio output- input ini sulit dilakukan, terutama dalam pengukuran output pemasaran yang berupa kepuasan konsumen. Pengukuran rasio output-input dapat didekati dengan sudut pandang efisiensi operasional dan efisiensi penetapan harga.
Efisiensi penetapan harga berhubungan dengan keefektifan pemasaran sehingga harga dapat digunakan untuk menilai hasil kinerja proses pemasaran dalam menyampaikan output pertanian dari daerah produsen ke daerah konsumen. Efisiensi operasional diukur dengan membandingkan output pemasaran terhadap input pemasaran. Dalam menetapkan efisiensi operasional ini diasumsikan sifat utama output tidak mengalami perubahan atau efisiensi ini lebih berkaitan dengan kegiatan fisik pemasaran dengan penekanan ditujukan pada usaha mengurangi input untuk menghasilkan output pemasaran atau menaikan rasio output-input pemasaran.
Indikator-indikator yang lebih jelas dan lebih mudah digunakan untuk menentukan efisiensi pemasaran adalah marjin pemasaran, tersedianya fasilitas fisik pemasaran dan intensitas persaingan pasar. Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dan harga yang diterima petani. Sementara ini ada anggapan bahwa semakin besar marjin pemasaran, semakin tidak efisien suatu proses pemasaran. Anggapan ini tidak selamanya benar, sebab marjin pemasaran ini pada hakekatnya terdiri dari biaya-biaya untuk melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran dan keuntungan lembaga-lembaga pemasaran. Anggapan tersebut dapat dibenarkan jika dibutuhkan biaya yang relatif kecil untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran.
Penyediaan fasilitas fisik untuk pengangkutan, penyimpanan dan pengolahan dianggap dapat digunakan untuk melihat efisiensi pemasaran. Kurang tersediaanya fasilitas fisik, terutama pengangkutan diidentikkan dengan ketidakefisienan proses pemasaran. Intensitas persaingan pasar juga seringkali digunakan untuk menilai efisiensi pemasaran. Struktur pasar persaingan sempurna dianggap lebih efisien dibanding struktur pasar oligopolistik maupun monopolistik.
G. Programa Linier
Menurut Dimyati dan Dimyati (2003), programa linier adalah suatu cara untuk menyelesaikan persoalan pengalokasian sumber-sumber yang terbatas di antara beberapa aktivitas yang bersaing, dengan cara terbaik yang mungkin dilakukan. Programa linier menggunakan model matematis untuk menjelaskan persoalan yang dihadapinya. Dalam membangun model dari formulasi persoalan digunakan karakteristik-karakteristik yang biasa digunakan dalam persoalan programa linier, yaitu :
a. Variabel keputusan
Variabel keputusan adalah variabel yang menguraikan secara lengkap keputusan-keputusan yang akan dibuat
b. Fungsi tujuan
Fungsi tujuan merupakan fungsi dari variabel keputusan yang akan dimaksimumkan (untuk pendapatan atau keuntungan) atau diminimumkan
c. Pembatas
Pembatas merupakan kendala yang dihadapi sehingga kita tidak bisa menentukan harga-harga variabel keputusan secara sembarang.
Bentuk standar dari persoalan programa linier tersaji di bawah ini. Setiap situasi yang formulasi matematisnya memenuhi model ini adalah persoalan programa linier.
Maksimumkan z = c1x1 + c2x2 + … + cnxn (fungsi tujuan) berdasarkan pembatas : a11x11 + a12x2 + … + a1nxn < b1 a21x11 + a22x2 + … + a2nxn < b2 . . . am1x11 + am2x2 + … + amnxn < bm dan x1 > 0, x2 > 0, …, xn > 0
Selain model programa linier dengan bentuk seperti yang telah diformulasikan di atas, ada pula model programa linier dengan bentuk yang agak lain seperti :
1. Fungsi tujuan bukan memaksimumkan, melainkan meminimumkan.
2. Beberapa pembatas fungsionalnya mempunyai ketidaksamaan dalam bentuk lebih besar atau sama dengan.
3. Beberapa pembatas fungsionalnya mempunyai bentuk persamaan. 4. Menghilangkan pembatas nonnegatif untuk beberapa variabel keputusan.
Dalam menggunakan model programa linier, diperlukan beberapa asumsi sebagai berikut :
1. Asumsi kesembandingan (proportionality)
Kontribusi setiap variabel keputusan terhadap fungsi tujuan adalah sebanding dengan nilai variabel keputusan. Kontribusi suatu variabel terhadap ruas kiri dari setiap pembatas juga sebanding dengan nilai variabel keputusan itu.
2. Asumsi penambahan (aditivity)
Kontribusi setiap variabel keputusan terhadap fungsi tujuan bersifat tidak tergantung pada nilai variabel keputusan yang lain. Kontribusi
suatu variabel terhadap ruas kiri dari setiap pembatas bersifat tidak tergantung pada nilai variabel keputusan yang lain.
3. Asumsi pembagian (divisibility)
Dalam persoalan programa linier, variabel keputusan boleh diasumsikan berupa bilangan pecahan.
4. Asumsi kepastian (certainty)
Setiap parameter, yaitu koefisien fungsi tujuan, ruas kanan, dan koefisien teknologis, diasumsikan dapat diketahui secara pasti.
Menurut Nasendi dan Anwar (1985), sistematika dari analisis- analisis dalam proses pengambilan keputusan yang memakai progam linier dan variasinya mempunyai lima tahap sebagai berikut :
1. Identifikasi persoalan
Identifikasi persoalan terdiri dari kegiatan penentuan dan perumusan tujuan, identifikasi peubah serta pengumpulan data tentang kendala-kendala yang menjadi syarat ikatan terhadap peubah-peubah dalam fungsi tujuan sistem model yang dipelajari.
2. Penyusunan model
Kegiatan penyusunan model terdiri dari empat hal, yaitu : (1)memilih model yang cocok sesuai dengan permasalahannya
(2)merumuskan segala macam faktor yang terkait di dalam model yang bersangkutan secara simbolik ke dalam rumusan model matematika (3)menentukan peubah-peubah beserta kaitannya satu sama lain
(4)menetapkan fungsi tujuan dan kendala-kendalanya dengan nilai-nilai dan parameter yang jelas
3. Analisis model
Model yang dipilih untuk dapat dianalisis dengan teknik program linier dan variasinya akan memberikan hasil-hasil yang optimal. Hasil analisis tersebut perlu diuji kepekaannya guna melihat sampai seberapa jauh parameter dari peubah-peubah yang ditetapkan dapat bertahan apabila terjadi perubahan pada sistem.
4. Pengesahan model
Analisis pengesahan model menyangkut penilaian terhadap model dengan cara mencocokkannya dengan keadaan dan data nyata. 5. Implementasi
Hasil-hasil yang diperoleh dapat dipakai dalam perumusan- perumusan rencana kegiatan yang sewaktu-waktu dapat dinilai. Implementasi hasil ini juga menyangkut sistem dokumentasi model dan dokumentasi hasil analisis yang baik.
H. Model Transportasi
Menurut Russel dan Taylor (2003), metode transportasi adalah suatu teknik kuantitatif yang digunakan untuk menentukan cara menyelenggarakan transportasi dengan biaya seminimal mungkin. Persoalan transportasi melibatkan pengangkutan barang dari berbagai sumber dengan jumlah penawaran tetap ke tujuan-tujuan tertentu dengan jumlah permintaan yang tetap pula dengan biaya serendah mungkin. Dimyati dan Dimyati (2003) menyatakan bahwa model transportasi merupakan salah satu bentuk khusus atau variasi dari program linier yang dikembangkan khusus untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan transportasi dan distribusi produk dari berbagai sumber (pusat pengadaan atau titik suplai) ke berbagai tujuan (titik permintaan). Ciri khusus dari suatu persoalan transportasi ini adalah :
1. Terdapat sejumlah sumber dan sejumlah tujuan tertentu.
2. Kuantitas komoditas atau barang yang didistribusikan dari setiap sumber dan yang diminta oleh setiap tujuan, besarnya tertentu.
3. Komoditas yang dikirim atau diangkut dari suatu sumber ke suatu tujuan besarnya sesuai dengan permintaan dan atau kapasitas sumber.
4. Ongkos pengangkutan komoditas dari suatu sumber ke suatu tujuan, besarnya tertentu.
Misalkan ada m buah sumber dan n buah tujuan. Masing-masing sumber mempunyai kapasitas ai, dengan i = 1, 2, …, m. Masing-masing tujuan membutuhkan komoditas sebanyak bj, dengan j = 1, 2, …, n. Jumlah
satuan yang dikirimkan dari sumber i ke tujuan j adalah sebanyak Xij dengan ongkos pengiriman per unit adalah Cij. Dengan demikian, maka formulasi programa liniernya adalah sebagai berikut.
Meminimumkan
∑∑
= = = m i n j ij ijX C Z 1 1 berdasarkan pembatas : i n j ij a X =∑
=1 ; i = 1, 2, ..., m j n i ij b X =∑
=1 ; j = 1, 2, ..., ndan Xij ≥0untuk seluruh i dan j.
I. LINDO
LINDO (Linear Interactive and Discrete Optimizer) ialah suatu paket program interaktif programming linier, kuadratik dan integer yang dirancang agar dapat digunakan oleh berbagai kalangan pemakai. Lindo disusun sedemikian rupa sehingga sangat mudah digunakan karena persoalan
Linear Programming yang telah dinyatakan dalam fungsi tujuan dan kendala-
kendala tidak perlu dipindahkan ke dalam format-format tertentu yang menyulitkan, akan tetapi secara langsung dapat dimasukkan sesuai dengan bentuk aslinya (Pusat Pengolahan Data dan Statistik Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, 1985).
LINDO telah digunakan pada ribuan badan usaha, perguruan tinggi, universitas dan badan pemerintahan di seluruh dunia. LINDO versi Windows menyediakan menu pull-down dan toolbar yang mudah digunakan serta editor model yang lengkap. Persoalan dapat diekspresikan dalam gaya persamaan lurus yang sederhana. LINDO juga mempunyai kapasitas untuk menyelesaikan model linier dan integer berskala besar dengan cepat. LINDO juga mempunyai semua fitur yang dibutuhkan untuk input model, editing, tampilan solusi, penyelidikan kelogisan data, penanganan file dan analisis sensitivitas (LINDO Sytems Inc, 2006).