Lokasi dan Waktu
Penelitian dilakukan pada peternakan plasma ayam broiler Bapak Syafril Desa Batu Gandang di Kab. Sijunjung sebagai peternak plasma dan 7 peternak mandiri di Kota Sawahlunto/Kab Sijunjung. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa terjadi fluktuasi jumlah populasi ternak yang cukup signifikan di daerah ini dikarenakan adanya peralihan penggunaan lahan menjadi pertambangan dan perumahan. Selain itu beberapa tahun terakhir mulai marak perusahaan inti menawarkan pola kemitraan kepada peternak-peternak di daerah ini. Pemilihan lokasi untuk peternak plasma ini dikarenakan peternakan ini merupakan peternakan yang sudah berdiri cukup lama dibanding peternak plasma lainnya dan memiliki populasi yang cukup banyak serta adanya fluktuasi mortalitas yang cukup bervariasi. Untuk peternak mandiri karena jumlah peternak yang cukup sedikit, pada penelitian ini dimasukkan seluruh peternak mandiri yang ada di Kota Sawahlunto dan sebagian di kab. Sijunjung untuk mengimbangi jumlah populasi ayam broiler peternak plasma. Kegiatan pengumpulan data dilakukan selama dua bulan yaitu pada bulan April 2013 sampai dengan bulan Juni 2013.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, data ini bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data pimer diperoleh dari hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak perusahaan, peternak dan anak kandang. Data primer berisikan tentang teknik pengelolaan risiko atau manajemen risiko yang dilakukan oleh perusahaan maupun peternak. Data ini diperoleh dari pemilik peternakan, tenaga kerja (anak kandang), dan teknisi lapang dari perusahaan yang mengetahui dan memahami kondisi peternakan. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur-literatur yang terkait topik penelitian. Data sekunder tersebut dapat diperoleh dari sumber internal seperti laporan divisi dalam suatu perusahaan, ringkasan produksi, laporan keuangan dan akuntansi, laporan studi pemasaran, laporan studi penjualan. Data sekunder dari sumber eksternal dapat diperoleh buku, artikel, skripsi, jurnal, database online, Dinas Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan, Balai Penelitian Ternak, Badan Pusat Statistik (BPS) dan literatur yang relevan dengan penelitian. Data-data tersebut berkaitan dengan informasi tentang peternakan ayam broiler di Kota Sawahlunto dan Kab. Sawahlunto Sijunjung.
Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitan ini adalah data primer yang diperoleh dengan cara observasi, wawancara, diskusi, dan kuisioner dengan pihak perusahaan, peternak, dan anak kandang. Observasi dilakukan langsung oleh peneliti dengan pencatatan secara langsung tentang kegiatan produksi dan risiko yang dihadapi dalam peternakan ayam broiler. Wawancara dilakukan dengan
pihak perusahaan yaitu bagian teknisi lapang (TS), pemilik peternakan, anak kandang tentang risiko yang biasa muncul/dihadapi oleh peternakan ayam broiler.
Pada penelitian tentang risiko usaha peternakan ayam broiler ini, proses pengambilan data dilakukan secara sengaja (purposive), sedangkan untuk pengambilan responden juga dilakukan dengan pendekatan (purposive) dengan pertimbangan responden memiliki kapabilitas untuk memberikan data-data yang akurat. Dalam penelitian ini responden yang diambil oleh peneliti dipilih secara subjektif sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Responden yang dipilih adalah orang-orang bagian internal perusahaan seperti pemilik peternakan, anak kandang, dan teknisi lapangan dari perusahaan inti karena para responden ini diperkirakan dapat memberikan informasi-informasi dan data-data yang berkaitan dengan kegiatan dan risiko produksi yang dihadapi perusahaan. Sampel yang diambil ini bertujuan untuk memperoleh suatu kesimpulan dari tujuan penelitian yang dilakukan.
Pada penelitian ini dipilih 1 peternak yang bermitra dengan alasan terjadinya fluktuasi produksi dan pendapatan selama periode pengamatan (10 periode terakhir) dengan menggunakan data time series. Sedangkan untuk peternak mandiri data yang digunakan adalah data pada saat pengamatan langsung di lokasi penelitian atau disebut juga cross section. Untuk pemilihan responden peternak- peternak mandiri, karena keterbatasan jumlah populasi peternak mandiri yang tidak terlalu banyak maka peneliti mengambil keseluruhan responden yaitu 7 peternak mandiri yang ada di Kota Sawahlunto /Kab. Sijunjung. Adapun peternak mandiri yang masih menjalankan usaha peternakan ayam broiler saat ini mulai berkurang karena persaingan di pasar yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar.
Metode Analisis Data
Data primer dan data sekunder yang diperoleh akan dijadikan sebagai acuan pada penelitian ini. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua data ini akan diolah dan dianalisis melalui beberapa metode analisis yang digunakan. Metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9 Proses pengolahan data
No Tujuan penelitian Jenis data Sumber data Metode analisis 1 Mengidentifikasi sumber-sumber
risiko pada peternakan ayam broiler Data Kualitatif Wawancara, kuisioner Analisis deskriptif 2 Menganalisis pengaruh risiko
produksi dan risiko harga terhadap pendapatan peternakan ayam broiler Data Kuantitatif Wawancara, Laporan divisi, keuangan, pemasaran, penjualan perusahaan Analisis Risiko dan Analisis Pendapatan
3 Menganalisis alternatif strategi pengelolaan risiko pada peternakan ayam broiler Data Kualitatif Wawancara, kuisioner, diskusi Analisis deskriptif
Dalam penelitian mengenai risiko pada usaha peternakan ayam broiler
dengan pola kemitraan dan mandiri ini menggunakan pengukuran risiko yaitu varian, standar deviasi dan koefisien variasi. Ukuran risiko ini bertujuan untuk melihat seberapa besar risiko yang akan dihadapi peternak bermitra dan peternak mandiri pada periode yang akan datang. Untuk membandingkan biaya dan pendapatan bersih yang diterima peternak bermitra dan peternak mandiri dilakukan analisis pendapatan dan R/C Ratio. Setelah diketahui sumber-sumber risiko yang dihadapi oleh peternak bermitra dan peternak mandiri dan besarnya pendapatan yang diperoleh peternak bermitra dan peternak mandiri maka tahapan selanjutnya yang dilakukan adalah penetapan alternatif strategi dalam menangani risiko yang dihadapi. Hipotesis dari penelitian ini yang pertama adalah kemitraan dilakukan untuk meminimalisir risiko yang dihadapi oleh peternak. Hipotesis berikutnya adalah kemitraan tidak dapat meminimalisir risiko yang dihadapi oleh peternak.
Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis sumber-sumber risiko dan alternatif manajemen risiko yang diterapkan oleh perusahaan untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi dan ketidakpastian yang dihadapi. Manajemen risiko yang diterapkan berdasarkan pada penilaian perusahaan sebagai pengambil keputusan secara subjektif. Identifikasi ini dilakukan untuk melihat apakah manajemen risiko yang diterapkan efektif untuk meminimalkan risiko. Hal tersebut didasarkan pada tingkat risiko yang dihadapi oleh perusahaan. selain itu, analisis deskriptif digunakan untuk melihat pearanan pola kemitraan terhadap usaha yang dijalankan peternak.
Parameter penilaian prestasi produksi ayam broiler:
Parameter penilaian prestasi produksi ayam broiler diperlikan untuk melihat penyimpangan produksi aktual peternak bermitra dengan produksi standar yang ditetapkan perusahan inti. Beberapa parameter prestasi yang biasa dipakai oleh
para peternak ayam broiler sebagai berikut : a. Persentase kematian (Persentase Deplesi)
Persentase kematian adalah jumlah ayam yang mati dan diafkir dibagi dengan jumlah total awal ayam yang dipelihara dalam setiap periodenya.
=( ℎ − ℎ � )
ℎ 100%
b. Rata-rata berat ayam yang dijual
Rata-rata berat ayam yang dijual adalah total dari berat ayam yang dijual dibagi dengan total jumlah ayam yang dijual.
− � = �
c. Konversi Pakan (Feed Conversion Ration atau FCR)
Konversi pakan adalah banyaknya kilogram pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram berat badan ayam hidup.
���= � � − �
ℎ �
d. Umur Panen dan Rataan Umur Panen
Umur panen adalah umur ayam ketika dijual dalam satuan hari, jika umur panen ayam beragam ketika dijual dalam arti umur setiap ayam berbeda karena berbeda saat kedatangannya maka harus dicari rataan umur panen.
= ℎ ℎ ℎ �
ℎ �
e. Indeks Prestasi atau Performance Numerical (PN)
Indeks Prestasi adalah suatu formula yang paling umum dipakai untuk
mengetahui prestasi ayam broiler komersial. Semakin besar nilai PN yang diperoleh (lebih dari 200), maka semakin bagus Prestasi Produksi ayam dan semakin efisien penggunaan pakan dan biaya.
PN =(100 %− persentase kematian) x Rataan Berat Ayam dipanen x 100
��� x Rataan umur panen
Analisis Risiko
Penilaian risiko didasarkan pada pengukuran penyimpangan (deviation) terhadap return dari suatu aset. Beberapa ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur penyimpangan diantaranya adalah varian (variance), standar deviasi
(standard deviation), dan koefisien variasi (coefficient variation). Ukuran-ukuran
tersebut merupakan ukuran statistik. Penjelasan mengenai beberapa ukuran sebagai berikut:
1. Hasil yang Diharapkan atau Expected Return
Hasil yang diharapkan atau expected return dihitung dari penjumlahan hasil kali antara peluang kejadian (probability) dengan return berupa pendapatan bersih dari seluruh periode pengamatan pada peternak plasma dan peternak mandiri. Secara matematis expected return dapat dituliskan sebagai berikut:
� = �
=1
Penjabaran dari rumus expected return dapat dituliskan sebagai berikut:
Dimana :
Pij = Peluang dari suatu kejadian (i=aset, j=kejadian)
Rij = Return
Ri = Expected return
Jumlah kejadian atau pengamatan di usaha peternakan ayam broiler ada 10 kejadian pada peternak plasma dan 7 kejadian pada peternak mandiri, jadi peluang dari setiap kejadiannya dianggap sama yaitu bernilai satu. Sehingga
expected return dapat dihitung dengan mencari nilai rata-rata atau mean dari
return berupa pendapatan bersih usaha peternakan ayam broiler pada peternak plasma dan peternak mandiri Maka secara matematis expected return dapat dituliskan sebagai berikut :
Ri =
Rij =1
n
Dimana :
Ri = Expected Return atau Pendapatan rata-rata (Rp/Periode)
Rij = Pendapatan periode ke-j (Rp/Periode)
n = Jumlah data pengamatan
2. Varian (variance)
Pengukuran variance dari return merupakan penjumlahan selisih kuadrat dari return dengan expected return dikalikan dengan peluang dari setiap kejadian. Nilai variance dapat dituliskan dengan rumus sebagai berikut (Elton dan Gruber,1995):
�2 = =1
(� − �)2
Rumus variance dari return tersebut dapat juga dituliskan dalam bentuk sebagai berikut :
�2=
1(�1− �1)2+ 2(�2− �2)2+ 3(�3− �3)2+⋯+ (� − � )2 Dimana :
σi2 = dari
Pij = Peluang dari suatu kejadian (i=aset, j=kejadian)
Rij = Return
Ri = Expected return
Jumlah kejadian atau pengamatan di usaha peternakan plasma ada 10 kejadian dan peternak mandiri 7 kejadian, jadi nilai peluang dari setiap
kejadian dianggap sama yaitu bernilai satu. Sehingga secara matematis ragam (variance) dapat dituliskan sebagai berikut:
�2 = � − � 2 =1 −1 Dimana: σi2 = dari retun
Ri = Expected Return atau Pendapatan rata-rata (Rp/Periode)
Rij = Pendapatan periode ke-j (Rp/Periode) n = Jumlah pengamatan
Dari nilai variance dapat menunjukkan bahwa semakin kecil nilai
variance maka semakin kecil penyimpangan sehingga semakin kecil risiko
yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usaha tersebut. Begitu juga sebaliknya, semakin besar nilai variance maka semakin besar penyimpangannya sehingga semakin besar risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usaha.
3. Standar Deviasi (Standard Deviation)
Standard Deviation dapat diukur dari akar kuadrat nilai variance. Secara matematis standard deviation dapat dituliskan sebagai berikut :
�= �2
Dimana :
σ = Simpangan Baku atau Standard Deviation (Rp/Periode)
σ2 = Ragam atau Variance (Rp/Periode)
Makna dari ukuran standard deviation seperti halnya variance, artinya semakin kecil nilai standard deviation maka semakin rendah risiko yang dihadapi dalam kegiatan usaha.
4. Koefisien Variasi (Coefficient Variation)
Coefficient variation diukur dari rasio standard deviation dengan
expected return. Secara matematis coefficient variation (CV) dapat
dituliskan sebagai berikut :
�� =� Ř Dimana :
CV = Koefisien Variasi atau Coefficient Variation
σ = Simpangan Baku atau Standard Deviation (Rp/Periode) Ri = Expected Return atau Pendapatan rata-rata (Rp/Periode)
Semakin kecil nilai coefficient variation maka semakin kecil risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usaha. Begitu juga sebaliknya,
Semakin besar nilai coefficient variation maka semakin besar risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usaha.
5. Metode Z-Score
Metode Z-Score adalah metode pengukuran risiko atau kejadian yang merugikan akibat hasil yang diperoleh menyimpang dari hasil standar. Z-
Score adalah suatu angka yang menunjukkan seberapa jauh suatu nilai dari
rata-ratanya/standarnya pada distribusi normal. Dengan mengetahui Z-
Score (atau nilaiz) kita dapat mengetahui besarnya kemungkinan suatu
ukuran atau suatu nilaiyang berada lebih besar atau lebih kecil dari rata- ratanya ataupun dari standarnya.
Z-Score diperoleh dengan cara berikut:
= −
Dimana :
Z = nilai z (atau z-score) x = suatu nilai
= rata-rata x / nilai standar s = standar deviasi
Rata-rata diperoleh dengan cara : = Dimana :
n = jumlah anggota dari sampel 6. Batas Bawah Pendapatan (L)
Nilai L menunjukkan nilai nominal pendapatan bersih terendah yang mungkin diterima oleh peternak. Apabila nilai L sama dengan atau lebih dari nol, maka peternak tidak akan mengalami kerugian dan begitu juga sebaliknya. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
L = Ri –2 σ Keterangan :
L = Batas Bawah Pendapatan (Rp/Periode)
Ri = Expected Return atau Pendapatan rata-rata (Rp/Periode)
σ = Simpangan Baku atau Standard Deviation (Rp/Periode)
Terdapat hubungan antara nilai batas bawah pendapatan dengan nilai koefisien variasi. Apabila nilai CV > 0.5 maka nilai L < 0. Hal ini berarti pada setiap proses produksi ada peluang peternak mengalami kerugian. Apabila nilai CV < 0.5 maka nilai L > 0. Hal ini berarti perusahaan akan selalu untung dan akan impas apabila nilai CV = 0 dan L = 0.
Analisis Pendapatan
Dalam Soekartawi dkk (1986) menjelaskan bahwa pendapatan bersih usahatani merupakan selisih antara pendapatan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani. Dimana pendapatan kotor usahatani atau penerimaan total usahatani (total farm revenue) adalah ukuran hasil perolehan total sumberdaya yang digunakan dalam usahatani, sedangkan pengeluaran total adalah nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan didalam produksi, tetapi tidak termasuk tenaga kerja keluarga petani. Rumus penerimaan, total biaya dan pendapatan adalah :
Π = TR – TC
Dengan kriteria : TR>TC, maka usaha menguntungkan TR=TC, maka usaha impas
TR<TC, maka usaha rugi
Berdasarkan penelitian Solihin (2011), untuk menghitung analisis pendapatan pada usaha peternakan ayam broiler dapat digunakan rumus sebagai berikut dengan beberapa tambahan yang ditambahkan peneliti sesuai keadaan yang ada di tempat penelitian :
TR = Y + L
TC = ( P + D + O) + ( Tk + S + LA+ BL + DL) Keterangan :
π = Pendapatan
TR = Total penerimaan atau Total Revenue (Rp) TC = Total biaya atau Total Cost (Rp)
Y = Penerimaan dari penjualan ayam (Rp) L = Penerimaan lain-lain (Rp)
P = Biaya pakan (Rp) D = Biaya DOC (Rp)
O = Biaya obat-obatan, vitamin, vaksin (Rp) Tk = Biaya tenaga kerja (Rp)
S = Biaya sekam (Rp) LA = Listrik & Air (Rp) BL = Biaya LPG (Rp) DL = Biaya lain-lain (Rp)
Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio)
Rasio penerimaan dan biaya ini menunjukkan besarnya penerimaan yang diperoleh dari setiap biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani. Analisis rasio ini dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keuntungan relatif kegiatan usahatani. Rasio R/C dapat dirumuskan secara sistematis sebagai berikut:
R/C Ratio= �� ��
Rumus tersebut digunakan untuk mengetahui hasil dari kegiatan usahaselama periode tertentu. Jika R/C Ratio > 1 berarti setiap tambahan biaya yangdikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripadatambahan biaya atau dapat dikatakan kegiatan usahatani tersebut efisien untukdilaksanakan. Sedangkan jika R/C Ratio < 1, maka penerimaan lebih kecil dari tiap unitbiaya yang dikeluarkan hal ini berarti usaha tersebut mengalami kerugian dantidak layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika R/C Ratio = 1, maka kegiatan usahatani tersebut berada pada titik impas.