Penelitian ini dengan mengambil kasus inovasi di Kabupaten Sragen pada masa kepemimpinan bupati Untung Wiyono selama dua kali masa jabatan yaitu mulai tahun 2001 sampai dengan 2011. Penetapan ini atas dasar daerah tersebut berprestasi dalam melakukan berbagai inovasi dalam masa kepemimpinan Untung Wiyono (Tempo Edisi 22-28 Desember, 2008).
Inovasi dalam kajian ini maksudnya adalah inovasi kebijakan dalam pelayanan perijinan terpadu, pelayanan dalam pemerintahan dengan menerapkan program IT (electronic government/e-gov), pelayanan dalam ketenagakerjaan dengan membangun balai latihan kerja technopark.
47 Disertasi ini hendak menjelaskan bahwa inovasi kebijakan adalah merupakan perubahan sistemik yang dibalik itu ada praktek-praktek politik yang harus dijalankan. Inovasi bupati di ruang demokrasi ada banyak pihak yang terlibat dan diakomudir kepentingannya. Asumsi dasarnya adalah inovasi kebijakan akan merubah sikap dan perilaku berbagai pihak yang terlibat yang masing-masing memiliki kepentingan terhadap perubahan tersebut. Politik diartikan sebagai relasi kekuasaan yang dipraktekkan dalam kepentingan ekonomi berbagai pihak terkait.
Untuk membingkai kajian ini memadukan antara teorinya Lewin (1951) tentang perubahan dan teorinya Freiden (2000) tentang ekonomi politik. Langkah-langkahnya adalah kegiatan inovasi yang menyangkut relasi kekuasaan yang dilakukan Untung W dianalisis dalam tiga fase (unfreeze, change dan refreeze) dimana dalam setiap fase tersebut masing-masing pihak yang terlibat akan berusaha untuk memaksimalkan keuntungannya.
1.8.1 Jenis Penelitian
Sesuai dengan masalah, tujuan dan konseptualisasinya, kajian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan eksploratif. Yaitu mendeskripsikan dan menggali secara terbuka yang diikuti dengan menginterpretasikan secara obyektif (Vredenbrug, 1986) berbagai fenomena yang menyangkut proses-proses inovasi kebijakan yang dilakukan oleh Untung Wiyono di kabupaten Sragen.
Penelitian eksploratif maksudnya adalah penelitian ini bersifat terbuka, masih mencari-cari dan belum memiliki hipotesis. Melalui penelitian eksploratif, masalah penelitian dapat dirumuskan dengan jelas (Surahmad, 1985, hal. 3).
48 Tujuan utama eksploratif adalah bukan menguji teori, akan tetapi membangun suatu model setelah melakukan pengamatan empiris.
Dengan metode deskriptif-eksploratif tersebut, penulis melacak praktek inovasi khususnya cara menjalin relasi kekuasaan yang dilakukan Bupati Untung Wiyono terhadap berbagai pihak untuk membangun inovasi kebijakan di Kabupaten Sragen sehingga menghasilkan suatu kebijakan baru yang lebih efektif dan efisien dan sustainable.
1.8.2 Jenis Data
Dalam penelitian ini dibutuhkan dua jenis data sekaligus, yakni data sekunder (dokumenter) dan data primer. Data sekunder berbentuk dokumen resmi pemerintah (beberapa Peraturan Daerah, Keputusan dan peraturan Bupati), berbagai dokumen kebijakan yang terkait dengan sistem kebijakan baru,visi dan misi Kabupaten Sragen, berita-berita media massa, dokumen yang dikeluarkan oleh LSM, biografi, wawancara elite lokal oleh media massa, artikel para analis, buku-buku dan sebagainya. Data primer berupa hasil wawancara dengan para informen.
1.8.3 Teknik Pengumpulan Data
Untuk pengambilan data sekunder menggunakan teknik dokumentasi, atau yang lebih populer disebut sebagai studi kepustakaan (library research). Prinsip teknik pengambilan data ini dilakukan dengan cara menggali data dokumenter yang telah tersedia dalam berbagai perpustakaan, arsip dokumen resmi Pemerintah Daerah, media masa.
49 Data primer diperoleh langsung dari informen (narasumber) dengan wawancara mendalam (indepth interview). Penulis melakukan wawancara dengan sejumlah pejabat pemerintah (baik eksekutif maupun legislatif), aktivis LSM, tokoh masyarakat Kabupaten Sragen, elite formal maupun informal, para stake holders dan lain-lain.
1.8.4.Teknik Penentuan Informan
Informan ditentukan bersama-sama dengan wawancara di lapangan dengan menggunakan metode snowbowling (nama-nama informan ada dalam lampiran). Caranya terlebih dahulu penulis menentukan informen tertentu sebagai orang yang dianggap key person atau key informen. Key person dicari dari orang yang telah memahami mengenai inovasi kebijakan yang dilakukan Untung W di kabupaten Sragen. Selanjutnya key person dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pencarian key person selanjutnya, sehingga membuka jalan peneliti untuk mengungkap fenomena yang lebih lengkap. Jumlah informan juga tidak ditentukan secara pasti dan rigid namun berkembang disesuaikan pada perolehan kedalaman jawaban dan kebutuhan data.
1.8.5 Jenis Informan
Dalam konteks ini, Informen penelitian dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, kelompok internal yaitu para pejabat birokrasi mulai dari Bupati, Sekda, Kepala Dinas, Kepala Badan Pelayanan Terpadu, Kepala Kantor PDE dan aparatur di bawahnya yang terkait dengan tema penelitian ini. Penulis melakukan wawancara dengan Bupati, Sekda, para kepala bagian, ketua Bappeda, para
50 Kepala Dinas, Kepala Badan Pelayanan Terpadu (BPT), para pegawai.Kedua, kelompok eksternal yaitu masyarakat sipil yang berurusan dengan pelayanan tersebut, para stake holders yang terkait, DPRD sebagai wakil rakyat, begitu juga berbagai pihak yang dirasa paham dengan masalah inovasi kebijakan tersebut, misalnya aktivis LSM, wartawan, tokoh organisasi massa, akademisi, mahasiswa, tokoh agama dan lain sebagainya.
1.8.6. Analisis Data
Untuk menganalisis data sekunder dan primer di atas, penulis menggunakan dua metode sekaligus, yaitu triangulasi dan interpretatif (Brenan,1997). Metode triangulasi dimulai dari memeriksa keabsahan data dengan menggunakan data yang lain di luar data itu, untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu. Hal ini dimaksudkan untuk membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Moleong, 1990: 175-178). Peneliti melakukan cross-check, membandingkan informasi satu dengan yang lainnya bahkan antara kelompok yang pro dan yang kontra mengenai hal yang dilakukan oleh Untung Wiyono dalam melakukan inovasi di Sragen sampai diperoleh informasi yang netral, rasional dan valid.
Dalam penelitian ini, metode triangulasi dilakukan menjadi dua cara. Pertama, kontrol silang (cross-check) antara sumber data sekunder yang satu dengan lainnya, yang dilakukan bersama-sama dengan klasifikasi, reduksi, dan recheck. Diantaranya adalah, informasi atau data sekunder dalam artikel yang menganalisis tentang inovasi ataupun prestasi Sragen dibandingkan dengan sumber
51 informasi yang lain, baik dari koran atau majalah. Demikian juga, informasi yang berasal dari satu sumber koran atau majalah dibandingkan dengan koran atau majalah lainnya. Kedua, membandingkan atau kontrol-silang antara data sekunder dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara. Demikian juga membandingkan antara data primer yang satu dengan yang lain. Membandingkan hasil wawancara dengan Untung Wiyono dengan wawancara yang lainnya. Dengan demikian, wawancara bukan saja untuk memperoleh infomasi yang semakin banyak, tetapi juga menjadi alat untuk kontrol-silang. Artinya data sekunder akan dikontrol dengan data hasil wawancara, dan data hasil wawancara dengan satu informen akan dikontrol dengan hasil wawancara dengan informen lainnya.
Dalam sajian analisis data, penulis menyajikan sejumlah argumen dasar yang kemudian didukung dengan data yang digarap melalui metode triangulasi. Selain menyajikan sejumlah argumen abstrak, penulis juga menyajikan informasi naratif untuk mendukung argumen tersebut, termasuk sajian data primer dalam bentuk “suara asli” dari responden agar data betul-betul valid.
Selain menggunakan cara triangulasi untuk keperluan membandingkan dan melengkapi berbagai sumber data di atas, analisis data yang lebih substantif dilakukan pendekatan pemahaman (interpretatif). Dalam sajian analisis data, pendekatan interpretatif digunakan untuk memahami atau memaknai data (fenomena) dan membangun argumen-argumen konseptual (teoritis) yang abstrak. Agar sejumlah argumen teoretis yang dikemukakan tidak kering dan tidak terkesan spekulasi, maka dilengkapi dengan bukti-bukti empirik, termasuk suara asli dari sejumlah informen. Pendekatan interpretatif tersebut tentu tidak hanya didasarkan pada akal sehat (common-sense), tetapi tidak akan lepas dari kerangka
52 teoritis yang sudah dibangun sebelumnya. Kerangka teori, pendekatan interpretatif dan data empirik digunakan secara simultan untuk memahami dan menjelaskan fenomena dan tindakan Untung Wiyono, para birokrat, anggota dewan, masyarakat dan tokohnya sehingga bisa menjadi modal bagi klarifikasi dan memperkaya teori serta kerangka preskripsi.