¾ Penelitian ini hanya membahas implikasi penerapan ISO 9002. implikasi ini berupa pengaruhnya terhadap produktifitas pekerja pada bagian kursi rotan DV DC 02 King’s type SPR 212.23.
¾ Tenaga kerja yang menjadi objek penelitian adalah karyawan tetap perusahaan pada bagian kursi rotan, sudah bekerja minimal dua setengah tahun.
2. Metode Pengumpulan Data
Data yang dibutuhkan adalah data primer dan data sekunder. Kedua jenis data tersebut dapat berupa data kuantitatif maupun data kualitatif. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dan dari hasil wawancara dengan pihak pekerja dan manajemen. Sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Data yang dikumpulkan dari perusahaan meliputi keadaan umum perusahaan, jumlah tenaga kerja, dan jumlah produksi.
3. Metode yang Dipakai dalam Penelitian ini adalah : a). Analisa Deskriptif
b). Analisa Kualitatif
c). Analisa Kuantitatif
4. Prosedur Kerja
a) Analisa Deskriptif
Analisa deskriptif merupakan suatu metode analisis yang digunakan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran secara mendalam dan obyektif mengenai kondisi objek penelitian (hal-hal yang dirasakan oleh pekerja) untuk tahun sebelum dan sesudah penerapan ISO 9002. Metode ini dilakukan dengan mendeskripsikan kondisi PT. Super Poly Industri dan pekerja sebelum dan sesudah implementasi ISO 9002. Untuk membantu memaparkan hasil analisis ini, informasi disajikan dalam bentuk tabulasi, gambar maupun diagram.
b) Analisa Kualitatif
Analisa kualitatif dilakukan dengan pendekatan Konsep Manajemen Mutu berdasarkan seri standar internasional ISO 9000 dan Konsep Dasar Sistem Produktifitas. Analisis kualitatif ini digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai implikasi penerapan ISO 9002 terhadap efisiensi penggunaan faktor produksi. Data yang digunakan adalah data tahunan (jumlah karyawan dan jumlah produksi) untuk tahun-tahun sebelum dan sesudah implementasi ISO 9002. Analisa kuantitatif dilakukan dengan menggunakan model pengukuran produktifitas berdasarkan pendekatan fungsi Cobb – Douglas. Bentuk umum dari fungsi Cobb – Douglas adalah (Gaspersz, 1998 dalam Sari, 2000) :
Q = δ L β
Karena terdapat bilangan berpangkat, maka untuk memudahkan penyelesaiannya persamaan tersebut dapat diubah menjadi bentuk linear berganda dengan bantuan logaritma natural, sehingga persamaan tersebut akan menjadi :
Ln Q = Ln δ + β Ln L
Dimana : Q = output rotan (Kg).
L = input yang dipergunakan dalam proses produksi, tanaga kerja (orang).
δ = indeks efisiensi penggunaan input dalam menghasilkan output. β = elastisitas produksi dari input yang digunakan.
Data yang digunakan adalah data bulanan untuk jumlah karyawan dan jumlah produksi tahun sebelum dan sesudah implementasi ISO 9002.
Fungsi Cobb – Douglas merupakan salah satu bentuk fungsi produksi yang paling banyak digunakan dalam analisis produktifitas. Hal ini dikarenakan :
1. Bentuk fungsi produksi Cobb – Douglas bersifat sederhana dan mudah dalam penerapannya.
2. Fungsi produksi Cobb – Douglas mampu menggambarkan skala hasil (return to scale), apakah sedang meningkat, tetap atau menurun.
3. Koefisien-koefisien fungsi produksi Cobb – Douglas secara langsung menggambarkan elastisitas produksi dari setiap input yang dipergunakan dan dipertimbangkan untuk dikaji dalam fungsi produksi Cobb – Douglas.
4. Koefisien intersep dari fungsi produksi Cobb – Douglas merupakan indeks efisiensi produksi yang secara langsung menggambarkan efisiensi penggunaan input dalam menghasilkan output dari sistem produksi yang sedang diuji.
c) Analisa Kuantitatif
Analisa ini dilakukan terhadap pekerja dengan tujuan untuk melihat implikasi penerapan ISO 9002 terhadap tingkat produktifitas pekerja. Produkifitas yang diukur merupakan produktifitas parsial dengan input tenaga kerja pada PT. Super Poly Industri. Untuk melihat produktifitas tenaga kerja, diambil data sekunder yang dapat memberikan gambaran tentang produktifitas tenaga kerja, yaitu berupa data jumlah produk yang dihasilkan, jumlah jam kerja yang digunakan, jumlah tenaga kerja, serta jumlah, jenis dan kapasitas mesin. Jumlah, jenis dan kapasitas mesin
dimaksudkan untuk memberikan gambaran kondisi yang ada. Rumus yang digunakan adalah :
P =
Dimana : P = Produktifitas (unit/orang/hari). output = Jumlah hasil produksi per hari (unit). Input = Jumlah tenaga kerja yang digunakan (orang).
Langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Memilih pekerja yang akan diukur pada setiap tahapan (mulai dari bagian material sampai bagian finishing) dan komponen pekerjaan (pekerja yang sudah bekerja minimal dua setengah tahun).
2. Menjelaskan kepada pekerja bahwa pekerjaanya akan diamati.
3. Menghitung volume input dan output pada setiap tahapan dan komponen pekerjaan (rangka dan dudukan kursi).
4. Mengukur waktu yang digunakan untuk mengubah input menjadi output pada tiap bagian tersebut.
5. Hasil pengukuran dimasukkan dalam lembar penelitian.
Hasil pengukuran waktu selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus :
n x STr=
∑
dimana : STr = Waktu rata-rata untuk tiap unsur kerja (menit). X = Waktu hasil pengukuran (menit).
n = Banyaknya pengukuran yang dilakukan.
input output
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Deskriptif Implikasi Penerapan ISO 9002 di PT. Super Poly Industri 1. Sebelum Penerapan ISO 9002 di PT. Super Poly Industri.
Kursi rotan DV DC 02 King’s type SPR 212.23 merupakan salah satu jenis kursi makan yang di produksi oleh PT. Super Poly Industri (PT. SPI), yang dibuat berdasarkan pesanan dari pembeli dan di ekspor ke Negara-negara di Eropa dan Amerika.
Sampai dengan tahun 1997, volume penjualan PT. Super Poly Industri mencapai minimal 24 kontainer perbulan. Namun pada tahun 1998 volume penjualan menurun menjadi 13 sampai 20 kontainer perbulan. Kondisi ini disebabkan karena terjadinya krisis pada akhir tahun 1997 yang menyebabkan harga rotan tidak stabil dan kurangnya pasokan rotan bagi kegiatan produksi PT. SPI.
Tidak terdokumentasinya prosedur kerja dan jumlah pekerja relatif banyak dan kurang produktif juga menggambarkan kondisi PT. SPI sebelum penerapan ISO 9002. Melihat kondisi ini ditambah dengan adanya aturan main perdagangan di pasar internasional dan untuk meningkatkan daya saing produknya, akhirnya manajemen perusahaan termotivasi untuk mengimplementasikan ISO 9002.
Hal yang dirasakan oleh seluruh staf dan pekerja selama percobaan implementasi ISO 9002 ini adalah sebagai berikut :
a. Merasa frustasi dan terintimidasi berkaitan dengan berkurangnya pemahaman awal mengenai konsep dan tututan ISO 9002.
b. Setiap individu merasakan dunia kerja berubah secara drastis akibat penerapan ISO 9002, karena mereka harus :
9 Mempelajari aturan baru dan rumit dari manajemen.
9 Melakukan kerja lebih banyak untuk memuaskan sistem.
9 Mengikuti prosedur yang telah ditetapkan secara baku menurut permintaan Standar Internasional ISO 9002.
9 Secara tiba-tiba, auditor hadir dilokasi kerja dan mengawasi apa yang terjadi pada SI ISO 9002. hal ini menimbulkan ketegangan dalam bekerja.
2. Setelah Penerapan ISO 9002 di PT. Super Poly Industri.
Setelah melewati masa-masa yang berat untuk membangun suatu sistem mutu yang kuat berdasarkan ISO 9002 ini, maka pada bulan Januari 1999 PT. Super Poly Industri berhasil memperoleh Certificate of Approval. Sejak saat itu kewaspadaan menjadi kunci di PT. SPI dalam upaya mempertahankan sistem mutu yang diraih.
Audit mutu internal dilakukan satu kali setiap tahun. Kegiatan ini dipimpin oleh staf dari K ISO 9002 PT. SPI. Setiap selesai audit maka diadakan pertemuan tinjauan (review meeting) untuk mendiskusikan setiap temuan. Hal ini penting karena setiap ketidaksesuaian (non-conformances) yang ditemukan dalam suatu divisi dapat langsung ditindak lanjuti.
Karena itu, PT. SPI melakukan audit internal satu atau dua bulan sebelum
Extenal Assesor melakukan pemeriksaan. Inspeksi pengawasan dilakukan guna mempertahankan sertifikat ISO 9002 yang valid selama tiga tahun.
Ada beberapa hal yang dapat dicatat sebagai respons terhadap sertifikat ini, yaitu :
1. Semua dokumen dan prosedur berhasil ditata dengan baik. Prosedur ini menyebabkan penggunaan tenaga kerja dan sumberdaya material menjadi lebih efisien sehingga menekan biaya produksi. Operation Manuals diperbaharui secara reguler dan memungkinkan manajemen dan staf yang baru atau ditransfer memiliki semua informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi tanggung jawab mereka dan teknis pekerjaan mereka. Lebih lanjut Operation Manuals berhasil menstandardisasi bahasa komunikasi secara internal dan eksternal sehingga mencegah kesalahpahaman.
2. Kesadaran mutu yang lebih tinggi muncul di seluruh personel manajemen, staf dan karyawan sehingga mereka mulai terbiasa dengan budaya ISO 9002.
3. Pabrik menjadi lebih bersih, mesin-mesin terawat dengan baik dan berkualitas dan seluruh produk menjadi baik.