Bab ini berisi tentang kesimpulan dan keterbasan penelitian serta saran
METODE PENELITIAN
38
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian berisi variabel penelitian, definisi operasional variabel, cara pengukuran variabel, penentuan populasi dan sampel, jenis dan sumber data serta metode pengumpulan data.
3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Penelitian ini melibatkan lima variabel yang terdiri atas tiga variabel anteseden (bebas), satu variabel intervening dan satu variabel dependen (terikat). Variabel anteseden (bebas) dalam penelitian ini adalah pemahaman tentang peraturan perpajakan pelayanan yang berkualitas, peresepsi atas efektivitas sistem perpajakan. Variabel intervening dalam penelitian ini adalah kesadaran membayar pajak, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemauan membayar pajak. Adapun definisi dari masing-masing variabel tersebut adalah sebagai berikut :
3.1.1 Pengetahuan dan Pemahaman Tentang Peraturan Perpajakan
Pengetahuan dan pemahaman akan peraturan perpajakan adalah proses dimana wajib pajak mengetahui tentang perpajakan dan mengaplikasikan pengetahuan itu untuk membayar pajak. Variabel digunakan oleh Widayati dan Nurlis, (2010) dan sedikit penambahan dari penulis. Diukur dengan skala Likert 5 poin untuk 10 pertanyaan.
39
3.1.2 Pelayanan Fiskus Yang berkualitas
Pelayanan yang berkulitas terhadap wajib pajak adalah usaha yang dilakukan oleh kantor pelayanan pajak untuk melayani wajib pajak secara maksimal agar wajib pajak tidak mengalami kebingungan saat membayar pajak. Variabel diukur dengan instrumen yang terdiri dari enam item pertanyaan, yang diadopsi dari penelitian Yulianawati (2011) dan sedikit penambahan dari penulis. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert 5 point.
3.1.3 Presepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan
Persepsi adalah proses kognitif yang dialami setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya melalui pancaindera. Sedangkan efektivitas memiliki pengertian suatu pengukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kualitas,kuantitas dan waktu) telah tercapai. Apabila presepsi wajib pajak terhadap efektivitas sistem perpajakan itu positif maka akan mempengaruhi wajib pajak dalam kesadaran membayar pajak. Sistem perpajakan yang efektif memudahkan wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya seperti menyerahkan SPT melalui drop box, dan menbuat sistem pendaftaran dan pelaporan yang bisa melalui internet (Herry,2010). Variabel diukur dengan instrumen yang terdiri dari tujuh item pertanyaan, yang diadopsi dari penelitian Widayati dan Nurlis, (2010) dan sedikit penambahan dari penulis. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert 5 point.
3.1.4 Kesadaran membayar pajak
Kesadaran membayar pajak memiliki arti keadaan dimana seseorang mengetahui, memahami, dan mengerti tentang cara membayar pajak. Variabel
40
diukur dengan instrumen yang terdiri dari sembilan item pertanyaan, yang diadopsi dari penelitian Widayati dan Nurlis, (2010) dan sedikit penambahan dari penulis. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert 5 point.
3.1.5 Kemauan membayar pajak
Kemauan membayar pajak dapat diartikan sebagai suatu nilai yang rela dikontribusikan oleh seseorang (yang ditetapkan dengan peraturan) yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum Negara dengan tidak mendapat kontraprestasi secara langsung (Vanessa dan Hari, 2009). Untuk mencapai target pajak, perlu ditumbuhkan terus-menerus kemauan wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Variabel diukur dengan instrumen yang terdiri dari enam item pertanyaan, yang diadopsi dari penelitian Widayati dan Nurlis, (2010) dan sedikit penambahan dari penulis. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert 5 point.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah wajib pajak orang pribadi (WPOP) yang melakukan perkerjaan bebas yang terdaftar di KPP Pratama Semarang Tengah Satu.WPOP yang melakukan pekerjaan bebas adalah pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris. Jumlah populasi WPOP melakukan pekerjaan bebas yang terdaftar di KPP Pratama Tengah Satu berjumlah 92 wajib pajak. Guna efisiensi waktu serta biaya maka, dilakukan pengambilan sampel. Rosgue (1975) dalam Anangga (2012) menyatakan bahwa ukuran sampel yang lebih tepat untuk banyak penelitian
41
Anangga (2012) menyatakan bahwa jumlah sampel yang harus diambil dalam suatu penelitian adalah 15 hingga 20 kali jumlah variabel yang digunakan. Banyaknya variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 5 variabel sehingga jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 5*16 =80
Teknik pemilihan sampel yang digunakan adalah random sampling, yaitu
cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Kriteria yang dipakai adalah sebagai berikut:
a. Wajib pajak pribadi yang memiliki usaha sebagai berikut : pengacara,
akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris.
b. Wajib Pajak yang terdaftar di KPP Pratama Semarang Tengah Satu
Pengambilan sampel di lakukan dengan cara :
1). Mencari wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas di
http://www.yellowpages.co.id/.
2). Mengcopy data yang sudah diketemukan ke Microsoft World, setelah itu di print.
3). Kemudian di acak, setelah itu diambil satu persatu dan di beri nomor 1-80.
4). Setelah penomoran, kuesioner di distribusikan kepada wajib pajak.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer berupa kuesioner yang diisi oleh responden (Sekaran, 2003). Sumber data primer pada penelitian ini diperoleh secara langsung dari para wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas yang terdaftar di kota Semarang, melalui kuesioner berisi pertanyaan yang bersifat tertutup. Kuesioner ini terdiri dari dua
42
bagian yaitu bagian pertama berisi tentang pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum untuk mendapatkan data tentang responden, dan bagian kedua berisi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan variabel-variabel dalam penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data penelitian.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei langsung dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang harus dijawab dan atau daftar isian yang harus diisi oleh responden. Sejumlah pertanyaan diajukan dalam bentuk kuesioner dan kemudian responden diminta menjawab sesuai dengan pendapat mereka. Untuk mengukur pendapat responden digunakan skala lima angka yaitu angka 5 untuk pendapat sangat setuju (SS) dan angka 1 untuk sangat tidak setuju (STS). Perinciannya adalah sebagai berikut : Angka 1 = Sangat Tidak setuju (STS) Angka 2 = Tidak Setuju (TS)Angka 3 = Ragu-Ragu (RR)Angka 4 = Setuju (S)Angka 5 = Sangat Setuju (SS)
3.5 Metode Analisis Data
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Beberapa langkah yang dilakukan dalam analisis regresi adalah sebagai berikut :
3.1.1Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan penjelasan gambaran umum demografi responden penelitian dan deskripsi mengenai variabel-variabel penelitian untuk mengetahui distribusi frekuensi absolut yang menunjukkan
43
deviasi) dari masing-masing variabel penelitian.
3.1.2Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Untuk menguji apakah konstruk yang telah dirumuskan reliabel dan valid maka, perlu dilakukan pengujian validitas dan reliablitas. uji validitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kesahihan kuesioner. Suatu angket (kuesioner) dikatakan valid apabila angket mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Agus, 2006). Uji validitas kuesioner dengan menggunakan teknik korelasi
Product Moment dari Pearson (Azwar, 1997), yaitu mengkorelasikan skor item dengan skor total. Perhitungan koefisien korelasi antara item dengan skor total
akan mengakibatkan over estimate terhadap korelasi yang sebenarnya, maka
perlu dilakukan koreksi dengan menggunakan part-whole (Azwar, 1997).
Selanjutnya untuk mengetahui apakah suatu item valid atau gugur maka dilakukan perbandingan antara koefisien r hitung dengan koefisien r tabel. Jika r hitung > r tabel berarti item valid. Sebaliknya jika r hitung < dari r tabel berarti item tidak valid (gugur).
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya dan dapat memberikan hasil yang relatif tidak berbeda apabila dilakukan kembali kepada subyek yang sama (Azwar, 1997).
Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara one shot
(pengukuran sekali saja). Disini pengukuran variabelnya dilakukan sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain untuk mengukur korelasi antar jawaban pertanyan. Suatu konstruk atau variabel dikatakan
44
reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,600 (Ghozali, 2006).
3.1.3Uji Asumsi Klasik
3.5.4.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan uji F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Jika asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Terdapat dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik atau uji statistik (Ghozali, 2006).
Apabila menggunakan grafik, normalitas umumnya dideteksi dengan cara melihat tabel histogram. Akan tetapi, jika jumlah sampel yang digunakan dalam penelitiannya kecil dan hanya dideteksi dengan cara melihat tabel histogramnya saja, maka dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan penafsiran. Metode yang lebih baik adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Dasar pengambilan dengan
menggunakan normal probability plot adalah sebagai berikut (Ghozali,
2006):
a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
45
arah garis diagonal atau garis histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Uji normalitas dengan grafik dapat mengakibatkan kesalahan penafsiran jika tidak hati-hati secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu, dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi dengan uji statistik (Novita, 2010). Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametik Kolgomorov-Smirnov (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis:
H0 : Data residual berdistribusi normal HA : Data residual tidak berdistribusi normal
3.5.4.2 Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (Ghozali, 2006). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel-variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya Multikolinieritas di dalam model regresi adalah sebagai berikut:
a. Nilai R
2
yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.
46
b. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antar
variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya di atas 0.90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinieritas. multikolinieritas dapat disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel independen.
c. Multikolinieritas dapat juga dilihat dari (1) nilai tolerance dan
lawannya (2) variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini
menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregres terhadap variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan VIF yang tinggi (karena VIF = 1/tolerance). Nilai cuttoff
yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinieritas adalah nilai tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10.
3.5.4.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain
tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas (Ghozali, 2006).
47
Uji Heteroskedastisitas dilakukan dengan cara melihat ada tidaknya
pola tertentu pada grafik Scatter Plot antara SRESID dan ZPRED di mana
sumbu y adalah y yang telah diprediksi, dan sumbu x adalah residual (y prediksi –y sesungguhnya) yang telah di-studentized. Dasar analisisnya adalah sebagai berikut (Ghozali, 2006):
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola
tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas
b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas
3.1.4Pengujian Hipotesis
3.5.4.1 Koefisien Determinasi R2
Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah diantara nol sampai satu (Ghozali, 2006). Nilai R
2
yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.
Terdapat kelemahan mendasar pada penggunaan koefisien determinasi yaitu koefisien determinasi bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Oleh karena itu banyak peneliti yang
menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted R
2
dalam menganalisis model regresi (Miladia, 2010). Nilai adjusted R
2
48
satu variabel independen ditambahkan ke dalam model. Dalam kenyataan nilai adjusted R
2
dapat bernilai negatif, walaupun yang dikehendaki harus bernilai positif. Menurut Ghozali (2006) jika dalam uji empiris didapatkan nilai adjusted R
2
negatif, maka nilai adjusted R
2
dianggap bernilai nol
3.5.4.2 Uji t
Uji t dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Kriteria pengujian yang digunakan adalah jika t-hitung > t-tabel dengan tingkat signifikansi 0,05 maka H0 ditolak (Ghozali, 2006), karena
dalam penelitian ini menggunakan program SPSS versi 16 for Windows,
maka penafsiran pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut :
a. Jika nilai probabilitas korelasi sig-2 tailed lebih kecil dari tingkat
signifikasi (α) sebesar 0,05, maka hipotesis nol ditolak sehingga ada
hubungan signifikansi variabel bebas dengan variabel terikat.
b. Jika nilai probabilitas korelasi sig-2 tailed lebih besar dari tingkat
signifikasi (α) sebesar 0,05, maka hipotesis nol diterima, sehingga tidak ada hubungan signifikansi variabel bebas dengan variabel terikat.
3.5.4.3 Uji F
Pengujian model penelitian akan dilakukan dengan uji F. Uji F dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel, apabila nilai F hitung lebih besar daripada F tabel dengan tingkat signifikansi (α) kurang dari 0,05, maka model yang digunakan layak, demikian pula sebaliknya (Ghozali, 2006). Analisis data dilakukan dengan menggunakan
49
bantuan program SPSS versi 16 for Windows. Karena teknik analisis data
pada penelitian ini menggunakan regresi berganda untuk uji hipotesis yang pertama dan kedua serta regresi linier untuk uji hipotesis ketiga, maka dapat dituliskan persamaan regresinya sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e (1)
Z = c + dY +e (2)
Y = Kesadaran membayar pajak Z = Kemauan membayar pajak a, c = Konstanta
b1 = koefisien regresi variabel pengetahuan dan pemahan akan peraturan perpajakan b2 = koefisien regresi variabel pelayanan fikus
yang berkulaitas
b3 = koefisien regresi variabel persepsi atas efektivitas sistem perpajakan
d = koefisien regresi variabel kesadaran membayar pajak
X1 = pengetahuan dan pemahan akan peraturan
perpajakan
X2 = pelayanan yang berkulaitas fiskus
X3 = persepsi atas efektivitas sistem perpajakan e = error term