DAFTAR PUSTAKA
G. Metode Penelitian
G. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian kualitatif.73 Sementara sumber penelitian terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Dilihat dari cara pembahasannya, penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian deskriptif dimana penelitian deskriptif yang hanya melukiskan, memaparkan, menuliskan, dan melaporkan suatu keadaan, suatu objek atau suatu peristiwa fakta apa adanya,
72 Faizin, Deradikalisasi Berbasis Psikologi Positif Perspektif Al-Qur’an, disertasi, PTIQ Jakarta, 2019.
73 Tentang jenis-jenis penelitian lihat U.Maman et.al, Metodologi penelitian Agama,
Teori dan Praktek, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006. Lihat juga Lexy J Moeleong, Methodology Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Rosdakarya, 2013. Sebagian peneliti
menganggap bahwa kata-kata, deskripsi, urain, penjelasan verbal lebih menarik dan bermakna. Deskripsi dunia kenyataan berdasarkan pengamatan dapat mengungkapkan pencarian atau teori-teori baru. Kata-kata uraian lebih hidup dan bermakna, mudah ditangkap dan mudah meyakinkan bagi pembaca dari pada puluhan halaman penuh dengan angka-angka statistik yang kurang dipahami oleh pembaca pada umumnya. S Nasution,
Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif, Bandung: Tarsito, 2002, cet. I, hal. 128. Dasar
penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh setiap individu. Peneliti kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya dengan situasi sosial mereka. Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif, Bandung: Pustaka Setia, 2002, hal. 138.
dan berupa penyingkapan fakta. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membentuk deskripsi, gambaran, atau lukisan yang sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.74
Sedangkan dilihat dari tempat pelaksanaan penelitian, penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian kepustakaan (library Research), bukan penelitian laboratorium maupun penelitian lapangan.75 Penelitian kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan macam-macam materi yang terdapat dalam kepustakaan, misalnya buku-buku, majalah, naskah-naskah, catatan, sejarah, dan lain sebagainya. Pada hakikatnya data yang diperoleh dengan jalan penelitian kepustakaan dijadikan dasar dan alat yang utama bagi analisis praktek penelitian. Dengan sistematis penelitian kepustakaan (Library Research) dilakukan dengan langkah-langkah seleksi sebagai berikut:76
1. Buku-buku atau bahan bacaan yang memberikan gambaran umum mengenai persoalan yang akan diteliti.
2. Buku-buku yang memberikan gambaran khusus, harus dibaca secara mendalam dan cermat, karena bahan-bahan yang diperlukan untuk penelitian terdapat didalamnya.
3. Bahan bacaan yang menyediakan informasi untuk mengisi masih kurang untuk melengkapi penelitian.
Tujuan dari penelitian kepustakaan ini adalah untuk membuat peneliti lebih teliti dan detail dalam membaca dan memecahkan masalah dan membaca secara kritis segala bahan yang dijumpainya.
Adapun untuk mempermudah penjelasan tentang metodologi penelitian yang digunakan, maka perlu kita uraikan tentang langkah-langkah sistematis yang ditempuh dalam penelitian ini. Langkah-langkah tersebut meliputi:
1. Sifat Penelitian
Metode maūdu’i dipilih dalam penelitian ini,77 karena metode ini dapat digunakan sebagai penggali konsep Personality Disorder dalam perspektif
74
Husaini Usman dan purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial Jakarta: Bumi Aksar, 2008, cet. I, hal.130.
75 Penelitian kualitatif berpenderian ekspansionis, tidak reduksionis. Ia tidak mengguanakan proposisi yang berangkat dari teori melainkan mengguanakan pengetahuan umum yang sudah diketahui serta tidak mungkin dinyatakan dalam bentuk proposisi dan hipotesis. Karena itu, dalam penelitian kualitatif tidak terdapat hipotesis tentative yang hendak diuji berdasarkan data lapangan. U Maman at.al, Metodologi Penelitian Agama, hal. 77
76
Gorys Keraf, komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa, Flores NTT: Nusa Indah, 1993, cet. IX, hal. 166.
77 Secara semantik, Tafsir Al-Maudu’i berarti tafsir tematis. Yaitu: menghimpun seluruh ayat al-Qur’an yang memiliki tujuan dan tema yang sama. Lihat: Abd. Hay
Al-Qur’an secara komprehensif. Menurut Al-Farmawi metode ini memiliki beberapa keistimewaan, yaitu:
a. Metode ini menghimpun semua ayat yang memiliki kesamaan tema. Ayat yang satu menafsirkan ayat yang lain. Karena itu, metode ini juga dalam beberapa hal sama dengan tafsir bi al-ma’thūr, sehingga lebih mendekati kebenaran dan jauh dari kekeliruan.
b. Peneliti dapat melihat keterkaitan antar ayat yang memiliki kesamaan tema. Oleh karena itu, metode ini dapat menangkap makna, petunjuk, keinidahan dan kefasihan al-Qur’an.
c. Peneliti dapat menangkap ide al-Qur’an yang sempurna dari ayat-ayat yang memiliki kesamaan tema.
d. Metode ini dapat menyelesaikan kesan kontradiksi antar ayat al-Qur’an yang selama ini dilontarkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki maksud jelek, dan dapat menghilangkan kesan permusuhan antar agama dan ilmu pengetahuan.
e. Metode ini sesuai dengan tuntutan zaman modern yang mengharuskan kita merumuskan hukum-hukum universal yang bersumber dari al-Qur’an bagi seluruh Negara Islam.
f. Dengan metode ini, semua juru dakwah, baik yang professional dan amatiran, dapat menangkap seluruh tema-tema al-Qur’an. Metode inipun memungkinkan para juru dakwah untuk sampai pada hukum-hukum Allah dengan cara yang jelas dan mendalam, serta memastikan mereka untuk menyingkap rahasia dan kemusykilan al-Qur’an sehingga hati dan akal mereka merasa puas terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya.
g. Metode ini dapat membantu para pelajar secara umum untuk sampai pada petunjuk al-Qur’an tanpa harus merasa lelah dan bertele-tele menyimak uraian kitab-kitab tafsir yang beragam itu.78
Dengan metode ini menurut Quraish Shihab, mufasir berusaha menginfentarisir ayat-ayat al-Qur’an yang bertebaran dibeberapa surat dan
Farmawi, Al-Bidâyah Fî Tafsîr Al-maudû’iyah: Dirâsah Manhajiah Maudû’iah, Mesir: Maktabah Jumhûriyah, t.th, hal. 43-44. Metode ini mempunyai dua bentuk: 1) Tafisr yang membahas satu surah al-Qur’an secara menyeluruh, memperkenalkan dan menjelaskannya maksud-maksud umum dan khususnya secara garis besar, dengan cara menghubungkan ayat yang satu dengan ayat yang lain, dan atau antara satu pokok masalah dengan pokok masalah yang lain. Dengan metode ini surah tersebut nampak dalam bentuknya yang utuh, teratur, betul-betul cermat, teliti dan sempurna. 2) Tafsir yang menghimpun dan menyusun ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kesamaan arah dan tema, kemudian memberikan penjelasan dan mengambil kesimpulan di bawah satu bahasan tema tertentu. Lihat: Muhammad Quraish Shihab, dkk, Sejarah dan Ulum al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), cet.ke-3, hal. 192-193. Lihat juga Abd Al-Hay Al-Farmawi, Al-Bidāyah fī Tafsīr Al-Maudū’iyah…, hal.42-42.
mengaitkannya dengan satu tema yang telah ditentukan. Selanjutnya mufasir melakukan analisis terhadap kandungan ayat-ayat tersebut sehingga tercipta satu kesatuan yang utuh. Metode ini pertama kali digagas oleh Ahmad Sayyid Al-Kumi, ketua Jurusan Tafsir Universitas Al-Azhar sampai tahun 1981. Namun langkah-langkah operasional metode ini secara gamblang dikemukakan oleh ‘Abd Al-Hayy Al-Farmawi dalam bukunya Al-Bidāyah fī
Tafsīr Al-Maudū’iyah (1977).79
Prosedur penafsiran al-Qur’an dengan metode tematik dalam format dan prosedur yang diperkenalkan oleh Ahmad Sayyid al-Kumi, menggunakan prosedur sebagai berikut:
a. Menentukan bahasan al-Qur’an yang akan diteliti secara tematik. b. Melacak dan mengkoleksi ayat ayat sesuai topik yang diangkat. c. Menata ayat-ayat tersebut secara kronologis (sebab turunnya),
mendahulukan ayat makiyah dari madaniyah dan disertai pengetahuan tentang latar belakang turunnya ayat.
d. Mengetahui korelasi (munâsabah) ayat-ayat tersebut.
e. Menyusun tema bahasan dalam kerangka yang sistematis (outline). f. Melengkapi bahasan dengan hadis-hadis terkait.
Selain prosedur penafsiran yang harus ditempuh di atas, beberapa keutamaan metode tafsir tematik ini ialah sebagai berikut:80
a. Menjawab tantangan zaman. Permasalahan dalam kehidupan selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Semakin modern kehidupan, permasalahan yang timbul semakin
79 Menafsirkan al-Qur’an dengan metode ini juga seperti yang pernah dilakukan oleh Amin al- Khuly w.1966 dan isteriya binti Al-Syati dalam menafsirkan al-Qur’an melalui pendekatan bahasa dan satra. Selain itu, upaya kotekstualisasi pesan al-Qur’an juga dilakukan oleh Fazlur Rahalan, yang memandang latar belakang ayat dan kondisi sosial yang melingkupi masyarakat Makkah ketika al-Qur’an diturunkan sebagai sesuatu yang sangat membantu dalam pemahaman pesan al-Qur’an dan sarana dalam menemukan prinsip-prinsip umum yang sangat bermanfaat dalam mengentaskan persoalan umat islam kontemporer. Lihat: Muhammad Quraish Shihab dalam kata pengantar buku karangan: Ahalad Syukri Saleh, Metodologi Tafsir al-Qur’an Kontemporer dalam Pandangan Fazrur Rahalan, (Jambi: Sultan Thaha Press, 2007), cet.1. Lihat: Ahalad Said Al-Fumi, Tafsīr Al-Maudū’i. Lihat juga Abd Al-Hay Al-Farmawi, Al-Bidāyah fī Tafsīr Al-Maudū’iyah: Dirāsah
Manhaziah Mau’udū’iyah, hal. 51.
Diantara karya tafsir yang menjadi representasi metode ini adalah Al-Mar’ah fi
al-Qur’an dan Insān fi al-Qur’ān karya Abbad Mahalud Aqad, Ar-Ribāfi al-al-Qur’an Al-Karīm karya Abul A’la Al-Maududi w.1979, Al-Wasāya Al-‘Asyr karya Mahalud Saltut, Major Themes of the Qur’an karya Fazrur Rahalan w.1988, Wawasan al-Qur’an karya
Quraish Shihab, Aqidah fi al-Qur’ān Kariīm karya Abu Zahra dan Wasāya sūrah
Al-Isrā karya Abdul Hayy Al-Farmawi. Perlu dicatat, bahwa semua karya ini ada yang
menerapkan sistematika metode tematik secara utuh, ada yang hanya sebagian, dan adapula yang tidak memakainya sama sekali.
80 Muhammad Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998, hal. 165-167.
kompleks dan rumit, serta mempunyai dampak yang luas. Hal itu dimungkinkan karena apa yang terjadi pada suatu tempat, pada saat yang bersamaan, dapat disaksikan oleh orang lain di tempat yang lain pula, bahkan peristiwa yang terjadi di ruang angkasa pun dapat dipantau dari bumi. Kondisi inilah yang membuat suatu permasalahan segera tersebar ke seluruh masyarakat dalam waktu yang relatif singkat. Untuk menghadapi permasalahan yang demikian, dilihat dari sudut tafsir al-Qur’an, tidak dapat ditangani dengan metode-metode penafsiran selain metode tematik. Hal ini dikarenakan kajian metode tematik ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan.
b. Praktis dan sistematis. Tafsir dengan metode tematik disusun secara praktis dan sistematis dalam memecahkan permasalahan yang timbul kondisi semacam ini amat cocok dengan kehidupan umat yang semakin modern dengan mobilitas yang tinggi sehingga mereka seakan-akan tidak memiliki waktu yang luang atau banyak untuk membaca kitab-kitab tafsir yang besar, padahal untuk mendapat petunjuk al-Qur’an mereka harus membacanya. Dengan adanya tafsir tematik, mereka akan mendapat petunjuk al-Qur’an secara praktis dan sistematis serta dapat lebih menghemat waktu, efektif, dan efisien.
c. Membuat pemahaman menjadi utuh. Dengan ditetapkan judul-judul yang akan dibahas, maka pemahaman ayat-ayat al-Qur’an dapat diserap secara utuh. Pemaham serupa itu sulit menemukannya di dalam metode tafsir yang lain. Maka dari itu, metode tafsir tematik ini dapat diandalkan untuk pemecahan suatu permasalahan secara lebih baik dan tuntas. d. Membuat tafsir menjadi lebih dinamik. Metode tafsir tematik membuat
penafsiran al-Qur’an selalu dinamis sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga menimbulkan image di dalam benak pembaca dan pendengarannya bahwa al-Qur’an senantiasa mengayomi dan membimbing kehidupan di muka bumi ini pada semua lapisan dan strata sosial. Dengan demikian, terasa sekali bahwa al-Qur’an selalu aktual, tak pernah tertinggal oleh zaman. Dengan tumbuhnya kondisi serupa itu, maka umat tertarik mengamalkan ajaran al-Qur’an karena al-Qur’an mereka rasakan betul-betul dapat membimbing mereka ke jalan yang benar.
Bahasan metode maudū’i tematik lazimnya menyangkut masalah-masalah kekinian yang menjadi persoalan mendesak umat, oleh karena itu upaya kontekstualisasi pesan al-Qur’an menjadi sangat penting,81 termasuk pada masalah menggali Personality Disorder dalam al-Quran.
81
Perlu diketahui bahwa penafsiran ayat al-Qur’an secara tematis, meski berbeda dalam sistematika penyajian, sebenarnya telah dirintis dalam sejarah. Misalnya, Ibn Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, menulis tentang sumpah dalam al-Qur’an dalam karyanya al-Tibyân