• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian mengenai pengaruh pola penggunaan jejaring sosial terhadap motivasi dan alokasi waktu belajar siswa SMPN 1 Dramaga, menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukan pada remaja yang menjadi siswa di SMPN 1 Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling berdasarkan pada pertimbangan bahwa lokasi penelitian berada di sekitar kampus IPB Darmaga yang banyak terdapat fasilitas untuk mengakses internet. Pengambilan data dilakukan selama satu bulan yaitu pada bulan Januari 2011.

Cara Pemilihan Contoh

Populasi dalam penelitian ini adalah remaja laki-laki dan perempuan yang sedang menjalani pendidikan formal di SMP Negeri 1 Dramaga pada tingkat VII dan tingkat VIII. Adapun siswa kelas IX tidak dipilih karena berdasarkan pertimbangan sedang menjalani persiapan mengikuti ujian akhir nasional. Populasi penelitian berjumlah 803 siswa dengan rincian sebagai berikut: tingkat VII berjumlah 415 siswa, laki-laki sebanyak 196 siswa dan perempuan sebanyak 219 siswa; tingkat VIII berjumlah 388 siswa, laki-laki sejumlah 171 siswa dan perempuan 217 siswa. Contoh penelitian dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa contoh merupakan pelajar usia remaja yang masih mencari jati diri dan masih banyak terpengaruh oleh teman sebaya. Jumlah contoh minimal ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dengan nilai kritis sebesar sepuluh persen (Prasetyo 2007) adalah sebagai berikut:

Keterangan: n = besaran sampel N = besaran populasi

E = nilai kritis (batas ketelitian) yang diinginkan (persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan penarikan sampel)

Dengan menggunakan rumus Slovin diperoleh jumlah contoh dengan nilai kritis sepuluh persen sebagai berikut:

N n = 1 + Ne2  803 n = = 88.93 ≈ 89 siswa 1 + 803 (0.12)

Berdasarkan rumus di atas, diperoleh jumlah contoh minimal sebanyak 89 siswa. Contoh yang diambil dalam penelitian berjumlah 100 orang. Hal tersebut dilakukan untuk memperkecil kesalahan yang terjadi secara kebetulan ketika penarikan sampel dilakukan. Menurut Padureso dalam Rosyid (2009), kesalahan sampling dapat diperkecil dengan memperbesar ukuran sampel, karena semakin besar ukuran sampel, data yang diperoleh semakin akurat. Jumlah contoh dari setiap jenis kelamin ditentukan dengan menggunakan teknik acak berlapis (Stratified Random Sampling) proporsional (Prasetyo 2007)

Hasil perhitungan dengan nilai kritis sebesar sepuluh persen, diperoleh jumlah contoh laki-laki dan perempuan yang tersaji dalam Tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1 Sebaran jumlah contoh berdasarkan kelas dan jenis kelamin

Kelas

Populasi Contoh Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total

VII 196 219 415 25 28 53

VIII 171 217 388 21 26 47

Total 367 436 803 46 54 100

Berdasarkan Tabel 1 diperoleh jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 100 orang siswa, yaitu sebanyak 47 orang contoh siswa laki-laki dan 53 orang contoh siswa perempuan. Jumlah contoh ditentukan agar memenuhi jumlah contoh minimal yang diperlukan dan menjadi gambaran populasi di SMP Negeri 1 Dramaga. Contoh yang diambil dalam penelitian adalah siswa laki-laki dan perempuan dari setiap kelas yaitu: kelas VII contoh laki-laki sebanyak 25 siswa dan contoh perempuan sebanyak 27 siswa; kelas VIII contoh laki-laki sebanyak 21 siswa dan contoh perempuan sebanyak 26 siswa.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi faktor internal (usia, jenis kelamin, uang saku, motivasi penggunaan jejaring sosial, dan kepemilikan ponsel dengan akses jejaring sosial), faktor eksternal (pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, besar keluarga, sumber informasi, dan fasilitas akses jejaring sosial yang tersedia di rumah dan di sekolah), pola penggunaan jejaring sosial (frekuensi, durasi, biaya, dan sarana penggunaan jejaring sosial), pengaruh pola penggunaan jejaring

sosial terhadap motivasi belajar, dan alokasi waktu belajar (me-recall kegiatan selama dua hari, yaitu hari libur dan hari biasa). Data sekunder diperoleh dari arsip sekolah mengenai gambaran umum lokasi geografis tempat penelitian untuk mendukung fakta-fakta di lapangan. Variabel-variabel yang akan diteliti disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Variabel, sumber data, ketegori, dan skala pengukuran

No. Variabel Sumber

Data Kategori Skala

1. Usia (tahun) Primer Berdasarkan Teori Santrock (2003) Remaja awal (10-15 tahun)

Rasio

2. Jenis kelamin Primer 1. Laki-laki 2. Perempuan

Nominal

3. Uang saku (rupiah/ bulan)

Primer 1. Tinggi sekali (>Rp 300.000) 2. Tinggi (Rp 201.000-Rp 300.000) 3. Sedang (Rp 101.000-Rp 200.000) 4. Rendah (≤Rp 100.000) Rasio 4 Motivasi penggunaan jejaring sosial Primer 1. Rendah (<33,33) 2. Sedang (33,33-66,66) 3. Tinggi (>66,66) Rasio 5. Kepemilikan ponsel dengan akses jejaring sosial

Primer 1. Punya dan Dipergunakan

2. Punya tetapi jarang dipergunakan 3. Punya tetapi tidak dipergunakan 4. Tidak Punya

Ordinal

6. Pendidikan orangtua Primer 1. Tidak Sekolah/tidak Tamat SD 2. Tamat SD/Sederajat

3. Tamat SMP/Sederajat 4. Tamat SMA/Sederajat 5. Tamat Akademi/PT/Sederajat

Ordinal

7. Pekerjaan orangtua Primer 1. Pegawai Negeri (PNS) 2. TNI/Polri 3. Pegawai Swasta 4. Wirausaha 5. Buruh 6. Petani 7. Tidak bekerja 8. Lainnya Nominal

8 Besar keluarga Primer 1. Kecil (≤ 4 orang) 2. Sedang (5-6 orang) 3. Besar (>6orang)

Rasio

9 Sumber informasi Primer 1. Orangtua 2. Teman sekolah 3. Guru di sekolah

4. Media cetak (koran, majalah) 5. Media Elektronik (televisi, radio) 6. Penjaga Warnet

7. Orang tak dikenal 8. Saudara di rumah 9. Tetangga di rumah 10. Teman di rumah

Nominal

10. Fasilitas jejaring sosial di lingkungan rumah

Primer 1. Mudah Dijangkau 2. Sulit Dijangkau

Tabel 2 Variabel, sumber data, ketegori, dan skala pengukuran (Lanjutan…)

No Variabel Sumber

data Kategori Skala

11. Frekuensi

menggunakan jejaring sosial (kali/bulan)

Primer 1. Tinggi sekali (>60) 2. Tinggi (41-60) 3. Sedang (21-40) 4. Rendah (≤20) Rasio 12. Durasi penggunaan jejaring sosial

(menit /satu kali akses)

Primer 1. Tinggi sekali (>120) 2. Tinggi (60-120) 3. Sedang (31-59) 4. Rendah (<30)

Rasio

13. Biaya akses jejaring sosial (rupiah/bulan)

Primer 1. Tinggi sekali (>Rp 200.000) 2. Tinggi (Rp 101.000-Rp 200.000) 3. Sedang (Rp 51.000-Rp 100.000) 4. Rendah (≤Rp 50.000) Rasio 14. Sarana mengakses jejaring sosial

Primer 1. Warung internet 2. Ponsel

3. Wireless atau modem 4. Warung internet dan ponsel 5. Ponsel dan wireless atau modem 6. Warung internet dan wireless atau

modem

7. Warung internet, ponsel, dan wireless atau modem

Nominal

15. Motivasi belajar Primer 1. Rendah (<33,33) 2. Sedang (33,33-66,66) 3. Tinggi (>66,66)

Rasio

16. Alokasi waktu Primer Recall kegiatan untuk dua hari, hari libur dan hari biasa.

Rasio

Data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang telah melalui uji validitas (uji item analysis) dan realibilitas (uji cronbach alpha) dengan cara melakukan uji coba kuesioner kepada contoh lain di luar populasi yang memiliki kriteria yang hampir sama dengan contoh. Daftar pertanyaan kuesioner dibagi menjadi sembilan bagian. Bagian pertama, berisi pertanyaan pendahuluan, untuk mendapatkan contoh yang mengakses jejaring sosial dalam enam bulan terakhir. Bagian kedua, berisi pertanyaan mengenai karakteristik individu. Bagian ketiga, berisi pertanyaan mengenai karakteristik keluarga. Bagian keempat, berisi sumber informasi yang diperoleh responden mengenai jejaring sosial. Bagian kelima, berisi pertanyaan mengenai ketersediaan dan fitur jejaring sosial. Bagian keenam, memaparkan pertanyaan-pertanyaan mengenai pola penggunaan jejaring sosial. Bagian ketujuh, memaparkan pertanyaan mengenai motivasi menggunakan jejaring sosial. Bagian kedelapan, berisi pertanyaan tentang pengaruh penggunaan jejaring sosial terhadap motivasi belajar. Bagian terakhir, yaitu bagian kesepuluh berisi kolom-kolom untuk me-

recall kegiatan contoh selama dua hari, yaitu satu hari pada hari libur dan satu hari pada hari sekolah.

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan Microsoft Excel dan Statistic Program for Sosial Science (SPSS) versi 16.0 for Windows. Pengolahan data dilakukan setelah data terkumpul mencakup, penyuntingan data (editing), pemberian kode (coding), pemberian nilai (scoring), entry data, cleaning data dan analisis data. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif untuk data primer yang menggambarkan karakteristik internal (usia, jenis kelamin, jumlah uang saku, kepemilikan ponsel dengan akses jejaring sosial, dan motivasi penggunaan jejaring sosial), karakteristik eksternal (pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, jumlah anggota keluarga, sumber informasi, dan sarana akses jejaring sosial di ingkungan rumah), pola penggunaan jejaring sosial (frekuensi, durasi, biaya, dan sarana penggunaan jejaring sosial), motivasi belajar dan alokasi waktu.

Motivasi penggunaan jejaring sosial merupakan sebuah dorongan yang timbul dalam diri contoh untuk menggunakan jejaring sosial. Dalam kuesioner, terdapat 15 pertanyaan tentang motivasi penggunaan jejaring sosial dengan penilaian menggunakan skala Likert, yaitu: (1) sangat tidak setuju, (2) tidak setuju, (3) setuju, (4) sangat setuju. Masing-masing skala diberi bobot nilai 1 sampai 4. Dengan menggunakan rumus penentuan kelas interval, skor motivasi penggunaan jejaring sosial dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu yaitu rendah (<33,33), sedang (33,33-66,66), dan tinggi (>66,66).

Uji komparatif dua sampel berbeda yaitu laki-laki dan perempuan menggunakan uji beda Independent Sample T Test. Independent sample T Test

atau Uji T satu sampel digunakan untuk membandingkan rata-rata dua kelompok dengan contoh yang diambil secara random (Sarwono 2009). Variabel yang diuji yaitu: karakteristik internal, karakteristik eksternal, pola penggunaan jejaring sosial, motivasi belajar, dan alokasi waktu belajar. Analisis uji Paired T-Test

digunakan untuk menentukan ada tidaknya perbedaan rata-rata dua sampel bebas (Nugroho 2005). Rumusnya yaitu:

Analisis korelasi dipergunakan untuk menguji hubungan antara dua variabel yang tidak menunjukkan hubungan fungsional (berhubungan bukan berarti disebabkan) (Nugroho 2005). Uji korelasi Pearson digunakan untuk menguji hubungan antara karakteristik internel,karakteristik eksternal dan pola penggunaan jejaring sosial dengan motivasi belajar dan alokasi waktu belajar.

Data alokasi waktu remaja dianalisis dengan cara mengetahui total waktu yang digunakan untuk seluruh kegiatan yang dilakukan termasuk istirahat, digunakan dengan menjumlahkan waktu yang digunakan untuk pekerjaan domestik (membersihkan rumah), kegiatan sosial dan pendidikan (belajar, les, sekolah, ekstrakurikuler), kegiatan pribadi (makan, tidur, mandi, shalat, mengaji), dan waktu luang (rekreasi, menonton, olah raga, mengakses internet) (Agustina 2003). Rumus untuk menghitung waktu total adalah sebagai berikut:

Keterangan:

T Total = Jumlah total alokasi waktu remaja

T Domestik = Jumlah alokasi waktu remaja untuk melakukan pekerjaan

rumah tangga

T Sosial = Jumlah alokasi waktu remaja yang dipergunakan untuk

kegiatan sosial (ekstrakurikuler)

TBelajar di sekolah = Jumlah alokasi waktu remaja yang dipergunakan untuk belajar

di sekolah

TBelajar di rumah = Jumlah alokasi waktu remaja yang dipergunakan untuk belajar

di rumah

T Personal = Jumlah alokasi waktu remaja yang dipergunakan untuk

kegiatan pribadi

T Leisure = Jumlah alokasi waktu remaja yang dipergunakan untuk

kegiatan leisure/ waktu luang

Definisi Operasional

Faktor internal adalah ciri-ciri internal contoh yang meliputi usia, jenis kelamin, uang saku, motivasi menggunakan jejaring sosial dan kepemilikan ponsel dengan akses jejaring sosial.

Usia adalah umur yang dimiliki oleh contoh yang dinyatakan

dalam tahun.

Jenis kelamin adalah perbedaan contoh berdasarkan ciri

biologis dengan kategori laki-laki dan perempuan.

Uang saku merupakan sejumlah uang yang diperoleh contoh

dari orangtua, saudara, melalui bekerja atau beasiswa dalam

satu bulan (26 hari).

Motivasi penggunaan jejaring sosial adalah serangkaian

usaha yang dilakukan contoh untuk menggunakan atau tidak

menggunakan jejaring sosial.

Faktor eksternal adalah ciri-ciri eksternal contoh yang meliputi pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, besar keluarga, sumber informasi, dan keterseiaan jejaring sosial di lingkungan rumah.

Pendidikan orangtua adalah jenjang pendidikan yang ditempuh

oleh orangtua, yaitu tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP, tamat

SMA, dan akademi atau perguruan tinggi.

Pekerjaan orangtua adalah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh

orangtua untuk mendapatkan nafkah dalam mencukupi

kebutuhan hidup keluarga. Pekerjaan otangtua dapat dijabarkan

menjadi pegawai negeri (PNS), TNI/Polri, pegawai swasta,

wirausaha, buruh, petani, tidak bekerja, dan pekerjaan lainnya,

Besar keluarga adalah jumlah anggota keluarga inti contoh

yang dinyatakan dengan jumlah orang. Besar keluarga

dikelompokkan menjadi keluarga kecil dengan anggota ≤4 orang,

keluarga sedang 5-6 orang, dan keluarga besar >6 orang.

Sumber informasi adalah media-media yang digunakan contoh

untuk memperoleh informasi mengenai jejaring sosial, seperti

keluarga , teman sebaya, sekolah, dan lain-lain.

Ketersediaan jejaring sosial

di lingkungan rumah adalah

adanya sarana untuk mengakses jejaring sosial di lingkungan

sekitar rumah contoh.

Jejaring sosial adalah salah satu layanan berbasis web yang memungkinkan penggunanya menampilkan dirinya, berhubungan dengan jejaring sosialnya, dan membangun serta menjaga hubungan dengan orang lain.

Pola penggunaan jejaring sosial adalah perilaku contoh dalam menggunakan jejaring sosial setiap hari meliputi frekuensi, durasi, biaya, dan sarana dalam menggunakan jejaring sosial.

Frekuensi penggunaan jejaring sosial adalah seberapa sering

contoh mengakses atau menggunakan jejaring sosial dalam satu

bulan (kali perbulan)

Durasi penggunaan jejaring sosial adalah lama waktu yang

dipergunakan contoh untuk mengakses jejaring sosial

(menit/satu kali akses).

Biaya untuk mengakses jejaring sosial adalah sejumlah uang

yang dikeluarkan oleh contoh dalam satu bulan (rupiah

perbulan).

Sarana mengakses jejaring sosial adalah fasilitas yang

tersedia di lingkungan contoh yang dipergunakan untuk

mengakses jejaring sosial.

Motivasi belajar adalah serangkaian usaha yang dilakukan contoh untuk belajar atau tidak belajar akibat penggunaan jejaring sosial.

Alokasi waktu belajar adalah waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan belajar dalam satu hari.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Pada awalnya SMP Negeri 1 Dramaga bernama SMP Negeri 1 Ciomas yang dibuka pada tahun 1978/1979. Pada tahun 1979 dibangun gedung SMP baru di tanah miliki IPB seluas 6740 m2 yang berlokasi di Jalan Babakan Dramaga kecamatan Ciomas. Pada tanggal 3 Juli 1997 SMP Negeri 1 Ciomas berubah menjadi SMP Negeri 1 Dramaga. Hingga saat ini SMP Negeri 1 Dramaga telah memiliki dua puluh enam ruang belajar, ruang guru, ruang perpustakaan, ruang laboratorium IPA, ruang tata usaha, ruang kepala sekolah, ruang OSIS, ruang PMR/UKS, koperasi, laboratorium komputer, laboratorium multimedia, mushola, ruang seni degung, ruang praktik memasak, dan ruang seni musik.

Pada tahun ajaran 2010/2011 SMP Negeri 1 Dramaga memiliki 1177 siswa dengan 27 rombongan belajar. Kelas VII memiliki siswa sebanyak 415 orang dengan sembilan rombongan belajar, kelas VIII memiliki siswa sebanyak 389 orang dengan sembilan rombongan belajar, dan kelas IX memiliki 363 orang dengan sembilan rombongan belajar. Berdasarkan jenis kelamin, siswa laki-laki kelas VII sebanyak 195 orang dan siswa perempuan sebanyak 220 orang, siswa laki-laki kelas VIII sebanyak 172 orang dan siswa perempuan sebanyak 217 orang, siswa laki-laki kelas IX sebanyak 163 orang dan siswa perempuan sebanyak 210 orang, sehingga jumlah keseluruhan siswa laki-laki adalah 530 orang dan 647 orang siswa perempuan.

SMP Negeri 1 Dramaga mengembangkan penyelenggaraan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) berdasarkan sistem kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dengan prinsip active, effective, and joyfull learning (belajar aktif, efektif, dan menyenangkan). Untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan, SMP Negeri 1 Dramaga memiliki visi dan misi yang menjadi panduan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Visi SMP Negeri 1 Dramaga adalah beriman dalam mendidik diri, dinamis dalam mengikuti perkembangan iptek dan imtaq, unggul dalam prestasi. Misi SMP Negeri 1 Dramaga adalah secara terus menerus meningkatkan proses belajar mengajar, meningkatkan profesional guru dan karyawan, disiplin personal dan siswa, serta bekerjasama dengan masyarakat untuk mewujudkan sekolah sebagai wadah pembentukan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Dalam mewujudkan visi misi tersebut, SMP Negeri 1 Dramaga memiliki strategi yang terbagi menjadi sepuluh. Strategi tersebut adalah: 1) pembinaan pengalaman akhlakkul kharimah semua personil dan siswa, 2) menjalin kerjasama warga sekolah sesuai fungsi dan peranannya (TUPOKSI), 3) menata manajemen program pengajaran agar tercipta kondisi belajar yang baik dan kondusif, 4) membimbing siswa untuk memiliki daya cipta kreatifitas melalui kegiatan ekstrakurikuler dan keterampilan hidup atau life skills, 5) perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana, 6) perbaikan dan peningkatan profesionalisme personil, 7) meningkatkan transparansi administrasi keuangan, 8) perbaikan dan peningkatan kesejahteraan personil, 9) meningkatkan hubungan kekeluargaan antar personil sekolah, dan 10) menciptakan tatanan lingkungan sekolah yang kondusif.

Karakteristik Internal Contoh Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan salah satu pedoman dasar dalam melakukan segmentasi pasar, perbedaan jenis kelamin menyebabkan pola konsumsi berbeda satu sama lain (Kotler & Gary 2006). Contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Dramaga kelas tujuh dan delapan. Sebanyak 53 persen contoh berjenis kelamin perempuan, sedangkan contoh laki-laki sebanyak 47 persen.

Usia

Menurut Santrock (2003) usia 10-15 tahun termasuk dalam kategori usia remaja awal. Contoh dalam penelitian ini berusia 11-14 tahun yang termasuk usia remaja awal. Tabel 3 menunjukkan bahwa lebih dari separuh contoh (51%) dengan proporsi contoh laki-laki sebesar 46,8 persen dan contoh perempuan sebesar 54,7 persen berusia 13 tahun. Hasil analisis uji T-Test menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara usia contoh laki-laki dan perempuan (p-value = 0,820). Hal ini dikarenakan contoh yang diambil adalah siswa kelas VI dan kelas VII, sehingga usia contoh tidak jauh berbeda, baik contoh laki-laki maupun contoh perempuan.

Tabel 3 Sebaran contoh berdasarkan usia dan jenis kelamin

No Usia (Tahun) Laki-laki Perempuan Total

n % n % n % 1 11 1 2,1 1 1,9 2 2,0 2 12 16 34,0 17 32,1 33 33,0 3 13 22 46,8 29 54,7 51 51,0 4 14 8 17,0 6 11,3 14 14,0 Total 47 100,0 53 100,0 100 100,0 Min-Maks (Tahun) 11-14 11-14 11-14 Mean±SD (Tahun) 12,78±0,74 12,75±0,67 12,77±0,70 P-Value 0,820 Uang Saku

Uang saku merupakan sejumlah uang yang diperoleh contoh dari orangtua, saudara, melalui bekerja atau beasiswa dalam satu bulan (26 hari). Usia remaja merupakan usia yang di dalamnya mulai menginginkan adanya kebebasan, termasuk dalam hal keuangan. Uang saku yang diberikan orangtua dapat dimanfaatkan oleh remaja untuk banyak hal, termasuk menggunakan jejaring sosial. Tabel 4 menunjukkan bahwa hampir separuh contoh (42%) memiliki uang saku sebesar Rp 200.001 hingga Rp 300.000 per bulan, jumlah tersebut setara dengan Rp 7.692 hingga Rp 11.538 per hari. Contoh laki-laki (44,7%) memiliki uang saku sebesar Rp 100.001 hingga Rp 200.000 per bulan, sedangkan contoh perempuan (45,3%) memiliki uang saku sebesar Rp 200.001 hingga Rp 300.000 setiap bulan. Hasil analisis T-Test menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara uang saku contoh laki-laki dan perempuan (p-value = 0,326).

Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan uang saku dalam satu bulan

No Uang saku

(Rp)

Laki-laki Perempuan Total

n % n % n % 1 <=100.000 2 4,3 2 3,8 4 4 2 100.001-200.000 21 44,7 17 32,1 38 38 3 200.001-300.000 18 38,3 24 45,3 42 42 4 >300.000 6 12,8 10 18,9 16 16 Total 47 100 53 100 100 100 Min-Maks (Rp) 65.000 - 520.000 52.000 - 520.000 52.000 - 520.000 Rata-Rata ± SD (Rp) 217.000 ± 96.383,01 235.000 ± 89.916,73 226.000 ± 92.996,47 P-Value 0,326

Kepemilikan ponsel dengan akses jejaring sosial

Sebuah rilis yang dikeluarkan oleh facebook menyatakan bahwa sebanyak lebih dari 150.000.000 pengguna mengakses facebook melalui perangkat mobile. Pengguna facebook yang menggunakan perangkat mobile

dua kali lebih aktif menggunakan facebook daripada yang tidak menggunakan perangkat mobile. Lebih dari 200 operator mobile di 60 negara bekerjasama menyebarkan dan mempromosikan facebook (Fahmi 2011). Berdasarkan Tabel

5 diketahui bahwa sebesar 44 persen contoh memiliki ponsel dengan akses jejaring sosial namun jarang dipergunakan. Pada contoh laki-laki persentase kepemilikan ponsel dengan akses jejaring sosial terbanyak terdapat pada dua kategori, yaitu sebesar 36,2 persen memiliki ponsel dengan akses jejaring sosial tetapi jarang dipergunakan, dan kategori tidak mempunyai ponsel dengan akses jejaring sosial. Adapun sebesar 50,9 persen contoh perempuan mempunyai ponsel dengan akses jejaring sosial tetapi jarang dipergunakan. Hasil analisis

Mann-Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mengenai kepemilikan ponsel dengan akses jejaring sosial pada contoh laki-laki dan perempuan (p- value = 0,059*).

Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan kepemilikan ponsel dengan akses jejaring sosial

No Kepemilikan Ponsel dengan

Akses Jejaring Sosial

Laki-laki Perempuan Total

n % n % n %

1 Punya dan dipergunakan 8 17,0 12 22,6 20 20,0

2 Punya tetapi jarang dipergunakan 17 36,2 27 50,9 44 44,0

3 Punya tetapi tidak dipergunakan 5 10,6 4 7,5 9 9,0

4 Tidak punya 17 36,2 10 18,9 27 27,0

Total 47 100,0 53 100,0 100 100,0

P-Value 0,059*

*signifikan pada p<0,1

Motivasi Penggunaan Jejaring Sosial

Motivasi penggunaan jejaring sosial merupakan serangkaian usaha yang dilakukan contoh untuk menggunakan atau tidak menggunakan jejaring sosial. Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa sebagian besar contoh mengakses jejaring sosial sebagai hiburan untuk mengisi waktu luang, meng-update status, meng-

upload foto, menghilangkan bosan, dan untuk chatting dengan teman yang

online. Contoh mengakses jejaring sosial untuk membina hubungan sosial sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi dengan teman-teman lama. Dalam hal ini contoh tidak menggunakan jejaring sosial sebagai sarana untuk menjaga eksistensi dan popularitas. Sebagian besar contoh menggunakan jejaring sosial untuk mengerjakan tugas sekolah dan untuk mendapatkan informasi terbaru dari teman-teman.

Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan kategori penilaian masing-masing pertanyaan motivasi penggunaan jejaring sosial

No Pertanyaan Skor

STS TS S SS

Motivasi Hiburan

1 Jejaring sosial untuk mengisi waktu luang 4 17 59 20

2 Jejaring sosial untuk bermain game online 21 34 31 14

3 Jejaring sosial untuk meng-update status 1 17 62 20

4 Jejaring sosial untuk meng-upload foto 3 19 55 23

5 Jejaring sosial untuk menghilangkan bosan 3 15 44 38

6 Jejaring sosial untuk menjawab kuis-kuis yang

menarik 9 53 33 5

7 Jejaring sosial untuk chatting dengan teman-

teman saya yang online 2 10 51 37

Total subskala 42 165 336 157

Motivasi membina hubungan sosial

1 Jejaring sosial untuk memperluas pertemanan 0 3 36 61

2 Jejaring sosial untuk berjualan 32 50 14 4

3 Jejaring sosial supaya tetap eksis 22 49 27 2

4 Jejaring sosial untuk menjalin silaturahmi dengan

teman-teman lama saya 1 2 34 63

5 Jejaring sosial untuk menjadi terkenal diantara

teman-teman saya 37 50 10 3

Total Subskala 92 154 121 133

Motivasi pengetahuan

1 Jejaring sosial untuk mengerjakan tugas sekolah 4 23 39 34

2 Jejaring sosial untuk mendapatkan informasi

terbaru dari teman-teman saya 1 3 71 25

Total subskala 5 26 110 59

Total Skala 139 345 567 349

Keterangan: SS = Sangat Setuju

S = Setuju

TS = Tidak Setuju STS = Sangat Tidak Setuju

Tabel 7 menunjukkan bahwa motivasi penggunaan jejaring sosial contoh sebagai hiburan termasuk kategori tinggi (67%), motivasi untuk membina hubungan sosial termasuk kategori sedang (62%), dan motivasi pengetahuan termasuk kategori tinggi (79%). Hasil uji T-Test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan motivasi penggunaan jejaring sosial sebagai hiburan (p- value = 0,232) dan membina hubungan sosial (p-value = 0,480). Namun terdapat perbedaan nyata dengan p<0,1 motivasi penggunaan jejaring sosial untuk memperoleh pengetahuan (p-value = 0,088*) pada contoh laki-laki dan perempuan.

Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan tingkat motivasi penggunaan jejaring sosial No Motivasi Penggunaan Jejaring Sosial Tingkat Motivasi Penggunaan Jejaring Sosial Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % 1 Hiburan Rendah (<33,33) 1 2,1 0 0,0 1 1,0 Sedang (33,33-66,66) 15 31,9 17 32,1 32 32,0 Tinggi (>66,66) 31 66,0 36 67,9 67 67,0 Total 47 100 53 100 100 100 Rata-rata±SD 70,21±11,15 72,91±11,24 71,64±11,22 P-value 0,232

2 Membina Hubungan Sosial

Rendah (<33,33) 0 0,0 0 0,0 0 0,0 Sedang (33,33-66,66) 25 53,2 37 68,8 62 62,0 Tinggi (>66,66) 22 46,8 16 30,2 38 38,0 Total 47 100 53 100 100 100 Rata-rata±SD 65,53±10,95 64,06±9,86 64,75±10,36 P-value 0,480 3 Pengetahuan Rendah (<33,33) 1 2,1 0 0,0 1 1,0 Sedang (33,33-66,66) 12 25,5 8 15,1 20 20,0 Tinggi (>66,66) 34 72,3 45 84,9 79 79,0 Total 47 100 53 100 100 100 Rata-rata±SD 75,53±14,27 79,95±11,32 77,88±12,92 P-value 0,088* *signifikan pada p<0,1

Karakteristik Eksternal Contoh Tingkat Pendidikan Orangtua

Tingkat pendidikan orangtua contoh dibagi menjadi tidak sekolah atau tidak tamat SD, tamat SD atau sederajat, tamat SMP atau sederajat, tamat SMA