• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study karena pengambilan data dilakukan pada suatu waktu. Penelitian dilaksanakan di Pesantren di Kabupaten Bogor, penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive dengan alasan kemudahan jangkauan dan dengan pertimbangan bahwa pondok pesantren telah menyelenggarakan makan bagi para santrinya.

Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah survei pendahuluan (penimbangan berat badan dan tinggi badan santri putri). Tahap kedua adalah pengumpulan data. Penelitian dilakukan pada bulan April 2011 untuk Pondok Pesantren Modern Sahid (Sahid) dan pada bulan September- Oktober 2011 untuk pondok Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami (UQI).

Cara Pemilihan Contoh

Kriteria utama pemilihan kedua pondok pesantren modern tersebut di atas yaitu keduanya melaksanakan penyelenggaraan makanan untuk para santri. Kriteria inklusi dari pemilihan pondok pesantren tersebut yaitu: (1) terdaftar di Kabupaten Bogor, (2) tiap santri mendapatkan porsi makanan sendiri, (3) belum pernah dijadikan sebagai tempat penelitian sejenis, dan (4) bersedia dijadikan sebagai tempat penelitian.

Responden dalam penelitian ini disebut contoh, yang merupakan santri putri tsanawiyah dan aliyah. Contoh tinggal di pondok pesantren yang terpilih, dan tidak sedang atau akan menghadapi ujian akhir nasional serta santri yang baru masuk dan mengisi data record (7x24) jam secara lengkap. Pemilihan contoh dilakukan secara simple random sampling dengan menggunakan rumus dari (Notoatmodjo 2005) sebagai berikut:

n = ____N____ 1+ N (d2) keterangan :

N = besar populasi n = besar sampel

d = tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan

Berdasarkan rumus tersebut dapat ditentukan masing-masing jumlah contoh dari jumlah populasi di dua tempat penelitian, yaitu 78 orang untuk Pesantren Sahid dan 94 orang untuk Pesantren UQI. Namun contoh santri

Pesantren Sahid yang mengisi data dan mengembalikan record secara lengkap hanya 68 orang dan contoh santri Pesantren UQI hanya 87 orang, sehingga didapatkan total contoh berjumlah 155 orang santri.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi proses penyelenggaraan makanan, karakteristik contoh (umur, berat badan, tinggi badan, kelas, dan uang saku), karakteristik sosial ekonomi keluarga (pendidikan ayah dan ibu, pekerjaan ayah dan ibu), serta pendapatan keluarga, pengetahuan gizi, kebiasaan makan, dan konsumsi pangan.

Tabel 2 Jenis dan cara pengumpulan data penelitian

No Jenis Data Cara Pengumpulan Data Alat 1. Pola penyelenggaraan makanan

1. Pelaksanaan pola - Wawancara - Pengamatan langsung Kuesioner, timbangan makanan digital 2. Karakteristik responden (santri)

1. Umur 2. Berat badan 3. Tinggi badan 4. Kelas 5. Uang saku - Pengisian kuesioner - Wawancara - Pengukuran langsung Kuesioner, timbangan badan digital, microtoise 4. Karakteristik sosial-ekonomi keluarga

1. Pendidikan ayah dan ibu 2. Pekerjaan ayah dan ibu 3. Pendapatan keluarga

- Pengisian kuesioner - Wawancara

Kuesioner

5. Konsumsi makanan (food record 7x24 jam) - Pengisian kuesioner - Wawancara - Pengukuran langsung Kuesioner, timbangan makanan digital 6. Pengetahuan Gizi - Pengisian kuesioner

- Wawancara Kuesioner 7. Kebiasaan Makan 1. Frekuensi makan - Pengisian kuesioner - Wawancara Kuesioner 8. Kebiasaan Jajan 1. Frekuensi Jajan 2. Jenis jajanan - Pengisian Kuesioner - Wawancara Kuesioner 9. Karakteristik Pesantren

1. Gambaran umum pesantren 2. Jumlah santri, guru, dan

karyawan

3. Fasilitas secara umum

- Pengisian kuesioner - Wawancara

- Pengamatan langsung

Kuesioner

Data primer mengenai proses penyelenggaraan makanan diperoleh dengan melakukan wawancara kepada pengelola, penjamah makanan, dan

pihak pesantren. Data sekunder diperoleh dengan melakukan wawacara dengan pihak pesantren mengenai karakteristik pondok pesantren yang meliputi gambaran umum pesantren, jumlah santri, guru dan karyawan. Selain melakukan wawancara dengan pihak pesantren juga melakukan pengamatan langsung terhadap fasilitas yang tersedia di pondok pesantren.

Pengolahan dan Analisis Data

Tahapan pengolahan data dimulai dari pengkodean (coding), pemasukan data (entry), pengecekan ulang (cleaning), dan analisis data. Tahapan pengkodean (coding) dilakukan dengan cara menyusun codebook sebagai panduan entry dan pengolahan data. Kemudian data dimasukan ke dalam tabel yang sudah disediakan.Setelah itu dilakukan pengecekan ulang (cleaning) untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam memasukan data. Tahapan terakhir adalah analisis data yang diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excell 2007 dan Statistical Program for social Sciences (SPSS) versi 16.0.untuk menguji hubungan antar variabel dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Variabel yang akan diuji adalah pengetahuan gizi dengan tingkat konsumsi zat gizi dan tingkat konsumsi zat gizi dengan status gizi.

Data status gizi diperoleh dengan melakukan penimbangan berat badan (kg) menggunakan timbangan berat badan digital. Kemudian pengukuran tinggi badan (cm) dilakukan dengan menggunakan microtoise dengan ketelitian 0.1 cm. Data status gizi contoh ditentukan berdasarkan data yang sudah diperoleh yaitu usia contoh, berat badan, dan tinggi badan dengan parameter Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut umur (IMT/U) dan indeks Tinggi Badan menurut umur (TB/U). Penentuan status gizi dilakukan dengan menggunakan software Anthroplus 2007 dan analisis indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) dilakukan dengan menggunakan software Nutrisurvey 2007. Nilai IMT menurut umur (IMT/U) dalam WHO (2007), dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Nilai IMT menurut umur (IMT/U)

Klasifikasi Z-score Sangat kurus < -3 SD Kurus -3 SD ≤ Z-score < -2 SD Normal -2 SD ≤ Z-score ≤ +1 SD Overweight +1 SD < Z-score ≤ +2 SD Obesitas > +2 SD

Data konsumsi pangan diketahui melalui metode food record (pencatatan makanan) selama seminggu. Data konsumsi pangan yang diperoleh

dikonversikan untuk menentukan zat gizi contoh yang terdiri dari energi, protein, karbohidrat, lemak, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, kalsium, fosfor, dan zat besi, dengan menggunkan Daftar Konsumsi Bahan Makanan (DKBM) dengan rumus sebagai berikut (Hardinsyah dan Briawan 1994):

Keterangan:

Kgij = Kandungan zat gizi –i dalam bahan makanan –j Bj = Berat makan –j yang dikonsumsi (g)

Gij = Kandungan zat gizi dalam 100 gram BDD bahan makanan ke-j BDD j = Bagian bahan makanan -j yang dapat dimakan

Tingkat konsumsi zat gizi dihitung dengan membandingkan antara konsumsi zat gizi contoh (aktual) (KI) dengan angka kebutuhan yang dianjurkan (AKG). Untuk menghitung angka kebutuhan energi dan protein harus dikoreksi dengan berat badan, yaitu menggunakan berat badan aktual selama dalam kisaran kategori normal sedangkan untuk kebutuhan vitamin dan mineral tidak diperlukan koreksi terhadap berat badan. Rumus yang digunakan untuk menghitung angka kebutuhan zat gizi adalah (Hardinsyah et al 2002):

Keterangan:

AKGI = Angka kebutuhan zat gizicontoh yang dicari Ba = Berat badan aktual sehat (kg)

Bs = Berat badan yang dianjurkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG 2004) (kg)

AKG = Angka kecukupan energi atau protein yang dianjurkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG 2004)

Selanjutnya, tingkat kecukupan zat gizi diperoleh dengan cara membandingkan jumlah konsumsi zat gizi tersebut dengan kecukupannya yaitu dengan menggunakan rumus tingkat kecukupan zat gizi yang di bawah ini:

Keterangan:

TKGI = Tingkat kecukupan zat gizi

KGij = (Bj/100) X Gij X (BDDj/100)

AKGI = (Ba/Bs) x AKG

KI = Konsumsi zat gizi contoh (Food record) AKGI = Angka kecukupan zat gizi contoh yang dicari

Data pengetahuan gizi diukur dengan 20 (dua puluh) pertanyaan, yang masing-masing pertanyaan diberi skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Total skor dijumlahkan dan dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu: 1) kategori baik apabila skor >80%, 2) kategori sedang apabila skor berkisar antara 60 dan 80%, dan 3) kategori kurang apabila skor <60% (Khomsan 2000).

Data frekuensi makan dihitung dari berapa kali biasanya contoh mengonsumsi makanan utama. Data jenis jajanan makanan pada penelitian ini dikelompokkan menjadi empat jenis berdasarkan Winarno (2004), yaitu makanan sepinggan, snack, minuman, dan buah segar. Selain itu, diukur juga konsumsi jajanan dengan menghitung berapa banyak jenis dan berapa kali jajanan tersebut dikonsumsi contoh. Variabel dan kategori pengukuran variabel dapat dilihat pada Lampiran 1.

Definisi Operasional

Status gizi santri putri adalah keadaan kesehatan santri putri yang dilihat dari konsumsi pangan serta penggunaannya oleh tubuh dan diukur berdasarkan berat badan dibagi tinggi badan dalam meter dikuadratkan. Konsumsi makanan adalah jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi

santri dalam satu hari yang dilihat dari total energi dan zat gizi lain.

Penyelenggaraan makanan adalah proses yang meliputi pengadaan, penyimpanan, pemasakan dan penghidangan makanan untuk mengetahui susunan menu, frekuensi makan, waktu makan, jenis makanan dan jumlah makanan.

Tingkat kecukupan adalah perbandingan jumlah zat gizi yang dikonsumsi (aktual) per hari dengan angka kecukupan zat gizi yang dianjurkan per hari yang dinyatakan dalam persen.

Frekuensi makan adalah kebiasaan berapa kali jumlah makan santri selama masa penelitian.

Pengetahuan gizi adalah tanggapan atau jawaban tentang jenis-jenis bahan makanan berdasarkan penggolongannya dan fungsinya yang diberikan oleh santri putri.

Umur santri putri adalah usia yang dihitung pada saat responden dilahirkan sampai saat penelitian berlangsung.

Santri adalah siswa tsanawiyah dan aliyah yang tinggal di pesantren.

Kecukupan gizi adalah jumlah masing-masing zat gizi yang sebaiknya dipenuhi santri agar hampir semua santri hidup sehat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian Pesantren Modern Sahid

Sahid merupakan pondok pesantren modern dengan sistem tiga pusat pendidikan yaitu pendidikan keluarga, sekolah, dan lingkungan di dalam satu kompleks yang Islami. Untuk merealisasi idealisme pendidikan pesantren tersebut, Pondok Pesantren Modern Sahid melaksanakan pendidikan keluarga melalui asrama, pendidikan sekolah melalui madrasah, dan pendidikan lingkungan yang berpusat pada masjid. Dengan demikian pendidikan berlangsung 24 jam setiap hari dalam suasana Islami yang dinamis dan humanis di bawah bimbingan para kyai, ustadz/ustadzah, dan murabbi/murabbiyah yang mukhlish dan profesional.

Lokasi pondok pesantren modern Sahid terletak di jalan KH. Abdul Hamid KM 6, Gunung Menyan Pamijahan Bogor, Jawa Barat. Pondok pesantren ini berdiri diatas tanah seluas 70 hektar (700000 m2). Fasilitas yang terdapat di Sahid diantaranya yaitu dua komplek bangunan yang disediakan untuk asrama putra dan putri yang terpisah, yang masing-masing terdiri dari empat unit asrama terdiri dari 80 kamar yang masing-masing kamar dilengkapi dengan kamar mandi, dihuni oleh enam orang santri. Selain itu terdapat masjid, gedung, sekolah, perkantoran, auditorium, perpustakaan, dapur, ruang makan, kantin, anjungan telepon di asrama, klinik, dan mini market. Fasilitas lainnya yaitu sarana olah raga, laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium komputer, dan lahan pertanian dan peternakan yang luas. Santri putra dan putri Sahid tahun ajaran 2010-2011 berjumlah 775 orang, terdiri dari 429 santri putra (55.4%) dan 346 santri putri (44.6%)

Pesantren modern sahid diresmikan pada tanggal 27 Mei 2000, setelah mendapat ijin operasional dari Departemen Agama Propinsi Jawa Barat dengan nama Pesantren Sahid Mandiri. Nama tersebut kemudian diubah menjadi Pondok Pesantren Modern Sahid. Pada tahun pelajaran 2003/2004 Pondok Pesantren Modern Sahid membuka Madrasah Tsanawiyah (MTs) yaitu salah satu jenjang pendidikan formal tingkat menengah pertama Islam sesuai UU SISDIKNAS nomor 20 tahun 2003 pasal 17 ayat 2.

Sejak didirikan pada tanggal 27 Mei 2000, Sahid telah mencanangkan visi dan misi yang jelas. Visi dari Sahid adalah menjadi pusat pendidikan Islam yang modern dan bertaraf Internasional, guna menyiapkan generasi unggul,

berbudaya, Islami dalam rangka mengimplementasikan ajaran Islam sebagai “rahmatan lil’Alamin”. Untuk mencapai visi tersebut di siapkan sarana prasarana secara bertahap, sumber daya manusia (SDM) dan sistem yang selalu diperbaharui sesuai dengan tuntutan zaman. Adapun misinya di rumuskan sebagi berikut :

1. Menyelenggarakan pendidikan Islam yang modern dan bertaraf Internasional mulai tingkat Raudhatul Athfal Ibtidaiyyah, Tsanawiah, sampai Aliyah.

2. Menyelenggarakan dakwah dan pengembangan potensi umat 3. Berperan aktif dalam pengembangan pendidikan Islam

Pengajar Sahid sebagian berasal dari alumni beberapa pesantren modern di Jawa serta sebagian lagi adalah berasal dari perguruan tinggi seperti IKIP, IPB, UGM, UNS, UIN, dan ISID. Selain itu didatangkan Syeikh dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Santri diwajibkan membayar uang sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) pada setiap bulannya sesuai jumlah yang telah ditentukan sebelumnya oleh pihak pesantren. Santri dapat dikunjungi oleh orang tua/keluarga di luar jam belajar atau kegiatan wajib lainnya. Selain itu santri diizinkan keluar pesantren untuk keperluan pribadi/organisasi, berobat atau acara keluarga dengan cara mengikuti prosedur perizinan yang ditentukan asrama serta saat liburan pesantren yang ditentukan berdasarkan kalender pendidikan Sahid.

Tabel 4 Sebaran jumlah santri putri Sahid

Kelas n %

Tsanawiyah (SLTP) 224 64.7 Aliyah (SLTA) 122 35.3 Total 346 100.0

Berdasarkan Tabel 4, jumlah santri putri Sahid pada tahun 2010/2011 yang tertampung keseluruhannya berjumlah 346 orang yang terbagi dalam tiga kelas Tsanawiyah dan lima kelas Aliyah.

Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami

Pondok Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami (UQI) adalah lembaga pendidikan dengan menggunakan sistem asrama. Dewan guru dan para santri belajar dan bermukim didalam pesantren dengan nuansa kekeluargaan.

Pondok pesantren ini berdiri di atas tanah seluas 10 hektar (100000 m2). UQI menyediakan dua komplek bangunan untuk asrama putra dan putri yang terpisah, khusus untuk asrama putri terdapat tujuh gedung dengan jumlah

keseluruhan kamar yaitu 40 kamar untuk tiap kamar berisi antara 35-40 orang dengan empat orang pengurus kamar. Fasilitas lain yaitu, terdapat asrama guru, tempat peristirahatan tamu, kamar mandi putra dan putri, masjid, gedung serba guna (GSG), sekolah, perkantoran, perpustakaan, dapur pusat dan dua dapur khusus, ruang makan guru, kantin, wartel, klinik, dan koperasi, serta terdapat lapangan serba guna, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, dan laboratorium komputer. Pada tahun ajaran 2011-2012 santri putra dan putri UQI berjumlah 3332 orang, yang terdiri dari 1776 santri putra (53.3%) dan 1556 santri putri (46.7%).

UQI didirikan pada tanggal, 1 Muharram 1414 H/21 Juni 1993 M. Di Kampung Banyusuci, Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tanggal ini dikenang sebagai tanggal peletakan batu pertama pondok. Setelah satu tahun, UQI kemudian beroperasi sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, tepatnya pada tanggal, 10 Juli 1994 M. Masa pendidikan di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami adalah enam tahun untuk lulusan SD/MI, dan empat tahun untuk yang tamatan SLTP/MTs dan SLTA/MA.

Visi dari UQI adalah terwujudnya generasi Islam yang unggul dalam prestasi, berakhlak mulia, beramal shaleh dan tekun beribadah berdasarkan paham “akhlussunnah wal jamaah”.Adapun misinya di rumuskan sebagi berikut :

1. Menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dalam pencapaian prestasi akademik dan non akademik.

2. Menyiapkan kader-kader ulama dan pemimpin umat yang mutafaqih fi addin

berfaham akhlussunnah waljamaah.

3. Mempersiapkan generasi Islam yang kompeten (science, skill, social, behaviour) untuk berkiprah di dunia intrenasional.

4. Mendidik generasi Islam yang taat kepada Allah dan RasulNya serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa.

Pengasuh dan guru UQI sebagian berasal dari alumni beberapa pesantren di Jawa dan alumni dari UQI serta sebagian lagi adalah berasal dari perguruan tinggi seperti IKIP,UIN, STAI, IPB, PAKUAN, UHAMKA, dan beberapa universitas di Timur Tengah.

Pondok Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami mencoba menerapkan kurikulum yang utuh dalam mendidik dan mengajar para santrinya. Bentuk pengajarannya dikemas dalam nama Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang merupakan perpaduan antara kurikulum Nasional dan kurikulum

yang berlaku di pondok pesantren pada umumnya. Di bawah tanggung jawab dan pengawasan bagian Pendidikan dan Pengajaran pesantren, GBPP meliputi Ulum Tanziliyah (ilmu-ilmu yang bersumber langsung dari Allah dan Rasul-Nya) serta Ulum Kauniyah dan Tathbiqiyah (ilmu-ilmu yang bersumber dari manusia, alam serta ilmu-ilmu terapan dan teknologi). Untuk kedua jenis ilmu yang disebut terakhir, digunakan kurikulum yang mengacu kepada Kurikulum Nasional yang berlaku. Selain itu, ada pula Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Khusus yang dilaksanakan di luar jam sekolah di bawah bimbingan guru-guru dan para pengurus.

Sama halnya dengan pondok pesantren modern Sahid dan pondok- pondok lainnya, santri diwajibkan membayar uang SPP pada setiap bulannya. Orang tua santri dapat mengunjungi santridi luar jam belajar atau kegiatan wajib lainnya. Perizinan keluar pesantren diperbolehkan hanya untuk berobat atau acara keluarga dengan ketentuan dari pihak asrama. Serta terdapat jadwal libur sekolah sesuai dengan kalender pendidikan UQI.

Tahun ajaran 2011/2012, jumlah santri putri UQI secara keseluruhan berjumlah 1556 orang yang dibagi kedalam tiga kelas tsnawiyah dan enam kelas aliyah (Tabel 5).

Tabel 5 Sebaran jumlah santri putri UQI

Kelas n %

Tsanawiyah (SLTP) 810 52.1 Aliyah (SLTA) 746 47.9 Total 1556 100.0

Kedua pesantren yang diamati merupakan pesantren yang baru dan mempunyai potensi untuk lebih maju lagi jika dibandingkan dengan umumnya pesantren-pesantren yang ada di pulau Jawa. Penyediaan sarana belajar yang memadai dengan modal operasional yang tidak sedikit, kiranya akan menjadi daya tarik pesantren untuk diminati para orang tua pada saat ini yang sangat menginginkan anak-anaknya mempunyai akhlak yang baik.

Karekteristik Contoh Umur

Santri putri yang menjadi contoh penelitian dari Pondok Pesantren Modern Sahid (Sahid) adalah siswa Tsanawiyah (SLTP) dan Aliyah (SLTA) kelas 1 dan kelas 2, sementara dari Pondok Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami (UQI) adalah siswa Tsanawiyyah (SLTP) dan Aliyah

(SLTA) kelas 2 dan kelas 3. Sebagian besar umur contoh Pesantren Sahid berada pada kategori remaja tengah (14-16 tahun) sebanyak 57.4%. Contoh Sahid yang berada pada kategori remaja awal (10-13 tahun) sebanyak 30.9% dan contoh Sahid yang berada pada kategori remaja akhir (17-19 tahun)sebanyak 11.8%. Umur contoh Pesantren UQI sebagian besar juga berada pada kategori remaja tengah (14-16 tahun) sebanyak 43.7 %. Contoh UQI yang berada pada kategori remaja awal (10-13 tahun) sebanyak 21.8% dan contoh UQI yang berada pada kategori remaja akhir (17-19 tahun) sebanyak 34.5.% (Tabel 6).

Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan umur

Umur Sahid UQI

n % n %

Remaja awal (10-13 tahun) 21 309 19 21.8

Remaja tengah (14-16 tahun) 39 57.4 38 43.7

Remaja akhir (17-19 tahun) 8 11.8 30 34.5

Total 68 100.0 87 100.0

Pengelompokan usia tersebut disesuaikan dengan Depkes (2005) yang menyatakan bahwa masa remaja dibedakan dalam tiga tahap, yaitu masa remaja awal (10-13 tahun), masa remaja tengah (14-16 tahun), dan masa remaja akhir (17-19 tahun). Masa remaja menjadi masa yang begitu khusus dalam hidup manusia, karena pada masa tersebut terjadi proses awal kematangan organ reproduksi manusia yang disebut sebagai masa pubertas.

Secara umum, kelompok umur remaja tengah contoh di kedua pesantren adalah lebih besar dibanding dua kelompok umur lainnya. Indikasi ini akan memberikan suatu informasi untuk penyelenggaraan makan, yang penyediaan jenis makanan dan kualitas gizinya diprioritaskan untuk kelompok umur remaja tengah. Namun, tentunya agak sulit bagi penyelenggara makan, karena sistem penyelenggaraan makan para santri putri dijadikan satu untuk semua kelompok umur. Risiko penyelenggaraan komunal ini, tentunya akan terjadi kelebihan gizi bagi para santri putri. Oleh karena itu suatu kurikulum khusus mengenai pengetahuan gizi yang diajarkan kepada para santri adalah suatu anjuran yang sangat baik, sehingga para santri sedikit banyak akan berusaha untuk mengukur sendiri kebutuhannya sekaligus mereka akan mengetahui berbagai risiko salah makan.

Kurikulum pengetahuan tentang status gizi tentunya akan memberikan pengetahuan umum yang dapat dipraktekan selama hidupnya dalam rangka

mempertahankan sekaligus meningkatkan status gizi keluarga santri kelak. Pengetahuan ini sangat dianjurkan mengingat perkembangan keanekaragaman kuliner di negara Indonesia, terutama di perkotaan dan pinggiran kota sangat pesat dan cenderung tidak memperhatikan kesehatan dan keserasian gizi pangan yang disajikannya.

Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan kelas

Kelas Sahid UQI

n % n % Tsanawiyah 1 17 25 - - 2 16 24 23 26 3 - - 23 26 Aliyah 1 18 26 - - 2 17 25 22 25 3 - - 19 22 Total 68 100 87 100

Berdasarkan Tabel 7, contoh tersebar hampir merata pada setiap kelasnya. Namun, pada contoh sahid tidak diambil contoh yang berasal dari kelas 3 karena pada saat penelitian kelas 3 sedang menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Pada contoh UQI, tidak diambil contoh yang berasal dari kelas 1 karena penelitian dilakukan pada saat semester baru, dikhawatirkan santri yang baru masuk masih beradaptasi dengan lingkungan pesantren.

Uang Saku

Setiap anak yang bersekolah dibekali uang saku oleh orang tuanya sebagai uang untuk pegangan anak selama di sekolah. Uang saku tersebut umumnya digunakan anak sekolah untuk membeli jajanan sekolah baik berupa makanan maupun non makanan (Muasyaroh 2006).

Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan besarnya uang saku Jumlah uang saku

Rp/bulan Sahid UQI n % n % < 200.000 200.000-499.999 ≥ 500.000 Total 1 29 38 68 1.5 42.6 55.9 100.0 28 50 9 87 32.2 57.5 10.3 100.0

Sebaran contoh menurut besarnya uang saku dapat diketahui pada Tabel 8 bahwa persentase tertinggi pada contoh Sahid (55.9%) berada pada kisaran nominal lebih besar sama dengan Rp 500000 dan persentase tertinggi pada contoh UQI (57.5%) berada pada kisaran nominal Rp 200000-Rp 499999.

Keadaan ini tentunya akan mempengaruhi pola makan, sekaligus status gizi santri. Oleh karena itu sejalan dengan bahasan di atas yang berhubungan dengan kelompok umur, pengetahuan akan status gizi oleh para santri perlu ditingkatkan.

Karakteristik Orang Tua Contoh Pendidikan

Karakteristik orang tua santri putri contoh dikelompokkan atas pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. Sebagian besar pendidikan ayah pada contoh dari Sahid adalah tamat sarjana (51.5%), sementara pendidikan ibu adalah tamat SLTA/sederajat (39.7%). Pendidikan ayah dan ibu pada contoh UQI adalah tamat SLTA/sederajat dengan persentase masing-masing sebesar 42.5% dan 35.6% (Tabel 9).

Tabel 9 Sebaran orang tua contoh berdasarkan pendidikan

Pekerjaan

Sebagian besar pekerjaan ayah pada kedua contoh adalah berwiraswasta dengan persentase masing-masing sebesar 47.1% dan 49.4%, sedangkan sebagian besar pekerjaan ibu adalah ibu rumah tangga dengan persentase masing-masing sebesar 48.5% dan 63.2% (Tabel 10).

Pendidikan orang tua contoh Sahid UQI

n % n % Pendidikan ayah Tamat SD/sederajat 1 1.5 10 11.5 Tamat SLTP/sederajat 2 2.9 9 10.3 Tamat SLTA/sederajat 20 29.4 37 42.5 Tamat Diploma/Akademi 10 14.7 8 9.2 Tamat Sarjana 35 51.5 23 26.4 Total 68 100.0 87 100.0 Pendidikan ibu Tamat SD/sederajat 0 0.0 20 23.0 Tamat SLTP/sederajat 1 1.5 11 12.6 Tamat SLTA/sederajat 27 39.7 31 35.6 Tamat Diploma/Akademi 14 20.6 7 8.0 Tamat Sarjana 26 38.2 18 20.7 Total 68 100.0 87 100.0

Tabel 10 Sebaran orang tua contoh berdasarkan pekerjaan

Pendapatan

Sebagian besar pendapatan orang tua contoh Sahid (47.1%) adalah lebih besar sama dengan Rp 6000000, sedangkan sebagian besar pendapatan orang tua contoh UQI berada pada dua kisaran (<Rp 2000000 dan Rp 2000000 – Rp 299999) dengan persentase yang sama (masing-masing 34.5%) (Tabel 11). Karakteristik sosial ekonomi orang tua pada kedua kelompok contoh menunjukkan bahwa keluarga contoh berada pada status ekonomi menengah, artinya hanya keluarga-keluarga golongan ekonomi dan sosial menengah yang

Dokumen terkait