TINJAUAN PUSTAKA
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study, yaitu data diambil pada satu periode waktu secara bersamaan dengan sampel yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di wilayah Puskesmas Ciomas yang terdiri dari 3 Desa di Kecamatan Ciomas yaitu Desa Ciomas, Ciomas Rahayu, dan Pagelaran. Pemilihan tempat dan contoh dilakukan secara sengaja (purposive sampling) berdasarkan kemudahan akses dan penderita penyakit TB paru kedua terbanyak di Kabupaten Bogor setelah Cileungsi (Gerduda TB 2000). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan November 2010 yang meliputi pengumpulan, pengolahan, serta analisis data.
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh
Populasi penelitian ini adalah seluruh subjek atau contoh yang terpilih di salah satu kecamatan di Kabupaten Bogor yaitu Kecamatan Ciomas. Kriteria contoh yaitu anggota keluarga (orang tua) sebagai penderita penyakit TB paru. Populasi contoh tersebar berdasarkan 4 UPT Puskesmas Kecamatan Ciomas yang kemudian disebut cluster area yaitu Puskesmas Kota Batu, Ciomas, Laladon, dan Ciapus. Selanjutnya secara purposive terpilih Puskesmas Ciomas sebagai contoh cluster pemilihan dengan pertimbangan kemudahan akses dan karakteristik contoh yang cukup banyak dibanding puskesmas lain. Puskesmas ini membawahi tiga desa, yaitu Desa Ciomas, Desa Ciomas rahayu, dan Desa Pagelaran. Jumlah contoh dari tiga desa terpilih yaitu 49 orang yang aktif berobat TB paru ke Puskesmas Ciomas dan bersedia diwawancarai.
Gambar 2 Cara Pengambilan Contoh
Populasi : Keluarga dengan TB paru di Kecamatan Ciomas Cluster Area Puskesmas Ciomas Puskesmas Laladon Puskesmas Ciapus Puskesmas Kota Batu
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang berasal langsung dari objek penelitian, yang diperoleh dengan survey (wawancara kepada contoh dan pasangan dengan kuesioner terstruktur) dan observasi. Sedangkan data sekunder meliputi data pasien aktif Puskesmas Ciomas, gambaran umum lokasi penelitian, penelusuran pustaka dan lain-lain.
Tabel 1 Peubah, Jenis Data, dan Cara Pengumpulan Data
Peubah Jenis Data Cara Pengumpulan Data Skala data Perilaku Hidup Sehat Primer Wawancara ordinal Riwayat Kesehatan Primer Wawancara nominal Karakteristik Keluarga
Pekerjaan Primer Wawancara nominal Pendidikan Primer Wawancara ordinal Pendapatan keluarga Primer Wawancara rasio Usia Primer Wawancara rasio Besar keluarga Primer Wawancara rasio Sanitasi Primer Wawancara dan observasi ordinal Tingkat Kecemasan Primer Wawancara ordinal Mekanisme koping Primer Wawancara ordinal Kelentingan Keluarga Primer Wawancara ordinal Keadaan Umum Lokasi
Penelitian Sekunder Kantor Desa
-Tabel 2 Kategori Variabel Penelitian
No. Variabel Kategori Keterangan Kelentingan Keluarga
1. Family Cohesion Kebersamaaan
Keseimbangan Kedekatan loyalitas Aktivitas Kemandirian 2. Family Belief
System Kemampuan untuk memaknai
kesulitan
Pandangan positif Spiritual atau transedensi 3. Komunikasi Kejelasan pesan
Keterbukaan penyampaian emosi Kolaboratif dalam pemecahan
masalah Mackay (2003) & Sixbey (2005) diacu dalam Lum C (2008)
Mekanisme Koping Keluarga
4. Problem-focused coping 5. Emotion-focused coping Folkman (1986) & Mekanisme Koping Kesehatan Keluarga
6. Family Integration, Kerjasama, dan Optimisme 7. Dukungan Sosial, Mc.Cubbin & Mc.Cubbin (1979)
25 Penghargaan Diri, dan Psychological Stability 8. Komunikasi dan konsultasi kesehatan Dukungan Sosial 9. Dukungan Emosional 10. Dukungan Penghargaan 11. Dukungan Instrumental 12. Dukungan Informatif Smet (1994) dan Sarafino (1998) & Permatasari (2006) Stres
13. Tingkat Kecemasan Normal Ringan-sedang Berat
Ekstrim
Zung (1971) Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga
14. Usia 19-29 tahun 30-49 tahun 50-69 tahun
Hurlock (1993) 15. Pendidikan Tidak sekolah
Tidak tamat SD SD SMP SMA Diploma Sarjana Pasca sarjana Ketentuan peneliti 16. Pekerjaan Tidak bekerja
Petani Pedagang Buruh PNS/ABRI/Polisi Wiraswasta Karyawan swasta Lainnya Ketentuan peneliti
17. Besar keluarga Kecil (≤4 orang) Sedang (5-7 orang) Besar (≥8 orang) Hurlock (1993) 18. Pendapatan keluarga < Rp. 500.000,00 Rp. 500.000,00 – Rp. 1.000.000,00 Rp. 1.000.000,00 – Rp. 1.500.000,00 Rp. 1.500.000,00 – Rp. 2.000.000,00 Rp. 2.000.000,00 – Rp. 2.500.000,00 > Rp. 2.500.000,00 Ketentuan peneliti Sanitasi
Kondisi Fisik Rumah
19. Kepemilikan rumah Milik sendiri kontrak Sewa Lainnya
Ketentuan Peneliti
20. Jenis lantai Seluruhnya tanah Tanah dan Semen Lantai keramik Lainnya
BPS (2000) 21. Dinding Bambu/triplek/kayu
Tembok plester/tanpa plester Lainnya
BPS (2000) 22. Ventilasi Tidak ada
Ada, tetapi tertutup Ada, terbuka BPS (2000) 23. Atap Ijuk Seng Genteng Lainnya BPS (2000) 24. Jendela Tidak ada
Ada, tetapi hanya di beberapa ruangan
Ada, hampir setiap ruangan
BPS (2000) 25. Luas ruangan per
orang Baik (> 8m2/orang) Sedang ( 5-8m2/orang) Kurang (< 5m2/orang)
BPS (2000) Sarana Rumah Tangga
26. Ketersediaan kamar mandi Ya Tidak Ketentuan peneliti 27. Kondisi kamar
mandi Tanah dan Semen Lantai keramik Lainnya
Ketentuan peneliti 28. Ketersediaan
jamban Ya (septic tank/tanpa septic tank) Tidak (sungai/empang) Lainnya Ketentuan peneliti 29. Pembuangan sampah Sungai TPS Lainnya Ketentuan peneliti 30. Pembuangan air limbah Sungai Selokan Lainnya Ketentuan peneliti Sumber Air
31. Sumber air minum Air hujan/sungai Mata air/sumur PAM/ledeng Lainnya
Sukarni (1994) 32. Sumber air bersih Air hujan/sungai
Mata air/sumur PAM/ledeng Lainnya
Sukarni (1994) Perilaku Hidup Sehat
33. Pemisahan alat
makan dan minum Ya
Tidak Depkes (2007) 34. Menjemur kasur,
bantal, dan guling 1 minggu sekali 2 minggu sekali 1 bulan sekali Lainnya
Depkes (2007) 35. Waktu tidur Kurang (< 8 Jam)
27
36. Kebiasaan merokok Ya
Tidak Depkes (2007) 37. Olahraga 1 minggu sekali
2 minggu sekali 1 bulan sekali Lainnya Depkes (2007) 38. Tindakan pengobatan Dokter/mantri Puskesmas/klinik/rumah sakit Obat warung/Obat tradisional
Ketentuan peneliti 39. Diet Ya
Tidak Depkes (2007) 40. Menggunakan alat
untuk batuk dan meludah
Ya
Tidak Depkes (2007)
Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji validitas
Uji validitasnya dilakukan dengan mengkorelasikan antara skor tiap item dengan skor total. Teknik uji validitas dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson, yaitu :
rxy =
N Y X XY N Y Y N X X / ) )( ( ) ( / ( ) / ( 2 2 2 2 keterangan :rxy = koefisien korelasi antara skor X (item) dengan skor Y (total) ∑XY = jumlah perkalian antara skor X (item) dengan skor Y (total) ∑X = jumlah skor item
∑Y = jumlah skor total N = jumlah subjek
Uji signifikansi untuk menentukan valid atau tidaknya suatu item adalah dengan cara membandingkan rhitung dengan rtabel untuk tingkat signifikansi 0,05 dan N=49, maka rtabel=0,282. Jika rhitung > rtabel , maka pernyataan tersebut valid. Berdasarkan hasil uji coba validitas dengan program SPSS 16.0 diperoleh uji validitas instrumen:
a. mekanisme koping kesehatan keluarga (CHIP), nilai terendah 0,885 dan nilai tertinggi 0,896.
b. mekanisme koping keluarga, nilai terendah 0,912 dan nilai tertinggi 0,923. c. kelentingan keluarga, nilai terendah 0,885 dan nilai tertinggi 0,904.
d. tingkat kecemasan, terdapat beberapa butir pernyataan yang dihapus yaitu nomor 5, 18 dan 19 karena butir tersebut terbukti tidak valid. Adapun butir pernyataan yang valid memiliki nilai terendah 0,646 dan nilai tertinggi 0,734.
e. dukungan keluarga terdapat beberapa butir pernyataan yang dihapus yaitu nomor 5, 12, 25, 27, 29, 30, dan 34 karena butir tersebut terbukti tidak valid. Adapun butir pernyataan yang valid memiliki nilai terendah 0,653 dan nilai tertinggi 0,711.
2. Uji reliabilitas
Teknik analisis yang digunakan adalah teknik uji reliabilitas alpha yang dikembangkan oleh Cronbach, dengan rumus :
r11 =
2 1 2 1 1 b k k Keterangan : r11 = reliabilitas instrumen k = jumlah item 1 = bilangan konstan ∑σb2 = jumlah varians butir σ12 = varians totalBerdasarkan uji reliabilitas menggunakan rumus alpha diperoleh nilai r11=0,892 untuk instrumen mekanisme koping kesehatan keluarga (CHIP), sebesar 0,918 untuk instrumen mekanisme koping keluarga, sebesar 0,895 untuk instrumen kelentingan keluarga, sebesar 0,701 untuk instrumen tingkat kecemasan, sebesar 0,701 untuk instrumen dukungan sosial. Hasil tersebut menunjukkan bahwa skala tersebut adalah reliabel karena rhitung > 0,6 sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur.
Tabel 3 Interpretasi Realibilitas
Nilai realibilitas (rhitung) Interpretasi 0,801 – 1,00 0,601 – 0,800 0,401 – 0,600 0,201 – 0,401 0,001 – 0,200 Baik Cukup Agak kurang Kurang Sangat kurang
Sumber: Arikunto (2002) diacu dalam Permatasari (2006)
Pengolahan dan Analisis Data
Menurut Notoatmodjo (2002) diacu dalam Marwiati (2005), agar analisa penelitian menghasilkan informasi yang benar, ada 4 tahap yang digunakan peneliti yaitu :
1. Editing, merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isi kuesioner yang telah lengkap, jawaban dan tulisannya jelas untuk dibaca, relevan dengan pertanyaan, serta konsisten.
29
2. Koding, merupakan kegiatan mengubah data dari berbentuk huruf menjadi data yang berbentuk bilangan, sehingga akan mempermudah pada saat analisis dan entri data.
3. Processing, merupakan langkah pemrosesan data agar dapat dianalisis, yaitu dilakukan dengan cara memasukkan data dari kuesioner ke program komputer.
4. Clearing, yaitu membersihkan data dan merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dientri di komputer.
Data yang terkumpul, ditabulasi, dan dianalisis secara deskriptif. Hasil pengolahan data, selanjutmya dianalisis secara deskriptif dan statistik. Analisis statistik menggunakan uji korelasi untuk menguji hubungan antar variabel, serta uji regresi linier berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada kelentingan keluarga. Selain itu, diperlukan uji beda untuk menguji perbedaan lama sakit dengan kemungkinan adaptasi atas situasi krisis.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyajian data dalam bentuk persentase, tabel, dan grafik. Sajian data tersebut kemudian dirumuskan dalam bentuk teks sebagai interpretasinya. Data yang bersifat kualitatif digambarkan dengan kata atau kalimat dan dipisahkan menurut kategori untuk memperoleh hasil. Selanjutnya kategori tersebut dikuantitatifkan ke dalam bentuk persentase. Dengan rumus sebagai berikut (Arikunto 2002) diacu dalam Marwiati (2005): P = N n x 100 % Keterangan : P = Persentase n = skor riil N = Total skor
Adapun instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Karakteristik contoh, yang terdiri dari 3 pertanyaan terbuka yaitu pekerjaan, pendidikan, dan usia.
2. Karakteristik keluarga, yang terdiri dari 2 pertanyaan terbuka yaitu: pendapatan keluarga dan besar keluarga.
3. Riwayat kesehatan penderita dan keluarga, dengan 2 item pertanyaan terbuka yaitu deskripsi dan dampak.
4. Sanitasi, yang terdiri dari 3 item yaitu: kondisi fisik rumah, sarana dalam rumah tangga, dan sumber air dengan 12 pertanyaan tertutup dan 3 pertanyaan terbuka.
5. Perilaku hidup sehat, yang terdiri dari 7 pertanyaan tertutup dan 1 pertanyaan terbuka.
6. Mekanisme koping kesehatan keluarga, kuesioner diadaptasi dari teori Mc.Cubbin & Mc.Cubbin (1979) yang disusun dalam 45 butir pernyataan. Skala pengukuran yang digunakan adalah dengan skala likert yaitu: sangat membantu/menolong (skor 4), membantu/menolong (skor 3), kurang membantu/menolong (skor 2), tidak membantu/menolong (skor 1). Skor yang dihasilkan yaitu antara 45-180, sehingga dapat dibuat rentangan 180 – 45 = 135. Hasil rentangan tersebut akan dikategorikan menjadi 5 kriteria yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Nilai interval persentase yaitu
180
135= 75, sehingga 5
75= 15, maka didapat angka 15
sebagai intervalnya. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4 Kriteria Mekanisme Koping Kesehatan Keluarga (CHIP), Mekanisme Koping Keluarga, Kelentingan Keluarga, dan Dukungan Sosial
Interval Persentase (%) Kriteria 25,00 – 40,00 Sangat rendah 41,00 – 55,00 Rendah 56,00 – 70,00 Sedang 71,00 – 85,00 Tinggi 86,00 – 100,0 Sangat tinggi
7. Mekanisme koping keluarga, kuesioner diadaptasi dari teori Folkman (1986) yang disusun dalam 66 butir pernyataan. Skala pengukuran yang digunakan adalah dengan skala likert yaitu: sangat membantu/menolong (skor 4), membantu/menolong (skor 3), kurang membantu/menolong (skor 2), tidak membantu/menolong (skor 1). Skor yang dihasilkan yaitu antara 66-264, sehingga dapat dibuat rentangan 264 – 66 = 198. Hasil rentangan tersebut akan dikategorikan menjadi 5 kriteria yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Nilai interval persentase yaitu
264 198
= 75, sehingga
5 75
= 15, maka didapat angka 15 sebagai intervalnya. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.
8. Kelentingan keluarga, kuesioner diadaptasi dari teori Mackay (2003) dan Sixbey (2005) yang disusun dalam 33 butir pernyataan. Skala pengukuran
31
yang digunakan adalah dengan skala likert, dengan pemberian skor yaitu: sangat setuju (SS)=4, setuju (S)=3, kurang setuju (KS)=2, tidak setuju (TS)=1. Skor yang dihasilkan yaitu antara 33-132 sehingga dapat dibuat rentangan 132 – 33 = 99. Hasil rentangan tersebut akan dikategorikan menjadi 5 kriteria yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Nilai interval persentase yaitu
132
99 = 75, sehingga 5
75= 15, maka
didapat angka 15 sebagai intervalnya. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4. 9. Tingkat kecemasan, kuesioner diadaptasi dari Zung Self Rating Anxiety Scale
(ZRAS) (1971) yang terdiri dari 17 butir pernyataan. Skala pengukuran yang digunakan adalah dengan skala likert, dengan pemberian skor yaitu: selalu (skor 4), sering (skor 3), kadang-kadang (skor 2), tidak pernah (skor 1). Skor yang dihasilkan yaitu antara 17-68 sehingga dapat dibuat rentangan 68 – 17 = 51. Hasil rentangan tersebut akan dikategorikan menurut Zung (1971) yaitu dibagi 4 kriteria, yaitu normal, ringan-sedang, berat, dan ekstrim. Nilai interval persentase yaitu 68 51 = 75, sehingga 4 75
= 18,75, maka didapat angka 18,75 sebagai intervalnya. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 5 berikut:
Tabel 5 Kriteria Tingkat Kecemasan
Interval Persentase (%) Kriteria 25,00 – 43,75 Normal 43,76 – 62,50 Ringan – Sedang 62,51 – 81,25 Berat 81,26 – 100,0 Ekstrim
10. Dukungan sosial, kuesioner diadaptasi dari Permatasari (2006) yang didasari oleh teori Smet (1994) dan Sarafino (1998), terdiri dari 27 butir pernyataan favorable dan unfavorable. Skala pengukuran yang digunakan adalah dengan skala likert, dengan skor sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS). Skor yang dihasilkan yaitu antara 27-108 sehingga dapat dibuat rentangan 108 – 27 = 81. Hasil rentangan dikategorikan menjadi 5 kriteria yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Nilai interval persentase yaitu
108
81 = 75, sehingga 5 75= 15,
maka didapat angka 15 sebagai intervalnya. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4. Untuk jawaban pernyataan favorable, sangat sesuai (SS)=4, sesuai (S)=3, tidak sesuai (TS)=2, sangat tidak sesuai (STS)=1. Sedangkan jawaban pernyataan unfavorable, sangat sesuai (SS)=1, sesuai (S)=2, tidak sesuai
(TS)=3, sangat tidak sesuai (STS)=4. Perincian skala dukungan sosial dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Skala Dukungan Sosial
Jumlah Item No. Aspek
Fav Unfav Total 1 Dukungan emosional 8 4 12 2 Dukungan penghargaan 3 4 7 3 Dukungan Instrumental 2 1 3 4 Dukungan informatif 5 0 5 Total 18 9 27 Definisi Operasional
Keluarga dengan TB Paru adalah kumpulan orang yang terdiri dari suami, istri,
atau suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya yang memiliki ikatan pernikahan, darah, atau adopsi yang salah satu dari orang tua (ayah atau ibu) menderita penyakit TB Paru.
Karakteristik sosial ekonomi keluarga adalah karakteristik keluarga dengan
TB Paru yang meliputi pendapatan keluarga, pendidikan, pekerjaan, usia, dan besar keluarga.
Pendapatan keluarga adalah suatu jumlah uang yang diperoleh dari pekerjaan
pokok dan pekerjaan sampingan dari orang tua dan anggota keluarga lainnya yang dinyatakan dalam rupiah perkapita perbulan.
Pendidikan adalah pengajaran formal yang terakhir yang pernah diperoleh
contoh yang meliputi SD, SMP, SMA, Diploma, Sarjana, Pasca sarjana.
Pekerjaan adalah sumber pendapatan keluarga dapat berupa pekerjaan tetap
atau tidak tetap sesuai dengan bidang dan keahlian contoh.
Usia adalah lama waktu hidup (dalam tahun) orang tua sejak lahir sampai waktu
pengambilan data penelitian.
Besar keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang hidup serumah yang
terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak serta anggota keluarga lainnya selama minimal 3 bulan.
Sanitasi adalah suatu pengelolaan kondisi lingkungan keluarga yang dapat
diukur melalui kondisi fisik rumah, sarana rumah tangga, dan sumber air.
33
Perilaku hidup sehat adalah semua kegiatan atau aktivitas dalam kehidupan
sehari-hari yang mencerminkan upaya hidup sehat dalam memelihara kesehatan keluarga dengan TB Paru, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati secara langsung oleh pihak luar, meliputi kebersihan anggota keluarga, kebersihan makanan dan peralatan makan, kebiasaan olahraga, dan kebiasaan tidak merokok.
Kelentingan Keluarga adalah karakteristik, dimensi, dan sumber daya keluarga
dalam menghadapi perubahan dan adaptasi terhadap situasi krisis. Kelentingan keluarga diukur berdasarkan aspek kelentingan keluarga meliputi: family cohesion, family belief system, dan communication. Semakin tinggi skor yang diperoleh didalam skala, maka semakin lenting keluarga tersebut dan sebaliknya.
Tingkat Kecemasan adalah suatu persepsi tentang perasaan yang tidak
menyenangkan dan reaksi fisiologis, kecemasan dapat dikategorikan menjadi 4 yaitu: normal, ringan-sedang, berat, dan ekstrim.
Mekanisme Koping adalah usaha kognitif dan perilaku yang dibuat oleh
seseorang untuk mengorganisasikan tuntutan dari perbedaan harapan dan kenyataan. Mekanisme koping diukur dengan menggunakan skala berdasarkan jenisnya, yaitu: emotion focus coping dan problem focus coping.
Dukungan sosial adalah dukungan yang diperoleh dari hubungan interpersonal
yang mengacu pada kesenangan, ketenangan, bantuan bermanfaat, yang berupa informasi verbal maupun non verbal yang diterima seseorang dari orang lain atau kelompok lain yang membawa efek perilaku bagi penerimanya. Dukungan sosial ini diukur dengan menggunakan skala dukungan sosial yang dibuat berdasarkan jenis dukungan sosial meliputi: dukungan emosional, penghargaan, intrumental, dan informatif. Semakin tinggi skor yang diperoleh didalam skala, maka semakin tinggi dukungan yang diterima dan sebaliknya.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kondisi Geografis dan Demografi
Lokasi penelitian yaitu di Puskesmas Ciomas yang membawahi tiga desa di Kecamatan Ciomas, yaitu Desa Ciomas, Desa Ciomas Rahayu, dan Desa Pagelaran.
Desa Ciomas memiliki luas 26.660 m2. Total penduduk desa ini sebanyak 12.501 jiwa, terdiri dari 6442 orang laki-laki dan 6059 orang perempuan, dengan 2766 kepala keluarga laki-laki dan 308 kepala keluarga perempuan. Batas wilayah Desa Ciomas yaitu:
Utara : Jalan raya Ciomas/ Desa Ciomas Rahayu
Timur : Kota Bogor, Desa Mekar Jaya, dan Desa Parakan Selatan : Desa Pagelaran
Barat : Desa Mekar Jaya
Berdasarkan usia, persentase terbesar penduduk berada pada rentang usia 25-29 tahun, sebanyak 9,8% (Tabel 7).
Desa Ciomas Rahayu memiliki luas 88.450 Ha. Total penduduk desa ini sebanyak 12.643 jiwa, terdiri dari 6340 orang laki-laki dan 6303 orang perempuan, dengan 3695 kepala keluarga. Batas wilayah Desa Ciomas Rahayu yaitu:
Utara : Kota Bogor (Kecamatan Bogor Barat) Timur : Kota Bogor (Kecamatan Bogor Barat) Selatan : Desa Ciomas/Jalan raya Ciomas Barat : Kelurahan Padasuka/Desa Laladon
Berdasarkan usia, persentase terbesar penduduk berada pada rentang usia 0-4 tahun, sebanyak 14% (Tabel 7).
Desa Pagelaran memiliki penduduk sebanyak 12.807 jiwa, terdiri dari 6559 orang laki dan 6248 orang perempuan, dengan 2916 kepala keluarga laki-laki dan 258 kepala keluarga perempuan. Batas wilayah Desa Pagelaran yaitu: Utara : Desa Padasuka
Timur : Desa Ciomas
Selatan : Desa Pasir Eurih, Desa Parakan Barat : Desa Sukaresmi, Desa Sukamakmur
35
Berdasarkan usia, persentase terbesar penduduk berada pada rentang usia 5-9 tahun, sebanyak 12% (Tabel 7).
Berdasarkan Tabel 7, dapat diketahui bahwa penduduk Desa Ciomas terdiri dari balita (8,5%), anak usia sekolah (28%), usia produktif (53,1%), dan lansia (10,4%). Penduduk Desa Ciomas Rahayu terdiri dari balita (14%), anak usia sekolah (26%), usia produktif (54%), dan lansia (6%). Penduduk Desa Pagelaran terdiri dari balita (9%), anak usia sekolah (31%), usia produktif (55%), dan lansia (5%). Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk Desa Ciomas, Ciomas Rahayu, dan Pagelaran termasuk dalam usia produktif (20-54 tahun). Untuk lebih jelasnya tercantum dalam tabel di bawah ini.
Tabel 7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia
Desa Ciomas Desa Ciomas Rahayu Desa Pagelaran Usia
(tahun) Jumlah
(jiwa) Persentase (%) Jumlah (jiwa) Persentase (%) Jumlah (jiwa) Persentase (%)
0-4 1057 8,5 1764 14 1144 9 5-9 1170 9,4 1300 10 1482 12 10-14 1113 8,9 1004 8 1323 10 15-19 1214 9,7 1052 8 1136 9 20-24 1178 9,5 1011 8 1338 10,5 25-29 1220 9,8 1249 10 1249 10 30-34 1069 8,6 1382 11 1212 9,5 35-39 1048 8,4 1203 10 1159 9 40-44 831 6,7 891 7 894 7 45-49 614 4,9 621 5 617 5 50-54 645 5,2 416 3 514 4 55-59 353 2,8 332 3 301 2 60-64 344 2,8 164 1 396 3 65-69 305 2,4 191 1,5 - ->70 297 2,4 63 0,5 - -Jumlah 12458 100 12643 100 12765 100 Sumber: Data Monografi Desa Ciomas (2008), Ciomas Rahayu (2010), dan Pagelaran (2009)
Pendidikan
Tabel 8 menunjukkan tingkat pendidikan penduduk 3 desa lokasi penelitian. Hampir dua pertiga (61,6%) penduduk Desa Ciomas berpendidikan menengah. Lebih dari separuh (55,5%) penduduk Desa Ciomas Rahayu berpendidikan menengah. Lebih dari separuh (58,5%) penduduk Desa Pagelaran berpendidikan dasar. Namun persentase terbanyak pendidikan tinggi terdapat di Desa Ciomas Rahayu (23,5%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan penduduk yang terbaik yaitu Desa Ciomas Rahayu. Untuk lebih jelasnya tercantum dalam tabel di bawah ini.
Tabel 8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Desa Ciomas Desa Ciomas Rahayu Desa Pagelaran Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%) Jumlah (jiwa) Persentase (%) Jumlah (jiwa) Persentase (%) Tidak sekolah 60 4 - - 27 0,2 Pendidikan dasar (SD/sederajat) 439 29,6 1498 21 8204 58,5 Pendidikan menengah (SLTP dan SLTA/sederajat) 913 61,6 3964 55,5 4346 30,9 Pendidikan tinggi (Akademi, S1, S2, S3) 71 4,8 1652 23,5 1441 10,4 Jumlah 1483 100 7114 100 14018 100 Sumber: Data Monografi Desa Ciomas (2008), Ciomas Rahayu (2010), dan Pagelaran (2009)
Pekerjaan
Berdasarkan mata pencahariannya, hampir separuh (48%) masyarakat Desa Ciomas Rahayu bekerja sebagai karyawan atau di sektor swasta. Hampir separuh masyarakat Desa Pagelaran bekerja sebagai buruh atau di sektor jasa (47%). Untuk lebih jelasnya tercantum dalam tabel di bawah ini.
Tabel 9 Pekerjaan Penduduk Berdasarkan Usia Kerja
Desa Ciomas Rahayu Desa Pagelaran Jenis Pekerjaan Jumlah
(jiwa) Persentase (%) Jumlah (jiwa) Persentase (%) Petani dan Peternak 26 0,6 32 0,8 Pedagang/wiraswasta 557 12,6 634 15
Karyawan 2112 48 1132 26,7
PNS 931 21 448 10,5
Buruh 795 17,8 1998 47
Jumlah 4421 100 4244 100
Sumber: Data Monografi Desa Ciomas Rahayu (2010) dan Pagelaran (2009)
Karakteristik Contoh
Berdasarkan data hasil penelitian, di bawah ini merupakan karakteristik contoh penderita TB paru.
Tabel 10 Sebaran Karakteristik Contoh Penderita TB Paru
No Karakteristik n %
1 Jenis kelamin a. laki-laki
b. perempuan 3613 73,526,5
Jumlah 49 100
2 Status dalam keluarga a. Kepala keluarga
b. Istri 3811 77,622,4
37 3 Lama sakit a. < 1 tahun b. 1-5 tahun c. 6-10 tahun d. > 10 tahun 6 30 7 6 12,2 61,3 14,3 12,2 Jumlah 49 100 4 Lama pengobatan a. < 6 bulan b. 6-12 bulan c. 13-24 bulan d. > 24 bulan 11 28 8 2 22,4 57,1 16,4 4,1 Jumlah 49 100 5 Usia a. 19-29 tahun b. 30-49 tahun c. 50-69 tahun d. > 69 tahun 5 28 15 1 10,2 57,1 30,6 2,1 Jumlah 49 100 6 Tingkat pendidikan a. Tidak sekolah b. Tidak tamat SD c. SD/sederajat d. SMP/sederajat e. SMA/sederajat f. Diploma g. Sarjana 1 3 13 9 17 2 4 2 6,1 26,5 18,4 34,7 4,1 8,2 Jumlah 49 100 7 Pekerjaan a. Tidak Bekerja b. Pedagang c. Buruh d. PNS e. Wiraswasta f. Karyawan 12 5 12 6 8 6 24,5 10,2 24,5 12,2 16,4 12,2 Jumlah 49 100
Hampir tiga perempat contoh (73,5%) berjenis kelamin laki-laki, sisanya sebanyak 26,5% perempuan. Lebih dari tiga perempat contoh (77,6%) berstatus sebagai kepala keluarga, sisanya sebanyak 22,4% sebagai istri. Hampir dua pertiga contoh (61,3%) mengalami sakit selama 1-5 tahun. Lebih dari separuh contoh (57,1%) melakukan pengobatan TB Paru selama 6-12 bulan, bahkan sebanyak 22,4% contoh baru melakukan pengobatan <6 bulan. Hal ini dikarenakan ketidaksadaran dan sikap acuh penderita akan penyakit TB paru.
Lebih dari separuh contoh (57,1%) berusia 30-49 tahun, atau dengan kata lain lebih dari separuh contoh berusia dewasa madya (Hurlock 1993). Hampir dua pertiga contoh (61,2%) memiliki tingkat pendidikan SMA/sederajat dan SD/sederajat. Mata pencaharian kepala keluarga sangat berpengaruh terhadap ketahanan keluarga terutama status kesehatan keluarga (Sukarni 1994). Hampir separuh contoh (49%) memiliki pekerjaan sebagai buruh dan tidak bekerja.
Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga Besar Keluarga
Keluarga dengan kondisi krisis bergantung pada besar keluarga, semakin besar keluarga semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup. Besar keluarga akan mempengaruhi status kesehatan keluarga (Sukarni 1994).
Tabel 11 Sebaran Contoh Penderita TB Paru Berdasarkan Besar Keluarga
Besar Keluarga n % Kecil (< 4 orang) Sedang (5 – 7 orang) Besar (> 8 orang) 27 21 1 55 43 2 Total 49 100
Berdasarkan Tabel 11 menunjukkan bahwa lebih dari separuh keluarga contoh (55%) termasuk dalam keluarga kecil yaitu < 4 orang (Hurlock 1993). Sisanya, hampir separuh keluarga contoh (43%) termasuk keluarga sedang (4-8 orang).
Pendapatan Perkapita
Menurut BPS (2002), diacu dalam Shinta (2008), pendapatan rumah tangga atau keluarga adalah seluruh penghasilan atau penerimaan berupa uang dari seluruh anggota yang diperoleh berupa upah atau gaji, pendapatan dari usaha rumah tangga atau penerimaan lainnya. BPS Kota Bogor (2009) mengukur tingkat kemiskinan berdasarkan pendapatan perkapita. Batas keluarga miskin apabila pendapatan <Rp. 223.218,00/kapita/bulan.
Tabel 12 Sebaran Pendapatan Perkapita Perbulan Keluarga Penderita TB Paru
Pendapatan Perkapita (Rp) n % < 223.218
> 223.218 1435 2872
Total 49 100
Tabel 12 menunjukkan bahwa hampir tiga perempat keluarga contoh (72%) memiliki pendapatan perkapita di atas batas garis kemiskinan Kota Bogor atau dapat dikatakan sebesar 72 persen termasuk dalam kategori tidak miskin, sisanya 28 persen termasuk dalam kategori miskin. Adapun rata-rata pendapatan perkapita keluarga contoh secara keseluruhan yaitu Rp. 402.000,00 sehingga dapat dikatakan bahwa menurut pendapatan perkapita, rata-rata keluarga contoh tidak miskin.
39
Pengeluaran Keluarga
Berikut adalah gambaran jenis pengeluaran yang menjadi kebutuhan