Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2015 di
Workshop Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan untuk pembuatan kapal model dan kolam budidaya ikan Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, untuk eksperimen dengan perlakuan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Kapal model dengan dimensi utama: LOA x B x D = 130 cm x 30 cm x 20 cm (Gambar 2), kapal model dibuat berdasarkan lines plan pada Gambar 3.
Gambar 2 Kapal model
2. Palka model tanpa sirip peredam dan bersirip peredam (Gambar 4) 3. Kamera sebanyak 1 unit
4. Busur derajat
5. Alat pendeteksi kemiringan kapal 6. Waterpass
7. Stopwatch 8. Timbangan
5 Ga mbar 3 L ines plan ka pa l model
6
Gambar 4 Palka model Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: 1. Air dengan pewarna merah (Gambar 5)
7
Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer yang dimaksud merupakan data yang dikumpulkan secara langsung selama eksperimen. Adapun jenis data yang diambil saat eksperimen antara lain:
1. Data yang mendukung tujuan menentukan luasan sirip peredam untuk meredam efek free surface adalah:
Profil permukaan air saat terjadi rolling pada setiap perlakuan yang dilakukan
Waktu redam free surface, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh permukaan air untuk kembali tenang yang dihitung mulai saat palka diolengkan hingga kembali tegak.
2. Data yang mendukung pencapaian tujuan mengkaji pengaruh efek free surface terhadap gerakan rolling kapal pada setiap perlakuan adalah:
Sudut rolling pada setiap perlakuan;
Nilai rolling period kapal model pada setiap perlakuan;
Nilai frekuensi rolling kapal model pada setiap perlakuan; dan
Nilai waktu redam rolling (rolling duration) kapal model pada setiap perlakuan..
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen. Alur pengumpulan data disajikan pada Gambar 6.
8
9
Gambar 7 Penekanan sheer pada salah satu sisi kapal
Ilustrasi pemasangan peralatan untuk eksperimen disajikan pada Gambar 8. Luasan sirip peredam pada palka model yang digunakan sesuai dengan perlakuan luasan sirip peredam terhadap luasan free surface tersaji pada Tabel 1.
10
Tabel 1 Perlakuan luasan sirip peredam pada palka model
Perlakuan Luasan sirip peredam pada model palka Kode
perlakuan
1 Model palka tanpa sirip peredam P1
2 Model palka dengan luasan sirip peredam 10% dari luasan free surface
P2 3 Model palka dengan luasan sirip peredam 20%
dari luasan free surface
P3 4 Model palka dengan luasan sirip peredam 30%
dari luasan free surface
P4
Pengolahan Data
Pengolahan data untuk profil rolling motion kapal model seperti, profil
rolling, frekuensi rolling dan rolling duration didapatkan dari rekaman data pada alat pendeteksi kemiringan kapal dan rekaman kamera. Data profil rolling setiap perlakuan kemudian dibuat grafik, sedangkan data frekuensi rolling dan rolling duration ditabulasi untuk dianalisis kemudian. Data rolling period diperoleh dari
rolling duration dibagi dengan frekuensi rolling yang terjadi.
Pengolahan data untuk mendapatkan profil permukaan air di dalam palka yaitu dengan mengukur sudut yang terbentuk antara permukaan air saat terjadi oleng dengan garis horizontal pada palka. Ilustrasi penentuan sudut free surface
tersaji pada Gambar 9. Sedangkan untuk menentukan waktu redam diperoleh dari menghitung waktu yang dibutuhkan air untuk kembali tenang setelah palka pada posisi tegak.
11
Analisis Data
Analisis data untuk mendapatkan tujuan luasan minimum sirip peredam yang masih efektif untuk meredam efek free surface dilakukan dengan cara komparatif numerik terhadap sudut kemiringan free surface dan waktu redam free surface pada setiap perlakuan yang dilakukan, dan untuk memperkuat analisis dilakukan uji statistik untuk melihat pengaruh penggunaan sirip peredam terhadap kemiringan free surface dan waktu redam free surface. Kemudian analisis data untuk mendapatkan tujuan pengaruh efek free surface terhadap gerakan rolling
kapal pada setiap perlakuan dilakukan dengan cara komparatif numerik juga terhadap sudut kemiringan rolling, rolling duration, rolling period dan frekuensi
rolling pada setiap perlakuan yang dilakukan dan untuk memperkuat analisis dialkuakn uji statistik untuk melihat pengaruh penggunaan sirip peredam terhadap profil rolling motion setiap perlakuan. Uji statistik yang dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) (Steel and Torrie 1995), karena hanya menggunakan satu jenis muatan cair dengan beberapa perlakuan luasan sirip peredam pada palka. Uji statistik ini dilakukan untuk mengkaji adanya pengaruh pada perlakuan yang dilakukan yaitu perbedaan luasan sirip peredam yang digunakan. Rancangan percobaan yang digunakan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Rancangan percobaan
Ulangan ke- Perlakuan
P1 P2 P3 P4 1 Y1.1 Y2.1 2 Y1.2 3 4 5 6 7 8 9 10 Y4.10 Rataan
Model linear percobaan dapat dirumuskan sebagai berikut: Yij = μ + τi + εij , dimana i = 1,2, . . ., t dan j = 1,2, . . ., r
12
Keterangan:
Yij = Pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke-j μ = Rataan umum
τi = Pengaruh perlakuan ke-i
εij = Pengaruh acak pada perlakuan ke-i ulangan ke-j Hipotesis yang digunakan dalam analisis data adalah :
1. H0 = μA = μB = μC = μD, maka luasan sirip peredam yang berbeda tidak berpengaruh terhadap profil rolling motion dan profil permukaan air pada palka.
2. H0 ≠μA ≠μB≠μC ≠μD, maka luasan sirip peredam yang berbeda tidak berpengaruh terhadap profil rolling motion dan profil permukaan air pada palka
3 HASIL
Keragaan Kapal Model
Sebelum melakukan eksperimen pengambilan data dilakukan pengukuran berat kapal model dan palka model serta muatannya yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penimbangan kapal, berat kapal beserta palka tanpa muatan adalah 6.950 gram, sedangkan berat kapal yang telah diisi muatan cair yaitu sebesar 18.290 gram. Panjang pada garis air (Length of Waterline
(LWL)) dan tinggi sarat air (d) ketika kapal model tanpa muatan masing-masing sebesar 115 cm dan 8 cm, sedangkan panjang pada garis air (LWL) dan tinggi sarat air ketika kapal model berisi muatan masing-masing sebesar 123 cm dan 14 cm. Banyaknya volume air dalam palka yaitu sebesar ±50% dari ton displasemen kapal. Posisi pemasangan palka berada pada midship dari kapal model.
Titik berat kapal model secara longitudinal (LCG) dan titik berat kapal model secara vertikal (KG) masing-masing sebesar -7,5 cm dan 8 cm, sedangkan titik berat kapal model secara longitudinal (LCG) dan titik berat kapal model secara vertikal (KG) masing-masing sebesar -8,43 cm dan 6.45 cm. Nilai negatif pada nilai LCG berarti titik berat kapal model berada di belakang midship kapal
13
model. Untuk nilai KG diukur dari badan kapal model bagian bawah sampai titik gravitasi (G).
Profil Free Surface
Sudut kemiringan free surface
Sudut kemiringan free surface adalah sudut yang terbentuk oleh kemiringan permukaan muatan cair pada palka saat terjadi rolling dengan permukaan muatan cair pada palka saat kapal dalam kondisi tegak. Pada Gambar 10 disajikan profil pergerakan kemiringan free surface yang terjadi pada palka muatan cair pada setiap perlakuan
Gambar 10 Profil pergerakan free surface
Berdasarkan Gambar 10 pergerakan permukaan air pada perlakuan palka tanpa sirip peredam (P1) memiliki sudut kemiringan free surface yang paling besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu sebesar 13o. Adapun perlakuan palka dengan sirip peredam (P2, P3, P4) memiliki kemiringan free surface yang lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan palka tanpa sirip peredam (P1). Perlakuan P2 memiliki sudut kemiringan free surface sebesar 9o dan perlakuan P3 memiliki sudut kemiringan free surface sebesar 5o. Adapun perlakuan P4 memiliki nilai sudut kemiringan free surface yang paling kecil yaitu sebesar 4o. Adapun beberapa contoh profil kemiringan permukaan air (free
-20 -15 -10 -5 0 5 10 15 0 5 10 15 20 25 30 K em iring a n (dera ja t) Waktu (detik)
14
surface) yang terjadi saat kapal oleh disampaikan pada Gambar 11. Pada gambar tersebut terlihat bahwa profil kemiringan free surface pada palka setiap perlakuan memiliki profil kemiringan free surface yang berbeda. Profil kemiringan permukaan air pada palka dengan sirip peredam memiliki profil yang tidak terlalu miring jika dibandingkan dengan palka tanpa sirip peredam. Profil kemiringan
free surface yang paling kecil kemiringannya terjadi pada palka dengan sirip peredam 30%.
(a)
(b)
Gambar 11 Kemiringan permukan air
(a) Potongan melintang tampak belakang profil permukaan air di dalam palka model saat kapal model rolling ke kiri
0 2 4 6 8 10 12 14 16 0 5 10 15 20 25 K et ing g ia n a ir (cm )
Jarak dari sudut palka (cm)
Rata air Tanpa Sirdam Sirdam 10% Sirdam 20% Sirdam 30% 0 2 4 6 8 10 12 14 0 5 10 15 20 25 K et ing g ia n a ir (cm )
Jarak dari sudut palka (cm)
Rata air Tanpa Sirdam Sirdam 10% Sirdam 20% Sirdam 30%
15
(b) Potongan melintang tampak belakang profil permukaan air di dalam palka model saat kapal model rolling ke kanan
Waktu redam free surface
Waktu redam free surface adalah waktu yang dibutuhkan oleh permukaan air (free surface) dari awal permukaan air mengalami kemiringan hingga permukaan air tersebut kembali tenang. Berikut disajikan rata-rata waktu redam
free surface yang terjadi pada setiap perlakuan (Gambar 12).
Gambar 12 Waktu redam pergerakan free surface
Perlakuan palka tanpa sirip peredam (P1), memiliki waktu redam free surface yang paling besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya dengan rata-rata sebesar 25,525 detik. Adapun perlakuan P2 memiliki rata-rata-rata-rata waktu redam
free surface sebesar 12,215 detik, perlakuan P3 memiliki rata-rata waktu redam
free surface sebesar 7,747 detik dan perlakuan P4 memiliki waktu redam free surface yang paling kecil yaitu rata-rata sebesar 4,515 detik.
Profil Rolling Motion
Sudut kemiringan kapal model
Sudut kemiringan kapal model adalah sudut yang terbentuk dari kemiringan kapal model saat terjadi gerakan rolling terhadap posisi kapal model dalam keadaan tegak. Gambar 13 menyajikan perubahan sudut kemiringan dan lama
0 5 10 15 20 25 30 Perlakuan Wa k tu (det ik ) Tanpa Sirdam Sirdam 10% Sirdam 20% Sirdam 30%
16
waktu rolling yang terjadi pada kapal model ketika melakukan gerakan rolling
pada setiap perlakuan.
Gambar 13 Profil gerakan rolling
Kapal model dengan palka tanpa sirip peredam (P1) mengalami gerakan
rolling dengan sudut kemiringan yang paling besar jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yaitu sebesar 14,34°. Sedangkan perlakuan palka yang menggunakan sirip peredam sudut kemiringannya lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan palka tanpa sirip peredam. Perlakuan P2 memiliki sudut kemiringan sebesar 9,43° dan perlakuan P3 memiliki sudut kemiringan sebesar 7,05°, sedangkan perlakuan palka dengan sirip peredam yang memiliki sudut kemiringan yang paling kecil adalah perlakuan P4 yaitu sebesar 5,09°. Berdasarkan hasil penelitian penggunaan sirip peredam pada palka muatan cair cukup efektif dalam mengurangi sudut kemiringan kapal saat rolling.
Perbandingan sudut kemiringan free surface dengan sudut kemiringan gerakan rolling, walaupun besar sudutnya tidak terlalu berbeda secara signifikan namun terlihat adanya perbedaan diantaranya. Perbedaan tersebut disajikan pada Gambar 14. -20 -15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30 0 5 10 15 20 25 30 K em iring a n (dera ja t) Waktu (detik)
17
Gambar 14 Perbandingan profil rolling kapal dengan free surface
Pada gambar tersebut yang terlihat jelas adalah perbedaan arah kemiringan sudut antara sudut kemiringan free surface dengan sudut kemiringan rolling, arah kemiringan antara keduanya saling berlawanan. Ketika sisi rendah kapal di bagian kanan maka sisi rendah dari muatan cair ada di bagian kiri.
Rolling duration (waktu redam) kapal model
Rolling duration merupakan lamanya waktu yang dibutuhkan oleh model kapal untuk melakukan gerakan rolling dari awal terjadinya oleng hingga kapal model berhenti oleng atau tegak kembali. Berikut disajikan perbandingan rolling duration yang terjadi pada keempat perlakuan yang dilakukan (Gambar 15).
-30 -20 -10 0 10 20 30 0 10 20 30 Kem ir in g a n ( d e r a ja t) Waktu (detik) Tanpa Sirdam
Rolling Free Surface
-30 -20 -10 0 10 20 30 0 5 10 15 Kem ir in g a n ( d e r a ja t) Waktu (detik) Sirdam 10%
Rolling Free Surface
-40 -20 0 20 40 0 2 4 6 8 Kem ir in g a n ( d e r a ja t) Waktu (detik) Sirdam 20%
Rolling Free Surface
-40 -20 0 20 40 0 2 4 6 Kem ir in g a n ( d e r a ja t) Waktu (detik) Sirdam 30%
18
Gambar 15 Rolling duration kapal model
Kapal model dengan palka tanpa sirip peredam (P1) memiliki rolling duration yang paling tinggi yaitu rata-rata 25,843 detik. Adapun untuk Perlakuan P2 memiliki rolling duration rata-rata sebesar 8,767 detik, perlakuan P3 memiliki
rolling duration rata-rata sebesar 5,571 detik dan perlakuan P4 memiliki rolling duration yang paling kecil yaitu rata-rata sebesar 4,814 detik
Rolling period kapal model
Batthacharyya (1978) mendefinisikan rolling period adalah waktu yang dibutuhkan oleh kapal saat melakukan gerakan rolling untuk kembali pada kemiringan awalnya atau bias dikatakan waktu yang dibutuhkan kapal untuk melakukan 1 gerakan rolling. Gambar 16 menyajikan nilai rata-rata rolling period
kapal model pada keempat perlakuan. 0 5 10 15 20 25 30 Perlakuan Ro llin g Dura tio n ( det ik ) Tanpa Sirdam Sirdam 10% Sirdam 20% Sirdam 30%
19
Gambar 16 Rolling period kapal model
Kapal model dengan perlakuan palka tanpa sirip peredam (P1) memiliki
rolling period yang paling tinggi yaitu rata-rata 2,121 detik. Adapun untuk perlakuan P2 memiliki rolling period rata-rata sebesar 1,484 detik, perlakuan P3 memiliki rolling period rata-rata sebesar 1,475 detik dan perlakuan P4 memiliki
rolling period yang paling kecil yaitu rata-rata sebesar 1,275 detik.
Frekuensi rolling kapal model
Frekuensi rolling menurut Batthacharyya (1978) merupakan banyaknya gerakan oleng kapal dalam satu satuan waktu tertentu. Berikut disajikan rata-rata frekuensi rolling kapal model yang terjadi pada keempat perlakuan (Gambar 17).
0 0.5 1 1.5 2 2.5 Perlakuan Det ik Tanpa Sirdam Sirdam 10% Sirdam 20% Sirdam 30%
20
Gambar 17 Frekuensi rolling kapal model dalam waktu 1 detik
Frekuensi rolling pada perlakuan P1 hingga perlakuan P4 semakin besar. Perlakuan P1 memiliki frekuensi rolling yang paling rendah yaitu rata-rata 0,47 kali dalam 1 detik. Adapun frekuensi rolling untuk Perlakuan P2 yaitu rata-rata 0,675 kali dalam 1 detik, perlakuan P3 memiliki frekuensi rolling rata-rata 0,68 kali dalam 1 detik dan perlakuan P4 memiliki frekuensi rolling yaitu rata-rata 0,788 kali dalam 1 detik.
Berikut disajikan rekapitulasi data hasil pengamatan yang dibandingkan hasil analisis yang dilakukan (Tabel 3).
Tabel 3 Rakapitulasi data eksperimen hasil anailisis Parameter
Tanpa Sirdam Sirdam 10% Sirdam 20% Sirdam 30%
N R N R N R N R
Sudut Oleng (derajat) 14,43 IV 10,06 III 6,52 II 4,63 I
Rolling Duration (detik) 25,84 IV 8,77 III 5,57 II 4,81 I
Rolling Period (detik) 2,121 IV 1,484 III 1,476 II 1,275 I
Frekuensi Rolling (kali/detik) 0,473 IV 0,676 III 0,68 II 0,788 I Keterangan: N = Nilai R = Ranking 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 Perlakuan F re k uens i (k a li/d et ik ) Tanpa Sirdam Sirdam 10% Sirdam 20% Sirdam 30%
21
4 PEMBAHASAN
Besarnya sudut kemiringan free surface yang terjadi ketika kapal melakukan gerakan rolling mengindikasikan besarnya volume muatan cair yang dipindahkan pada sisi oleng kapal. Semakin besar sudut kemiringan free surface yang terjadi, maka luasan dinding palka yang terhempas oleh volume air yang dipindahkan akan semakin besar. Ilustrasi luasan dinding palka yang terhempas oleh volume air yang dipindahkan disajikan pada Gambar 18. Pada gambar tersebut terlihat bahwa luasan dinding palka yang terkena hempasan volume air yang dipindahkan ketika kapal oleng dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan free surface.
Gambar 18 Ilustrasi sudut kemiringan free surface terhadap dinding palka Adanya pergerakan muatan cair yang terjadi di dalam palka itu merupakan efek yang ditimbulkan oleh adanya free surface atau biasa dinamakan dengan efek
free surface. Efek free surface tersebut dapat mengakibatkan adanya sloshing. Menurut Lee et al (2005), sloshing adalah pergerakan massa air (free surface) yang membentur dinding palka ketika kapal oleng. Adanya efek free surface
tersebut dapat menurunkan stabilitas kapal dan meningkatkan resiko kapal tenggelam. Hal ini didukung oleh penelitian Sinaga (2015) yang menyatakan bahwa adanya sloshing yang terjadi pada muatan cair sangat mempengaruhi pada olah gerak kapal yang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penggunaan sirip peredam pada palka muatan cair dapat menurunkan efek free surface. Hal tersebut dibuktikan dengan lebih kecilnya sudut kemiringan free
22
surface yang terjadi pada palka yang dilengkapi sirip peredam dibandingkan dengan palka tanpa sirip peredam. Palka dengan sirip peredam 10% (P2) dapat mereduksi kemiringan free surface sebesar 30,77% dibandingkan palka tanpa sirip peredam. Palka dengan sirip peredam 20% (P3) dapat mereduksi kemiringan free surface sebesar 61,54% dibandingkan palka tanpa sirip peredam dan palka dengan sirip peredam 30% (P4) dapat mereduksi kemiringan free surface sebesar 69,23% dibandingkan palka tanpa sirip peredam. Fenomena ini terjadi disebabkan pada saat gerakaln rolling terjadi, free surface pada palka tanpa sirip peredam bergerak atau mengalir dengan bebas ke arah kemiringan palka sampai kondisi free surface
tersebut kembali rata.
Berbeda dengan yang terjadi pada palka yang dilengkapi sirip peredam. Pada palka dengan sirip peredam, saat terjadi rolling, free surface juga bergerak ke arah kemiringan palka, tetapi sebelum kondisi free surface rata, sirip peredam yang dipasang pada dinding palka menghambat aliran free surface tersebut. Pada saat aliran free surface tersebut mengenai sirip peredam, maka akan ada sebagian aliran free surface tersebut tertahan oleh sirip peredam. Triatmodjo (1999) mengemukakan bahwa apabila gelombang mengenai dinding pembatas, maka akan terjadi refleksi gelombang. Dinding pembatas yang vertikal terhadap kedatangan gelombang dan tidak permeabel, akan memantulkan sebagian besar energi gelombang. Oleh karena itu tinggi gelombang yang dipantulkan sama dengan tinggi gelombang datang. Demikian pula lah yang terjadi pada aliran free surface di dalam palka yang dilengkapi dengan sirip peredam. Adanya refleksi aliran free surface yang tekanannya sama besar dengan tekanan aliran free surface
yang mengenai sirip peredam akan tetapi berlawanan arah, mengakibatkan tertahannya aliran free surface yang berada dibelakangnya. Sehingga timbulah turbulensi yang pada akhirnya menghambat gerakan aliran free surface. Apabila luas penampang sirip peredam sebanding dengan luas aliran free surface yang mengenainya, maka aliran free surface tidak melewati sirip peredam. Berbeda halnya jika luas sirip peredam lebih kecil dibandingkan dengan luas aliran free surface yang mengenainya, walaupun terjadi refleksi aliran free surface, sebagian aliran free surface yang tidak mengenai sirip peredam akan melewati sirip peredam tersebut. Hal tersebut terbukti pada hasil penelitian ini, dilihat pada
23
Gambar 11, dimana pada gambar tersebut terlihat bahwa pada perlakuan palka dengan sirip peredam 10% masih ada masa air yg melewati sirip peredamnya. Namun berbeda dengan perlakuan palka dengan sirip peredam 30% tidak ada masa air yang melewati sirip peredam atau massa air tertahan oleh sirip peredam. Akan tetapi dapat dipastikan bahwa volume aliran free surface yang melewati sirip peredam tersebut jauh lebih sedikit dan dengan tekanan yang telah berkurang. Fenomena inilah yang diduga menjadi penyebab lebih kecilnya sudut kemiringan permukaan air pada palka yang dilengkapi dengan sirip peredam dibandingkan pada palka yang tidak dilengkapi dengan sirip peredam saat terjadi gerakan rolling.
Waktu redam free surface adalah waktu yang dibutuhkan free surface dari awal permukaan air bergerak hingga permukaan air tersebut rata kembali. Waktu redam ini dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan free surface. Semakin besar sudut kemiringan free surface-nya maka waktu redamnya akan semakin besar pula. Hal ini dikarenakan jika sudut kemiringan free surface semakin besar maka permukaan air membutuhkan waktu yang lebih lama pula untuk kembali ke posisi awal. Penggunaan sirip peredam pada palka juga mempengaruhi lamanya waktu redam yang terjadi. Palka dengan sirip peredam akan memiliki waktu redam yang lebih kecil dibandingkan dengan palka tanpa sirip peredam. Hal ini dikarenakan permukaan air yang bergerak akibat gerakan rolling kapal akan tertahan oleh sirip peredam yang dipasang di dalam palka. Sehingga permukaan air tersebut akan lebih cepat kembali ke posisi semula. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian dimana waktu redam pada perlakuan palka tanpa sirip peredam lebih besar dibandingkan dengan perlakuan palka dengan sirip peredam. Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan penggunaan sirip peredam pada palka muatan cair dapat menurunkan waktu redam free surface yang terjadi jika dibandingkan dengan palka tanpa sirip peredam. Perlakuan palka dengan sirip peredam 10% (P2) dapat menurunkan waktu redam free surface sebesar 52,14% dibandingkan dengan perlakuan palka tanpa sirip peredam, perlakuan palka dengan sirip peredam 20% (P3) dapat menurunkan waktu redam free surface
sebesar 69,65% dibandingkan dengan perlakuan palka tanpa sirip peredam, sedangkan perlakuan palka dengan sirip peredam 30% (P4) dapat menurunkan
24
waktu redam free surface sebesar 82,31% dibandingkan dengan perlakuan tanpa sirip peredam. Berdasarkan uji statistik terhadap waktu redam free surface antara palka tanpa sirip peredam vs palka dengan sirip peredam 10% menunjukkan bahwa nilai Fhit > Ftab atau nilai P-Value < 0,05 , begitu juga hasil uji statistik antara palka tanpa sirip peredam vs palka dengan sirip peredam 20% dan palka tanpa sirip peredam vs palka dengan sirip peredam 30% menunjukkan bahwa nilai Fhit > Ftab atau nilai P-Value < 0,05 (Lampiran 1). Kondisi ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan waktu redam free surface antara palka tanpa sirip peredam dengan palka yang menggunakan sirip peredam. Hal ini berarti penggunaan sirip peredam pada palka bermuatan cair memberikan pengaruh yang nyata terhadap perbedaan waktu redam free surface.
Sudut kemiringan oleng kapal semakin mengecil seiring bertambahnya waktu, dikarenakan ada daya redam pada gerakan rolling. Daya redam tersebut terjadi disebabkan berkurangnya energi gerakan rolling akibat terserap oleh resistensi air (Bhattacharyya 1978). Selain itu, penggunaan sirip peredam pada palka juga dapat menurunkan sudut kemiringan oleng kapal model. Penggunaan sirip peredam dapat memperkecil efek free surface pada palka. Dimana efek free surface yang terjadi pada palka bermuatan cair, yaitu adanya pergerakan massa air ketika kapal oleng mempengaruhi sudut kemiringan kapal model. Dimana pergerakan massa air tersebut yang dinamakan sloshing. Adanya massa air yang