• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan tata cara terhadap bagaimana suatu penelitian akan dilaksanakan yang pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mengumpulkan suatu data dengan tujuan tertentu, yang dimana penelitian tersebut didasarkan pada ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Metode penelitian ini dapat juga didefinisikan sebagai suatu cara

12

yang digunakan peneliti dalam menunjang dan mengumpulkan penelitiannya.12

Penerapan metode penelitian ini sangat menentukan sebagai upaya menghimpun data yang dipelukan dalam proses penelitian. Metode penelitian ini akan memberikan petunjuk terhadap pelaksanaan penelitian, atau petunjuk terhadap bagaimana pelaksanaan penelitian tersebut dilaksankan, hal apa yang perlu dan harus digunakan dalam memperoleh data tersebut, dimana memperolehnya dan lain-lain.13

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Bog dan Taylor menjelaskan bahwa penelitian kualitatif sebagai salah satu prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati.14 Pendekatan kualitatif diharap mampu dalam menghasilkan uraian yang mendalam mengenai ucapan, tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari individu, kelompok, masyarakat, dan organisasi tertentu dalam suatu keadaan yang dikaji dari sudut pandang utuh.

Penelitian kualitatif dilaksanakan untuk membangun pengetahuan melalui pemahaman dan penemuan. Pendekatan penelitan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metode yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada penelitian ini peneliti membuat gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden dan melakukan studi pada situasi alami.15

Steven Dukeshire & Jennifer Thurlow (2002). Menyatakan bahwa metode kualitatif sebagai, “Qualitative research involves the use of non-numerical data and often entails the collection and analysis of narrative

12 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2002), hlm.155

13 Nana Sudjana, Penelitian dan Pendidikan, (Bandung: Percetakan Sinar Baru Algesindo, 2001), hlm.16

14 Jusuf Soewadi, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: Mitra Wacana Media), 2012, hlm. 51

15 Iskandar, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta: Gaung Persada, 2009) cet.1 hlm.

11

13

data. Qualitative research methods are particularly useful for gaining rich, in depth information concerning an issue or problem as well as generating solutions. Examples of qualitative research methods include focus groups (where selected individuals participate in an discussion on pre-specified topics), in-depth interviews, and participant observation (where the researche acts as both participant and observer in gathering information concerning an ongoing process).” Penelitian kualitatif ini berkenaan dengan data yang bukan berupa angka, mengumpulkan dan menganalisis data yang bersifat naratif. Metode penelitian kualitatif ini digunakan guna memperoleh data yang kaya dan berfariasi, berupa informasi yang mendalam mengenai isu maupun masalah yang akan diungkap.metode penelitian kualitatif menggunakan focus group, interview secara mendalam, dan observasi berperan serta dalam pengumpulan data.16

Penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.

Deskriptif merupakan suatu pendekatan dalam meneliti status suatu kelompok manusia, obyek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran maupun peristiwa pada masa sekarang.17

Pendekatan kualitatif diharap mampu menghasilkan uraian mendalam mengenai ucapan, tulisan, atau organisasi tertentu dalam suatu keadaan yang dikaji dari sudut pandang utuh. Pendekatan kualitatif bertujuan untuk memahami suatu fenomena atau gejala sosial dengan lebih benar dan lebih objektif, dengan cara mendapatkan gambaran yang lengkap tentang suatu fenomena yang dikaji. Penelitian kualitatif tidak untuk mencari hubungan atau pengaruh antara variable-variabel, akan tetapi untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap suatu fenomena, sehingga akan dapat diperoleh teori.18

16 Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: ALFABETA, 2020) hlm.3

17Lexy Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm.3

18 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Yogyakarta:

Rineka Cipta), hlm 102

14

Pendekatan deskripif kualitatif dapat difahami sebagai suatu pendekatan yang menggambarkan atau mendeskripsikan suatu fenomena yang terjadi dengan kata-kata atau kalimat. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto bahwa penelitian deskriptif kualitatif merupakan suatu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau mendeskripsikan suatu subjek atau objek panel (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain sebagainya) yang terjadi pada masa sekarang berdasarkan fakta-fakta dari objek penelitian.19

Penelitian kualitatif disini digunakan peneliti dalam mendukung penelitiannya, yaitu dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dimana dalam penelitian ini mendeskripsikan atau menggambarkan tentang suatu fenomena yang akan diteliti berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari objek penelitian. Sehingga dalam penelitian kualitatif dapat diperoleh uraian mendalam mengenai ucapan, tulisan, maupun organisasi dalam suatu keadaan yang dapat dikaji secara utuh.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah StudiKasus (Case Study). Creswell mendefinisikan studi kasus sebagai suatu eksplorasi dari sistem-sistem yang terkait (bounded system) atau kasus. Suatu kasus menarik untuk diteliti karena corak khas kasus tersebut yang memiliki arti pada orang lain, minimal bagi peneliti. Patton (2002) menambahkan bahwa studi kasus adalah studi tentang kekhususan dan kompleksitas suatu kasus tunggal dan berusaha untuk mengerti kasus tersebut dalam konteks, situasi dan waktu tertentu. Dengan metode ini peneliti diharapkan menangkap kompleksitas kasus tersebut. Kasus itu haruslah tunggal dan khusus. Ditambahkannya juga bahwa studi ini dilakukan karena kasus tersebut begitu unik, penting dan bermanfaat bagi pembaca dan masyarakat pada umumnya. Dengan memahami kasus itu secara

19Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI- Press, 1999), hlm.23

15

mendalam maka peneliti akan menangkap arti penting bagi kepentingan masyarakat, organisasi atau komunitas tertentu.20

2. Sumber dan Jenis Data

Sumber data yang dihasilkan dalam penelitian ini berasal dari Lembaga Bantuan Hukum RUPADI Semarang mengenai implementasi cyber counseling di masa pandemic COVID19. Sumber data ini merupakan subjek dari mana data tersebut diperoleh.21 Sumber data ini dibagi menjadi dua yaitu terdiri dari sumber data primer dan sumber data skunder. Sumber data primer merupakan sumber data yang dapat memberikan dan menghasilkan data penelitian secara langsung.22 Dalam penelitian ini sumber data primer terdiri dari ketua koordinator dan anggota konselor LBH Rupadi. Data primer ini merupakan data yang diperoleh secara langsung dari objek yang akan diteliti.23 Data primer dalam penelitian ini berupa hasil wawancara terhadap objek penelitian guna mengetahui bagaimana implementasi cyber counseling di masa pandemic COVID19 yang dilaksanakan oleh LBH Rupadi.

Terdapat sumber data skunder dalam penelitian ini yang merupakan sumber data yang diperoleh selain dari objek penelitian.24 Sumber data skunder dalam penelitian ini merujuk terhadap buku, jurnal, modul, arsip-arsip, atau dokumen yang berkaitan dengan cyber counseling di masa pandemi, dan bimbingan konseling islam. Data skunder ini dapat diperoleh dari sumber yang tidak langsung yang biasanya berupa data-data dokumentasi dan arsip-arsip resmi. Data skunder dalam penelitian ini dapat berupa foto-foto saat dalam pelaksanaan cybercounseling dan gambaran umum dari LBH Rupadi.

20 J. R. Raco, Metode Penelitian Kulitatif Jenis, Karakteristik, dan Keunggulannya, (Jakarta: PT Grasindo, 2010), Hlm. 49

21 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Yogyakarta:

Rineka Cipta), hlm.102

22 Joko P. Subagyo, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta), 1996, hlm.87

23 Bagong Suyanto dan Sutinah, Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan, (Jakarta: Prenada Media), 2011, hlm.55

24 Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2014, hlm.51

16 3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada dasarnya sebagai suatu kegiatan operasional supaya pelaksanaannya dapat masuk pada pengertian penelitian yang sebenarnya. Pencarian data di lapangan dapat dilaksanakan dengan menggunakan alat pengumpulan data yang telah disediakan baik secara tertulis maupun tanpa menggunakan alat, yang berupa angan-angan suatu hal terhadap apa yang akan dicari di lapangan, hal tersebut sudah termasuk dalam proses pengadaan data primer.

Teknik yang digunakan peneliti dalam penelitian ini yaitu teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.

a) Observasi

Nasution (1988) menyatakan bahwa observasi merupakan dasar semua ilmu pengetahuan. Di mana para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai sesuatu yang akan diperoleh melalui observasi. Adapun observasi dalam penelitian ini yaitu menggunakan observasi partisipasi pasif “means the research is present at the scene of action but does not interact or participate”, jadi di sini peneliti datang di tempat kegiatan, akan tetapi peneliti tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.25

b) Wawancara

Wawancara sendiri merupakan sebuah percakapan antara dua orang maupun lebih, yang dimana peneliti dapat mengajukan pertanyaan terhadap subjek maupun sekelompok subjek penelitian untuk dijawab. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Lexi bahwasannya wawancara merupakan percakapan yang didasarkan dengan maksud tertentu.26

Wawancara yang digunakan disini yaitu berupa wawancara semi struktur (Semistructure Interview), jenis wawancara ini termasuk

25 Sugiyono, METODE PENELITIAN Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung:ALFABETA, 2017), hlm.226-227

26 Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2002), hlm. 186

17

kedalam kategori in-depth interview, di mana dalam pelaksanaannya lebih bebas apabila dibandingkan dengan wawancara terstruktur.

Adapun tujuan dari wawancara semistruktur ini yaitu guna menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara dimintai pendapat dan ide-idenya.27 Di sini pihak yang diwawancarai yaitu Asisten Non Litigasi, Konselor, dan Klien.

c) Dokumentasi

Dokumentasi dapat dijelaskan sebagai barang-barang tertulis, seperti buku, majalah, maupun dokumen.28 Dokumen di sini merupakan sebuah catatan peristiwa di mana dokumen ini dapat berupa tulisan, gambar, maupun karya-karya monumental dari sesorang. Studi dokumen ini sebagai pelengkap dalam penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.29

4. Teknik Keabsahan Data

Berdasarkan pernyataan Sugiono dalam penelitian kualitatif data dapat dinyatakan valid apabila tidak adanya perbedaan terhadap apa yang dilaporkan peneliti dengan hal yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.30 Keabsahan yang dimaksud dalam hal ini untuk memperoleh tingkat kepercayaan yang berkaitan mengenai seberapa jauh keberhasilan dalam hasil penelitian, mengungkap, serta memperjelas fakta yang berada di lapangan.

Peneliti ini menggunakan metode triangulasi. Adapun triangulasi dalam penelitian ini yaitu menggunakan triangulasi sumber, yang dimaksud dengan triangulasi sumber disini yaitu mendapatkan data dari

27 Sugiyono, METODE PENELITIAN KUALITATIF, (Bandung: Alfabeta, 2020), hlm.115-116

28 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 135

29 Sugiyono, METODE PENELITIAN Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung:ALFABETA, 2017), hlm.240

30 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan kombinasi (Mixed Methods),(

Bandung: ALFABETA), hlm. 326

18

sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.31 Metode ini merupakan pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data sebagai pembanding dan sebagai keperluan untuk pengecekan data. Teknik Triangulasi yang digunakan ini berupa pemeriksaan melalui berbagai sumber lainnya (cross check). Cross check merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan sesuatu yang lainnya guna membandingkan hasil wawancara dengan objek yang diteliti apakah sesuai atau tidak.32 Peneliti dapat mendapatkan data secara akurat maka perlu diadakannya cross check terhadap situasi lapangan yang dijabarkan dengan membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara.

Selanjutnya Mathinson (1988) menyatakan bahwa,“the value of triangulation lies in providing evidence whether convergent, inconsistent, or contradictory”. Nilai dari teknik pengumpulan data menggunakan triangulasi yaitu untuk mengetahui data yang diperoleh meluas (convergent), tidak konsisten atau kontradiksi. Oleh karena itu, dengan menggunakan teknik triangulasi ini dalam pengumpulan data, maka data yang akan diperoleh akan lebih konsisten, tuntas, dan pasti. Dengan triangulasi juga akan lebih meningkatkan kekuatan data, apabila dibandingkan dengan satu pendekatan saja.33

Peneliti menggunakan metode triangulasi dalam penelitian ini berupa tringulasi sumber dengan menggunakan teknik triangulasi berupa crosscheck guna mendapatkan data secara akurat terhadap situasi dilapangan. Teknik ini dilakukan dengan membandingkan data yang telah diperoleh peneliti berdasarkan dari hasil wawancara.

31 Sugiyono, METODE PENELITIAN KUALITATIF, (Bandung: Alfabeta, 2020),Hlm. 125

32 Lexy J Moleong, metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2002), hlm.330

33 Sugiyono, METODE PENELITIAN KUALITATIF, (Bandung: Alfabeta, 2020), hlm. 127

19 5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis lapangan, Milles dan Huberman berpendapat bahwa analisis lapangan ini sebagai analisis data dalam penelitian kualitatif yang dilaksanakan ketika pengumpulan data berlangsung dan dilaksanakan setelah pengumpulan data dalam periode tertentu. Adapun tahapannya sebagai berikut:

a) Reduksi Data

Ketika melaksanakan analisis lapangan maka akan diperoleh data yang jumlahnya cukup banyak, maka dari itu harus dicatat secara rinci dan teliti. Apabila peneliti semakin lama meneliti di lapangan maka jumlah datapun akan semakin banyak, kompleks dan rumit.

Maka dari itu perlu adanya analisis melalui reduksi data. Dalam artian lain reduksi data ini seperti halnya merangkum, memilih pokok-pokok dari hasil analisis, serta lebih memfokuskan terhadap hal-hal yang inti dan penting dari tema yang diteliti.

b) Penyajian Data

Penyajian data ini sebagai penyusunan informasi yang kompleks lalu diubah ke dalam suatu bentuk yang sistematis, sehingga dapat lebih selektif dan sederhana, serta memungkinkan dalam penarikan kesimpulan data dan pengambilan tindakan.

c) Verifikasi dan Penarikan Kesimpulan

Tahapan ini termasuk yang terakhir, tahap ini dilakukan penetapan makna dan inti dari data yang telah tersedia. Penelitian diharapkan mampu menjelaskan rumusan penelitian dengan lebih jelas mengenai Implementasi Cyber Counseling di Masa Pandemi COVID19 yang dilaksanakan oleh LBH Rupadi.

20 G. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah gambaran dan pemahaman yang sistematis, maka penulisan dalam skripsi ini terdiri dari lima bagian, sebagai berikut:

BAB I, Pendahuluan, Bab ini memuat tentang keseluruhan dari penelitian ini yaitu meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II, merupakan landasan teori yang terdiri dari 2 sub bab, yang pertama yaitu cyber counseling di masa pandemic yang di dalamnya terdiri dari pengertian cyber counseling dan tahap-tahap cyber counseling, yang kedua yaitu bimbingan konseling Islam yang di dalamnya terdiri dari pengertian bimbingan, pengertian konseling, pengerian bimbingan konseling Islam, dan fungsi bimbingan konseling Islam.

BAB III, dalam bab ini merupakan gambaran umum terhadap objek dan hasil dari penelitian. Gambaran umum berisi tentang gambaran objek penelitian yang terdiri dari profil LBH RUPADI Semarang. Hasil penelitian berisi pelaksanaan cyber counseling di masa pandemic yang dilaksanakan oleh LBH RUPADI Semarang.

BAB IV, bab ini merupakan pembahasan dari analisis hasil penelitian, yang terdiri dari analisis implementasi cyber counseling di masa pandemic COVID19 yang dilaksanakan oleh LBH RUADI, dan analisis fungsi bimbingan dan konseling Islam terhadap pelaksanaan cyber counseling yang dilaksanakan oleh LBH RUPADI di masa pandemic COVID19.

BAB V, Penutup, dalam bab ini meliputi simpulan, saran-saran, dan penutup

21 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Cyber Counseling Pada Masa Pandemi

Pandemi COVID-19 yang telah melanda berbagai dunia ini menimbulkan beberapa dampak permasalahan yang bisa saja menghambat kegiatan sehari-hari. Dengan penularan yang sangat mudah, COVID-19 ini memiliki penyebaran yang sangat luas dan cepat terhadap seseorang. Berbagai cara telah dilakukan dalam melakukan pencegahan penyebaran COVID-19 ini semakin meluas yaitu dengan penerapan social distancing dan self-quarantine.

Perlu diketahui bahwa self-quarantine merupakan imbauan dari pemerintah maupun otoritas daerah setempat dengan memberikan himbauan kepada masyarakat untuk tetap berdiam diri di rumah sebagai upaya dalam mencegah penyebar luasan COVID-19. Himbauan tersebut berupa pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dari rumah, seperti bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, dan lain sebagainya.

Masih banyak masyarakat yang masih belum mengetahui situasi yang terjadi saat ini, dengan adanya self-quarantine ini di manfaatkan sebagai peluang untuk liburan, bahkan beberapa ada yang melakukan perjalanan luar kota untuk liburan, berkumpul keluarga maupun berkumpul dengan teman-teman. Disisi ekstream lainnya terdapat beberapa masyarakat yang mengalami panic-buying dalam menghadapi self-quarantine, seperti memborong masker, disinfektan, handsanitizer, dan bahan-bahan pokok dengan berlebihan sehingga mengakibatkan barang-barang tersebut mengalami kelangkaan.34

Adanya berbagai perubahan situasi akibat dampak dari COVID-19 itu sendiri mengakibatkan masyarakat mau tidak mau harus beradaptasi dengan situasi yang ada. Hal yang demikianpun tak jarang dapat mempengaruhi pada kondisi kesehatan masyarakat. Seperti halnya masyarakat memiliki kerentanan

34 Didik Haryadi Santoso dan Awan Santosa, COVID-19 DALAM RAGAM TINJAUAN PERSPEKTIF, (D.I.Yogyakarta: MBridge Press,2020), hlm. 361-362

22

fisiologis untuk tertular covid-19, disisi lain masyarakat dihadapkan dengan kerentanan psikologis yang erat kaitannya dengan terjadinya penurunan kesehatan mental. Kemenkes RI (2018) mengemukakan bahwa penurunan kesehatan mental adalah munculnya berbagai reaksi psikologis yang ditandai dengan terganggunya suasana hati, terganggunya kemampuan berfikir, yang pada akhirnya dapat mengarahkan terhadap perilaku yang kurang adaptif.

Seimun (2006) mengemukakan bahwa pada umumnya permasalahan kesehatan mental yang terjadi berupa stress, cemas, dan depresi. American Psychiatric Association (2014) menggambarkan stress sebagai perasan kewalahan, khawatir, kehancuran, tekanan, kelelahan, dan kelesuan yang dapat mempengaruhi seseorang yang tak pandang usia, jenis kelamin, ras, dan situasi yang berakibat tehadap kesehatan fisik maupun psikologis.35

Selain hal tersebut dampak COVID-19 juga merambah terhadap terhalanginya kegiatan keagaamaan, seperti halnya pada umat islam.

Pembatasan sholat berjamaah dilakukan dalam upaya pencegahan COVID19 dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya seperti kegiatan dakwah yang melibatkan masyarakat luaspun dibatasi, sehingga para da’i dituntut mampu menghadapi tantangan zaman ini. Perubahan kondisi masyarakat yang terjadi saat ini bukan berarti juga harus cuti dari tugas dakwah. Dakwah yang berlandaskan dengan azaz kebaikan dan keramahtamahan tetap harus berjalan meskipun dengan strategi dan cara yang berbeda dari sebelumnya.36

Dimasa seperti ini masyarakat pasti membutuhkan layanan konseling untuk mengatasi berbagai problem-problem yang dirasakan di masa sulit seperti pandemic COVID- 19 ini, diikuti juga dengan peraturan pemerintah untuk membatasi konak sosial secara langsung. Layanan konseling di masa pandemic saat ini menjadi tantangan bagi para konselor. Dengan berbagai kebijakan yang telah di terapkan pemerintah untuk membatasi aktivitas di luar

35 Didik Haryadi Santoso dan Awan Santosa, COVID-19 DALAM RAGAM TINJAUAN PERSPEKTIF, (D.I.Yogyakarta: MBridge Press,2020), hlm.162

36 Abdul Ghofur, konstruksi Sosial Keagamaan Masyarakat Pada Masa Pandemi Covid-19, Instiut Agama Islam Syarifudin Lumajang, Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, Volume 6,Nomor2,Agustus 2020, hlm286

23

dan menghindari kerumunan dengan ini para konselor diharapkan untuk tetap eksis di masa seperti ini. Pemberian layanan dialihkan dengan menggunakan digitalisasi, semuanya dilaksanakan secara online dengan penguasaan teknologi saat ini, layanan bimbingan ini dapat dilaksanakan melalui cyber counseling.37

1. Pengertian Cyber Counseling

Cyber Counseling disebut juga sebagai e counseling, online counseling, atau online therapy), yang didefinisikan sebagai penyediaan konseling profesional melalui komunikasi elektronik, layanan konseling ini merupakan salah stu model pelayanan konseling yang praktis dan inovatif yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.38

Cyber Counseling adalah “the provision of professional mental health counseling services concerns via the internet. Service are typically offered via email, real-time chat, and video conferencing”.39 Dapat didefinisikan dari pengertian tersebut cyber counseling adalah penyediaan layanan konseling kesehatan mental secara professional melalui internet.

Layanan cyber counseling ini biasanya ditawarkan melalui email, obrolan real time, dan konferensi video.

Cyber Counseling memiliki pengertian sebagai salah satu teknik dalam bimbingan dan konseling yang didalamnya menggunakan koneksi internet. Internet (interconnected network) merupakan suatu kumpulan jaringan-jaringan computer (network) sedunia yang saling berhubungan satu dengan yang lain.40

Corey (2013) mendeskripsikan layanan cyber counseling sebagai suatu proses pemberian bantuan psikologis oleh konselor yang

37 Elia Frida dan Jihan Fairuz Atikah, LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DITENGAH PANDEMI COVID19, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Prosiding Seminar & Lokakarya Nasional Bimbingan dan Konseling 2020, Hlm. 494

38H. Sutirna, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta: CV. Andi Offset), 2013, Hlm. 47

39 Mallen, MichaelJ., David L.Vogel, “Introduction to the Major Contribution Counseling Psychology an Online Counseling”, The Counseling Psychologist (November, 2005), hlm.761

40 Y. Maryono dan B. Patmi Istiana, Teknologi Informasi dan Komunikasi (Quadra,2008), hlm.3

24

professional kepada konseli yang memiliki permasalahan yang dimana konseli tersebut tidak dapat menyelesaikan maslahanya sendiri.

Menurut Prasetyo dan Djunaidi (2015) mengemukakan bahwa Cyber counseling dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu bersifat non interaktif dan interaktif. Non interaktif dapat berupa situs yang berisi informasi dan narasumber self help (pertolongan mandiri). Sedangkan yang interaktif synchronous merupakan pelayanan konseling secara langsung seperti chat atau instant messaging, dan video conference.

Interaktif asycronous yang secara tidak langsung dapat berupa email therapy dan bulletin boards konseling interaktif, konseling yang memiliki jenis interaktif merupakan situs yang menawarkan alternative dalam bentuk terapi melalui internet, dimana didalamnya memiliki interaksi antara konseli dan konselor baik secara langsung maupun tidak langsung.41

Pelaksanaan Cyber Counseling ini sistem informasi dan teknologi informasi memeliki keterlibatan penting. Teknologi ini berperan dalam memudahkan seseorang untuk membuat, mengubah, menyimpan, mengkomunikasikan, dan sebagai media dalam penyebaran informasi.

Di dalam Cyber Counseling ini sendiri yang jika di implementasikan ke dalam sistem informasi dan teknologi informasi melibatkan beberapa komponen yaitu sebagai berikut:

a. Computer Hardware

b. Software yang di dalamnya berisikan sistem operasi jaringan, data base, apikasi program dan lain sebagainya

c. Sumber daya personil, disini yang dimaksudkan yaitu orang yang

c. Sumber daya personil, disini yang dimaksudkan yaitu orang yang