Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data Input Output (I-O) Kalimantan Barat tahun 2010, Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan data ekonomi makro Kalimantan Barat. Data yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat dan Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan.
Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk mendapatkan gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat dengan cara membaca tabel dan gambar secara sederhana. Analisis deskriptif dalam penelitian ini berupa struktur dan dinamika perekonomian berupa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut sektor ekonomi dan penggunaan, pengangguran, dan distribusi pendapatan. Sedangkan karakteristik penduduk miskin di Kalimantan Barat dibedakan menurut jenis pendidikan dan status pekerjaan.
Analisis Input Output
Alat analisis makroekonomi yang dapat digunakan untuk meneliti struktur ekonomi dan hubungannya dengan distribusi pendapatan dapat berupa analisis Econometric, Input Output (I-O), Social Accounting Matrix (SAM), dan Computable General Equilibrium (CGE). Berbagai alat analisis memiliki kelebihan dan kekurangan. Penggunaan alat analisis yang tepat diperlukan untuk mencapai tujuan dari penelitian. Selain itu ketersediaan data pada tingkat regional provinsi di Kalimantan Barat juga menjadi salah satu pertimbangan pemilihan alat analisis.
Alat analisis yang digunakan untuk mencapai tujuan dari penelitian adalah analisis Input Output yang dikembangkan oleh Miyazawa (1968). Input Output yang dikembangkan oleh Miyazawa bukan hanya digunakan untuk menganalisis keterkaitan antar sektor ekonomi (inter-industry relationship) tetapi dapat digunakan juga untuk mengetahui dampak sosial terhadap distribusi pada berbagai kelompok pendapatan. Untuk membangun tabel input output model Miyazawa diperlukan data sekunder yang berasal dari raw data Susenas yang terdiri dari data rumah tangga menurut klasifikasi wilayah (pedesaan dan perkotaan), jumlah tenaga kerja berdasarkan lapangan pekerjaan utama, rata-rata pendapatan tenaga kerja yang diterima dari pekerjaan utama, dan pengeluaran konsumsi rumah tangga berdasarkan jenis komoditi makanan dan non makanan. Data Susenas digunakan untuk memperoleh rasio dalam pengelompokan pendapatan yang akan digunakan dalam membentuk input output model Miyazawa.
Metode Input Output digunakan dalam penelitian ini mengingat ketersediaan data Input Output pada tingkat provinsi di Kalimantan Barat. Tabel I- O dan analisisnya pertama kali dikembangkan oleh Wassily Leontief pada akhir dekade 1930-an (BPS 2000). Analisis Input Output merupakan metode yang sistematis mengukur hubungan timbal balik antara berbagai sektor dalam perekonomian yang kompleks, dimana ekonomi yang dimaksud dapat diterapkan
pada sistem suatu bangsa, daerah, atau perusahaan (Leontief 1986). Tabel Input Output yang merupakan model General Equilibriummempunyai beberapa kelebihan sebagai alat analisis ekonomi perencanaan dan pembangunan, yaitu:
1. Menjelaskan keterkaitan antara berbagai sektor dalam perekonomian nasional atau wilayah, serta dapat ditentukan besarnya output dan kebutuhan faktor produksi lain dari satu sektor ke sektor lain pada permintaan akhir.
2. Meramalkan akibat yang ditimbulkan oleh perubahan permintaan, baik oleh pemerintah maupun swasta terhadap perekonomian dengan rinci dan tepat.
3. Perubahan teknologi dan harga relatif dapat diintegrasikan ke dalam model melalui penyesuaian koefisien.
4. Menggambarkan struktur perekonomian yang tersusun atas sektor-sektor ekonomi yang saling berinteraksi.
Analisis dalam tabel Input Output selain mempunyai kelebihan juga mempunyai keterbatasan dalam analisisnya yang merupakan asumsi dasar dalam penyusunannya, yaitu (BPS 2000):
1. Asumsi homogenitas (homogenity) yang mensyaratkan bahwa tiap sektor memproduksi suatu output tunggal dengan struktur input tunggal dan bahwa tidak ada substitusi otomatis antara berbagai sektor.
2. Asumsi proposionalitas (propotionality) yang mensyaratkan bahwa dalam proses produksi, hubungan antara input dengan output merupakan fungsi linier yaitu tiap jenis input yang diserap oleh sektor tertentu naik atau turun sebanding dengan kenaikan atau penurunan output sektor tersebut.
3. Asumsi aditivitas (additivity), yaitu suatu asumsi yang menyebutkan bahwa efek total pelaksanaan produksi di berbagai sektor dihasilkan oleh masing-masing sektor secara terpisah. Ini berarti bahwa di luar sistem input output semua pengaruh dari luar diabaikan.
Rasio input output yang tetap atau konstan sepanjang periode analisis merupakan keterbatasan dimana produsen tidak dapat menyesuaikan perubahan- perubahan inputnya atau mengubah proses produksi sehingga analisis yang digunakan hanya memprediksi perekonomian dalam jangka pendek (short run). Walaupun mengandung keterbatasan, model I-O tetap merupakan alat analisis ekonomi yang lengkap dan komprehensif.
Penyusunan Input Output Miyazawa
Pada prinsipnya tabel input-output regional Kalimantan Barat disusun dengan struktur sebagai berikut:
a. Kuadran I, yaitu kuadran transaksi antar sektor atau permintaan antara yang terdiri dari 54 sektor.
b. Kuadran II, yaitu kuadran permintaan akhir yang terdiri dari 6 jenis permintaan yaitu konsumsi rumah tangga (C), konsumsi pemerintah (G), pembentukan modal tetap (I), perubahan stok, ekspor (X), dan impor (M). c. Kuadran III, yaitu merupakan kuadran yang berisi nilai tambah atau input
primer yang terdiri dari upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tak langsung.
Perubahan dari tabel input-output dasar menjadi tabel model Miyazawa dilakukan dengan melakukan pemecahan terhadap komponen permintaan akhir (konsumsi
26
rumah tangga) serta input primer (upah dan gaji serta sebagian surplus usaha yang diterima oleh tenaga kerja) menjadi dua golongan pendapatan dan pengeluaran. Komponen permintaan akhir dan input primer tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kuadran I dan menjadi variabel endogen. Selanjutnya sektor-sektor yang berada dalam kuadran I yang sebelumnya berjumlah 54 sektor, diagregasi hingga menjadi tabel input-output dengan matriks yang terdiri dari 18 sektor. Agregasi ini disesuaikan dengan data tenaga kerja dalam Susenas yang tersedia di Provinsi Kalimantan Barat. Sehingga model input output Miyazawa dapat ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 6 Model Tabel Input Output Miyazawa
Kolom Sektor 180 302 303 304 305 409 600 Baris 1 2 …. …. 18 19 20 1 2 . . . . . . . . 18 19 20 190 202a 203 204 210 keterangan:
- Baris 1 s.d. 18 = output sektor ekonomi
- Baris 19 = pendapatan rumah tangga di pedesaan - Baris 20 = pendapatan rumah tangga di perkotaan - Baris 190 = jumlah input antara
- Baris 202a = surplus usaha sisa - Baris 203 = penyusutan
- Baris 204 = pajak tak langsung - Baris 210 = jumlah input
- Kolom 1 s.d. 18 = input sektor ekonomi
- Kolom 19 = konsumsi rumah tangga di pedesaan - Kolom 20 = konsumsi rumah tangga di perkotaan - Kolom 180 = jumlah permintaan antara
- Kolom 302 s.d. 304 = permintaan akhir selain konsumsi rumah tangga - Kolom 305 = jumlah ekspor
- Kolom 409 = jumlah impor - Kolom 600 = jumlah output
Konsumsi Rumah Tangga
Konsumsi rumah tangga adalah pembelian barang dan jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba selama satu tahun yang meliputi konsumsi barang dan jasa baik yang diperoleh dari pihak lain maupun yang diproduksi sendiri, dikurangi nilai bersih penjualan barang bekas dan barang sisa. Pembelian rumah tinggal tidak termasuk kelompok konsumsi rumah tangga (BPS 2000).
Konsumsi rumah tangga pada tabel Miyazawa dimasukkan dalam kuadran I (variabel endogen) karena diasumsikan sebagai salah satu pelaku produksi. Kemudian variabel ini dibagi menjadi dua kelompok pendapatan dan pengeluaran rumah tangga menurut wilayah di Kalimantan Barat. Data yang digunakan untuk membagi pengelompokan ini diperoleh dari data Susenas modul konsumsi dan pengeluaran tahun 2011 yang dirinci berdasarkan 311 macam komoditas.
Tahapan pengelompokan konsumsi rumah tangga sebagai berikut:
a. Langkah pertama adalah menyusun golongan pengeluaran rumah tangga menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu:
- Golongan pengeluaran rumah tangga di pedesaan - Golongan pengeluaran rumah tangga di perkotaan
b. Langkah kedua adalah memasukkan jenis-jenis pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga dimana pengeluaran untuk makanan (215 komoditas) dan non makanan (96 komoditas) yang telah dibagi berdasarkan golongan pengeluaran ke dalam sektor-sektor yang ada di tabel input-output yang telah diagregasi.
c. Langkah ketiga adalah menghitung rasio dari masing-masing golongan pengeluaran yang kemudian dikalikan dengan konsumsi rumah tangga (301) pada tabel input-output Kalimantan Barat tahun 2010 untuk mendapatkan jumlah pengeluaran masing-masing golongan rumah tangga.
Input Primer
Bertambahnya kolom pada kuadran I akibat dimasukkannya variabel konsumsi rumah tangga yang telah dibagi menjadi dua kelompok tersebut sebagai variabel yang endogen, maka jumlah kolomnya bertambah menjadi 20 sektor. Sebagai penyeimbang untuk mendapatkan matriks bujur sangkar, maka komponen yang terdapat dalam input primer yaitu upah dan gaji, serta sebagian dari surplus usaha yang diterima oleh tenaga kerja juga dimasukkan dalam kuadran I dan dibagi dalam dua kelompok.
Asumsi yang digunakan dalam membagi sebagian input primer ini menjadi empat kelompok adalah:
a. Tenaga kerja yang bekerja dalam setiap sektor produksi akan menerima semua balas jasa atas pemakaian faktor-faktor produksi.
b. Tenaga kerja adalah semua orang yang ikut serta dalam proses produksi. Tahapan penyusunan input primer:
a. Pada tabel input-output Kalimantan Barat angka-angka yang terdapat dalam kolom baris 19 dan 20 dibentuk dari angka upah dan gaji (201) ditambah sebagian dari surplus usaha (202). Angka-angka tersebut dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
28 ∑ �181 � = ∑ �181 �� − ∑ �181 �� (3) � = ∑ �� � ∑ �� (4) ��� =�.�� (5) �� =�� +��� (6) dimana:
�� = konsumsi rumah tangga baris ke-i
�� = konsumsi rumah tangga kolom ke-j
�� = surplus usaha kolom ke-j
��� = surplus usaha parsial kolom ke-j ��� = surplus usaha sisa kolom ke-j
�� = upah dan gaji kolom ke-j
R = Rasio surplus usaha parsial terhadap surplus usaha (202)
b. Selanjutnya dengan jumlah tenaga kerja yang bekerja berdasarkan lapangan usaha dari Susenas 2011 dikelompokkan berdasarkan sektor- sektor produksi yang terdapat dalam tabel input output sesuai dengan pembagian kelompok pendapatan rumah tangga.
Metode Analisis
Penggunaan tabel input output Kalimantan Barat dalam analisis digunakan untuk mengetahui peran permintaan akhir dalam hal ini investasi pemerintah daerah terhadap kinerja perekonomian secara keseluruhan. Kinerja perekonomian yang ingin diketahui dalam penelitian ini berupa struktur pembentukan output, jumlah tenaga kerja, dan distribusi pendapatan. Tahapan analisis dalam tabel input output yang dilakukan dalam penelitan ini yaitu analisis pengganda (pengganda output dan pendapatan rumah tangga), analisis keterkaitan antar sektor ekonomi (keterkaitan kedepan dan keterkaitan kebelakang), serta analisis dampak (dampak investasi pemerintah daerah terhadap output, penyerapan tenaga kerja, dan distribusi pendapatan rumah tangga).
Analisis Pengganda
Analisis angka pengganda (multiplier analysis) digunakan untuk melihat sesuatu yang terjadi pada variabel-variabel endogen yaitu output sektoral sebagai respon dari perubahan yang terjadi pada variabel-variabel eksogen seperti permintaan akhir (Nazara 2005). Angka pengganda merupakan ukuran respon terhadap rangsangan perubahan suatu perekonomian (rangsangan berasal dari permintaan akhir) yang dinyatakan dalam hubungan sebab akibat.
Jensen dan West (1986) membedakan kategori dampak berganda menjadi: (1) dampak awal (initial impact), (2) dampak imbasan kegiatan produksi (production induced impact) yang terdiri atas pengaruh putaran pertama (first round effect) dan pengaruh putaran kedua atau pengaruh dukungan industri (industrial support effect), (3) dampak imbasan konsumsi (consumption induced effect), serta adanya dampak luberan (flow-on impact).
Tabel 7 Multiplier Effect Menurut Tipe Dampak
Tipe Dampak Output (Rp) Pendapatan (Rp) Tenaga Kerja
(orang)
Dampak Awal 1 pi ei
Pengaruh Langsung ∑aij ∑aijpi ∑aijei
Pengaruh Tidak Langsung ∑gij – 1 - ∑aij ∑gij pi - pi - ∑aij pi ∑gij ei - ∑aij ei Dampak Imbasan Konsumsi ∑g*ij – 1 - ∑aij ∑g*ij pi - pi - ∑aij pi ∑g*ij ei - ∑aij ei
Dampak Total ∑g*ij ∑g*ij pi ∑g*ij ei
Dampak Luberan ∑g*ij - 1 ∑g*ij pi - pi ∑g*ij ei - ei
Sumber : Daryanto dan Hafizrianda 2010 Keterangan :
aij = koefisien input langsung
pi = koefisien pendapatan rumah tangga ei = koefisien tenaga kerja
gij = matrik kebalikan Leontief model terbuka/tipe I [(I-A)-1] g*ij = matrik kebalikan Leontief model tertutup/Miyazawa [(I-M)-1] a. Pengganda Output (Output Multiplier)
Angka pengganda output pada sektor j adalah nilai total dari output atau produksi yang dihasilkan oleh perekonomian untuk memenuhi (atau akibat) adanya perubahan satu unit permintaan akhir sektor j tersebut. Perubahan permintaan akhir sektor j tidak hanya meningkatkan output sektor j tersebut, tetapi akan meningkatkan pula output sektor-sektor lain dalam perekonomian yang tercipta akibat adanya efek langsung dan efek tidak langsung.
Nilai pengganda output total pada masing-masing sektor diperoleh sebagai hasil dari penjumlahan nilai-nilai pada setiap kolom matriks kebalikan Leontief. Hasil penjumlahan itulah yang menjadi nilai pengganda produksi di sektor tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa besar kecilnya nilai pengganda mencerminkan besar kecilnya keterkaitan sektor tersebut dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian. Semakin besar nilai pengganda yang dihasilkan oleh suatu sektor, semakin erat keterkaitan sektor tersebut dengan sektor-sektor lainnya di dalam perekonomian.
Rumah tangga biasanya dimasukkan sebagai pelaku (aktor ekonomi) eksogen dalam suatu tabel I-O. Hal ini berdasar asumsi bahwa rumah tangga dapat menentukan tingkah laku konsumsi mereka di luar sistem ekonomi yang ada. Tabel I-O yang menempatkan rumah tangga sebagai pelaku eksogen terlepas dari sistem perekonomian suatu wilayah disebut sebagai tabel I-O terbuka (open I-O tabel) dan matriks pengganda yang dihasilkan disebut sebagai pengganda bentuk I (type I multiplier). Rumah tangga pada sisi lain dapat juga dianggap tidak dapat bertindak secara eksogenus karena pendapatan rumah tangga yang mereka peroleh tergantung pada perkembangan perekonomian suatu wilayah. Dengan demikian rumah tangga dianggap sebagai pelaku ekonomi yang endogen dimana tingkah laku konsumsi mereka tergantung secara endogen terhadap sistem perkonomian suatu wilayah. Tabel I-O yang menempatkan rumah tangga sebagai pelaku endogen dalam sistem perekonomian suatu wilayah disebut sebagai tabel I-O tertutup (closed I-O tabel) dan matriks pengganda yang dihasilkan disebut sebagai pengganda bentuk II (type II multiplier). Pada pengganda bentuk II, dampak yang
30
terjadi terhadap sektor-sektor ekonomi domestik bukan hanya disebabkan sebagai akibat langsung dan tidak langsung, tetapi juga sebagai akibat dari perubahan pola konsumsi dan pendapatan rumah tangga (induced effect).
Pengganda output bentuk I ditunjukkan oleh persamaan:
X = (I – A)-1 (7)
dimana:
X = matriks pengganda output (output multiplier) bentuk I I = matriks identitas
A = matriks koefisien teknologi bentuk I (I – A)-1 = matriks kebalikan Leontief bentuk I
Sedangkan pengganda output bentuk II atau model Miyazawa ditunjukkan oleh persamaan:
X* = (I – M)-1 (8)
dimana:
X* = matriks pengganda output (output multiplier) bentuk II I = matriks identitas
M = matriks koefisien teknologi bentuk II atau model Miyazawa (I – M)-1 = matriks kebalikan Leontief bentuk II atau model Miyazawa b. Pengganda Pendapatan (Income Multiplier)
Angka pengganda pendapatan rumah tangga sektor j adalah jumlah pendapatan rumah tangga total yang tercipta akibat adanya tambahan satu unit permintaan akhir disektor j tersebut. Perubahan output dan perubahan pendapatan memiliki hubungan yang linier, sehingga apabila permintaan akhir berubah yang mengakibatkan perubahan output, maka pendapatan pun akan berubah. Hal ini terjadi karena perubahan output mengakibatkan perubahan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sehingga pendapatan rumah tangga yang merupakan balas jasa atas penggunaan faktor produksi tenaga kerja juga berubah. Besar-kecilnya dampak terhadap pendapatan suatu sektor dan sektor-sektor lainnya bergantung pada angka pengganda pendapatan (income multiplier).
Pengganda pendapatan yang digunakan dalam model Miyazawa merupakan pengganda bentuk II dimana rumah tangga dibagi menjadi dua kelompok pendapatan sehingga angka pengganda yang digunakan dalam penelitian ini terdapat dalam matriks invers model Miyazawa (1-M)-1 pada baris ke 19 dan 20.
c. Pengganda Tenaga Kerja
Data tenaga kerja yang ideal untuk keperluan analisis produktivitas dan efisiensi tenaga kerja adalah dengan satuan ekivalen tenaga kerja penuh (full employment). Namun demikian data tenaga kerja yang tersedia sampai saat ini belum memungkinkan untuk menyusun tenaga kerja dalam satuan ekivalen tenaga kerja penuh. Data tenaga kerja yang akan digunakan dalam tabel I-O bersumber dari data Sakernas dan disajikan dalam bentuk jumlah tenaga kerja sektoral dengan satuan orang.
Angka pengganda tenaga kerja sektor j adalah jumlah lapangan kerja yang tercipta akibat adanya tambahan satu unit permintaan akhir disektor j tersebut. Perubahan output dan perubahan jumlah tenaga kerja memiliki hubungan yang linier dalam I-O, sehingga apabila permintaan akhir berubah yang mengakibatkan perubahan output, maka jumlah tenaga kerjapun akan berubah. Untuk menghitung
besarnya pengganda tenaga kerja terlebih dahulu harus diketahui besarnya koefisien tenaga kerja. Koefisien tenaga kerja menunjukkan besarnya jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan satu unit output.
Analisis Keterkaitan
Hubungan atau keterkaitan antar sektor produksi dalam analisis Input Output dapat dilihat dalam hubungan ke depan dan ke belakang antar sektor produksi. Hubungan ke depan (forward linkage) adalah hubungan dengan output atau penjualan barang jadi, baik terhadap permintaan antara maupun permintaan akhir. Sedangkan hubungan ke belakang (backward linkage) merupakan hubungan dengan bahan baku atau input serta sarana produksi. Keterkaitan ke depan disebut juga dengan derajat kepekaan sedangkan keterkaitan ke belakang disebut juga dengan daya penyebaran (Rasmussen 1956).
a. Keterkaitan ke Depan (Forward Lingkage)
Jumlah dampak terhadap sektor i sebagai akibat perubahan permintaan akhir seluruh sektor dituliskan dalam persamaan berikut:
�� =��1+��2+. . . . +��� =∑ �� �� (9)
dimana:
�� = jumlah dampak terhadap sektor i sebagai akibat perubahan seluruh
sektor
Ukuran ini disebut juga dengan keterkaitan ke depan (forward linkage). Untuk membandingkan dampak yang terjadi pada setiap sektor, maka harus dilihat besarnya indeks derajat kepekaan sebagai berikut:
�� = 1� ∑ �� �� � 1 �2 � ∑ ∑ �� � �� (10) dimana:
�� = Indeks derajat kepekaan sektor i.
Nilai ��>1 menunjukkan bahwa derajat kepekaan sektor i lebih tinggi dari rata- rata derajat kepekaan seluruh sektor, sedangkan ��<1 menunjukkan derajat kepekaan sektor i lebih rendah dari rata-rata seluruh sektor. Indeks derajat kepekaan disebut juga sebagai tingkat dampak keterkaitan ke depan (forward lingkage effect ratio).
b. Keterkaitan ke Belakang (Backward Linkage)
Hubungan antara output dan permintaan akhir dijabarkan sebagai X=(I-A)- 1
Fd. Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa perubahan 1 unit �1�(permintaan akhir produksi sektor 1) terhadap X1 (total output sektor 1) akan menimbulkan dampak perubahan sebesar b11, terhadap X2 sebesar b21, begitu seterusnya. Secara umum jumlah dampak akibat perubahan permintaan suatu sektor terhadap output seluruh sektor perekonomian adalah:
�� =�1� +�2�+. . . . +��� =∑ �� �� (11)
dimana:
�� = jumlah dampak akibat perubahan permintaan akhir sektor j terhadap
output seluruh sektor.
bij = dampak yang terjadi terhadap semua output sektor i akibat perubahan permintaan sektor j.
32
Tambahan permintaan akhir
Tambahan
produksi Tambahan input
Tambahan input antara Kenaikan produksi input Tambahan input primer
Kenaikan upah dan gaji Kenaikan pendapatan rumah tangga Angka pengganda pendapatan rumah tangga Angka pengganda output
Jumlah dampak (rj) disebut juga dengan jumlah daya penyebaran. Daya penyebaran merupakan ukuran untuk melihat keterkaitan ke belakang (backward lingkage). Untuk membandingkan dampak yang terjadi pada setiap sektor, maka harus dilihat besarnya indeks daya penyebaran sebagai berikut:
�� = 1� ∑ �� �� � 1 �2 � ∑ ∑ �� � �� (12) dimana:
�� = indeks daya penyebaran sektor j
Besaran αj = 1 berarti bahwa daya penyebaran sektor j sama dengan rata-rata daya
penyebaran seluruh sektor ekonomi. Nilai αj> 1 menunjukkan bahwa daya
penyebaran sektor j berada di atas rata-rata daya penyebaran seluruh sektor
ekonomi, sedangkan jika αj< 1 menunjukkan daya penyebaran sektor j lebih
rendah dari rata-rata seluruh sektor ekonomi. Indeks daya penyebaran disebut juga sebagai tingkat dampak keterkaitan ke belakang (backward lingkages effect ratio).
Analisis Dampak
Analisis dampak dalam Input Output ini secara umum menggambarkan dampak dari perubahan permintaan akhir terhadap sektor itu sendiri maupun terhadap sektor lain serta terhadap perekonomian secara keseluruhan. Dampak dari pertambahan permintaan akhir terhadap pertambahan produksi secara menyeluruh dalam perekonomian dapat dianalisis melalui angka pengganda output. Sementara dampak permintaan akhir terhadap perubahan pendapatan rumah tangga dianalisis dengan menggunakan angka pengganda pendapatan rumah tangga.
Sumber : Daryanto dan Hafizrianda 2010
Gambar 7 Dampak Permintaan Akhir terhadap Output dan Pendapatan Rumah Tangga
a. Dampak Pengeluaran Pemerintah Terhadap Output Sektor Ekonomi
Analisis dilakukan untuk melihat besarnya output sektor ekonomi yang tercipta yang dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah. Persamaan yang digunakan adalah:
��� =���� (13)
dimana:
��� = output sektor i akibat dampak pengeluaran pemerintah
xij = matriks kebalikan Leontief bentuk I [(1-A)-1] atau model Miyazawa [(I- M)-1]
G = pengeluaran pemerintah
b. Dampak Pengeluaran Pemerintah Terhadap Distribusi Pendapatan
Pendapatan dalam analisis ini adalah jumlah value added yang telah dikelompokkan menjadi 4 golongan pendapatan yaitu golongan pendapatan bawah dan atas baik di pedesaan maupun di perkotaan. Persamaan yang digunakan adalah:
��� = ���� (14)
dimana:
��� = pendapatan kelompok ke-n akibat dampak pengeluaran pemerintah
n = kelompok pendapatan (1≤n≤4)
b = matriks invers model Miyazawa [(I-M)-1]
G = pengeluaran pemerintah
c. Dampak Pengeluaran Pemerintah Terhadap Tenaga Kerja
Analisis dilakukan untuk melihat besarnya lapangan kerja yang tercipta yang dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah. Persamaan yang digunakan adalah:
��� =������ (15)
dimana:
��� = jumlah tenaga kerja sektor i akibat dampak pengeluaran pemerintah
li = koefisien tenaga kerja sektor i
xij = matriks kebalikan Leontief bentuk I [(1-A)-1] atau model Miyazawa [(I- M)-1]
G = pengeluaran pemerintah
Analisis Pengentasan Kemiskinan
Analisis pengentasan kemiskinan dalam penelitian ini mengadopsi indeks kemiskinan FGT (Foster-Greer-Thorbecke) yang didekomposisi sebagai dampak perubahan output sektor ekonomi (Thorbecke and Jung 1996). Indikator kemiskinan yang digunakan dalam penelitian yaitu:
��(�;�) =�1∑ ��−�� �� � �
�=1 , (� ≥0) (16)
dimana yi adalah rata-rata nilai pengeluaran perkapita individu ke-i dalam rumah tangga, n adalah total populasi, q adalah jumlah populasi penduduk miskin, dan z adalah garis kemiskinan.
34
Nilai α=0, menyatakan headcount index yang merupakan proporsi populasi
penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, dimana: �0(�;�) = 1 �∑ � �−�� � � 0 � �=1 �����0 =�/� (17)
Nilai α=1, menyatakan ukuran poverty gap index atau kesenjangan kemiskinan
seluruh populasi miskin terhadap garis kemiskinan, dimana: �1(�;�) = 1 �∑ � �−�� � � � �=1 (18)
Nilai α=2, menyatakan ukuran poverty saverity atau rasio “keparahan”
kemiskinan, dimana: �2(�;�) = 1 �∑ � �−�� � � 2 � �=1 (19)
Pengukuran kemiskinan dengan FGT poverty index dapat digunakan juga untuk mengukur insiden kemiskinan pada populasi rumah tangga yang dipisahkan menurut kelompok populasi (sub-group), sehingga dapat diketahui kontribusi dari masing-masing kelompok populasi. Kelompok populasi dalam penelitian ini terdiri dari 2 kelompok populasi menurut wilayah. Perubahan pada ukuran kemiskinan dapat ditentukan oleh perubahan rata-rata pendapatan perkapita dan perubahan dalam distribusi pendapatan (Kakwani 1993), yang diformulasikan sebagai berikut: ����� = ������� � � ����+∑ ���� � ����� ����� � �=1 (20)
dimana Pαij adalah indeks kemiskinan FGT pada sektor j pada kelompok rumah tangga i , ӯi adalah rata-rata pendapatan kelompok rumah tangga i, dan Өijk menunjukkan parameter distribusi pendapatan. Dengan asumsi perubahan aktifitas produksi output terdistribusi netral, maka:
���� �
��� � =����
����
��� � (21)
dimana, ηαi adalah elastisitas Pαij sebagai akibat perubahan rata-rata
pendapatan perkapita dari kelompok rumah tangga i sebagai dampak perubahan output sektor ekonomi j. Perubahan indeks kemiskinan sebagai dampak perubahan output sektor ekonomi didekomposisi menurut tipe dampak langsung, tidak