• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan jenis data Cross Section

dari 34 Provinsi dan 505 Kab/Kota di Indonesia. Adapun jenis dan sumber data dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Jenis dan Sumber Data Penelitian

Definisi Operasional dari data-data dan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. PDRB per kapita, menggambarkan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah. PDRB per kapita dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu wilayah/daerah. PDRB/Kapita diperoleh dari hasil bagi antara PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun ke i (dalam penelitian ini tahun 2013).

2. Kemampuan Keuangan Daerah (KKD), menunjukkan bagaimana kemampuan fiskal daerah/wilayah tersebut yang didapat dari hasil pengurangan antara penerimaan umum APBD dengan belanja PNSD. KKD = Penerimaan Umum APBD – Belanja PNSD. ...(1) Penerimaan Umum APBD = PAD+DAU+ (DBH-DBH DR) ...(2) 3. Pendapatan Asli Daerah (PAD), adalah realisasi PAD suatu

daerah/wilayah pada t-2 (dua tahun sebelum tahun pengalokasian) yang merupakan data realisasi sebagaimana yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban APBDt-2, atau realisasi PAD yang telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), atau data anggaran PAD dalam APBDt-2, setelah dikalikan dengan faktor pengali tertentu.

Jenis Data Sumber Data Tahun

Pendapatan Asli Daerah Kementerian Keuangan 2013

Dana Alokasi Umum Kementerian Keuangan 2013

Dana Bagi Hasil SDA Kementerian Keuangan 2013

SBH Pajak Kementerian Keuangan 2013

Belanja PNS Daerah Kementerian Keuangan 2013 Indeks Daerah Tertinggal Kementerian Keuangan 2013 Indeks Daerah Perbatasan Kementerian Keuangan 2013 Indeks Pesisir Kepulauan Kementerian Keuangan 2013 Indeks Teknis Per Bidang Kementerian Keuangan 2013 Indeks Kemahalan Konstruksi Kementerian Keuangan 2014 Pagu dan Alokasi Minimal DAK Kementerian Keuangan 2015

PDRB per Kapita BPS 2013

Tingkat Kemiskinan BPS 2013

4. Dana Alokasi Umum (DAU), merupakan alokasi DAU daerah/wilayah yang bersangkutan dalam t-2 (dua tahun sebelum tahun pengalokasian) berdasarkan Peraturan Presiden tentang alokasi DAU.

5. Dana Bagi Hasil (DBH) adalah realisasi penyaluran DBH Pajak dan DBH SDA dalam t-2 (dua tahun sebelum pengalokasian), tidak termasuk didalamnya DBH-DR dan bagian dari DBH yang di earmark (ditentukan penggunaannya)

6. Belanja PNSD adalah realisasi belanja PNS Daerah yang bersangkutan pada t-2 (dua tahun sebelum tahun pengalokasian).

7. Indeks Fiskal Netto (IFN) adalah indeks dari KKD yang didapatkan dari hasil perbandingan antara KKD suatu daerah/wilayah dengan KKD Nasional.

...(3) ...(4)

N= Jumlah Daerah

8. Indeks Fiskal Netto Invers (IFN-1 ), merupakan nilai invers dari IFN, untuk keperluan perhitungan indeks komposit selanjutnya. Nilai IFN-1 suatu daerah kemudian di standarisasi kembali dengan cara membandingkan nilai tersebut dengan nilai rata-rata IFN nasional.

... ...(5) ...(6) ... ...(7)

N = Jumlah Daerah 9. Indeks Daerah Tertinggal (IDT), adalah Indeks ketertinggalan suatu

daerah dalam kelompok daerah tertinggal, yang dihitung dengan cara emmbandingkan nilai ketertinggalan suatu daerah dengan rata-rata nilai ketertingalan kelompok tersebut.

...(8) ...(9)

N = Jumlah Daerah

10.Indeks Daerah Perbatasan (IDP), adalah Indeks perbatasan suatu daerah dalam Kelompok Daerah Perbatasan, yang dihitung dengan cara membandingkan nilai perbatasan suatu daerah dengan rata-rata nilai perbatasan kelompok Daerah Perbatasan.

...(10) ...(11)

N = Jumlah Daerah 11.Indeks Daerah Pesisir Kepulauan (IDPK) adalah Indeks Pesisir

Kepulauan suatu daerah dalam kelompok daerah pesisir kepulauan, yang

12

dihitung dengan cara membandingkan nilai pesisir kepulauan daerah tertentu dengan rata-rata nilai pesisir kepulauan kelompok daerah pesisir kepulauan.

. ...(12) ...(13)

N= Jumlah Daerah 12.Indeks Karakteristik Wilayah (IKW), adalah gabungan secara

komposit dari IDT, IDP, dan IDPK suatu daerah, yang dihitung dengan cara membandingkan indeks wilayah gabungan suatu daerah dengan rata-rata

indeks wilayah gabungan daerah kelompok Daerah Tertinggal, Daerah Perbatasan dan Daerah Pesisir Kepulauan.

...(14)

...(15) 13.Indikator Teknis adalah data, nilai, kondisi dan/atau keadaan tertentu

yang menggambarkan kondisi sarana dan prasarana layanan publik di daerah, yang ditetapkan oleh masing-masing K/L untuk diperhitungkan dengan bobot/porsi tertentu guna membentuk indeks teknis.

14.Indeks Teknis (IT) adalah indeks yang menggambarkan tingkat kebutuhan pembangunan dan/atau perbaikan terhadap kondisi sarana dan prasarana bidang DAK tertentu suatu daerah secara relatif dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Indeks teknis suatu daerah dihitung dengan cara membandingkan indikator teknis gabungan suatu daerah dengan rata-rata indikator teknis gabungan seluruh daerah.

15.Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) merupakan variabel yang menceriminkan tingkat kesulitan geografis yang dinilai berdasarkan tingkat kemahalan harga prasarana fisik secara relatif antar daerah. 16.Bobot DAK per Bidang (BD) dihitung berdasarkan maksimum IT

dikali IKK sesuai dengan kondisi kelayakan masing-masing daerah. 17.Alokasi DAK per Bidang (ADB) adalah hasil perhitungan porsi BD

suatu daerah dengan pagu bidang DAK. Porsi BD suatu daerah adalah perbandingan antara BD suatu daerah dengan jumlah total BD.

18.Pagu Bidang DAK adalah nilai pagu suatu bidang atau sub bidang DAK.

19.Alokasi Minimum (AM) adalah jumlah alokasi minimal yang akan dialokasikan kepada daerah penerima DAK bidang tertentu. AM tersebut diperoleh dari pagu bidang atau sub bidang yang bersangkutan. 20.Alokasi DAK per daerah (AD) adalah jumlah alokasi DAK suatu

daerah yang diperoleh dari hasil penjumlahan ADB untuk seluruh bidang yang diperoleh oleh daerah/wilayah tersebut.

Pada Nota Keuangan dan Rancanganan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015, dilakukan restrukturisasi bidang

DAK agar kebih fokus dan memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas layanan publik. Dengan restrukturisasi bidang tersebut, maka DAK dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: (1) Kelompok DAK pelayanan dasar yang terdiri dari enam bidang dan (2) Kelompok DAK non pelayanan dasar yang terdiri dari delapan bidang. Pada penelitian ini hanya akan dibahas mengenai kelompok DAK pelayanan dasar. Adapun arah kebijakan kegiatan kelompok DAK non pelayanan dasar tahun 2015 adalah sebagai berikut:

(1) DAK Bidang Kelautan dan Perikanan

DAK bidang ini diarahkan untuk meningkatkan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, mutu, pemasaran, pengawasan, dan penyuluhan dalam rangka mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan dan minapolitan, serta penyediaan sarana dan prasarana terkait dengan pengembangan kelautan dan perikanan di pulau-pulau kecil.

(2) DAK Bidang Pertanian

DAK Bidang Pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi dan ekspor komoditas pertanian strategis serta mendukung pengembangan bioindustri dan bioenergi dengan melakukan

refocusing kegiatan DAK bidang pertanian tahun ini pada

pembangunan/perbaikan prasarana dan sarana fisik dasar pembangunan pertanian.

(3) DAK Bidang Prasarana Pemerintah Daerah

DAK bidang ini diarahkan untuk meningkatkan kinerja pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan pelayanan publik di daerah pemekaran, daerah yang terkena dampak pemekaran, serta daerah lainnya yang prasarana pemerintahannya belum layak dan memadai. Kegiatan yang dilaksanakannya menggunakan DAK bidang prasarana pemerintahan daerah diutamakan bagi kegiatan yang terkait dengan pelayanan terhadap masyarakat.

(4) DAK Bidang Lingkungan Hidup

Pada bidang ini arah kebijakannya yaitu: (1) memanfaatkan pagu nasional DAK secara lebih optimal dalam mendukung pencapaian prioritas nasional; (2) mendukung program yang menjadi prioritas nasional di dalam RKP 2015 sesuai dengan kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework) dan penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting); (3) membantu daerah-daerah yang memiliki keuangan relatif rendah dalam membiayai pelayanan publik sesuai SPM dalam rangka pemerataan pelayanan dasar publik; (4) meningkatkan penyediaan data-data teknis, koordinasi pengelolaan DAK secara utuh dan terpadu di pusat dan daerah, sinkronisasi kegiatan DAK dengan kegiatan lain yang didanai APBN dan APBD, serta meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan DAK di daerah; (5) mendukung SPM kegiatan yang terkait dengan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim; dan (6) mendorong penguatan kapasitas kelembagaan/institusi pengelolaan lingkungan hidup di daerah, dengan prioritas meningkatkan sarana dan

14

prasarana lingkungan hidup yang difokuskan pada kegiatan pencegahan pencemaran lingkungan hidup.

(5) DAK Bidang Kehutanan

DAK bidang kehutanan diarahkan untuk meningkatkan kinerja kesatuan pengelolaan hutan lindung (KPHL) dan kesatuan pengelolaan hutan produksi (KPHP), meningkatkan daya dukung kesatuan pengelolaan hutan (KPH), pemberdayaan masyarajat dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan daya dukung sumber daya hutan, tanah dan air. Kebijakan tersebut dicapai dengan mencegah kerusakan lebih lanjut terhadap sumber daya hutan yang berada dalam aliran sungai (DAS) dan daerah rawan bencana, dengan melaksanakan rehabilitasi serta perlindungan dan pengamanan hutan di dalam kawasan hutan dalam kerangka KPHP/KPHL, Hutan Kota, Taman Hutan Raya, serta pengembangan dan peningkatan Hutan Rakyat. (6) DAK Bidang Keluarga Berencana (KB)

Arah kebijakan untuk bidang ini yaitu untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB yang merata, yang dilakukan melalui (1) peningkatan daya jangkau dan kualitas penyuluhan, penggerakan, pembinaan program KB lini lapangan; (2) Peningkatan sarana dan prasarana pelayanan KB; (3) peningkatan sarana pelayanan advokasi, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) Program KB; (4) peningkatan sarana pembinaan tumbuh kembang anak dan remaja; dan (5) peningkatan pelaporan dan pengolahan data dan informasi berbasis teknologi informasi.

(7) DAK Bidang Sarana Perdagangan

Pada bidang ini DAK diarahkan agar dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana perdagangan untuk mendukung peningkatan efisiensi sistem logistik dan distribusi nasional, perlindungan konsumen dan kesejahteraan rakyat. DAK bidang sarana dan prasarana perdagangan terdiri dari tiga sub bidang, yaitu sub bidang pasar, gudang dan metrologi.

(8) DAK Bidang Perumahan dan Permukiman

DAK bidang ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas prasarana, sarana dan utilitas umum (PDU) perumahan dan kawasan pemukiman (PKP) pada perumahan umum yang dibangun oleh badan usaha, pemerintah daerah, maupun masyarakat dan kelompok masyarakat dalam rangka mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak huni bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif. Metode kuantitatif digunakan dalam kegiatan penelitian dalam usaha untuk menarik kesimpulan atas hipotesis yang diajukan dengan melakukan analisis data-data kuantitatif yang diolah dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS 20 untuk melihat daerah mana saja yang berhak menerima DAK, jumlah alokasi DAK per daerah penerima dan perbedaan pada seluruh tahapan pengalokasian DAK antara dua

formula tersebut, koefisien korelasi antara PDRB/kapita, IPM dan kemiskinan dengan formula existing maupun formula alternatif.

Tahapan Analisis Kuantitatif

Analisis kuantitatif digunakan untuk menentukan daerah-daerah yang layak menjadi daerah penerima DAK. Tahapan mengolah data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menentukan indeks kemampuan keuangan setiap daerah baik kab/kota maupun provinsi di Indonesia untuk melihat apakah wilayah tersebut layak menurut kriteria umum. Setelah itu, menentukan indeks fiskal wilayah dan teknis untuk melihat apakah wilayah tersebut layak menurut kriteria khusus dan kriteria teknis.

2. Menetapkan daerah mana saja yang layak menjadi daerah penerima dengan menggunakan formulasi yang berbeda dari formulasi awal. Reformulasi ini menggunakan kriteria teknis sebagai kriteria pertama layak atau tidak layak nya suatu daerah kemudian di ikuti oleh kriteria khusus dan kriteria umum adalah kriteria terakhir.

3. Menentukan besaran DAK yang diterima tiap daerah di Indonesia berdasarkan indeks fiskal wilayah teknis masing-masing daerah

Metode Analisis a. Penentuan Daerah Penerima DAK

RAPBN 2016 dirancang untuk memperbaiki kesalahan formulasi DAK saat ini yaitu untuk memininimalisir kemungkinan DAK tidak teralokasikan sesuai kebutuhan daerah. Untuk menentukan daerah-daerah yang termasuk dalam kategori layak menjadi daerah penerima DAK maka ada tiga kriteria yang harus dipenuhi oleh masing-masing daerah, jika mengacu pada fomulasi alokasi tahun 2015 kriteria tersebut adalah kriteria umum, kriteria khusus dan kriteria teknis. Pada formulasi alternatif tetap menggunakan tiga kriteria tersebut namun dengan urutan yang berbeda yaitu kriteria teknis, kriteria khusus dan kriteria umum. Analisis pada tahap ini menggunakan software Microsoft Excel dengan formula yang telah ditentukan.

a. Kriteria Teknis

Indeks teknis (IT) bidang/sub bidang DAK adalah indeks yang ditentukan oleh kementerian/lembaga terkait atau yang bertanggungjawab terhadap bidang/sub bidang tersebut dan kemudian IT tersebut disampaikan kepada Kementerian Keuangan sebagai data resmi untuk perhitungan DAK TA. 2015.

Pada tahap pertama dalam formula alternatif dalam menentukan apakah daerah tersebut layak menjadi penerima DAK atau tidak, indeks teknislah yang digunakan sebagai indikator. Daerah tersebut dikatakan layak menerima DAK bila daerah tersebut memiliki IT yang tergolong sedang atau tinggi, dan tidak memiliki IFN yang tergolong tinggi. IT diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu rendah, sedang, dan tinggi, dengan pertimbangan seperti di bawah ini:

16

1) IT Rendah 0 < IT ≤ ∝

2) IT Sedang ∝<IT≤ ∝

3) IT Tinggi IT>∝

Dimana:

∝ : Nilai kuartil tiga dari selruh data IT ∝ : Nilai kuartil satu dari seluruh data IT b. Kriteria Khusus

Daerah yang tidak layak secara teknis (kriteria teknis) masih berpotensi menjadi daerah penerima DAK menurut kriteria khusus tergantung apakah wilayah tersebut memenuhi standar dalam kriteria khusus atau tidak, adapun kriterianya seperti di bawah ini:

1. Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat

Berdasarkan Undang-undang yang mengatur tentang Daerah Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat, disebutkan bahwa daerah kab/kota yang berada dalam provinsi tersebut di prioritaskan untuk mendapatkan DAK. Dengan kriteria ini seluruh kab/kota yang berada di Provinsi dan Papua Barat secara otomatis langsung menjadi daerah penerima DAK.

2. Karakteristik Daerah

Dalam kriteria ini memperhitungkan karakteristik daerah yaitu daerah tertinggal, daerah perbatasan dan daerah pesisir kepulauan, dimana nilai suatu daerah ditentukan oleh karakteristik tersebut melalui kementerian atau lembaga terkait. Dari nilai tersebut dapat dihitung indeks dari masing-masing karakteristik tersebut dan setelah itu indeks tersebut digabungkan secara komposit menjadi indeks karakteristik wilayah (IKW). Suatu daerah layak menerima DAK menurut kriteria khusus jika indeks karakteristik wilayah yang merupakan Indeks gabungan dari beberapa Indeks lainnya lebih dari satu.

c. Kriteria Umum

Kriteria umum melihat secara umum melalui kemampuan keuangan dari masing-masing daerah (fiscal netto) kemudian dihitung indeks fiskal netto dari setiap daerah. Data yang seharusnya digunakan dalam perhiitungan DAK adalah realisasi PAD berdasarkan hasil audit BPK atas APBD 2013 baik yang sudah di Perda-kan dalam Perda Pertanggungjawaban maupun belum. Namun pada kenyataannya sampai pada batas waktu yang telah ditentukan, tidak semua data tersebut tersedia sehingga perlu ada perlakuan berbeda untuk daerah dengan data yang belum diaudit. Perlakuan tersebut dengan cara mengalikan data anggaran dengan faktor pengali PAD yang dihitung dari rata-rata realisasi PAD secara nasional dibandingkan dengan rata-rata PAD data anggaran tahun yang sama.

Pengolahan data yang tersedia menjadi data yang sesuai seperti langkah sebelumnya untuk mendapatkan angka fiskal netto atau kemampuan keuangan daerah. Jumlah tertentu KKD dapat diubah dalam bentuk indeks sehingga dapat dilihat indeks fiskal netto (IFN) dari

masing-masing daerah. Perbedaan alokasi DAK TA. 2015 dengan formulasi DAK sebelumnya yaitu adanya klasifikasi IFN dimana IFN dengan kategori tinggi langsung dikeluarkan dan tidak dimasukkan dalam proses perhitungan selanjutnya.

IFN daerah untuk masing-masing kab/ kota maupun provinsi dibagi menjadi empat kategori seperti dibawah ini:

1. IFN Rendah Sekali IFN ≤ 1

2. IFN Rendah 1 < IFN ≤ ∝ 3. IFN Sedang ∝<IFN≤ ∝ 4. IFN Tinggi IFN > ∝2

Dimana:

∝ : Nilai rata-rata dari dua angka (1 dan IFN tertinggi) ∝ : Nilai rata-rata dari dua angka (1 dan ∝

Jika terdapat IFN yang tinggi maka daerah tersebut dianggap tidak layak menjadi penerima DAK meskipun daerah tersebut sudah dianggap layak menjadi penerima DAK oleh dua kriteria sebelumnya.

Sumber: Kementerian Keuangan (2015)

Gambar 4 Alur penentuan daerah penerima DAK formula alternatif

b. Penentuan Besaran Alokasi DAK

Tahap selanjutnya setelah mengetahui jumlah daerah yang layak menerima DAK maka dapat ditentukan bobot DAK per bidangnya. Dalam penentuan bobot

NO NO NO YES NO YES YES NO

KRITERIA TEKNIS KRITERIA KHUSUS KRITERIA UMUM

Data Teknis per Bidang dari

masing-masing K/L PAD,DAU,DBH.

Belanja PNSD UU Otsus Papua

dan Papua Barat

Karakteristik Daerah 1. Tertinggal 2. Pesisir Kepulauan 3. Perbatasan Indeks Teknis (IT) Termasuk Otsus P dan PB IKW Indeks Fiskal Netto (IFN) IFN RS IKW>1

DAERAH TIDAK LAYAK DAERAH LAYAK YES NO YES YES IFN Tinggi IT>0 IT S/T IFN Tinggi 17

18

= +

���� ����� −( )

= 1+ 2+ 3+⋯+

DAK ini, menentukan kategori IT yang sebelumnya yaitu Rendah, Sedang, dan Tinggi.

Untuk menentukan besaran yang layak diterima oleh masing-masing daerah pada masing-masing bidang digunakan empat kategori yang telah diungkapkan sebelumnya. Alokasi ditetapkan dengan formulasi tertentu dengan batas besaran alokasi maksimal sebesar IT dikali IKK dan pagu. Dalam reformulasi ini IT dan IFW digunakan sebagai faktor pengurang. Kriteria yang menjadikan daerah tersebut layak menerima DAK turut menentukan besaran alokasi DAK, perhitungannya seperti yang ditampilkan oleh Tabel 2.

Tabel 2 Kriteria penentuan bobot DAK

Dengan penggunaan reformulasi ini alokasi akan tetap di prioritaskan kepada daerah dengan kemampuan fiskal yang rendah, tetapi besaran alokasinya tidak melebihi kebutuhan teknisnya. Setelah diketahui bobot DAK per daerah per bidangnya (BD) kemudian dapat dihitung jumlah alokasi per bidang menggunakan informasi BD yang telah diketahui sebelumnya, dan pada akhirnya dapat diketahui alokasi untuk setiap daerah, dengan cara seperti berikut:

...(16) ...(17) Dimana:

AM : Alokasi Minimal

N : Jumlah Daerah Penerima DAK Bidang i n : Jumlah Bidang

Analisis Koefisien Korelasi

Menurut Juanda (2009), dalam menganalisis dan mengukur keeratan hubungan linier antara dua peubah metrik (berskala interval), peneliti sering menggunakan koefisien korelasi. Besaran koefisien korelasi belum tentu menggambarkan hubungan sebab akibat antara dua peubah tetapi hanya menggambarkan keterkaitan linier antar dua peubah. Dari data populasi koefisien

korelasi sering dinotasikan dengan ρ dan koefisien korelasi yang dihitung dari

contoh sering di notasikan dengan r. Nilai koefisien korelasi berkisar dari -1 dan 1. Nilai yang semakin mendekati 1 atau -1 menunjukkan eratnya hubungan antara kedua peubah tersebut.

Nilai r yang mendekati nol menggambarkan hubungan kedua peubah tersebut tidak linier dan jika besaran koefisien korelasi sama dengan nol tidak dapat langsung ditarik kesimpulan bahwa kedua peubah tersebut tidak memiliki hubungan. Korelasi antar dua peubah bisa dikatakan positif jika trennya adalah

Kriteria Kelayakan/KKD Rendah Sekali Rendah Sedang

Fiskal/Otsus =100%xITxIKK =80%xITxIKK =60%xITxIKK

Kewilayahan =100%xITxIKK =60%xITxIKK =40%xITxIKK

�2= � �=1

� −1

positif dan dikatakan negatif jika memiliki tren yang negatif. Korelasi antara dua peubah x dan y dapat dirumuskan sebagai berikut:

...(18) ...(19) ...(20) ...(21) Dimana :

Sxy : Kovarian antara X dan Y Sx2 : Ragam X

Sy2 : Ragam Y

Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi, dapat disusun hipotesis statistik seperti: H0 : ρ = 0 Vs H1 :ρ ≠ 0

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan setelah menyusus hipotesis statistik adalah menghitung nilai peluang dalam uji hipotesis, dengan menggunakan transformasi sebaran normal baku Z, yang dapat dirumuskan menjadi:

...(22) Dengan kriteria:

a) Terima H0, jika |Z| < Z/2 yang berarti bahwa secara statistik belum dapat dibuktikan bahwa ada korelasi antara kedua peubah tersebut.

b) Tolak H0, jika |Z| > Z/2, yang berarti bahwa secara statistik dapat dibuktikan bahwa ada korelasi antara kedua peubah tersebut.

Dalam pengambilan keputusan dengan kriteria tersebut dapat juga menggunakan angka probabilitas (P-Value) yang dapat diperoleh dengan perhitungan komputer kemudian dibandingkan dengan taraf nyata pengujian yang digunakan baik pada taraf nyata 1%, 5%, maupun 10%.

Dokumen terkait