• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Penelitian

Pertanian merupakan sektor yang sangat strategis dalam perekonomian nasional, khususnya dalam penyediaan kecukupan pangan, perluasan lapangan kerja dan lapangan berusaha, pengentasan kemiskinan, serta peningkatan produk domestik bruto dan pendapatan petani. Untuk mewujudkan harapan tersebut diperlukan SDM aparat pertanian tangguh dengan ciri professional, mandiri, inovatif, kreatif dan berwawasan global yang mampu menjadi fasilitator, motivator dan regulator perlaku usaha pertanian serta mampu membangun sistem agribisnis yang berdaya saing tinggi. Penyuluh sebagai mitra sejajar petani, mempunyai peran penting dalam kegiatan penyuluhan karena penyuluh merupakan ujung tombak pembangunan pertanian. Oleh karena itu, agar penyuluh dapat memberikan layanan professional kepada petani, maka penyuluh perlu memiliki dan meningkatkan kinerja penyuluh. Kinerja penyuluh pertanian ikut berfungsi dalam keberhasilan dan atau kemunduran dalam mencapai produktivitas padi yang tinggi. Sebab kinerja penyuluh pertanian dapat merubah perilaku petani dalam tindakan budidaya padi. Kinerja yang baik dapat merubah perilaku petani menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya bila kinerja penyuluh buruk, maka perilaku petani padi juga menjadi tidak jelas. Oleh sebab itu, perlu adanya upaya peningkatan kinerja penyuluh pertanian melalui program pelatihan dan pendidikan.

Program pelatihan merupakan suatu proses yang didisain untuk mengembangkan kecakapan yang diperlukan bagi aktivitas kerja dimasa datang untuk meningkatkan kinerja pegawai. Menurut Rivai (2004) pelatihan merupakan secara sistematis mengubah tingkah laku karyawan untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, dalam perancangan pelatihan dilakukan untuk membuat program yang terstruktur guna memenuhi sasaran kesenjangan kompetensi karyawan. Menurut Rivai (2004) ada beberapa faktor yang menunjang kearah keberhasilan pelatihan yang kemudian dijadikan indikator pelatihan dalam penelitian ini, yaitu: (1) kesesuaian materi yang dibutuhkan dengan jenis pelatihan, (2) kesesuaian metode yang digunakan dengan jenis pelatihan, (3) kemampuan instruktur pelatihan, (4) sarana pembelajaran, (5) peserta pelatihan, dan (6) evaluasi pelatihan.

Sisi lain, pendidikan merupakan suatu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan umum seseorang termasuk peningkatan penguasaan teori dan kemampuan memutuskan persoalan-persoalan yang menyangkut kegiatan mencapai tujuan

(Suprihanto 1988). Menurut Darma (2012) ada beberapa indikator yang digunakan dalam mengukur tingkat pendidikan yang kemudian dijadikan indikator pendidikan

dalam penelitian ini, antara lain: (1) latar belakang pendidikan terakhir, (2) kesesuaian pendidikan terhadap pekerjaan saat ini, dan (3) kesesuaian pendidikan

terhadap program penyuluhan. Sedangkan kinerja seorang penyuluh pertanian dapat

diukur dari (1) kemampuan penyuluh pertanian untuk memahami program, (2) penilaian penyuluh pertanian terhadap kemampuannya dalam penguasaan

lapangan, (3) kemampuan penyuluh pertanian dalam memahami prosedur/metode kerja, (4) kualitas dan kuantitas pekerjaan, (5) kedisiplinan penyuluh pertanian, dan (6) kemampuan penyuluh pertanian dalam menyampaikan reporting baik dalam hal dokumentasi, penulisan dan lisan. Keenam aspek ini merupakan hasil yang disintetiskan Darma (2012).

Analisis SEM

Keterangan: --- Ruang Lingkup Penelitian

Gambar 2 Kerangka konsep alur pemikiran

Obyek dan Lokasi Pelaksanaan Penelitian

Obyek dan lokasi penelitian ini adalah di BKP5K Kabupaten Bogor Jl. Letjen Ibrahim, Kelurahan Sindang Barang, Kecamatan Bogor Barat.Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja.

BKP5K

(Badan Ketahan Pangan dan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan

Kehutanan)

Visi dan Misi BKP5K

Sumber Daya Manusia

Pelatihan Pendidikan

Jenis data dan Sumber Data

Penulis melakukan penelitian untuk mendapatkan data mengenai objek yang diteliti, Data tersebut dikelompokkan kedalam 2 jenis, yaitu:

1. Data Primer

Data yang diambil secara langsung oleh penulis melalui: a. Interview (wawancara)

Yaitu melakukan wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait dalam instansi BKP5K dan mempunyai wewenang untuk memberikan informasi yang dibutuhkan dan mempunyai hubungan langsung dengan masalah yang tengah diteliti oleh penulis.

b. Kuisioner

Yaitu proses memperoleh data dengan cara mengumpulkan data melalui daftar pertanyaan atau penyebaran angket kepada para responden dan dibuat dalam bentuk pernyataan yang bersifat tertutup dan setiap objek diminta untuk memilih salah satu alternatif jawaban yang telah ditentukan.

c. Observasi

Yaitu suatu cara pengumpulan data dengan meninjau langsung kepada objek yang diteliti. Observasi yang dilakukan terkait dengan hal pelatihan, pendidikan dan kinerja penyuluh pertanian.

2. Data Sekunder

Data yang diambil secara tidak langsung, seperti data yang telah diolah instansi BKP5K, data mengenai jumlah karyawan, struktur organisasi, dan lain-lain serta dari berbagai referensi buku, makalah, materi perkuliahan yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti.

Populasi dan Sampel

Menurut Arikunto (2002) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Menurut Riduwan (2004), populasi merupakan keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran yang menjadi objek penelitian. Maka dari pendapat-pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa populasi merupakan obyek atau subyek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh pegawai penyuluh pertanian pada BKP5K Kabupaten Bogor yang memiliki jumlah pegawai 299 orang penyuluh pertanian. Metode pemilihan sampel yang digunakan berdasarkan teknik nonprobability sampling di mana pengumpulan informasi dan pengetahuan dari responden menggunakan cara sengaja (purposive sampling method). Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian adalah 100 responden dan analisis data dilakukan secara analisis deskriptif dan analisis model SEM dengan bantuan software Lisrel versi 8.3.

Tabel 3 Jumlah populasi dan sampel penelitian pada BKP5K

No Status Jumlah Pegawai (Populasi) Jumlah Sampel

1 Penyuluh Pertanian PNS 158 53

2 Penyuluh Pertanian Honorer 141 47

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara melalui instrumen kuisioner atau daftar pertanyaan. Wawancara dilakukan oleh peneliti dengan menemui langsung responden secara tatap muka.Pertanyaan- pertanyaan dalam kuesioner dibuat berdasarkan skala Likert. Daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden berupa pertanyaan tertetutup dan daftar pertanyaan terbuka. Daftar pertanyaan tertutup digunakan untuk memperoleh data yang merepresentasikan indikator-indikator dari setiap dimensi variabel dalam penelitian ini, sedangkan daftar pertanyaan terbuka digunakan untuk menggali informasi lebih dalam mengenai umur, jenis kelamin, pendidikan, dan lama bekerja.

Rensis Likert adalah penemu skala likert yang mana skala ini sering digunakan secara luas dalam meminta responden menandai derajat persetujuan atau ketidak setujuan terhadap masing-masing serangkaian pertanyaan mengenai obyek stimulus (Malhotra 2005). Pengukuran dengan skala likert dapat mengetahui sikap responden terhadap sesuatu dan responden diminta menilai dengan skala ordinal berbentuk verbal dalam jumlah kategori tertentu. Selanjutnya, penentuan jumlah skala likert juga merupakan hal yang penting dalam penelitian, dimana penentuan skala likert sangat terkait dengan subjektifitas peneliti.Penelitian ini menggunakan skala Likert yang dimodifikasi menjadi empat kategori pilihan, yang ditampilkan pada Tabel 4. Alasan menggunakan empat kategori pilihan dalam penelitian ini adalah untuk menghindari kecenderungan responden menjawab netral yang menyebabkan bias tanggapan (Malhotra 2005).

Tabel 4 Skor skala likert

NO Kriteria Jawaban Skoring

1 Sangat Tidak Setuju 1

2 Tidak Setuju 2

3 Setuju 3

Definisi Konseptual dan Operasional Variabel

Definisi konseptual dan operasional variabel dapat digunakan untuk menjelaskan tentang konsep yang digunakan dalam penelitian dan bagaimana suatu variabel diukur, sehingga pengukuran tersebut dapat dinilai. Oleh sebab itu, untuk menyamakan persepsi dan kesamaan konsep dalam mengartikan istilah, maka perlu ditegaskan beberapa istilah sebagai beriku:

1) Definisi Konseptual dan Operasional Pelatihan

Secara konseptual berdasarkan teori-teori yang dijelaskan pada bab terdahulu, dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah merupakan suatu usaha peningkatan pengetahuan dan keterampilan seorang pegawai untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir guna mencapai tujuan organisasi.

Instrumen pelatihan menggunakan teori yang dikemukakan Rivai (2004), yaitu: (1) kesesuaian materi yang dibutuhkan dengan jenis pelatihan, (2) kesesuaian metode yang digunakan dengan jenis pelatihan, (3) kemampuan instruktur pelatihan, (4) sarana pembelajaran, (5) peserta pelatihan, dan (6) evaluasi pelatihan.

2) Definisi Konseptual dan Operasional Pendidikan

Pendidikan merupakan merupakan suatu kegiatan untuk memperbaiki kemampuan pegawai dengan cara meningkatkan pengetahuan dan pengertian tentang pengetahuan umum, termasuk peningkatan penguasaan teori pengambilan keputusan dalam menghadapi persoalan-persoalan organisasi. Secara definisi operasional, pendidikan adalah suatu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan umum seseorang termasuk peningkatan penguasaan teori dan kemampuan memutuskan terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kegiatan mencapai tujuan secara spesifik

terwujud dalam indikator-indikator: (1) latar belakang pendidikan terakhir, (2) kesesuaian pendidikan terhadap pekerjaan saat ini, dan (3) kesesuaian pendidikan

terhadap program penyuluhan. Ketiga aspek ini merupakan hasil yang disintetiskan Darma (2012).

3) Definisi Konseptual dan Operasional Kinerja

Secara konseptual berdasarkan teori-teori yang dijelaskan pada bab terdahulu, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil dari proses pekerjaan tertentu secara terencana pada waktu dan tempat tertentu dari karyawan, serta perusahaan bersangkutan. Sedangkan definisi operasional kinerja, kinerja memiliki makna yang lebih luas bukan hanya sebatas hasil kerja tetapi termasuk bagaimana proses kerja

berlangsung yang secara spesifik dapat terwujud dalam indikator-indikator: (1) kemampuan penyuluh pertanian untuk memahami program, (2) penilaian

penyuluh pertanian terhadap kemampuannya dalam penguasaan lapangan, (3) kemampuan penyuluh pertanian dalam memahami prosedur/metode kerja, (4) kualitas dan kuantitas pekerjaan, (5) kedisiplinan penyuluh pertanian, dan (6) kemampuan penyuluh pertanian dalam menyampaikan reporting baik dalam hal dokumentasi, penulisan dan lisan. Keenam aspek ini merupakan hasil yang disintetiskan Darma (2012).

Hal tersebut dapat digambarkan pada kerangka operasional variabel seperti tercantum pada Gambar 3.

Gambar 3 Kerangka operasional variabel Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Hipotesis pertama (H1)

H01 : Pelatihan tidak mempunyai pengaruh terhadap kinerja penyuluh pertanian di BKP5K Kabupaten Bogor.

H11 : Pelatihan mempunyai pengaruh terhadap kinerja penyuluh pertanian di BKP5K Kabupaten Bogor.

2. Hipotesis kedua (H2)

H02 : Pendidikan tidak mempunyai terhadap kinerja penyuluh pertanian di BKP5K Kabupaten Bogor.

Mengetahui pengaruh pelatihan dan pendidikan terhadap kinerja penyuluh pertanian

Pelatihan

 Kesesuaian materi yang dibutuhkan dengan jenis pelatihan (X1).

 Kesesuaian metode yang digunakan dengan jenis pelatihan (X2).

 Kemampuan instruktur pelatihan (X3)

 Sarana pembelajaran (X4).

 Peserta pelatihan (X5)

 Evaluasi pelatihan (X6)

Pendidikan

 Latar belakang pendidikan terakhir (X7)

 Kesesuaian pendidikan terhadap pekerjaan saat ini (X8)

 Kesesuaian pendidikan terhadap program penyuluhan (X9)

Kinerja Penyuluh Pertanian

 Kemampuan penyuluh pertanian untuk memahami program (Y1).

 Penilaian penyuluh pertanian terhadap kemampuannya dalam penguasaan lapangan (Y2).

 Kemampuan penyuluh pertanian dalam memahami prosedur/metode kerja (Y3).

 Kualitas dan kuantitas pekerjaan (Y4).

 Kedisiplinan penyuluh pertanian (Y5).

 Kemampuan penyuluh pertanian dalam menyampaikan reporting baik dalam hal dokumentasi, penulisan dan lisan (Y6).

H12 : Pendidikan mempunyai pengaruhi terhadap kinerja penyuluh pertanian di BKP5K Kabupaten Bogor.

Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah agar memiliki makna yang berguna untuk memecahkan masalah yang diteliti. Untuk data-data kualitatif dilakukan analisis deskriptif, sedangkan pengolahan data kualitatif dilakukan analisis deskriptif, sedangkan pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan kode (coding) untuk menyeragamkan data. Minitab 14 digunakan untuk mengkonversi data kuesioner yang berbentuk skala ordinal ke dalam skala interval. Kemudian, pengolahan data dilakukan dengan menggunakan tehnik SEM dengan bantuan software Lisrel versi 8.3. Adapun untuk keperluan penolakan atau penerimaan hipotesis, penulis menggunakan taraf signifikan 5 persen.

Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah analisis yang berkaitan dengan pengumpulan data dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna. Analisis deskriptif dilakukan dengan cara menabulasi hasil kuisioner secara manual yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan terakhir dan lama waktu bekerja.

Analisis SEM

Menurut Sitinjak dan Sugiarto (2006) dalam Idaman (2012), Structural Equation Modelling (SEM) merupakan suatu teknik statistik yang mampu menganalisis variabel laten, variabel indikator, dan kesalahan pengukuran secara langsung. Sedangkan menurut Ghozali (2008), menjelaskan model persamaan structural (structural equation modeling) adalah generasi kedua teknik analisis multivariate yang memungkinkan peneliti menguji hubungan antar variabel yang komplek baik recursive maupun non recursive untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai keseluruhan model. Oleh sebab itu, dengan SEM kita mampu menganalisis hubungan antara variabel laten dengan variabel indikatornya, hubungan antara variabel laten yang satu dengan variabel laten yang lain, juga mengetahui besarnya kesalahan pengukuran.

Sebagai teknik statistik multivariat dependensi, SEM memungkinkan untuk menganalisis satu atau lebih variabel independen dengan satu atau lebih variabel dependen. SEM mampu menganalisis variabel laten, variabel indikator, serta mampu menghitung kesalahan pengukuran dalam model secara langsung. Sitinjak dan Sugiarto (2006) dalam Idaman (2012), menyatakan SEM mengandung dua teknik analisis statistik yaitu Simultaneous Equation Regression (multiple regression) dan Confirmatory Factory Analysis. Pembentukan model SEM akan diolah dengan menggunakan software LISREL.

Telah diketahui bahwa dalam SEM terdapat dua jenis model yaitu model struktural dan model pengukuran. Adapun model struktural dan model pengukuran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Model Struktural

1= 11ξ1+ 21ξ2+ ... 1 2= 11ξ1+ 21ξ2+ 2... 2 3= 11ξ1+ 21ξ2+ 3... 3 4= 1 1+ 2 2+ 3 3+ 4... 4

Βij : Hubungan Antar Peubah 4

i : Peubah laten tak bebas, AttitudeTowardBehavior ( 1),SubjectiveNorms

( 2), PerceivedBehaviorControl ( 3),Intention ( 4)

ξi : Peubah laten bebas ke i, terdiri dari dimensi BehavioralBeliefs

(ξ1),OutcomeEvaluation (ξ2),NormatifBelief (ξ3),MotivationtoComply

(ξ4),ControlBelief (ξ5),ControlofFactor (ξ6) ij : Besar (faktor muatan) ξidalam membentuk j

4 : Tingkat kesalahan yang terjadi pada perhitungan peubah b. Model Pengukuran

X1= λ (x)ijξj+ ... 5 Y1= λ (y)ij j + i... 6 dimana:

Xi : Peubah indikator X pembentuk laten bebas ξi Yi : Peubah indikator Y pembentuk laten tak bebas

λij : Besar (faktor muatan) Xi dalam membentuk atau besar (faktor muatan) Yi dalam membentuk nj

i : Tingkat kesalahan yang terjadi pada perhitungan peubah Xi i : Tingkat kesalahan yang terjadi pada perhitungan peubah Yi c. Kriteria Pemilihan Model Terbaik

Kriteria model yang baik pada penelitian ini mengacu pada Sharma (1996) yang menyatakan bahwa untuk membedakan kesesuaian suatu model dengan model yang lainnya memerlukan tiga uji kelayakan, yaitu:

1. GoodnessofFitIndex (GFI). GFI mempresentasikan persen keragaman sampel yang dapat diterangkan oleh model. Model dengan nilai GFI ≥ 0.90 dapat dikatakan model sudah didukung oleh data empiris.

2. Adjusted GFI (AGFI). AGFI adalah modifikasi dari GFI dengan mengakomodasi derajat bebas model. Model yang sesuai dengan data empriiris adalah model

dengan nilai AGFI ≥ 0.80.

3. RootMeanSquareResidual (RMSR) digunakan untuk membandingkan dua model dari data yang sama. Model yang memiliki nilai RMSR lebih kecil dibandingkan yang lainnya, dikatakan model tersebut lebih baik dalam mengepas data.

Pemodelan SEM yang baik juga harus mengikut kritteria kecocokan model pengukuran dengan uji validitas dan reliabilitas. Agar data yang disajikan dikatakan valid menurut Ridgon dan Ferguson (1991) dalam Wijanto (2008), suatu variabel dikatakan mempunyai tingkat valid, jika nilai uji t muatan faktornya (factor loading)

lebih besar dari nilai kritis (1.96) atau ≥ β.00 serta muatan faktor stadarnya

dikatakan reliabel menurut sumber yang sama apabila composite reability measure atau ukuran reliabilitas komposit atau disebut juga construct realibility (CR) dan varianceextractedmeasure (VE) atau ukuran ekstrak varian memenuhi ketentuan:

1. Nilai CR ≥ 0,70 dimana CR = (Σλ)2 _ ; dan

(Σλ)2+ Σ

ei... 7 2. Nilai VE ≥ 0,ε0 dimana VE = Σλ2 _

Σλ2+ Σ

ei... 8 Keterangan : λ = standard loading

ei = error variabel ke-i

Structural Equation Model (SEM) digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh pelatihan dan pendidikan terhadap kinerja penyuluh pertanian pada BKP5K Kabupaten Bogor. Diagram tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.

1 1

1

2

6

9

Gambar 4 Diagram alur penelitian Keterangan:

= Gamma (kecil), koefisien pengaruh eksogen terhadap endogen = Delta (kecil), galat pengukuran pada variabel laten eksogen.

= Epsilon (kecil), galat pengukuran pada variabel laten endogen. X1.1 = Kesesuaian materi yang dibutuhkan dengan jenis pelatihan. X1.2 = Kesesuaian metode yang digunakan dengan jenis pelatihan X1.3 = Kemampuan instruktur pelatihan.

X1.4 = Sarana pembelajaran. X1.5 = Peserta pelatihan X1.6 = Evaluasi pelatihan Y3 X1.5 X1.6 X1.2 X1.1 Y1 Pelatihan (X1) X1.3 Y2 Kinerja Penyuluh Pertanian (Y) X1.4 Y4 Y5 X2.2 X2.1 Y6 Pendidikan (X2) X2.3

X2.1 = Latar belakang pendidikan terakhir.

X2.2 = Kesesuaian pendidikan terhadap pekerjaan saat ini. X2.3 = Kesesuaian pendidikan terhadap program penyuluhan. Y1 = Kemampuan penyuluh pertanian untuk memahami program . Y2 = Penilaian penyuluh pertanian terhadap kemampuannya dalam

penguasaan lapangan.

Y3 = Kemampuan penyuluh pertanian dalam memahami prosedur/metode kerja.

Y4 = Kualitas dan kuantitas pekerjaan. Y5 = Kedisiplinan penyuluh pertanian.

Y6 = Kemampuan penyuluh pertanian dalam menyampaikan reporting baik dalam hal dokumentasi, penulisan dan lisan.

4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait