Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, dimana pemilihan lokasi ini dilakukan secara purposive (sengaja) didasarkan pada pertimbangan bahwa Kabupaten Pasaman merupakan salah satu sentra produksi kakao di Sumatera Barat. Daerah ini juga merupakan kawasan agropolitan dengan sebagian besar masyarakatnya melakukan kegiatan pertanian. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2014 hingga November 2014.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Perolehan data primer dari hasil wawancara yang dilakukan secara langsung dengan para informan yang memiliki kompetensi dan telibat pada aktivitas pemasaran biji kakao serta observasi lapangan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari penelitian terdahulu atau literatur terkait pemasaran produk pertanian. Data sekunder juga digunakan sebagai data pelengkap dalam penelitian dan dapat diperoleh dari berbagai instansi terkait, seperti Dinas Pertanian Sumatera Barat, Badan Pusat Statistik, jurnal nasional maupun internasional.
Metode Pengambilan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data primer adalah metode survey dengan melakukan observasi langsung di lapangan dan pengisian kuisioner melalui wawancara langsung kepada petani dan lembaga pemasaran yang menjadi responden penelitian. Adapun tujuan dari metode ini untuk memperoleh gambaran pemasaran biji kakao yang terdapat di Kabupaten Pasaman Sumatera Barat.
Metode Penentuan Sampel
Responden dalam penelitian ini adalah petani dan lembaga pemasaran biji kakao di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Pemilihan kecamatan dilakukan dengan pertimbangan karakteristik yang sama yaitu kecamatan yang menghasilkan produksi kakao terbesar. Jumlah petani responden yang dijadikan sampel sebanyak 45 orang yang tersebar di tiga kecamatan diantaranya Kecamatan Bonjol, Kecamatan Lubuk Sikaping, dan Kecamatan Rao Selatan. Tiga kecamatan tersebut merupakan daerah yang memiliki jumlah produksi tetinggi dan luas lahan terbesar di Kabupaten Pasaman. Penentuan responden petani dilakukan secara purposive sampling dengan pertimbangan petani responden adalah petani yang melakukan penjemuran dan penjualan biji kakao. Penentuan responden lembaga pemasaran dilakukan dengan tehnik snowball sampling, karena tidak diketahui secara pasti jumlah populasi lembaga pemasaran yang terlibat. Jumlah responden lembaga pemasaran yang diambil sebanyak 19
orang yang terdiri dari petani bandar, pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang pegumpul tingkat kecamatan, dan pedagang besar.
Metode Pengolahan dan Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis pemasaran biji kakao dengan pendekatan kerangka Food Supply Chain Networking (FSCN). Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis efisiensi kinerja pemasaran biji kakao dengan pendekatan efisiensi pemasaran dan Data Envelopment Analysis (DEA).
Metode Analisis Rantai Pasok Biji Kakao
Pemasaran biji kakao dianalisis dengan menggunakan metode pengembangan rantai pasok yang mengikuti kerangka Food Supply Chain Networking (FSCN) dari Lambert dan Cooper (2000) yang kemudian dimodifikasi oleh Van der Vorst (Vorst 2006). Pada kerangka FSCN sejumlah karakteristik yang khas dari rantai pasok dapat diidentifikasi dengan membedakan enam unsur berikut yang digunakan untuk menganalisis dan mengembangkan rantai pasok yaitu pada Gambar 9:
Gambar 9 Kerangka analisis deskriptif rantai pasok
Sumber: Vorst (2006) Sasaran Rantai Pasok Manajemen Rantai Pasok Proses Bisnis Rantai Pasok Kinerja Rantai Pasok Struktur Rantai Pasok Sumberdaya Rantai Pasok
Hubungan proses bisnis, Pola distribusi, Anggota pendukung, Perencanaan dan penelitian kolaboratif, Jaminan identitas merek, Aspek risiko, dan Trust building
- Anggota-anggota FSCN - Peran setiap anggota
FSCN
- Pemilihan mitra
- Kesepakatan kontraktual - Sistem transaksi - Dukungan pemerintah - Kolaborasi rantai pasok
- Sumberdaya fisik - Sumberdaya teknologi - Sumberdaya manusia - Sumberdaya modal
Kerangka FSCN memiliki garis hubung yang menghubungkan setiap elemen. Garis hubung satu arah menggambarkan bahwa satu elemen memengaruhi elemen lainnya. Sedangkan garis hubung dua arah menandakan terdapat hubungan saling memengaruhi diantara kedua elemen. Keenam elemen dalam kerangka FSCN adalah:
1. Sasaran rantai pasok akan dijelaskan melalui sasaran pasar dan sasaran pengembangan. Sasaran pasar menjelaskan bagaimana model rantai pasok berlangsung terhadap produk yang dipasarkan. Sedangkan sasaran pengembangan menjelaskan target dalam rantai pasok yang akan dikembangkan oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
2. Struktur rantai pasok akan dijelaskan dalam dua bagian yaitu; (a) menggambarkan anggota utama atau aktor dari jaringan, dan dijelaskan pula peran tiap anggota rantai pasok; (b) menggambarkan elemen-elemen di dalam rantai pasok yang mampu mendorong terjadinya proses bisnis. Kuncinya adalah untuk memilah-milah mana anggota sangat penting untuk keberhasilan rantai pasok yang sejalan dengan tujuan rantai pasok, dengan demikian, harus dialokasikan perhatian kepada manajerial dan sumberdaya.
3. Proses bisnis rantai pasok yang terstruktur, kegiatan bisnis yang terukur dirancang untuk menghasilkan output tertentu (yang terdiri atas tipe fisik produk, layanan dan informasi) untuk pelanggan tertentu atau pasar. Dalam proses bisnis rantai pasok dapat dilihat apakah keseluruhan alur rantai pasok sudah terintegrasi satu sama lain dengan setiap anggota rantai pasok dan apakah sudah berjalan dengan baik atau tidak serta menjelaskan bagaimana melalui suatu tindakan strategik tertentu mampu mewujudkan rantai pasok yang terintegrasi.
4. Manajemen rantai pasok menggambarkan bentuk koordinasi dan struktur manajemen dalam jaringan yang memfasilitasi proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan proses oleh anggota dalam rantai pasok, dengan memanfaatkan sumberdaya yang teradapat dalam rantai pasok dengan tujuan untuk mewujudkan tujuan kinerja rantai pasok. Dengan adanya manajemen rantai pasok dapat diketahui pihak mana yang bertindak sebagai pangatur dan pelaku utama dalam rantai pasok. Beberapa hal yang perlu dilihat juga adalah pemilihan mitra, kesepakatan kontrak dan sistem transaksi, dukungan pemerintah dan kolaborasi rantai pasok.
5. Sumberdaya rantai pasok yang digunakan untuk menghasilkan produk dan mengirimkannya kepada pelanggan (disebut transformasi sumberdaya). Sumberdaya rantai pasok dapat berupa sumberdaya fisik, teknologi, sumberdaya manusia, dan permodalan.
6. Kinerja rantai pasok; setelah kelima elemen dianalisis secara deskriptif, kinerja rantai pasok dinilai dengan perhitungan kuantitatif. Selain itu juga, penilaian kinerja dari rantai pasok perlu dilakukan untuk memenuhi kepuasan konsumen dan seluruh anggota rantai pasok. Pengukuran kinerja rantai pasok dapat dilihat dengan melihat efisiensi pemasaran yang mencerminkan efisensi rantai pasok.
Metode Analisis Saluran dan Fungsi Pemasaran
Analisis lembaga pemasaran digunakan untuk mengetahui lembaga-lembaga pemasaran yang melakukan fungsi-fungsi pemasaran, yaitu fungsi
pertukaran, fungsi fisik, dan juga fungsi fasilitas. Lembaga-lembaga ini juga berfungsi sebagai sumber informasi mengenai suatu barang dan jasa. Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergatung yang terlibat dalam proses untuk menjadikan suatu produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Analisis saluran pemasaran menggambarkan rantai distribusi yang terjadi antara titik produksi hingga titik konsumsi dan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang terkait dalam saluran pemasaran tersebut. Alur pemasaran tersebut dijadikan dasar dalam menggambar pola saluran pemasaran. Analisis dilakukan secara deskriptif dan perbandingan.
Analisis fungsi pemasaran digunakan untuk mengetahui kegiatan pemasaran yang dilakukan lembaga pemasaran dalam menyalurkan produk dari produsen sampai ke konsumen. Analisis fungsi pemasaran dapat dilihat dari fungsi pertukaran yang terdiri dari fungsi pembelian dan penjualan, fungsi fisik yang terdiri dari fungsi pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan, serta fungsi fasilitas yang terdiri dari standarisasi/grading, penanggungan risiko, pembiayaan dan informasi pasar. Data yang diperoleh tersebut disajikan dalam bentuk tabulasi data sederhana. Selain itu data tersebut juga akan dideskripsikan sehingga dapat melihat perubahan nilai guna, baik nilai guna bentuk, tempat, waktu, ataupun kepemilikan.
Metode Analisis Kinerja Pemasaran Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga di tingkat petani produsen (Pf) dengan harga ditingkat konsumen akhir (Pr) dengan demikian marjin pemasaran adalah MT = Pr - Pf. Melalui penelusuran saluran pemasaran, diharapkan dapat diperoleh informasi tentang marjin pada tiap lembaga pemasaran. Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga diantara lembaga pemasaran. Analisis marjin pemasaran digunakan untuk melihat tingkat efisiensi pemasaran biji kakao. Marjin pemasaran dihitung berdasarkan pengurangan harga penjualan dengan harga pembelian pada setiap tingkat lembaga pemasaran. Besarnya marjin pemasaran pada dasarnya merupakan penjumlahan dari biaya-biaya pemasaran dan keuntungan yang diperoleh dari lembaga pemasaran. Analisis marjin pemasaran dapat dipakai untuk melihat keragaan pasar yang terjadi. Menurut Limbong dan Sitorus (1987), perhitungan marjin pemasaran secara matematis dapat dilihat sebagai berikut:
Mi = Hji – Hbi ………. (1)
Mi = Ci + πi ………. (2)
Sehingga:
Hji –Hbi = Ci + πi ………. (1) dan (2)
Berdasarkan persamaan di atas, maka keuntungan pemasaran pada tingkat ke-i adalah:
πi = Hji – Hbi – Ci... (3)
Maka besarnya marjin pemasaran adalah:
Keterangan:
Mi = Marjin pemasaran pada pasar tingkat ke-i (Rp/kg) Hj = Harga penjualan pada pasar tingkat ke-i (Rp/kg) Hbi = Harga pembelian pada pasar tingkat ke-i (Rp/kg) Ci = Biaya pembelian pada pasar tingkat ke-i (Rp/kg)
πi = Keuntungan pemasaran pada pasar tingkat ke-i (Rp/kg)
i = 1,2,3,…….,n
MT = Total marjin pemasaran
Sumber: Kohls dan Uhl (2002) Farmer’s share
Farmer’s share adalah proporsi dari harga yang diterima petani produsen dengan harga yang dibayar oleh konsumen akhir yang dinyatakan dalam persentase. Farmer’s share dapat digunakan dalam menganalisis efisiensi saluran pemasaran dengan membandingkan seberapa besar bagian yang diterima oleh petani dari harga yang dibayarkan konsumen akhir.
Jika harga yang ditawarkan pedagang/lembaga pemasaran semakin tinggi dan kemampuan konsumen dalam membayar harga semakin tinggi, maka bagian yang diterima oleh petani akan semakin sedikit. Hal ini dikarenakan petani menjual komoditinya dengan harga yang relatif rendah. Dengan demikian dapat diketahui Farmer’s share berhubungan negatif dengan marjin pemasaran, artinya semakin tinggi marjin pemasaran maka bagian yang akan diperoleh petani (Farmer’s share) semakin rendah. Farmer’s share akan menunjukkan apakah pemasaran memberikan balas jasa yang seimbang kepada semua pihak yang terlibat dalam pemasaran. Secara matematis farmer’s share dapat dirumuskan dengan:
Keterangan :
FS = Persentase bagian yang diterima petani (persen) Pr = Harga di tingkat konsumen (Rp/kg)
Pf = Harga di tingkat petani (Rp/kg) Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya
Rasio keuntungan dan biaya pemasaran merupakan besarnya keuntungan yang diterima lembaga pemasaran sebagai imbalan atas biaya pemasaran yang dikeluarkan. Penyebaran marjin pemasaran dapat pula dilihat berdasarkan persentase keuntungan terhadap biaya pemasaran pada masing-masing lembaga pemasaran. Rasio keuntungan dan biaya setiap lembaga pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio Keuntungan dan Biaya = Keuntungan ke-i
Biaya ke-i
Keterangan:
Keuntungan ke-i = Keuntungan lembaga pemasaran (Rp/kg) Biaya ke-i = Biaya lembaga pemasaran (Rp/kg)
Apabila π/c lebih dari satu (π/c > 1), maka usaha tersebut efisien, dan
Pemasaran yang efisien dapat juga dilihat melalui sebaran nilai rasio terhadap biaya yang merata pada setiap lembaga pemasaran dalam saluran pemasaran. Metode Data Envelopment Analysis (DEA)
DEA merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengukur kinerja decision making unit (DMU). Prinsip kerja model DEA adalah membandingkan data input dan output dari suatu organisasi (unit pengambilan keputusan/DMU) dibandingkan dengan organisasi lainnya. DEA juga mampu mengetahui target-target nilai yang harus dicapai agar menghasilkan kinerja yang efisien dengan cara memaksimalkan output atau meminimalkan input. Beberapa asumsi dalam penggunaan model DEA menurut Cooper et al. (2002), yaitu:
1. Semua variabel input dan output bernilai positif atau lebih besar dari nol. 2. Seluruh DMU memiliki variabel input dan output yang sama jenisnya. 3. Besaran atau ukuran setiap input dan output tidak harus sama.
4. DEA digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja.
Keunggulan model DEA dibandingkan dengan model lainnya, yaitu: 1. DEA mampu mengukur multiple input dan multiple output.
2. DEA tidak memerlukan asumsi terdapat hubungan fungsional antar variabelnya.
3. DMU dibandingkan langsung secara relatif antara satu dengan lainnya. 4. Variabel input dan output dapat memiliki satuan/besaran yang berbeda.
Model DEA yang digunakan pada penelitian ini menggunakan pendekatan Variable Return to Scale karena kegiatan pemasaran yang dilakukan di lokasi penelitian belum mencapai skala optimal. Konsep kinerja pemasaran biji kakao di Kabupaten Pasaman akan dilakukan dengan melihat kinerja pada setiap organisasi atau entitas yang terlibat pada pemasaran diantaranya adalah petani. Selain itu, dalam penelitian ini juga menganalisis saluran yang efisien pada pemasaran biji kakao di Kabupaten Pasaman. Oleh karena itu, terdapat beberapa hal yang dijadikan DMU yang kemudian akan dilihat kinerjanya yaitu petani dan saluran pemasaran. Perbandingan kinerja pemasaran pada masing-masing DMU diharapkan memberikan gambaran saluran pemasaran manakah yang memiliki kinerja pemasaran yang lebih efisien.
Pengukuran kinerja pemasaran memerlukan penentuan input dan output yang akan diukur karena setiap atribut kinerja memiliki indikator kinerja yang berguna untuk mengetahui efisiensi kinerja dari sebuah organisasi. Dalam metode ini ditetapkan faktor-faktor atau variabel yang digunakan sebagai input dan output. Adapun input dan output yang digunakan adalah variabel yang digunakan pada pengukuran efisiensi pemasaran. Selanjutnya data mengenai input dan output diolah dengan metode DEA. Hasil pengolahan dengan menggunakan DEA akan diperoleh kinerja pemasaran biji kakao sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja. Kinerja DMU yang efisien dibandingkan dengan kinerja DMU lainnya.
Terdapat tiga input dan empat output yang digunakan dalam penelitian kinerja pemasaran biji kakao untuk DMU petani. Adapun variabel input terdiri dari: 1) biaya pemasaran (Rp/kg); 2) kadar air (%); 3) jarak (km). Sedangkan untuk variabel output terdiri dari: 1) keuntungan (Rp/kg); 2) farmer’s share (%); rasio keuntungan terhadap biaya dan 3) jumlah penjualan (kg). Sedangkan untuk DMU saluran pemasaran variabel input yang digunakan adalah 1) marjin
pemasaran (Rp) dan 2) biaya pemasaran (Rp/kg). Variabel output yang digunakan adalah 1) keuntungan (Rp/kg); 2) farmer’s share (%); dan 3) rasio keuntungan terhadap biaya.
Gambar 10 Alur cara kerja pengolahan data pada DEA
Sumber: Subarkah (2009)
5 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
Kabupaten Pasaman memiliki luas wilayah sebesar 3 947.63 km2 atau 9.33 persen dari luas wilayah Provinsi Sumatera Barat. Kabupaten Pasaman merupakan kabupaten terluas ketiga di Sumatera Barat yang terdiri dari 12 kecamatan dan 37 Nagari. Secara geografis Kabupaten Pasaman dilalui garis khatulistiwa dengan ketinggian antara 50 meter sampai 2 912 meter di atas permukaan laut. Wilayah Kabupaten Pasaman merupakan Kabupaten paling Utara dari Provinsi Sumatera Barat dan berbatasan dengan yakni:
Bagian Utara : Kab. Mandailing Natal dan Kab. Lawas Provinsi Sumatera Utara Bagian Timur : Kab. Rokan Hulu Provinsi Riau dn Kab. Lima Puluh Kota Bagian Selatan: Kab. Agam
Bagian Barat : Kab. Pasaman Barat
Berdasarkan hasil sensus pertanian 2013, Kecamatan Panti merupakan kecamatan dengan jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak yaitu sebanyak 6 963 rumah tangga. Sedangkan Rao Selatan tercatat sebagai kecamatan dengan jumlah usaha pertanian terbanyak yaitu tiga unit. Jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak di Kabupaten Pasaman adalah subsektor tanaman pangan dan subsektor perkebunan yaitu masing-masing sebanyak 36 524 rumah tangga dan 36 264 rumah tangga. Tabel 3 menampilkan jumlah usaha pertanian menurut subsektor dan jenis usaha di Kabupaten Pasaman berdasarkan ST 2003 dan ST 2013.
Tabel 3 Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Pasaman No Subsektor Pertanian ST2003 ST2013 1 Tanaman Pangan 39 262 36 524 2 Hortikultura 16 550 9 193 3 Perkebunan 30 712 36 264 4 Peternakan 15 456 10 221 5 Perikanan 5 850 4 659 6 Kehutanan 4 690 1 714 7 Jasa Pertanian 1 795 3 856 Sektor Pertanian 46 373 46 556
Sumber: Sensus Pertanian Kabupaten Pasaman (2013)
Berdasarkan data ST2013 penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian terbesar terjadi pada susektor perikanan khusuanya penangkapan ikan. Subsektor tanaman pangan juga mengalami penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian
paling rendah yakni sebesar 2 738 rumah tangga. Sedangkan subsektor kehutanan memiliki rumah tangga usaha paling sedikit diantara subsektor lainnya yaitu hanya sebanya 1 714 rumah tangga. Padahal penggunaan lahan di Kabupaten Pasaman masih didominasi oleh kawasan hutan sedangkan luasan lahan yang digunakan untuk perkebunan berada diurutan ketiga. Tabel 4 menyajikan luasan penggunaan lahan di Kabupaten Pasaman.
Tabel 4 Luas lahan menurut penggunaan di Kabupaten Pasaman tahun 2013 Penggunaan Lahan Luas Lahan (Ha) Persen
Hutan 156 313.00 39.60 Tanah Belukar 30 598.00 7.75 Padang Rumput 61 727.00 15.64 Perairan 9 877.09 2.50 Perkebunan 55 591.17 14.08 Sawah 44 443.03 11.26 Lain-lain 36 213.72 9.17 Total 394 763.01 100.00
Sumber: BPS Kabupaten Pasaman, 2014 (diolah)
Kakao merupakan salah satu komoditi unggulan Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman. Pengembangan kakao di wilayah ini diawali dengan dicanangkannya Sumatera Barat sebagai sentra produksi kakao untuk wilayah Indonesia bagian barat pada tahun 2007. Pencanangan tersebut merupakan bagian dari program peningkatan produktivitas kakao nasional yang dikenal dengan nama Program Gernas. Pemerintah menargetkan pengembangan tanaman kakao hingga 100.000 hektar. Meskipun demikian kualitas masih menjadi permasalahan utama dalam pengembangan kakao di Kabupaten Pasaman. Tahun 2013 luas lahan tanaman kakao di Kabupaten Pasaman seluas 17 082.50 hektar dengan jumlah produksi 15 476.60 ton (BPS 2014). Tabel 5 merupakan perkembangan luas lahan dan produksi tanaman kakao per kecamatan di Kabupaten Pasaman.
Tabel 5 Perkembangan luas lahan dan produksi tanaman kakao per kecamatan di Kabupaten Pasaman tahun 2012-2013
No Kecamatan 2012 2013 Luas lahan (Ha) Produksi (Ton) Luas lahan (Ha) Produksi (Ton) 1 Tigo Nagari 784.00 547.82 790.50 602.00 2 Bonjol 3 291.00 3 279.10 3 304.00 2 972.00 3 Simpang Alahan Mati 3 324.00 3 334.10 3 327.50 3 031.00 4 Lubuk Sikaping 2 417.50 2 096.07 2 453.50 2 333.40 5 Dua Koto 620.00 442.20 722.00 453.20 6 Panti 1 088.50 887.70 1 116.50 967.80 7 Padang Gelugur 818.50 700.70 827.00 764.40 8 Rao 947.50 790.90 971.00 932.40 9 Rao Utara 820.00 710.60 788.50 724.80 10 Rao Selatan 2 049.00 1 958.22 2 065.50 2 205.00 11 Mapat Tunggul 402.00 312.40 414.00 312.40 12 Mapat Tunggul Selatan 266.00 178.20 302.50 178.20 Jumlah 16 828.00 15 238.01 17 082.50 15 476.60 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasaman (2014)
Karakteristik Usahatani Kakao di Kabupaten Pasaman
Pengembangan kakao di Kabupaten Pasaman didominasi oleh kebun rakyat. Hal ini dikarenakan sebagian besar kakao ditanam di pekarangan rumah, tegalan sawah, dan sekitar kebun karet. Kakao sangat cocok ditanam di Sumatera Barat dan dapat tumbuh baik pada kemiringan lahan 20-40 persen. Selain itu kondisi agroklimat Provinsi Sumatera Barat yang lembab sehingga cocok untuk mengembangkan kakao. Berdasarkan hasil observasi di lokasi penelitian bahwa luas lahan kakao yang dimiliki petani masih relatif kecil. Sebagian besar petani responden (42.22 persen) memiliki lahan kakao kurang dari 0.5 hektar, 31.11 persen petani responden memiliki lahan 0.6-1 hektar, dan 26.67 petani responden memiliki lahan lebih dari 1 hektar. Luas lahan terbesar dimiliki petani yaitu tiga hektar. Beberapa petani menanam kakao di pinggir sawah sekaligus menjadikan tanaman kakao sebagai pembatas sawah. Namun umumnya petani menanam kakao pada kebun masing-masing yang lokasinya cukup jauh dari rumah petani.
Sebagian besar bibit kakao yang digunakan petani adalah varietas forestero dan trinitario. Verietas ini mengandung lemak tinggi pada biji dan aroma cokelat pada biji agak kurang. Namun ada juga petani yang menggunakan varietas criolo. Pemilihan bibit yang tepat mempengaruhi perolehan biji yang baik. Beberapa petani responden mengaku bahwa pemerintah Kabupaten Pasaman telah menghimbau kepada petani untuk menggunakan bibit bersertifikat yaitu varietas F1 Jember karena meningkatkan hasil produksi biji kakao petani. Namun banyak juga petani yang masih menggunakan varietas lokal karena pertimbangan varietas lokal lebih cocok dikembangkan di Kabupaten Pasaman dibandingkan dengan varietas F1 Jember.
Berdasarkan pengamatan di lapangan banyak petani yang tidak secara rutin melakukan perawatan tanaman kakao. Padahal perawatan secara rutin mampu meningkatkan hasil dan kualitas biji kakao. Perawatan yang dilakukan pada tanaman kakao diantaranya pemupukan, pemangkasan, penyiraman, dan pengobatan. Kegiatan pemupukan dan pengobatan hanya dilakukan sekali dalam enam bulan oleh petani bahkan banyak petani tidak melakukan kegiatan tersebut. Petani di Kecamatan Bonjol dan Kecamatan Lubuk Sikaping sudah melakukan perawatan tanaman kakao dengan baik. Sedangkan di Kecamatan Rao Selatan perawatan yang dilakukan petani relatif masih rendah. Hasil pengamatan di lokasi penelitian bahwa kualitas biji kakao yang dihasilkan oleh petani di Kecamatan Bonjol dan Lubuk Sikaping lebih baik yakni ukuran biji yang lebih besar dan jumlah biji kakao pada buah lebih banyak dibandingkan dengan biji kakao yang dihasilkan oleh petani di Kecamatan Rao Selatan.
Hama yang banyak menyerang tanaman kakao adalah monyet dan tupai. Namun ketika musim buah-buahan biasanya jumlah hama relatif berkurang. Cara mengandalikan hama ini dilakukan secara sederhana dengan menjaga kebun pada waktu siang hari sehingga dapat mengurangi jumlah buah kakao yang rusak. Beberapa petani sengaja menanam tanaman buah-buahan di pinggir kebun mereka sebagai salah satu tindakan mengurangi kerugian karena hama tersebut. Permasalahan lain yaitu penggerek buah kakao yang dikenal dengan sebutan PBK. Cara yang dilakukan untuk mengendalikannya dengan penyemprotan obat-obatan seperti insektisida. Petani melakukan pemupukan tanaman kakao umumnya menggunakan pupuk Urea dan NPK atau Phonska. Jumlah pupuk yang
digunakan petani untuk kegiatan pemupukan satu hektar lahan antara 50-100 kg pupuk.
Tabel 6 Karakteristik usahatani kakao di Kabupaten Pasaman
Rata-rata tanaman kakao di Kabupeten Pasaman mulai berbuah setelah berumur 4.5-5 tahun. Tanaman kakao yang ditanam di lokasi penelitian pada umumnya (46.67 persen) telah berumur 11-15 tahun dan sebanyak 35.56 persen tanaman kakao petani berumur 6-10 tahun. Rata-rata umur tanaman kakao petani masih dalam usia produktif sehingga masih mampu untuk menghasilkan buah kakao. Pemanenan buah kakao oleh petani di Kabupaten Pasaman sangat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi petani. Kondisi ini sama dengan hasil penemuan Dilana (2013) yang mendapati bahwa pemanenan buah kakao dan kualitas biji kakao oleh petani kakao di Kabupaten Madiun dipengaruhi oleh tingkat ekonomi petani. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, petani dengan tingkat ekonomi rendah cenderung segera melakukan penjualan biji kakao setelah melakukan pemanenan. Beberapa petani melakukan pemanenan buah