Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor dengan alasan desa tersebut telah memiliki kelompok tani ternak dan telah menerima bantuan ternak dari dinas peternakan Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan bulan Oktober 2007.
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yang bersifat deskriptif analitis. Sebagai unit kasus adalah Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Studi kasus merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang penelaahanya kepada satu kasus yang dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail dan komprehensif. Dengan demikian hasil penelitian ini hanya berlaku pada kasus di tempat penelitian. Responden penelitian ini adalah seluruh peternak anggota dari dua kelompok peternak domba yang terpilih yaitu kelompok Sugih Mukti, Dusun Pasir Nangka dan kelompok Tani Rahayu, Dusun Palawijo. Sedangkan responden analisis I-E dan QSPM sebanyak 4 orang pakar ternak yang terdiri dari kepala UPTD Jasinga, Petugas Penyuluhan Lapangan wilayah Jasinga, peternak sukses dan dosen dari jurusan Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Data dan Instumentasi
Data penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari sumber informasi atau responden dengan menggunakan kuisioner. Data sekunder merupakan data pelengkap yang diperoleh dari instansi – instansi yang berupa pelaporan, literatur – literatur.
Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data primer adalah dengan pengamatan dan pencatatan langsung di lapangan dan wawancara langsung dengan peternak domba rakyat. Data primer yang dikumpulkan meliputi manajemen pemeliharaan yang diterapkan pada usaha peternakan domba rakyat. Data sekunder diperoleh dari literatur yang menunjang penulisan serta informasi dari instansi yang terkait.
Analisis Data
a. Analisis Deskriptif
Analisis ini digunakan untuk memberi gambaran mengenai perkembangan Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, manajemen pemeliharaan, penggunaan tenaga kerja, pemberian pakan dan pencegahan penyakit.
b. Identifikasi Faktor Internal – Eksternal
Analisis faktor internal usahaternak digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh usaha ternak bersangkutan. Aspek yang dianalisis meliputi :
1. Karakteristik Peternak 2. Pemasaran hasil 3. Modal
4. Tenaga kerja
5. Kepemilikan ternak domba 6. Budidaya ternak domba
Analisis faktor eksternal usahaternak digunakan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh usahaternak. Aspek yang dianalisis meliputi aspek makro dan aspek mikro. Aspek makro meliputi :
1. Kondisi ekonomi
2. Sosial Budaya, Demografi dan Lingkungan 3. Kebijakan pemerintah daerah
4. Teknologi
Sedangkan aspek mikro yaitu 1. Pesaing usaha
2. Produksi substitusi sumber protein hewani 3. Ancaman pesaing baru
c. Analisis Strategi Pengembangan Usaha
Analisis ini terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap pemasukan data (The Input stage), tahap pemaduan data (The Matching Stage) dan tahap keputusan (The Decision Stage).
Tahap Pemasukan Data (The Input Stage)
Tahap input terdiri dari Evaluasi Faktor Internal (IFE) dan Evaluasi Faktor eksternal (EFE). Hasil yang diperoleh dari dua matriks ini menjadi informasi input untuk matriks tahap pemaduan dan tahap keputusan selanjutnya.
Matriks Evaluasi Faktor Internal (IFE) dan Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE)
Matriks IFE digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal usahaternak sedangkan matriks EFE digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal. Langkah-langkah yang dilakukan dalam membentuk matriks IFE dan EFE terdiri dari:
1. Faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan (Tabel 3) serta faktor ekternal yang menjadi peluang dan ancaman (Tabel 4) ditempatkan pada kolom pertama;
2. Memberikan bobot terhadap faktor-faktor tersebut. Penentuan bobot dilakukan dengan cara mengajukan nilai bobot variabel strategis dari faktor eksternal dan internal tersebut kepada pihak usahaternak dengan metode Paired comparison (Kinnear dan Taylor,1991). Bentuk penilaian bobot dapat dilihat pada Tabel 3 untuk faktor internal dan Tabel 4 untuk faktor eksternal. Skala yang digunakan dalam pengisian kolom adalah:
1 = Jika variabel horizontal kurang penting dibandingkan variabel vertikal 2 = Jika variabel horizontal sama penting dibandingkan variabel vertikal 3 = Jika variabel horizontal lebih penting dibandingkan variabel vertikal Bobot setiap variabel diperoleh dengan menentukan nilai setiap variabel terhadap jumlah nilai keseluruhan variabel dengan menggunakan rumus :
∑
= = n i Xi Xi Yi 1∑
= = n e Xe Xe Ye 1Keterangan: Yi = Bobot variabel internal ke-i Ye = Bobot variabel eksternal ke-i Xi = Nilai variabel internal ke-i Xe = Nilai variabel eksternal ke-e i = a, b, c,..., i
e = a, b, c,..., e n = Jumlah variabel
Tabel 3. Penentuan Bobot Variabel Strategis Faktor Internal Usahaternak Variabel Strategis
Faktor Internal
a b ... i Nilai (X) Bobot (Yi)
a Xa b Xb ... ... I Xi Nilai (X) Xa Xb ... Xi ∑ Xi Total 1,00
Sumber: Kinnear dan Taylor, 1991
Tabel 4. Penentuan BobotVariabel Strategis Faktor Eksternal Usahaternak Variabel Strategis
Faktor Eksternal
a b ... e Nilai (X) Bobot (Yi)
a Xa b Xb ... ... e Xe Nilai (X) Xa Xb ... Xe ∑ Xe Total 1,00
Sumber: Kinnear dan Taylor, 1991
Bobot yang diperoleh berada pada kisaran antara 0,0 (tidak penting), sampai 1,0 (terpenting) pada setiap variabel. Bobot yang diberikan pada setiap variabel menunjukkan kepentingan relatif dari variabel tersebut terhadap keberhasilan perkembangan usahaternak. Jumlah dari semua bobot harus sama dengan 1,0. Bobot tersebut diberikan berdasarkan keadaan usahaternak; 3. Memberikan rating 1 sampai 4 pada kolom ketiga pada Tabel 5 untuk faktor
internal dan Tabel 6 untuk faktor eksternal. Pemberian rating ini digunakan untuk menunjukkan efektifitas usahaternak dalam merespons faktor-faktor tersebut. Pada matriks IFE untuk kekuatan yang bersifat positif menggunakan skala 1 = kekuatan kecil, 2 = kekuatan sedang, 3 = kekuatan besar, dan 4 = kekuatan sangat besar. Skala untuk kelemahan merupakan kebalikan dari skala kekuatan, yaitu 1 = kelemahan yang sangat berarti, 2 = kelemahan yang cukup berarti, 3 = kelemahan kurang berarti, 4 = kelemahan yang tidak berarti. Pada matriks EFE untuk peluang yang bersifat positif menggunakan skala 1 = peluang kecil, 2 = peluang sedang, 3 = peluang peluang tinggi, dan
4 = peluang sangat tinggi. Sedangkan ancaman yang bersifat negatif merupakan kebalikan dari skala peluang, yaitu: 1 = ancaman sangat besar, 2 = ancaman besar, 3 = ancaman sedang, 4 = ancaman kecil.
4. Mengalikan bobot dengan rating untuk mendapatkan skor;
5. Menjumlah skor pembobotan untuk memperoleh total skor pembobotan;
Tabel 5. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) Faktor Strategis Internal Bobot (1) Rating (2) Skor Pembobotan (3) = (1) X (2) Kekuatan - Kelemahan -
Total Skor Pembobotan
Sumber : Rangkuti, 2001
Total skor pembobotan akan berada pada kisaran 1,0 (terendah) sampai 4,0 (tertinggi), dengan rata-rata 2,5. Total skor pembobotan yang jauh di bawah 2,5 merupakan ciri suatu usaha yang lemah secara internal, sedangkan jumlah jauh diatas 2,5 menunjukkan posisi internal yang kuat.
Sedangkan untuk matriks EFE total skor pembobotan sebesar 1,0 menunjukkan bahwa usahaternak tidak memanfaatkan peluang yang ada atau tidak menghindari ancaman – ancaman eksternal. Total skor pembobotan sebesar 4,0 menunjukkan bahwa usahaternak dapat memanfaatkan peluang yang ada dan menghindari ancaman dari usahanya.
Tabel 6. Matriks External Factor Evaluation (EFE) Faktor Strategis Eksternal Bobot (1) Rating (2) Skor Pembobotan (3) = (1) X (2) Peluang - Ancaman -
Total Skor Pembobotan
Tahap Pemaduan (The Matching Stage)
Tahap pemaduan terdiri dari matriks Internal-Eksternal (I-E) dan Matriks SWOT. Tujuan tahap ini adalah menghasilkan beberapa alternatif strategi yang layak dengan memadukan faktor internal-eksternal.
a. Matriks Internal-Ekternal (I-E)
Matriks I-E merupakan pemetaan skor total IFE dan EFE yang telah dihasilkan dalam tahap input (Gambar 2). Sumbu horisontal pada matriks I-E memperlihatkan total skor pembobotan IFE (Tabel 5), sedangkan sumbu vertikal menunjukkan total skor IFE (Tabel 6). Skors antara 1,00 sampai 1,99 pada sumbu horizontal menunjukkan posisi internal usahaternak yang lemah, posisi 2,00 sampai dengan 2,99 menunjukkan skors rata – rata dan skor 3,00 sampai dengan 4,00 menunjukkan kuatnya posisi internal usahaternak. Pada sumbu vertikal skor 1,00 sampai 1,99 menunjukkan respon usahaternak masih rendah terhadap peluang dan ancaman yang ada, posisi 2,00 sampai dengan 2,99 menunjukkan skors rata – rata dan skor 3,00 sampai dengan 4,00 menunjukkan respon yang tinggi terhadap terhadap lingkungan eksternalnya.
Skor IFE
Kuat Rata-rata Lemah
4,0 3,0 2,0 1,0 Tinggi 3,0 Sedang 2,0 Rendah 1,0 Sumber : Rangkuti, 2001
Gambar 2. Matriks Internal-Eksternal (IE)
Gambar 2. Mengidentifikasikan sembilan sel strategi usahaternak, yang pada prinsipnya sembilan sel itu dapat dikelompokkan menjadi tiga strategi utama :
I II III
IV V VI
1. Strategi intensif atau intregatif
Strategi ini cocok untuk usahaternak yang berada dalam kelompok Grow and Build (Sel I, II, III).
2. Strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk.
Strategi yang paling cocok untuk usahaternak yang berada dalam kelompok Hold and Maintain (Sel IV, V, VI)
3. Strategi Harvest and Divest.
Usahaternak yang berada pada posisi ini harus memilih menutup atau menyelamatkan usahanya (Sel VI, VII, VIII)
b. Matriks SWOT
Analisis SWOT disajikan dalam Matriks SWOT untuk menyusun strategi usahaternak domba rakyat dengan memadukan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang terdapat pada usahaternak domba. Penyusunan matriks SWOT dapat dilakukan melalui delapan tahapan, yaitu :
1. Menentukan faktor – faktor kekuatan internal yang dimiliki usaha yang dimasukkan ke dalam sel strenghts (s). Kekuatan ini meliputi kekuatan yang sudah ada maupun kekuatan yang akan datang.
2. Memasukkan faktor – faktor kelemahan yang dimiliki usaha pada sel weaknesses (w).
3. Memasukkan peluang yang ada ke dalam sel opportunities (o).
4. Memasukkan ancaman – ancaman eksternal yang dihadapi ke dalam sel threats (t).
5. Menyesuaikan kekuatan yang dimiliki dengan peluang usaha yang ada untuk mendapatkan strategi S-O.
6. Menghubungkan kelemahan yang terdapat pada usaha peternakan dengan peluang eksternal pada usaha peternakan dengan peluang eksternal untuk mendapatkan strategi W-O.
7. Menyesuaikan kekuatan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan strategi S-T.
8. Menghubungkan kelemahan yang dimiliki dengan ancaman yang dapat mengganggu usaha untuk mendapatkan strategi S-T.
Sumber : Rangkuti (2001)
Gambar 3. Matriks SWOT
Tahap Keputusan (The Decision Matching)
Tahap keputuan menggunakan satu macam alat, yaitu Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Strategi yang dipilih adalah strategi yang paling cocok untuk diterapkan dalam kondisi internal dan eksternal usahaternak yang bersangkutan.
Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM)
1. Membuat daftar kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman,. Input datanya diperoleh dari matriks IFE (Tabel 5) dan EFE (Tabel 6).
2. Memberikan bobot pada masing – masing kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dengan ketentuan bahwa bobot ini harus sama dengan bobot pada matriks EFE (Tabel 5) dan EFE (Tabel 6).
3. Mengidentifikasikan strategi alternatif yang diperoleh dari matriks IE dan Matriks SWOT yang layak untuk diimplementasikan.
4. Nilai daya tarik (Attractiveness Score = AS) untuk masing – masing strategi alternatif yang terpilih (nilai 1 = tidak dapat diterima, 2 = mungkin dapat diterima, 3 = kemungkinan besar diterima, 4 = dapat diterima).
Internal Strengths (S) * Faktor kekuatan Internal Weaknesses (W) * Faktor kelemahan Internal Opportunities (O) * Faktor Peluang Eksternal Strategi S-O
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang
Strategi W-O
Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang Threats (T) * Faktor Ancaman Ekternal Strategi S-T
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
Strategi W-T
Ciptakan strategi yang meminmalkan kelemahan dan menghindar ancaman
5. Menghitung total daya tarik (Total Attractiveness Score = TAS) yang diperoleh dari perkalian bobot (Tabel 3 dan 4) dengan nilai daya tarik (AS) pada masing – masing baris. Total nilai daya tarik (TAS) menunjukkan daya tarik relatif dari setiap alternatif strategi; dan
6. Menjumlah total nilai daya tarik (TAS) pada setiap kolom QSPM. Alternatif strategi yang memiliki jumlah total nilai daya tarik terbesar merupakan strategi yang paling baik.
Tabel 7. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM)
Strategi I Strategi II Strategi ke-n Faktor Utama Bobot
AS TAS AS TAS AS TAS
Faktor Internal - - Faktor Eksternal - -
Jumlah Total Nilai Daya Tarik
Sumber : David, 2001
Keterangan: AS : Nilai Daya Tarik TAS : Total Nilai Daya Tarik
Batasan Istilah
1. Usahaternak Domba Rakyat adalah usaha budidaya ternak domba tanpa badan usaha, yang umumnya dilakukan di daerah pedesaan dengan skala kecil.
2. Peternak Domba Penerima Paket Gaduhan adalah orang yang memiliki usahaternak domba rakyat yang menerima paket gaduhan dari pemerintah. 3. Pesaing adalah perusahaan atau individu yang menawarkan suatu produk
yang sama dengan usaha ternak yang bersangkutan.
4. Strategi adalah sejumlah tindakan yang terintegrasi dan terorganisir yang diambil untuk mendayagunakan dan memperoleh keuntungan bersaing.
5. Kekuatan adalah kemampuan atau keunggulan yang dimiliki usahaternak yang dimiliki oleh perusahaan terhadap pesaingnya.
6. Kelemahan merupakan keterbatasan atau kekurangan usahaternak yang dimiliki usahaternak.
7. Peluang adalah kesempatan yang terbuka bagi usahaternak domba agar dapat dimanfaatkan.
8. Ancaman adalah hambatan yang terdapat di luar usahaternak domba.
9. Bobot adalah derajat kemenarikan masing – masing faktor internal dan eksternal usahaternak.
10. Rating adalah peringkat masing – masing faktor internal dan eksternal yang didasarkan pada kondisi usahaternak.
11. Attractiveness Score (AS) adalah nilai numerik yang menunjukkan daya tarik relatif dari setiap strategi alternatif.
12. Total Attractiveness Score (AS) adalah total nilai daya tarik hasil perkalian bobot dengan AS.
13. Analisis SWOT adalah alat penyesuaian atas dasar logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan juga dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman dengan tujuan untuk merumuskan beberapa alternatif strategi usahaternak.
14. Hari Kerja Pria (HKP) adalah satuan yang mengukur alokasi waktu kerja, yaitu 8 jam kerja tenaga kerja pria dewasa setara dengan 1 HKP, untuk tenaga kerja wanita setara dengan 0,8 HKP dan untuk anak-anak setara dengan 0,5 HKP
15. Satuan Ternak (ST) adalah perkalian antara jumlah rataan ternak yang dipelihara dengan faktor konversi 0,14 untuk ternak domba dewasa 0,07 untuk ternak domba muda dan 0,035 untuk ternak domba anak.
16. Setara Domba Dewasa adalah perkalian antara jumlah rataan ternak yang dipelihara dengan faktor konversi 1,00 untuk ternak dewasa 0,50 untuk ternak domba muda dan 0,25 untuk ternak domba anak.
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Keadaan Umum Desa Cigudeg
Kondisi Geografis
Desa Cigudeg secara geografis terletak membujur di sebelah utara dan selatan jalan raya Bogor – Jasinga. Batas – batas desa ini antara lain di sebelah barat berbatasan dengan Desa Bunar, sebelah Timur dengan Desa Kalong, sebelah utara dengan Desa Warga Jaya, dan sebelah selatan dengan Desa Sukaraksa. Desa ini berada pada ketinggian sekitar 400 m dpl, curah hujan rata – rata 3740 mm/tahun dan suhu rata – rata 300C. Jarak Desa Cigudeg dengan Ibu Kota Kecamatan 600 m, Ibu Kota Kabupaten sekitar 56 km, dan Ibu Kota Propinsi 156 km, dan 96 Km dari Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Kondisi jalan wilayah ini cukup baik, karena merupakan jalan utama yang menghubungkan Propinsi Jawa Barat (Bogor) dengan Propinsi Banten (Rangkas Bitung) sehingga sangat mudah dijangkau oleh berbagai macam alat transportasi seperti sepeda motor, angkutan kota (mini bus) dan bus.
Luas total wilayah Desa Cigudeg yaitu 930 ha dan wilayah ini terbagi dalam sembilan kelompok berdasarkan status pemanfaatan dan penggunaan lahan yaitu penggunaan lahan untuk perumahan/pemukiman dan pekarangan, sawah, ladang/tanah huma, jalan, pemakaman/kuburan, perkantoran, lapangan olahraga, tanah/bangunan pendidikan, dan tanah/bangunan peribadatan. Data penggunaan lahan di wilayah desa Cibunian disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Data Penggunaan Lahan Desa Cigudeg
Keterangan Luas (Ha) Persentase
Perumahan/ pemukiman 185,00 19,89
Ladang/ Tanah Huma 614,00 66,20
Sawah 105,00 11,29
Jalan 12,00 1,29
Pemakaman 3,00 0,32
Perkantoran 5,20 0,56
Lapangan Olah Raga 2,00 0,21
Tanah/ Bangunan Pendidikan 1,30 0,14 Bangunan Peribadatan 2,50 0,27
Jumlah 930,00 100,00
Berdasarkan Tabel 8, sebagian besar lahan di Desa Cigudeg digunakan untuk ladang/tanah huma dan perumahan penduduk setempat yaitu 66,20 persen dan 19,89 persen dari total jumlah luas desa. Adapun penggunaan lahan paling sedikit untuk tanah/pembangunan pendidikan yaitu 0,14 persen. Secara administratif wilayah pemukiman penduduk terbagi dalam 9 dusun, 21 Rukun Warga (RW) dan 63 Rukun Tetangga (RT).
Penduduk dan Mata Pencaharian
Jumlah penduduk Desa Cigudeg tahun 2007 adalah 13.175 jiwa yang terdiri dari 6.802 orang laki-laki dan 6373 orang perempuan dengan jumlah kepala keluarga (KK) adalah 3.040 KK. Penyebaran penduduk menurut jenis mata pencaharian ditampilkan pada Tabel 9.
Tabel 9. Penduduk Desa Cigudeg Menurut Jenis Mata Pencaharian
Mata Pencaharian Jumlah Penduduk Persentase
Petani 1.406 28,78 Pedagang 2.479 50,75 Pegawai Negeri 105 2,15 TNI/Polri 165 3,38 Swasta 75 1,53 Buruh Pabrik 115 2,35 Pengrajin 37 0,76 Pertukangan 168 3,44 Pengemudi/Jasa 335 6,86 Jumlah 4.885 100,00
Sumber: Monografi Desa Cigudeg (2007)
Tabel 9 menunjukkan bahwa mata pencaharian penduduk di daerah Cigudeg didominasi oleh para pedagang yaitu 50,75 persen, setelah itu petani (28,78 persen). Sedangkan mata pencaharian yang paling sedikit adalah pengrajin sebesar 0,76 persen saja.
Usaha Peternakan di Desa Cigudeg
Usaha peternakan telah lama diusahakan oleh masyarakat di Desa Cigudeg. Jenis ternak yang terdapat di Desa Cigudeg antara lain ayam kampung, domba, kambing, kerbau dan sapi potong. Populasi ternak di Desa Cigudeg disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Populasi Ternak di Desa Cigudeg Tahun 2007
Jenis Ternak Jumlah (ST) Persentase
Ayam Kampung 50 15,06 Domba 245 73,79 Kambing 7 2,11 Kerbau 25 7,53 Sapi Potong 5 1,51 Jumlah 332 100,00
Sumber : Monografi Desa Cigudeg (2007)
Populasi ternak tertinggi di desa Cigudeg adalah ternak domba (245 Satuan Ternak). Menurut peternak, ternak domba disamping untuk pemeliharaanya cukup mudah juga digunakan sebagai tabungan yang dapat dijual apabila sewaktu – waktu dibutuhkan. Ternak sapi memiliki populasi terendah yaitu hanya 5 ST. Hal ini dikarenakan usahaternak sapi membutuhkan biaya yang cukup mahal dan daerah tersebut tidak diprioritaskan untuk usaha pengembangan ternak sapi oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Usaha Peternakan Domba di Desa Cigudeg
Usaha peternakan domba di Desa Cigudeg sudah lama diusahakan oleh penduduk. Wilayah ini juga memiliki potensi untuk pengembangan usaha peternakan domba di wilayah Bogor bagian barat. Sistem pemeliharaan yang umumnya dianut oleh peternak adalah domba dikandangkan terus-menerus sepanjang hari. Pengembangan ternak domba dimulai pada tahun 1992 yaitu melalui Proyek Banpres dan Inpres. Peternak membentuk kelompok ternak masing-masing terdiri dari 30 orang peternak. Sejak saat itu peternakan domba Desa Cigudeg berkembang pesat bahkan pernah mengikuti kejuaraan/kontes ternak se-Jawa Barat. Selanjutnya melihat perkembangan usaha peternakan domba yang cukup berkembang pada tahun 2000 salah satu kelompok ternak memperoleh kembali bantuan domba Banpres/Inpres dan pada tahun 2001 salah satu kelompok lain juga menerima bantuan program Guliran Ternak Domba (PGTD).
Secara teknis peternak sebenarnya sudah mengenal dan mengetahui unsur-unsur pokok teknologi budidaya ternak domba, namun penerapannya masih pada tingkat sederhana dan bersifat tradisional. Berdasarkan hasil wawancara, menurut peternak agar pengembangan usaha ternak dapat berkembang dan berhasil tidak cukup hanya dibekali dengan pengertahuan teknis, tetapi peternak tersebut harus benar-benar memiliki bakat sebagai peternak. Hal ini penting karena dalam mengelola usahaternak apa pun peternak harus sabar, tekun dan sangat mencintai ternaknya.
Secara ekologis daya dukung wilayah juga sangat potensial untuk terus mengembangkan ternak domba.. Secara ekonomis peternak merasa diuntungkan dengan usaha peternakan domba karena selain dapat memenuhi kebutuhan juga sebagai tabungan keluarga jika suatu saat ada keperluan mendesak. Secara kelembagaan, kelompok ternak di Desa Cigudeg masih ada namun pertemuan anggota kelompok sangat jarang dilakukan. Pertemuan dilakukan jika ada permintaan dari aparat atau Dinas Peternakan setempat. Sementara untuk bertukar informasi sesama anggota menurut peternak cukup dilakukan secara informal. Saat
ini kelompok ternak yang masih aktif adalah kelompok Sugih Mukti dan Tani Rahayu.
Identifikasi Faktor – Faktor Internal
Karakteristik Peternak
Responden dalam penelitian ini adalah semua peternak domba yang masih menjalankan usahaternaknya dan tercatat dalam keanggotaan kelompok peternak Sugih Mukti, Dusun Pasir Nangka dan Tani Rahayu, Dusun Palawijo. Jumlah responden seluruhnya yaitu 22 orang.
Tabel 11. Karakteristik Peternak
Karakteristik Responden Jumlah Responden Persentase Umur peternak
18 – 55 16 71,7
56 – 80 6 27,3
Pendidikan Formal
Tidak Sekolah 1 4,5
SD/SR/MI atau Sederajat 18 81,9 SMP/MTS atau Sederajat 2 9,1 SMA/MA atau Sederajat 1 4,5
Pendidikan Non-Formal (Kursus)
Tidak Mengikuti Kursus 18 81,9 Pelatihan Beternak Domba 2 9,1
Kursus Ikan 1 4,5
Pelatihan Pertanian 1 4,5
Mata pencaharian Utama
Petani 7 31,9 Buruh Tani 11 50,0 Buruh Bangunan 1 4,5 Karyawan Swasta 2 9,1 Ojek 1 4,5 Lama Beternak 2 – 19 tahun 11 50,0 20 – 37 tahun 5 22,7 38 – 58 tahun 6 27,3
Jumlah Tanggungan Keluarga
1 – 3 orang 3 13,6
4 – 6 orang 13 59,1
Tabel 11 menyajikan karakteristik peternak di daerah penelitian. Karakteristik tersebut antara lain umur, pendidikan formal dan non-formal, mata pencaharian utama, lama beternak, dan jumlah tanggungan keluarga.
Berdasarkan wawancara di lokasi penelitian, peternak yang berumur 18 – 55 tahun sebanyak 71,7 persen dan yang berumur 56 – 80 tahun berjumlah sebanyak 27,3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar peternak tergolong dalam usia yang produktif sehingga peternak tersebut cukup potensial untuk menjalankan usaha ternak dombanya.
Pendidikan mempunyai arti yang sangat penting bagi dunia peternakan. Tanpa pendidikan yang memadai berbagai informasi, teknologi dan inovasi terbaru dalam sektor peternakan kurang terserap. Pendidikan ini juga mempengaruhi kompetensi seseorang dalam dunia kerja. Tingkat pendidikan peternak diukur berdasarkan tingkat pendidikan formal tertinggi yang dicapai oleh peternak sampai pada saat penelitian dilakukan. Jika dilihat dari tingkat pendidikan formal, umumnya peternak di daerah penelitian memiliki pendidikan yang masih rendah. Hal ini dikarenakan keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar pendidikan peternak sampai tingkat SD/SR/MI atau sederajat yaitu 81,9 persen, dan ada peternak yang tidak bersekolah sebesar 4,5 persen.
Peternak tidak hanya mengikuti pendidikan formal saja tapi mereka juga mengikuti pendidikan non-formal. Pendidikan non-formal yang pernah peternak ikuti yaitu kursus beternak domba (9,1%), kursus budidaya ikan (4,5%), dan pelatihan pertanian (4,5%). Kursus dan pelatihan yang pernah diikuti peternak umumnya diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan UPTD setempat. Hal ini dilakukan untuk menambah pengetahuan peternak terutama sektor peternakan.
Mata pencaharian utama peternak bervariasi. Sebagian besar peternak berprofesi sebagai buruh tani sebesar 50,0 persen. Buruh tani adalah petani yang tidak mempunyai lahan sendiri dan bekerja menggarap lahan orang lain. Peternak di daerah ini tidak mempunyai modal yang cukup dan lahan yang dimiliki terbatas. Padahal pekerjaan ini tidak sepenuhnya menguntungkan, apabila pemilik lahan akan menggunakan lahan ini untuk digunakan untuk kepentingan yang lain dan tidak
memerlukan tenaga kerja maka mereka akan kehilangan pekerjaan. Lahan yang