versi elektronik versi elektronik
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Giripurwo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang termasuk dalam daerah Pegunungan Menoreh Kulonprogo. Ketinggian bervariasi antara 300 – 600 mdpl. Jenis tanah di daerah penelitian didominasi oleh jenis tanah lathosol. Kemiringan lahannya sebagian besar berada di kemiringan 16°-14°dan> 40°. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret 2012 sampai dengan Desember 2012.
Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan bahan penelitian meliputi: alat ukur dimensi pohon yaitu pita meter dan haga meter, alat tulis menulis yaitu pensil, spidol, handboard, penghapus, penggaris dan pena, tally sheet data pengukuran, dan kuisioner
Metode Pengumpulan Data
Metode penelitian adalah Stratified Sampling dengan Purposive sampling. Pengamatan dan pengukuran vegetasi secara sensus (100 %) pada seluruh areal pekarangan. Jumlah plot pengamatan sebanyak 12 lahan pekarangan yang diklasifikasikan kedalam 3 tingkat luas kepelikan lahan, yaitu: < 2000 m2, 200-3000 m2 dan > 3000 m2. Tanaman dibedakan berdasarkan klasifikasi tingkat pertumbuhan. Klasifikasi yang dipakai dalam penelitian ini mengacu pada klasifikasi yang dikemukakan oleh Soerianegara dan Indrawan (1978) seperti disajikan di Tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi dan kriteria pengukuran inventarisasi tumbuhan Klasifikasi Kriteria
Pohon (trees) diameter 20 cm ke atas Tiang (poles) diameter 10-20 cm
Pancang (saplings) permudaan yang tingginya 1,5 m dan lebih sampai diameter 10 cm Semai (seedlings) anakan pohon sampai mencapai tinggi hingga 1,5 m
Sumber: Soerianegara dan Indrawan (1978)
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
ISBN:978-979-9204-98-1
36
Data mengenai pengelolaan lahan milik masyarakat serta hubungan antara pengelolaan hutan rakyat dan kegiatan peternakan dilakukan dengan cara wawancara terhadap 24 responden terpilih. Informasi yang dikumpulkan adalah mengenai sistem silvkultur dalam agroforestry tegalan serta tingkat interaksi petani dan lahan tegal-pekarangan.
Analisa Data
Parameter vegetasi yang dianalisis meliputi jenis tanaman, tinggi dan diameter tanaman. Parameter tersebut dianalisis untuk mengetahui komposisi vegetasi pekarangan dengan menggunakan Indeks Nilai Penting (Important Value Index) yang dapat menggambarkan kerapatan, penyebaran, penguasaan dan peran jenis. Perhitungan INP dilakukan dengan mengacu pada rumus yang dikemukakan oleh Kusmana (1997) sebagai berikut:
Kerapatan jenis = Jumlah individu Luas petak
Kerapatan relatif (KR) (%) = Kerapatan suatu jenis x 100% Kerapatan semua jenis
Frekuensi = Jumlah plot ditemukan suatu jenis Jumlah total petak
Frekuensi relatif = Frekuensi suatu jenis x 100% Frekuensi semua jenis
Dominasi = Luas bidang dasar
Luas petak
Dominasi Relatif (DR) (%) = Dominasi suatu jenis x 100% Dominasi semua jenis Indeks Nilai Penting (INP) = KR + FR + DR HASIL DAN PEMBAHASAN
Komposisi Jenis penyusun
Hasil inventarisasi jenis penyusun lahan pekarangan milik masyarakat dapat diketahui dalam diagram pada Gambar 1.
Gambar 1. Komposisi Vegetasi Pekarangan luasan < 2000 m2
Gambar 1 menunjukkan bahwa pada lahan pekarangan dengan luasan kurang dari 2000 m2, jumlah jenis tanaman yang ditemui sebanyak 19 jenis. Jenis yang paling banyak ditemui adalah: mahoni (25,21%), kelapa (15,97%), nangka (15,13%), melinjo (9,24%) dan sengon (8,40%). Masyarakat memilih jenis-jenis tersebut untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan. Indek nilai penting dan manfaat dari masing-masing jenis yang ditanam seperti disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 menunjukkan bahwa INP tertinggi ditunjukkan oleh jenis cengkeh, sedangkan mahoni berada pada posisi kedua. Walaupun mahoni merupakan jenis paling banyak ditemukan di lahan masyarakat yang ditunjukkan nilai kerapatan relatif (KR) yang paling tinggi, namun nilai INP mahoni lebih
Kelapa, 15.966 Melinjo, 9.244 Nangka , 15.126 Sengon, 8.403 Mahoni , 25.210 Cengkeh Petai Kelapa Aren Melinjo Bambu Salam Kemiri Asem Sukun Kakao Rambutan Nangka Mangga Sengon
Ket. Nilai dalam persen (%)
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
ISBN:978-979-9204-98-1
37
rendah dibandingkan dengan cengkeh. Hal ini menunjukkan bahwa mahoni yang ada di lahan masyarakat pada umumnya mempunyai diameter yang kecil, sedangkan jenis cengkeh walaupun dari jumlah individunya lebih rendah dibandingkan dengan mahoni. Sebaliknya cengkeh mempunyai nilai KR yang lebih rendah dibandingkan mahoni namun memiliki INP tertinggi, karena memiliki diameter batang yang lebih besar dibandingkan mahoni.
Tabel 1. Indek nilai penting beberapa jenis tanaman di lahan pekarangan dengan luas < 2000 m2
No Jenis KR FR DR INP Manfaat
1 Cengkeh 2,52 3,13 88,59 94,23 HHBK
2 Mahoni 25,21 6,25 2,24 33,70 Pakan ternak, Kayu bakar
3 Kelapa 15,97 9,38 3,54 28,88 HHBK
4 Nangka 15,13 9,38 1,23 25,73 Pakan ternak, HHBK, Kayu 5 Sengon 8,40 9,38 1,14 18,92 Kayu, Pakan ternak
6 Petai 7,56 9,38 0,97 17,91 HHBK
7 Melinjo 9,24 6,25 0,72 16,21 HHBK
8 Waru 3,36 9,38 0,28 13,02 Pakan ternak, Kayu Ket.: KR= Kerapatan relatif, FR: Frekuensi relatif, DR: Dominasi Relatif dan INP: Indeks Nilai Penting
Mahoni memiliki diameter yang kecil karena seringnya dilakukan pemangkasan daun mahoni untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Akibatnya pertumbuhan mahoni menjadi terhambat. Jenis-jenis pohon yang daunnya ditujukkan untuk pakan ternak adalah mahoni, nangka, waru dan sengon. Mahoni, nangka dan waru paling sering digunakan sebagai pakan ternak terutama pada musim kemarau. Ketiga jenis tersebut sengaja dipangkas dengan frekuensi yang cukup tinggi untuk dimanfaatkan daunnya.
Pemangkasan cabang mahoni, nangka dan waru selain untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak juga untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar. Cabang dan ranting sisa pemberian pakan ternak biasanya akan digunakan sebagai kayu bakar Daun sengon baru dimanfaatkan daunnya ketika dilakukan penebangan karena apabila dipangkas berdasarkan pengalaman petani akan meningkatkan resiko serangan hama penggerek batang. Jenis penyusun pada lahan pekarangan dengan luasan 2000 m2 – 3000 m2 disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Komposisi vegetasi pekarangan dengan luasan 2000 m2-3000 m2
Gambar 2 menunjukkan bahwa pada lahan pekarangan dengan luas lahan 2000 m2-3000 m2 jumlah tanaman yang ditemukan sebanyak 20 jenis. Jenis yang paling banyak ditemui adalah: sengon (28,88%), mahoni (21,93%), kelapa (10,16%), cengkeh (9,09%) dan jati (4,81%). Indeks nilai penting dan manfaat masing-masing jenis penyusun disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai INP tertinggi ditujukkan oleh jenis sengon (68,15) selanjunya diikuti oleh mahoni (46,14) dan kelapa (39,64). Jenis-jenis tanaman penghasil pakan ternak pada kategori luasan lahan ini adalah mahoni, nangka dan waru. Komposisi jenis pada luasan lahan diatas 3000 m2 disajikan pada Gambar 3.
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
ISBN:978-979-9204-98-1
38
Tabel 2. Indek nilai penting beberapa jenis tanaman di lahan pekarangan dengan luas 2000-3000 m2
No Jenis KR FR DR INP Manfaat
1 Sengon 28,88 9,76 29,52 68,15 Kayu, pakan ternak 2 Mahoni 21,93 9,76 14,46 46,14 Pakan ternak, Kayu bakar
3 Kelapa 10,16 9,76 19,72 39,64 HHBK
4 Cengkeh 9,09 9,76 2,79 21,64 HHBK
5 Sonokeling 3,74 7,32 3,85 14,91 Kayu
6 Jati 4,81 4,88 3,56 13,25 Kayu
7 Nangka 2,14 7,32 2,44 11,90 Pakan Ternak, HHBK, Kayu 8 melinjo 2,139037 4,878049 4,089719 11,11 HHBK
9 Sungkai 2,67 4,88 2,96 10,51 Kayu
10 Waru 2,67 4,88 1,95 9,50 Pakan ternak, Kayu Ket.: KR= Kerapatan relatif, FR: Frekuensi relatif, DR: Dominasi Relatif dan INP: Indeks Nilai Penting
Gambar 3. Komposisi Vegetasi Pekarangan luasan > 3000 m2
Pada kepemilikan lahan pekarangan luasan >3000 m2 jumlah jenis yang ditemukan sebanyak 26 jenis. Lima jenis yang paling banyak ditemukan adalah mahoni (18%), melinjo (17,39%), nangka (14,86%), kelapa (13,04%) dan sengon (10,87%). Indeks nilai penting dan manfaat beberapa jenis penyusun lahan pekarangan dengan luasa >3000 disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 menunjukkan bahwa indeks nilai penting tertinggi pada lahan pekarangan luasan>3000 m2 ditujukkan oleh jenis melinjo (45,31), kelapa (40,94) dan mahoni (37,75). Mahoni merupakan jenis yang paling banyak ditemukan namun memiliki nilai INP yang lebih rendah dibandingkan melinjo dan kelapa. Hal ini disebakan diameter pohon mahoni berukuran lebih kecil. Pemangkasan daun mahoni menjadi sebab utama terhambatnya pertumbuhan diameter pohon. Masyarakat pada umumnya memangkas pohon hampir mendekati pucuk tertinggi, sehingga hanya menyisakan sekitar 10% dari tajuk. Namun mahoni merupakan jenis yang memiliki kemampuan trubusan yang baik, sehingga setelah dipangkas akan segera muncul tunas-tunas baru. Kelebihan tersebut menjadikan mahoni merupakan jenis yang dianggap sesuai sebagai penghasil pakan ternak. Kelebihan mahoni yang lain adalah perbanyakan mahoni pada umumnya terjadi secara alami tanpa perlu ditanam.
Masyarakat pada umumnya hanya menjarangi mahoni yang terlalu rapat untuk dipindahkan ke areal yang masih kosong. Pohon penghasil pakan ternak memiliki ciri mudah tumbuh, kebutuhan lahan kecil, tidak memerlukan tenaga kerja dan modal untuk menanam dan memelihara, memiliki lebih dari satu manfaat, siap diambil daunnya setelah berumur 1 tahun (Franzel et al.,2014).
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
ISBN:978-979-9204-98-1
39
Tabel 3. Indek nilai penting beberapa jenis yang dominan di lahan pekarangan dengan luas >3000 m2
No Jenis KR FR DR INP Manfaat
1 Melinjo 17,39 7,84 20,07 45,31 HHBK
2 Kelapa 13,04 7,84 20,05 40,94 HHBK
3 Mahoni 18,12 7,84 11,79 37,75 Pakan ternak, Kayu bakar 4 Nangka 14,86 7,84 12,46 35,15 Pakan ternak, HHBK, Kayu 5 Sengon 10,87 5,88 12,75 29,50 Kayu, Pakan ternak
6 Jati 6,52 5,88 4,24 16,64 Kayu
7 Jengkol 1,81 5,88 4,14 11,83 HHBK
8 Cengkeh 2,17 5,88 1,06 9,12 HHBK
9 Kakao 4,35 1,96 1,79 8,09 HHBK
10 Sonokeling 1,45 5,88 1,50 8,83 Kayu
Ket.: KR= Kerapatan relatif, FR: Frekuensi relatif, DR: Dominasi Relatif dan INP: Indeks Nilai Penting Interaksi Peternakan dan Kehutanan
Komposisi jenis penyusun
Masyarakat menanam lahan pekarangan mereka dengan pola agroforestry. Suryanto et al. (2012) menyebutkan bahwa pengelolaan lahan di daerah Pegunungan Menoreh daerah Kulonprogo mempunyai ciri-ciri yaitu sudah lebih intensif dalam penggunaan ruang tumbuh, keanekaragaman tanaman dan hasil tinggi, input luar rendah, produksi kayu tinggi tingkat resiliensinya tinggi, sistem penanaman dengan sistem alley cropping namun penggunaan bibit berkualitas masih sangat rendah. Penggunaan ruang tumbuh yang intensif nampak dari banyaknya jenis penyusun dengan berbagai tingkatan tajuk. Sistem ini juga dikenal dengan istilah sistem tiga strata. Sistem tiga strata (STS) adalah suatu tata cara penanaman dan pemangkasan rumput, legum, semak dan pohon sehingga hijauan makanan ternak tersedia sepanjang tahun (Nitis et al, 2004). Sistem ini meruapakan sistem penanaman yang paling optimal dalam pemanfaatan energi (cahaya, air dan nutrisi). Sistem tersebut sering dilakukan untuk mendukung usaha ternak yang akan menghasilkan keuntungan tambahan karena dipeoleh sumber pupuk organik dan limbah hasil panen sebagai sumber pakan (Sumarsono, , 2006 dalam Rahmansyah et al., 2013).
Luas lahan pekarangan akan mempengaruhi jumlah jenis tanaman penyusun. Jumlah jenis pohon berkayu berdasarkan luas lahan adalah sebagai berikut: luas <2000 m2 sebanyak 19 jenis, luasan 2000-3000 m2 sebanyak 20 jenis dan luasan >3000 m2 sebanyak 26 jenis pohon. Hal tersebut menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis pada lahan pekarangan cukup tinggi. Kumar (2011) menyatakan bahwa lahan yang sempit (< 1,2 ha) mempunyai keanekaragaman jenis yang paling tinggi dibandingkan dengan pekarangan yang lebih luas dari 1,2 ha.
Pemangkasan Pohon Untuk Pakan Ternak
Pemangkasan pohon merupakan bagian dari kegiatan pemeliharaan. Pemangkasan pohon bertujuan untuk meningkatkan kualitas kayu yang dihasilkan. Namun bagi masyarakat di lokasi penelitian kegiatan pemangkasan pohon ditujukkan untuk memperoleh daun yang dapat digunakan untuk pakan ternak serta memperoleh cabang dan ranting untuk kayu bakar. Intensitas pemangkasan pohon untuk pengambilan pakan ternak disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4 menunjukkan bahwa 47,83% responden tidak melakukan pemangkasan pohon, dengan alasan antara lain: a) tidak mempunyai waktu untuk memangkas, b) pakan ternak cukup dari lahan sawah dan tegalan, c) tidak mempunyai ternak. Petani yang melakukan pemangkasan sebanyak 52,17% . Sebagian besar pemangkasan ditujukkan untuk pengambilan pakan ternak baik dalam intensitas jarang, kadang-kadang, sering dan selalu. Jenis pohon yang biasa dipangkas secara rutin yaitu jenis mahoni dan nangka. Mahoni walaupun merupakan jenis penghasil kayu pertukangan, namun masyarakat lebih menyukai mahoni sebagai penghasil pakan ternak. Hal ini disebabkan karena kayu mahoni merupakan jenis yang lambat tumbuh, sehingga waktu panen cukup lama (20-30 tahun).
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
ISBN:978-979-9204-98-1
40
Harga dan kualitas kayu mahoni juga dianggap masih kalah dibandingkan jenis jati yang memiliki pertumbuhan yang sama-sama lama, sehingga masyarakat lebih menyukai mahoni dijadikan sebagai sumber pakan ternak dibandingkan dengan penghasil kayu pertukangan.
Gambar 4. Grafik intensitas pemangkasan untuk pengambilan pakan ternak
Jenis nangka walaupun merupakan jenis penghasil buah, namun masyarakat lebih memilih untuk digunakan sebagai penghasil pakan ternak. Hal ini disebabkan karena harga jual buah nangka ditingkat petani sangat rendah. Penggunaanan daun mahoni dan nangka untuk pakan ternak paling besar digunakan pada musim kemarau pada saat ketersediaan rumput sangat sedikit. Di lokasi penelitian faktor pembatas utama adalah ketersediaan air. Akibatnya pada saat musim kemarau kegiatan pertanian warga sangat bergantung dari jenis-jenis tanaman tahunan demikian juga untuk pakan ternak. Sistem tanaman-ternak dapat diadopsi dengan baik oleh petani karena mampu memberikan keuntungan bagi petani dengan cara menurunkan biaya produksi (Diwyanto et al., 2001). Bahan pakan ternak dapat diperoleh dengan mudah di lahan pekarangan mereka sendiri.
Pemupukan
Interaksi antara ternak dan pohon dapat dilihat dari adanya pengembalian biomasa yang diambil dari pohon setelah dimanfaatkan dalam bentuk pupuk kandang. Penggunaan pupuk kandang tidak hanya ditujukkan untuk pemupukan tanaman kehutanan, namun juga dipakai untuk memupuk tanaman semusim baik di sawah maupun diladang serta tanaman perkebunan. Penggunaan pupuk kandang untuk kegiatan pertanian masyarakat disajikan pada Gambar 5.
Gambar 5 menunjukkan bahwa petani yang menggunakan pupuk kandang untuk pemupukan tanaman semusim di sawah/ladang sebanyak 52%, tanaman perkebunan 74% dan tanaman kehutanan 6%. Komoditas tanaman perkebunan paling tinggi menerima pupuk kandang karena dianggap mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Jenis tanaman perkebunan tersebut yaitu cengkeh dan kakao. Cengkeh merupakan jenis yang paling disukai masyarakat karena harga jual cengkeh yang sangat tinggi. Pada tahun 2012 harga jual cengkeh mencapai nilai tertinggi yaitu Rp. 350.000,00, sedangkan harga jual rata-rata sekitar Rp. 120.000,00.
Gambar 5. Penggunaan pupuk kandang berdasar komoditas tanaman
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
versi elektronik
ISBN:978-979-9204-98-1
41 KESIMPULAN
1. Pohon mahoni merupakan salah satu jenis utama dipekarangan yang ditujukkan sebagai penghasil pakan ternak.
2. Kepemilikan ternak mempengaruhi aktivitas pengelolaan lahan pekarangan terutama dalam rangka pemangkasan dan pemupukan.