Penelitian ini dilaksanakan di PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta. Lokasi penelitian ini dipilih secara purposive (sengaja). Waktu penelitian dilakukan selama satu bulan yaitu mulai tanggal 6 Juni 2007 sampai dengan 6 Juli 2007.
Desain Penelitian
Penelitian menggunakan desain deskriptif korelasional. Desain bertujuan untuk menjelaskan keadaan umum PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta dan melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikatnya. Variabel bebas adalah karakteristik individu karyawan dan proses komunikasi serta variabel terikatnya adalah faktor-faktor penghambat komunikasi karyawan dengan manajer.
Populasi dan Sampel
Populasi adalah 190 orang karyawan PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta yang terdiri dari 154 orang karyawan divisi RPH, tiga orang karyawan divisi produksi, lima orang karyawan divisi pemasaran, tiga orang karyawan divisi pengembangan usaha, 15 orang divisi keuangan dan 10 orang divisi umum.
Diambil berdasarkan metode proportional random sampling yaitu sampel diambil secara acak berimbang. Umar (1999) berpendapat proportional random sampling adalah sampel yang ditarik dipisahkan oleh elemen-elemen populasi ke dalam unit kerja kemudian memilih sampel secara acak (random) pada setiap unit kerja tersebut dimana setiap unit kerja memiliki peluang yang sama untuk dipilih. Total sampel sebanyak 65 orang karyawan PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta berdasarkan rumus Slovin pada tingkat kesalahan 10 % berikut ini:
Keterangan: n = jumlah sampel. N = jumlah populasi. e = persentase ketidaktelitian (e = 10 %). n = 2 1 Ne N +
17 Populasi dan sampel penelitian berdasarkan unit kerjanya akan disajikan pada Tabel 2 berikut ini:
Tabel 2. Populasi dan Sampel Penelitian
Divisi Populasi (orang) Sampel (orang) RPH Produksi Pemasaran Pengembangan Usaha Keuangan Umum 154 3 5 3 15 10 53 1 2 1 5 3 Total 190 65
Data dan Instrumentasi Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner oleh responden yaitu 65 orang karyawan PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta secara langsung. Selain itu, data sekunder diperoleh dari PD Dharma Jaya berupa company profile mengenai keadaan umum.
Data primer terdiri dari:
a. Data karakteristik individu karyawan, yaitu ciri-ciri individu karyawan dalam beberapa aspek terdiri dari:
1. Jenis Kelamin, yaitu konsep sosial yang memisahkan peran antara laki-laki dan perempuan. Dengan adanya perbedaan biologis dan kodrat. Diukur
dengan skala nominal dengan kategori laki-laki (1) dan perempuan (2). 2. Umur, yaitu lamanya hidup karyawan dari tahun kelahiran hingga saat
penelitian ini dilaksanakan yaitu dalam satuan tahun dengan pembulatan ke ulang tahun terdekat. Diukur dengan skala ordinal.
3. Pendidikan, yaitu tingkat pendidikan formal tertinggi yang pernah diikuti karyawan. Dikategorikan ke dalam jenjang SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi. Diukur dengan skala nominal.
4. Masa Kerja, yaitu lamanya karyawan bekerja pada PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta yang dihitung sejak diterima bekerja hingga saat penelitian dilaksanakan. Diukur dengan skala ordinal.
18 5. Jumlah Tanggungan Keluarga, yaitu banyaknya jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan karyawan dalam satuan orang. Diukur dengan skala ordinal.
6. Jumlah Jam Kerja, yaitu jumlah total waktu yang digunakan untuk bekerja oleh karyawan PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta setiap harinya. Diukur dengan skala nominal.
b. Proses komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari sumber (manajer) kepada penerima (karyawan) baik secara verbal maupun non verbal sehingga diantara keduanya tercipta kesamaan makna tentang pesan yang disampaikan. Indikator-indikator proses komunikasi yang dilakukan adalah:
1. Media, yaitu sarana (alat) komunikasi yang digunakan sebagai penghubung pesan dari sumber ke penerima. Dibedakan menjadi beberapa jenis seperti telepon, surat/memo, sms dan tatap muka. Diukur dengan sklala nominal. 2. Maksud, yaitu bahan yang dijadikan pembicaraan (dikomunikasikan) dalam
proses komunikasi. Dibedakan ke dalam beberapa jenis seperti laporan tertulis/lisan, usul/ide, meminta pendapat, keluhan dan konsultasi di luar pekerjaan. Diukur dengan skala nominal.
3. Intensitas, yaitu ukuran seberapa sering waktu yang digunakan responden yaitu karyawan PD Dharma Jaya untuk melakukan komunikasi dengan manajer. Dibedakan menjadi dua jenis yaitu frekuensi komunikasi yang dilakukan sebulan terakhir (kali) dan lama berkomunikasi (menit). Diukur dengan skala ordinal.
c. Faktor-faktor penghambat komunikasi karyawan dengan manajer, yaitu hal-hal apa saja yang menjadi penghambat komunikasi yang dirasakan oleh karyawan pada saat berkomunikasi dengan manajer di PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta. Diukur dengan skala ordinal. Indikator-indikator faktor-faktor penghambat komunikasi karyawan dengan manajer adalah:
1. Gangguan Teknis, yaitu jika salah satu alat yang digunakan dalam berkomunikasi mengalami gangguan, sehingga informasi yang ditransmisi melalui saluran megalami kerusakan. Misalnya gangguan pada jaringan telepon. Dikategorikan menjadi (1) tidak pernah, jika dirasakan tidak menjadi hambatan komunikasi, (2) jarang, jika hanya beberapa kali saja
19 menjadi hambatan komunikasi dan (3) sering, jika dirasakan sebagai hambatan komunikasi.
2. Gangguan Semantik, yaitu gangguan komunikasi yang disebabkan oleh kesalahan pada bahasa yang digunakan. Diketegorikan menjadi (1) tidak pernah, jika dirasakan tidak menjadi hambatan komunikasi, (2) jarang, jika hanya beberapa kali saja menjadi hambatan komunikasi dan (3) sering, jika dirasakan sebagai hambatan komunikasi.
3. Gangguan Psikologis, yaitu gangguan yang disebabkan oleh persoalan- persoalan dalam diri individu karyawan itu sendiri. Dikategorikan menjadi (1) tidak pernah, jika dirasakan tidak menjadi hambatan komunikasi, (2) jarang, jika hanya beberapa kali saja menjadi hambatan komunikasi dan (3) sering, jika dirasakan sebagai hambatan komunikasi.
4. Gangguan Fisik atau Organik, yaitu gangguan yang disebabkan karena kondisi geografis misalnya jarak yang jauh sehingga sulit untuk dicapai atau tidak berfungsinya pancaindera pada penerima. Dikategorikan menjadi (1) tidak pernah, jika dirasakan tidak menjadi hambatan komunikasi, (2) jarang, jika hanya beberapa kali saja menjadi hambatan komunikasi dan (3) sering, jika dirasakan sebagai hambatan komunikasi.
5. Gangguan Status, yaitu gangguan yang disebabkan karena jarak sosial diantara peserta komunikasi. Misalnya perbedaan status antara atasan dan bawahan. Dikategorikan menjadi (1) tidak pernah, jika dirasakan tidak menjadi hambatan komunikasi, (2) jarang, jika hanya beberapa kali saja menjadi hambatan komunikasi dan (3) sering, jika dirasakan sebagai hambatan komunikasi.
6. Gangguan Kerangka Berpikir, yaitu gangguan yang disebabkan adanya perbedaan persepsi antara komunikator dan komunikan terhadap pesan yang digunakan dalam berkomunikasi. Dikategorikan menjadi (1) tidak pernah, jika dirasakan tidak menjadi hambatan komunikasi, (2) jarang, jika hanya beberapa kali saja menjadi hambatan komunikasi dan (3) sering, jika dirasakan sebagai hambatan komunikasi.
7. Gangguan Budaya, yaitu gangguan yang terjadi disebabkan karena adanya perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak
20 yang terlibat dalam komunikasi. Dikategorikan menjadi (1) tidak pernah, jika dirasakan tidak menjadi hambatan komunikasi, (2) jarang, jika hanya beberapa kali saja menjadi hambatan komunikasi dan (3) sering, jika dirasakan sebagai hambatan komunikasi.
Instrumentasi
Instrumentasi atau alat bantu yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner yang merupakan susunan pertanyaan yang akan diisi oleh 65 orang responden secara langsung. Kuesioner disusun atas tiga bagian. Bagian pertama digunakan untuk memperoleh data karakteristik individu karyawan terdiri dari: jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, masa kerja, jumlah tanggungan keluarga dan jumlah jam kerja. Bagian kedua untuk mengetahui proses komunikasi yang digunakan pada PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta meliputi: media, topik/isi dan frekuensi. Dan bagian ketiga adalah untuk mengumpulkan data tentang faktor-faktor penghambat komunikasi karyawan dengan manajer yaitu: gangguan teknis, gangguan semantik, gangguan psikologis, gangguan fisik atau organik, gangguan status, gangguan kerangka berpikir dan gangguan budaya.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan selama satu bulan mulai 6 Juni 2007 hingga 6 Juli 2007 di PD Dharma Jaya Provinsi DKI Jakarta dengan cara survey yaitu dengan mengambil sampel dari seluruh karyawan di PD Dharma Jaya sebanyak 65 orang dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Selain dengan kuesioner dilakukan juga observasi langsung dan wawancara.
Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian akan diolah serta dianalisis dengan prosedur-prosedur berikut ini:
1. Analisis deskriptif untuk menganalisis data mengenai karakteristik individu karyawan, proses komunikasi dan faktor-faktor penghambat komunikasi karyawan dengan manajer. Untuk menjelaskan data secara umum dengan menggunakan persentase dan rataan rataan skor.
21 2. Analisis hubungan yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara
berbagai variabel penelitian yang meliputi:
a. Prosedur korelasi rank Spearman, digunakan untuk menganalisis hubungan variabel dalam skala ordinal dengan rumus sebagai berikut:
r
s =Keterangan:
r
s = koefisien korelasi rank Spearman di=
beda antara dua variabel berpasangann
=
jumlah responden 1 dan 6=
bilangan koefisien.b. Prosedur Chi-square, untuk menganalisis hubungan antar variabel dalam skala nominal dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
= hasil Chi-square hitung
Qij = jumlah observasi untuk kasus-kasus yang dikategorikan dalam baris ke i kolom ke j
Eij = banyaknya kasus yang diharapkan dibawah Ho untuk dikategorikan dalam baris ke i kolom ke j
i = jumlah kolom j = jumlah baris