3. METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu PenelitianPenelitian ini dilaksanakan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Pengambilan data primer berupa pengukuran panjang dan berat ikan contoh yang ditangkap di perairan Kepulauan Seribu dan didaratkan di PPI Pulau Pramuka dilakukan mulai tanggal 28 Maret sampai 26 Mei 2009 dengan interval waktu pengambilan setiap bulan. Selanjutnya, pengumpulan data sekunder dilaksanakan dari bulan Februari sampai Juni 2009.
Fokus utama penelitian adalah para nelayan yang menangkap ikan ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu (Lampiran 4) dengan menggunakan alat tangkap yang dominan yaitu muroami di daerah sekitarnya dan mendaratkan hasil tangkapannya di PPI Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Dasar pertimbangan pemilihan PPI Pulau Pramuka sebagai lokasi penelitian karena PPI tersebut merupakan satu‐satunya Pangkalan Pendaratan Ikan yang berlokasi di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu sehingga diharapkan informasinya dapat mewakili dan mencerminkan upaya pengelolaan sumberdaya ikan ekor kuning di perairan Kepulauan Seribu dan sekitarnya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan antara lain penggaris 30 cm dengan ketelitian 0,1 cm, timbangan berkapasitas 2000 gram dengan ketelitian 0,5 gram, kamera digital, alat tulis. Bahan yang digunakan antara lain peta lokasi penelitian, data sheet, formulir kuisioner, dokumen‐dokumen, dan literatur yang mendukung penelitian (Lampiran 5).
3.3. Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan untuk keperluan penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari pengambilan ikan contoh dan wawancara terhadap nelayan berdasarkan kuisioner (Lampiran 6), sedangkan data sekunder terdiri dari data hasil tangkapan dan upaya tangkap beberapa tahun terakhir, dokumen atau literatur yang mendukung penelitian. Ikan contoh ditangkap dengan jaring muroami yang terdiri dari tiga bagian yaitu: mulut, badan, dan kantong. Ukuran mata jaring yang digunakan pada bagian mulut sebesar 3 inchi (7,62 cm), bagian badan
15
sebesar 1 ¾ inchi (4,45 cm), dan bagian kantong sebesar 1 inchi (2,54 cm). Dari 13 jumlah nelayan muroami, ikan contoh yang diambil berasal hanya dari satu nelayan saja yang mendarat di PPI Pulau Pramuka dengan dasar pertimbangan mengambil 10% dari total jumlah nelayan muroami yang ada. Nelayan yang terpilih dilakukan secara acak dengan menggunakan metode penarikan contoh acak sederhana (simple
random sampling).
Ikan contoh diidentifikasi dengan cara mengamati morfologi ikan, yakni bentuk tubuh, sirip pektoral, sirip dorsal, sirip ventral, sirip anal, sirip ekor, warna, dan ciri khusus lainnya. Pengambilan contoh ikan dilakukan dengan metode penarikan contoh berlapis (stratified random sampling) adalah penarikan contoh yang dilakukan dengan cara populasi dibagi menjadi beberapa lapisan berdasarkan karakteristiknya. Ikan contoh dibedakan berdasarkan ukurannya yaitu kecil (6‐12 cm), sedang (13‐20 cm), dan besar (>20 cm). Total ikan contoh yang diambil sebanyak 150 ekor setiap bulan.
Ikan contoh kemudian diukur panjang dan berat. Panjang ikan yang diukur adalah panjang total yaitu panjang ikan dari ujung mulut terdepan sampai dengan ujung sirip ekornya. Ikan yang telah diukur panjangnya langsung dipisahkan untuk dilakukan pengukuran berat.
Pengambilan contoh responden dilakukan dengan menggunakan metode
purposive sampling atau pemilihan responden dengan sengaja berdasarkan kesediaan
anggota populasi. Menurut Sulistyo & Basuki (2006), metode pengambilan contoh secara purposive (purposive sampling) adalah penarikan contoh yang dilakukan berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh peneliti. Pengambilan contoh dilakukan terhadap nelayan yang dianggap mewakili sifat‐sifat dari keseluruhan nelayan yang menangkap ikan ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu. Pengambilan contoh responden difokuskan pada satu jenis alat tangkap yaitu muroami. Jenis data yang dikumpulkan melalui kuisioner adalah sebagai berikut :
(1) Jenis, ukuran, komposisi dan produksi ikan; seluruh jenis ikan yang tergolong dalam kategori ikan karang konsumsi akan dikumpulkan pada lokasi studi yang telah ditetapkan. Namun, dari seluruh ikan karang konsumsi tersebut akan difokuskan pada ikan ekor kuning.
(2) Jumlah dan kategori (tipe) kapal ikan; seluruh kapal yang menangkap ikan di wilayah perairan tersebut akan mendaratkan ikannya di PPI.
(3) Alat tangkap; jenis data ini meliputi jenis, kategori dan jumlah alat tangkap yang beroperasi.
16
(4) Lokasi penangkapan; karena setiap ikan memiliki lokasi penangkapan (fishing
ground) yang berbeda‐beda, oleh karena itu akan dilakukan inventarisasi lokasi
penangkapan setiap ikan yang didaratkan.
(5) Musim penangkapan; data ini meliputi waktu‐waktu penangkapan ikan laut, yaitu musim panen dan paceklik.
(6) Nelayan; data nelayan yang relevan untuk dikumpulkan meliputi jumlah dan kategori nelayan.
Data sekunder dapat didapatkan dari instansi terkait, baik yang ada di lokasi penelitian maupun yang ada di Jakarta. Beberapa instansi yang dijadikan sumber bagi data sekunder antara lain : Suku Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan DKI Jakarta; Suku Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu; Pangkalan Pendaratan Ikan Pulau Pramuka; dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam. Jenis data yang diperlukan adalah: (1) Produksi (penangkapan) (2) Upaya/frekuensi lama/jumlah penangkapan (3) Sarana usaha perikanan (kapal, alat tangkap, dll) (4) Pemasaran (bentuk komoditas, tujuan, sistem pemasaran) 3.4. Analisis Data 3.4.1. Sebaran frekuensi panjang
Sebaran frekuensi panjang adalah distribusi ukuran panjang pada kelompok panjang tertentu. Sebaran frekuensi panjang didapatkan dengan menentukan selang kelas, nilai tengah kelas, dan frekuensi dalam setiap kelompok panjang. Dalam penelitian ini, untuk menganalisis sebaran frekuensi panjang menggunakan tahapan‐ tahapan sebagai berikut :
(1) Menentukan nilai maksimum dan nilai minimum dari seluruh data panjang total ikan ekor kuning.
(2) Dengan melihat hasil pengamatan frekuensi pada setiap selang kelas panjang ikan ditetapkan jumlah kelas sebanyak 22 kelas dengan interval sebesar 10 mm.
(3) Menentukan limit bawah kelas bagi selang kelas yang pertama dan kemudian limit atas kelasnya. Limit atas didapatkan dengan cara menambahkan lebar kelas pada limit bawah kelas.
17
(5) Menentukan nilai tengah kelas bagi masing‐masing kelas dengan merata‐ratakan limit kelas.
(6) Menetukan frekuensi bagi masing‐masing kelas.
Sebaran frekuensi panjang yang telah ditentukan dalam masing‐masing kelas, diplotkan dalam sebuah grafik untuk melihat jumlah distribusi normalnya. Dari grafik tersebut dapat terlihat jumlah puncak yang menggambarkan jumlah kelompok umur (kohort) yang ada. Dapat terlihat juga pergeseran distribusi kelas panjang setiap bulannya. Pergeseran sebaran frekuensi panjang menggambarkan jumlah kelompok umur (kohort) yang ada. Bila terjadi pergeseran modus sebaran frekuensi panjang berarti terdapat lebih dari satu kohort. Bila terdapat lebih dari satu kohort, maka dilakuakn pemisahan distribusi normal. Menurut Sparre dan Venema (1999), metode yang dapat digunakan untuk memisahkan distribusi komposit ke dalam distribusi normal adalah metode Bhattacharya (1967) in Sparre dan Venema (1999) dengan bantuan software program FISAT II.
3.4.2. Parameter pertumbuhan (L
∞, K) dan t
0Plot Ford‐Walford merupakan salah satu metode paling sederhana dalam menduga persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy dengan interval waktu pengambilan contoh yang sama (Sparre dan Venema 1999). Persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy dapat dinyatakan sebagai berikut :
(1) Lt adalah panjang ikan pada saat umur t (satuan waktu), L∞ adalah panjang maksimum secara teoritis (panjang asimtotik), K adalah koefisien pertumbuhan (per satuan waktu), t0 adalah umur teoritis pada saat panjang sama dengan nol. Untuk t0 sama dengan nol, persamaan (1) dapat ditulis menjadi :
(2)
sehingga(3)
Untuk t sama dengan t+1 dan t sama dengan t, persamaan (2) bagi Lt+1‐Lt menjadi :(4)
sehingga18
(5) Substitusikan persamaan (3) ke persamaan (5) diperoleh :
(6)
sehingga(7)
Lt dan Lt+1 merupakan panjang ikan pada saat t dan panjang ikan yang dipisahkan oleh interval waktu yang konstan (1=tahun, bulan, atau minggu) (Pauly 1984). Persamaan (7) dapat diduga dengan persamaan regresi linear dan jika Lt sebagai absis diplotkan terhadap Lt+1 sebagai ordinat maka garis lurus yang dibentuk akan memiliki kemiringan (slope) sama dengan dan titik potong dengan absis sama dengan
Dengan demikian, nilai K dan L∞ diperoleh dengan cara sebagai berikut :
(8)
(9)
Umur teoritis ikan pada saat panjang sama dengan nol dapat diduga secara terpisah menggunakan persamaan empiris Pauly (Pauly 1983) :
(10)
3.4.3. Hubungan panjang berat
Hubungan panjang berat digambarkan dalam dua bentuk yaitu isometrik dan alometrik (Hile 1936 in Effendie 1997). Untuk kedua pola ini berlaku persamaan :
W = a L b (11)
Jika dilinearkan melalui transformasi logaritma, maka diperoleh persamaan :
Log W = Log a + b Log L (12)
Untuk mendapatkan parameter a dan b, digunakan analisis regresi linier sederhana dengan Log W sebagai ’y’ dan Log L sebagai ’x’.
19
Untuk menguji nilai b=3 atau b ≠ 3 (b>3, pertambahan berat lebih cepat dari pada pertambahan panjang) atau (b<3, pertambahan panjang lebih cepat dari pada pertambahan berat) dilakukan uji‐t (Sukimin et al. 2006), dengan hipotesis :
H0 : β = 3, hubungan panjang dengan berat adalah isometrik H1 : β ≠ 3, hubungan panjang dengan berat adalah allometrik
Allometrik positif, jika b>3 (pertambahan berat lebih dari pada pertambahan panjang) dan allometrik negatif, jika b<3 (pertambahan panjang lebih cepat dari pada pertambahan berat). thitung = 1 0 1
Sb
b
b −
(13)b1 adalah nilai b (hubungan dari panjang berat), b0 adalah 3, dan Sb1 adalah simpangan koefisien b.
Selanjutnya, nilai thitung dibandingkan dengan nilai ttabel pada selang kepercayaan 95%. Kemudian untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan, kaidah keputusan yang diambil mengacu pada Nasoetion & Barizi (1980) yaitu : jika thitung > ttabel maka tolak hipotesis nol (H0) dan jika thitung < ttabel maka gagal tolak hipotesis nol (H0).
3.4.4. Tangkapan per satuan upaya
Data hasil upaya penangkapan ikan ekor kuning dapat dianalisis dengan menghitung nilai hasil tangkapan per upaya penangkapan atau analisis tangkapan per satuan upaya. TPSU digunakan sebagai indeks kelimpahan sumberdaya perikanan. TPSU dihitung dengan rumus sebagai berikut : TPSU=