• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Bab III metode penelitian, hal yang dibahas oleh peneliti mencakup tujuh hal yang akan dibahas oleh peneliti. Ketujuh hal tersebut mencakup jenis penelitian, setting penelitian, desain penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, kredibilitas dan trasferabilitas data, dan teknik analisis data. Jenis penelitian memaparkan tentang jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti serta alasan yang digunakan. Setting penelitian memaparkan tentang lokasi, pertisipan dan waktu penelitian. Desain penelitian memaparkan tentang perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Teknik pengumpulan data memaparkan tentang observasi, wawancara, dan studi dokumen. Instrumen penelitian memaparkan tentang alat ukur dalam penelitian. Kredibilitas dan transferabilitas memaparkan tentang kevalidtan data yang dimiliki dan teknik analisis data memaparkan tentang teknik analisis yang digunakan dalam penelitian. Ketujuh hal tersebut akan dibahas secara berurutan.

3.1 Jenis Penelitian

Dalam menunjang sebuah penelitian, harus diperhatikan jenis penelitian apa yang sebaiknya digunakan serta teknik pengumpulan data dan teknik analisis data yang tepat untuk mendukung penulisan penelitian ini. Berdasarkan permasalahan yang diangkat, penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Menurut (Yusuf, 2014: 338) penelitian

38

dengan menggunakan jenis kualitatif deskriptif, pada prinsipnya ingin memberikan, menerangkan, mendeskripsikan secara kritis, atau menggambarkan suatu peristiwa, suatu kejadian, atau suatu peristiwa interaksi sosial dalam masyarakat untuk mencari dan menemukan makna (meaning) dalam konteks yang sesungguhnya (natural setting).

Penelitian dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif merupakan prosedur penelitian dengan menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Rancangan penelitian dibangun berdasarkan kumpulan asumsi dan konsep yang dikembangkan dari teori relevan yang ada. Penelitian yang bersifat deskriptif adalah suatu penelitian yang berusaha untuk memberikan gambaran suatu kondisi, sifat, karakteristik, dari suatu peristiwa atau obyek penelitian, atau menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau suatu keadaan. Penggunaan tipe ini dilakukan dengan alasan karena peneliti berusaha menggambarkan, menuturkan, dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi yang dialami, suatu hubungan, kegiatan, pandangan, sikap yang muncul, atau suatu proses yang berlangsung, pengaruh yang sedang bekerja, kelainan yang sedang muncul, kecenderungan yang menampak dan sebagainya (Bungin, 2007: 24).

Dalam kasus ini, peneliti hendak memahami dinamika guru SD dalam proses pembuatan RPP. Peneliti merasa bahwa kasus tersebut tepat bila diteliti dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, hal ini

39

karena penelitian ini mengolah data menjadi narasi khas penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti juga berupaya untuk menjaga kerahasiaan dari narasumber yang diwawancarai. Hal itu dilakukan dengan cara tidak menyebutkan identitas guru dan sekolah sebagai partisipan dan lokasi penelitian.

3.2 Setting penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Sejuta Harapan (pseudonym), yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Identitas sekolah dan guru sengaja disamarkan untuk melindungi hak dan privasi yang bersangkutan. Sekolah ini tidak pararel, memiliki enam ruang kelas, satu ruang olahraga, dua ruang agama, satu ruang kepala sekolah, satu dapur, satu ruang TU, empat toilet, satu kantor guru, satu perpustakaan, dan satu gudang. Sekolah juga memiliki halaman yang cukup luas, yang dapat berfungsi sebagai tempat olahraga siswa, upacara setiap hari senin, dan senam setiap hari jumat.

3.2.2 Waktu Penelitian

Kegiatan di SD Sejuta Harapan berlangsung selama kurang lebih empat bulan. Mulai dari 10 Juli 2017 hingga 31 Oktober 2017. Tetapi, setelah kegiatan berakhir, peneliti masih beberapa kali datang ke sekolah untuk melakukan wawancara terhadap beberapa guru untuk melengkapi data-data penelitian.

40 3.2.3 Partisipan Penelitian

Penelitian ini mengkaji tentang memahami proses dinamika guru SD dalam pembuatan RPP. Dalam hal ini guru dijadikan sebagai partisipan penelitian. Guru yang yang dijadikan sebagai partisipan penelitian oleh peneliti terdiri dari guru kelas atas dan juga bawah, ada juga guru yang senior dan yang masih muda, selain itu ada pula yang telah berstatus sebagai PNS dan juga belum di SD Sejuta Harapan.

Guru yang dipilih peneliti sebagai partisipan didasarkan pada beberapa aspek. Seperti kebutuhan penelitian, dianggap mampu mewakili jawaban guru lain yang memiliki kriteria sejenis, dan keterbatasan waktu penelitian. Sehingga peneliti tidak mampu mewawancarai semua guru di SD Sejuta Harapan.

3.3 Desain Penelitian

Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Sehingga dapat dikatakan bahwa desain penelitian adalah alur atau cara-cara yang dilakukan peneliti dalam mendapatkan data di lapangan.

Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus. Metode studi kasus merupakan bagian dari sebuah penelitian kualitatif. Penelitian studi kasus adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi secara mendalam, mendetail, intensif, holistik, dan sistematis tentang orang, kejadian, social setting (latar sosial), atau kelompok dengan menggunakan

41

berbagai metode dan teknik serta banyak sumber informasi untuk memahami secara efektif bagaimana orang, kejadian, latar alami (social setting) itu beroperasi atau berfungsi sesuai dengan konteksnya (Yusuf, 2014: 339). Dari penjelasan tersebut, tepat bila peneliti memilih studi kasus sebagai desain dalam penelitiannya. Hal ini karena studi kasus adalah proses mengumpulkan data secara mendetail dan mendalam. Data seperti itu yang diperlukan peneliti dalam penelitiannya yang menggunakan penelitian kualitatif kualitatif deskriptif.

Berikut ini adalah langkah-langkah dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan desain penelitian studi kasus, menurut pemahaman peneliti dalam (Yusuf, 2014: 339-342): 1) mengidentifikasi masalah, 2) Penentuan masalah, 3) Pengumpulan data, 4) Analisis data, 5) Kesimpulan. Kelima langkah berikut perlu dilakukan secara berurutan agar mendapatkan hasil terbaik dalam penelitian ini. Lebih jauh lagi menurut peneliti, penelitian ini menggunakan kasus tunggal dalam penentuan masalahnya (single case design). Untuk lebih memahami langkah-langkah dan mengapa peneliti memilih menggunakan kasus tunggal. Maka akan diuraikan seperti berikut ini:

Langkah pertama yaitu mengidentifikasi masalah. Dalam mengidentifikasi masalah pada penelitian ini, peneliti melakukannya bersamaan dengan kegiatan observasi yang dilakukan selama kegiatan di SD Sejuta Harapan. Munculnya masalah dalam penelitian ini bermula saat peneliti hendak mengajar di kelas dan meminta dokumen RPP (studi

42

dokumentasi) pada guru, tetapi peneliti tidak menemukan RPP yang dibuat guru. Guru membuat RPP untuk keperluan administrasi dan ketika ada lomba. Saat mengajar di kelas, guru menggunakan buku paket dan LKS yang di dalamnya memang ada contoh RPP tetapi tidak lengkap. RPP adalah hal wajib yang harus dimiliki seorang guru, untuk mengajar. Karena hal tersebut telah diatur dalam UU, PP, Permendiknas, Permendikbud dan peraturan pemerintah yang lainnya. Yang mewajibkan seorang guru membuat RPP setiap kali mengajar. Dengan demikian, maka peneliti memilih mengambil permasalah tersebut untuk di teliti dengan judul memahami proses dinamika guru SD dalam pembuatan RPP.

Langkah kedua yaitu penentuan masalah. Menurut Yin (1994: 340) membagi desain penelitian kasus atas dua klasifikasi, yaitu: (1) desain kasus tunggal (single case design) dan (2) multikasus (multy case design). Kasus tunggal adalah kasus yang hanya mengkaji satu pokok masalah saja dalam sebuah penelitian. Sedangkan kasus ganda, adalah kasus yang mengkaji beberapa pokok permasalah dalam sebuah penelitian. Bila dua klasifikasi tersebut diterapkan dalam penelitian peneliti, maka penelitian ini akan tergolong ke dalam desain kasus tunggal (single case design). Karena penelitian ini membahas satu pokok permasalahan saja yaitu memahami dinamika proses guru SD dalam pembuatan RPP.

Berdasarkan pemahaman peneliti dalam Yin (1994: 340), ada beberapa hal yang membuat penelitian ini masuk ke dalam kasus tunggal, salah satunya adalah kesempatan, kesempatan yang dimaksud adalah

43

masalah yang ditemukan peneliti ternyata sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan yaitu tentang dunia pendidikan. Dengan begitu, peneliti tertarik untuk meneliti dan menyelaminya secara lebih dalam. Selaian itu, keterbatasan dana dan waktu. Setelah masalah ditemukan langkah selanjutnya adalah membuat masalah tersebut menjadi laporan yang baik dan di terima oleh orang lain. Namun, karena keterbatasan dana dan waktu peneliti lebih memfokuskan penelitiaannya ini ke dalam kasus tunggal saja. Selain agar lebih terfokus untuk melakukan penelitian, hal ini juga akan lebih membuat hemat dana dan waktu dalam penyelesaianya.

Melihat hal yang terjadi di lapangan, maka penelitian ini masuk ke dalam penelitian kasus tunggal (single case design). Karena masalah yang diteliti berada pada sebuah kesatuan yaitu memahami dinamika guru SD dalam proses pembuatan RPP.

Langkah ketiga adalah pengumpulan data. Langkah ini berkaitan dengan langkah sebelumnya yaitu identifikasi masalah dan penentuan masalah. Data atau permasalahan yang telah diperoleh sebelumnya kemudian diperkuat lagi dengan data-data yang lain untuk mendukung penelitian ini. Maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan tiga teknik analisis data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Ketiga teknik tersebut dirasa tepat di gunakan oleh peneliti dalam penelitian ini. Data-data yang dihasilkan dalam tiga teknik pengumpulan Data-data tersebut akan sangat membantu peneliti dalam penelitian ini. Untuk lebih jelasnya pada

44

bagian pengumpulan data. Akan dijelaskan lebih rinci pada bagian teknik pengumpulan data.

Langkah keempat adalah analisis data. Analisis data dilaksanakan ketika data yang diperlukan oleh peneliti sudah terkumpul. Dengan data yang telah terkumpul, peneliti kemudian menganalisisnya dengan cara khas kualitatif yaitu dengan menarasikannya. Sehingga data-data tersebut akan menjadi data-data yang baik dan memiliki makna dalam penelitian ini. Untuk lebih jelas dan rinci mengenai proses analisis data, maka bagian ini akan di jelaskan lebih lanjut pada bagian teknik analisis data.

Langkah kelima adalah kesimpulan. Kesimpulan adalah tahapan akhir dari sebuah penelitian. Dengan sampai pada tahap kesimpulan menandakan penelitian ini telah melewati beberapa tahapan, seperti yang telah dipaparkan diatas. Mulai dari identifikasi masalah, penentuan masalah, pengumpulan data, dan analisis data. Semua data yang diperoleh peneliti, akhirnya menjadi temuan baru peneliti. Yang harapannya menghasilkan sebuah penelitian yang baik dan bermanfaat bukan hanya bagi peneliti melainkan juga bagi banyak orang.

45 3.4 Teknik Pengumpulan Data

3.4.1 Observasi

Observasi adalah salah satu tahapan penting dalam pengumpulan data untuk penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono (2015: 203-205) observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data melalui proses pengamatan terhadap perilaku manusia, proses kerja, ataupun gejala-gejala alam yang melibatkan juga proses mengingat.

Observasi ini dilaksanakan ketika peneliti melaksanakan kegiatan di SD Sejuta Harapan yang ada di Yogyakarta. Ketika hendak meminta dokumen RPP dari salah seorang guru untuk keperluan mengajar di kelas. Peneliti tidak menemukan RPP yang dibuat oleh guru. Berdasarkan hasil observasi Senin 24 Juli 2017, RPP dibuat untuk administrasi dan keperluan lomba. Saat mengajar di kelas, guru menggunakan buku paket dan LKS yang di dalamnya sudah terdapat RPP meskipun belum lengkap. Padahal RPP adalah hal wajib yang harus dimiliki seorang guru, untuk mengajar. Karena ini semua telah diatur dalam PP, Permendikbud, Permendiknas dan peraturan lainnya. Hal ini kemudian yang menjadi data awal bagi peneliti karena hal ini tidak terjadi pada satu orang guru, namun seluruh guru di sekolah tersebut sehingga pemasalahan ini memang memerlukan jawaban. Maka peneliti terus melakukan kegiatan observasi hingga kegiatan di SD Sejuta

46

Harapan berakhir untuk mendapat data yang diinginkan oleh peneliti untuk menunjang penelitian ini hingga selesai.

3.4.2 Wawancara

Wawancara juga salah satu tahapan penting dalam pengumpulan data kualitatif. Menurut Sugiyono (2015: 194) wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab antara pewawancara dan terwawancara, baik langsung ataupun tidak langsung dengan maksud atau tujuan tertentu. Menurut strukturnya wawancara dibedakan menjadi wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.

Wawancara terstruktur adalah hal-hal yang ingin ditanyakan telah disusun sedemikian rupa dan telah ditetapkan secara merinci, sistematis oleh peneliti. Sedangkan wawancara tidak terstruktur hal-hal yang ditanyakan belum disusun dan ditetapkan secara merinci, rincian pada pertanyaan tidak terstruktur dapat disesuaikan dengan pelaksanaan wawancara di lapangan (Sugiyono, 2013: 231).

Oleh karena itu, Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur. Karena hal-hal yang ditanyakan belum disusun dan ditetapkan secara merinci, rincian pada pertanyaan disesuaikan dengan pelaksanaan wawancara di lapangan.

47

Kegiatan wawancara dilaksanakan secara tidak langsung kepada setiap wali kelas dari mulai kelas satu sampai kelas enam selama peneliti berkegiatan di SD Sejuta Harapan. Setelah masa kegiatan peneliti berakhir, peneliti melakukan wawancara lagi kepada empat orang guru di SD Sejuta agar benar-benar memperoleh data yang valid, dalam penelitian ini.

3.4.3 Metode studi dokumentasi

Menurut Sugiyono (2013: 240) dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.

Dalam penelitian ini, karena RPP yang menjadi bukti fisik dan studi dokumen tidak ditemukan oleh peneliti, maka peneliti melampirkan beberapa salinan PP, Permendikbud, Permendiknas dan dokumen lainnya (RPP peneliti untuk mengajar) sebagai bagian dari dokumen dalam penelitian ini yang mendukung penelitian.

48 3.5 Instrumen Penelitian

Menurut Sugiyono (2015: 148) alat ukur dalam penelitian disebut dengan instrumen penelitian, oleh karena itu instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur suatu peristiwa sosial maupun alam yang diamati.

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri (Sugiyono, 2012: 222). Peneliti sebagai human insttrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan. Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif “the researcher is the key instrumen”, jadi peneliti adalah instrumen kunci dalam penelitian kualitatif.

Dalam penelitian ini, peneliti merasa yakin sebagai instrumen penelitian dan kunci penelitian karena memiliki pengalaman nyata dalam hidup yang berhubungan dengan temuan masalah yang didapatkan saat penelitian.

Pengalaman yang membuat peneliti merasa yakin dan percaya melakukan penelitian ini salah satunya karena peneliti menempuh pendidikan di PGSD USD. Selama mengikuti perkuliahan dari semester satu hingga sekarang ini, banyak pengalaman yang telah diperoleh peneliti, terutama yang berkaitan dengan bidang keguruan. Peneliti telah melakukan banyak sekali kegiatan praktek di sekolah-sekolah mulai dari KMD, bimbel satu dan dua, probaling satu dan dua dan yang terakhir kegiatan PPL. Ini

49

semua yang membuat peneliti berinteraksi dengan banyak guru dan mengerti apa saja tugas yang seharusnya dilakukan seorang guru terutama saat mengajar di kelas. Begitu juga dengan mata kuliah yang telah diperoleh oleh peneliti selama ini. Peneliti diajarkan dengan bagaimana cara mempersiapkan media pembelajaran yang baik. Hal ini bertujuan sebagai bekal, agar saat terjun dalam dunia kerja nanti ketika membuat perangkat pembelajaran peneliti sudah terbiasa melakukan dan tidak mengalami kesulitan lagi. Pengalaman lain yang membuat peneliti percaya diri melakukan penelitian ini ketika peneliti mengikuti kuliah umum yang diselenggarakan Prodi PGSD USD yang bertemakan tentang implementasi kurikulum 2013 di sekolah dasar. Saat mengikuti kuliah umum, narasumber memberikan penjelasan bahwa penting bagi kita yang dalam hal ini adalah peneliti sebagai seorang calon guru memahami secara jelas tentang kurikulum 2013.

Terlebih dalam kuliah umum tersebut yang menjadi fokus pembahasan adalah saat penyedian perangkat pembelajaran oleh guru. Guru dituntut untuk selalu mempersiapkan segala bentuk perangkat pembelajaran yang salah satunya adalah RPP setiap kali mengajar di kelas. Hal ini adalah kewajiban seorang guru yang semua telah di atur dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Melihat pengalaman tersebut, peneliti lebih yakin dalam melakukan penelitian ini. Semua pengalaman yang peneliti peroleh selama ini, telah membentuk sikap peneliti menjadi seseorang yang lebih baik. Menjadi

50

pribadi yang lebih santun terhadap orang lain, bersedia menerima balikan atau komentar, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan banyak orang. Sehingga dengan kemampuan yang dimiliki, peneliti mantap melakukan penelitian ini.

Peneliti memperoleh pengetahuan dan kesimpulan bahwa RPP adalah kewajiban guru yang harus selalu dibuat setiap kali akan mengajar di kelas agar pembelajaran yang di lakukan dapat berjalan dengan baik. Maka dari itu melihat temuan yang terjadi saat peneliti melaksanakan kegiatan PPL, peneliti merasa ada permasalahan yang terjadi dan melakukan penelitian berdasarkan masalah tersebut.

Maka dari itu, melihat betapa pentingnya peran peneliti dalam penelitian kualitatif, peneliti sebagai instrumen penelitian juga harus divalidasi (Sugiyono, 2014: 49). Hal ini dilakukan untuk melihat seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian dan terjun ke lapangan. Validasi yang di perlukan meliputi validasi pemahaman penelitian kualitatif, penguasaan terhadap bidang yang akan diteliti, dan kesiapan memasuki obyek penelitian. Ketiga hal ini penting karena menurut pemahaman peneliti dalam Nasution (1998: 60-65) peneliti sebagai instrumen penelitian memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Peneliti sebagai alat yang peka terhadap stimulus dari lingkungan. Maksudnya, peneliti dapat memberikan sebuah reaksi terhadap segala kemungkinan yang terjadi di lapangan. Hal ini karena peneliti memiliki sesuatu yang berbeda dalam dirinya,

51

dibandingkan alat instrumen lain. Sehingga dapat memperkirakan mana yang bermakna (berguna) atau tidak bagi penelitiannya. Contoh: dengan kepekaan yang dimiliki peneliti, maka peneliti dapet mencatat segala hal yang diperlukan dalam penelitiannya. Hal ini penting karena penelitian kualitatif, memang memerlukan banyak sekali data.

2. Peneliti sebagai alat yang mudah menyesuaikan diri dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus. Maksudnya, dibandingkan dengan alat penelitian lain, peneliti lebih mudah menyesuaikan diri dengan beragam keadaan. Sehingga data yang di peroleh juga lebih beragam. Contoh: dalam sebuah penelitian, peneliti lebih dapat menyesuaikan diri dengan beragam keadaan untuk mendapatkan data yang beranekaragam guna memperkuat data. Kemampuannya dalam hal berperilaku dan berbahasa, sangat dibutuhkan dalam hal ini.

3. Tidak ada yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali manusia. Maksudnya, dibandingkan dengan alat instrumen yang lain. Manusia (peneliti), memiliki keistimewaan lebih yang tidak dimiliki alat lainnya. Sehingga lebih peka dan mampu berada dalam segala situasi. Contoh: dalam melakukan penelitian ada sesuatu yang janggal dari narasumber. Peneliti akan lebih cepat paham, karena perasaan manusia akan lebih mudah di pahami juga

52

dengan perasaan manusia lain yang dalam hal ini adalah peneliti itu sendiri.

4. Suatu yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata. Perlu dirasakan dan diselami dengan pengetahuan kita. Maksudnya, karena penelitian kualitatif memerlukan banyak partisipan untuk memperoleh data untuk mengolah data tersebut, di perlukan alat yang dapat menyelami data tersebut. Dalam hal ini peneliti sendirilah yang dapat melakukannya. Contoh: dalam sebuah kegiatan wawancara, narasumber memberikan data yang kurang akurat. Maka dalam hal ini, peneliti dapat membuat agar jawaban yang diberikan lebih akurat. Namun dengan gaya bahasa yang tetap baik dan sopan agar tidak menyinggung.

5. Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Maksudnya, dengan peneliti menjadi instrumen dalam penelitian maka peneliti dapat bertindak dengan cepat untuk segera menganalisis data yang diperoleh. Karena peneliti memiliki rasa yang digunakan untuk membawa arah penelitian ini. Contoh: bila dalam penelitian, peneliti memperoleh data. Maka peneliti dapat langsung menganalisisnya. Hal inilah yang tidak dimiliki instrumen lain.

53

6. Manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dan menggunakannya sebagai balikan untuk memperoleh penegasan. Contoh: bila dalam sebuah penelitian, peneliti mendapat kesimpulan awal atau hipotesis yang tidak sesuai. Maka dengan peneliti sebagai instumem akan dapat segera mengambil keputusan dengan menjadikan kesimpulan tadi menjadi balikan untuk memperoleh data yang semakin akurat. 7. Dengan manusia sebagai instrumen, melihat data yang diperoleh

aneh dan menyimpang. Justru dapat digunakan untuk memperkaya data dan pemahamin aspek yang di teliti. Contoh: bila dalam sebuah penelitian, peneliti memperoleh data yang berbeda-beda dari narasumber. Dalam penelitian kualitatif, data yang beragam justru sangat baik. Karena dapat memperkaya data dan penelitian akan semakin baik dan menarik.

Melihat penjelasan dan uraian di atas, maka tepat bila dalam penelitian kualitatif, peneliti dijadikan sebagai instrumen penelitian. Karena peneliti sendiri yang langsung turun ke lapangan melihat segala situasi dan kondisi yang terjadi. Peneliti juga yang menghadapi segala bentuk tantangan dalam penelitian. Kemampuan seorang peneliti, benar-benar diuji untuk mendapat data yang di harapkan untuk menyelesaikan penelitianya.

54 3.6 Kredibilitas dan Transferabiltas Data

Dalam penelitian kualitatif, uji validitas dan reliabilitas data disebut juga pengujian keabsahan data. Menurut pemahaman peneliti dalam Sugiyono (2014: 120-130) uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi dua hal, yaitu uji kredibilitas dan uji transfrerability data.

3.6.1 Uji Kredibilitas Data

Dokumen terkait