BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Sasaran kegiatan penelitian dicapai apabila penelitian yang dilakukan menggunakan metode yang tepat. Menurut Hadari Nawawi (1993: 61), “metode berarti cara untuk mencapai tujuan penelitian yaitu untuk memecahkan masalah”. Metode penelitian digunakan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan teknik tertentu, sehingga metode penelitian merupakan cara menemukan, mengembangkan, menguji kebenaran obyek penelitian dengan menggunakan metode ilmiah.
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan eksperimen. Pendekatan eksperimen dilaksanakan dengan melakukan percobaan terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk mencari hubungan sebab akibat antara dua faktor yang segaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi faktor yang mengganggu. Penelitian eksperimen ini dilakukan untuk melihat sebab akibat dari perlakuan penerapan pendekatan pembelajaran bermedia VCD dan Overhead Projector (OHP) terhadap prestasi belajar mata pelajaran anatomi di tinjau dari motivasi belajar mahasiswa.
1. Desain Penelitian
Menerapkan metode ilmiah dalam praktek penelitian diperlukan suatu desain penelitian yang sesuai dengan kondisi dan memiliki keseimbangan dengan penelitian yang dilakukan. Desain penelitian yang dipergunakan harus mengikuti metode penelitian. Menurut Moh. Nazir (2000: 99), “desain penelitian merupakan serangkaian proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian ataupun hanya mengenai pengumpulan dan analisa data”.
Rancangan atau Desain penelitian dengan menggunakan desain faktorial 2 x 2, dimana masing-masing variabel bebas mempunyai dua nilai. Variabel bebas pertama (X1) penerapan media pembelajaran VCD dan Overhead Projector (OHP) yang di manipulasi disebut variable eksperimental sedangkan variable bebas kedua (X2) motivasi belajar dibagi menjadi dua tingkatan disebut variable atribut. Pengaruh perlakuan eksperimen terhadap variable terikat (Y) prestasi belajar mata pelajaran anatomi dinilai setiap tingkatan. Untuk lebih jelasnya, desain faktorial 2 x 2 sebagai berikut.
Tabel 5. Rancangan Analisis Desain Faktorial 2 x 2
Motivasi Belajar (B) Penerapan Media Pembelajaran (A)
VCD (A1) OHP (A2)
Motivasi Tinggi (B1) A1B1 A2B1
Motivasi Rendah (B2) A1B2 A2B2
Keterangan:
A : Media pembelajaran
A2 : Media Overhead Projector(OHP) B : Motivasi Belajar
B1 : Motivasi Belajar Tinggi B2 : Motivasi Belajar Tinggi
A1B1 : Kelompok mahasiswa dengan perlakuan penerapan media pembelajaran VCD yang mempunyai motivasi tinggi.
A2B1 : Kelompok mahasiswa dengan perlakuan penerapan media pembelajaran Overhead Projector(OHP) yang mempunyai motivasi tinggi.
A1B2 : Kelompok mahasiswa dengan perlakuan penerapan media pembelajaran VCD yang mempunyai motivasi rendah.
A2B2 : Kelompok mahasiswa dengan perlakuan penerapan media pembelajaran Overhead Projector(OHP) yang mempunyai motivasi rendah.
2. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian perlu di identifikasikan dan diklasifikasikan. Jumlah variabel yang digunakan tergantung dari luas dan sempitnya penelitian yang dilakukan. Menurut Moh. Nazir (2000: 149), “variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam nilai, sehingga variabel merupakan sifat karakteristik yang mempunyai nilai numeric atau kategori”. Dalam penelitian ini ada beberapa variabel yang ditetapkan oleh peneliti sebelum memulai pengumpulan data.
Penelitian ini melibatkan dua variable bebas dan satu variable terikat, untuk lebih jelasnya tiga variabel tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Variabel bebas pertama (X1) adalah: (1). penerapan media pembelajaran VCD dan (2). Penerapan media pembelajaran Overhead Projector (OHP). Ini merupakan variabel aktif (variabel yang dimanipulasi).
b. Variabel bebas kedua (X2) adalah motivasi mahasiswa, yang terdiri dari: (1) motivasi tinggi dan (2) motivasi rendah yang tidak di manipulasi, namun dimasukkan dalam desain penelitian untuk dijadikan variable moderat, sehingga dapat dilihat interaksinya dengan variable aktif dalam mempengaruhi variabel terikat. Motivasi belajar termasuk jenis data sinambung yaitu ordinal. Penyebaran instrument berupa motivasi belajar yang terdiri dari item soal yang disusun berdasarkan kisi-kisi motivasi belajar. Pengabungannya dilakukan perhitungan skor rata-rata dari hasil tes motivasi, skor rata-rata digagungkan pada siswa yang memiliki motivas tinggi, sedangkan skor-skor yang sama atau berada dibawah mean digabungkan pada motivasi rendah. c. Variable terikat (Y) adalah prestasi belajar mata pelajaran anatomi. Prestasi
belajar mata pelajaran anatomi termasuk jenis data sinabung yaitu data interval. Penyebaran instrument berupa tes evaluasi mata pelajaran anatomi dengan menggunakan tes obyektif.
C. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel
Variabel penerapan media pembelajaran VCD dan Overhead Projector (OHP) (X1) sebagai variabel bebas pertama. Penerapan media pembelajaran merupakan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan atau mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi nyata, sehingga siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam keseharian, sedangkan penerapan media pembelajaran bermedia merupakan penerapan pendekatan pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran berupa VCD dan Overhead Projector(OHP) dalam kegiatan pembelajaran.
Definisi konseptual variabel pendekatan pembelajaran bermedia VCD adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan atau mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi nyata disertai dengan penggunaan media VCD yang mampu menyampaikan bentuk informasi gambar, suara dan gerakan berisi pesan berupa fakta bersifat informative dan instruksional.
Definisi konseptual variabel penerapan pembelajaran bermedia Overhead Projector (OHP) adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan materi pembelajaran dengan menggunakan media Overhead Projector (OHP) yang merupakan salah satu alat yang digunakan untuk memproyeksikan gambar atau tulisan pada dan transparansi film yang diletakkan diatas Overhead Projector (OHP) dan diproyeksikan ke layar, sehingga diperoleh gambar/tulisan yang lebih besar dari aslinya. Kemampuan projector memperbesar gambar/tulisan membuat media ini berguna untuk menyajikan informasi pada kelompok yang besar dan pada semua jenjang. Overhead Projector(OHP) dirancang untuk dapat digunakan di depan kelas sehingga dosen dapat selalu berhadapan atau menatap mahasiswa. Secara operasional variable penerapan media pembelajaran bermedia VCD dan Overhead Projector (OHP) diperoleh dari pelaksanaan eksperimen dalam bentuk proses pembelajaran anatomi dengan penerapan pembelajaran bermedia VCD pada kelompok eksperimen dan penerapan pendekatan pembelajaran bermedia Overhead Projector(OHP) pada kelompok kontrol.
Variable motivasi mahasiswa sebagai variable bebas kedua (X2). Definisi konseptual motivasi merupakan suatu energi pendorong yang dapat mengerakkan dan menumbuhkan keinginan untuk belajar mahasiswa. Tanpa adanya pendorong atau pengerak, sangat sedikit keberhasilan mahasiswa dalam belajar. Selain itu
motivasi belajar mahasiswa merupakan cara mahasiswa dalam belajar, dimana motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikologis yang timbul sebagai akibat faktor dari dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut unsur instrinsik atau faktor dari luar disebut ekstrinsik. Siswa yang memiliki motivasi kuat akan memiliki banyak energy untuk melakukan kegiatan belajar, sebaliknya siswa yang memiliki motivasi rendah akan mempunyai sedikit energy untuk belajar.
Variable prestasi belajar mata pelajaran anatomi sebagai variable terikat (Y). Definisi konseptual variable prestasi belajar mata pelajaran anatomi yaitu adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
D. Instrument Penelitian
Instrument penelitian merupakan alat yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data. Dalam penelitian ini terdapat dua instrument penelitian, yaitu instrument penelitian berupa angket untuk menjaring motivasi belajar mahasiswa dan instrument tes untuk mengungkapkan prestasi belajar mahasiswa pada mata pelajaran anatomi.
Menurut Sanapiah Faisal (1994: 9) “alat pengumpul data berupa angket berfungsi mewakili peneliti untuk menanyakan jawaban responden sehubungan dengan informasi yang dikumpulkan”. Angket atau kuesioner dalam penelitian ini disusun berdasarkan indikator teori-teori atau konsep mengenai motivasi belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang dikhususkan pada motivasi belajar
disekolah. Pernyataan disusun menggunakan skala Rensis Likert, terdiri empat jawaban. Pada pernyataan positif setiap jawaban responden mendapat skor dalam interval 1-4, untuk penghitungannya adalah sebagai berikut: (a) Sangat Setuju (SS) nilai angka 4; (b) Setuju (S) nilai angka 3; (c) Tidak Setuju (TS) nilai angka 2; (d) Sangat Tidak Setuju (STS) nilai angka 1. Pada pernyataan negatif setiap jawaban responden mendapat skor dalam interval 1-4, untuk penghitungannya adalah sebagai berikut: (a) Sangat Setuju (SS) nilai angka 1; (b) Setuju (S) nilai angka 2; (c) Tidak Setuju (TS) nilai angka 3; (d) Sangat Tidak Setuju (STS) nilai angka 4. Dalam hubungan ini responden berfungsi sebagai pemberi keterangan yang ditanyakan peneliti melalui angket yang disebarkan oleh peneliti.
Menurut Asnawi Zainal dan Noehi Nasution (2001: 3) “instrument tes merupakan pertanyaan yang direncanakan untuk memperoleh informasi atribut pendidikan yang setiap pertanyaan mempunyai jawaban benar”. Instrument penelitian tes dalam penelitian ini adalah tes obyektif dengan bentuk multiple choicedengan option A, B, C, D dan E. Dalam penilaian penelitian ini, setiap soal obyektif disusun berdasarkan prestasi belajar mahasiswa yang ditekankan pada aspek kawasan kognitif, afektif dan kawasan psikomotor (lampiran 2 hal 151). Untuk setiap jawaban benar diberi nilai 1 dan untuk setiap jawaban salah diberi nilai 0 dan total skor diperoleh dengan menjumlahkan skor dari semua soal. Dari alternative jawaban yang dibuat oleh peneliti, hanya ada satu jawaban yang benar dan tepat. Tugas mahasiswa adalah memberi tanda silang pada huruf di depan alternative jawaban yang dinyatakan benar.
E. Uji coba Instrumen
Instrumen penelitian yang telah selesai disusun kemudian diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda butir-butir soal dalam instrumen penelitian. Hasil analisis uji coba dijadikan pertimbangan untuk memutuskan apakah suatu butir soal dalam instrumen penelitian layak atau tidak layak untuk digunakan sebagai instrumen pengumpulan data pada penelitian yang sesungguhnya. Ujicoba instrumen dalam penelitian ini adalah sebai berikut:
a. Tempat dan Waktu Uji Coba
Uji coba instrument penelitian berupa kuesioner (angket) dan tes dilakukan di Prodi D III Keperawatan STIKes Satria Bhakti Nganjuk yaitu pada bulan Oktober 2008.
b. Subyek Uji Coba
Subyek uji coba instrument penelitian berupa kuesioner (angket) dan tes adalah 40 mahasiswa semester II Prodi D III Keperawatan STIKes Satria Bhakti Nganjuk. Dilakukan uji coba penelitian (try out) untuk mengetahui item-item pernyataan dalam angket apabila ada kelemahan pada instrument penelitian dan mengetahui apakah instrument penelitian memenuhi syarat sebagai alat pengambilan data, antara lain validitas dan reliabilitas serta mengetahui taraf kesukaran dan daya pembeda pada butir instrument penelitian berupa tes.
c. Uji Coba Penelitian
Hal-hal yang berhubungan dengan masalah uji coba dapat dikemukakan dalam setiap variable penelitian sebagai berikut:
1) Variable pertama, penerapan pendekatan pembelajaran media VCD dan Overhead Projector(OHP).
Guna memperoleh keyakinan bahwa desain penelitian yang digunakan cukup baik maka uji validitas yang digunakan adalah:
a) Validitas Internal
Validitas internal dilakukan untuk mengetahui apakah perlakuan eksperimental benar-benar menyebabkan perubahan pada variable terikat. Variable yang harus dikendalikan dan dilakukan uji validitas adalah pengaruh pengukuran dan pengaruh subyek yang berbeda. Dalam penelitian ini dilakukan pengontrolan tempat penelitian, penentuan kelas eksperimen dan kelas kontrol, pemilihan sampel, tema pembelajaran, dosen yang mengajar dan subyek penelitian.
b) Validitas Eksternal
Validitas eksternal dalam penelitian ini dilakukan melalui keseragaman antara bahan materi pelajaran anatomi dari bahan ajar yang diajarkan kepada mahasiswa, dosen pengajar dan kesamaan kedua kelompok kelas.
2) Variable kedua, motivasi belajar mahasiswa a) Uji Validitas
Uji validitas merupakan kriteria seberapa jauh alat pengukur dapat mengungkapkan dengan jitu gejala yang hendak diukur sehingga pengukur benar- benar mengukur apa yang ingin diukur.
(1) Uji validitas instrument
Uji validitas instrument angket motivasi belajar mahasiswa menggunakan validitas isi (content validity) yang memandang dari segi alat pengukur yaitu sejauh mana isi alat pengukur dianggap dapat mengukur hal-hal yang mewakili keseluruhan isi. Isi alat pengukur diturunkan dari teori motivasi belajar yang dituangkan dalam kisi-kisi instrument motivasi belajar mahasiswa.
(2) Uji validitas butir
Uji validitas butir untuk mengetahui validitas angket motivasi belajar dengan menggunakan validitas konstruk (construct validity), yaitu apabila butir- butir soal mampu mengukur aspek berpikir yang menjadi tujuan instruksional. Untuk menguji validitas butir, skor pada butir soal dikorelasikan dengan skor total butir soal menggunakan rumus korelasi Product Momentdari Pearson.
rxy = } ) ( ( }{ ) ( ) ( { ) )( ( ) ( 2 2 2 2 Y Y N X X N Y X XY N
(Sumber : Suharsini Arikunto, 2005 : 72) Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi antara variable X dan variable Y
N = Jumlah skor variable X
ΣXY = Jumlah perkalian variable X dan Y ΣX2 = Jumlah kuadrat X
ΣY2 = Jumlah kuadrat Y
Hasil uji validitas butir motivasi belajar dengan menggunakan rumus product moment dari pearson menunjukkan bahwa dari 45 butir soal angket motivasi belajar mahasiswa, jumlah butir soal yang di nyatakan tidak valid
sejumlah 5 sehingga jumlah butir soal menjadi 40, hal ini menunjukkan derajat validitas yang lebih besar dari koefisien α= 0,05 (data hasil olahan SPSS uji validitas lampiran 4 hal 160).
b) Uji Reliabilitas
Merupakan keajekan alat ukur untuk mengukur kelompok tertentu dengan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subyek yang sama. Uji yang digunakan adalah koefisien Alfa Cronbach, dengan rumus: r11= 2 1 ( 1 1 t p p k k
(Sumber : Suharsini Arikunto, 2005 : 109) Keterangan :
r11 = Realibilitas instrument yang dicari ∑ 2і
= Jumlah varians skor tiap butir soal
k = Banyaknya butir
t2 = Variants totalBesarnya koefisien tingkat kepercayaan berkisar antara 0,000 sampai 1,000 yaitu dapat diperhatikan pada tabel 6 dengan rincian sebagai berikut:
Table 6. Interpretasi koefisien reliabilitas motivasi
Besarnya nilai r Interpretasi
Antara 0,800 sampai dengan 1,000 Tinggi
Antara 0,600 sampai dengan 0,800 Cukup
Antara 0,200 sampai dengan 0,400 Rendah
Antara 0,000 sampai dengan 0,200 Sangat rendah
Hasil uji reabilitas butir motivasi belajar mahasiswa menghasilkan derajat reabilitas yang lebih besar dari koefisien α= 0,05 (data hasil olahan SPSS uji validitas lampiran 5 hal. 176), sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa butir- butir angket motivasi belajar adalah reliable atau dapat dipercaya.
3) Uji coba tes prestasi belajar mata pelajaran anatomi a) Uji Validitas
(1) Uji validitas instrument
Uji validitas instrument menggunakan validitas isi yaitu cara menyusun instrument tes berdasarkan kisi-kisi tes dan tujuan pembelajaran Anatomi.
(2) Uji validitas butir
Uji validitas butir menggunakan validitas konstruk dengan mengkorelasikan butir yang dimaksud dengan skor total. Skor pada butir dipandang sebagai X dan skor total sebagai Y. Untuk mengetahui validitas masing-masing butir soal digunakan rumus korelasi Product Moment dari Pearson.
Hasil uji validitas butir prestasi belajar mata pelajaran anatomi menunjukkan bahwa dari 50 butir soal tes prestasi belajar mata pelajaran anatomi, jumlah butir soal yang dinyatakan tidak valid sejumlah 10 butir sehingga jumlah item butir soal memjadi 40, hal ini menunjukkan derajat validitas yang lebih besar dari koefisien α= 0,05(data hasil olahan SPSS uji validitas lampiran 4 hal 177).
b) Uji Reliabilitas
Merupakan keajekan alat ukur untuk mengukur kelompok tertentu dengan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subyek yang sama. Uji yang digunakan adalah koefisien Alfa Cronbach, dengan rumus: r11= 2 1 ( 1 1 t p p k k
(Sumber : Suharsini Arikunto, 2005 : 109) Keterangan :
r11 = Realibilitas instrument yang dicari ∑ 2і = Jumlah varians skor tiap butir soal
k = Banyaknya butir
t2 = Variants totalInterpretasi dari koefisien reliabilitas dapat diperhatikan pada tabel 7. Tabel 7. Interpretasi koefisien reliabilitas prestasi
Besarnya nilai r Interpretasi
Antara 0,800 sampai dengan 1,000 Tinggi
Antara 0,600 sampai dengan 0,800 Cukup
Antara 0,400 sampai dengan 0,600 Agak rendah
Antara 0,200 sampai dengan 0,400 Rendah
Antara 0,000 sampai dengan 0,200 Sangat rendah
Hasil uji reliabilitas butir prestasi belajar mahasiswa menghasilkan derajat reliabilitas yang lebih besar dari koefisien α= 0,05 (data hasil olahan SPSS uji
reliabilitas lampiran 5 hal. 178), sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa butir- butir soal prestasi belajar mahasiswa adalah reliable atau dapat dipercaya.
Setelah melakukan analisis sementara validitas dan reliabilitas dari uji coba instrumen (try out), hasilnya dapat diperhatikan dalam tabel 8 berikut ini: Tabel 8. Tabel hasil analisis validitas dan reliabilitas dalam penelitian
VARIABEL Σ SOAL Σ VALID Σ INVALID r 11 KET Motivasi 45 40 No: 11, 18, 28, 31, 39 (5) 0.870 Tinggi Prestasi 50 45 No: 4, 11, 14, 21, 33, 44, 46, 47, 49, 50 (10) 0,945 Tinggi
c) Analisis Butir Soal (1) Indeks kesukaran soal
Soal tes yang baik adalah soal tes yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang mahasiswa mempertinggi usaha memecahkan soal tes. Sebaliknya soal tes yang terlalu sukar menyebabkan hilangnya semangat mencoba karena di luar kemampuan. Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya soal tes disebut indeks kesukaran. Rumus yang dipergunakan untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut:
P = JS
B
(Sumber : Suharsimi Arikunto, 2005: 208) Dimana:
P : Indeks kesukaran soal
B : Banyaknya siswa yang menjawab benar JS : Banyak responden yang mengikuti tes
Setelah diperoleh nilai p dari hasil perhitungan lalu diadakan interpretasi dengan mengkonsultasikannya pada tabel indeks kesukaran soal seperti pada tabel 9 berikut ini:
Tabel. 9. Interpretasi indeks kesukaran soal
P Interpretasi
0,00-0,30 Sukar
0,30-0,70 Sedang
0,70- 1,00 Mudah
Hasil rangkuman indeks kesukaran (lampiran 7 hal. 195) dapat disimpulkan bahwa; (1) soal dengan P 0,00 sampai 0,30 yang disebut soal sukar dalam analisis butir soal ini tidak ditemukan; (2) soal dengan P 0,30 samapi 0,70 yang disebut soal sedang dalam analisis butir soal ini berjumlah 30 soal; (3) soal dengan P 0,70 sampai 1,00 yang disebut soal mudah dalam analisis butir soal ini berjumlah 15 soal. Sehingga indeks kesukaran dalam butir-butir soal dapat memenuhi persyaratan untuk melakukan penelitian dengan instrument tes.
(2) Indeks daya beda soal
Daya pembeda soal dalam tes adalah kemampuan soal tes untuk membedakan antara mahasiswa yang berkemampuan tinggi dengan membedakan antara mahasiswa yang berkemampuan tinggi dengan mahasiswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks daya beda adalah sebagai berikut:
D = A A J B - B B J B = PA- PB
(Sumber: Suharsini Arikunto, 2005: 213) Keterangan :
JA = Banyaknya peserta kelompok atas JB = Banyaknya peserta kelompok bawah
BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar
BB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar PA= A A J B
= Proporsi peserta kelompok atas menjawab benar
PB=
B B
J B
= proporsi peserta kelompok bawah menjawab benar
Interpretasi dengan mengkonsultasikannya pada tabel indeks daya beda/diskriminasi seperti pada label 8 berikut ini:
Tabel 10. Interpretasi indeks daya beda soal
D Interpretasi
0,00-0,20 Jelek
0,20-0,40 Cukup
0,40-0,70 Baik
0,70- 1,00 Sangat baik
Hasil rangkuman indeks diskriminasi (lampiran 6 hal 198) dapat disimpulkan bahwa; (1) Daya pembeda antara 0,00 sampai 0,20 yang berarti jelek
dalam analisis butir soal ini tidak ditemukan; (2) Daya pembeda antara 0,20 samapi 0,40 yang berarti cukup dalam analisis butir soal ini berjumlah 15 soal; (3) Daya pembeda antara 0,40 samapi 0,70 yang berarti baik dalam analisis butir soal ini berjumlah 25 soal; (4) Daya pembeda antara 0,70 sampai 1,00 yang berati baik sekali dalam analisis butir soal ini berjumlah 5 soal; (5) Daya pembeda negative yang berarti tidak baik dalam analisis butir soal ini diketemukan. Sehingga indeks diskriminasi dalam butir soal tes dapat memenuhi persyaratan penelitian dengan instrument tes.
C. Populasi dan Sampel