METODOLOGI PENELITIAN
B. Metode Penelitian
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D), yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut.1
Penelitian ini secara umum merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendesain sebuah media pembelajaran mengenai pengenalan huruf, angka, nama buah dan hewan, maka metode yang di gunakan dalam
1Sugiyono,Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, 2009), h.407
penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan atau dikenal juga dengan istilah R&D (Research and Defelopment).
Terdapat banyak defenisi dari (R&D), ini terjadi karena R&D digunakan dalam banyak bidang, sehingga ada tekanan dan fokus yang berbeda ketika defenisi R&D dirumuskan. Namun secara secara sederhana R&D (Research and Defelopment) bisa didefenisikan sebagai jenis penelitian yang secara sengaja, sistematis bertujuan atau diarahkan untuk menemukan, merumuskan, memperbaik, mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model/strategi/cara, jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efesien, productif, dan bermakna.2
R&D merupakan perbaikan atau pembaharuan dan perluasan dengan penekanan pada kebaruan dan produk nyata. Produk yang dihasilkan tidak berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan dan lain nya.
Penelitian biasanya adalah semacam penyidikan pengetahuan saat ini tentang produk yang ada untuk menemukan ide segar bagi produk baru, teori dibalik ini merupakan bagian dari R&D bahwa tanpa penemuan ide-ide inovatif, mungkin tidak ada penciptaan produk baru.3Singkatnya R&D
2Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung. Alfabeta, 2014), hal 4
3Dr. Nusa Putra, S. fil, M.Pd, Research and Defelopment penelitian dan pengembangan, (Jakarta: PT RajaGrafindoPersada , 2011.), h 67
ini merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan dari produk tersebut.
Metodologi penelitian R&D memiliki 5 versi. Namun dalam penelitian ini penulis memilih untuk menggunakan R&D versi 4-D (Four-D). Model ini di kembangkan oleh S. Thagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel. Model pengembangan 4-D terdiri atas 4 tahap utama yaitu Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan) dan Dessiminate (Penyebaran). Adapun tahapan model pengembangan 4-D yaitu :
1. Define (Pendefinisian)
Kegiatan pada tahap ini dilakukan untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pengembangan. Dalam pendefinisian ini di lakukan kegiatan analisis kebutuhan pengembangan, syarat-syarat pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna serta model penelitian dan pengembangan (model R & D) yang cocok digunakan untuk pengembangan produk. Analisis bisa dilakukan melalui studi literature atau penelitian pendahuluan. Menganalisis 5 kegiatan yang dilakukan pada tahap define yaitu:
a. Font and analisis
Pada tahap ini, guru melakukan diagnosis awal untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
b. Learner analysis
Pada tahap ini dipelajari karakteristik peserta didik, misalnya: kemampuan, motivasi belajar, latar belakang pengalaman, dan sebagainya.
c. Task analysis
Guru menganalisis tugas-tugas pokok yang harus dikuasai peserta didik agar peserta didik dapat mencapai kompetensi minimal.
d. Concept analysis
Menganalisis konsep yang akan diajarkan, menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan secara rasional
e. Specifying instructional objectives
Menulis tujuan pembelajaran, perubahan prilaku yang dihaparkan setelah belajar dengan kata kerja operasional.
2. Design (Perancangan)
Thiagarajan membagi tahap design daalam empat kegiatan, yaitu: constructing criterion- referenced test, media selection, format selection, initial design. Kegiatan yang dilakukan pada tahap tersebut antara lain:
a. Menyusun tes kriteria,sebagai tindakan pertama untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik, dan sebagai alat evaluasi setelah implementasi kegiatan.
b. Memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik.
c. Pemilihan bentuk penyajian pembelajaran disesuaikan dengan media pembelajaran yang digunakan.
d. Mensimulasikan penyajian materi dengan media dan langkah-langkah yang telah dirancang.
Dalam tahap perancangan produk, peneliti sudah membuat produk awal (prototype) atau rancangan produk. Pada konteks pengembangan bahan ajar, tahap ini dilakukan untuk membuat modul atau buku ajar sesuai dengan kerangka hasil analisis kurikulum dan materi. Dalam konteks pengembangan pembelajaran, tahap ini diisi dengan menyiapkan kerangka konseptual model dan perangkat pembelajaran (materi, media, alat evaluasi) dan mensimulasikan penggunaan model dan perangkat pembelajaran tersebut dalam lingkup kecil.
Sebelum rancangan (design) produk dilanjutkan ke tahap berikutnya, maka rancangan produk (model, buku ajar, dsb) tersebut perlu divalidasi. Validasi rancangan produk dilakukan oleh teman sejawat seperti dosen atau guru dari bidang studi /bidang keahlian yang sama. Berdasarkan hasil validasi teman sejawat tersebut, ada kemungkinan rancangan produk masih perlu diperbaiki sesuai dengan saran validator.
3. Develop (Pengembangan)
Thiagarajan membagi tahap pengembangan dalam dua kegiatan yaitu: expert appraisal dan developmental testing. Expert appraisal merupakan teknik untuk menvalidasi atau menilai kelayakan rancangan produk. Dalam kegiatan ini di lakukan evaluasi oleh ahli di bidangnya. Saran-saran yang di berikan di gunakan untuk memperbaiki materi dan rancangan pembelajaran yang telah disusun.
Development testing merupakan kegiatan uji coba perancangan produk pada sasaran subjek yang sesungguhnya. Pada saat uji coba ini dicari data respon, reaksi atau komentar dari sasaran pengguna model. Hasil uji coba digunakan memperbaiki produk. Setelah produk diperbaiki kemudian diujikan kembali sampai memperoleh hasil yang efektif.
Dalam konteks pengembangan bahan ajar (buku atau modul), tahap pengembangan dilakukan dengan cara menguji isi dan keterbacaan modul atau buku ajar tersebut kepada pakar yang terlibat pada saat validasi rancangan dan peserta didik yang akan menggunakan modul atau buku ajar tersebut. Hasil pengujian kemudian kemudian digunakan untuk revisi sehingga modul atau buku ajar tersebut benar-benar telah memenuhi kebutuhan pengguna. Untuk mengetahui efektifitas modul atau buku ajar tersebut untuk meningkatkan hasil belajar, kegiatan dilanjutkan dengan member soal-soal latihan yang materinya diambil dari modul atau buku ajar yang dikembangkan.
Dalam konteks pengembangan model pembelajaran, kegiatan pengembangan (develop) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a. Validasi model oleh ahli/pakar. Hal-hal yang divalidasi meliputi panduan pengguna model dan perangkat pembelajaran. Tim ahli yang dilibatkan dalam proses validasi terdiri dari : pakar teknologi pembelajaran, pakar bidang studi pada mata pelajaran yang sama, pakar evaluasi hasil belajar.
b. Revisi model berdasarkan masukan dari para pakar pada saat validasi
c. Uji coba terbatas dalam pembelajaran di kelas, sesuai situasi nyata yang akan dihadapi.
4. Disseminate (Penyebaran)
Thiagrajan membagi tahap dissemination dalam tiga kegiatan yaitu: Validation testing, Packaging, Diffision and Adoption. Pada tahap Validation testing. Produk yang sudah direvisi pada tahap pengembangan kemudian di implementasikan pada sasaran yang sesungguhnya.
Pada saat implementasi dilakukan pengukuran ketercapaian tujuan, pengakuan ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas produk yang di kembangkan. Setelah produk di implementasikan, pengembangan perlu melihat hasil pencapaian tujuan. Tujuan yang belum dapat tercapai perlu di jelaskan solusinya sehingga tidak
berulang kesalahan yang sama setelah produk di sebarluaskan.
Kegiatan terakhir dari tahap pengembangan adalah tahap melakukan packaging (pengemasan), diffusion and adaptation.4 Tahap ini dilakukan supaya produk dapat dimanfaatkan oleh orang lain.
Pengemasan model pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk CD (Compact Disk). CD tersebut disebarluaskan supaya dapat diserap (diffusi) atau dipahami orang lain dan digunakan pada kelas mereka.