• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Pengumpulan data

Dalam menjelaskan mengenai hal-hal terkait dengan garap yang ada pada gendhing Laler Mengeng, baik garap miring kedah ataupun miring pasren, maka dilakukan langkah penelitian yang kualitatif. Oleh karena itu, mengadakan studi pustaka, observasi, serta wawancara bebas dan mendalam sangat penting dilakukan untuk mendapatkan data yang relevan dengan sasaran penelitian ini.

a. Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan dengan cara menelaah sumber-sumber tertulis. Data yang berkaitan dengan sasaran penelitian yang dilakukan dapat diperoleh dari berbagai makalah, artikel, skripsi, tesis, laporan penelitian dan buku-buku yang berkaitan dengan garap gendhing. Selanjutnya menyesuaikan pada setiap masalah yang telah dirumuskan.

Sumber tertulis yang mendukung dalam pemecahan masalah ini antara lain tulisan Waridi yang berjudul Martopangrawit Empu Karawitan Gaya Surakarta. Titilaras Rebaban I yang ditulis Djumadi serta buku Titilaras Rebaban II. Buku yang berjudul Gendhing-Gendhing Jawa Gaya Surakarta yang ditulis oleh Mloyowidodo,

Pengetahuan Karawitan I dan II oleh Martopangrawit, buku yang berjudul Pengertian Seni yang ditulis oleh Hebert Read. Selain itu buku Hayatan Gamelan yang ditulis oleh Sumarsam, dalam Bothekan I ditulis oleh Supanggah, Gamelan karya Sumarsam, buku yang ditulis oleh Bram Palgunadi yang berjudul Serat Kandha Karawitan, Macapat I karya Gunawan Sri Hascaryo, Garap dalam Karawitan Tradisi oleh Waridi. Selain itu juga pada tulisan Djohan yang berjudul Psikologi Musik, serta Serat Tuntunan Pedalangan oleh Nayawirangka.

b. Observasi

Selain data tertulis, juga dilakukan pengamatan, baik pengamatan langsung maupun tidak langsung. Pengamatan langsung berupa pengamatan yang dilakukan di lapangan ataupun terlibat di dalamnya. Pengamatan secara tidak langsung diperoleh dari kaset dokumentasi serta kaset-kaset yang bersifat komersial.

Dalam penelitian ini banyak dilakukan pengamatan tidak langsung.

Pengamatan langsung maupun tidak langsung dilakukan dengan maksud agar memperoleh data yang dibutuhkan untuk saling menguatkan antara data tertulis dengan data lisan.

Dalam penelitian ini data yang diperoleh dari pengamatan tidak langsung berupa audio visual diperoleh dari CD, kaset pita, rekaman-rekaman maupun MP3. Media rekam yang digunakan antara lain kaset terbitan Kusuma Recording, kaset terbitan STSI

Surakarta, dokumen ujian Pembawaan, dan Lokananta Recording.

Observasi lebih ditekankan untuk pengumpulan data yang menyangkut dengan analisis balungan pada rumusan masalah pertama yaitu mengenai bentuk garap pada gendhing Laler Mengeng.

c. Wawancara

Sumber lisan diperoleh dari wawancara secara bebas dan mendalam dengan memilih beberapa narasumber yang dianggap menguasai dalam bidang yang sesuai dengan penelitian ini.

Narasumber yang memiliki wawasan luas mengenai garap khususnya garap miring pada gendhing Laler Mengeng tersebut adalah:

1. Surasa Daladi 83 tahun, adalah seorang pengrawit, abdi dalem kraton Kasunanan Surakarta, serta sebagai tenaga pengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta. Diperoleh informasi mengenai pengertian miring, sistem penulisan serta karakter gendhing Laler Mengeng.

2. Jumadi 75 tahun, adalah seorang pengrawit, abdi dalem keraton Kasunanan Surakarta, serta dosen di Institut Seni Indonesia.

Diperoleh informasi mengenai garap gendhing Laler Mengeng Khususnya pada ricikan rebab.

3. Sukamso 67 tahun, seorang pengrawit karawitan gaya Surakarta sekaligus dosen pengajar jurusan Karawitan di Institut Seni

Indonesia Surakarta. Informasinya diperlukan untuk mengetahui masalah garap gendhing, khususnya garap gendhing Laler Mengeng.

4. Rusdiantoro 67 tahun, pengrawit karawitan gaya Surakarta sekaligus dosen pengajar pada jurusan Karawitan di Institut Seni Indonesia Surakarta. Informasinya diperlukan untuk mengetahui masalah garap gendhing yang erat hubungannya dengan masalah rasa yang dihadirkan dalam penyajian gendhing Laler Mengeng.

5. Slamet Riyadi 67 tahun, pengrawit karawitan gaya Surakarta serta dosen pengajar di jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta. Diperoleh informasi mengenai garap gending Laler Mengeng serta informasi garap irama gending Laler Mengeng.

6. Suraji 56 tahun, pengrawit karawitan gaya Surakarta sekaligus dosen pengajar jurusan karawitan di Institut Seni Indonesia Surakarta. Informasinya diperlukan untuk mengetahui masalah mengenai rasa gendhing.

7. Darsono 62 tahun, pengrawit karawitan gaya Surakarta sekaligus sebagai tenaga pengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta.

memperoleh informasi mengenai sistem penulisan notasi miring, serta beberapa contoh penulisan notasi miring.

8. Blacius Subono 61 tahun, seniman dalang sekaligus dosen pengajar jurusan Karawitan di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Informasinya diperlukan untuk memperoleh data mengenai penggunaan gendhing Laler Mengeng dalam pakeliran.

9. Sugimin 61 tahun, seorang pengajar karawitan gaya Yogyakata di Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta. Diperoleh informasi menganai garap irama sebagai perbandingan dengan karawitan gaya lain.

10. Purwa Askanta (49), seorang musisi serta komponis yang mumpuni sekaligus pengajar di jurusan karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta. Informasi yang diperoleh adalah mengenai minor dalam musik barat sebagai perbandingan dengan miring dalam karawitan Jawa.

Data dari narasumber tersebut diharapkan dapat dijadikan data primer dan data pendukung dalam penelitian ini.

2. Analisis Data

Setelah pengumpulan data, selanjutnya data-data yang telah diperoleh dilakukan pengolahan data dan dikelompokkan menurut masalah-masalah yang telah dirumuskan, yaitu:

Telah terkumpul beberapa data yang menyangkut beberapa masalah yang telah dirumuskan dari sumber pustaka mengenai pengertiang garap, pengertian garap miring beserta arti dari miring kedah maupun miring pasren, yang akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa

garap pada sebuah penyajian gendhing merupakan suatu tindakan kreatif yang didalamnya sudah mengandung unsur suatu garap tertentu dari sang penciptanya, akan tetapi masih bisa dikembangkan lagi oleh para pengrawit generasi penerus dari empu terdahulu maupun penciptanya.

Unsur-unsur penting dari garap dalam karawitan terdiri atas ricikan, gendhing, balungan gendhing, vokabuler cengkok dan wiledannya, serta pengrawit. Selain itu beberapa data juga telah dikelompokkan untuk memecahkan masalah mengenai beberapa Balungan pada gendhing Laler Mengeng yang harus digarap miring kedah maupun miring pasren. Data-data yang diperoleh untuk rumusan masalah kedua dapat disimpulkan bahwa sebuah garap yang ada berawal dari alur melodi yang memang sudah terkandung di dalamnya, serta terpengaruh oleh pathet induknya.

Dokumen terkait