• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.Teknik Penelitian

Menurut Deetz (1967: 8) dalam bukunya Invitation to Archaeology, ada

tiga tingkatan dalam penelitian arkeologi, yaitu: 1).Tingkat Pengumpulan Data (Observation),2). Tingkat Pengolahan Data (Description), dan 3). Tingkat Penafsiran Data (Explanation). Ketiga metode digunakan didalam penelitian ini. 1.Pengumpulan Data

Sumber data penelitian ini ada dua , yaitu data sekunder yang diperoleh melalui penelitian pustaka, dan data primer yang diperoleh dari penelitian lapangan dengan teknik observasi dan survey permukaan (Site Surface Survey). a. Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara : mencari, mengumpulkan, dan mempelajari data kepustakaan yang berhubungan dengan lokasi penelitian dan objek penelitian yaitu situs-situs yang berada di Kecamatan

41 Kajang, Kabupaten Bulukumba. Sumber data berupa laporan, buku, ataupun artikel yang memuat tentang gambaran lokasi penelitian, keadaan dan sebaran situs, sejarah singkat situs, laporan penelitian, mengumpulan dan membacabeberapa tulisan tentang tradisi lisan masyarakat berupa pasang, mengumpulkan dan membaca peta untuk mengetahui lokasi penelitian, sebaran dan distribusi sumberdaya lingkungan dan batas desa.

Untuk mengetahui lokasi penelitian, digunakan peta U.S. Army Washington D.C sheet 77/XXXV-B tahun 1923, dan peta rupabumi lembar 2110-42 tahun 1991, dan tahun 1999 yang diterbitkan oleh Bakosurtanal, serta peta pembagian administrasi dan pembagian kawasan Kajang.

b. Data Primer

Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi dan survey permukaan (Site Surface Survey) terhadap bangunan, artefak, toponim, ataupun elemen lainnya, untuk mengetahui pola tata ruang, bentuk dan karakteristik arsitektur bangunan.

1.Observasi

Observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang akan diselidiki (Hadi, 1984: 136). Observasi dilakukan untuk melihat perilaku To Kajang dalam pemilihan tata ruang permukiman, untuk melihat kondisi alam dan lingkungan Kecamatan Kajang. Selain itu, untuk mengetahui sejauh mana intensitas keterkaitan secara arkeologis, historis, arsitektural, ideologis, sosiologis, dan antropologis dengan aktifitas-aktifitas masyarakat tersebut. Data yang diamati dalam kegiatan ini juga

42 mencakup nama-nama kampung atau toponim yang dapat mencerminkan berbagai aktifitas yang menunjukkan fenomena-fenomena historis-kultural, hal ini merupakan data yang dapat dijaring melalui pendekatan etnohistoris dan etnoarkeologis, yaitu berbagai aktifitas masyarakat di masa sekarang yang masih terkait atau mencerminkan pengetahuan dan kehidupannya di masa lampau.

2.Survey Permukaan (Site Surface Survey)

Survey permukaan dilakukan dengan tujuh tahap, yaitu :

1. Mencari data di setiap situs.

2. Memplot situs yang ditemukan dalam peta topografi.

3. Melakukan pencatatan terhadap hal-hal yang dianggap penting pada situs berdasarkan pengamatan langsung.

4. Melakukan pengukuran (bila dianggap perlu) seperti pengukuran beberapa sampel makam, serta luas masing-masing Situs.

5. Mengambil beberapa sampel keramik yang ditemukan di lapangan.

6. Melakukan pemotretan untuk mengambil gambar pada saat penelitian berlangsung yang bertujuan sebagai salah satu bukti dimensional. Adapun bentuk pendokumentasian yang dilakukan, terdiri atas dokumentasi temuan, area situs, area survey, bentang alam pada tiap sisi situs, dan aktifitas budaya masyarakat.

7. Melakukan wawancara tak terstruktur.Wawancara jenis ini digunakan untuk menjaring informasi awal penelitian yang masih luas dan umum. Wawancara tak terstruktur digunakan ketika berhadapan dengan informan yang memiliki pengetahuan dan mendalami situasi serta mereka yang

43 mengetahui informasi yang diperlukan (Moleong, 1989: 94-152). Wawancara dilakukan untuk mengetahui, dan memahami fenomena-fenomena tertentu yang diperlukan sebagai data, misalnya untuk mengetahui sejarahnya, fungsi teknis, fungsi sosial ataupun arti simbolik suatu benda, bangunan atau fenomena lainnya, kedudukan masing-masing situs dalam kawasan Kajang berdasarkan ajaran pasang, serta letak artefak, dan kemungkinan adanya observasi penggunaan lahan yang mengakibatkan terjadi transformasi terhadap artefak yang berada di lokasi penelitian. Hasil wawancara kemudian dicocokkan dengan data guna menjaring informasi yang berkaitan dengan topik penelitian. Informan ditentukan melalui keterangan orang yang berwenang, baik secara formal seperti pemerintahan maupun informal seperti pemimpin atau tokoh adat. Informan yang penulis maksud adalah “orang dalam” pada latar penelitian yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Pemilihan informan dilakukan untuk mengetahui tentang situasi dan kondisi masyarakat Kajang, serta untuk mengetahui tentang nilai-nilai, sikap dan kebudayaan yang menjadi latar penelitian. Informan yang dipilih adalah: Pertama, orang yang mengetahui budayanya dengan baik, Kedua, keterlibatan langsung, yaitu informan yang pada saat wawancara masih terlibat secara langsung dalam budayanya sendiri. Ketiga, suasana budaya yang tidak dikenal, yaitu keterpisahan kultural secara tegas antara informan dengan peneliti, sehingga segala hal yang diungkapkan oleh informan kepada peneliti menjadi sesuatu yang asing

44 dan menarik. Keempat, cukup waktu, yakni ketersediaan waktu yang dimiliki informan untuk diwawancarai oleh peneliti (Spradley, 1997: 61-67). Informan yang dipilih berdasarkan kriteria; jujur, suka berbicara, mempunyai pandangan yang luas tentang objek penelitian dan cerdas, serta sudah lama tinggal di wilayah Kajang.

2.Pengolahan Data

Di dalam tahap ini termasuk juga tahap identifikasi, klasifikasi, dan analisis. Tujuan tahap ini adalah penguraian secara lengkap data yang diperoleh ke dalam dimensi ruang, waktu, dan bentuk. Dimensi ruang untuk mengetahui hubungan artefak secara horizontal, baik dalam ruang lingkup yang sempit maupun dalam ruang lingkup yang luas, sedangkan dimensi waktu untuk pertanggalan suatu artefak. Kemudian mengklasifikasikan menurut bentuknya sehingga dapat dibandingkan dengan temuan yang lain. Setelah diperoleh gambaran mengenai jumlah, fungsi dan kedudukan situs di wilayah Kajang, luas wilayah serta artefak dan sumberdaya lingkungan situs, maka data akan diolah dengan teknik sebagai berikut :

a. Membuat daftar isian setiap situs, meliputi keletakan (administrasi dan astronomi), luas situs dan berbagai keterangan tentang artefak dalam situs berdasarkan data survey.

b. Mengelompokkan situs berdasarkan keletakan permukimannya, tipologi situs, dan skala masyarakat.

45

letak permukimannya, dan berdasarkan keletakan kawasan secara

administratif dan astronomis serta data sejarah. Membuat tabel, dan gambar yang dianggap perlu dalam penelitian.

3.Penafsiran Data

Pada tahap ini dilakukan interpretasi terhadap data yang telah dikumpulkan, dan dideskripsi berdasarkan klasifikasinya masing-masing, guna menyimpulkan gejala-gejala yang diamati, dan menjelaskannya dalam suatu sistem sosial dan sistem budaya. Adapun tahap eksplanasi dilakukan dengan teknik sebagai berikut:

a. Menentukan satuan ruang penelitian arkeologi ke dalam tataran/skala meso, dan makro. Penentuan batas ruang analisis ditentukan berdasarkan batas kultural, dan batas alam. Hubungan-hubungan yang hendak diketahui dalam kajian ini adalah hubungan antara benda arkeologi atau situs dengan sumber daya lingkungannya.

b. Membuat interpretasi tentang tipe (skala) masyarakat dalam wilayah penelitian didasarkan atas pengklasifikasian masyarakat Elman Servis.

c. Membuat tipologi dan hirarki situs. Tipologi situs dengan cara

menggabungkan tipologi yang telah dibuat J.R. Parson dan Richard E. Blanton. Hirarki situs didasarkan oleh tipologi yang telah ditentukan berdasarkan kriterianya masing-masing.

d. Membuat sistem dan pola permukiman di kawasan Kajang. Sistem permukiman dapat diketahui berdasarkan atas tipe masyarakat, tipologi masyarakat dan hirarki situs. Sistem permukiman menjadi indikator

46 pembentuk pola permukiman. Pola persebaran benda arkeologi dalam tataran meso untuk mengetahui hubungan lokasional antara benda arkeologi dan fitur dalam suatu situs, dan skala makro dapat mengetahui hubungan lokasional antara benda arkeologi dan situs-situs, serta perilaku masyarakat dalam suatu kawasan. Menjelaskan aspek ideologi, sistem sosial, dan lingkungan sebagai faktor pembentuk tata ruang dalam kawasan To Kajang.

Analisis dalam aplikasinya melibatkan berbagai cara berpikir. Hal itu mengacu pada pemeriksaan sistematis untuk menentukan bagian-bagiannya, hubungan antara bagian-bagian tersebut, serta hubungan dari keseluruhan bagian yang ada. Menurut Spradley (1980: 85), analisis dalam konteks penelitian sosial mengharuskan peneliti mengkaji pola-pola budaya (cultural patterns), seperti: 1) pengetahuan budaya (cultural knowledge) yaitu apa yang diketahui masyarakat, 2) perilaku budaya (cultural behavioral) yaitu apa yang dilakukan masyarakat, dan 3) benda-benda budaya (cultural artefacts) yaitu apa yang dihasilkan dan digunakan masyarakat. Dalam penelitian ini, benda arkeologi dianalisis secara morfologi dan kontekstual. Hasil analisis dijadikan dasar bagi interpretasi arkeologi berkenaan dengan sistem ideologi, sistem sosial, dan lingkungan.

2.Kendala yang Dihadapi

Dalam penelitian yang dilakukan ditemui kendala yang dihadapi, antara

lain: beberapa artefak yang berada di dalam hutan keramat di kawasan

kamase-masea seperti : batu temu gelang, kuburu’ tunggalaka (makam tunggal), batu pannurungang, tidak bisa didata secara langsung. Kendala semacam ini penulis

47 siasati dengan cara mendeskripsi dan mensketsa hasil wawancara yang telah diperoleh.

Dokumen terkait