• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODE PENELITIAN

6.2. Saran

Dari hasil penelitian yang diperoleh, maka saran-saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

a. Diperlukan penjelasan kepada siswa-siswi mengenai pengaruh status gizi lebihdengan prestasi akademik.

b. Diperlukan pertimbangan terhadap faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi akademik seperti kehadiran dan pelajaran tambahan (les).

c. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh gizi kurang terhadap prestasi akademik.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Remaja

2.1.1. Definisi Remaja

Remaja adalah periode pertumbuhan dan perkembangan fisik, emosi, kognitif dan sosial. Secara umum, remaja dimulai pada usia 11-12 tahun dan berakhir pada usia antara 18–21 tahun(Kaplan dan Love-Osborne, 2009). Seringkali dalam pembahasan soal remaja digunakan istilah pubertas dan adolesen. Istilah pubertas digunakan untuk menyatakan perubahan biologis yang meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi dengan pesat dari masa anak ke masa dewasa, terutama kapasitas reproduksi yaitu perubahan alat kelamin dari tahap anak ke dewasa. Sedangkan yang dimaksud dengan adolesen, dulu merupakan sinonim dari pubertas, sekarang lebih ditekankan untuk menyatakan perubahan psikososial yang menyertai pubertas (Soetjiningsih, 2004).

Mengenai umur kronologis berapa seorang anak dapat dikatakan remaja, masih terdapat berbagai pendapat (Pardede, 2002). Berikut berbagai definisi tentang remaja, yaitu:

1. Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefinisikan remaja adalah: bila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan dan 12-20 tahun untuk anak laki-laki.

2. Menurut undang-undang No 4 tahun 1979 mengenai Kesejahteraan Anak, remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah. 3. Menurut WHO, remaja bila anak telah mencapai umur 10-19 tahun.

Menurut Pardede (2002) masa remaja berlangsung melalui 3 tahapan yang masing-masing ditandai dengan isu-isu bilogik, psikologik, dan sosial, yaitu: 1. Masa remaja awal (10-14 tahun)

2. Masa remaja pertengahan (15-16 tahun) 3. Masa remaja lanjut (17-20 tahun)

Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing-masing individu. Walaupun setiap tahap mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas

yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan (Soetjiningsih, 2004).

Menurut Kaplan dan Love-Osborne (2009) perkembangan dari anak menuju dewasa dapat disimpulkan dalam beberapa tahapan sebagai berikut:

1. menyelesaikan pubertas dan pertumbuhan somatik

2. perkembangan sosial, emosional dan kognitif serta perubahan pemikiran abstrak menjadi pemikiran konkrit

3. membangun identitas independen dan berpisah dari keluarga 4. mempersiapkan diri untuk karir atau pekerjaan

2.1.2. Perkembangan Psikososial Remaja

Kematangan seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja. Kematangan seksual yang terlalu cepat atau lambat juga dapat mempengaruhi kehidupan psikososialnya, yaitu status mereka di dalam kelompok sebayanya (Marheni, 2004). Berikut pembagian perkembangan psikososial menurut tahapan masa remaja:

1. Masa Remaja Awal

Seorang anak pada masa adolesensi awal ini harus berfungsi dalam 3 arena: keluarga, kelompok sebaya (peer group) dan sekolah. Dalam setiap arena terdapat suatu interaksi yang kompleks dari faktor-faktor penentu untuk dapat berfungsi dengan baik. Di dalam keluarga, perkembangan yang utama pada masa adolesensi awal ini adalah memulai ketidaktergantungan terhadap keluarga. Dengan kelompok sebayanya biasanya seorang remaja pada masa ini akan berkumpul dengan teman sejenis. Penerimaan oleh kelompok sebaya merupakan hal yang sangat penting. Perkembangan fisik pada masa pubertas yang sinkron dengan teman sebaya merupakan faktor yang penting dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolahnya (Pardede, 2002).

2. Masa Remaja Menengah

Pada pertengahan masa remaja, mereka mulai memperhatikan apakah tubuhnya terlalu gemuk atau kurus dan bagaimana menjaga bentuk tubuh

yang ideal. Pada saat itu mereka mulai memperhatikan tubuhnya dan penampilan dirinya dan sering membandingkan dirinya dengan orang lain (Marheni, 2004).

Masalah self-image (jati diri) cenderung muncul pada remaja yang menganggap perkembangan pubertasnya bermasalah. Setiap perbedaan dengan rata-rata teman sebayanya akan menimbulkan kecemasan. Kecemasan sering juga timbul karena merasa tidak aman dalam berteman dan ketakutan akan ditolak dalam pergaulan (Pardede, 2002).

3. Masa Remaja Akhir

Ciri khas pada masa ini adalah orientasinya ke masa depan. Hubungan dengan orangtua mulai stabil. Pergaulan dengan kelompok sebaya mulai mengarah kepada membina keintiman dengan jenis kelamin berbeda. Mulai dapat menerima adanya perbedaan di antara teman (Pardede, 2002).

2.1.3. Kemampuan Prestasi Remaja di Sekolah

Prestasi yang buruk merupakan problem yang cukup menggejala di kalangan remaja. Istilah underachiever, masalah sosial, dan emosional ternyata ditemukan sebagai sumber permasalahannya (Kusuma, 2004). Menurut observasi Haditono (1994) keadaan underachiever di Indonesia sendiri cukup kompleks, suatu kombinasi dari faktor yang cukup banyak, yaitu:

1. Kurangnya faktor belajar secara luas di sekolah, terutama di pelosok-pelosok maupun di rumah.

2. Kurangnya stimulasi belajar dan stimulasi mental. Hal ini terutama berlaku bagi orangtua dengan pendidikan yang rendah sehingga mereka kurang mengerti bagaimana membantu anak-anak mereka agar lebih berhasil. Sementara pada orangtua dengan pendidikan tinggi, kesibukan bekerja menjadi kendalanya.

3. Kecukupan gizi, yang bilamana dapat mencapai tingkat yang lebih baik maka secara fisik anakpun akan menggunakan kapasitas otak secara maksimal.

4. Perubahan sistem belajar yang terlalu sering bahkan pada setiap periode pergantian pemerintahan, dengan dalih untuk mencapai sistem yang baik. Permasalahan belajar dapat diintrepretasikan melalui prestasi akademik atau aktivitas sehari-hari yang membutuhkan kemampuan membaca, matematika atau kemampuan menulis (Kardana dan Soetjiningsih, 2004). Menurut Kardana dan Soetjiningsih (2004) masalah-masalah yang berhubungan dengan gangguan belajar adalah:

1. Masalah – masalah emosi dan perilaku

Dalam sistim pendidikan seorang remaja dikatakan mengalami masalah perilaku jika mereka sulit belajar di dalam kelas. Remaja dikatakan memiliki masalah emosi jika mereka memiliki gangguan psikiatri yang mempengaruhi kehadiran dan penampilan di sekolah.

2. Masalah-masalah keluarga, sosial dan budaya

Sistim keluarga, masyarakat, lingkungan sekolah berpengaruh terhadap motivasi remaja, dan penampilan di sekolah. Masing-masing faktor tersebut perlu mendapat perhatian bila seorang individu mengalami prestasi yang kurang. Stres ekonomi, lingkungan, emosi dalam keluarga dapat mengakibatkan seorang remaja mengalami disfungsi di sekolah. Minat orang tua terhadap keberhasilan pendidikan remaja dapat juga mempunyai pengaruh yang besar pada perjalanan dan motivasi remaja di sekolah.

2.2.Obesitas

2.2.1. Definisi Obesitas

Obes berasal dari bahasa Latin obdere, yang berarti “to devour”, makan dengan sangat rakus. Obesitas merupakan keadaan patologis sebagai akibat dari konsumsi makanan yang jauh melebihi kebutuhannya (psychobiological cues for eating) sehingga terdapat penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh (Suandi, 2004).

2.2.2. Definisi Obesitas pada Remaja

Obesitas pada anak dan remaja usia 2-20 tahun ditentukan dengan menggunakan kurva persentil Indeks Massa Tubuh berdasarkan umur dan jenis kelamin (lihat Gambar 2.1. dan Gambar 2.2.). Indeks Masa Tubuh didefinisikan sebagai berat badan/tinggi badan kwadrat (kilogram per meter persegi), merupakan indeks yang paling berguna yang digunakan untuk skrining populasi remaja obesitas karena indeks ini berkolerasi secara bermakna dengan lemak subkutan maupun lemak tubuh total pada remaja, terutama mereka dengan proporsi terbesar lemak tubuh (Behrman, Kliegman, dan Arvin, 1996).

Menurut World Health Organization Multicentre Growth Reference Study (WHO-MGRS) pada tahun 2007, status gizi anak usia 5-19 tahun menurut usia dan jenis kelamin adalah:

• gizi lebih (Obesitas) : >+2SD • resiko gizi lebih (Overweight) : >+1SD

• gizi baik : <+1SD dan >-2SD • gizi kurang (Thinness) : <-2SD



Gambar 2.1. Kurva persentil IMT berdasarkan umur pada anak laki-laki 5-19 tahun (World Health Organization Multicentre Growth Reference Study (WHO-MGRS), 2007)

Gambar 2.2. Kurva persentil IMT berdasakan umur pada anak perempuan 5-19 tahun (World Health Organization Multicentre Growth Reference Study (WHO-MGRS), 2007)

2.2.3. Faktor Resiko Obesitas

Secara sederhana timbulnya obesitas dapat diterangkan bila masukan makanan melebihi kebutuhan faali. Seperti diketahui, bahan-bahan yang terkandung dalam makanan sehari-hari akan menjadi penyusun tubuh selalu melalui berbagai proses dengan mekanisme pengaturan sebagai berikut:

1. penyerapan dalam saluran pencernaan 2. metabolisme dalam jaringan

Dengan demikian, sebetulnya tubuh mampu menyesuaikan diri terhadap berbagai macam masukan bahan makanan. Untuk bahan makanan berupa protein, air, mineral, dan vitamin, jumlah masukan tiga kali lipat dari kebutuhan minimum dengan mudah akan dibuang. Tetapi untuk bahan makanan hidrat arang dan lemak, hanya sebagian kecil yang dapat dijumpai di tinja. Apabila masukannya melebihi kebutuhan tenaga tubuh, maka kelebihannya akan disimpan dalam bentuk lemak dan jaringan adiposa. Untuk mengatur masukan dan keluaran tenaga, cadangan di dalam tubuh akan melakukan mekanisme pengaturan (Misnadiarly, 2007).

Menurut Misnadiarly (2007) beberapa faktor yang mempengaruhi mekanisme pengaturan tersebut, antara lain:

1. Umur

Meskipun dapat terjadi pada semua umur, obesitas sering dianggap sebagai kelainan pada umur pertengahan. Obesitas yang muncul pada tahun pertama kehidupan biasanya disertai perkembangan rangka yang cepat dan anak menjadi besar untuk umurnya.

2. Jenis kelamin

Selama masa pertumbuhan remaja, komposisi tubuh juga mengalami perubahan. Pada masa pra-remaja, komposisi lemak tubuh pada anak laki-laki dan perempuan relatif sama, masing-masing 15% dan 19%. Tetapi pada masa remaja pertumbuhan lemak anak perempuan lebih pesat, sehingga waktu dewasa menjadi 22% pada anak perempuan 15% pada laki-laki (Soetjiningsih dan Suandi, 2002)

3. Tingkat sosial

Obesitas pada anak-anak muda sering dijumpai pada keluarga mampu, tetapi akan sulit dijumpai pada keluarga miskin. Keadaan semacam ini misalnya terlihat pada keluarga pedagang maupun pegawai atau karyawan menengah ke atas. Jadi dalam hal ini umur bukan merupakan penentu utama timbulnya obesitas.

Aktivitas fisik yang rendah sering kali dijumpai pada anak yang memiliki berat badan lebih dan obesitas. Anak-anak dengan berat badan lebih

(overweight) menonton televisi lebih lama, bermain video game lebih

banyak, dan lebih jarang ikut serta dalam aktivitas fisik daripada anak yang tidak memiliki berat badan lebih (overweight) (Jansen et al., 2004). 5. Kebiasaan makan

Pola makanan tradisional yang tadinya tinggi karbohidrat, tinggi serat kasar, dan rendah lemak berubah ke pola makan baru yang rendah karbohidrat, rendah serat kasar, dan tinggi lemak sehingga menggeser mutu makanan ke arah tidak seimbang. Perubahan pola makan ini dipercepat oleh makin kuatnya arus budaya makanan asing disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi dan globalisasi ekonomi (Almatsier, 2009).

6. Faktor psikologis

Faktor stabilitas emosi diketahui berkaitan dengan obesitas. Keadaan obesitas dapat merupakan dampak dari pemecahan masalah emosi yang dalam, dan ini merupakan suatu pelindung penting bagi yang bersangkutan. Dalam keadaan seperti ini menghilangkan obesitas tanpa menyediakan pemecahan alternatif yang memuaskan, justru akan memperberat masalah.

7. Faktor genetis

Gen memiliki pengaruh yang kuat dalam perkembangan obesitas untuk anak-anak. Cara gen mempengaruhi pembentukan jaringan adiposa masih belum dapat dibuktikan dengan jelas, sementara pengaruh spesifik gen berbeda pada setiap anak. Menurut Haugaard (2008) gen dapat berpengaruh secara langsung dan tidak langsung. Gen berpengaruh secara langsung melalui frekuensi dari pembentukan sel adiposa baru yang mengakibatkan peningkatan simpanan energi menjadi lemak. Gen mempengaruhi secara tidak langsung melalui seorang bayi yang tingkat kelaparannya dipengaruhi oleh gen, lebih tinggi dari bayi lain pada umumnya. Seringkali orangtua memberikan makanan yang lebih banyak

pula dikarenakan rasa lapar yang lebih pada anak tersebut. Makanan yang berlebih yang dikonsumsi anak merupakan penyebab langsung pembentukan lemak tubuh, namun ia menerima makanan berlebih sebagian karena ia memiliki rasa lapar yang tinggi dan yang dipengaruhi oleh gen yang dimilikinya.

2.2.4. Efek Klinis Obesitas pada Remaja

Obesitas menimbulkan bermacam efek terhadap pertumbuhan, perkembangan psikososial, dan timbulnya penyakit. Kelebihan timbunan lemak menimbulkan efek paling ringan terhadap pertumbuhan. Remaja yang obes umumnya lebih tinggi pada setiap usia daripada remaja lain dari usia dan jenis kelamin sama, atau lebih tinggi dari perkiraan potensial genetiknya. Perkecualian pada beberapa sindrom kongenital atau sindrom Prader-Willi dan sindroma Cushing: ditemukan TB lebih rendah dari persentil ke-50 atau lebih rendah dari TB yang diperkirakan menurut potensial genetiknya (Suandi, 2004).

Menurut Unger, Ariza, dan Sentongo (2005), efek klinis yang berhubungan dengan kelebihan berat badan, adalah:

• Toleransi glukosa dan peningkatan prevalensi diabetes tipe 2. Anak yang didiagnosa dengan diabetes tipe 2 memiliki resiko sebagai dewasa muda dengan penyakit gagal ginjal, keguguran, kebutaan, amputasi, bahkan kematian.

• Peningkatan resiko hiperlipidemia (peningkatan kolesterol serum, HDL (high-density lipoprotein), dan hipertrigliseridemia) yang berhubungan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah (hipertensi dan aterosklerosis). Fatty streaks telah ditemukan di arteri koroner pada anak dengan kelebihan berat badan pada usia 10 tahun.

• Anak dengan kelebihan berat badan memiliki resiko mengalami steatosis hepatis, penyakit empedu, gastroesophageal reflux, penyakit pernafasan, dan kelainan ortopedik.

• Gangguan tidur seperti kelainan bernafas saat tidur, mengorok, sleep apnea, mengantuk, tidur tidak pulas, dan mengompol. Hal ini didiagnosa dari gejala klinis dalam beberapa kasus penelitian mengenai tidur.

• Dispnea saat ekspirasi juga sering dialami anak dengan kelebihan berat badan. Gejala yang muncul adalah batuk, respiratory distress, nyeri dada, dan pallor dengan peningkatan aktifitas fisik.

Social ostracism, gangguan emosional, dan gangguan sosial sering muncul

dan dapat sangat mempengaruhi anak dengan kelebihan berat badan dari remaja sampai dewasa.

Menurut Misnadiarly (2007) kelebihan berat badan juga dapat menyebabkan terjadinya masalah yang menyangkut perkembangan sosial dan emosional anak seperti:

1. Percaya diri rendah dan rawan diganggu anak lain

Anak-anak sering kali mengganggu atau mencela kawan mereka yang kelebihan berat badan, dan sering kali mengakibatkan anak tersebut kehilangan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko terjadinya depresi. 2. Problem pada tingkah laku dan pola belajar

Anak-anak yang kelebihan berat badan cenderung lebih sering merasa cemas dan memiliki kemampuan bersosialisasi lebih rendah daripada anak-anak dengan berat normal. Masalah-masalah ini mengakibatkan anak-anak tersebut:

• meledak dan mengganggu ruang • menarik diri dari pergaulan sosial

Stres dan cemas juga akan mengganggu proses belajar. Kecemasan yang berhubungan dengan masalah sekolah dapat menimbulkan rasa khawatir yang terus meningkat akan menyebabkan menurunnya pencapaian akademis.

Hasil penelitian di Portugal oleh Miguel (2008), remaja yang menganggap dirinya “gemuk” adalah mereka dengan pencapaian akademis yang buruk dan remaja yang mengganggap dirinya “kurus” adalah mereka dengan pencapaian akademis yang baik. Situasi yang sama ketika menganalisis hubungan depresi dan obesitas, remaja yang obes memiliki prestasi akademik yang lebih buruk dibandingkan dengan remaja yang non-obes. Menurut penelitian di Korea oleh Young dan Finkelstein (2011) pun memiliki hasil yang sama. Dimana antara remaja di Korea, anak dengan

overweight dan obesitas memiliki kecenderungan lebih besar memiliki

prestasi akademik yang lebih rendah.

3. Depresi

Isolasi sosial dan rendahnya rasa percaya diri menimbulkan rasa perasaan tidak berdaya pada sebagian anak yang kelebihan berat. Bila anak-anak kehilangan harapan bahwa hidup mereka akan menjadi lebih baik, pada akhirnya mereka akan mengalami depresi. Seorang anak yang mengalami depresi akan kehilangan rasa tertarik pada aktivitas normal, lebih banyak tidur dari biasanya atau sering kali menangis.

Kebanyakan anak yang mengalami depresi mengalami kesulitan dalam bidang akademis. Penarikan diri yang dilakukan mengakibatkan ketidakmampuan mengikuti aktifitas akademik di sekolah. Hal ini mengakibatkan kesulitan konsentrasi dan kelelahan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah dan tugas di kelas. Hasilnya, anak-anak tersebut akan memiliki prestasi akademik yang kurang baik, dimana akan meningkatkan stres dan depresi secara berkelanjutan (Haugaard, 2008).

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara-negara dengan pendapatan rendah dan sedang (low and middle income) sedang mengalami persoalan kesehatan yang dikenal dengan istilah “double-burden”. Maksud dari istilah ini adalah ketika negara-negara tersebut sedang mengahadapi persoalan penyakit infeksi dan nutrisi yang buruk, negara-negara tersebut juga menghadapi peningkatan faktor resiko obesitas/kegemukan dan overweight. Hal ini terjadi terutama di daerah perkotaan (WHO, 2013).

Obesitas adalah keadaan dengan akumulasi lemak tubuh yang berlebihan atau abnormal yang dapat berdampak kepada kesehatan (WHO, 2013).Akumulasi lemak tubuh yang berlebihan atau abnormal disebabkan perubahan pola makan masyarakat. Pola makanan tradisional yang tadinya tinggi karbohidrat, tinggi serat kasar, dan rendah lemak berubah ke pola makan baru yang rendah karbohidrat, rendah serat kasar, dan tinggi lemak sehingga menggeser mutu makanan ke arah tidak seimbang. Perubahan pola makan ini dipercepat oleh makin kuatnya arus budaya makanan asing disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi dan globalisasi ekonomi (Almatsier, 2009).

Menurut WHO pada tahun 2011, secara global, lebih dari 40 juta anak dibawah usia 5 tahun mengalami overweight. Awalnya diperkiran hal ini adalah persoalan negara berpendapatan tinggi, tetapi faktanya obesitas dan overweight meningkat pada negara berpendapatan rendah dan berpendapatan sedang, khususnya di daerah perkotaan. Lebih dari 30 juta anak overweight berada di negara berkembang dan 10 juta di negara maju (WHO, 2013).

Data Riset Kesehatan Dasar Nasional (RISKESDASNAS) tahun 2010 menunjukkan prevalensi kegemukan pada anak sekolah usia 13-15 tahun 2,9% untuk laki-laki dan 2,0% untuk perempuan pada tahun 2010. Prevalensi kegemukan di tingkat nasional pada anak usia 13-15 tahun adalah sebesar 2,5%. Provinsi Sumatera Utara memiliki prevalensi kegemukan pada anak 13-15 tahun di atas prevalensi nasional, yaitu 3,0% pada tahun 2010.

Terdapat beberapa hal yang menjadi konsekuensi obesitas pada anak. Konsekuensi kesehatan fisik yang dialami anak dengan obesitas yang berkepanjangan meningkatkan resiko penyakit jantung koroner, berkembang menjadi diabetes tipe2, berkembang menjadi asma, sleep apnea, dan persoalan muskuloskeletal. Sementara dari segi psikologis, menurut beberapa penelitian, obesitas anak usia sekolah dan remaja memiliki total skor percaya diri yang lebih rendah dibandingkan yang memiliki tubuh ideal. Selain itu mereka juga beresiko mengalami binge-eat.Obesitas juga mempengaruhi psikososial anak dimana mereka lebih sering dikucilkan dan dijadikan sasaran ejekan oleh teman-temannya.Hal ini meningkatkan resiko untuk merasa marah, depresi, cemas dan juga social withdrawal (menarik diri) (Haugaard, 2008).

Kebanyakan anak yang mengalami depresi mengalami kesulitan dalam bidang akademis.Penarikan diri yang dilakukan mengakibatkan ketidakmampuan mengikuti aktifitas akademik di sekolah.Hal ini mengakibatkan kesulitan konsentrasi dan kelelahan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah dan tugas di kelas. Hasilnya, anak-anak tersebut akan memiliki prestasi akademik yang kurang baik, dimana akan meningkatkan stres dan depresi secara berkelanjutan (Haugaard, 2008).

Pada anak remaja, hubungan negatif antara berat badan berlebih dan prestasi akademik telah dibuktikan pada penelitian sebelumnya di Korea (Kyung & Finkelstein, 2011) dan Portugal (Miguel, 2008). Penelitian-penelitian tersebut menggunakan metode kuesioner terbuka dengan hasil yang sama pada hubungan antara obesitas dan prestasi akademik. Sementara di negara berkembang seperti Indonesia obesitas kemungkinan terjadi dengan alasan dan metode edukasi yang berbeda (Herlina, Djais, dan Rusmil, 2013). Pada penelitian yang dilakukan di Indonesia pada anak SD di Bandung (Herlina, Djais, dan Rusmil, 2013) dengan menggunakan metode penilaian prestasi akademik dari hasil belajar/rapor menunjukkan anak dengan obesitas memiliki hasil prestasi yang lebih rendah pada mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris.

Dengan adanya pengaruh obesitas pada anak dengan prestasi akademik, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh obesitas dengan prestasi akademik pada anak Sekolah Menengah Pertama Santo Thomas 1 Medan.

1.2. Rumusan Masalah

Apakah terdapat pengaruh obesitas dengan prestasi akademik pada anak Sekolah Menengah Pertama Santo Thomas 1 Medan?

1.3. Tujuan Penelitian Tujuan Umum:

Secara umum penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh obesitas dengan prestasi akademik pada anak Sekolah Menengah Pertama Santo Thomas 1 Medan.

Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

1. Mengetahui prevalensi obesitas di Sekolah Menengah Pertama Santo Thomas 1 Medan.

2. Mengetahui prestasi akademik mata pelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama Santo Thomas 1 Medan.

3. Mengetahui prestasi akademik mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama Santo Thomas 1 Medan.

4. Mengetahui prestasi akademik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Menengah Pertama Santo Thomas 1 Medan.

5. Mengetahui pengaruh obesitas dengan prestasi akademik remaja mata pelajaran matematika, bahasa Inggris, dan Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Menengah Pertama Santo Thomas 1 Medan.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap: 1. Bidang Penelitian

Peneliti diharapkan dapat mencari pengaruh antara obesitas dengan prestasi akademik pada anak Sekolah Menengah Pertama Santo Thomas 1 Medan serta mendapatkan pengalaman saat melakukan penelitian.

2. Bidang Pendidikan

Hasil penelitian diharapkan dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut tentang pengaruh obesitas dengan prestasi akademik pada anak Sekolah Menengah Pertama.

3. Bidang Pelayanan Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat tentang pengaruh obesitas dengan prestasi akademik pada anak Sekolah Menengah Pertama sehingga masyarakat dapat mengatur pola makan yang tepat untuk menjaga tubuh yang ideal.

ABSTRAK

Latar Belakang: Obesitas adalah keadaan dengan akumulasi lemak tubuh yang berlebihan atau abnormal yang dapat berdampak terhadap kesehatan. Terdapat beberapa hal yang menjadi konsekuensi obesitas pada remaja. Salah satu konsekuensi obesitas pada remaja adalah masalah terhadap psikososial remaja yang berdampak terhadap prestasi di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi obesitas, dan pengaruhnya terhadap prestasi akademik mata pelajaranmatematika, bahasa Inggris, dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan metode pengambilan potong lintang (cross sectional study) yang dilakukan dengan mengumpulkan data

Dokumen terkait