• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi eksperimental dengan menggunakan desain penelitian non-equivalent control group pre-post-test design. Polit dan Beck (2012) mendefinisikan metode penelitian quasi eksperimental dengan nonequivalent control group pre-post test design sebagai penelitian yang memberikan manipulasi pada variabel independen untuk mengetahui efek dari manipulasi tersebut yaitu dengan melakukan perbandingan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Berdasarkan hipotesa penelitian untuk menjawab tujuan penelitian maka bentuk skema penelitian tergambar seperti di bawah ini :

K1 K2

Gambar 3.1 Desain Penelitian Keterangan :

K1 : Kelompok Intervensi K2 : Kelompok Kontrol

O1 : Pengukuran Pre-test (kelompok eksperimen) O2 : Pengukuran Post-test (kelompok eksperimen) O3 : Pengukuran Pre-test (kelompok kontrol) O4 : Pengukuran Post-test (kelompok kontrol)

40

O3 O3

O1 X O2

X : Pemberian ntervensi interprofesional kolaborasi Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan pada instalansi rawat inap, ICU Rumah Sakit Umum Pusat Adam malik. Lokasi penelitian ini di Rumah Sakit Umum Pusat Adam malik. Alasan peneliti memilih Rumah Sakit Umum Pusat Adam malik sebagai tempat penelitian didasarkan pada pertimbangan belum ada dilakukan penelitian mengenai pengaruh penguatan interprofesional kolaborasi perawat-dokter terhadap sasaran keselamatan pasien dan memiliki populasi yang sesuai dengan kriteria sampel. Lokasi ini dipilih dikarenakan Rumah Sakit Umum Pusat Adam malik merupakan rumah sakit pemerintah tipe A sehingga memungkinkan peneliti untuk dapat mengambil sampel lebih banyak.

Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Februari sampai dengan Mei 2019.

Populasi dan Sampel Populasi Penelitian

Populasi merupakan suatu kelompok tertentu dari individu atau elemen yang menjadi fokus penelitian. Sasaran populasi yaitu seluruh himpunan individu atau elemen yang memenuhi kriteria sampling penelitian (Polit & Beck, 2012).

Populasi dalam penelitian ini adalah perawat-dokter yang bekerja di Rumah Sakit Umum Pusat Adam Malik Medan.

Populasi dalam penelitian ini berjumlah yaitu perawat 945 dan dokter berjumlah 406 orang.

Ukuran Sampel

Sampel adalah subset (bagian) dari populasi yang terdiri dari banyak unit yang lebih kecil dari data yang dikumpulkan. Sampling merupakan suatu proses seleksi kasus yang mewakili populasi yang ada sehingga dapat menarik kesimpulan dari populasi yang ada (Polit & Beck, 2012). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik non probability sampling yaitu teknik sampling yang tidak dilakukan secara acak. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling penentuan sampel dengan memilih sampel dan menggunakan pengetahuan peneliti tentang populasi untuk memilih dan memutuskan sampel sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti (Polit & Beck, 2012).

Adapun yang menjadi kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu,untuk Perawat antara lain: 1). Bersedia menjadi responden dibuktikan dengan mengisi informed consent, 2). Masa kerja lebih dari 2 tahun, 3). Tidak dalam masa orientasi, 4). Tidak sedang mengikuti tugas belajar, 5) tidak sedang dinas luar dan tidak sedang cuti kerja, 6). Perawat pelaksana yang bertugas di RSUP Haji adam Malik. Dokter antara lain: 1). Bersedia menjadi responden dibuktikan dengan mengisi informed consent, 2). Dokter ppds, 3). Tidak dalam masa orientasi, 4).

Tidak sedang mengikuti tugas belajar, 5) tidak sedang dinas luar dan tidak sedang cuti kerja, 6). Dokter penanggung jawab ruangan di RSUP Haji adam Malik.

Menentukan ukuran sampel, maka dalam penelitian ini menggunakan tabel power analysis dengan level signifikan (ά) : .50 jumlah sampel tersebut berada dalam estimasi effect size .60, dan power .80. Sehingga total sampel yang didapatkan sebanyak 36 perawat-dokter total keseluruhan sampel 72.

Upaya dalam mengantisipasi kemungkinan subjek atau sampel yang terpilih drop out maka perlu penambahan jumlah sampel 10% dari total sampel agar besar sampel tetap terpenuhi sehingga total sampel didapatkan 88 responden. Maka besar sampel yang direncanakan untuk diteliti sebanyak 44 perawat-dokter untuk kelompok intervensi dan untuk kelompok kontrol 44 perawat-dokter.

Metode Pengumpulan Data Prosedur Tahap Persiapan

1) Tahap awal melakukan observasi studi pendahuluan di RSUP Haji Adam Malik Medan

2) Pengumpulan data awal dilakukan denga metode observasi dan wawancara.

3) Selanjutnya menyiapkan kuesioner yang digunakan yaitu Kuesioner Interprofesional kolaborasi perawat-dokter yang terdiri dari 45 pernyataan, kuesioner sasara keselamatan pasien yang terdiri dari 32 pernyataan.

4) Selanjutnya peneliti mengajukan permohonan surat izin pengambilan data ke rumah sakit tempat penelitian

5) Selanjutnya peneliti mengajukan surat lulus uji etik (ethical clearance) kepada lembaga etik penelitian yaitu komisi etik penelitian kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

6) Setelah surat dikeluarkan, peneliti mangajukan permohonan ijin untuk melaksanakan penelitian ke Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik medan.

7) Peneliti berkordinasi dengan pihak rumah sakit mengenai jadwal, tempat dan peserta seminar dan role play. Selanjutnya peneliti menghubungi kepala perawatan untuk memberitahukan akan ada penelitian yang akan dilakukan di RSUP Haji Adam Malik tentang pengaruh penguatan interprofesional kolaborasi perawat-dokter terhadap sasaran keselamatan pasien. Selanjutnya peneliti membuat kesepakatan untuk ruangan yang dijadikan tempat seminar/roleplay IPC dan ruangan yang digunakan untuk kelompok intervensi sebanyak 44 responden.

Tahap pelaksanaan Pra Perlakuan Persiapan

1) Persiapan yang dilakukan dimulai dengan pengurusan perijinan kepada pihak rumah sakit untuk pelaksanaan seminar/roleplay interprofesional kolaborasi yang dilakukan di ruang Aula Rumah Sakit.

2) Langkah awal sebelum tahap pre-test peneliti meminta kesediaan responden untuk menjadi sampel dengan terlebih dahulu menjelaskan maksud dan tujuan penelitian. Meminta dengan sukarela kepada responden untuk menandatangani lembar informed consent

3) Satu minggu sebelum pelaksanaan seminar/roleplay interprofesional kolaborasi, seluruh subjek dalam sampel penelitian yang berjumlah 88 orang untuk mengisi kuesioner skala interprofesional kolaborasi dan skala sasaran keselamatan pasien. Data tersebut akan menjadi data pre test.

4) Menjelaskan kepada responden cara mengisi kuesioner penelitian, yaitu data demografi responden (umur, jenis kelamin, pendidikan, profesi, lama bekerja). Responden diharapkan dapat mengisi kuesioner secara objektif sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

5) Mengumpulkan kuesioner untuk selanjutnya diolah dan dianalisa sebagai hasil pre-test sebelum dilakukan intervensi interprofesional kolaborasi.

6) Subjek yang memiliki skor interprofesional kolaboarsi perawat-dokter dalam kategori sedang dan rendah yang diikut sertakan sebagai subjek penelitian yang jumlahnya 44 perawat-dokter disebut kelompok intervensi dan diberi intervensi sedangkan perawat-dokter yang tidak ikut dalam seminar disebut kelompok kontrol.

Pelaksanaan Intervensi.

Prosedur Intervensi

Kelompok eksperimen dilakukan perlakuan bentuk seminar dan roleplay interprofesional kolaborasi sedangkan kelompok kontrol tidak mendapat perlakukan. Pada penelitian ini single-blind experiment terhadap kelompok yang diberi perlakuan, pelaksanaan intervensi bagi kelompok eksperimen yang terdiri dari 44 orang subjek. Seminar/roleplay dilakukan 2 tahap antara lain :

1. Seminar/roleplay interprofesional kolaborasi ini merupakan mengajarkan dan sosialisasi pentingnya kolaborasi antar profesi dalam meningkatkan sasaran keselamatan pasien di rumah sakit dan meningkatkan kerjasama tim interprofesional perawat-dokter dalam memberikan pelayanan.

2. Sesi pertama dimulai dengan perkenalan untuk membangun hubungan baik antara pembicara dan peserta dalam membangkitkan minat peserta, serta memberikan pengantar kepada peserta berupa gambaran umum mengenai prinsip-prinsip dasar dalam interprofesional kolaborasi, kompetensi interprofesional dan sasaran keselamatan pasien. Sesi pertama dilakukan selama 1 jam.

3. Sesi kedua mengajarkan kepada peserta strategi perilaku yang terfokus dalam kompetensi interprofesional kolaborasi, yaitu: (1) sikap/nilai dalam praktik kolaborasi, (2) peran dan tanggung jawab interprofesional kolaborasi, (3) komunikasi interprofesional, dan (4) kerjasama tim interprofesional, serta melatihkan kepada peserta penggunaan strategi-strategi interprofesional kolaborasi ini dalam kehidupan sehari-hari. Sesi ke dua dilakukan selama 1 jam.

4. Sesi ketiga mengajarkan kepada peserta strategi dalam membangun kesadaran diri akan pentingnya pelaksanaan interprofesional kolaborasi dalam meningkatkan kerjasama tim antar profesi, dan memahami kompetensi masing-masing sehingga dapat meningkatkan pelayanan yang berfokus pada pasien dan meningkatkan keselamatan pasien. Selain itu, peserta juga diberikan roleplay yang memfokuskan kompetensi sikap interprofesional, berbagi peran dan tanggung jawab, komunikasi interprofesi dan kerjasama tim dalam memberikan pelaynan kesehatan. Sesi ke tiga dilakukan selama 1 jam

5. Sesi ke empat pemaparan materi sasaran keselamatan pasien dan keterkaitan interprofesional kolaborasi terhadap peningkatan terhadap pelaksanaan sasaran keselamatan pasien di rumah sakit. selama 1 jam.

6. Sesi ke lima melatih dengan memberikan roleplay kasus dengan kaitan pelaksanaan interprofesional kolaborasi dan bagaimana perawat-dokter mempraktikan interprofesional dalam meningkatkan hubungan yang baik dengan profesi yang berbeda latarbelakang sehingga diharapkan dampak dari pelaksanaan interprofesional kolaborasi mampu meningkatkan sasaran keselamatan pasien selama 2 jam

Tahap II:

1. Sesi ke enam mengevaluasi sejauh mana pemahaman peserta dan kemampuan menyelesaikan kasus dengan melakukan interprofesional kolaborasi dalam penggunaan kehidupan sehari-hari khususnya dalam aktivitas kerja. Sesi dilakukan selama 30 menit.

2. Sesi ke tujuh sesi akhir dilakukan review untuk mengulas semua kompetensi yang harus dimiliki setiap interprofesional sehingga pemahaman yang diperoleh peserta akan lebih komprehensif. Seminar dan roleplay ini diberikan oleh seorang yang memiliki kemampuan dibidang IPC dan memiliki sertifikat. Pembicara didampingi oleh peneliti yang bertugas untuk membantu kelancaran selama proses seminar. Sesi ke tujuh dilakukan selama 30 menit.

Post-test

1. Dua minggu setelah pelaksanaan seminar dan roleplay dilakukan kembali pengumpulan data untuk keperluan analisa data.

2. Keseluruhan data yang terkumpul dilakukan tabulasi atau pengolahan data dengan bantuan computer.

3. Hasil penelitian yang dianalisa disusun kembali dan dibahas dalam kesimpulan dan kemudian membuat laporan penelitian.

Gambar 3.2. Bagan Alur Kerangka Intervensi Pre test :

Mengkaji Pengaruh intervensi : interprofesional kolaborasi perawat-dokter terhadap sasaran keselamatan pasien

Post test :

Pesriapan Fasilitator

Fasilitator pada penelitian interprofesional kolaborasi ini berlatar belakang disiplin ilmu kedokteran dan keperawatan. Berhubung materi dalam seminar/roleplay yang bersifat kolaborasi antar profesi dan keselamatan pasien, maka pemilihan narasumber adalah magister kedokteran dan magister keperawatan, atau orang-orang yang menguasai interprofesional kolaborasi dan sasaran keselamatan pasien yang sudah terlatih. Seminar ini dilakukan oleh dua orang narasuber dan pendamping.

Metode Pengukuran

Alat Pengumpulan Data

Alat ukur atau instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang dibagikan kepada responden dan lembar observasi untuk evaluasi.

Kuesioner ini dibuat dengan tujuan untuk memperoleh data primer dari responden dalam hal ini kuesioner interprofesional kolaborasi, yang meliputi : perawat-dokter, kuesioner penelitian ini terdiri dari tiga bagian, yaitu data demografi, interprofesional kolaborasi dan sasaran keselamatan pasien.

Pengukuran Variabel Variabel Penelitian

Variabel bebas (Independent variable) dalam penelitian ini adalah interprofesional kolaborasi perawat-dokter terdiri dari kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Variabel terikat (Dependent variable) dalam penelitian ini adalah sasaran keselamatan pasien di RSUP Haji Adam Malik Medan.

Menggunakan skala pengukuran ordinal. Variabel-variabel tersebut akan didefenisikan secara operasional dan skala pengukuran dari variabel diuraikan

agar pengertian variabel dapat dipahami dan untuk menentukan metodologi yang digunakan dalam analisis data selanjutnya.

Instrumen

Bagian Data Demografi

Bagian ini digunakan untuk mengkaji data demografi perawat-dokter yang meliputi : jenis kelamin, umur, profesi, pendidikan, lama bertugas, tugas ruangan.

Bagian Interprofesional Kolaborasi

Bagian ini menggunakan kuesioner dari interprofesional kolaborasi yang yang terdiri dari 45 butir. Skala ini terdiri atas 45 butir yang merefleksikan empat aspek dalam interprofesional kolaborasi. Skala ini memiliki empat pilihan jawaban bergerak dari jawaban : 1 = sangat tidak setuju; 2 = tidak setuju; 3 = setuju, 4 = sangat setuju. Kuesioner skala penilaian interprofesional kolaborasi dalam penelitian ini berbentuk pernyataan checklist ( ) dengan menggunakan skala Likert. Menurut Polit dan Back, (2012) skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang. Skor terendah 45 ( 1x 45) dan skor tertinggi adalah 180 (4x45), untuk sikap 14 butir, peran dan tanggung jawab 11 butir, komunikasi interprofesional 9 butir, dan kerjasama tim 11 butir. Semakin tinggi skor yang dihasilkan menunjukkan sikap tinggi, dan sebaliknya semakin rendah yang dihasilkan menunjukkan sikap rendah di Rumah sakit. Maka total skor untuk variabel interprofesional kolaborasi perawat-dokter adalah 180:

1. Baik, jika jawaban responden memiliki total skor = 90-180 2. Kurang Baik , jika jawaban responden memiliki total skor = 45-90

Table 3.2 Penilaian Kolaborasi Interprofesional

Dimension Nomor item pertanyaan

Sikap/etik interprofesional Bagian Sasaran Keselamatan Pasien

Skala kuesioner penilaian sasaran kesalamatan pasien dalam penelitian ini berbentuk kuesioner dan obaservasi digunakan untuk mengukur indikator sasaran keselamatan pasien dengan skala Likers 1 = tidak pernah, 2 = kadang-kadang/jrang, 3 = sering, 4 = selalu. Terdapat 32 pernyataan dengan skor tertinggi 4x32 = 128 dan terendah 32, semakin tinggi skor yang dihasilkan dianggap pelaksanaan sasaran keselamatan pasien yang baik dan sebaliknya semakin rendah maka kurang baik. Maka total skor untuk variabel sasaran keselamatan pasien adalah 128:

1. Baik, jika jawaban responden memiliki total skor = 64-128 2. Cukup Baik, jika jawaban responden memiliki total skor = 32-63 Table 3.3 Penilaian Sasaran Keselamatan pasien

Sasaran Nomor item pertanyaan

Identifikasi pasien dengan benar Meningkatkan komunikasi yang efektif Keamanan obat-obata yang harus diwaspadai Memastikan Lokasi Pembedahan Yang Benar, Prosedur Yang Benar, Pembedahan Pada Pasien Yang Benar

Data kuesioner sasaran keselamatan pasien

Bagian Observasi Interprofesional Kolaborasi dan Sasaran Keselamatan Pasien

Bagian ini menggunakan lembar observasi langsung oleh peneliti terhadap pelaksanaan kolaborasi interprofesional dan pelaksanaan sasaran keelamatan pasien dengan menggunakan skala guttman dengan jawaban tegas setiap item yang di nilai, jika jawaban ya diberikan skor 1, jika jawaban tidak diberikan skor 0. Item interprofesional kolaborasi berjumlah 17 item yang terdiri dari 4 domain interprofesional kolaborasi dan sasaran keselamatan pasien terdiri dari 15 item yang terdiri dari 6 sasaran keselamatan pasien.

Uji Validitas

Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan suatu instrument, mengukur sesuatu yang akan diukur. Validitas merupakan kriteria untuk mengevaluasi sebuah instrumen yang valid (Polit & Beck, 2012). Pada penelitian, untuk kuesioner yang belum teruji validitas dilakukan uji validitas dengan menggunakan content validity (validitas isi).

Content validity merujuk pada representative dari item-item yang terdapat dalam instrumen dimana berkaitan dengan dimensi yang diukur, Tujuan dari content validity Index (CVI) adalah untuk menilai relevansi dari setiap item terhadap apa yang diukur oleh peneliti, yaitu dengan meminta pendapat ahli (expert) sebagai pakar penelitian terkait dengan instrumen penelitian yang dinyatakan dalam content validity index (CVI). Dua hal yang penting dalam mengevaluasi adalah apakah item individu relevan dan sesuai dalam keterkaitan, dan apakah item yang diambil bersama-sama cukup mengukur semua dimensi yang dibangun (Polit & Beck, 2012).

Pada penelitian ini peneliti melakukan uji validitas pada ibu dr. Isti Ilmiati Fujiati, MSc. CM-FM.,MPd. Kedi ( Dosen Fakultas Kedokteran), ibu Liberta Lumbantoruan, S.Kp., M.Kep, (Komite Mutu Keperawatan RSUP Haji Adam Malik Medan), ibu Sabarina Sitepu, S.Kp., Ners., M.Kep, (Case Manager RSUP Haji Adam Malik Medan). CVI diperoleh dengan cara masing-masing pakar memberikan skor 1-4 yaitu : 1 = tidak relevan, 2 = agak relevan, 3 = cukup relevan, dan 4 = sangat relevan pada masing-masing item pertanyaan. Untuk menentukan kesahihan dari instrumen yang akan digunakan dalam penelitian dilihat dari nilai CVI berdasarkan angka yang diberikan oleh expert. Nilai CVI yang dipertimbangkan yaitu ≥ ,80 merupakan nilai yang dianjurkan sebagai standar yang baik (Polit & Beck, 2012). Adapun nilai hasil dari uji validitas dari 3 narasumber untuk interprofesional kolaborasi .99 (≥ ,80) sehingga dapat dikatakan setiap item kuesioner sudah valid dan sasaran keselamatan pasien .97(≥ ,80).

Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu instrumen dapat menunjukkan ketepatan dan dapat dipercaya sebagai suatu alat ukur. Reliabilitas menunjukkan suatu instrumen pengukuran mempunyai nilai skor yang benar dan minimal dari error atau kesalahan (Polit & Beck, 2012). Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji internal consistency (metode konsistensi internal), yaitu koefisien alpha (cronbach alpha).

yang dilakukan dengan menguji coba instrumen kepada responden diluar kelompok kontrol dan intervensi. Suatu instrumen dikatakan reliabel bila memiliki koefisien keandalan atau alpha > .70, dan merupakan nilai yang lebih diharapkan (Polit & Beck, 2012).

Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan uji Kuder Richardson (KR-21).

Hasil dari uji reliabilitas yang dilakukan di RSU.Pirngadi Kota medan adalah alpha .87 untuk IPC dan .83 untuk sasaran keselamatan pasien.

Pilot Study

Hasil dari expert review, instrumen diuji coba (pilot study) untuk mengetahui konsistensi instrumen, menilai pemahaman, dan persepsi responden tentang kejelasan instrumen dan reliabilitasnya.Uji instrumen ini diujikan pada Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan.CVI instrumen yang sudah validasi diuji coba (pilot study) untuk mengetahui konsistensi instrumen, menilai pemahaman, dan persepsi responden tentang kejelasan instrumen dan reliabilitasnya. Uji instrument ini diujikan pada 30 orang perawat-dokter di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Alasan peneliti melakukan pilot study di rumah sakit tersebut adalah karena metode pelayanan yang sama dan karakteristik pasien yang sama dengan tempat penelitian.

Variabel dan Defenisi Operasional Variabel penelitian

Variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel bebas atau variabel independen (X) dan varaiebl terikat atau varaiabel dependen (Y).

Variabel bebas dalam penelitian adalah interprofesional kolaborasi perawat-dokter. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sasaran keselamatan pasien.

Tabel 3.4. Definisi Operasional Penelitian

Variabel Definisi Operasional Indikator Alat Ukur Hasil Ukur Skala Interprofesional

Kolaborasi (X)

Interprofesional

kolaborasi merupakan suatu proses kerjasama perawat-dokterdalam kolaborasi terdapat 4 kompetensi yang yang harus dimiliki oleh adalah suatu prosedur atau proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman yang dipengaruhi oleh perilaku dan penerapan

dari perawat

pelaksanaan yang mengutamakan

kepentingan

1. Identifikasi pasien dengan benar

keselamatan pasien.

Terdapat 6 sasaran keselamatan pasien yang telah ditetapkan JCI dan KARS.

Prosedur Pengolahan Data

Data yang telah dikumpulkan melalui kuesioner diolah melalui empat tahapan data yaitu : 1) Editing, setelah pengumpulan data dilakukan, pemeriksaan kembali instrument terhadap kelengkapan, kejelasan dan relevansi format pengkajian karakteristik pasien dan lembar observasi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Hal ini dilakukan di lapangan sehingga apabila terdapat data yang meragukan atau salah maupun ada format yang tidak diisi maka dapat dilakukan pengumpulan data kembali kepada responden: 2) Coding, yaitu melakukan pengkodean data, dengan mengklasifikasikan data, memberikan kode untuk masing-masing kelas terhadap data yang diperoleh dari sumber data yang telah diperiksa kelengkapannya. Data-data yang berupa angka atau tulisan dapat dikategorikan dalam bentuk skor yang telah ditetapkan oleh peneliti : 3) Entry data, Setelah data diberi Coding maka langkah selanjutnya melakukan entry data dari instrument penelitian ke dalam komputer melalui program statistik. Setelah data di coding maka langkah selajutnya melakukan entry data : 4) Cleaning, merupakan kegiatan pembersihan data dengan melakukan pemeriksaan kembali terhadap data yang sudah dientry apakah ada kesalahan atau tidak.

Metode Analisis Data

Data dalam penelitian ini dianalisis dengan komputer. Sebelum dilakukan analisis tersebut, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik untuk mengetahui kelayakan data dari masing - masing variabel yang diteliti.

Analisis univariat

Data yang terkumpul dianalisa lebih lanjut dengan program komputer secara univariat. Analisa univariat bertujuan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel yang diteliti mengenai karakteristik responden, variabel bebas, dan variabel terikat. Analisa statistik univariat menguji frekuensi atau rata-rata nilai dari variabel-variabel (Polit & Beck, 2012). Hasil analisa data univariat berupa distribusi frekuensi, persentase dari masing-masing variabel dengan mengukur tendency central menggunakan mean, median, minimum, maksimum, dan standar deviasi.

Analisis bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui atau mengidentifikasi perbedaan interprofesional kolaboarasi perawat-dokter dan sasaran keselamatan pasien sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Variabel independen interprofesional kolaborasi dengan menggunakan skala pengukuran ordinal dan variabel dependen sasaran keselamatan pasien. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui Pengaruh penguatan interprofesional kolaborasi perawat-dokter terhadap sasaran keselamatan pasien melalui uji statistik.

Uji statistik dilakukan dengan menggunakan uji non-parametrik yaitu Mann-Witney Test untuk melihat beda median independen dari 2 kelompok independen ketika variabel diukur dengan skala ordinal, Yaitu untuk melihat perbedaan interprofesional kolaborasi perawat-dokter pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sebelum dan setelah intervensi.

Wilcoxon test untuk menguji perbedaan mean dari hasil pengukuran pada kelompok dependen pre-test dan post-test, yaitu untuk melihat sasaran keselamatan pasien pada kelomok intervensi sebelum dan sesudah intervensi. Uji Uji Spearman’s Rho untuk melihat pengaruh independen dengan dependen dan untuk menguji hipotesa penelitian. Hasil uji statistik bermakna jika nilai p < 0,05 pada tingkat kepercayaan 0,95% (Polit, & Beck, 2012).

Pertimbangan Etik

Dalam melakukan penelitian, peneliti harus memperhatikan prinsip-prinsip dasar etik penelitian yang meliputi benefecience, respect for human dignity dan justice (Polit & Back, 2012). Pertimbangan etik terkait penelitian ini dilakukan melalui perizinan dari Rumah Sakit Umum dan komite etik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Asas Manfaat

Menurut Polit dan Beck (2012), asas manfaat merupakan salah satu prinsip etik yang paling mendasar. Dalam hal ini peneliti harus menghindari risiko yang dapat menyebabkan kerugian dan memaksimalkan manfaat untuk responden penelitian.

Bebas dari kerugian dan ketidaknyamanan

Peneliti memiliki kewajiban untuk menghindari, mencegah atau tidak menimbulkan kerugian dan ketidaknyamanan baik fisik, emosional, sosial, maupun finansial pasien (Polit & Beck, 2012). Intervensi terkait penerapan interprofesional kolaborasi dan keselamatan pasien yang akan dilakukan, terlebih dahulu meminta persetujuan (Informed consent) yang merupakan salah satu cara peneliti untuk mencegah kerugian dan ketidaknyamanan responden.

Bebas dari ekploitasi

Responden yang terlibat dalam penelitian ini harus mendapat jaminan bahwa partisipasi, informasi, dan data yang diberiakn tidak akan menimbulkan

Responden yang terlibat dalam penelitian ini harus mendapat jaminan bahwa partisipasi, informasi, dan data yang diberiakn tidak akan menimbulkan

Dokumen terkait