• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data-data yang dikumpulkan meliputi: citra ALOS PALSAR resolusi 50 m dan 12,5 m tahun perekaman 2009 dan Peta Rupa Bumi Indonesia daerah Jawa Tengah skala 1:25.000 tahun 2006.

3.3.2 Pra-Pengolahan Citra

3.3.2.1 Menambah Band Sintetis pada Citra ALOS PALSAR Resolusi 50 m dan 12,5 m

Data yang digunakan untuk menginterpretasi citra ALOS PALSAR dalam penelitian ini hanya terdiri atas 2 band, yaitu HH dan HV. Menurut hasil penelitian Bainnaura (2010), penambahan band sintetis yang memberikan variasi informasi lebih banyak adalah rasio HH-HV (HH/HV) seperti tampak pada Gambar 4.

Gambar 4 Citra ALOS PALSAR (a) band HH, (b) band HV dan (c) band sintesis

HH/HV.

(a) (b)

3.3.2.2 Pemilihan Kombinasi Citra Komposit

Jaya (2010) menerangkan bahwa identifikasi obyek pada citra yang hanya menampilkan satu band (saluran), umumnya ditampilkan dengan hitam putih atau grayscale, lebih sulit diidentifikasi jika dibandingkan dengan interpretasi pada citra berwarna. Oleh karena itu, pada saat melakukan interpretasi diperlukan adanya citra berwarna. Metode yang paling umum untuk menyajikan warna citra adalah dengan membuat citra komposit berwarna. Citra berwarna yang dihasilkan menggunakan kombinasi multi-band.

Berdasarkan hasil penelitian Bainnaura (2010) dan mempertimbangkan warna-warna umum dari obyek-obyek bervegetasi (hutan), air dan tanah kosong, maka citra komposit yang digunakan adalah kombinasi band HH yang diletakkan pada bidang warna Red, band HV diletakkan pada bidang warna Green, dan band sintesis HH/HV diletakkan pada bidang warna Blue dari displai citra. Tampilan visual kombinasi band terpilih dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Tampilan visual citra ALOS PALSAR kombinasi RGB HH-HV- HH/HV (a) resolusi 50 m, (b) resolusi 12,5 m.

3.3.2.3 Koreksi Geometrik

Jaya (2010) menjelaskan bahwa areal yang direkam oleh sensor pada satelit maupun pesawat terbang sesungguhnya mengandung kesalahan (distorsi) yang diakibatkan oleh pengaruh kelengkungan bumi dan atau oleh sensor itu sendiri sehingga perlu adanya koreksi geometrik. Koreksi geometrik adalah suatu proses melakukan transformasi data dari satu sistem grid menggunakan suatu

dengan posisi citra input (aslinya) maka piksel-piksel yang digunakan untuk mengisi citra yang baru harus di-resampling kembali. Resampling adalah suatu proses melakukan ekstrapolasi nilai data untuk piksel-piksel pada sistem grid yang baru dari nilai piksel citra aslinya.

Citra ALOS PALSAR resolusi 50 m merupakan ortho image dimana gambaran obyek pada image itu posisinya benar sesuai dengan proyeksi ortogonal. Oleh karena itu, koreksi geometrik pada ciitra ALOS PALSAR resolusi 12,5 m mengacu pada citra ALOS PALSAR resolusi 50 m (Bainnaura 2010).

3.3.3 Identifikasi Awal Tutupan Lahan Citra ALOS PALSAR Resolusi 50 m dan 12,5 m

Identifikasi awal citra ALOS PALSAR resolusi 50 m dan 12,5 m dilakukan dengan bantuan Google Earth dan buku manual interpretasi citra. Menurut Jaya (2010) dalam identifikasi awal citra secara visual digunakan elemen-elemen dasar diagnostik penafsiran yaitu:

1. Tone dan warna

Tone (derajat keabu-abuan/gray scale) dan warna adalah elemen dasar dari interpretasi sebuah obyek. Variasi tone/warna sangat bergantung pada karakteristik dari setiap obyek, karena warna merupakan hasil reflektansi, transmisi dan atau radiasi panjang gelombang yang dihasilkan dari obyek yang bersangkutan. Tone atau warna ini sangat bergantung juga pada panjang gelombang atau band yang dipergunakan pada saat melakukan perekaman. Adanya variasi tone, maka obyek dapat dideteksi, serta unsur lain seperti bentuk, tekstur, dan pola dapat dibedakan. Tone pada citra radar dapat didefinisikan sebagai intensitas rata-rata dari sinyal backscatter. Backscatter yang tinggi menghasilkan kecerahan yang tinggi (tone terang), sebaliknya backscatter rendah menghasilkan kecerahan rendah (tone gelap).

2. Bentuk

Bentuk dapat menjadi petunjuk yang khas untuk interpretasi. Pada citra radar, bentuk obyek merupakan hasil rekaman dari posisi miring (oblique/side looking), jarak slant dari radar. bentuk-bentuk obyek yang teratur seperti bentuk garis lurus biasanya banyak mewakili bentuk-bentuk di wilayah perkotaan atau

pertanian skala luas (perkebunan, hutan tanaman), sementara fitur-fitur obyek alami umumnya berbentuk poligon dan atau garis yang tidak beraturan, seperti punggung bukit, sungai dan tepian hutan. Bentuk-bentuk obyek buatan manusia umumnya lebih teratur dibandingkan dengan bentuk-bentuk alam.

3. Ukuran

Ukuran suatu obyek atau yang tampak dalam citra sangat bergantung pada skala, resolusi dan ukuran obyek yang sebenarnya di alam. Skala citra sangat membantu menentukan ukuran sebenarnya dari suatu obyek.

4. Pola

Pola merupakan susunan spasial suatu obyek dalam suatu bentuk yang khas dan berulang. Pola sebaran obyek dengan jarak yang teratur, tone yang sama akan menghasilkan tampilan pola yang berbeda dengan obyek yang tersebar secara acak (random) dan tone yang relatif berbeda.

5. Tekstur

Tekstur adalah salah satu elemen terpenting untuk membedakan fitur dalam citra radar. Tekstur dalam interpretasi terbentuk dari variasi dan susunan tone dan atau warna yang ditampilkan oleh suatu obyek atau sekumpulan obyek pada citra. Tekstur kasar umumnya dibentuk oleh tone dengan variasi tinggi dimana terjadi perubahan tone yang besar, sedangkan tekstur halus terbentuk dari variasi yang relatif kecil. Tekstur halus umumnya dihasilkan oleh permukaan yang relatif halus seperti ladang, aspal, atau padang rumput. Tekstur kasar umumnya dihasilkan oleh target dengan permukaan kasar dan struktur tidak teratur.

6. Bayangan

Pada citra radar, bayangan topografi adalah bagian yang tidak ada informasi backscatter. Bayangan berguna untuk meningkatkan atau mengidentifikasi topografi dan bentang alam. Bayangan pada radar sangat terkait dengan sudut miring dari radiasi gelombang mikro yang dipancarkan sistem sensor dan bukan oleh geometri dari iluminasi matahari.

7. Asosiasi

Elemen asosiasi mempertimbangkan hubungan keberadaan antara obyek yang satu dengan obyek lainnya. Karena adanya keterkaitan inilah, maka suatu obyek pada citra sering merupakan petunjuk bagi adanya obyek lain.

3.3.4 Pengamatan Lapangan

Pengamatan lapangan yang dilakukan adalah dengan pengambilan titik pada obyek-obyek yang telah ditentukan pada identifikasi awal. Tujuannya untuk mencocokkan tutupan lahan yang telah diidentifikasi di citra secara visual dengan keadaan sesungguhnya di lapangan. Pengambilan titik untuk pengamatan lapangan diutamakan pada daerah yang memiliki aksesibilitas yang baik, memiliki kenampakan yang berbeda dari kenampakan umumnya dan mewakili contoh ketersebaran penutupan lahan pada daerah tersebut.

3.3.5 Analisis Hasil Pengamatan Lapangan

Analisis hasil pengamatan lapangan dilakukan dengan empat metode, pertama yaitu identifikasi obyek di lapangan yang membahas secara umum obyek-obyek yang ditemui di lapangan. Kedua yaitu analisis diskriminan yang berguna ketika ingin membentuk sebuah model prediktif dari beberapa kelompok (group). Analisis diskriminan dilakukan dengan mengelompokkan obyek-obyek tutupan lahan yang memiliki persamaan karakteristik ciri fisik di lapangan, serta nilai backscatter HH dan HV. Proses analisis diskriminan dilakukan hingga obyek-obyek yang ada tidak bisa dikelompokkan kembali. Analisis diskriminan ini dilakukan baik pada citra ALOS PALSAR resolusi 50 m maupun 12,5 m.

Ketiga adalah analisis visual yang dilakukan berdasarkan kenampakan citra dilihat dari elemen-elemen interpretasi yaitu warna, bentuk, ukuran, pola, tekstur dan asosiasi serta hasil informasi penutupan lahan di lapangan.

Metode yang keempat yaitu analisis akurasi hasil pengklasifikasian tutupan lahan dengan menggunakan klasifikasi terbimbing (Supervised Classification) dengan mengukur nilai separabilitasnya. Separabilitas dari penciri kelas adalah ukuran statistik antar dua kelas. Selain itu digunakan pula rumus Kappa accuracy yaitu:

dimana:

= nilai diagonal dari matrik kontingensi baris ke-i dan kolom ke-i = jumlah piksel dalam kolom ke-i

= jumlah piksel dalam baris ke-i N = banyaknya piksel dalam contoh

3.3.6 Analisis Peningkatan Kemampuan Penafsiran

Analisis peningkatan kemampuan penafsiran dilakukan pada citra ALOS PALSAR resolusi 12,5 m terhadap citra resolusi 50 m. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana citra resolusi 12,5 m dapat menambah kedetailan obyek-obyek pada citra resolusi 50 m.

Citra ALOS PALSAR Resolusi 12,5 m dengan Polarisasi HH dan HV

Citra ALOS PALSAR Resolusi 50 m dengan Polarisasi HH dan HV

Menambah Band Sintesis HH/HV

Citra ALOS PALSAR Resolusi 12,5 m dengan 3 layer (HH-HV-HH/HV)

Citra ALOS PALSAR Resolusi 50 m dengan 3 layer (HH-HV-HH/HV)

Koreksi Geometrik Citra

Citra ALOS PALSAR Resolusi 12,5 m Terkoreksi

Identifikasi Awal Tutupan Lahan

Pengamatan Lapangan Peta Rupa Bumi Skala 1:25.000

Analisis Hasil Pengamatan Lapangan: 1. Identifikasi Obyek di Lapangan 2. Analisis Diskriminan

3. Analisis Visual Citra ALOS PALSAR Resolusi 50 m

4. Akurasi Kappa dan Separabilitas Analisis Peningkatan Kemampuan

Penafsiran Citra ALOS PALSAR 12,5 m terhadap Citra ALOS

PALSAR Resolusi 50 m 

Kelas Tutupan Lahan