• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif jenis naturalistik. Pendekatan kualitatif dipilih agar peneliti dapat mendeskripsikan

peristiwa, perilaku orang atau suatu keadaan pada tempat tertentu dalam hal ini tentang pelaksanaan pendidikan keluarga pada masyarakat marginal di kota makassar. Untuk memenuhi hasil yang akurat maka pendekatan ini menempatkan peneliti sebagai instrumen utama dalam pengkajian dan pengolahan data-data kualitatif.

Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang komprehensif melalui proses penyimpulan induktif dan dipaparkan secara sistemik berdasarkan data dan fakta yang diperoleh tanpa mengubah latar alamiahnya. Untuk memperoleh pemahaman dari hasil penelitian, maka peneliti mereduksi data dan narasi serta menganalisis data yang ada dengan segala kekayaan maknanya sedekat mungkin dengan kenyataan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penggambaran pendidikan keluarga pada masyarakat marginal di kota Makassar dijelaskan mengacu pada komponen-komponen pendidikan yang selama ini menjadi acuan pada semua jenis pendidikan, yaitu;

1. Tujuan Pendidikan

Hampir semua orang tua pada masyarakat marginal menyatakan bahwa tidak ada perumusan tujuan yang jelas mengapa mereka merasa perlu mendidik anak-anaknya di rumah. Menurut mereka semua anak yang lahir di dalam keluarga pastilah di didik, baik disengaja ataupun tidak. Mereka berpendapat bahwa pendidikan keluarga yang mereka laksanakan pada umumnya hanya dilakukan secara otomatis karena mereka adalah orang tua dari anak-anak mereka.

Pada umumnya orangtua menyatakan bahwa mereka berharap hasil pendidikan yang mereka lakukan akan membuat anak-anak mereka mau menurut pada orang tuanya. Orang tua menganggap bahwa apa pun yang mereka perintahkan pda anak mereka semuanya benar, anggapan mereka bahwa tidak ada orang tua yang salah.

Setiap pasangan orang tua tidak pernah merencanakan proses pendidikan pada anak-anak mereka sebelumnya. Menurut para orang tua mereka secara spontan akan membimbing anak-anak

mereka jika mereka melihat ada kesalahan yang dilakukan oleh anak-anaknya. 2. Peserta didik

Sebagai lembaga informal, pelaksanaan pendidikan keluarga focus hanya dalam membina dan mendidik anak-anak mereka sendiri tanpa terorganisir. Anak-anak yang mereka didik tidak terbatas pada kelompok usia tertentu. Pada umumnya anak-anak pada masyarakat marginal dididik hanya hingga usia sekitar 15 tahun. Pada usia di atas 15 tahun anak-anak sudah membentuk komunitas sendiri. Sebagian besar mereka sudah pandai mencari uang sendiri. Baik sebagai pemulung, tukang bentor ataupun ikut mengamen di sudut-sudut jalan sehingga mereka sangat jarang tinggall di rumah mereka.

3. Pendidik

Pendidik pada keluarga yang termasuk pada kelompok masyarakat marginal lebih banyak dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. Sebagian lagi pendidikan keluarga juga dilakukan oleh orang dewasa yang juga tinggal dengan keluarga mereka. Pada umumnya pada kelompok masyarakat marginal, keluarga lebih banyak terdiri dari keluarga inti. Pihak sanak family lebih banyak tinggal di kampung halaman mereka. Itulah sebabnya orang dewasa yang berperan sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga mereka adalah ayah dan ibu mereka sendiri.

4. Metode

Dalam melaksanakan pendidikan pada anggota keluarga terutama pada anak-anaknya, orang tua maupun orang dewasa di dalam keluarga tidak menggunakan metode yang jelas. Pada umumnya pemberian nasihat merupakan strategi yang dianggap paling baik dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada anak-anak atau anggota kaluarga lainnya.

Bagi orang tua pada masyarakat marginal di perkotaan, pemodelan belum dianggap sebagai bentuk strategi pembelajaran yang tepat untuk anak-anak mereka. Itulah sebabnya dari hasil observasi menunjukkan bahwa orang tua maupun orang dewasa di sekitar anak dari kelompok masyarakat marginal sangat

sering memberikan nasihat pada anak-anaknya namun perilaku mereka kadang menunjukkan hal yang sebaliknya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok masyarakat marginal perkotaan dengan kondisi perumahan yang padat, masih sering terdapat percekcokan antara orang tua dengan tetangganya. Adu mulut dan tindak kekerasan kadang mereka tunjukkan di depan anak-anaknya. Mereka tidak menyadari bahwa proses pendidikan sedang terjadi pada anak-anaknya, mereka menjadi model bagi anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Wenger (Knud Ileris: 2009), selama ini masyarakat adalah tempat untuk melakukan berbagai praktek dalam kehiduapan, dan di dalamnya kita akan banyak belajar. Mulai dari kehidupan dalam keluarga. Di dalam keluarga terdapat anggota keluarga. Anggota keluarga berjuang untuk memperjuangkan kehidupan. Mereka mengembangkan praktek sendiri, rutinitas, ritual, artefak, simbol, konvensi, cerita, dan sejarah. Anggota keluarga kadang nampak saling membenci dan ataupun mereka saling mencintai; kadang mereka setuju dan ataupun tidak setuju (Wenger, 2009). Mereka melakukan apa yang diperlukan untuk terus berjalan. Bahkan ketika keluarga berantakan, anggota menciptakan cara-cara tertentu dan mengurusnya antara satu satu sama lain. Bertahan bersama adalah sesuatu yang sangat penting, mencari makanan dan tempat tinggal atau pencarian untuk identitas yang layak. 5. Isi Pendidikan

Adapun konteks pendidikan yang diberikan pada anak-anak masyarakat marginal perkotaan lebih pada kepatuhan anak pada orang tua. Sementara hal yang berkaitan dengan tata karma atau etika, menurus sebagian orang tua pada masyarakat marginal mereka juga sampaikan pada anak mereka, tapi dari hasil pengamatan, meskipun mereka menyampaikan pada anaknya untuk berlaku sopan namun mereka sendiri tidak dapat memberikan contoh dalam perilaku dan tutur kata sehari-hari.

Penggunaan kalimat-kalimat yang menurut budaya Makassar merupakan kata atau kalimat yang tidak pantas sering

Kartini Marzuki , Pendidikan Keluarga Pada Masyarakat Marginal Perkotaan | 33

orang tua ucapkan bahkan juga pada anak-anak mereka. Kalimat atau kata-kata tersebut seperti ucapan “suntili’, “dongo”, “tongolo”, dan lain-lain, bahkan jika mereka marah pada anak-anaknya sering berujar “anak sundala”. Kata-kata tersebut sepertinya hal yang biasa saja mereka ucapkan.

Panggilan yang bagi masyarakat bugis Makassar kepada seseorang seperti “Ikau’, “Ko” merupakan pelengkap kata yang kasar, namun pada umumnya masyarakat marginal dalam bertutur masih selalu menggunakan tambahan kata dalam menunjuk seseorang .

Dalam melaksanakan ibadah sehari-hari orang tua pada masyarakat marginal sudah mulai memberikannya pada anak-anaknya terutama pembelajaran baca tulis al-quran. Meskipun hal tersebut lebih banyak diserahkan pada lembaga TPA di sekitar mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak orang tua pada masyarakat marginal yang belum bisa membaca al-quran.

6. Lingkungan dan fasilitas

Masyarakat marginal yang bermukim di daerah pinggiran perkotaan dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi menyebabkan lingkungan dihuni oleh masyarakat dengan tingkat interaksi yang cukup tinggi. Intensitas bertemunya antar anggota masyarakat sangat tinggi, sehingga pola saling mempengaruhi antar komunitas juga sangat tinggi.

Dengan demikian pengaruh-pengaruh dalam melaksanakan pendidikan juga sangat ditentukan bagaimana cara mendidik yang diberikan oleh sebagian besar anggota masyarakat marginal. Hubungan pertetanggan akibat kehidupan masyarakat berada di lorong-lorong kota (masyarakat kota Makassar mengenalnya dengan istilah masyarakat lorong).

Melalui program pemberdayaan dan sanitasi masyarakat lorong, menyebabkan sebagian besar masyarakat marginal di kota masyarakat telah hidup pada lingkungan yang lebih tertata. Fasilitas berupa lembaga PAUD telah mulai menyentuh masyarakat marginal di kota Makassar, meskipun lembaga PAUD yang ada belum secara maksimal menyelenggarakan program Parenting

untuk memperbaiki kualitas pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga.

Lingkungan sekolah juga merupakan sumber tantangan kedua dalam menjalankan pendidikan keluarga. K a r e n a guru-guru di sekolah tidak mampu mengawasi anak didiknya setiap saat, sehingga pengaruh pergaulan sangat memberikan efek yang besar bagi pembentukan kepribadian anak.

Ada beberapa titik lokasi di kota masyarakat yang dihuni oleh kelompok masyarakat marginal di mana ling-kungannya sangat kurang baik bagi anak-anak. lokasi tersebut yaitu di daerah pinggiran kota Makassar dan daerah Pampang. Lingkungan pada daerah tersebut sudah sangat terkenal sebagai daerah peredaran narkoba di kota Makassar. Anak-anak usia sekolah sudah banyak yang terbiasa mengisap lem sampai mereka mabuk. Beberapa informan dalam penelitian juga menyampaikan bahwa beberapa kaum ibu juga tersangkut kasus sebagai pengedar narkoba, sehingga anak-anak mereka dipelihara oleh kerabat maupun oleh ayah mereka sendiri.

Dari segi kuantitaas, pendidikan keluarga bagi anak dari kelompok masyarakat marginal berlangsung lebih sedikit, anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Meskipun kaum ibu pada umunya tidak bekerja namun intensitas pertemuan antara orang tua dan anak (terutama ibu), masih tergolong rendah. Orang tua terbiasa melepaskan anak-anaknya bermain di luar rumah selepas sekolah. Itulah sebabnya mengapa anak-anak dari kelompok masyarakat terse but pada akhirnya menjadi anak jalanan. Mereka pada akhirnya menikmati mudahnya memperoleh uang hanya dengan mengamen disudut–sudut jalan tanpa control dari orang tuanya.

KESIMPULAN

Pendidikan keluarga pada masyarakat marginal diperkotaan lebih banyak dilaksanakan oleh orang tua mereka sendiri, pada umumnya pendidikan keluarga yang dilakukan bertujuan agar anak patuh pada orang tuanya. Strategi pendidikan

dilaksanakan melalui nasihat, orang tua belum dapat menyampaikan pendidikan pada anak-anaknya melalui pemodelan. Dari segi kuantitas dan kualitas pendidikan keluarga tergolong masih rendah karena anak-anak dari kelompok masyarakat marginal lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah tanpa control dari orang tuanya

DAFTAR PUSTAKA

Alcock, Peter. 1993. Understanding Poverty. Mac Millan Pres Ltd

Berns R.M. (1997). Child, Family, School, Community Social and Support. Harcourt Brace Collage Publihers (Bab Ecology Parenting)

BPS Makassar. 2016 Makassar dalam Angka. Makassar

Cheryl S. Marsiglia, et.al.2007. Impact of Parenting Styles and Locus of Control on Emerging Adults. Journal of Education and human Development. Volume 1 issue 1 issn.1934-7200 Knud Illeris.(2009). Contemporary Theories

of Learning: Learning Theorists...in their own words.Rotledge: London & New York

Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Perempuan 2018 “membangun bangsa melalui ketahanan keluarga.”

Hal. 35 – 45

Makassar, 26 Januari 2018

Marginalisasi Gender dalam Pembangunan Pertanian

Dokumen terkait