BAB I: PENDAHULUAN
E. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penulis menggunakan penelitian kualitatif yakni metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawanya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan sevara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono,2014:1). Penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian ilmiah yang lebih dimaksudkan untuk memahami maslaah-masalah manusia dalam konteks sosial dengan menciptakan gambaran menyeluruh dan kompleks yang disajikan, melaporkan pandangan terperinci dari para sumber informasi, serta yang dilakukan dalam setting yang alamiah tanpa adanya intervensi apa pun dari peneliti.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semiotik. Semiotik secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yang artinya tanda. Sedangkan secara terminologi semiotik didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan
15 luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. (Sobur,2009:95). Semiotik yang terfokus untuk meneliti representasi sabar dalam sebuah film menggunakan teori Roland Barthes. Karena film merupakan bidang kajian yang sangat relevan bagi analisis semiotik. Seperti yang di ungkapkan oleh Sobur, film pada umumnya dibangun dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. (Sobur,2004:182).
Dalam setiap bidang kajian. Roland Barthes mengaplikasikan semiotik seperti pada film, mode, iklan, dan fotografi. Semiotik Roland Barthes mengkaji hubungan antara penanda dan pertanda, serta melihat aspek lain dari penanda yaitu mitos. Roland Barthes menulusuri makna dengan pendekatan budaya, dengan dasar kebudayaan yang menjadi latar belakang terbentuknya suatu makna.
Spesifikasi dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif, karena data yang digunakan berupa kata-kata bukan angka-angka dan disertai analisis untuk menggambarkan bagaimana sabar direpresentasikan dalam sebuah film. Terutama pada tokoh Rafli sebagai pemeran utama (Barmawanto,2017:7). 2. Definisi Konseptual
Penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan untuk menggali sejauh mana representasi „sabar‟ yang ada dalam film Cinta Laki-Laki Biasa. Artinya fokus penelitian ini terletak pada content dari film tersebut berdasar ketentuan dan standar tentang
16
sabar yang telah ditetapkan dalam kerangka teori. Atas dasar hal tersebut kemudian sabar dalam film ini diletakkan beradasarkan indikator-indikator yang terangkum dalam bentuk-bentuk sabar diantaranya sebagai berikut:
a. Sabar dalam Ibadah dan Ketaatan b. Sabar dalam Menghadapi Hinaan c. Sabar dalam menghadapi cobaan dunia d. Sabar menunggu janji Allah
Tentunya hal ini tidak terlepas dari tolak ukur kebenaran akademik yang berlandaskan pada data-data yang valid, baik itu dari Al-Qur‟an, Hadits, pendapat para ulama serta berbagai literatur yang sesuai.
3. Definisi Operasional
Guna mengindari kesalahan pemahaman dan persepsi terhadap peneliti ini, maka penulis akan membatasi masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini.
a. Sabar dalam Ibadah dan ketaatan
Dalam mengerjakan suatu amal, setiap manusia harus menata niat, ikhlas, bersabar atas noda-noda riya atau pamrih berikut semua faktor yang mendorong kepada bencana, dan mengikat hasrat untuk tetap ikhlas dan setia. Bagi seseorang yang mengenal hakikat niat, ikhlas, noda-noda riya dan tipu daya, hal itu merupakan kesabaran yang sangat berat.
17 b. Sabar dalam Menghadapi Hinaan
Hinaan adalah bagian dari cara Allah SWT menguji kearifan diri terhadap hamba-Nya. Bahkan sangat mungkin, hinaan yang datang dari orang lain adalah sarana dari Allah SWT agar manusia bisa memperbaiki kualitas dirinya. Bahkan tidak jarang, hinaan itulah yang memperkokoh dan memperjelas kemuliaan seseorang yang dihina itu.
c. Sabar dalam Menghadapi Cobaan
Setiap manusia memiliki kebutuhan konsumsi untuk melangsungkan hidup yang harus diusahakan dengan sungguh-sungguh dan penuh kesabaran, namun Allah SWT kadang menguji manusia dengan berkurangnya hidup ditambah lagi ujian dengan terjadinya musibah yakni sesuatu yang tidak menyenangkan menimpa seseorang. Bentuk sabar yang tak kalah penting adalah saat mendapatkan musibah. Sabar menerima musibah bermacam-macam bentuknya misalnya, kematian, kegagalan, kecelakaan, dan lain lain. d. Sabar Menunggu Janji Allah
Dalam hidup setiap manusia pasti sering menghadapi penantian, tidak hanya menanti janji dari orang lain tetapi juga menanti janji dari Allah. Sabar menanti janji Allah adalah sebuah proses yang harus dilewati untuk bisa menikmati berkah yang Allah berikan pada waktunya nanti. Dalam Al-Qur'an Allah SWT menjanjikan kepada
orang-18
orang yang beriman dan beramal saleh dengan janji-janji yang menyenangkan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.
4. Sumber dan Jenis Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan sumber data primer. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian menggunakan alat pengukuran atau pengukuran data langsung pada objek sebagai sumber informasi yang akan dicari (Azwar, 2005: 91). Data tersebut berasal dari pengamatan peneliti terhadap film Cinta Laki-Laki Biasa dari file yang didownload dari situs berbagi youtube.com.
5. Teknik Pengumpulan Data
Penulis akan menggunakan metode dokumentasi untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Penulis akan menggali informasi dan meneliti Representasi Dakwah dalam film Cinta Laki-Laki Biasa. Penulis akan mengumpulkan adegan-adegan sabar dalam film tersebut, diteliti, dianalisa, dijelaskan dan dideskripsikan bagaimana adegan sabar yang ada pada film tersebut.
6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis semiotik. Analisis semiotik merupakan cara atau metode untuk menganalisis dan memberikan makna-makna terhadap lambang-lambang yang terdapat pada suatu paket pesan
19 atau teks. Teks yang dimaksud dalam hubungan ini adalah segala bentuk sistem lambang (sign) baik yang terdapat pada media massa (seperti berbagai paket tayangan televisi, media cetak, film, radio dan berbagai bentuk iklam) maupun yang terdapat diluar media massa (seperti karya lukis, patung, monumen, dan fashion show). Urusan analisis semiotik adalah melacak makna-makna yang diangkat teks berupa lambang-lambang (sign). Dengan kata lain pemaknaan terhadap lambang-lambang dalam tekslah yang menjadi pusat perhatian analisis semiotik. (Pawito,2007: 155-156).
Dalam penelitian ini, penulis khususnya menggunakan analisis semiotika model Roland Barthes untuk menggambarkan tanda-tanda sabar tokoh Rafli dalam film “Cinta Laki-Laki biasa”. Tujuan utama dari semiotika media adalah mempelajari bagaimana media massa menciptakan atau mendaur ulang tanda. Untuk tujuanya sendiri ini dilakukan dengan bertanya: apa yang dimaksudkan atau direpresentasikan oleh sesuatu, bagaimana makna itu digambarkan, dan mengapa ia memiliki makna sebagaimana ia tampil.
Adapun teknik analisis yang digunakan adalah semiotik yang dikembangkan oleh Roland Barthes. Roland Barthes membuat sebuah model sistematis dalam menganalisis makna dari tanda-tanda. Fokus perhatian Barthes lebih tertuju kepada gagasan signifikasi dua tahap (Two order of signification).
20
Gambar 1 : Signifikasi Dua Tahap
Melalui gambar ini Barthes, seperti dikutip Fiske, menjelaskan: signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yakni makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaanya. Pemilihan kata-kata kadang merupakan piluhan terhadap konotasi, misalnya kata “penyuapan” dengan “memberi uang pelicin” (Sobur,2012: 127-128).
Makna denotasi adalah makna tingkat pertama yang bersifat objektif (first order) yang dapat diberikan terhadap lambang-lambang, yakni dengan mengaitkan secara langsung antara lambang dengan realitas atau gejala yang ditunjuk. Kemudian makna konotasi dalah makna-makna yang dapat diberikan pada lambang-lambang dengan mengacu pada
nilai-21 nilai, budaya yang karenanya berupa pada kedua (second order) (Pawito,2007: 163).
Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan ini, tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami aspek realitas atau gejala alam. Mitos merupakan produk kelas sosial yang mempunyai suatu dominasi. Mitos primitif misalnya, mengenai hidup dan mati manusia, dewa dan sebagainya. Sedangkan mitos masa kini misalnya mengenai feminimitas, maskulinitas, ilmu pengetahuan, dan kesuksesan (Sobur,2012: 128).