• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang dengan ketinggian tempat + 3 m di atas permukaan laut dengan topografi datar. Pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan November 2009 sampai April 2010.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih 4 varietas padi yaitu Dendang dan Lambur (varietas yang dianjurkan untuk tanah salin, berdasarkan rekomendasi Balitpa dan IRRI), Ciherang (varietas yang digunakan petani setempat), serta Rojolele (pembanding dengan varietas anjuran) sebagai objek pengamatan, air, sekam padi, jerami padi, dedak, gula, dan EM4 sebagai bahan untuk pembuatan bokashi, pupuk urea, PPC Atonik, Grow More, Decis, Snail Down, dan lain-lain.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah hand tractor untuk mengolah lahan, cangkul untuk membuat plot, terpal sebagai alas untuk mencampur bahan-bahan bokashi, kantong plastik hitam sebagai tempat untuk menyimpan bokashi, label nama, meteran, timbangan, ember, gelas ukur, alat tulis dan alat-alat lain yang mendukung penelitian ini.

Metode Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan tiga ulangan, yaitu: Faktor 1: Amelioran (A) terdiri dari 3 taraf, yaitu:

A0 = Tanpa Bokashi

A1 = Bokashi jerami 3 ton/ha (1,8 kg/plot) A2 = Bokashi Jerami 6 ton/ha (3,6 kg/plot) Faktor 2: Varietas (V) terdiri dari 4 taraf, yaitu:

V1 = Ciherang V2 = Lambur V3 = Dendang V4 = Rojolele

Sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan yaitu: A0V1 A1V1 A2V1

A0V2 A1V2 A2V2 A0V3 A1V3 A2V3 A0V4 A1V4 A2V4 Jumlah ulangan : 3 ulangan Jumlah kombinasi : 12

Jumlah Plot : 36 plot Jumlah tanaman per plot : 80 tanaman Jumlah sampel per plot : 25 tanaman Jumlah tanaman seluruhnya : 2.880 tanaman Jumlah sampel seluruhnya : 900 tanaman Jarak antar blok : 100 cm Jarak antar plot : 50 cm

Ukuran plot : 3 x 2 m = 6 m2 Jarak tanam : 25 x 30 cm

Metode Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam dengan model linear sebagai berikut:

Yijk = μ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + Σijk

i= 1,2,3 j= 1,2,3 k= 1,2,3,4

Yijk = Hasil pengamatan pada blok ke-i yang diberi perlakuan amelioran pada taraf ke-j dan varietas pada taraf ke-k

μ = Nilai tengah perlakuan

ρi = Pengaruh blok pada taraf ke-i

αj = Pengaruh pemberian amelioran pada taraf ke-j

βk = Pengaruh varietas pada taraf ke-k

(αβ)jk = Pengaruh interaksi perlakuan amelioran pada taraf ke-j dan varietas pada taraf ke-k

Σijk = Pengaruh galat pada blok ke-i yang mendapat perlakuan amelioran pada taraf ke-j dan varietas pada taraf ke-k

Jika analisis data nyata, maka dilanjutkan dengan uji beda rataan yaitu uji Duncan dengan taraf 5%.

Untuk menganalisis apakah hasil peubah amatan merupakan keragaman fenotip disebabkan lingkungan atau genotip, maka digunakan heritabilitas

Dimana :

H2 : Nilai duga heritabilitas

σ2

g : Varian genotip

Kriteria nilai heritabilitas menurut Standfield (1991) adalah : H tinggi > 0,5

H sedang = 0,2 – 0,5 H rendah < 0,2

Tabel 1. Nilai harapan kuadrat tengah bagi analisis RAK faktorial Sumber

keragaman

Derajat bebas

JK KT Estimasi kuadrat tengah

Blok (r-1) JKB KTB

Varietas (V) (a-1) JKV KTV σ2+ r σ2

gp+ rb σ2 g Ameliorasi (A) (b-1) JKA KTA σ2+ r σ2

gp + ra σ2 p Interaksi VxA (a-1)(b-1) JKVxA KTVxA σ2+ r σ2

gp

Error (ab-1)(r-1) JKE KTE σ2

Total abr-1 JKT

Pengamatan Parameter Tinggi tanaman (cm)

Pengukuran tinggi tanaman mulai 2 minggu setelah pindah tanam, diukur mulai leher akar sampai dengan bagian tanaman yang tertinggi untuk setiap tanaman sampel tetap. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan pada umur 2, 4, 6 dan 8 MSPT.

Jumlah anakan (batang)

Jumlah seluruh anakan dihitung pada setiap rumpun tanaman sampel tetap dalam setiap plot. Penghitungan jumlah anakan dilakukan pada umur 2, 4, 6 dan 8 MSPT.

Jumlah anakan produktif (batang)

Jumlah anakan produktif dihitung pada setiap anakan yang mempunyai malai pada setiap rumpun tanaman sampel tetap dalam setiap plot setelah pemanenan.

Jumlah anakan maksimum (batang)

Jumlah anakan maksimum dihitung pada setiap rumpun tanaman sampel tetap dalam setiap plot sampai jumlah anakan berada pada jumlah maksimum.

Luas daun (cm2

)

Luas daun dihitung dengan menggunakan Leaf Area Meter. Luas daun dihitung pada setiap sampel tetap umur 2, 4, 6 dan 8 MSPT.

Bobot kering berangkasan (g)

Sebanyak 5 tanaman sampel destruktif tiap plot dicabut sampai akarnya pada umur 2, 4, 6 dan 8 MSPT. Kemudian dibersihkan, dikeringovenkan pada suhu 65oC hingga bobotnya konstan, selanjutnya tanaman ditimbang.

Laju tumbuh relatif (g.minggu-1)

Laju Tumbuh Relatif ditentukan dengan rumus: LTR =

(T2 – T1) (lnW2 – lnW1)

Dimana : W1 = Bobot kering tanaman pada waktu t1 W2 = Bobot kering tanaman pada waktu t2 T = Waktu (minggu)

Pengukuran LTR dilakukan pada 5 tanaman sampel destruktif umur 2, 4, 6 dan 8 MSPT.

Laju assimilasi bersih (g.cm-1.minggu-2)

Laju Assimilasi bersih (LAB) dinyatakan sebagai peningkatan bobot kering tanaman untuk setiap satuan luas daun dalam waktu tertentu. Harga LAB dihitung dengan rumus:

LAB = (W2 – W1) .

(T2 – T1) (A2 – A1) (lnA2 – lnA1)

Dimana : W1 = Bobot kering tanaman pada waktu t1 W2 = Bobot kering tanaman pada waktu t2 A1 = Luas daun pada waktu t1

A2 = Luas daun pada waktu t2

Pengukuran LAB dilakukan pada 5 tanaman sampel destruktif pada umur 2, 4, 6 dan 8 MSPT.

Volume akar (ml)

Volume akar diukur dengan cara mencabut tanaman hingga ke akar. Kemudian dibersihkan dengan air dan dikeringkan, kemudian dimasukkan kedalam beaker glass yang telah diisi penuh dengan air yang dialasi wadah penampung. Volume air yang tumpah pada wadah penampung kemudian diukur dengan menggunakan gelas ukur, dan dicatat sebagai volume akar. Pengamatan dilakukan pada tanaman sampel destruktif umur 2, 4, 6 dan 8 MSPT.

Jumlah klorofil

Kandungan klorofil daun dapat dihitung dengan alat klorofilmeter. Daun yang diamati adalah daun yang berada di tengah dan sudah terbuka sempurna. Pengukuran diambil pada tiga bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung daun kemudian diambil rataannya dan dicatat sebagai jumlah klorofil. Pengamatan dilakukan pada tanaman sampel tetap yang berumur 6 mspt.

Kerapatan stomata (jumlah/mm2)

Parameter yang diamati adalah jumlah stomata tiap bidang pandang pada sampel 8 mspt dengan rumus:

Kerapatan stomata = jumlah stomata satuan luas bidang pandang

Tebal kutikula (μm)

Untuk mengukur tebal kutikula diambil dari daun yang segar dengan mengiris tipis secara melintang di bagian atas dan bawah epidermis lalu diletakkan diatas objek glass kemudian ditetesi dengan etanol dan sodium hipoklorit. Setelah itu diwarnai dengan larutan Sudan III dan ditutup dengan kaca penutup lalu diamati dengan mikroskop cahaya. Pengamatan dilakukan pada tanaman sampel tetap umur 8 MSPT.

Umur berbunga (Hari Setelah Semai)

Umur berbunga dihitung mulai dari semai sampai pada saat tanaman memasuki masa generatif setelah mulai berbunga 75 %.

Umur panen (HSS)

Umur panen dihitung mulai dari semai sampai pada saat pemanenan.

Produksi per sampel (g)

Produksi per sampel diperoleh dengan menimbang berat butir/gabah per sampel. Pengamatan dilakukan setelah panen.

Produksi per plot (g/0,675 m2)

Produksi per plot diperoleh dengan menimbang berat butir/gabah per plot. Pengamatan dilakukan setelah panen.

Bobot 1.000 butir (g)

Bobot 1.000 butir diperoleh dengan menimbang 1.000 butir gabah dalam tiap plot dengan menggunakan timbangan digital. Pengamatan dilakukan setelah panen.

Indeks panen (%)

Indeks panen = bobot biji per sampel

bobot biji per sampel + bobot brangkasan

x 100%

Pelaksanaan Penelitian Persiapan lahan

Lahan yang digunakan adalah area persawahan yang tergolong tanah salin di daerah Kecamatan Percut Sei Tuan dengan pH = 8.5 dan DHL = 5.9. Sebelum lahan diolah, terlebih dahulu lahan dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman dengan menggunakan cangkul. Kemudian lahan diolah dengan menggunakan hand tractor, dan dibuat plot dengan menggunakan cangkul dengan ukuran 3 x 2 m = 6 m2, dengan jarak antar blok 100 cm dan jarak antar plot 50 cm.

Pembuatan bokashi jerami

Bahan pembuatan bokashi adalah jerami yang telah dipotong sehingga jerami berukuran sekitar 5-10 cm. Kemudian ditambahkan dedak dan sekam dan dicampur merata di atas lantai yang telah dilapisi dengan terpal. Perbandingan bahan jerami : sekam padi : dedak adalah 10 :10 : 0.5. Untuk membuat 200 kg bokashi jerami dibutuhkan sebanyak 100 kg jerami, 100 kg sekam padi dan dedak sebanyak 5 kg.

Selanjutnya dibuat larutan dari EM4 (10 ml), Gula (10 ml) dan air dengan perbandingan 1ml : 1ml : 1 liter air untuk membuat 20 kg bahan kompos. Bahan larutan disiramkan secara bertahap diatas campuran jerami hingga terbentuk adonan. Adonan yang terbentuk jika dikepal dengan tangan, maka tidak ada air yang keluar dari adonan. Begitu juga bila kepalan dilepaskan maka adonan kembali mengembang (kandungan air sekitar 30%).

Adonan tersebut selanjutnya dibuat menjadi sebuah gundukan setinggi 15-20 cm. Adonan selanjutnya dimasukkan ke karung plastik selama 3-4 hari. Selama dalam proses, suhu bahan dipertahankan antara 40-50oC. Jika suhu bahan melebihi 50oC, maka karung penutup dibuka dan bahan adonan dibolak-balik dan selanjutnya gundukan ditutup kembali. Setelah 4 hari karung goni dapat dibuka. Pembuatan bokashi dikatakan berhasil jika bahan bokashi terfermentasi dengan baik. Ciri-cirinya adalah bokashi akan ditumbuhi oleh jamur yang berwarna putih dan aromanya sedap. Sedangkan jika dihasilkan bokashi yang berbau busuk, maka pembuatan bokashi gagal.

Aplikasi amelioran

Amelioran diaplikasikan 2 minggu sebelum bibit padi dipindah tanam dari persemaian. Pemberiannya dilakukan dengan cara menyebarkan amelioran pada setiap plot berdasarkan perlakuan.

Penyemaian benih

Benih padi yang digunakan adalah varietas Rojolele, Dendang, Ciherang, dan Lambur. Benih direndam selama 24 jam dalam air, kemudian ditiriskan dan dimasukkan ke dalam karung selama 2 hari agar berkecambah. Bedengan dibuat ukuran 2 x 3 sebanyak 4 bedengan untuk menyemaikan keempat varietas dan bedengan semai dipagar dengan plastik untuk mencegah tikus masuk. Satu hari sebelum semai pada petakan di tabur pupuk urea.

Selanjutnya benih ditabur di persemaian yang dilakukan langsung di lahan untuk membantu tanaman beradaptasi pada masa perkecambahan dan pertumbuhan awal. Setelah bibit berumur 30 hari baru dipindah tanam ke areal penelitian.

Pemeliharaan tanaman 1. Pengairan

Pengairan dilakukan dengan membuat saluran air pada setiap plot untuk mengairi sawah. Pengairan dilakukan dengan menggunakan pompa air karena permukaan sawah lebih tinggi dari saluran irigasi.

2. Penyulaman

Penyulaman dilakukan bila ada tanaman yang mati, layu atau patah. Penyulaman dilakukan 7 hari setelah pindah tanam.

3. Pemupukan

Pemupukan N dilakukan tiga tahap : 1/3 bagian diberikan pada 7 hari setelah pindah tanam, 1/3 bagian 21 hari setelah pindah tanam dan 1/3 bagian 35 hari setelah pindah tanam.

4. Penyiangan

Penyiangan dilakukan sesuai dengan kondisi gulma dilahan. Penyiangan dapat dilakukan secara manual yaitu menggunakan tangan atau dapat juga dengan menggunakan cangkul.

5. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan Decis untuk insektisida, Snaildown untuk mengendalikan keong mas. Pengendalian dilakukan sesuai dengan kondisi dilapangan.

6. Penyemprotan Pupuk Organik Cair

Penyemprotan dengan pupuk organik cair PPC Atonik serta Grow More dilakukan pada saat tanaman sudah mulai bermalai dengan konsentrasi volume semprot 1 ml/liter air. Larutan disemprotkan merata ke seluruh tanaman padi.

Pemanenan

Pemanenan dilakukan apabila padi telah matang secara fisiologis yaitu bulir-bulir padi dan tanaman padi sudah menguning. Tangkai malai sudah merunduk karena sarat dengan butir gabah bernas. Untuk lebih memastikan padi sudah siap panen adalah dengan cara menekan butir gabah, bila butirnya sudah keras berisi maka padi sudah siap untuk dipanen.

Dokumen terkait