Metode penelitian merupakan suatu kesatuan sistem dalam penelitian yang terdiri-dari prosedur dan teknik yang perlu dilakukan dalam usaha penelitian (Nazir 1998 : 51-52 dalam Arikunto S, 1998). Prosedur adalah suatu usaha yang dilakukan untuk menentukan urut-urutan pekerjaan dalam penelitian. Ditinjau dari permasalahan dan tujuan dalam penelitian, maka metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif eksploratif yang pendekatan variabelnya dilakukan dengan survey lapangan dan penggunaan data sekunder. Tujuan dari penelitian jenis ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diteliti.
Menurut Moleong dalam Sukandar (2006) analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai obyek penelitian berdasarkan data dari hasil wawancara, catatan pengamatan dari kelompok obyek yang diteliti. Analisis deskriptif pada penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap data primer dari hasil wawancara dan kuesioner juga data sekunder, kemudian disajikan secara deskriptif. Menurut Arikunto (1996), jenis pendekatan dalam penelitian ini adalah termasuk pendekatan non eksperimen dan deskriptif, karena dalam penelitian ini tidak melakukan suatu percobaan tetapi lebih ke arah pendalaman suatu kasus atau keadaan dan dideskripsikan secara mendalam.
A. Pendekatan penelitian dimulai dari : 1. Alih fungsi lahan tahun 1997 dan 2007
2. Alih Fungsi Lahan menyebabkan perubahan tata air/kondisi kesehatan DAS 3. Untuk mengetahui kondisi kesehatan DAS terdapat lima (5 ) parameter yang
perlu diukur antara lain (Pedoman monev DAS, 2007) :
a. Koefisien Regim Sungai (KRS)
b. Coefisien of Varians (CV)
c. Indeks Penggunaan Air
d. Koefisien Limpasan (C)
e. Erosi, Sedimentasi dan SDR
4. Rekomendasi kebijakan pengelolaan DAS B. Pengumpulan Data
Bahan-bahan penelitan disesuaikan dengan rumusan dan tujuan yang diajukan sebelumnya yaitu keeratan hubungan dengan kondisi fisik wilayah Sub-Sub DAS Ngunut I dan Sub-Sub-Sub-Sub DAS Tapan, maka data yang dikumpulkan meliputi :
1. Peta Tata Guna Lahan Sub-Sub DAS Ngunut I dan Sub-Sub DAS Tapan 2. Data debit harian Sub-Sub DAS Ngunut I dan Sub-Sub DAS Tapan tahun
1997 – 2007
3. Data curah hujan Sub-Sub DAS Ngunut I pada stasiun penakar hujan Gender (Jumantono) dan Sub-Sub DAS Tapan pada stasiun penakar hujan pada stasiun Jumapolo tahun 1997 – 2007
4. Data tingkat erosi dan sedimentasi, koefisien limpasan Sub-Sub DAS Ngunut I dan Sub-Sub DAS Tapan, Jumantono – Karanganyar dari Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS (BPTKP DAS) Solo
5. Data penggunaan lahan dari Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS (BPTKP DAS) Solo, tahun 1997 dan 2007
6. Data keadaan umum wilayah, kondisi sosial ekonomi dan lain-lain yang diperoleh dari laporan-laporan penelitian, jurnal-jurnal yang ada di Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS (BPTKP DAS) Solo 7. Data kependudukan yang masuk wilayah Sub DAS Ngunut I dan
Sub-Sub DAS Tapan C. Analisa Data
1. Metode Penghitungan KRS ( Koefisien Regim Sungai )
Koefisien Regim Sungai (KRS) merupakan perbandingan debit
maksimum dengan debit minimum dalam suatu DAS. Makin kecil nilai KRS berarti makin kecil perbedaan debit maksimum dan minimum, sehingga kontinuitas aliran cukup terjaga. Kondisi demikian menunjukkan DAS yang sehat yang dapat menyimpan air di musim penghujan dan mengeluarkannya pada musim kemarau. Nilai KRS dihitung melalui persamaan :
Q min (m3/det) = debit harian rata-rata (Q) tahunan terendah
Data Qmaks dan Qmin diperoleh dari nilai rata-rata debit harian (Q) dari
hasil pengamatan SPAS pada Sub-Sub DAS Ngunut I dan Sub-Sub DAS Tapan
Klasifikasi nilai KRS untuk menunjukkan karakteristik tata air DAS disajikan
pada Tabel 2.
Tabel 2. Klasifikasi Nilai Koefisien Regim Sungai (KRS)
No. Kelas
1. < 50 Baik
2. 50 – 120 Sedang
3. > 120 Buruk
Nilai KRS yang tinggi menunjukkan kisaran nilai Q_maks dan Q_min
sangat besar, (semakin tinggi nilai KRS semakin jelek) atau dapat dikatakan
bahwa pada musim penghujan terjadi banjir, sedang pada musim kemarau aliran
air yang terjadi sangat kecil atau menunjukkan kekeringan. Secara tidak langsung
kondisi ini menunjukkan bahwa daya resap lahan di DAS/Sub DAS kurang
mampu menahan dan menyimpan air hujan yang jatuh dan air limpasannya
banyak yang terus masuk ke sungai dan terbuang ke laut sehingga ketersediaan
dari data debit aliran sungai tahunan. Nilai banjir diperhitungkan dari nilai Q max itu sendiri dengan satuan m3/detik
2. Metode Penghitungan CV ( Coefisient of Varians )
Koefisien of Variansi (CV) adalah gambaran kondisi variasi dari debit
aliran air (Q) tahunan dari suatu DAS. Nilai CV dicari dengan persamaan berikut
:
Dimana : Sd = standar deviasi debit (Q) tahunan dari SPAS
Q rata-rata = data debit rata-rata taunan dari SPAS
Data debit diperoleh dari data debit taunan minimal selama 10 taun
Tabel 3. Klasifikasi Nilai Coefisien of Varians (CV)
No. Kelas
1. < 0,1 Baik
2. 0,1 – 0,3 Sedang
3. > 0,3 Buruk
Jika variasi debit (Q) tahunan kecil maka kondisi debit (Q) dari tahun ke tahun
tidak banyak mengalami perubahan. Di sisi lain, jika variasi debit (Q) tahunan
besar maka kondisi debit (Q) dari tahun ke tahun banyak mengalami perubahan,
yang menunjukkan kondisi DAS/Sub DAS yang kurang stabil (lampiran
Peraturan Direktur jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, 2009).
3. Metode Penghitungan IPA (Indeks Penggunaan Air )
Indeks Penggunaan Air (IPA) diperoleh dengan persamaan sbb :
Persediaan air dapat dihitung langsung dari data debit aliran. Kebutuhan air dihitung berdasarkan jenis penggunaan lahan dan kebutuhan air pada masing-masing luas penggunaan lahan yang ada serta kebutuhan air untuk penduduk. Perkiraan kebutuhan air untuk berbagai macam penggunaan lahan dapat dilihat pada tabel 4 berikut :
Kebutuhan (m3 atau mm) Indeks Penggunaan Air (IPA) = ---
Persediaan (m3 atau mm)
Tabel 4. Perkiraan kebutuhan air pada tiap – tiap penutupan lahan
No Jenis Penggunaan Lahan Kebutuhan
Air (mm/th)
Keterangan
1 Sawah irigasi 1 kali panen
Sawah irigasi 2 kali panen Sawah 1 kali panen + palawija
1200
2 Tegal palawija 1350 Jagung,
kacang dan singkong
3 Hutan daun jarum 1250
4 Hutan daun lebar 1000
5 Pemukiman 1200 Kepadatan 550
jiwa/km2/80 lt/orang/hari
Sumber : Dumairi (1992), Asdak (1995) dan Coster (1983)
4. Metode Penghitungan C (Koefisien Limpasan )
Koefisien Limpasan adalah perbandingan antara limpasan tahunan (Q,mm) dengan tebal hujan tahunan (P, mm) di DAS/Sub DAS.
Dimana : Q = debit dalam mm
P = hujan tahunan dalam mm
Tebal limpasan tahunan (Q,mm) diperoleh dari volume debit (Q) dari hasil pengamatan SPAS selama satu tahun dibagi dengan luas DAS (A), sedangkan tebal hujan tahunan (P,mm) diperoleh dari hasil pencatatan pada SPH dengan Ombrometer. Nilai C yang besar menunjukkan lebih banyak air hujan yang menjadi limpasan. Sehingga ancaman terjadinya erosi dan banjir menjadi lebih besar (Asdak, 2004). Angka C berkisar antara 0 sampai 1. Apabila C mempunyai nilai 0 berarti semua air hujan terdistribusi menjadi air intersepsi dan infiltrasi. Apabila C mempunyai nilai 1 berarti semua air hujan mengalir sebagai air larian. Klasifikasi koefisien limpasan (C) disajikan pada tabel 5 berikut. Tabel 5. Klasifikasi Koefisien Limpasan (C)
No. Kelas
1. < 0,25 Baik
2. 0,25 – 0,50 Sedang
3. > 0,50 Buruk
5. Metode Penghitungan SDR (Erosi, Sedimentasi dan Sedimen Delivery Ratio) Perkiraan besarnya erosi yang terjadi di suatu DAS menggunakan metode USLE, menurut Asdak C (2207) dengan formulasi :
Dimana :
E : Perkiraan besarnya erosi total (ton/ha/tahun) R : Faktor erosisvitas hujan
K : Faktor erodibiltas lahan
LS : Panjang dan kemiringan lereng
C : Faktor tanaman penutup lahan atau pengelolaan tanaman P : Faktor tindakan konservasi lahan
Untuk menentukan nilai R, K, LS, C dan P diperoleh dengan menggunakan peta dan sumber data pendukung yang ada. Nilai erosivitas (R) dilakukan dengan melihat kondisi atau keadaan curah hujan yang terjadi di Sub2 DAS Ngunut I dan Sub2 DAS Tapan. Faktor erodibiltas tanah (K) dilakukan dengan melihat peta jenis tanah dan dilihat jenis tanah yang ada di sekitar Sub2 DAS ngunut I dan Sub2 DAS Tapan. Dan dihitung dengan monograf nilai (K) (Asdak C, 2007). Penghitungan nilai panjang (L) dan kemiringan lereng (S)
dihitung dengan mengggunakan peta topografi. Penghitungan nilai penutup lahan atau pengelolaan tanaman (C) dan tindakan konservasi tanah (P) dihitung dengan mengggunakan peta tata guna lahan Sub2 DAS Ngunut I dan Sub2 DAS Tapan.
Sedimentasi adalah pengendapan material tanah yang terangkut oleh aliran sungai yang berasal dari proses erosi di hulunya. Indikator terjadinya sedimentasi dapat dilihat dari kandungan sedimen yang terangkut oleh aliran sungai (Pedoman Monev Pengelolaan DAS, edisi revisi, BPK Solo, 2004). Makin kecil konsentrasi sedimen yang terbawa oleh aliran berarti makin sehat kondisi DAS. Indikator yang dipergunakan untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan DAS bertujuan untuk mengurangi sedimentasi adalah besarnya kandungan sedimen di dalam aliran sungai. Besarnya kandungan sedimen dinyatakan dalam besarnya laju sedimentasi per tahun.
Hasil sedimen diperoleh melalui konversi nilai Qs dalam ton/hari menjadi ton/ha/th dengan cara mengalikan jumlah hari dalam satu tahun. Hasil sedimen dalam satuan mm/th dihitung dengan mengkonversikan nilai hasil sedimen dalam satuan ton/ha/th dengan berat jenis sedimen. Berat jenis tanah pada berbagai macam tekstur dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Berat Jenis Tanah pada Berbagai Macam Tekstur
NO TEKSTUR TANAH BERAT JENIS
1. Pasir (sandy) 1,65 (1,55 – 1,85)
2. Lempung berpasir (sandy loam) 1,50 (1,40 – 1,60)
3. Lempung (loam) 1,40 (1,35 – 1,50)
4. Lempung berliat (clay loam) 1,35 (1,30 – 1,40)
5. Liat berdebu ( silty clay) 1,30 (1,25 – 1,35)
6. Liat (clay) 1,25 (,20 – 1,30)
Sumber : Beasly & Huggins (1991)
Penghitungan besarnya Sedimen Delivery Ratio (SDR) atau Nisbah Pelepasan Sedimen dihitung dengan menggunakan rumus :
Dimana :
Y : Hasil sedimen per satuan luas E : Jumlah erosi
Ws : Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) SDR: Nisbah Pelepasan Sedimen
(6) Y = E (SDR) Ws
6. Persamaan Regresi Linear Sederhana dan Uji Korelasi
Regresi merupakan suatu alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya korelasi antar variabel, bagaimana variabel-variabel itu berhubungan atau dapat diramalkan. Analisis regresi mempelajari hubungan yang diperoleh dinyatakan dalam persamaan matematika yang menyatakan hubungan fungsional antara variabel-variabel. Analisis regresi sederhana (tunggal) menyatakan hubungan fungsional antara satu variabel bebas dengan satu variabel terikat. Analisis regresi lebih akurat karena kesulitan dalam menunjukkan slop (tingkat perubahan suatu variabel terhadap variabel lainnya dapat ditentukan) sehingga peramalan nilai variabel terikat pada nilai variabel bebas lebih akurat.
Persamaan regresi linier dari Y terhadap X dirumuskan sebagai berikut: Y = a + b X Dimana : Y = variabel terikat X = variabel bebas a = intersep b = koefisien regresi/slop
Faktor yang mempengaruhi kondisi suatu DAS dianalisa dari salah satu faktor yang menunjukkan pengelolaan DAS atau output yakni nilai sedimen sebagai akumulasi adanya erosi . Sehingga analisa diarahkan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya sedimen yakni : 1) luas tutupan lahan (lahan basah : luas sawah ) , (lahan kering :luas kampung, tegal, kebun campur dan hutan) ; 2) faktor debit dan 3) hujan. Faktor sedimen sebagai variabel
terikat sedangkan faktor luas tutupan lahan, debit dan hujan sebagai variabel bebas.
Untuk menguji keeratan hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas menggunakan Uji Korelasi. Uji korelasi tidak membedakan jenis variabel. Keeratan hubungan dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi dengan Rumus korelasi Pearson. Nilai koefisien korelasi merupakan nilai yang digunakan untuk mengukur kekuatan (keeratan) suatu hubungan antar variabel (Sarwono,2006). Rumus korelasi Pearson sbb :
= r
[ ]
[ å
( )
][ å
( )
]
å å å
å
-å
-n n n Y X XYY
Y
X
X / . /
/
.
2 2 2 2a. Koefisien korelasi memiliki nilai antara -1 hingga +1. Sifat nilai koefisien korelasi adalah plus (+) atau minus (-). Hal ini menunjukkan arah korelasi. Makna sifat korelasi :
b. Korelasi positif (+) berarti jika variabel x1 mengalami kenaikan maka variabel x2 juga akan mengalami kenaikan, atau jika variabel x2 mengalami kenaikan maka variabel x1 juga akan mengalami kenaikan
c. Korelasi negatif (-) berarti jika variabel x1 mengalami kenaikan maka variabel x2 akan mengalami penurunan, atau jika variabel x2 mengalami kenaikan maka variabel x1 akan mengalami penurunan.
d. Sifat korelasi akan menentukan arah dari korelasi.
Hasil korelasi pada penelitian menggunakan . Keeratan korelasi dapat dikelompokkan sebagai berikut (Nugroho, 2005) :
· 0,00 sampai dengan 0,20 berarti korelasi memiliki keeratan sangat lemah
· 0,21 sampai dengan 0,40 berarti korelasi memiliki keeratan lemah · 0,41 sampai dengan 0,70 berarti korelasi memiliki keeratan kuat · 0,71 sampai dengan 0,90 berarti korelasi memiliki keeratan sangat kuat · 0,90 sampai dengan 0,99 berarti korelasi memiliki keeratan sangat kuat
sekali
commit to user