• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian dan Teknik Sampling

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang (Halaman 25-31)

Pada hakekatnya sebuah penelitian adalah mencari jawaban dari pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya oleh peneliti. Selanjutnya hasil penelitian akan berupa jawaban atas pertanyaan yang diajukan pada saat dimulainya penelitian. Untuk menghasilkan jawaban tersebut dilakukan pengumpulan, pengolahan dan analisis data dengan menggunakan metode tertentu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa satu ciri khas penelitian adalah bahwa penelitian merupakan proses yang berjalan secara terus-menerus, hal tersebut sesuai dengan kata aslinya dalam bahasa inggris yaitu

research, yang berasal dari kata re dan search yang berarti pencarian kembali (Sulipan, 2009).

Saat ini berbagai macam metode penelitian telah dikembangkan dan salah satu jenisnya metode penelitian deskriptif. Berbagai macam definisi tentang penelitian deskriptif, di antaranya adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek dan objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak, atau sebagaimana adanya (Nawawi, 2007).

Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.

Fenomena penelitian deskriptif tersebut disajikan secara apa adanya dan hasil penelitiannya diuraikan secara jelas dan gamblang tanpa manipulasi sehingga penelitian ini tidak membutuhkan hipotesis. Analisis deskriptif dapat menggunakan analisis distribusi frekuensi yaitu menyimpulkan berdasarkan hasil rata-rata. Hasil penelitian deskriptif sering digunakan, atau dilanjutkan dengan melakukan penelitian analitik. Jenis penelitian yang termasuk dalam kategori deskriptif adalah studi kasus dan penelitian survei (Sukmadinata, 2006).

Penelitian deskriptif harus diberi bobot yang lebih tinggi, karena penelitian yang sekedar mendeskripsikan fakta-fakta, tidak banyak artinya. Untuk itu dalam metode ini perlu dikembangkan dengan memberikan penafsiran yang memadai (adequate) terhadap fakta-fakta yang ditemukan. Dengan kata lain metode ini tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan menyusun data, tetapi meliputi juga analisa dan interpretasi tentang arti data itu (Nawawi, 2007).

I.8.7.1. Metode penelitian. Dalam penelitian ada dua model atau metode penelitian yang digunakan yaitu:

a. Metode Penelitian Kuantitatif

Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Definisi lain menyebutkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Demikian pula pada tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila disertai dengan gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya.

Metode penelitian kuantitatif oleh Sugiyono (2009), dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Metode kuantitatif sering juga disebut metode tradisional, positivistik, ilmiah (scientific) dan metode discovery. Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian.

Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini disebut sebagai metode ilmiah (scientific) karena metode ini telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit, empiris, objektif, terukur, rasional dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru (Sugiyono, 2009).

Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Penelitian kuantitatif merupakan studi yang diposisikan sebagai bebas nilai ( value

free). Dengan kata lain, penelitian kuantitatif sangat ketat menerapkan prinsip-prinsip objektivitas. Objektivitas itu diperoleh antara lain melalui penggunaan instrumen yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Peneliti yang melakukan studi kuantitatif mereduksi sedemikian rupa hal-hal yang dapat membuat bias, misalnya akibat masuknya persepsi dan nilai‐nilai pribadi. Jika dalam penelaahan muncul adanya bias itu maka penelitian kuantitatif akan jauh dari kaidah-kaidah teknik ilmiah yang sesungguhnya (Danim, 2002).

b. Metode Penelitian Kualitatif

Metode penelitian kualitatif merupakan metode baru karena popularitasnya belum lama, metode ini juga dinamakan post positivistik karena berlandaskan pada filsafat post positivism, serta sebagai metode artistic karena proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola), dan disebut metode interpretive karena data hasil peneletian lebih berkenaan dengan interprestasi terhadap data yang ditemukan di lapangan. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitianya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting), disebut juga metode ethnography, karena pada awalnya metode ini lebih banyak di gunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya.

Kirk dan Miller (1986) mendefinisikan metode kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasanya sendiri dan berhubungan dengan orangorang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahanya. Pengertian metode kualitatif juga dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1975) bahwa metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Menurut Miles dan Huberman (1994) dalam metode kualitatif berusaha mengungkap berbagai keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat, dan organisasi dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh, rinci, dalam dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode penelitian kualitatif juga merupakan metode penelitian yang lebih

menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah dari pada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi.

Menurut teori penelitian kualitatif, agar penelitinya dapat betul-betul berkualitas, maka data yang dikumpulkan harus lengkap, yaitu berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh subjek yang dapat dipercaya, dalam hal ini addalah subjek penelitian (informan) yang berkenaan dengan variabel yang diteliti.

Sedangkan data sekunder adalah data yang dapat diperoleh dari dokumen-dokumen grafis (tabel, catatan, notulen rapat), foto-foto, film, rekaman video, benda-benda dan lain-lain yang dapat memperkaya data primer. Dengan demikian menurut Moleong (1998), sumber data penelitian kualitatif adalah tampilan yang berupa kata-kata lisan atau tertulis yang dicermati oleh peneliti, dan benda-benda yang diamati sampai detailnya agar dapat ditangkap makna yang tersirat dalam dokumen atau bendanya.

Sehubungan dengan pengumpulan data tersebut Bogdan & Biklen (1982) mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif ini kehadiran peneliti sangat penting kedudukannya, karena penelitian kualitatif adalah studi kasus, maka segala sesuatu akan sangat bergantung pada kedudukan peneliti.

Dengan demikian peneliti berkedudukan sebagai instrumen penelitian yang utama (Moleong 1998).

I.8.7.2. Teknik sampling. Ada banyak faktor yang menentukan penelitian yang baik. Diantaranya adalah penggambaran secara jelas tujuan dan masalah yang dibahas dalam penelitian serta teknik dan prosedur penelitian. Salah satu prosedur penelitian yang berpengaruh langsung terhadap hasil penelitian adalah pengambilan sampel (sampling). Sampling adalah suatu cara pengumpulan data yang sifatnya tidak menyeluruh atau tidak mencakup seluruh objek penelitian (Marzuki, 2000).

Secara umum, pengambilan sampel biasanya dilakukan dengan dua cara yaitu random (acak) dan non random (tidak acak). Pengambilan dengan cara random yaitu pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengundi, menggunakan Tabel bilangan acak/random atau dengan menggunakan bantuan komputer. Pengambilan sampel

dengan non random atau disebut juga incidental sampling, dilakukan tidak secara acak.

1. Teknik Sampling Random

Ada tiga jenis sampling yang termasuk pada teknik sampling random yaitu:

a. Sampling random sederhana (simple random sampling)

Teknik ini dikatakan random sederhana karena cara mengambil sampel dari populasi dilakukan secara random (acak) dengan tidak mempertimbangkan strata atau tingkatan dalam populasi. Teknik sampling random sederhana dapat digunakan seandainya populasi yang diteliti bersifat homogen.

b. Sampling bertingkat (stratified sampling)

Teknik sampling bertingkat ini digunakan apabila populasinya heterogen atau terdiri atas kelompok-kelompok yang bertingkat serta jumlah sangat banyak. Penentuan strata dilakukan berdasarkan karakteristik tertentu, misalnya: menurut umur, latar belakang pendidikan, dan sebagainya.

c. Sampling kluster/area (cluster sampling)

Pada penggunaan teknik sampling kluster, biasanya digunakan dua tahapan, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap kedua menentukan orang-orang atau objek yang dijadikan penelitian pada daerah yang terpilih yang dilakukan secara random.

2. Teknik Sampling Non Random

Tidak ada prinsip kerandoman (prinsip teori peluang) pada teknik sampling non random. Dasar penentuannya adalah pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti atau dari penelitian. Tanpa prinsip ini, konsekuensinya penelitian dari sampel non random tidak dapat digunakan pada sebuah penelitian eksplanatif yang menguji hipotesis tertentu, misalnya penelitian korelasional. Hal ini dikarenakan rumus uji statistik inferensial memiliki syarat normalitas dan homogenitas. Akan tetapi, teknik sampling ini secara luas sering digunakan untuk penelitian-penelitian kualitatif atau penelitian-penelitian deskriptif (Teddlie, 2007).

Ada beberapa jenis sampel non random yang sering digunakan dalam penelitian, diantaranya adalah:

a. Sampel Aksidental (accidental sampling).

Sampel ini sering disebut sebagai sampel kebetulan karena pengambilannya tanpa direncanakan terlebih dahulu. Hal inilah yang menjadikan sampel ini sering kali disebut convenience sampling atau sampel keenakan. Kesimpulan yang diperoleh bersifat kasar dan sementara, serta tidak bisa digunakan pada penelitian-penelitian yang berdampak luas dimasyarakat.

b. Sampel Kuota (quota sampling).

Teknik sampling kuota merupakan teknik sampling yang hampir sama dengan teknik sampling strata. Perbedaannya hanya pada cara mengambil sampel yang tidak dilakukan secara random tetapi berdasarkan keinginan peneliti. Teknik ini sering juga disebut judgement sampling karena berdasarkan pendapat tertentu dari peneliti.

Masalah apakah sampel bisa mewakili populasi tidak dipersoalkan dalam teknik ini.

c. Sampel Purposif (purposive sampling).

Dasar penentuan sampel pada teknik sampling ini adalah tujuan penelitian. Teknik purposive ini digunakan dalam upaya memperoleh data tentang masalah yang memerlukan sumber data yang memilki kualifikasi spesifik atau kriteria khusus tertentu. Misalnya, untuk meneliti kualitas sebuah produk fashion maka diperlukan responden yang memiliki kualifikasi kompetensi dalam bidang fashion ataupun seni tertentu.

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang (Halaman 25-31)

Dokumen terkait