Penelitian ini dilakukan di Perairan Sungai Pohara (segmen muara) Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Pengamatan dilakukan setiap bulan selama 12 bulan secara berkala (time series) dimulai dari bulan Maret 2011- Februari 2012. Pengambilan sampel populasi pokea dilakukan setiap bulan, sedangkan kualitas air dilakukan 2 bulan sekali. Sampel dianalisis di laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unhalu.
Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Stasiun penelitian ditetapkan secara segmentasi meliputi : bagian perairan atas muara (upward), tengah dan bawah yang dekat dengan muara (backward). Hal ini agar peluang pengambilan di setiap bagian perairan adalah sama. Penentuan stasiun berdasarkan segmentasi keberadaan pokea (awal, tengah dan akhir ditemukan pokea), dengan mempertimbangkan kondisi ekologis, daerah pengambilan pokea, dan daerah bekas penambangan pasir (pengkolonisasian kembali pokea).
Jumlah total stasiun penelitian ditetapkan sebanyak 6 stasiun. Setiap 2 stasiun mewakili segmen perairan yaitu : 2 stasiun awal ditemukan pokea, 2 stasiun pada bagian tengah dan 2 stasiun pada bagian akhir ditemukan pokea. Pengambilan sampel pokea dalam setiap stasiun sebanyak 10 kali tarikan alat tangge. Adapun penempatan stasiun sebagai berikut :
stasiun 1 : tempat pengambilan pokea pada posisi 03o58’551’’ LS dan 122o23’
stasiun 2
556’’ BT, berjarak 2 km dari aktivitas penambangan pasir sedang berlangsung yang dilakukan secara manual ke arah hulu (upward) (Gambar 2).
: daerah bekas penambangan pasir dengan jarak 0-400 m dari penambangan pasir yang telah ditinggalkan (mesin pompa penghisap pasir) dengan posisi 03o57’364’’ LS dan 122o25’078‘’ BT (upward) yang berada sekitar 3 km dari stasiun 1.
stasiun 3 : tempat pengambilan pokea (tengah perairan) yang terletak pada posisi 03o55’471” LS dan 122o
stasiun 4
26’208” BT, tempat pengambilan pokea yang berada sekitar 2 km dari stasiun 2 ke arah hilir sungai.
: tempat pengambilan pokea (tengah perairan) terletak pada posisi 03o 55’371’’ LS dan 1220 27’
stasiun 5
173’’ BT yang berada ± 3 km dari stasiun 3 ke arah hilir sungai.
: tempat pengambilan pokea dan akhir ditemukannya Nypa sp, terletak pada posisi 03o54’088’’ LS dan 122o 27’
stasiun 6
459’’ BT (backward) sekitar 2 km dari stasiun 4 ke arah hilir sungai.
: daerah tanpa kegiatan penambangan pasir maupun pengambilan pokea, banyak ditemukan nipah (Nypa sp) yang terletak pada posisi 03o52’497’’ LS dan 122o28’196 BT (backward), akhir pokea ini ditemukan yang berjarak 4 km dari stasiun 5 ke arah hilir sungai.
Variabel Pengukuran
Parameter lingkungan yang diukur : a. Suhu (o b. Kedalaman (m) C) c. Kecepatan arus (m/dtk) d. TSS (mg/L) e. Kecerahan perairan (%) f. Oksigen terlarut (mg/L)
g. Bahan organik/TOM di perairan (mg/L) h. Tekstur sedimen (g)
i. Bahan organik/FPOM di sedimen (mg/L) Parameter bioekologi yang diukur : a. Kepadatan pokea (ind/m2
b. Makanan pokea
) c. Jenis kelamin pokea
d. Tingkat Kematangan Gonad (TKG) e. Lebar cangkang (cm)
f. Bobot tubuh (g) g. Bobot gonad (g) h. Fekunditas (butir)
i. Distribusi dan struktur TKG
Parameter dinamika stok dan tingkat eksploitasi yang diukur : a. Frekuensi lebar setiap bulan
b. Jumlah nelayan
c. Lama pengambilan pokea oleh nelayan d. Biomassa hasil tangkapan pada tiap minggu
Bahan dan Metode Pengukuran
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : sampel air, pokea hasil tangkapan, dan bahan pengawet (formalin, alkohol, lugol, danlarutan bouin).
Metode Pengukuran
Parameter Lingkungan
a. Pengambilan dan PengukuranKualitas Air
Pengambilan dan pengukuran kualitas air dan sedimen dilakukan sebanyak 6 kali dengan interval sekali dalam 2 bulan. Pengambilan tersebut dilakukan untuk melihat keterwakilan baik berdasarkan stasiun maupun periode pengamatan. Sampel air diambil pada kolom air secara horizontal sekitar 50 cm di bawah permukaan air pada pukul 09-12.00 sebelum pengambilan sampel pokea. Sampel air diambil dengan menggunakan botol sampel sebanyak 1 liter. Semua sampel yang telah diambil, diberi label dan dimasukan kedalam kotak gabus (styrofoam) yang telah diberi es (±4o
Tabel 1 Parameter lingkungan yang diukur dalam penelitian
C) untuk menjaga kestabilan kualitas air yang diamati. Pengukuran kualitas air secara eksitu dilakukan di laboratorium Perikanan Unhalu dengan menggunakan metode yang telah baku (APHA, 2005) dan beberapa pengukuran secara insitu menggunakan water quality checker (WOC) (Tabel 1). Pengambilan sampel kualitas perairan dilakukan bersamaan dengan pengumpulan sampel pokea dan sedimen perairan.
No. Parameter Satuan Alat/Metode Pengukuran Keterangan 1. Parameter fisika Suhu Kedalaman Kecepatan arus TSS Kecerahan o m C m/dtk mg/L % termometer tongkat berskala current meter gravimetrik secchi disc langsung langsung langsung laboratorium langsung 2. Parameter kimia Oksigen terlarut Alkalinitas Bahan organik/FPOM mg/L mg/L CaCO mg/L 3 DO meter titrimetrik titrimetrik langsung laboratorium laboratorium 4. Karakteristik substrat Tekstur sedimen Bahan organik sedimen
% mg/L sieve set titrimetrik laboratorium laboratorium
b. Pengambilan Sampel Sedimen
Sedimen diambil dengan menggunakan sekop kecil dengan posisi kemiringan 45o yang menembus substrat sedalam ± 10 cm di setiap stasiun
penelitian. Substrat yang terambil sebanyak ± 1 kg dan disimpan dalam kantong plastik di dalam air. Sampel substrat yang terambil diberi label dan dibawa ke laboratorium.
Sampel sedimen dikeringkan dengan menggunakan oven, selanjutnya diambil 500 g (berat awalnya) dan disaring menggunakan saringan bertingkat untuk memisahkan tekstur substrat. Tekstur substrat dibagi dalam tujuh bagian yaitu pasir sangat kasar (PSK), pasir kasar (PK), pasir sedang (PS), pasir halus (PH), pasir sangat halus (PSH), lumpur (Lu) dan liat (Li) (Sousa et al., 2008b
Parameter Biologi
).
a. Pengambilan Sampel Pokea
Pengambilan sampel pokea mengunakan metode luas sapuan (swept area method). Sampel pokea diambil dengan menggunakan alat tangkap yang digunakan oleh nelayan berupa keranjang besi (tangge). Alat ini distandarisasi terlebih dahulu sebelum dioperasikan sehingga didapatkan gambaran penarikan yang sesungguhnya oleh nelayan setempat. Alat ini dioperasikan oleh 2 orang nelayan di atas sebuah perahu. Tangge merupakan alat yang terdiri atas keranjang besi, bambu panjang dan tali. Keranjang tersebut terbuat dari kawat baja dengan panjang 25 cm dan bukaan mulut 20 cm dengan ukuran mata keranjang lebih kurang 1x1 cm. Pada bagian mulut keranjang dikelilingi dengan besi baja tipis sehingga memudahkan alat ini untuk menembus substrat sedangkan keranjang dihubungkan dengan tali untuk memudahkan penarikan alat tersebut ke permukaan dengan posisi keranjang ditempatkan pada bagian ujung bambu. Sungai yang dalam menyebabkan alat ini menggunakan bantuan bambu dengan panjang lebih kurang 10 meter (Gambar 3).
Alat tangkap ini diturunkan dengan kemiringan mulut keranjang 45o sehingga dapat menembus ke dalam substrat. Kedalaman alat menembus substrat lebih kurang 10 cm dengan posisi mulut tangge diarahkan searah dengan arus. Alat ditarik dengan bantuan tali yang telah diikatkan pada bagian keranjang sambil alat tersebut diangkat ke permukaan. Panjang tarikan alat lebih kurang 40 cm. Pokea yang tertangkap kemudian dipisahkan dari sedimen dasar dan
menghitung jumlah individu pokea yang diperoleh dari setiap tarikan alat di setiap stasiunnya.
Gambar 3 Alat tangkap pokea (tangge) yang digunakan masyarakat. Keterangan : (A = besi pelingkar, B = bambu, C = tali dan D = mata tangge) dalam berbagai ukuran.
Penarikan sampel pokea dilakukan sebanyak 10 kali ulangan dalam setiap substasiun/penampang sungai setiap periode pengamatan dengan selang waktu pengamatan yaitu sekali sebulan selama 12 bulan. Jumlah sampel yang diambil untuk data reproduksi dan kebiasaan makan masing-masing sebanyak 20 ekor/stasiun, sedangkan data dinamika populasi sebanyak jumlah pokea yang ditemukan di setiap bulannya.
b. Pengukuran Panjang Cangkang
Panjang cangkang dapat didefinisikan sebagai jarak dari anterior sampai posterior. Namun ukuran panjang dalam studi dinamika populasi tidak mutlak mengikuti definisi yang sesungguhnya atau ukuran panjang sesungguhnya tidaklah penting sepanjang terdapat teori yang melatar belakangi model pertumbuhan. Berdasarkan hal tersebut, maka panjang cangkang yang digunakan dalam pendugaan parameter populasi adalah lebar cangkang yang diukur dari ujung tepi kanan ke ujung tepi kiri cangkang merujuk pada Sparre dan Venema (1999) dan King (1997). Pengukuran panjang dan lebar cangkang dilakukan dengan memakai jangka sorong dengan ketelitian 0,01 mm (Gambar 4).
D A B C 20 cm A B D
Gambar 4 Dimensi cangkang pokea (A : lebar), (B : panjang), dan (C : tebal).
c. Penentuan Jenis Kelamin Pokea
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung di lapangan, perbedaan antara jantan dan betina secara morfologis (cangkang) belum diketahui secara pasti. Pokea contoh dapat diketahui dengan membedah sehingga tampak perbedaan warna tubuh dari jantan dan betina. Jantan mempunyai warna tubuh keputih-putihan sedangkan betina mempunyai warna tubuh kecoklat-coklatan. Selanjutnya melakukan pemisahan dan menghitung jantan dan betina untuk mengetahui perbandingan jumlahnya secara keseluruhan berdasarkan waktu pengambilan contoh (bulan).
d. Pengukuran Morfometrik/Biomassa Pokea
Morfometrik pokea diukur dengan mengikuti metode Bailey dan Green (1988) terhadap 8 karakter yaitu : panjang, lebar dan tebal cangkang. Biomassa pokea yang diukur adalah : berat basah, berat daging basah, berat daging kering, berat cangkang basah dan berat cangkang kering. Pengukuran berat dilakukan dengan cara menimbang berat total pokea dengan menggunakan timbangan o-haus dengan ketelitian 0,01 gram.
e. Pengamatan Kebiasaan Makanan
Untuk identifikasi jenis-jenis pakan alami, pokea yang telah terambil oleh alat tangge segera dimatikan dan dilakukan pembedahan cangkang. Selanjutnya, pokea tersebut disuntikan dengan formalin 4% sehingga enzim pencernaan tidak
A
B
aktif. Kemudian seluruh saluran pencernaannya dikeluarkan dan disimpan dalam botol sampel. Analisis lambung pokea dilakukan dengan cara mengencerkan seluruh isi lambung dengan aquades. Isi lambung masing-masing sampel diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali sebanyak tiga kali ulangan dengan menggunakan 4 lapang pandang. Sampel tersebut dipisahkan organisme makanannya berdasarkan jenisnya. Jenis makanan yang ditemukan dihitung satu persatu menurut jenisnya dan diidentifikasi dengan rujukan Mizuno (1970) dan Edmonson (1963).
Penghitungan Indeks Bagian Terbesar (IBT) dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis makanan yang dimakan oleh pokea contoh. Metode indeks bagian terbesar merupakan gabungan dari metode frekuensi kejadian dan volumetrik. Persentase frekuensi kejadian suatu jenis makanan dihitung berdasarkan frekuensi kejadian munculnya/ditemukannya suatu organisme makanan pada seluruh sampel lambung pokea yang diamati.
Penghitungan nilai persentase volume suatu makanan tersebut dilakukan dengan mengeluarkan seluruh makanan dalam lambung pokea, kemudian dipisah- pisahkan menurut jenis makanan. Masing-masing jenis makanan dihitung volumenya dengan teknik volumetrik. Volume total makanan dalam lambung pokea diperoleh dari hasil penjumlahan seluruh volume jenis makanan (Effendi, 1979).
f. Pengamatan Tingkat Kematangan Gonad Pokea
Pengamatantingkat kematangan gonad dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pengamatan kematangan gonad secara langsung yaitu mengamati ciri- ciri morfologi setiap tahapan kematangan dan mengamati sebagian kecil gonad pada mikroskop (perbesaran 100x). Pengamatan kematangan gonad secara tidak langsung yaitu dengan teknik histologi gonad pokea melalui teknik pewarnaan yang didasarkan pada gambaran anatomi dan morfologi (Jones et al., 1986) dan peta penutupan sel-sel gamet pada jaringan gonad (makroskopik) merujuk pada Bayne (1976) pada perkembangan gonad Mytilus sp yaitu :
I : rongga folikel masih kecil berisi sel-sel oogonium dan oosit atau spermatogonium dan spermatosit, tetapi belum terlihat adanya sel-sel gamet yang telah masak
II : sel-sel gamet yang telah masak mulai tampak besar, rongga folikel telah sampai sepertiga dari besar keseluruhannya.
III: besar rongga folikel separuh dari keseluruhannya dan terisi oleh sel-sel gamet baik yang telah masak (sel telur/spermatozoa) maupun sel-sel gamet yang belum masak dalam jumlah sama.
IV : besar rongga folikel telah mencapai dua pertiga dari besar seluruhnya. Pembentukan sel-sel gamet ini masih tetap berlangsung namun rongga tersebut sebagian besar terisi oleh sel-sel.
Gamet yang telah masak (sel telur/spermatozoa)
Stadium masak : seluruh rongga folikel terisi oleh sel telur yang polygonal bentuknya atau spermatozoa dengan ekornya.
Stadium memijah :
I : stadium yang sebagian kecil sel telur/spermatozoa telah dikeluarkan sehingga tampak rongga folikel mulai kosong.
II : separuh dari rongga folikel telah kosong
III : sebagian besar dari rongga folikel telah kosong. Jumlah telur/spermatozoa yang tinggal hanya sedikit.
IV : seluruh sel-sel gamet telah dikeluarkan. Rongga folikel hanya terisi oleh sisa-sisa sel telur/spermatozoa yang sedang mengalami sitolisis.
Stadium non aktif :
tidak ditemukan folikel beserta sel-sel gametnya, sehingga tidak dapat dibedakan sel gamet betina dan sel gamet jantan. Daerah gonad didominasi oleh sel-sel anyaman penyambung.
g. Penentuan Indeks Kematangan Gonad
Setelah melakukan pengamatan secara morfologi, gonad pokea ditimbang dengan menggunakan timbangan ohaus yang memiliki ketelitian 0,0001 gram. Indeks kematangan gonad ditentukan melalui pengukuran berat gonad dan berat tubuh pokea termasuk gonad.
h. Pengamatan Fekunditas
Fekunditas adalah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada waktu pokea memijah. Fekunditas dihitung pada pokea betina yang memiliki TKG IV. Dalam menganalisis fekunditas dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pertama adalah cara mendapatkan telur dan tahap kedua adalah cara menghitung telur. Cara mendapatkan telur yaitu mengambil telur dari pokea induk dengan memisahkan seluruh gonadnya dengan bagian lain pada tubuh pokea yang telah diawetkan, dengan perkiraan bahwa telur-telur itu telah masak.
Cara menghitung telur dengan menggunakan metode gravimetrik. Berat gonad ditimbang yang sebelumnya telah dikeringkan. Bagian sub gonad adalah bagian anterior, median dan posterior dari gonad yang kemudian diambil contoh telur sebanyak seperlima dari bagian tersebut. Melakukan penghitungan jumlah telur contoh diikuti dengan pengamatan diameter telur dengan menggunakan mikrometer di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 x.
i. Peluang 50% Matang Gonad Pokea
Peluang 50% matang gonad diketahui dengan mengukur lebar cangkang menggunakan jangka sorong. Sampel pokea yang diambil di setiap stasiun sebanyak 20 ekor dari pokea yang telah matang gonad pada berbagai ukuran di setiap bulannya.
Parameter Dinamika Stok dan Tingkat Eksploitasi
Model Analitik
Pendekatan analitik merupakan pendekatan yang berbasis pada ukuran morfometrik sebagai fungsi dari pertumbuhan dan umur populasi pokea. Pengukuran morfometrik dalam menduga parameter stok yang digunakan dalam penelitian ini seperti yang telah dijelaskan pada poin b parameter biologi.
Model Holistik
Pendekatan holistik menitikberatkan pada stok pokea merupakan biomassa yang homogen. Pengamatan CPUE pokea dilakukan pada daerah pendaratan pokea (Pasar Pohara). Hal ini dikarenakan bahwa nelayan mempunyai daerah
penangkapan (fishing ground) di seluruh daerah penelitian yang dilakukan berpindah-pindah daerah dalam setiap trip penangkapan. Beberapa data yang diperlukan dalam analisis meliputi :
a. Jumlah nelayan pengambil pokea
b. Jumlah biomassa pokea dari tangkapan nelayan.
Analisis Data
Bioekologi Pokea
a. Kepadatan Pokea
Kepadatan pokea di setiap stasiun menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Soegianto (1994)
A n
D=
Keterangan :
D = kepadatan pokea (ind/m2 n = jumlah individu pokea (ekor)
)
A = luas daerah pengamatan (0.08 m2
Pengelompokkan stasiun berdasarkan kepadatan pokea di analisis secara non parametrik Mann-Whitney U-Test dengan menggunakan perangkat lunak Minitab (Steel dan Torie, 1981).
)
b. Hubungan Parameter Lingkungan Terhadap Kepadatan Pokea
Hubungan kepadatan pokea dengan parameter kualitas perairan (fisik, kimia air dan sedimen) di setiap kelompok stasiun menggunakan analisis komponen utama (PCA) pada paket program MVSP (Multivariate Statistical Package).
c. Kebiasaan Makanan (Indeks Bagian Terbesar)
Indeks ini merupakan gabungan dari metode frekuensi kejadian dan metode volumetrik (Effendi, 1979) sebagai berikut :
∑
= = n i 1 ViOi ViOi IPiKeterangan :
IP = indeks bagian terbesar (index of preponderance) Vi
O
= persentase volume satu macam makanan
i ∑ V
= persentase frekuensi kejadian satu macam makanan
iOi
d. Karakter Morfometrik Pokea
= jumlah Vi x Oi dari semua macam makanan
Pada penelitian ini, untuk membedakan populasi pokea antar stasiun penelitian dilakukan analisis pengelompokan (percent similarity) menggunakan perangkat lunak MVSP.
e. Nisbah Kelamin
Penentuan jenis kelamin dilakukan berdasarkan pengamatan morfologi gonad (ukuran dan warna). Nisbah kelamin adalah perbandingan jumlah pokea jantan dan betina yaitu :
F M X= Keterangan :
X = nisbah kelamin M = jumlah pokea jantan F = jumlah pokea betina
Pada penelitian ini, untuk membandingkan pokea jantan dan betina seimbang dalam jumlah, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan uji Chi- square (X2 Oi ei) - (Oi X 1 2 2
∑
= = n i) sebagai berikut (Effendi, 1979) :
Keterangan :
Oi = jumlah frekuensi pokea jantan dan betina yang teramati
ei = jumlah frekuensi pokea jantan dan betina harapan pada sel ke-i
f. Tingkat Kematangan Gonad (TKG)
Tingkat kematangan gonad menurut stasiun dan waktu dianalisis secara deskriptif dalam bentuk gambar.
g. Indeks Kematangan Gonad (IKG)
Nilai Indeks Kematangan Gonad menggunakan rumus yang diuraikan oleh Sastry (1979) % 100 x Bt Bg IKG = Keterangan :
IKG = indeks kematangan gonad Bg = berat gonad (gram)
Bt = berat tubuh termasuk gonad (gram)
Nilai IKG pokea antar waktu pengamatan dianalisis secara non parametrik Mann-Whitney U-Test menggunakan perangkat lunak Minitab (Steel and Torie, 1981).
h. Fekunditas
Fekunditas dihitung berdasarkan metode gravimetrik. Telur diambil sebagian (5-10%) dari bobot gonad kemudian dihitung berdasarkan persamaan Effendie (1979) yaitu : g G nx N = Keterangan :
N = jumlah fekunditas (butir)
n = jumlah telur dari sebagian gonad yang diambil contoh (g)
G = bobot Gonad
g = bobot gonad yang diambil contoh
Hubungan fekunditas pokea dengan lebar dan berat cangkang pokea menggunakan analisis regresi (Steel and Torie, 1981).
i. Peluang 50% Matang Gonad Pokea
Peluang 50% matang gonad ditentukan dengan menggunakan fungsi regresi non linear pada kurva logistik ( Arocha dan Barios, 2009) dengan bantuan software Sigma plot 6.0. Persamaan yang digunakan untuk menghitung peluang 50% matang gonad adalah :
b xo x e a Y + − + = 1 Keterangan :
Y = peluang pokea matang gonad (%) e = eksponensial bilangan natural a = perpotongan garis (intersept) b = kemiringan (slope)
x,xo = ukuran lebar ke-i (cm)
Dinamika Populasi Pokea
a. Hubungan Lebar Cangkang-Berat
Pada penelitian ini, untuk menentukan hubungan lebar cangkang-berat pokea mengacu pada persamaan parabolis yang dikemukan Pauly (1983) sebagai berikut :
W = aL b
Keterangan :
W = berat pokea dalam gram
L = lebar cangkang pokea dalam cm
a dan b konstanta
b. Sebaran Frekuensi Lebar Cangkang
Analisis data ukuran lebar cangkang pokea adalah sebagai berikut : Data ukuran lebar cangkang dikelompokkan ke dalam kelas-kelas lebar. Pengelompokkan pokea ke dalam kelas-kelas lebar dilakukan dengan menetapkan terlebih dahulu “range” atau wilayah kelas, selang kelas dan batas-batas kelas lebar berdasarkan jumlah yang ada. Penentuan selang kelas ukuran lebar cangkang adalah 1+3.3 log N sedangkan lebar selang kelas (Pmaksimun-Pminimun
c. Pemisahan Kelompok Umur Berdasarkan Kelompok Lebar Cangkang
) dibagi dengan jumlah selang kelas yang sudah diperoleh sebelumnya (Walpole, 1995).
Analisis pemisahan kelompok-kelompok umur pokea berdasarkan ukuran lebar cangkang yang dipilih dalam penelitian ini menggunakan metode
Bhattacharya. Metode Bhattacharya merupakan salah satu grafis untuk memisahkan data sebaran frekuensi lebar cangkang ke dalam beberapa distribusi normal. Pemisahan distribusi normal dengan metode Bhattacharya ini dilakukan dengan bantuan paket program FiSAT (Gayanilo dan Pauly, 2002).
d. Penentuan Parameter Pertumbuhan
Pendugaan koefisien pertumbuhan (K) dan panjang infiniti (L∞) dilakukan dengan menggunakan ELEFAN pada paket program FiSAT II (Gayanilo dan Pauly, 2002).
e. Mortalitas
Pendugaan terhadap koefisien kematian alami (M) digunakan persamaan empiris (Pauly, 1980 dalam Sparre dan Venema, 1999) yaitu hubungan antara kematian alami (M) dengan parameter pertumbuhan von Bertalanffy (K, L∞) dan suhu rerata lingkungan perairan (T) pokea, yang disajikan sebagai berikut :
Log (M) = -0,0066 – 0,279 Log L∞
Nilai Z dihitung dengan menggunakan kurva hasil tangkapan yang dikonversikan ke lebar cangkang (width-converted catch curve) yang terakomodasi pada paket program FiSAT II. Pendugaan laju mortalitas total (Z) dihitung dengan menggunakan metode kurva hasil tangkapan yang dikonversi ke lebar (Spare and Venema, 1998) dan menggunakan rumus Van Sickle (1977) yang kemudian dikembangkan oleh Pauly (1983) yaitu :
+ 0,6543 Log K + 0,463 Log T 2 ) 2 1 ( * ) 2 , 1 ( ) 2 , 1 ( L L t Z C L L t L L C Ln = − + ∆
Persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi : ln(Ni/∆ti) = a + b · t
Keterangan : N
i
i
∆t
= Jumlah pokea pada kelas lebar ke-i
i
Z = kematian total pokea
= waktu yang dibutuhkan pokea selama kelas lebar ke-i a dan b = koefisien regresi (b = -Z)
Dengan mengetahui nilai dugaan Z dan M, maka koefisien kematian penangkapan (F) dapat diduga dengan mengurangkan nilai Z terhadap nilai M.
F = Z – M
Keterangan : F = koefisien kematian penangkapan Z = koefisien kematian total
M = koefisien kematian alami
f. Pendugaan Status Eksploitasi (E)
Status eksploitasi (tingkat pemanfaatan) stok dapat diduga dengan rumus (Sparre dan Venema, 1999):
E = F/(F + M) Keterangan : E = status eksploitasi
F = koefisien kematian penangkapan M = koefisien kematian alami
Jika E > 0,5 menunjukkan tingkat eksploitasi tinggi (over fishing), E = 0,5 menunjukkan pemanfaatan optimal (E opt
g. Hasil Tangkapan Per Satuan Upaya (CPUE)
), dan E < 0,5 menunjukkan tingkat eksploitasi rendah (under fishing) (Gulland, 1977).
Hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE) dikaji berdasarkan hasil tangkapan satuan tangge dengan rumus (Sparre dan Venema, 1999):
Fi Ci
CPUEi =
Keterangan :
CPUE = Hasil tangkapan per satuan upaya (unit) alat tangkap ke-i Ci = volume tangkapan alat tangkap ke-i
Fi = Jumlah unit alat tangkap ke-i
CPUE total dihitung melalui standarisasi menggunakan frekuensi pengukuran (penimbangan) hasil tangkapan pokea yang didaratkan di Pasar Pohara sebanyak 4 kali dalam sebulan. Analisis pola rekrutmen/R (penambahan baru) dianalisis melalui pola pergerakan nilai VBGF di setiap bulannya dengan menggunakan perangkat lunak FiSAT II. Pemantauan kelimpahan stok pokea
dianalisis melalui hubungan hasil tangkapan (yield/Y) dengan upaya penangkapan (effort/f) dengan menggunakan grafik yang diplotkan pada saat penangkapan maksimun terhadap penangkapan minimun.
Analisis stok berdasarkan hasil per penambahan baru relatif (Y/R) menggunakan rumus Beverton dan Holt (1957) yang terakomodasi pada program FiSAT II (Sparre dan Venema, 1999):
+ − + + + − = − m U m U m U EU R Y M K 3 1 2 1 3 1 3 1 3 2 Z K MK Z m=1− = ∞ − = L Lc U 1 Z F E= Keterangan :
U = bagian dari pertumbuhan yang harus dicapai setelah masuk ke dalam fase eksploitasi
E = laju eksploitasi
K = koefisien pertumbuhan von Bertalanffy
m = koefisien pertumbuhan terhadap kematian total L ∞ = lebar infiniti (mm)
Lc = lebar cangkang pokea pertama tertangkap alat F = laju mortalitas penangkapan
M = laju mortalitas alami Z = laju mortalitas total = F+M
h. Kemampuan Pulih Pokea
Kemampuan pulih pokea di Sungai Pohara dianalisis menggunakan konsep produksi/biomassa (P/B) dari metode frekuensi ukuran (size-frequency method) yang dikemukakan oleh Hynes dan Coleman (1968) dan Hamilton (1969) yaitu :
∑
∑
∆ = W N N W . 135 / 365 . . P/BKeterangan :
P/B = produksi/biomassa W = rerata biomassa
N
∆ = jumlah kepadatan pada selang kelas tertentu
Hasil kajian-kajian tersebut di atas menjadikan dasar dalam penyusunan konsep pengelolaan pokea berdasarkan potensi pembentukan biomassa (recrut), sehingga kelestarian sumberdaya pokea dapat terjaga, penangkapan dapat terkendali serta daya pulih sumber daya pokea dapat berkelanjutan (sustainable). Diagram alir kerangka penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Alur pikir pengelolaan pokea di Sungai Pohara. Biologi pokea : 1. jenis kelamin 2. lebar tubuh 3. bobot tubuh 4. bobot gonad 5. TKG
6. fekunditas & diameter telur 7. ukuran pertama matang gonad
Kualitas air sungai 1. suhu 2. DO 3. FPOM 4. alkalinitas 5. seston 6. plankton 7. substrat Kegiatan penangkapan 1. Σ alat tangkap 2. Σ nelayan
3. ukuran mata jaring 4. Σ hasil tangkapan 5. Σ hari operasi/minggu
1. struktur ukuran frekuensi lebar
2. parameter pertumbuhan 3. parameter reproduksi
Ekologi pokea
1. kepadatan pokea
2. distribusi ukuran Karakteristik habitat 1.2. Tingkat eksploitasi Hasil tangkapan per unit upaya Dinamika populasi 1. umur 2. mortalitas 3. rekrutmen 4. analisis stok
Daerah dan tempat rekrutmen
Konsep Pengelolaan Sumberdaya Populasi Pokea
1. ukuran pokea boleh ditangkap 2. ukuran mata jaring yang boleh
digunakan
3. pengaturan daerah dan musim