DAFTAR LAMPIRAN
3 METODE PENELITIAN Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Gambar 2).
Gambar 2 1) Peta Pulau Kalimantan (sumber : http://mapsof.net/uploads/static-maps/kalimantan.png); 2) Peta Kabupaten Kapuas; (sumber : http://shindoka.org/Peta+Kab+Kapuas.JPEG)
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan September – Desember 2015 di Desa Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah
1
9
Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Kegiatan yang dilakukan adalah 1). Penangkapan Nyamuk, 2) Identifikasi Nyamuk, 3) Pembedahan Nyamuk untuk Identifikasi vektor, 4) Pengamatan kepadatan Nyamuk, 5) Pengambilan sediaan darah jari pada penduduk, 6) Pengamatan Periodisitas dan, 7) Survei Karakteristik habitat 8) Pengambilan titik koordinat dengan GPS.
Cara Kerja
Penangkapan nyamuk dengan human landing collection (HLC) dan resting
Koleksi nyamuk menggunakan umpan orang atau human landing collection (HLC) untuk mengetahui kepadatan (densitas) nyamuk yang kontak dengan manusia dan resting untuk mengetahui perilaku nyamuk istirahat (Gambar 3) (WHO 2015). Penangkapan nyamuk dilakukan pada 3 rumah dengan jumlah kolektor masing-masing rumah berjumlah 2 orang yaitu 1 orang di dalam dan 1 orang di luar rumah. Penangkapan nyamuk dilakukan selama semalam dimulai pukul 18.00 - 06.00. Setiap jam terdiri atas 45 menit penangkapan dengan umpan orang dan 10 menit dilakukan dengan penangkapan resting dengan menggunakan aspirator. Penangkapan dengan penangkapan HLC dan resting dilakukan di dalam rumah (umpan orang dalam / UOD) (dinding dalam / DD) dan di luar rumah (umpan orang luar / UOL) (dnding luar / DL). Nyamuk yang tertangkap melalui HLC dan resting di identifikasi di bawah mikroskop stereo menggunakan kunci identifikasi morfologi bergambar nyamuk Anopheles (O’Connor dan Soepanto 2013a), nyamuk Aedes (O’Connor dan Soepanto 2013b), nyamuk Culex (O’Connor dan Soepanto 2000a) dan nyamuk Mansonia (O’Connor dan Soepanto 2000b).
Gambar 3 Penangkapan nyamuk dengan penangkapan human landing collection (HLC)/bare leg collection (BLC). A. Kader Penangkap nyamuk; B. Bagian kaki yang digunakan sebagai umpan
A
10
Penangkapan Nyamuk Menggunakan Light Trap.
Penangkapan dilakukan dengan menggunakan “light trap” model CDC pada kandang hewan. light trap diletakkan sebanyak 1 buah di kandang sapi dengan ketinggian 1½ m dari permukaan tanah dan diletakkan pada tempat gelap (jauh dari sumber cahaya lainnya). Pemasangan light trap dilakukan pada pukul 18.00 – 06.00. Setelah light trap dipadamkan pada pagi hari, nyamuk yang terperangkap diambil dengan sebuah alat penghisap (aspirator) dan dipindahkan ke paper cup. Nyamuk yang masih hidup dibius/dibunuh dengan menggunakan kloroform selanjutnya di identifikasi hingga tingkat spesies dengan menggunakan kunci identifikasi bergambar nyamuk Anopheles (O’Connor dan Soepanto 2013a), nyamuk Aedes (O’Connor dan Soepanto 2013b), nyamuk Culex (O’Connor dan Soepanto 2000a) dan nyamuk Mansonia (O’Connor dan Soepanto 2000b)..
Pembedahan Nyamuk
Pembedahan nyamuk dilakukan dengan menggunakan jarum seksi di bawah mikroskop. Sebelumnya kaki dan sayapnya dilepaskan terlebih dahulu agar tidak mengganggu saat pembedahan, kemudian ditambahkan larutan garam fisiologis (GF) dan diteteskan di atas kaca objek/slide. Setelah itu, nyamuk diletakkan di atas kaca objek yang telah diteteskan larutan GF. Abdomen segmen ketujuh ditarik dengan jarum seksi sampai ovariumnya kelihatan dan terendam larutan GF. Setelah itu, ovarium dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 x. Nyamuk parus (pernah bertelur) diteruskan dengan pembedahan seluruh bagian tubuh, sedangkan jika nulliparus (tidak pernah bertelur) tidak diteruskan. Nyamuk parus kemudian dihancurkan dengan jarum bedah, sehingga bagian tubuhnya terpisah menjadi kecil-kecil dan semua bagian tubuh tersebut terendam larutan GF. Nyamuk diamati dengan menggunakan mikroskop, apabila ditemukan cacing maka akan tampak bergerak. Pergerakan cacing tergantung stadiumnya, instar larva 1 - 2 pendek, gemuk, gerakannya lambat. Larva 3 (infektif), panjang dan gerakannya cepat. Apabila terdapat mikrofiaria diambil dengan menggunakan jarum bedah di bawah mikroskop. Hasil identifikasi dicatat berapa mikrofilaria yang ditemukan per individu nyamuk untuk menghitung infection rate dan infective rate (WHO 2011).
Pemeriksaan Mikrofilarimia dengan Survei Darah Jari.
Pengambilan survei darah jari (SDJ) dilakukan pada penduduk yang berada disekitar penderita (hasil pemeriksaan transmission assesment survei/TAS) secara sukarela. SDJ dilakukan pada bulan Desember 2015. Pengambilan SDJ pada penduduk dilakukan pada malam hari mulai pada pukul 20.00. Pemeriksaan darah dilakukan dengan cara tusuk jari. Pelaksanaan survei darah jari dilaksanakan dengan menusuk ujung jari kedua, ketiga atau keempat yang sebelumnya dibersihkan dengan kapas alkohol 70 % hingga kering. Jari yang telah diberikan alcohol kemudian ditusuk dengan lancet sampai darah menetes keluar, pada tetesan darah pertama yang keluar dihapus dengan kapas kering, kemudian darah berikutnya dihisap dengan tabung kapiler tanpa heparin sebanyak 60 µl. Darah kemudian diteteskan ke atas kaca benda, dilebarkan sehingga membentuk sediaan darah tebal dan berbentuk oval dengan diameter 2 cm, setelah dikeringkan selama 1 malam dengan cara penyimpanan yang aman dari serangga, keesokan harinya
di-11
hemolisis dengan air selama beberapa menit sampai warna merah hilang, kemudian dibilas dengan air dan dikeringkan. Sediaan darah kemudian difiksasi dengan methanol selama 1-2 menit dan dikeringkan, kemudian diwarnai dengan giemsa yang telah dilarutkan di dalam cairan buffer pH 7.2 (1 tablet buffer dilarutkan dalam 100 cc aquadest) dengan perbandingan 1 : 14 selama 15 menit. Sedian sarah kemudian dibilas dengan air bersih dan dikeringkan. Sediaan darah diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran rendah (10 x 10) untuk menentukan jumlah mikrofilaria. Pembesaran tinggi (10 x 40) untuk menentukan jenis/spesiesnya (WHO 2013).
Survei Periodisitas Mikrofilaremia
Kasus mikrofilaremia yang diperiksa ulang periodisitas mikrofilarianya dipilih berdasarkan kesukarelaan. Penderita yang bersedia melakukan suvei periodisitas yaitu 1 orang dari 2 penderita. Pemeriksaan dilakukan sebanyak 12 kali yaitu pukul 08.00, 10.00, 12.00, 14.00, 16.00, 18.00, 20.00, 22.00, 24.00, 02.00, 04.00 dan 06.00. Pada tiap pemeriksaan periodisitas, diambil darah dari ujung jari sebanyak 20 µl menggunakan lancet dan mikropipet. Pewarnaan sediaan darah sama seperti prosedur pada survei darah jari. Hasil pewrnaan kemudian periksa dan dihitung jumlah mikrofilaria dari setiap jam pemeriksaan.
Pengamatan Karakteristik Habitat Larva
Pengamatan karakteristik habitat dilakukan pada bulan berupa: tumbuhan air, predator alami, jentik yang ditemukan, serangga lain, jarak terhadap permukiman, ekosistem sekitar, kondisi air, dasar perairan, kedalaman, pH, salinitas dan suhu. Pengamatan habitat jentik dilakukan di semua jenis perairan baik alamiah maupun buatan yang diduga sebagai tempat perkembangbiakan. Pencidukan dilakukan merata mewakili luas perairan. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan cidukan atau pipet. Jentik yang didapat dari setiap jenis perairan di masukkan kedalam gelas plastik dan diberi label berdasarkan tanggal penelitian. Jentik yang ditemukan kemudian diidentifikasi dengan melihat ciri morfologi jentik sampai pada tahap genus.
Pemetaan dengan Software Arc GIS
Pemetaan dilakukan pada tempat yang di identifikasi terdapat jentik. Pemetaan ini dilakukan dengan cara merekam koordinat lokasi sampel yang disimpan dalam bentuk WPT (waypoint) dengan GPS Garmin, kemudian melakukan database management system antara data keruangan dengan data atribut menggunakan software MS Excell dan disimpan dalam format yang sama dengan format software GIS, kemudian dibuat peta tematik dalam bentuk distribusi dengan Arc GIS 10.1. Hasil pengolahan dalam bentuk peta distribusi tempat perindukan.
Analisis Data
Data hasil penelitian yang didapatkan akan dilakukan pengolahan dan tabulasi dalam bentuk grafik dan tabel, kemudian akan dilakukan analisis secara analitik dan diskriptif. Pengaruh indeks curah hujan (ICH), suhu dan kelembaban
12
dengan kepadatan nyamuk dianalisis secara statistik menggunakan uji korelasi pearson dengan tingkat keprcayaan 95 % (
α
= 5 %) menggunakan SPSS 16.00.Indeks Curah Hujan (ICH)
Indeks curah hujan :
Jumlah curah hujan x hari hujan
jumlah hari pada bulan yang bersangkutan 𝑥 100 %
Kelimpahan Nisbi, Frekuensi Spesies dan Dominansi Spesies
Kepadatan nyamuk spesies tertentu dengan beberapa penangkapan penangkapan yang dinyatakan dalam kelimpahan nisbi, frekuensi tertangkap dan angka dominansi nyamuk (Sigit 1968).
Kelimpahan nisbi :
Jumlah individu spesies tertentu yang ditangkap
Jumlah total individu nyamuk yang tertangkap x 100% Frek. Spesies :
Jumlah bulan tertangkapnya nyamuk spesies tertentu Jumlah bulan penangkapan
Dominansi spesies : Kelimpahan nisbi x Frekuensi spesies.
Kepadatan Nyamuk Pada Orang
Kepadatan populasi nyamuk dapat diketahui dari hasil penangkapan di daerah penelitian, maka data yang diperoleh dihitung menurut rumus yaitu (WHO 2013): Man hour density (MHD) :
Jumlah nyamuk yang ditangkap dengan umpan orang Lama penangkapan/ jam x Jlh penangkap xJlh wkt penangkapan
Man bitting rate (MBR) :
Jumlah nyamuk yang ditangkap dengan umpan orang Lama penangkapan/ jam x Jumlah malam x Jumlah umpan orang
13
Proporsi parus (parity rate), peluang hidup dan umur relatif
Proporsi parus adalah persentase nyamuk yang pernah bertelur berdasarkan hasil pembedahan kelenjar ovari dalam suatu periode penangkapan.
Parity rate :
Jumlah nyamuk pernah bertelur (parus) Jumlah nyamuk yang diperiksa ovariumnya
Peluang hidup nyamuk setiap hari yang dinyatakan dalam % yang diperoleh dari suatu perhitungan matematis dengan mengetahui proporsi parus dan siklus gonotropik (Davidson 1954).
Rumus Peluang hidup (P) = b d P : peluang hidup nyamuk setiap hari
b : siklus gonotropik (hari)
d : Parus rate (porporsi nyamuk parus = %)
Hasil pengukuran : Peluang hidup nyamuk setiap hari ( % )
Umur relatif nyamuk di populasi adalah perkiraan umur nyamuk di populasi yang dinyatakan dalam hari, yang diperoleh melalui suatu perhitungan matematis dengan melakukan perhitungan setelah diketahuinya peluang hidup nyamuk setiap hari (Davidson 1954; Drapper and Davidon 1952).
Keterangan : 1
Umur relatif di populasi : log e : bilangan matematis tertentu - log e p p : Peluang hidup nyamuk
Periodisitas Mikrofilaremia
Hasil pemeriksaan periodisitas mikrofilaria pada penderita dianalisis dengan formula Aikat dan Das (1976) dalam Fontes et al. (2000).
14