BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
Metode (Inggris: method, Latin: methodus, Yunani: methodos-meta berarti sesudah, diatas, sedangkan hodos, berarti suatu jalan, suatu cara). Mula-mula metode diartikan secara harfiah sebagai suatu jalan yang harus ditempuh, menjadi penyelidikan atau penelitian berlangsung menurut suatu rencana tertentu.179
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya, disamping
177Urip Santoso (II), Op.Cit, hal. 2
178 A.P.Parlindungan, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria, (Bandung:
Mandar Maju, 2008), hal. 130.
179Tampil Anshari Siregar, Metodologi Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, (Medan:
Pustaka Bangsa Press, 2005), hal.15.
itu juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahannya yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.180
1. Jenis Penelitian dan Metode Pendekatan
Jenis penelitian yang digunakan dalam adalah tesis ini adalah penelitian yurisdis normatif atau penelitian hukum doktrinal yaitu penelitian hukum yang menggunakan sumber data sekunder atau data yang diperoleh melalui bahan-bahan pustaka dengan meneliti sumber-sumber bacaan yang relevan dengan tema penelitian, meliputi penelitian terhadap asas-asas hukum, sumber-sumber hukum, teori hukum, buku-buku, peraturan Perundang-undangan yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat menganalisa permasalahan yang dibahas.181
Penelitian hukum normatif atau penelitian doktrinal dikonsepkan sebagai apa yang tertulis didalam peraturan Perundang-undangan (law in the books) atau hukum yang dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas.182
Penelitian hukum doktrinal dilakukan dengan cara melakukan pengumpulan peraturan perundang-undangan. Peraturan tersebut dikumpulkan dengan cara mengkoleksi publikasi-publikasi dan dokumen-dokumen yang mengandung peraturan-peraturan hukum positif. Setelah bahan-bahan tersebut terkumpul, kemudian diklarifikasi secara sistematis untuk melakukan inventarisasi data sebagai bahan perpustakaan saat melakukan penelitian serta mengacu pada
180Suratman dan Philips Dillah, Metode Penelitian Hukum,(Bandung: Alfabeta, 2013), hal.31.
181Johny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayu MediaPublishing, 2008), hal 25-26.
182Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Pers, 2007), hal. 43.
norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan Perundang-undangan di Indonesia.183
Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitis, yaitu metode yang bertujuan mendeskripsikan atau memberikan gambaran terhadap suatun objek penelitian yang diteliti melalui sampel atau data yang telah terkumpul dan membuat kesimpulan yang berlaku umum.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Perundang-undangan (statute aprroach) yang dilakukan dengan mencari dan menelaah semua peraturan Perundang-undangan dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. Oleh karena itu untuk memecahkan suatu isu hukum harus menelusuri berbagai produk Perundang-undangan. Dalam hal ini dilakukan studi pustaka yang segala sesuatunya berkaitan dengan pengaturan hukum mengenai Pelaksanaan Program PRONA sebagai Upaya Pemerintah Terhadap Percepatan Pendaftaran Tanah di Daerah sesuai dengan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5 tahun 1960 dan peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 tahun 1997.
2. Sumber Data Penelitian
Berhubung karena metode penelitian adalah penelitian hukum normatif maka sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari bahan penelitian yang berupa bahan-bahan hukum, yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier, seperti:184
a. Bahan Hukum Primer yaitu bahan-bahan hukum atau dokumen peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang berupa bahan
183Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), hal. 81-82.
184Ibid., hal. 23-24
pustaka yang berisikan peraturan Perundang-undangan, yang antara lain terdiri dari:
1. Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 ; 2. Peraturan pemerintah Nomor 24 tahun 1997.
b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang erat kaitannya dengan bahan hukum primer berupa buku-buku yang berhubungan dengan objek yang diteliti.
c. Bahan hukum tersier, yakni yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum dan kamus besar Bahasa Indonesia.
Selain data sekunder sebagai sumber data utama, dalam penelitian ini juga digunakan data pendukung yang diperoleh dari wawancara dengan pihak yang telah ditentukan sebagai informan yaitu Bapak Fachrul Husin Nasution, SH., M.Kn, selaku Kepala Kantor Pertanahan Kota Padangsidimpuan.
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui tahap-tahap penelitian antara lain sebagai berikut:
Studi Kepustakaan (Library Research)
a. Studi kepustakaan yaitu menghimpun data dari hasil penelaahan bahan pustaka atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Untuk memperoleh data sekunder yang berupa bahan hukum primer, hukum sekunder dan hukum tersier dalam penelitian ini akan menggunakan alat penelitian studi dokumen/pustaka atau penelitian pustaka (library research) yaitu dengan cara mengumpulkan semua peraturan Perundang-undangan, dokumen-dokumen hukum dan buku-buku yang berkaitan dengan rumusan masalah
penelitian.185
b. Pedoman Wawancara
Hasil wawancara yang diperoleh akan digunakan sebagai data pendukung dalam penelitian ini. Data tersebut diperoleh dari pihak-pihak yang telah ditentukan sebagai informan yaitu Bapak Fachrul Husin Nasution, SH., M.Kn selaku Kepala Kantor Pertanahan Kota Padangsidimpuan.
4. Analisis Data
Dalam suatu penelitian sebelumnya perlu disusun secara sistematis kemudian akan dianalisa dengan menggunakan prosedur logika ilmiah yang sifatnya kualitatif. Kualitatif berarti akan dilakukan analisa data yang bertitik tolak dari penelitian terhadap asas atau prinsip sebagaimana yang diatur didalam bahan hukum primer.186
Semua data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (libraryresearch) kemudian disusun secara berurutan dan sistematis dan selanjutnyadianalisa dengan menggunakan metode kualitatif sehingga diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang gejala dan fakta yang terdapat dalam masalah yang akan diteliti. Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus.187
185Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010),hal. 156-159.
186Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009),hal. 105.
187Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Op.Cit. hal.109.
BAB II
PELAKSANAAN PROGRAM NASIONAL AGRARIA (PRONA) DI WILAYAH KANTOR PERTANAHAN KOTA PADANGSIDIMPUAN
1. Aspek Hukum Pendaftaran Tanah A. Pengaturan Pendaftaran Tanah
Pada tanggal 24 September 1960 disahkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. LNRI tahun 1960 Nomor 104-TLNRI No. 2043. Undang-undang ini lebih dikenal dengan sebutan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA). Sejak diundang UUPA, berlakulah Hukum Agraria Nasional yang mencabut peraturan dan keputusan yang dibuat pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda, antara lain Agrarische Wet Stb. 1870 No. 55 dan Agrarische Besluit Stb. 1870 No. 118.188Salah satu materi yang diatur dalam UUPA tersebut adalah pendaftaran tanah.
Pendaftaran tanah dikatakan sebagai rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan teratur berupa pengumpulan keterangan-keterangan tertentu mengenai tanah-tanah tertentu yang ada di wilayah-wilayah tertentu dengan tujuan tertentu untuk kemudian diproses dan disimpan serta disajikan dalam rangka memenuhi tujuan diselenggarakannya pendaftaran tanah.189Ini berarti pendaftaran terhadap hak-hak atas tanah dilakukan melalui pendaftaran tanah dengan tujuan menjamin kepastian hukum dan kepastian hak atas tanah
188Urip Santoso(II),Op Cit, hal. 277.
189Aartje Tehupeiory, Op. Cit., hal. 7.
tersebut agar lebih mudah dapat membuktikan bahwa dialah yang berhak atas sebidang tanah tertentu melalui sertipikat yang dikeluarkan oleh BPN.190
Pendaftaran tanah menghasilkan sertipikat tanah yang berfungsi sebagai tanda bukti hak.Pendaftaran tanah bertujuan untuk menjamin kepastian hukum ini dikenal dengan sebutan rechtskadaster/legal kadaster. 191 Jaminan kepastian hukum yag hendak diwujudkan meliputi kepastian status hak yang didaftarkan, kepastian subjek hak, dan kepastian objek hak. Demikian pentingnya pendaftaran tanah sehingga menjadi suatu kewajiban bagi Pemerintah maupun pemegang hak atas tanah.192
Kebalikan dari rechtskadaster adalah fiscal kadaster.Kalau tadi rechtskadaster bertujuan untuk memberikan jaminan kepastian terhadap status
hak, objek hak, dan subjek hak, tetapi fiscal kadaster bertujuan untuk menetapkan siapa subjek yang wajib membayar pajak atas tanah.Pendaftaran tanah di Indonesia menganut rechtskadaster bukan fiscal kadaster.193 Pendaftaran tanah tersebut diatur lebih lanjut dalam PP nomor 10 tahun 1961, dan kemudian disempurnakan dengan PP nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Prinsip–prinsip yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah no. 10 Tahun 1961 justru dipertegas dan diperjelas di dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997. Penegasan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 merupakan upaya penyempurnaan terhadap peraturan yang ada sekaligus
190Ibid.,hal. 9.
191Urip Santoso (III), Pendaftaran Tanah dan Peralihan Hak Atas Tanah, (Jakarta:
Kencana Prenada Media Grup, 2011), hal. 2.
192Umar Said Sugiharto, Suratman, dan Noorhudha Muchsin, Hukum Pengadaan Tanah, (Malang: Setara Press, 2015), hal. 205.
193Affan Mukti, Op. Cit., hal. 51.
penyesuaian terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat sebagaimana prinsip-prinsipnya telah diamanatkan oleh UUPA. Ketentuan baru pendaftaran tanah dimaksud secara substansial tetap menampung konsepsi-konsepsi Hukum Adat yang hidup dan berakar dalam masyarakat, sehingga dengan demikian memperkuat kerangka tujuan UUPA yaitu untuk menciptakan unifikasi Hukum Tanah Nasional yang memang didasarkan pada Hukum Adat.194
Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 dilaksanakan dengan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (Permen Agraria/Kepala BPN) No.3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Peraturan perundang–undangan yang melaksanakan dan/atau menjadikan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 sebagai dasar pembentukannya, antara lain:
a. Peraturan pemerintah No. 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar.
b. Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.
c. Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2002 tentang Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Badan Pertanahan Nasional.
d. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (Permen Agraria/Kepala BPN) No. 3 Tahu 1997 tentang Ketentuan
194Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Op Cit, hal. 15.
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
e. Permen Agraria/Kepala BPN No.3 Tahun 1998 tentang Pemanfaatan Tanah Kosong untuk Tanaman Pangan.
f. Permen Agraria/Kepala BPN No. 4 Tahun 1998 tentang Pedoman Penetapan Uang Pemasukan dalam Pemberian Hak Atas Tanah Negara.
g. Permen Agraria/Kepala BPN No. 5 Tahun 1998 tentang Perubahan Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai Atas Tanah untuk Rumah Tinggal yang Dibebani Hak Tanggungan Menjadi Hak Milik.
h. Permen Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN No. 5 Tahun 2015 tentang Izin Lokasi.
i. Permen Agraria/Kepala BPN No 2 Tahun 2003 tentang pelimpahan Kewenangan Pemberian dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara.
j. Permen Agraria/Kepala BPN No. 4 Tahun 1999 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.
k. Permen Agraria/Kepala BPN No. 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan.
l. Keputusan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (Kepmen Agraria/Kepala BPN) No. 16 Tahun 1997 tentang Perubahan Hak Milik Menjadi Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai, dan Hak Guna Bangunan Menjadi Hak Pakai.
m. Kepmen Agraria/Kepala BPN No. 2 Tahun 1998 tentang Pemberian Hak Milik Atas Tanah untuk Rumah Tinggal yang Telah Dibeli oleh Pegawai Negeri dari Pemerintah.
n. Kepmen Agraria/Kepala BPN No. 6 ahun 1998 tentang Pemberian Hak Milik Atas Tanah untuk Rumah Tinggal.195
B. Kegiatan Pendaftaran Tanah
Kalau saja disimak ketentuan yang mengakui bahwa pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus-menerus berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya (Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997), ternyata pelaksanaan pendaftaran tanah yang dilakukan oleh Pemerintah masih belum tuntas dan masih memiliki banyak masalah.196
Dalam tataran peraturan perundang-undangan, objektif pendaftaran tanah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 19 UUPA semakin disempurnakan posisinya untuk memberikan jaminan yuridis dalam hal kepastian akan haknya dan kepastian pemegang haknya, termasuk jaminan teknis dalam arti kepastian batas-batas fisik bidang tanah, kepastian luas atas tanah tersebut.197
195Urip Santoso(II), Op.Cit, hal. 284.
196Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Op.Cit, hal. 104.
197Ibid., hal. 105.
Jadi dengan diterbitkannya ketentuan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 sebagai pengganti Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 telah terjadi satu langkah maju untuk mencapai keseimbangan atas pelaksanaan pendaftaran tanah di Indonesia. Dan jika dikaitkan dengan tujuan pendaftaran tanah sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tersebut maka menurut AP. Parlindungan telah memperkaya ketentuan Pasal 19 UUPA tersebut, karena :198
a. Dengan diterbitkannya sertifikat hak atas tanah, maka kepada pemiliknya diberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum.
b. Dengan informasi pertanahan yang tersedia di Kantor Pertanahan maka pemerintah akan mudah merencanakan pembangunan Negara yang menyangkut tanah, bahkan bagi rakyat sendiri lebih mengetahui kondisi peruntukan tanah dan kepemilikannya.
c. Dengan Administrasi Pertanahan yang baik akan terpelihara masa depan yang terencana.
Sementara tugas administrasi termasuk meneliti keabsahan bukti awal, menetapkan serta memutuskannya sebagai alat bukti yang dapat diajukan untuk bukti permulaan. Untuk kemudian mendaftarkannya dan memberikan bukti haknya serta mencatat peralihan (mutasi) hak itu bila kelak akan dimutasikan atau terjadi mutasi atasnya. Dan yang paling penting juga memelihara rekaman data pendaftaran itu dalam suatu daftar yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap siapa saja.199
198Ibid.,hal. 106.
199Ibid., hal. 107.
Dengan demikian tugas pendaftaran tanah itu jelas sebagai tugas administrasi hak yang dilakukan oleh Negara dalam memberikan kepastian hak atas tanah di Indonesia. Artinya Negara bertugas untuk melakukan administrasi di bidang pertanahan, dan dengan administrasi ini Negara memberikan bukti hak atas telah dilakukannya berdasarkan bukti atas tanah kepada seseorang tetapi kepada pemohon atas dilakukannya administrasi atas tanah diberikan bukti administrasi berupa sertifikat. Jadi bukti hak disini tidak memberikan jaminan material atas tanah seseorang tetapi hanya sebagai jaminan formal saja. Ini yang selalu menjadi permasalahan dalam pemberian sertifikat di Negara yang tercinta ini.200
Memang sistem administrasi pertanahan yang baik akan dapat memberikan jaminan keamanan penggunaan bagi pemiliknya. Dapat mendorong atau meningkatkan penarikan pajak. Meningkatkan gunaan tanah sebagai jaminan kredit. Meningkatkan pengawasan pasar tanah, melindungi tanah Negara, mengurangi sengketa tanah. Bahkan dapat memfasilitas rural landreform yang sedang dan akan dilaksanakan dalam suatu Negara, meningkatkan Urban planning dan memajukan infrastruktur, mendukung pengelolaan lingkungan hidup
yang berkualitas serta dapat menyediakan data statistik tanah yang baik.201
Namun bila Negara tidak bermaksud untuk mencapai tujuan seperti ini tentu akan terjadi kelemahan administrasi tanah di Negara kita ini. Maka seharusnya Negara telah menetapkan hal ini dalam peraturan pendaftaran tanah agar kelak pendaftaran tanah memenuhi sasarannya. Keseluruhan keuntungan
200Ibid.
201Ibid, hal. 108.
pengadministrasian tanah tersebut, bahkan sudah menjadi program kerja pendaftaran tanah dari Land Administration Guidelines yang dipelopori oleh FAO.202
Dengan demikian untuk mencapai sistem pendaftaran tanah yang baik, hanya ada bila telah dilakukan rangkaian kegiatan menghimpun, menginvestarisasi dan sekaligus melakukan pengawasan lalu lintas dari diterbitkannya sertifikat hak atas tanahnya (kegiatan inilah yang disebut administrasi pertanahan). Kegiatan ini akan direkam dalam daftar umum atau sering disebut buku tanah, yang dilakukan oleh Pemerintah c.q. Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Negara ini.203
Aturan pendaftaran tanah yang dikemukakan di atas merupakan petunjuk bagaimana seharusnya pendaftaran tanah dilakukan. Idealnya, bila ini dilaksanakan akan memberi dan menciptakan keadilan, kepastian (rechtszekerheid), dan kemanfaatan sebagaimana dikenal dalam tujuan hukum.204 Bagi tanah dan penggunaannya oleh si pemilik.
Sayangnya bila tujuan Idealis ini dilihat dari Realisasi jumlah tanah yang terdaftar di Negara ini, Kementerian Agraria dan tata Ruang/ badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengungkapkan hingga pada tahun 2016 masih terdaftar 44%, dan sebanyak 56% tanah di Indonesia belum meiliki sertipikat205, keadaan ini menunjukkan bahwa masih banyaknya status tanah yang kurang mendapat
202Executive Summary, Land Administration Summary, Land Adnibistration Guidelines with Special Reference to Countries in Transition, United Nation (New York and Geneva, 1996), hal. 1.
203Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Loc.Cit.
204E.Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, Cetakan Kesembilan (Djakarta : PT.
Penerbitan Universitas, 1996), hal. 26-27.
205www.isi.or.id/kementerian-atrbpn-56-persen-tanah-belum-bersertipikat/, diakses pada Senin, 29 Mei 2017, Waktu: 14.30 Wib.
kepastian hukum di Negara ini. Sehingga antara kegiatan yang seharusnya (das sollen) dengan yang seadanya (das sein) sangat menyolok di dalamnya.
Akibatnya bila dibiarkan lalu lintas ekonomi pertanahan akan berpengaruh dalam memberikan dukungan kemakmuran rakyat.206
Sering dipermasalahkan upaya mencari tujuan kepastian hukum dari dilakukannya pendaftaran tanah dimaksud, karena sekalipun telah terbit sertifikat pemilikan masih saja muncul orang-orang yang tidak mempunyai bukti secara formal akhirnya menguasai tanah tersbut. Padahal dalam keadaan seperti ini telah harus dianut asas Nemo plus juris,207yakni seharusnya “tiada seorangpun yang dapat menyerahkan hak lebih dari pada jumlah hak yang ada padanya”.
Sebaliknya, sering terjadi orang yang memang benar memiliki tanah secara material karena bukti hak yang dimilikinya akhirnya harus rela digugat di pengadilan karena tidak dilakukan administrasi pertanahannya dengan baik (formalnya tidak dilakukan). Seharusnya kejujuran menjadi faktor utama dalam mendaftarkan tanah. Tentulah ketidak kejujuran itu diharapkan tidak lagi menggoyahkan kepastian hukum dengan memanfaatan stelsel negatif yang dianut dalam pendaftaran tanah itu sendiri. Sehingga setelah ada sertifikat seharusnya malah si pemilik terdaftar tidak lagi disusahkan dengan adanya gugatan.
Sebagaimana masih sering terjadi digugat sertifikat di pengadilan atas kepemilikan tersebut.208
Hal ini memang terjadi karena kelemahan asas yang dianut dalam stelsel publikasi negatif dalam pendaftaran tanah. Karena asas yang dianut dalam
206Mhd Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Op Cit, hal 110.
207E.Utrecht, Op.Cit, hal. 287.
208Mhd Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Op Cit, hal 111.
pendaftaran tanah tersebut membuka kesempatan untuk menyangkal keabsahan dari nama yang tersebut dalam sertifikat hak atas tanahnya. Asas pendaftaran tanah tersebut jelas dijumpai dalam bunyi Pasal 9 ayat 2 (c). “pemberian surat – surat tanda bukti, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat”, dan Pasal 32 (ayat 1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, “sertifikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan”.209
Artinya hukum hanya memberikan jaminan atas bukti hak kepemilikantersebut kepada seseorang. Dan bukti ini tidak satu-satunya sebagai bukti, hanya sebagai alat bukti yang kuat saja. Hukum bukan memberikan milik, sehingga sering dianggap masih kurang melindungi pemiliknya. Seakan bukti itu hanya mengokohkan seseorang dengan milik (tanhnya) saja. Tetapi seharusnya di samping pendaftaran tanah itu memberikan hak kepada seseorang, pemilik tanah juga harus mengokohkannya sebagai pemegang hak yang ada dan sah.210 Keberadaannya dijamin oleh hukum Negara sebagai pemilik dari/atas hak milik tanah.
Posisi demikian menciptakan ketidakpercayaan masyarakat dalam mengurus haknya. Sehingga di masyarakat ada anggapan dengan mempertahankan bukti hak yang lama sudah meyakinkan pemiliknya terhindar dari malapetaka gugatan dari pihak ketiga, akhirnya masyarakat enggan mengurus haknya atas tanah yang dia miliki (melakukan pendaftaaran). Termasuk mereka
209Ibid.,112.
210Hasan Basri Nata Menggala dan Sartijo, Pembatalan dan Kebatalan Hak Atas Tanah, Edisi Revisi, (Yogyakarta: Tuju Jogya Pustaka, 2005), hal. 4-5.
kalau tidak mendaftarkan tanahnya dapat terhindar dari biaya pengurusan yang masih dianggap masyarakat terlalu mahal dan jangka waktu yang lama dalam mendaftarkannya. Oleh karena itu sering yang mendafarkan tanah itu hanyalah orang yang bermaksud untuk menggunakan bukti hak atas tanah itu sebagai jaminan hutang saja (ditanggungkan/diagunkan).211
Kondisi ini telah memperlama terwujudnya tujuan pendaftaran tanah di Indonesia. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang rendah dalam arti bukti hak atas tanah berbanding lurus dengan kemauan untuk memperoleh bukti atas tanah. Bukti hak (perlindungan Negara kepada pemiliknya) sangat signifikan dalam mencapai target pensertifikatan yang dilakukan atas tanah. Sekalipun telah ada program percepatan pensertifikatan dilakukan Pemerintah seperti Prona (Keputusan Presiden Nomor 152 tahun 1989) dan berbagai kegiatan program pensertifikatan yang dilakukan pemerintah secara massal (seperti program ajudikasi, sertifikasi massal swadaya, sertifikasi tanah di daerah transmigran, dan lain – lain), tetap saja masih belum memenuhi target.212
Maka wajar saja kalau sengketa pertanahan masih berkembang dan meluas di masyarakat akibat ketiadaan bukti hak atas kepemilikan tanah tersebut. Sudah sewajarnya kalau tanah telah bersertifikat pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas adanya gugatan dari pihak manapun atas sertifikat yang dikeluarkannya. Termasuk harus menanggung ganti rugi atas kerugian orang yang diakibatkan pengeluaran sertifikat tersebut. Sehingga dengan demikian timbul
Maka wajar saja kalau sengketa pertanahan masih berkembang dan meluas di masyarakat akibat ketiadaan bukti hak atas kepemilikan tanah tersebut. Sudah sewajarnya kalau tanah telah bersertifikat pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas adanya gugatan dari pihak manapun atas sertifikat yang dikeluarkannya. Termasuk harus menanggung ganti rugi atas kerugian orang yang diakibatkan pengeluaran sertifikat tersebut. Sehingga dengan demikian timbul