• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh. AHMAD REZA ANDHIKA /M.Kn (Halaman 50-0)

BAB 1 PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Hal ini sesuai dengan karakter preskriptif ilmu hukum (bersifat memberi petunjuk atau ketentuan berdasarkan peraturan yang berlaku). Berbeda dengan penelitian yang dilakukan didalam keilmuan yang bersifat deskriptif yang menguji kebenaran ada tidaknya sesuatu fakta disebabkan oleh suatu faktor tertentu, penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil yang diperoleh didalam penelitian hukum sudah mengandung nilai.34

34Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Penerbit Kencana, Jakarta, Ed. 1 Cet. 1, Jakarta, 2005, hal. 35

1. Sifat penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Deskriptif maksudnya menggambarkan secara sistematis factual dan akurat tentang permasalahan penegakan hukum atas Undang-Undang Jabatan notaris. Sedangkan analitis maksudnya hasil data penelitian diolah, dianalisa dan selanjutnya diuraikan secara cermat terhadap aspek-aspek yang berhubungan dengan pertanggungjawaban notaris yang terhadap akta yang berindikasi pelanggaran hukum menurut ketentuan undang-undang nomor 2 tahun 2014 tentang perubahan undang-undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan notaris.

2. Jenis penelitian

Dalam penelitian ini digunakan jenis pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian yang hanya menggunakan dan mengolah data-data sekunder atau disebut juga dengan metode kepustakaan yang berkaitan dengan Undang-Undang Jabatan Notaris dan Kode Etik Notaris atau hal lain berhubungan topik permasalahan dalam penelitian ini (yang berkaitan dengan sinkronisasi hukum).35

3. Teknik pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier. Bahan hukum primer, adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas, yang terdiri dari peraturan perundang-undangan dan catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan suatu peraturan

35Ibid

perundang-undangan serta putusan hakim.36 Adapun bahan hukum primer dalam penelitian ini, meliputi Peraturan Perundang-undangan, yaitu Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

Sementara bahan hukum sekunder adalah data yang diperoleh melalui kepustakaan, dengan menelaah buku-buku. literatur, undang-undang, tulisan yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti.37 Dalam penelitian ini data sekunder yang digunakan adalah Anggaran Dasar Ikatan Notaris Indonesia dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Notaris Indonesia, Kode Etik Notaris serta hasil wawancara yang telah diolah dengan Informan seperti beberapa Notaris (sebagai anggota Perkumpulan/Ikatan Notaris Indonesia), Majelis Pengawas dan Dewan Kehormatan Notaris.

Dalam penelitian hukum, data sekunder mencakup bahan primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat; bahan-bahan sekunderyaitu bahan-bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer; dan bahan hukum tertier yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder.38

4. Analisis Data

Didalam penelitian hukum normatif, maka analisis data pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis.Sistematisasi berarti membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum

36H. Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta 2009. hal. 47.

37Ronny Hanitijo Soemitro, Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hal 11

38Ibid

tertulis tersebut, untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.39Setelah itu keseluruhan data tersebut akan disistematisasikan sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang baik.40 Setelah diperoleh data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder dan tertier, maka dilakukan inventarisir dan penyusunan secara sistematik, kemudian diolah dan dianalisa dengan menggunakan metode analisis kualitatif dan selanjutnya metode penarikan kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif, yakni berpikir dari hal yang umum menuju kepada hal yang khusus atau spesifik dengan menggunakan perangkat normatif sehingga dapat memberikan jawaban yang jelas atas permasalahan dan tujuan penelitian.41

39Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1984. hal.

251.

40Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum (Suatu Pengantar), Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2001, hal. 106.

41Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat,Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hlm. 23.

BAB II

PERTANGGUNGJAWABAN NOTARIS SEBAGAI PEJABAT UMUM YANG MEMBUAT AKTA JIKA TERJADI MASALAH PADA AKTA TERSEBUT DI TINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN

2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2014

A. Tugas pokok Dan Fungsi Notaris Berdasarkan Undang-Undang Jabatan Notaris

Pasal 1 Undang-Undang Jabatan Notaris tidak memberikan uraian yang lengkap mengenai tugas Notaris. Menurut LumbanTobing, bahwa selain akta otentik, notaris juga ditugaskan untukmelakukan pendaftaran dan mensahkan surat-surat atau akta-akta yang dibuat di bawah tangan. Notaris juga memberikan nasihat hukum dan penjelasan mengenai peraturan perundang-undang kepada pihak yang bersangkutan.42 Hakikat tugas notaris selaku pejabat umum ialah mengatur secara tertulis dan otentik hubungan hukum antara pihak yang secara manfaat dan mufakat meminta jasa notaris yang pada dasarnya adalah sama dengan tugas hakim yang memberikan keadilan di antara para pihak yang bersengketa. Dalam konstruksi hukum Kenotariatan, salah satu tugas jabatan notaris adalah memformulasikan keinginan atau tindakan penghadap/para penghadap kedalam bentuk akta otentik, dengan memperhatikan aturan hukum yang berlaku.

Bahwa notaris tidak memihak tetapi mandiri dan bukan sebagai salah satu pihak dan tidak memihak kepada mereka yang berkepentingan. Itulah sebabnya

42G.H.S Lumban Tobing Op.Cit Hal 37

dalam menjalankan tugas dan jabatannya selaku pejabat umum terdapat ketentuan Undang- Undang.43

Tugas pokok notaris ialah membuat akta otentik. adapun kata otentik itu menurut Pasal 1870 KUHPerdata memberikan kepada pihak-pihak yang membuatnya suatu pembuktian sempurna. Disinilah letak arti penting dari seorang notaris, bahwa notaris karena Undang-undang diberi wewenang menciptakan alat pembuktian yang sempurna, dalam pengertian bahwa apa yang tersebut dalam akta otentik itu pada pokoknya dianggap benar sepanjang tidak ada bukti sebaliknya. Dalam UUJN, Tugas dan Fungsi Notaris sebagai berikut:

a. Membukukan surat-surat dibawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus (waarmerking)

b. Membuat fotocopy dari asli surat dibawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan.

c. Melakukan pengesahan kecocokan fotocopy dengan surat aslinya (legalisir) d. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta e. Membuat akta yang berhubungan dengan pertanahan.

f. Membuat akta risalah lelang

g. Membetulkan kesalahan tulis atau kesalahan ketik yang terdapat pada minuta akta yang telah ditandatangani, dengan membuat berita acara dan memberikan catatan tentang hal tersebut pada akta asli yang menyebutkan

43Ibid

tanggal dan nomor berita acara pembetulan, dan salinan tersebut diberikan kepada para pihak sesuai dengan Pasal 51 UUJN.

Mengenai wewenang yang harus dipunyai oleh notaris sebagai pejabat umum untuk membuat suatu akta otentik, seorang notaris hanya boleh menjalankan di daerah atau wilayah yang ditentukan baginya dan hanya di dalam daerah atau wilayah hukum itu ia berwenang Pasal 18 UUJN. Apabila notaris membuat akta di luar wilayah hukumnya maka akta tersebut adalah tidak sah.

Kewenangan notaris menurut pasal 15 UUJN meliputi:

a. Notaris berwenang sepanjang yang menyangkut akta yang dibuatnya itu, bahwa seorang pejabat umum hanya dapat membuat akta-akta tertentu saja yaitu yang ditugaskan kepadanya berdasarkan peraturan perundang-undangan, dan tidak setiap pejabat umum dapat membuat semua akta. Notaris hanya berwenang membuat akta otentik bidang hukum perdata sepanjang bukan merupakan wewenang dari pejabat umum lain dan tidak berwenang membuat akta otentik di bidang hukum publik.

b. Notaris berwenang sepanjang mengenai orang-orang untuk kepentingan siapa akta itu dibuat. Notaris tidak berwenang membuat akta untuk kepentingan setiap orang, seperti yang tercantum dalam Pasal 52 UUJN, bahwa notaris tidak diperkenankan membuat akta di dalam mana notaris sendiri, isterinya, keluarga sedarah atau semenda dari notaris itu dalam garis lurus tanpa pembatasan derajat dan dalam garis kesamping sampai dengan derajat ke tiga baik secara pribadi maupun melalui kuasa menjadi pihak.

c. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat, di mana akta itu dibuat.

Sesuai Pasal 19 UUJN, notaris tidak berwenang membuat akta di luar wilayah kedudukannya. Apabila dibuat di luar wilayah hukumnya maka akta tersebut dianggap sebagai akta di bawah tanggan.

d. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan akta itu.

Notaris tidak boleh membuat akta selama ia masih cuti atau dipecat dari jabatannya dan juga ia tidak boleh membuat akta selama ia memangku jabatannya (sebelum diambil sumpahnya).

B. Akta Notaris Berdasarkan Undang-Undang Jabatan Notaris

Suatu surat dapat dikatakan sebagai akta otentik adalah sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1 angka 7 Undang- Undang Jabatan Notaris yang menyebutkan bahwa akta Notaris bentuk dan tata cara yang di tetapkan dalam Undang-Undang ini.Akta itu sendiri menurut A.Pitlo mengartikannya sebagai surat-surat yang di tandatangani, dibuat untuk dipakai sebagai bukti, dan untuk dipergunakan oleh orang, untuk keperluan siapa surat itu dibuat.44Kemudian menurut Sudikno Mertokusumo, akta adalah surat yang di beri tanda tangan, yang memuat peristiwa-peristiwa, yang menjadi dasar dari suatu hak atau perikatan, yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian.45

Menurut Subekti, akta adalah suatu tulisan yang semata-mata dibuat untuk membuktikan sesuatu hal peristiwa, karenanya suatu akta harus ditandatangani.

44 H.R. Daeng Naja, Teknik pembuatan akta(Buku wajib kenotariatan), pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2012.

45Ibid.

Ketentuan Pasal 1 ayat (7) dalam Undang-Undang Jabatan Notaris menyatakan bahwa akta notaris adalah akta yang dibuat oleh atau dihadapan notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam undang-undang ini.46

Dari pengertian akta diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan akta otentik adalah suatu akta yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang diberi wewenang untuk itu, yang sebelumnya telah ditandatangani oleh pihak-pihak yang berkepentingan tersebut. Tan Thong Kie memberikan beberapa catatan mengenai definisi akta dan akta otentik yaitu:

1. Perbedaan antara tulisan dan akta terletak pada tanda tangan yang tertera dibawah tulisan.

2. Pasal 1874 ayat 1 KUHPerdata menyebutkan bahwa yang termasuk sebagai tulisan di bawah tanda tangan adalah akta dibawah tangan, surat ,register atau daftar, surat rumah tangga, serta tulisan lain yang dibuat tanpa peraturan pejabat umum.

3. Pasal 1867 KUH Perdata selanjutnya menentukan bahwa akta otentik dan tulisan di bawah tangan dianggap sebagai bukti tertulis.47

Selanjutnya menurut G.H.S Lumban Tobing menyatakan apabila suatu akta otentik hendak memperoleh stempel autentisitas, hal sama akta notaris yang di buat

46Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (PT. Intermesa, Cetakan ke XVIII, Jakarta, 1984), hlm.178

47Tan Thong Kie, Studi Notariat Beberapa pelajaran dan serba serbi praktek notaris Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2007,hal 484

oleh pejabat yang berwenang untuk itu, maka menurut ketentuan pasal 1868 KUH Perdata mensyaratkan akta itu adalah sebagai berikut :

1. Akta itu harus dibuat “ oleh” atau “ dihadapan “ seorang pejabat umum.Pejabat umum pembuat akta adalah pejabat yang diberi wewenang berdasarkan Undang-Undang dalam batas wewenang yang telah di tetapkan secara tegas, seperti notaris. Suatu akta adalahotentik, bukan karena penetapan Undang-Undang akan tetapi karena dibuat oleh atau dihadapan seorang pejabat umum.48

Dari uraian ini kemudian dapat disimpulkan bahwa akta otentik itu dapat dibedakan atas:

a. Akta relaas : yang termasuk jenis akta ini antara lain akta berita acara rapat pemegang saham perseroan terbatas, akta berita acara rapat direksi perseroan terbatas, akta pendaftaran atau inventarisasi harta peninggalan, akta berita acara penarikan undian, dan akta lainnya. Isi dari akta berita acara ini semuanya berupa keterangan atau kesaksian dari notaris yang membuat akta itu tentang apa yang dilihatnya terjadi dihadapannya atau yang di saksikannya dilakukan oleh orang lain, dengan kata lain tentang apa yang di alaminya.49

b. Akta party (akta yang dibuat dihadapan pejabat oleh para pihak yang memerlukannya).

48G.H.S Lumban Tobing, Op.Cit hal 48

49M.U. Sembiring, Tehnik Pembuatan Akta, Program Pendidikan Spesialis Notariat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 1997, hal 6

Akta ini dinamakan akta pihak-pihak. Isi akta ini ialah catatan notaris yang bersifat otentik mengenai keterangan- keterangan dari para penghadap yang bertindak sebagai pihak-pihak dalam akta bersangkutan.

Hal ini di tambah pula dengan keterangan notaris dalam akta itu tentang telah dipenuhinya segala formalitas yang diperintahkan oleh Undang-Undang agar akta itu memenuhi persyaratan sebagai akta otentik antara lain keterangan notaris bahwa akta itu telah dibacakan olehnya kepada para penghadap, dan bahwa kemudian akta itu lantas ditandatangani oleh para penghadap, saksi-saksi dan notaris serta keterangan lainnya.

Termasuk dalam golongan akta ini antara lain, akta jual beli, akta sewa menyewa, akta perjanjian pinjam pakai, akta persetujuan kredit dan akta lainnya.50

Pembuatan akta notaris baik akta yang dibuat oleh maupun akta yang dibuat di hadapan Notaris yang menjadi dasar utama atau inti dalam pembuatan akta notaris, yaitu harus ada keinginan atau kehendak dan permintaan dari para pihak. Jika keinginan dan permintaan para pihak tidak ada, maka Notaris tidak akan membuat akta yang dimaksud.

1) Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang bentuk akta yang ditentukan oleh Undang-Undang-Undang-Undang Jabatan Notaris terutama dalam Pasal 38.

50Ibid.hlm.7

2) Pejabat umum oleh atau dihadapan siapa akta itu dibuat, harus mempunyai wewenang untuk membuat akta itu.

Mengenai kewenangan sebagai pejabat umum oleh atau di hadapan siapa akta itu dibuat, dapat ditemukan pada Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Jabatan Notaris menyebutkan bahwa notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan Undang-Undang lainnya.51

Kewenangan Notaris tersebut menyangkut 4 hal yaitu:

a. Notaris harus berwenang sepanjang menyangkut akta yang dibuatnya itu

b. Notaris harus berwenang sepanjang menyangkut orang-orang, untuk kepentingan siapa akta itu dibuat.

c. Notaris harus berwenang sepanjang menyangkut tempat, dimana akta itu dibuat.

d. Notaris harus berwenang sepanjang menyangkut waktu pembuatan akta itu.52

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Jabatan Notaris sebagaimana disebutkan diatas tugas ataupun kewenangan utama dari para notaris adalah membuat akta otentik tentang semua perbuatan, perjanjian dan

penetapan-51Ibid

52G.H.S. Lumban Tobing, Op.Cit Hal 49.

penetapan yang oleh peraturan perundang-undangan atau oleh para pihak yang berkepentingan dikehendaki agar dinyatakan dengan akta otentik, menjamin tanggalnya, menyimpan akta-akta itu dan mengeluarkan grossenya, salinannnya dan kutipannya. Grosse akta yang kemudian dikeluarkan oleh notaris dapat bernilai eksekutorial karena dapat dilakukan eksekusi sehingga grosse akta disamakan dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.53

Dari ketentuan pasal itu dapat diketahui bahwa akta otentik diperbuat mengenai perbuatan, perjanjian dan penetapan, sehingga akta notaris tersebut dapat berupa karena diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yaitu sebagai alat bukti tertulis dan merupakan syarat untuk terjadinya suatu perbuatan hukum dengan segala akibatnya apabila perbuatan itu dinyatakan dengan akta Notaris dan akta Notaris tersebut dapat berupa akta yang bukan karena di perintahkan oleh peraturan perundang-undangan melainkan karena dikehendaki atau diminta oleh pihak- pihak yang berkepentingan untuk dipergunakan sebagai alat bukti yang kuat.54

Sebagai akta otentik, akta yang dibuat oleh Notaris mempunyai kekuatan pembuktian yang kuat sepanjang tidak dibantah kebenarannya oleh siapa pun, kecuali bantahan terhadap akta tersebut dapat dibuktikan sebaliknya. Dalam artian bahwa akta yang dibuat oleh notaris tersebut mengalami kebohongan atau cacat, sehingga akta tersebut dapat dinyatakan oleh hakim sebagai akta yang cacat secara hukum.

53 Salim Hs, Peekembangan hukum Jaminan di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal 189.

54Gunawan Widjaja dan Kartini Muljadi, Seri Hukum Harta Kekayaan Kebendaan Pada Umumnya, Prenada Media Jakarta, 2003, hal 74.

Begitu pentingnya keterangan yang termuat dalam akta tersebut sehingga setiap penulisannya harus jelas dan tegas. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam pasal 42 Undang- Undang jabatan Notaris dinyatakan bahwa akta Notaris dituliskan dengan jelas dalam hubungan satu sama lain yang tidak terputus-putus dan tidak mempergunakan singkatan. Oleh karena itu ruang dan sela kosong dalam akta digaris dengan jelas sebelum ditandatangani, kecuali untuk akta yang dicetak dalam bentuk formulir berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, semua bilangan untuk menentukan banyaknya dan jumlahnya sesuatu yang disebut dalam akta, seperti penyebutan tanggal, bulan dan tahun dinyatakan dengan huruf dan harus didahului dengan angka.55

Dalam sebuah perjanjian ataupun kontrak harus dipenuhi unsur essensialia karena tanpa adanya kesepakatan unsur tersebut maka sebuah perjanjian dapat batal demi hukum.56Menurut M.U. Sembiring dalam bukunya Tehnik Pembuatan Akta, menyebutkan bahwa bentuk essensialia dari sebuah akta dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu:

1. Essensialia Umum

Essensialia umum akta adalah hal essensial yang harus dimasukkan dalam setiap akta Notaris, artinya setiap akta Notaris tanpa mengindahkan nama dan jenisnya harus dimuat hal-hal tertentu yang diperitahkan oleh peraturan

55Supriadi, Etika Dan Tanggung Jawab Profesi Hukum di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, Hal 39.

56Ahmadi Miru, Hukum kontrak dan Perancangan Kontrak, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hal 31

perundangan. Dan apabila perintah tersebut tidak dilaksanakan maka akta itu menjadi tidak sempurna sifatnya atau ada cacatnya bahkan dapat mengakibatkan akta itu kehilangan sifat otentiknya, satu dan lain tergantung dari jenis pelanggarannya.Adapun essensialia umum yang harus dimuat dalam akta notaris antara lain sebagai berikut:

a) Tanggal dan tempat akta dibuat harus dicantumkan dalam akta.

Berdasarkan Pasal 38 ayat 2 dan 3 Undang- Undang Jabatan Notaris bahwa menyebutkan bahwa setiap akta harus memuat tempat dimana akta tersebut dilangsungkan, begitu pula hari, tanggal, bulan, dan tahun akta itu di perbuat.

b) Nama dan tempat kedudukan notaris harus dicantumkan dalam akta.

Pasal 38 ayat 2 huruf d Undang- Undang jabatan Notaris menyebutkan bahwa setiap akta harus memuat nama lengkap dan tempat kedudukan notaris.

Pencantuman tempat kedudukan notaris adalah mutlak karena hal ini erat kaitannya dengan pengawasan apakah notaris bersangkutan memang berwenang membuat akta di tempat dimana akta tersebut dibuat ataupun dengan kata lain apakah tempat dimana akta tersebut di buat masih termasuk dalam wilayah kerja notaris bersangkutan.

c) Nama, pekerjaan, kedudukan penghadap dan saksi-saksi harus dicantumkan dalam akta. Dalam pasal 38 ayat 3 huruf a, b, c dan d Undang- Undang Jabatan Notaris menyatakan bahwa setiap akta harus

memuat nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, kewarganegaraan, pekerjaan, jabatan, kedudukan, tempat tinggal dan para penghadap dan dari tiap-tiap saksi pengenal.

d) Pembuatan akta harus dihadiri oleh para saksi.

Dalam pasal 38 ayat 4 huruf b Undang- Undang Jabatan Notaris menyatakan bahwa setiap akhir atau di bagian penutup akta harus di uraikan tentang penandatanganan dan tempat penandatanganan atau penerjemahan akta jika ada, selanjutnya dalam pasal 38 ayat 4 huruf c menyebutkan bahwa pada bagian penutup akta juga diharuskan mencantumkan nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, jabatan, kedudukan, dan tempat tinggal dari tiap- tiap saksi.

Hal diatas menunjukkan bahwa atas perintah Pasal 38 ayat 4 Undang-Undang Jabatan Notaris bahwa setiap akta yang dibuat oleh seorang Notaris harus dihadiri dan ditandatangani oleh saksi- saksi yang sebelumnya telah dibacakan dihadapan penghadap dan saksi – saksi dengan membuat keterangan di bagian penutupnya berupa “segera setelah saya, Notaris bacakan kepada para penghadap dan saksi-saksi, maka ditandatanganilah akta ini oleh para penghadap, saksi-saksi dan saya notaris.57

57Herlina Suyati Bachtiar, Contoh Akta Notaris dan Akta Di Bawah Tangan ( buku II Bagian I Mengenal Akta-Akta Notaris Untuk Perbankan dan Perusahaan Multi Finance), Mandar Maju, Bandung, 2001, hal 8.

e) Para penghadap harus dikenal atau di perkenalkan kepada Notaris, juga merupakan bagian essensialia umum dari setiap akta ialah hal-hal yang sebagaimana diatur dalam pasal 39 ayat 2 Undang- Undang Jabatan Notaris yang menyatakan penghadap harus dikenal oleh Notaris atau diperkenalkan kepadanya oleh 2 (dua) orang saksi pengenal yang paling rendah 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah dan cakap melakukan perbuatan hukum atau di perkenalkan oleh 2 (dua) penghadap lainnya.

f) Larangan bagi notaris membuat akta tertentu.

Pada dasarnya semua jenis akta yang terletak dalam bidang perdata boleh dibuat oleh notaris, namun dalam hal tertentu ada larangan khusus bagi notaris untuk membuat akta bagi orang-orang tertentu. Larangan tersebut diatur dalam Pasal 52 ayat 1 Undang- Undang Jabatan Notaris yang menyatakan bahwa notaris tidak di perkenankan membuat akta untuk diri sendiri, isteri/suami, atau orang lain yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan notaris baik karena perkawinan maupun hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah dan atau tanpa pembatasan

Pada dasarnya semua jenis akta yang terletak dalam bidang perdata boleh dibuat oleh notaris, namun dalam hal tertentu ada larangan khusus bagi notaris untuk membuat akta bagi orang-orang tertentu. Larangan tersebut diatur dalam Pasal 52 ayat 1 Undang- Undang Jabatan Notaris yang menyatakan bahwa notaris tidak di perkenankan membuat akta untuk diri sendiri, isteri/suami, atau orang lain yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan notaris baik karena perkawinan maupun hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah dan atau tanpa pembatasan

Dalam dokumen TESIS. Oleh. AHMAD REZA ANDHIKA /M.Kn (Halaman 50-0)