• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Metode Penentuan Nilai LD 50

Penentuan LD50 merupakan tahap awal untuk mengetahui keamanan bahan yang akan digunakan manusia dengan menentukan besarnya dosis yang menyebabkan kematian 50% pada hewan uji setelah pemberian dosis tunggal (Lu, 1994). Metode penentuan nilai LD50 adalah sebagai berikut:

a. Metode Farmakope Indonesia Edisi III

Syarat yang harus dipenuhi dalam metode ini adalah perlakuan menggunakan seri dosis atau konsentrasi yang berkelipatan tetap, jumlah hewan

Universitas Sumatera Utara

23

percobaan tiap kelompok harus sama dan dosis harus diatur sedemikian rupa supaya memberikan respon dari 0-100%.

Rumus: m = a – b (Σpi – 0,5) Keterangan:

m = log LD50

a = logaritma dosis terendah yang masih menyebabkan jumlah kematian 100%

tiap kelompok

b = beda log dosis yang berurutan

pi = jumlah hewan yang mati setelah menerima dosis i, dibagi dengan jumlah seluruh hewan uji yang menerima dosis i (Ditjen POM, 1979).

b. Metode Aritmatik Reed dan Muench

Metode ini menggunakan nilai-nilai kumulatif. Asumsi yang dipakai bahwa hewan yang mati akibat dosis tertentu akan mengalami kematian juga oleh dosis yang lebih besar dan hewan yang bertahan hidup pada dosis tertentu juga akan tetap bertahan hidup pada dosis yang lebih rendah. Nilai kumulatif diperoleh dari menjumlahkan kematian hewan uji pada dosis terbesar yang menyebabkan kematian 100% hewan uji dengan jumlah hewan uji yang mati pada dosis-dosis yang lebih kecil. Nilai kumulatif survivor (hidup) diperoleh dari menjumlahkan hewan uji yang tetap hidup pada dosis terkecil yang tidak menyebabkan kematian dengan jumlah hewan uji yang tetap hidup pada dosis-dosis di atasnya. Persen hidup dari dosis-dosis yang berdekatan dengan LD50 dihitung. Penentuan LD50

didapatkan berdasarkan persamaan berikut:

P.D = 50% - % kematian tepat di bawah 50%

% kematian tepat di atas 50% - % kematian tepat di bawah 50%

Keterangan: P.D = Jarak proporsional (Supriyono, 2007).

c. Metode Thomson dan Weil

Universitas Sumatera Utara

24

Penentuan nilai LD50 dengan cara ini menggunakan tabel yang dibuat oleh Thomson dan Weil. Percobaan harus memenuhi beberapa syarat yaitu: jumlah hewan uji tiap kelompok peringkat dosis sama, interval merupakan kelipatan tetap dan jumlah kelompok paling tidak terdapat 4 peringkat dosis.

Rumus: Log m = log D + d (f + 1) Keterangan:

m = nilai LD50

D = dosis terkecil yang digunakan d = log dari kelipatan dosis

f = suatu nilai dalam tabel Thomson dan Weil (Supriyono, 2007).

d. Metode Karber

Prinsip metode ini adalah menggunakan rerata interval jumlah kematian dalam masing-masing kelompok hewan dan selisih dosis pada interval yang sama.

Hasil dari dosis yang lebih besar dari dosis yang menyebabkan kematian seluruh hewan dalam sekelompok dosis dan dosis yang lebih rendah yang dapat ditolerir oleh seluruh hewan dalam suatu kelompok tidak digunakan. Jumlah perkalian diperoleh dari hasil kali beda dosis dengan rerata kematian pada interval yang sama. Nilai LD50 didapatkan dari dosis terkecil yang menyebabkan kematian seluruh hewan dalam satu kelompok, dikurangi dengan jumlah perkalian dibagi jumlah hewan dalam tiap kelompok.

Rumus: LD50 = a – (b/c) Keterangan:

a = dosis terkecil yang menyebabkan kematian tertinggi dalam satu kelompok b = jumlah perkalian antara beda dosis dengan rata-rata kematian pada interval

yang sama

Universitas Sumatera Utara

25

c = jumlah hewan dalam satu kelompok (Supriyono, 2007).

e. Metode grafik Miller-Tainter

Metode ini menggunakan kertas grafik khusus yaitu kertas logaritma-probit yang memiliki skala logaritmik sebagai absis dan skala logaritma-probit sebagai ordinat. Persentase kematian dikonversikan menjadi nilai probit sesuai dengan nilai yang terdapat pada tabel probit. Dosis yang menyebabkan 50% kematian pada hewan uji atau memiliki nilai probit 5 diambil sebagai nilai LD50 (Gupta dan Bhardwaj, 2012).

2.8 Hewan Uji

Pada prinsipnya jenis hewan yang digunakan untuk uji toksisitas harus dipertimbangkan berdasarkan sensitivitas, cara metabolism sediaan uji yang serupa dengan manusia, kecepatan tumbuh serta mudah tidaknya cara penanganan sewaktu dilakukan percobaan. Hewan pengerat merupakan jenis hewan yang memenuhi persyaratan tersebut diatas, sehingga paling banyak digunakan pada uji toksisitas (BPOM, 2014).

Adapun kriteria hewan yang digunakan dapat dilihat pada tabel 2.2 Tabel 2.2 Kriteria hewan uji yang digunakan dalam uji toksisitas

No Jenis Hewan Bobot minimal Rentang umur

1 Mencit 20 g 6 – 8 minggu

2 Tikus 120 g 6 – 8 minggu

3 Marmut 250 g 4 – 5 minggu

4 Kelinci 1800 g 8 – 9 bulan

Universitas Sumatera Utara

26 BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental deskriptif. Penelitian meliputi pengumpulan dan penyiapan bahan tumbuhan, identifikasi sampel, pengolahan sampel, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak, penyiapan hewan percobaan, pengujian toksisitas akut ekstrak etanol daun sirih pada mencit jantan, dan pengolahan data. Data hasil penelitian dianalisis secara Uji Friedman menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 22.

3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitokimia dan Laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian eksperimental

3.3 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah lemari pengering, blender, rotary evaporator, mortir dan stamfer, gelas ukur, beaker glass, tabung reaksi, rak tabung reaksi, cawan porselen, waterbath, kertas saring, kertas perkamen, aluminium foil, kandang mencit, neraca hewan (Presica Geinweigher GW-1500), neraca analitik, oral sonde, dan spuit ukuran 1 ml (Terumo).

Universitas Sumatera Utara

27 3.4 Bahan

Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun sirih.

CMC-Na 0,5% , etanol 96% dan aquades.

3.5 Hewan Uji Coba

3.5.1 Determinasi Hewan Percobaan

Determinasi hewan uji dilakukan di Laboratorium Sistematika Hewan Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sumatera Utara, Medan.

3.5.2 Jumlah Hewan Percobaan

Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 180 ekor mencit putih jantan, dibagi menjadi 6 kelompok dengan berat badan 20-30 gram, berumur 2-3 bulan. Sebelum pengujian, mencit disesuaikan kondisi fisiologisnya terlebih dahulu selama 7-14 hari.

3.6 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel 3.6.1 Teknik pengumpulan sampel

Pengambilan bahan tumbuhan dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan tumbuhan yang sama dengan daerah lain. Bahan tumbuhan yang digunakan adalah daun sirih yang diambil dari kediaman Ibu Chaterine di Jl.Sentosa No. 25, Pancur Batu, Medan, Provinsi Sumatera Utara

3.6.2 Identifikasi tumbuhan

Identifikasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanense , Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

28 3.6.3 Pengolahan Sampel

Daun yang digunakan adalah daun yang segar, berwarna hijau, dan bahan baku berupa daun sirih sebanyak 3 kg dibersihkan dari kotoran, dicuci bersih dan dikeringkan di lemari pengering dengan suhu 40oC - 50 oC selama lebih kurang 7 hari. Sampel yang telah kering kemudian diblender sampai menjadi serbuk simplisia. Kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang terlindung dari sinar matahari

3.6.4 Karakterisasi simplisia

Pemeriksaan karakterisasi simplisia seperti penetapan kadar air dilakukan menurut prosedur World Health Organization (1992); pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut asam dilakukan menurut prosedur (Ditjen POM, 1995).

3.6.4.1 Pemeriksaan makroskopik

Pemeriksaan makroskopik terhadap simplisia daun sirih meliputi pemeriksaan bentuk, bau, warna dan rasa dan dilakukan pemeriksaan makroskopik terhadap daun sirih segar.

3.6.4.2 Pemeriksaan mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap irisan melintang dan membujur daun sirih segar untuk melihat susunan anatomis dari daun sirih.

Caranya: Dibuat irisan melintang dan membujur dari daun sirih kemudian diletakkan di atas objek gelas lalu ditetesi larutan kloralhidrat, dipanaskan dengan api bunsen, dicuci dengan air, ditutup dengan kaca penutup dan dilihat di bawah mikroskop.

Pemeriksaan mikroskopik juga dilakukan terhadap serbuk simplisia daun sirih untuk melihat fragmen – fragmen pengenal dari simplisia tersebut. Caranya:

Universitas Sumatera Utara

29

Sejumlah serbuk simplisia diletakkan merata di atas objek gelas yang telah ditetesi larutan kloralhidrat, ditutup dengan kaca penutup dan dilihat di bawah mikroskop.

3.6.4.3 Penetapan kadar air

Sebanyak 200 ml toluen dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, lalu didestilasi selama 2 jam. Setelah itu, toluen dibiarkan mendingin selama 30 menit, dan dibaca volume air pada tabung penerima dengan ketelitian 0,05 ml. Kemudian ke dalam labu tersebut dimasukkan 5 gram serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama, labu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluen mendidih, kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes tiap detik sampai sebagian besar air terdestilasi, kemudian kecepatan tetesan dinaikkan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Setelah air dan toluen memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen.

3.6.4.4 Penetapan kadar sari yang larut dalam air

Sebanyak 5 gram serbuk simplisia dimasukkan dalam labu bersumbat, di maserasi dengan 100 ml air kloroform P (2,5 ml kloroform dalam 1000 ml air) selama 24 jam, sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Disaring, sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, sisanya dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam air, dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan udara.

Universitas Sumatera Utara

30

3.6.4.5 Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol

Sebanyak 5 gram serbuk simplisia dimasukkan dalam labu bersumbat, dimaserasi dengan 100 ml etanol 95% selama 24 jam, sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Disaring, sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, sisanya dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam air.

3.6.4.6 Penetapan kadar abu total

Sebanyak 2 gram serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Krus dipijar pada suhu 600oC sampai arang habis. Selanjutnya didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.

3.6.4.7 Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam

Abu yang telah diperoleh dalam penetapan kadar abu total dididihkan dalam 25 ml asam klorida 2 N selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu dan dicuci dengan air panas. Residu dan kertas saring dipijar pada suhu 600oC sampai bobot tetap, kemudian didinginkan dan ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan.

Universitas Sumatera Utara

31 3.6.5 Skrining Fitokimia Simplisia

Skrining fitokimia dilakukan terhadap simplisia daun sirih meliputi pemeriksaan senyawa kimia golongan alkaloid, glikosida, saponin, tanin, flavonoida, triterpenoid dan steroid (Depkes RI, 1995).

3.6.5.1 Pemeriksaan steroida/triterpenoida

Sebanyak 1 g sampel dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama 2 jam, disaring, filtrat diuapkan dan sisanya ditambahkan pereaksi Liebermann- Burchard. Jika terbentuk warna ungu atau merah yang berubah menjadi biru ungu atau biru hijauan menunjukkan adanya triterpenoid/steroid bebas.

3.6.5.2 Pemeriksaan alkaloida

Sampel ditimbang sebanyak 0,5 g kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan diatas penangas air selama 2 menit, dinginkan lalu disaring. Filtrat dipakai untuk percobaan berikut:

a.Diambil 3 tetes filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer b.Diambil 3 tetes filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat

c.Diambil 3 tetes filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff Alkaloida dianggap positif jika terjadi endapan atau paling sedikit dua atautiga dari percobaan di atas.

3.6.5.3 Pemeriksaan glikosida

Sampel ditimbang sebanyak 3 g kemudian disari dengan 30 ml campuran 7 bagian volume etanol 96% dan 3 bagian volume air suling. Direfluks selama 30 menit, didinginkan dan disaring. Diambil 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, lalu didiamkan selama 5 menitdan disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran 3 bagian kloroform dan 2 isopropanol dilakukan berulang sebanyak tiga kali. Kumpulan sari air diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50oC. Sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol.

Universitas Sumatera Utara

32

Larutan sisa digunakan untuk percobaan berikut, yaitu 0,1 ml larutan percobaan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, diuapkan di penangas air. Sisa dilarutkan dalam 2 ml air suling dan 5 tetes pereaksi Molish. Kemudian secara perlahan ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat. Glikosida positif jika terbentuk cincin ungu.

3.6.5.4 Pemeriksaan flavonoida

Sebanyak 10 g sampel kemudian ditambahkan 100 ml air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas. Filtrat yang diperoleh kemudian diambil 5 ml lalu ditambahkan 0,1 g serbuk Mg dan 1 ml HCl pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok, dan dibiarkan memisah. Flavonoida positif jika terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol.

3.6.5.5 Pemeriksaan tanin

Sebanyak 1 g sampel dididihkan selama 3 menit dalam 10 ml air suling lalu didinginkan dan disaring. Filtrat diencerkan sampai hampir tidak berwarna, lalu ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1% (b/v), jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin.

3.6.5.6 Pemeriksaan saponin

Sebanyak 0,5 g sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 10 ml air suling panas, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik, timbul busa yang mantap tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm. Ditambahkan 1 tetes larutan asam klorida 2 N, bila buih tidak hilang menunjukkan adanya saponin.

3.6.6 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Sirih (EEDS)

Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi, 500 gram serbuk kering dari daun sirih dimaserasi dengan pelarut etanol 96% dan dilakukan pengadukan secara terus menerus. Dilakukan dua kali perendaman, pada

Universitas Sumatera Utara

33

perendaman pertama serbuk kering direndam dalam pelarut sebanyak 75 bagian selama 5 hari kemudian disaring. Proses tersebut dilanjutkan dengan perendaman kedua dengan menambahkan pelarut 25 bagian pada filtrat pertama kemudian diuapkan atau dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 40oC hingga diperoleh ekstrak kental (Ditjen POM, 1979).

3.7 Pembuatan Larutan Uji

3.7.1 Pembuatan suspensi Na-CMC 0,5 % b/v

Sebanyak 0,5 g Na-CMC dimasukkan ke dalam lumpang yang telah berisi air panas sebanyak 1 ml, dibiarkan selama 15 menit sehingga mengembang, digerus hingga diperoleh massa yang transparan, lalu diencerkan dengan aquades, dimasukkan kedalam wadah, dan dicukupkan dengan aquades hingga 100 ml.

3.7.2 Pembuatan Suspensi Ekstrak Etanol Daun Sirih (EEDS)

Pengujian dilakukan dengan lima variasi dosis, yaitu dosis 1, 10, 100, 1000 dan 10.000 mg/kg bb. Prosedur pembuatan Suspensi ekstrak sebagai berikut:

a. Pembuatan suspensi ekstrak dosis 10.000 mg/kg bb:

Ekstrak ditimbang sebanyak 5 g, kemudian dibuat dalam 25 ml Na-CMC.

Suspensi ekstrak ini digunakan sebagai larutan baku induk.

b. Pembuatan suspensi ekstrak dosis 1000 mg/kg bb:

Dipipet 2,5 ml dari dosis 10.000 mg/kg bb, dan di ad kan dalam labu 25 ml.

c. Pembuatan suspensi ekstrak dosis 100 mg/kg bb:

Dipipet 2,5 ml dari dosis 1000 mg/kg bb, dan di ad kan dalam labu 25 ml.

d. Pembuatan suspensi ekstrak dosis 10 mg/kg bb:

Dipipet 2,5 ml dari dosis 100 mg/kg bb, dan di ad kan dalam labu 25 ml.

e. Pembuatan suspensi ekstrak dosis 1 mg/kg bb:

Dipipet 2,5 ml dari dosis 10 mg/kg bb, dan di ad kan dalam labu 25 ml.

Universitas Sumatera Utara

34 3.8 Tahapan Kerja

3.8.1 Pengujian LD50

Penelitian ini dilakukan berdasarkan metode Farmakope Indonesia Edisi III dengan menggunakan logaritma dosis yang berurutan. Mencit dikelompokkan menjadi 6 kelompok, masing-masing terdiri dari 10 ekor mencit jantan yaitu:

kelompok kontrol (P1) dan kelompok perlakuan (P2-6).

a. Kelompok 1 (P1): Kontrol, diberi larutan suspensi Na-CMC 0,5% b/v.

b. Kelompok 2 (P2): Perlakuan, diberikan EEDS dengan dosis 1 mg/kg bb.

c. Kelompok 3 (P3): Perlakuan, diberikan EEDS dengan dosis 10 mg/kg bb.

d. Kelompok 4 (P4): Perlakuan, diberikan EEDS dengan dosis 100 mg/kg bb.

e. Kelompok 5 (P5): Perlakuan, diberikan EEDS dengan dosis 1000 mg/kg bb.

f. Kelompok 6 (P6): Perlakuan, diberikan EEDS dengan dosis 10000 mg/kg bb.

3.8.2 Pengamatan

Penimbangan mencit dilakukan pada hari ke-0, kemudian pada hari ke-1 diberi sediaan uji secara oral dan dilakukan pengamatan terhadap gejala toksik dan kematian selama 14 hari (Angelina,dkk., 2008).

3.8.3 Gejala Toksik

Pengamatan terhadap gejala toksik berupa tremor, diare, salivasi, lemas, jalan mundur, dan jalan dengan perut diamati selama 14 hari (OECD, 2001).

3.8.4 Kematian Hewan

Parameter yang diamati dalam perlakuan ini adalah kematian mencit dari hari pertama sampai hari terakhir, nilai LD50 ekstrak etanol daun sirih dan kisaran nilai LD50.

Universitas Sumatera Utara

35 3.8.5 Nilai LD50

Perhitungan nilai LD50 berdasarkan metode Farmakope Indonesia Edisi III dengan rumus:

m = a-b (∑pi – 0,5) LD50 = Anti log m Keterangan:

m = log LD50

a = logaritma dosis terendah yang masih menyebabkan jumlah kematian 100%

tiap kelompok

b = beda log dosis yang berkelipatan

pi = jumlah hewan yang mati menerima dosis i, dibagi dengan jumlah hewan seluruhnya yang menerima dosis i (Ditjen POM, 1979).

LD50 = dosis yang secara terapeutik efektif terhadap 50% dari sekelompok hewan percobaan.

3.8.6 Berat Badan

Perubahan berat badan mencit diamati sebelum dan sesudah pemberian sediaan uji.

3.9 Analisis Statistik

Pengamatan berat badan mencit dianalisis dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution). Data dianalisis dengan menggunakan metode Kolmogorov Smirnov untuk menentukan normalitasnya.

Kemudian dilanjutkan menggunakan metode One Way ANOVA untuk menentukan perbedaan rata-rata di antara kelompok. Jika terdapat perbedaan, dilanjutkan dengan menggunakan uji Mann-Whitney U untuk melihat perbedaan nyata antar perlakuan.

Universitas Sumatera Utara

36 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan

Tumbuhan yang digunakan telah diidentifikasi di Herbarium Medanense (MEDA) Universitas Sumatera Utara. Hasil identifikasi tumbuhan yang diteliti adalah sirih hijau, suku Piperaceae. Surat hasil identifikasi tumbuhan disajikan pada Lampiran 1, Halaman 49.

4.2 Hasil Determinasi Hewan

Hewan yang digunakan telah dideterminasi di “Laboratorium Sistematika Hewan” Departemen Biologi Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara. Surat hasil determinasi hewan disajikan pada Lampiran 2, Halaman 50.

4.3 Hasil Karakterisasi Tumbuhan 4.3.1 Hasil Pemeriksaan Makroskopik

Hasil pemeriksaan makroskopik daun sirih yaitu daun berbentuk bulat telur sampai lonjong, ujung runcing, pangkal berbentuk jantung, sedikit berlekuk, panjang 7-16 cm dan lebar 5-10 cm. Warna hijau kecoklatan, permukaan bawah kasar, kusam, berwarna lebih muda dari permukaan atas. Bau khas dan rasa pedas.

Gambar makroskopik dapat di lihat pada Lampiran 3, halaman 51.

4.3.2 Hasil Pemeriksaan Mikroskopik

Hasil pemeriksaan mikroskopik simplisia daun sirih menunjukkan adanya fragmen epidermis bawah dengan sel minyak, epidermis atas dan berkas pengangkut dengan penebalan berbentuk tangga. Gambar mikroskopik dapat di lihat pada Lampiran 4, halaman 52.

Universitas Sumatera Utara

37 4.3.3 Hasil Pengujian Karakterisasi

Menurut Ditjen POM (2000), standarisasi suatu simplisia adalah pemenuhan terhadap persyaratan sebagai bahan obat dan menjadi penetapan nilai untuk berbagai parameter produk. Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia daun sirih hijau disajikan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia daun sirih

No. Parameter Pengujian Hasil

Diperoleh Persyaratan FHI

1. Penetapan kadar abu total 3,33% ≤ 3,7 %

2. Penetapan kadar abu tidak larut asam 1% ≤ 1,1 %

3. Penetapan kadar air 9,67% ≤ 10 %

4. Penetapan kadar sari larut air 32% ≥ 14,4 % 5. Penetapan kadar sari larut etanol 20,67% ≥ 8,1 %

Hasil uji karakterisasi simplisia daun sirih sesuai dengan persyaratan Farmakope Herbal Indonesia (2010). Perhitungan Hasil Karakterisasi Simplisia Sirih (Piper betle L.) dapat dilihat pada Lampiran 5, halaman 54.

Penetapan kadar air dilakukan untuk memberikan batasan minimal atau rentang tentang besarnya kandungan air dalam simplisia karena tingginya kandungan air menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat, memicu pertumbuhan mikroba, adanya jamur atau serangga (WHO, 1998). Kadar air simplisia ditetapkan untuk menjaga stabilitas kualitas simplisia karena kadar air berkaitan dengan kemungkinan pertumbuhan jamur/kapang. Hasil pengujian kadar air yang diperoleh tidak lebih dari 10% yaitu 9,67%.

Penetapan kadar sari yang larut dalam air dan etanol dilakukan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat tersari dalam air dan etanol dari suatu simplisia. Senyawa yang bersifat polar dan larut dalam air akan tersari oleh air, sedangkan senyawa-senyawa yang tidak larut dalam air dan larut dalam etanol akan tersari oleh etanol (Ditjen POM, 1995).

Universitas Sumatera Utara

38

Penetapan kadar sari dilakukan dengan menggunakan dua pelarut, yaitu air dan etanol. Penetapan kadar sari larut air bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa kimia bersifat polar yang terkandung di dalam simplisia, sedangkan penetapan kadar sari larut etanol dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa larut dalam etanol baik senyawa polar dan non polar. Hasil pengujian kadar sari yang larut air diperoleh nilai sebesar 32%, yang sesuai dengan persyaratan kriteria mutu yang ditentukan yaitu tidak kurang dari 14,4%. Pada pengujian kadar sari yang larut etanol diperoleh nilai sebesar 20,67% yang memenuhi persyaratan kriteria mutu yang ditentukan yaitu tidak kurang dari 8,1% (Kemenkes RI, 2010).

Penetapan kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam bertujuan untuk memberikan jaminan bahwa simplisia tidak mengandung logam berat tertentu melebihi nilai yang ditetapkan karena dapat berbahaya (toksik) bagi kesehatan.

Penetapan kadar abu total menyatakan jumlah kandungan senyawa anorganik dalam simplisia misalnya Mg, Ca, Na, Zn, dan K. Abu total terbagi dua, yaitu abu fisiologis dan abu non fisiologis. Abu fisiologis adalah abu yang berasal dari jaringan tumbuhan itu sendiri, sedangkan abu non fisiologis adalah sisa setelah pembakaran yang berasal dari bahan-bahan luar yang terdapat pada permukaan simplisia (WHO, 1998). Hasil pengujian kadar abu total simplisia daun sirih diperoleh kadar abu total sebesar 3,33% yang sesuai dengan persyaratan kriteria mutu yang ditentukan yaitu tidak lebih dari 3,7% dan kadar abu tidak larut asam sebesar 1% yang sesuai dengan persyaratan kriteria mutu yang ditentukan yaitu tidak lebih dari 1,1% (Kemenkes RI, 2010).

Universitas Sumatera Utara

39 4.4 Hasil Skrining Fitokimia

Uji skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam ekstrak daun sirih. Hasil skrining fitokimia

Uji skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam ekstrak daun sirih. Hasil skrining fitokimia

Dokumen terkait