Peraturan Menteri Kesehatan No. 56 Tahun 2014, jumlah kebutuhan tenaga keperawatan dihitung dengan perbandingan perawat dengan tempat tidur, dimana pada Rumah Sakit Umum Kelas A dan B dibutuhkan 1 (satu) perawat untuk 1 (satu) tempat tidur, sedangkan Rumah Sakit Umum Kelas C dan D dibutuhkan 2 (dua) perawat untuk 3 (tiga) tempat tidur.
Penghitungan kebutuhan tenaga keperawatan berdasarkan beban kerja di ruang perawatan dilakukan dengan metode WISN (Workload Indicators of Staffing Need) (Nursalam, 2014). Analisis kebutuhan tenaga berdasarkan beban
kerja (WISN) adalah indikator yang menunjukkan besarnya kebutuhan tenaga kerja di suatu tempat kerja berdasarkan beban kerja, sehingga alokasi/relokasi akan lebih mudah dan rasional. Kelebihan metode ini mudah dioperasikan, mudah digunakan, secara teknis mudah diterapkan, komprehensif dan realistis (Depkes, 2004).
Pada akhir 1990-an, World Health Organization (WHO) mengembangkan Workload Indicators for Staffing Need (WISN) yaitu suatu prinsip perencanaan lama yang digunakan dalam bisnis dan industri untuk diterapkan pada sektor kesehatan (Pandey, 2013; WHO, 2010). WISN
63 dipopulerkan oleh WHO setelah dilakukan pra uji di sejumlah negara termasuk Kenya, Tanzania, Papua Nugini, Sri Lanka dan Turki (Mussau, 2013).
Metode WISN telah digunakan dalam beberapa cara yang berbeda dan di berbagai negara (Musau, et al., 2008; Shivam, et al., 2014; WHO, 2010). Setiap fasilitas kesehatan termasuk rawat inap, operasi bedah, rujukan, rawat jalan, berbagai jenis klinik, pendidikan kesehatan, dan kunjungan rumah, memiliki pola beban kerja yang berbeda (Pandey, 2013).
Metode penghitungan kebutuhan SDM berdasarkan beban kerja (WISN) adalah suatu metode perhitungan kebutuhan SDM berdasarkan pada beban pekerjaan nyata yang dilaksanakan oleh tiap kategori SDM pada tiap unit kerja di suatu tempat kerja. Perhitungan kebutuhan SDM berdasarkan WISN ini meliputi lima langkah, yaitu sebagai berikut: (Nursalam, 2014)
1. Menetapkan waktu kerja tersedia
Waktu kerja tersedia ditetapan untuk memperoleh waktu kerja tersedia masing-masing kategori SDM yang bekerja selama kurun waktu satu tahun.
Waktu kerja tersedia dihitung dengan menggunakan persamaan 2.1. Data yang dibutuhkan untuk menetapkan waktu kerja tersedia yaitu:
a. Hari kerja, sesuai ketentuan yang berlaku di tempat kerja atau Peraturan Daerah setempat, pada umumnya dalam 1 minggu 5 hari kerja. Dalam 1 tahun 250 hari kerja (5 hari × 50 minggu). (A)
b. Cuti tahunan, sesuai ketentuan setiap SDM memiliki hak cuti 12 hari kerja setiap tahun. (B)
64 c. Pendidikan dan pelatihan, sesuai ketentuan yang berlaku di tempat kerja untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi/profesionalisme setiap kategori SDM memiliki hak untuk mengikuti pelatihan/
kursus/seminar/lokakarya dalam 6 hari kerja. (C)
d. Hari Libur Nasional, berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Terkait tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama, tahun 2002-2003 ditetapkan 15 hari kerja dan 4 hari kerja untuk cuti bersama. (D)
e. Ketidakhadiran kerja, sesuai dengan rata-rata kehadiran kerja (selama kurun waktu 1 tahun), karena alasan sakit, tidak masuk dengan atau tanpa pemberitahuan/izin. (E)
f. Waktu kerja, sesuai ketentuan yang berlaku di tempat kerja atau Peraturan Daerah, pada umumnya waktu kerja dalam 1 hari adalah 8 jam (5 hari kerja/minggu). (F)
(2.1) Keterangan:
A = Hari kerja D = Hari Libur Nasional B = Cuti tahunan E = Ketidakhadiran kerja C = Pendidikan dan pelatihan F = Waktu kerja
Perhitungan waktu kerja tersedia dapat dilakukan menurut kategori SDM apabila ditemukan adanya perbedaan rata-rata ketidakhadiran kerja atau perusahaan menetapkan kebijakan untuk kategori SDM tertentu dapat mengikuti pendidikan dan pelatihan lebih lama dibanding kategori SDM lainnya.
65 2. Menetapkan unit kerja dan kategori SDM
Unit kerja dan kategori SDM ditetapkan untuk memperoleh unit kerja dan kategori SDM yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan kegiatan baik di dalam maupun di luar tempat kerja. Sebagai contoh di rumah sakit, data dan informasi yang dibutuhkan untuk penetapan unit kerja dan kategori SDM adalah sebagai berikut:
a. Bagan struktur organisasi RS dan uraian tugas pokok dan fungsi masing-masing unit dan sub unit kerja.
b. Keputusan Direktur RS tentang pembentukan unit kerja struktural dan fungsional, misalnya: Komite Medik, Komite Pengendalian Mutu RS Bidang/Bagian Informasi.
c. Data pegawai berdasarkan pendidikan yang bekerja pada tiap unit kerja di RS.
d. Undang-undang Nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan.
e. Peraturan perundang-undangan berkaitan dengan jabatan fungsional SDM kesehatan.
f. Standar profesi, standar pelayanan dan standar operasional prosedur (SOP).
Langkah awal yang dilakukan adalah membuat unit kerja dan sub unit kerja sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Setelah unit kerja dan sub unit kerja di RS telah ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menetapkan kategori SDM sesuai dengan kompetensi atau pendidikan untuk menjamin
66 mutu, efisiensi dan akuntabilitas pelaksanaan kegiatan/pelayanan di tiap unit kerja RS.
3. Menyusun Standar Beban Kerja
Standar beban kerja adalah volume/kuantitas beban kerja selama 1 tahun per kategori SDM. Standar beban kerja untuk suatu kegiatan pokok disusun berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya (rata-rata waktu) dan waktu yang tersedia pertahun yang dimiliki oleh masing-masing kategori tenaga.
Data dan informasi yang dibutuhkan untuk menetapkan beban kerja masing-masing kategori SDM utamanya adalah sebagai berikut:
a. Kategori SDM yang bekerja pada tiap unit kerja sebagaimana hasil yang telah ditetapkan pada langkah kedua.
b. Standar profesi, standar pelayanan yang berlaku.
c. Rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh tiap kategori SDM untuk melaksanakan/menyelesaikan berbagai pekerjaan.
d. Data dan informasi kegiatan pelayanan pada tiap unit kerja.
Beban kerja masing-masing kategori SDM di tiap unit kerja adalah meliputi hal-hal berikut:
a. Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh masing-masing kategori SDM.
Kegiatan pokok adalah kumpulan berbagai jenis kegiatan sesuai standar pelayanan dan standar operasional prosedur (SOP) untuk menghasilkan pelayanan perusahaan yang dilaksanakan oleh SDM dengan kompetensi tertentu.
67 b. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tiap kegiatan
pokok.
Rata-rata waktu adalah suatu waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu kegiatan pokok, oleh masing-masing kategori SDM pada tiap unit kerja. Kebutuhan waktu untuk menyelesaikan kegiatan sangat bervariasi dan dipengaruhi standar pelayanan, standar operasional prosedur (SOP), sarana dan prasarana medik yang tersedia serta kompetensi SDM. Rata-rata waktu ditetapkan berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama bekerja dan kesepakatan bersama. Data rata-rata waktu yang cukup akurat dan dapat dijadikan acuan diperoleh dengan membuat ketetapan berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tiap kegiatan pokok oleh SDM yang memiliki kompetensi, standar pelayanan, standar operasional prosedur (SOP), dan memiliki etos kerja yang baik.
c. Standar beban kerja per 1 tahun masing-masing kategori SDM
Standar beban kerja adalah volume/kuantitas beban kerja selama 1 tahun per kategori SDM. Standar beban kerja untuk suatu kegiatan pokok disusun berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya (waktu rata-rata) dan waktu yang tersedia yang dimiliki oleh masing-masing kategori SDM. Perhitungan standar beban kerja dapat diketahui dengan persamaan 2.2 berikut:
(2.2)
68 4. Menyusun Standar Kelonggaran
Standar kelonggaran disusun untuk memperoleh faktor kelonggaran tiap kategori SDM meliputi jenis kegiatan dan kebutuhan waktu untuk menyelesaikan suatu kegiatan yang tidak terkait langsung dan dipengaruhi tinggi rendahnya kualitas atau jumlah kegiatan pokok/pelayanan.
Penyusunan faktor kelonggaran dapat dilaksanakan melalui pengamatan dan wawancara kepada tiap kategori tentang:
a. Kegiatan-kegiatan yang tidak terkait langsung dengan pelayanan pada pelanggan, misalnya: rapat, penyusunan laporan kegiatan, menyusun kebutuhan bahan habis pakai, waktu pribadi, toilet.
b. Frekuensi kegiatan dalam suatu hari, minggu, bulan.
c. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kegiatan.
Pencatatan tersendiri apabila ditemukan kegiatan yang tidak dapat dikelompokkan atau sulit dihitung beban kerjanya karena tidak/kurang berkaitan dengan pelayanan pada pelanggan sebaiknya mulai dilakukan selama pengumpulan data kegiatan penyusunan standar beban kerja untuk selanjutnya digunakan sebagai sumber data penyusunan faktor kelonggaran tiap kategori SDM.
Langkah selanjutnya setelah diperoleh faktor kelonggaran tiap kategori SDM adalah menyusun standar kelonggaran dengan melakukan perhitungan berdasarkan persamaan 2.3.
(2.3)
69 5. Perhitungan kebutuhan tenaga per unit kerja
Perhitungan kebutuhan tenaga per unit kerja tujuannya adalah diperolehnya jumlah dan jenis/kategori SDM per unit kerja sesuai beban kerja selama 1 tahun. Sumber data yang dibutuhkan untuk perhitungsn kebutuhan SDM per unit kerja meliputi:
a. Data yang diperoleh dari langkah-langkah sebelumnya yaitu: waktu kerja tersedia, strandar beban kerja, dan standar kelonggaran masing-masing kategori SDM.
b. Kuantitas kegiatan pokok tiap unit kerja selama kurun waktu satu tahun.
Contoh di Rumah Sakit: Kuantitas kegiatan pokok disusun berdasarkan berbagai data kegiatan pelayanan yang telah dilaksanakan di tiap unit kerja RS selama kurun waktu satu tahun. Kuantitas kegiatan pelayanan Instalasi Rawat Jalan dapat diperoleh dari laporan kegiatan RS (SP2RS), untuk mendapatkan data kegiatan tindakan medik yang dilaksanakan di tiap poli rawat jalan perlu dilengkapi data dari Buku Register yang tersedia disetiap poli rawat jalan. Penyusunan kuantitas kegiatan pokok Instalasi Rawat Inap diperlukan data dasar sebagai berikut:
1. Jumlah tempat tidur
2. Jumlah pasien masuk/keluar 3. Rata-rata sensus harian
4. Rata-rata lama pasien di rawat (Length of Stay/LOS)
70 Data kegiatan yang telah diperoleh dan standar beban kerja dan standar kelonggaran merupakan sumber data untuk perhitungan kebutuhan SDM di setiap instalasi dan unit kerja dengan menggunakan persamaan 2.4 berikut:
(2.4)
Merujuk pada WISN oleh Shipp (1998), langkah terakhir dalam perhitungan WISN dan berhubungan dengan pengambilan keputusan yaitu rasio. Rasio antara kenyataan dan kebutuhan, rasio inilah yang disebut Workload Indicator Staffing Needs (WISN) dengan ketentuan: jika rasio
WISN = 1 artinya SDM cukup dan sesuai beban kerja berdasarkan SOP yang telah ditetapkan, akan tetapi jika rasio WISN < 1 artinya SDM yang ada belum cukup dan belum sesuai beban kerja, misalnya tenaga yang ada 6 sedangkan yang dibutuhkan adalah 8 maka 6/8 = 0,75 atau 75 % tenaga yang tercapai, sedangkan bila rasio WISN > 1 maka SDM berlebihan.
2.5 Hemodialisa
Hemodialisa merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan eksresi dalam tubuh yang tidak mampu lagi diolah oleh ginjal. Biasanya pasien yang menjalani perawatan hemodialisa adalah pasien dengan gagal ginjal kronis (Nurini, Ismonah, & Purnomo 2011). Hemodialisa adalah pengeluaran zat sisa metabolisme seperti ureum dan zat beracun lainnya, dengan mengalirkan darah lewat alat dialyzer yang berisi membran yang selektif permeabel dimana melalui membran tersebut fusi zat-zat yang tidak dikehendaki terjadi. Hemodialisa dilakukan pada keadaan gagal ginjal dan beberapa bentuk
71 keracunan (Christin Brooker, 2001). Tujuan dari terapi ini adalah untuk memperpanjang nyawa pasien dan menjaga kestabilan hidup sampai ginjal dapat berfungsi kembali (Nurini, Ismonah, & Purnomo 2011).
Berdasarkan rekomendasi Persatuan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) (2011) maka penunjukkan penyedia jasa pelayanan hemodialisa bagi peserta Askes harus disetujui oleh direksi dengan persyaratan sebagai berikut:
a. Memenuhi persyaratan sarana unit dialisis yaitu:
1. Mempunyai mesin hemodialisa minimal 2 (dua) unit haemodialisa yang berfungsi aktif dan 1 (satu) unit sebagai cadangan.
2. Mempunyai mesin pengolah air yang menghasilkan air yang memenuhi persyaratan untuk hemodialisa, sedikitnya peralatan water softener, sebaiknya reverse osmosis (standar air dialisis).
3. Mempunyai peralatan medik/obat untuk back up tindakan resusitasi.
b. Memenuhi persyaratan tenaga unit dialisis yaitu:
1. Minimal 1 (satu) orang dokter pelaksana, 1 (satu) orang dokter penanggung jawab, dan 1 (satu) orang supervisor/pengawas unit.
2. Minimal 1 (satu) orang perawat mahir untuk setiap 2 (dua) mesin haemodialisa per shift.
3. Minimal 1 (satu) orang perawat biasa yang terlatih untuk setiap mesin per shift.
4. Tenaga penunjang bidang teknik dan administrasi.
72 c. Kualifikasi staf hemodialisis:
1. Dokter pelaksana adalah dokter umum yang sudah dilatih sekurang-kurangnya 3 bulan dipusat pendidikan yang diakui oleh PERNEFRI.
2. Dokter penanggung jawab adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam plus, yaitu yang telah dididik sekurang-kurangnya 3 bulan dipusat pendidikan yang diakui oleh PERNEFRI.
3. Supervisor atau pengawas unit adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit ginjal-hipertensi (Internist-Nefrologist) yang diakui oleh PERNEFRI.
4. Perawat mahir dialisis adalah perawat yang telah menempuh pendididkan khusus dialisis dan perawatan ginjal intensif sekurang-kurangnya 4 bulan, ditempat pendidikan yang diakui oleh PERNEFRI, dan telah berpengalaman bekerja diunit hemodialisa.
5. Perawat biasa adalah perawat tamatan SPK/Akademi Keperawatan yang sudah dilatih, melakukan dialisis dengan pengawasan perawat mahir.
2.5.1 Proses Perawatan Hemodialisa
Perawat memeriksa tanda-tanda vital pasien sebelum melakukan proses hemodialisa untuk memastikan apakah pasien layak untuk menjalani hemodialisa. Pasien menimbang berat badan untuk menentukan jumlah cairan di dalam tubuh yang harus dibuang pada saat terapi. Langkah berikutnya adalah menghubungkan pasien ke mesin cuci darah dengan memasang blod line (selang darah) dan jarum ke akses vaskular pasien, yaitu akses untuk jalan keluar darah ke dialyzer dan akses untuk jalan masuk darah ke dalam tubuh. Setelah semua
73 terpasang maka proses terapi hemodialisa dapat dimulai. Standar operasional prosedur (SOP) perawatan hemodialisa di RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar dapat dilihat dalam Lampiran 10.
Secara umum, konsep dari perawatan hemodialisa adalah mengalirkan darah pasien yang penuh dengan toksin dan limbah nitrogen ke dialiser untuk dibersihkan, lalu dialirkan kembali ke tubuh pasien. Prosesnya terbagi menjadi 3, yaitu difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi. Selama menjalani perawatan, ada beberapa komplikasi yang mungkin timbul, yaitu: hipertensi, hipovolemia (kedinginan/menggigil, demam, sakit kepala dan kram otot) (Nurini, Ismonah, &
Purnomo, 2011).