• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 37-43

E. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pada prinsipnya metode analisis data adalah salah satu langkah yang ditempuh oleh peneliti untuk menganalisis hasil temuan data yang telah dikumpulkan melalui metode pengumpulan data yang telah ditetapkan. Menganalisis data bertujuan untuk memilah data bersifat penting dan yang akan dipelajari kemudian membuat kesimpulan sehingga memudahkan peneliti dan orang lain dalam memahami objek yang dikaji. Dalam pengolahan data digunakan metode-metode sebagai berikut:

1.

Metode Induktif, yaitu bertitik tolak dari unsur-unsur yang bersifat khusus kemudian mengambil kesimpulan yang bersifat umum.

2.

Metode Deduktif, yaitu menganalisa data dari masalah yang bersifat umum kemudian kesimpulan yang bersifat khusus.

Adapun langkah-langkah yang digunakan untuk analisis data yaitu tahap reduksi data, klasifikasi data, tahap menyajikan data, dan tahap pengecekan keabsahan data.

3Suwardi Endarsawara, Penelitian Kebudayaan:Idiologi, Epistimologi dan Aplikasi (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2006), h. 116.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Islamisasi di Kerajaan Wajo

Wajo berasal dari bajo yaitu nama sebuah pohon yang besar, kokoh, daunnya rimbun dan teduh, tempat persinggahan atau berteduh baik para musafir maupun pemburu. Kemudian lama kelamaan pengucapan bajo menjadi wajo, hal inilah yang menjadi cikal bakal penamaan Wajo.

Kajian tentang masuknya Islam di Sulawesi Selatan seringkali merujuk pada kedatangan tiga tokoh penyebar Islam dari Minangkabau, yaitu Abdul Makmur Datuk ri Bandang, Datuk Sulaiman, dan Abdul Jawad Khatib Bungsu ri Tiro berdasarkan sumber lokal (lontara). Fase persentuhan Islam dengan pihak kerajaan terjadi mulai tahun 1605 ketika Islam bersentuhan langsung dengan kerajaan Luwu dan Gowa. Babak inilah yang mengawali Islam masuk di Sulawesi Selatan. Islam di Kerajaan Wajo secara resmi diterima setelah Arung Matowa Sangkuru mengucapkan syahadat pada hari Selasa 15 Safar 1019 berdasarkan sumber Lontaraq Suqkuna Wajo yang bertepatan dengan hari Ahad 9 Mei 1610 berdasarkan sistem konversi Ahad Marco yang digunakan. Jika sebelumnya hanya menyebutkan angkat tahun saja 1610 H, dan merujut dari sumber LGBT 10 Mei 1610 berdasarkan konversi masehi dengan menggunakan tabel Van Wustenveld bertepatan hari Selasa 16 Safar 1019, terdapat persamaan hari (Selasa) tetapi terjadi perbedaan penanggalan satu hari seharusnya 16 safar 1019 bertepatan pada hari Rabu.

Menurut teori Noorduyn proses Islamisasi dibagi menjadi tiga tahap: pertama kedatangan Islam, proses ini merupakan prakondisi yang merupakan tahap awal

pengenalan terhadap Islam di Wajo dengan merujuk pada teori Alawiyyin serta pelayaran dan perdagangan. Sedangkan prakondisi yang dijelaskan dalam Lontaraq

Suqkuna Wajo halaman 142-143, sebelum karaeng Gowa menerima Islam terlebuh

dahulu pergi ke Wajo menyapa balubu arung matowa Wajo Lamungkace To Uddama Matinroe ri Kanana yang wafat 1602 tiga tahun sebelum masuknya Islam di kerajaan Gowa karena telah diamanatkan oleh Lamungkace sewaktu datang membesuknya di Wajo. Pernyataan Arung Matowa Lasangkuru yang dikemukakan oleh Datuk Sulaiman bahwa keyakinan yang saya warisi dari Arung Matowa Lamungkace

akkatenniqku yanaritu Dewata Seuwwae puwang seuwwae, iyami mapakangka maqpadeq, patuwo pauno, puweng memengi teqkepamula teqkepaccapureng, deq nakeonrong sangadinnae aqkelona agi-agi apoelo iyatoni nangoloi ati sibawa watakale,keyakinanku pada Dewata Seuwwae (Tuhan Yang Tunggal) Dialah yang

menciptakan dan Dia pulalah yang memusnahkan, menghidupkan, dan mematikan, sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang tidak ada awal dan akhirnya, tidak bertempat tinggal kecuali hendak-Nya, apa saja yang dikehendaki itu jugalah yang dihadapkan (oleh) hati dan tubuh, pemberitaan Lontaraq Suqkuna Wajo ini secara kritis Lamungkace lebih cederung kepada Agama Islam.

Proses kedua penerimaan Islam, diinterpretasikan sebagai penerimaan agama Islam secara resmi oleh elite kerajaan ketika kerajaan Wajo diserang sebagai musu

sellenge dan kekalahan menghampirinya, Arung Matowa Wajo Sangkuru Patau

Sultan Abd. Rahman memilih jalan diplomasi dengan Karaeng Gowa Sultan Alauddin, serta bersedia beralih keyakinan pada agama Islam yang diikuti oleh beberapa pejabat kerajaan Wajo. Proses ketiga penyebarannya lebih lanjut, tahap ini menyebarluaskan pada akar rumput setelah Islam diterima secara resmi oleh pihak

kerajaan selanjutnya disebarluaskan kepada seluruh rakyat Wajo. Penyebaran Islam di Wajo diperkenalkan melalui lembaga Istana sehingga mudah disebar pada level akar rumput sebagaimana teori Ibnu Kaldun “rakyat akan mengikuti agama raja” dan pola pemikiran rakyat Wajo bahwa arung matowa sebagai pemimpin negeri selalu memikirkan dan menunjukkan jalan kebaikan untuk rakyat Wajo.1

Sebagaimana proses masuknya Islam di Wajo yang disebarluaskan kepada seluruh rakyat Wajo tak terkecuali rakyat di Keera yang juga memeluk Islam, sehingga pola kehidupan masyarakat yang sebelumnya memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme secara perlahan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Kondisi Geografis

Keera adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Wajo yang berada dalam ruang lingkup daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah Kecamatan Keera ± 386,36 𝑘𝑚2. Adapun batas-batas administrasi Kecamatan Keera Kabupaten Wajo yaitu sebagai berikut:

Sebelah Barat Laut berbatasan dengan Kabupaten Sidrap.

Sebelah Timur Laut berbatasan dengan Kecamatan Pitumpanua. Sebelah Tenggara berbatasan dengan Teluk Bone.

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sajoanging. Serta sebelah Barat Daya berbatasan dengan Kecamatan Gilireng. Dalam hal pembagian wilayah administratif, pada tahun 2017 Kecamatan Keera terbagi menjadi 10 Desa dan Kelurahan, yang dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 4.1 Luas Wilayah Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Keera, 2017.

1Husnul Fahimah Ilyas, Lontaraq Suqkuna Wajo: Telaah Ulang Awal Islamisasi Wajo (Cet. I; Tangerang Selatan: Lembaga Studi Islam Progresif, 2011), h.454.

No. Desa/Kelurahan Luas (𝑘𝑚2) Presentase 1. Lalliseng 45,17 12,26 2. Pattirolokka 45,16 12,26 3. Inrello 62,50 16,97 4. Ciromanie 30,23 8,21 5. Ballere 31,04 8,43 6. Keera 23,15 6,28 7. Paojepe 41,66 11,31 8. Labawang 12,05 3,27 9. Awota 37,15 10,09 10. Awo 40,25 10,93 Keera 368,36 100,00

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Wajo

Tabel 4.2 Jumlah Dusun/Lingkungan Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Keera, 2017.

No. Desa/Kelurahan Dusun Lingkungan RW RT

2. Pattirolokka 2 - - - 3. Inrello 3 - - - 4. Ciromanie 3 - - - 5. Ballere - 2 - - 6. Keera 4 - - - 7. Paojepe 4 - - - 8. Labawang 2 - - - 9. Awota 4 - - - 10. Awo 5 - - - Keera 32 2 - -

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Wajo 3. Keadaan Penduduk

Masalah utama kependudukan yang dihadapi dewasa ini adalah pada dasarnya meliputi tiga pokok yaitu jumlah penduduk yang besar, komposisi penduduk yang kurang menguntungkan dimana proporsi penduduk yang berusia muda masih lebih banyak dan penyebaran penduduk yang kurang merata. Adapun jumlah penduduk di Kecamatan Keera pada tahun 2017 sebanyak ±22.386 jiwa dengan kepadatan penduduk 61 per 𝑘𝑚2.

Kepadatan penduduk yang kurang merata merupakan permasalahan yang sampai saat ini belum tuntas, keadaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pendidikan, kesempatan kerja, dan lain-lain. Di Kecamatan Keera kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kelurahan Ballere, hal ini dikarenakan Kelurahan Ballere merupakan pusat kegiatan baik pemerintahan maupun perekonomian untuk tingkat kecamatan. Kepadatan penduduk perdesa/kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Perdusun/Lingkungan di Kecamatan Keera, 2017. No. Desa/Kelurahan Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk per 𝑘𝑚2 Presentase (%) 1. Lalliseng 3210 71 14,34 2. Pattirolokka 1650 37 7,37 3. Inrello 2952 47 13,19 4. Ciromanie 1165 39 5,20 5. Ballere 2875 93 12,84 6. Keera 1425 62 6,37 7. Paojepe 2254 54 10,07 8. Labawang 889 74 3,97

9. Awota 2818 76 12,59

10. Awo 3148 78 14,06

Keera 22386 61 100.00

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Wajo 4. Mata Pencaharian

Mata pencaharian selain sebagai sumber nafkah, juga dapat dijadikan tolak ukur pemenuhan ekonomi penduduk, adapun mata pencaharian pokok penduduk di Kecamatan Keera adalah bertani (menanam padi), berkebun (menanam jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar), dan peternak (sapi, ayam, dan kambing).

5. Pendidikan

Program pendidikan merupakan program yang tidak kalah pentingnya bagi kebijakan pengaturan masalah kependudukan. Pendidikan adalah salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan sumber daya manusia, faktor pendidikan merupakan salah satu modal yang manfaatnya akan dapat dinikmati oleh penduduk untuk masa yang sangat panjang yang sering disebut dengan masa depan, mengenai tingkat pendidikan yang ada di Kecamatan Keera yaitu TK, SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, dan Aliyah.

6. Sistem Kepercayaan

Masyarakat Kecamatan Keera mayoritas beragama Islam, segala sesuatu berkaitan dengan ajaran-ajaran Islam, segala aktivitas hidup sehari-hari harus sejalan dengan agama Islam, karena Islam tidak mengajarkan sesuatu yang buruk dan selalu menuju kearah kebaikan, dilandasi oleh moral yang baik sesuai tuntunan ajaran

agama Islam. Jumlah penduduk menurut desa/kelurahan dan agama yang dianut pada tahun 2017 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Dusun/Lingkungan dan Agama yang Dianut di Kecamatan Keera, 2017.

No Desa/Kelurahan Islam Protestan Katolik Hindu Budha Lainnya

1. Lalliseng 3210 - - - - - 2. Pattirolokka 1650 - - - - - 3. Inrello 2952 - - - - - 4. Ciromanie 1163 2 - - - - 5. Ballere 2875 - - - - - 6. Keera 1425 - - - - - 7. Paojepe 2250 4 - - - - 8. Labawang 889 - - - - - 9. Awota 2818 - - - - - 10. Awo 3148 - - - - - Keera 2280 6 0 0 0 0

Dalam masyarakat Kecamatan Keera, Islam bukan hanya sebuah agama tetapi juga sebuah budaya, sehingga agama Islam tidak dapat dipisahkan dengan kebiasaan hidup sehari-hari pada masyarakat setempat. Masuknya Islam di Kecamatan Keera tidak serta merta mematikan tradisi ataupun adat masyarakat yang telah berkembang sebelumnya, beberapa adat dan kebiasaan lokal masih tetap berjalan beriringan dengan pelaksanaan ajaran agama Islam. Kepercayaan lokal tradsional berkaitan dengan dunia supranatural masih ada dalam konsep hidup masyarakat Kecamatan Keera. Sebagaian besar masyarakat masih percaya akan adanya roh leluhur serta mengenal akan adanya unsur-unsur gaib dan makhluk halus sebagai sumber malapetaka dan kesejahteraan hidup manusia, arwah leluhur dianggap tetap hidup dan memperhatikan tindakan anak cucunya. Sehubung dengan kepercayaan tersebut maka timbul pemujaan dan persembahan kepada arwah leluhur dan makhluk halus melalui upacara selamatan maupun sesajian.

B. Bentuk Prosesi Pernikahan Adat di Kecamatan Keera Kabupaten Wajo

Menurut hasil penelitian penulis bahwa masyarakat di Kecamatan Keera Kabupaten Wajo masih memegang teguh adat istiadat nenek moyangnya yang diwarisi secara turun temurun selama berabad-abad. Mereka memandang bahwa adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang sepatutnya dijadikan prinsip hidup dalam kehidupan. Salah satu bentuk keteguhan masyarakat Kecamatan Keera Kabupaten Wajo dalam mempertahankan kebudayaannya dapat dilihat pada upacara pernikahan.

Dalam adat pernikahan masyarakat Kecamatan Keera Kabupaten Wajo terdapat beberapa prosesi atau tahap kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan rangkaian yang berurutan yang tidak boleh saling tukar menukar, kegiatan ini hanya

dilakukan pada masyarakat Kecamatan Keera yang betul-betul masih memelihara adat istiadat. Pada masyarakat Kecamatan Keera sekarang ini masih kental dengan kegiatan tersebut, karena hal itu merupakan hal yang sewajarnya dilaksanakan karena mengandung nilai-nilai yang sarat akan makna, diantaranya agar kedua mempelai dapat membina hubungan yang harmonis dan abadi, juga agar hubungan antar dua keluarga tidak retak.

Adapun prosesi adat pernikahan masyarakat Kecamatan Keera Kabupaten Wajo yaitu: (1) prosesi sebelum melamar secara resmi, (2) prosesi melamar, (3) prosesi mengikat janji, (4) prosesi pada malam menjelang pernikahan, (5) prosesi acara pernikahan (matagau), dan (6) prosesi setelah acara pernikahan berlangsung.

Untuk lebih jelasnya berikut penulis akan menguraikan satu persatu prosesi adat pernikahan di Kecamatan Keera Kabupaten Wajo, sebagai berikut:

1. Prosesi sebelum melamar secara resmi

Seorang laki-laki yang ingin mempersunting seorang perempuan, sebelum ia menyampaikan maksudnya kepada pihak perempuan maka ia terlebih dahulu melakukan penyelidikan, apakah perempuan tersebut masih gadis atau sudah ada yang datang mendahului melamarnya, apakah ia berakhlak baik dan cocok untuk dijadikan ibu rumah tangga dan hal-hal lainnya yang penting untuk diteliti berhubungan dengan kelangsungan pernikahan tersebut. Biasanya pihak laki-laki mengirim utusan dari orang yang lebih tua untuk menjajaki keadaan perempuan yang akan dinikahinya.

Pertama-tama utusan mendatangi rumah tetangga sang perempuan untuk mengintainya secara langsung, maksud utusan mengintai secara langsung yaitu untuk

mengetahui tentang cacat atau tidaknya, sifat keibuan atau kekanak-kanakannya, dan seterusnya.

Tahap kedua setelah pengintaian dan penyelidikan, utusan melakukan penjajakan langsung kerumah perempuan sendiri. Dalam hal ini, utusan bertemu dengan keluarga perempuan dan memancing untuk membeberkan informasi yang dibutuhkan sehubungan dengan keadaan gadis yang dimaksud. Menurut suku Bugis, peristiwa ini disebut dengan istilah mammanu-manu.

Orang Bugis menyebutnya dengan istilah “mammanu-manu. Manu dalam bahasa Bugis yang artinya “ayam”. Mammanu-manu artinya berlagak seperti dua ekor ayam sabung yang sedang saling berhadap-hadapan, masing-masing dalam posisi mengancang-ancang. Maksudnya kedua belah pihak (utusan dan keluarga perempuan) berlagak seperti dua ekor ayam sabung, saling jajak menjajaki keinginan masing-masing.2

2. Prosesi melamar

Melamar dalam bahasa Bugis (ma’duta) sedangkan Makassar (assuro), menurut adat yang berlaku dalam budaya Bugis-Makassar, laki-laki yang akan melamar seorang perempuan, ia tidak boleh langsung memintanya kepada wali perempuan calonnya, tetapi harus melalui delegasi yang diutus untuk kepentingan tersebut.

Merupakan prosesi yang paling menentukan diterima atau tidaknya maksud baik kedatangan keluarga mempelai laki-laki, dalam acara ini yang mengambil alih adalah orang yang paling dituakan dalam keluarga dan berpengalaman atau yang

2Susan Bolyard Millar, Perkawinan Bugis: Refleksi Status Sosial dan Budaya di Baliknya (Cet. I; Makassar: Ininnawa, 2009), h. 89.

dimaksud dengan tau toa, sebagai orang yang berpengalaman biasanya jumlahnya tidak terlalu banyak sekitar 3-5 orang saja, dalam pembahasannya pihak laki-laki mengutarakan maksud kedatangannya, apabila maksud kedatangannya ditanggapi positif maka keduanya sepakat untuk mencari waktu membicarakan kelanjutan pembicaraannya kembali.

3. Prosesi mengikat janji

Mengikat janji sesudah lamaran diterima oleh masyarakat Kecamatan Keera Kabupaten Wajo disebut Mappettu Ada dan Mappaserrekkeng. Maksud dari istilah diatas adalah penyelesaian akhir dari hasil-hasil yang telah dicapai pada perundingan-perundingan sebelumnya dan pada masa pelamaran. Hal-hal yang menghendaki kata akhir dari kedua belah pihak adalah hal-hal yang berhubungan dengan mahar (sompa), uang belanja dan jenis barang pemberian yang akan diserahkan oleh calon mempelai laki-laki. Pada pembahasan mahar secara khusus dalam konsep kekinian ada berbagai factor yang mempengaruhi jumlah mahar dan uang belanja yaitu keturunan atau kekayaan yang dimilikinya serta tingkat pendidikan yang ditempuhnya. Masalah sompa atau mahar dalam adat istiadat masyarakat Kecamatan Keera sangat kuat yang mempunyai tingkatan-tingkatan berdasarkan nilai-nilai dari kualitas dari sompa itu sendiri dan stratifikasi orang yang akan diberi sompa.

Didalam masyarakat Kecamatan Keera ada dua tingakatan yakni:

a. Sompa yang terdiri dari 88 real senilai 12 gram emas, yang berlaku bagi keturunan arung (bangsawan).

b. Sompa yang terdiri dari 44 real senilai 6 gram emas yang tingkatan untuk orang biasa (sompa yang dipakai masyarakat pada umumnya).3

Keputusan lain yang diambil dalam fase mengikat janji ini adalah penentuan hari, tanggal, dan bulan pernikahan. Setelah waktu pernikahan ditentukan, disusul pembicaraan yang sifatnya insidentil, seperti pakaian yang akan dikenakan kedua mempelai, sederhana atau mewahnya pesta, dan hal-hal lain yang dianggap perlu.

Menurut adat, pengantin wanita memiliki dua jenis pakaian pengantin, sigera dan baju tokko’ (baju bodo). Sigera adalah pakaian mahkota yang biasa dikenakan oleh raja-raja di Bugis, yaitu topi yang bersulang emas, baju jubah yang terbuat dari benang sutera yang berhias dan sebilah keris yang terselip dipinggang. Inilah bentuk sigera yang digunakan oleh pengantin mempelai laki-laki. Sedangkan untuk pengantin mempelai perempuan, model sigeranya adalah berupa sanggul tinggi yang dibentuk menyerupai ekor melengkung dan dilengkapi dengan hiasan-hiasan, orang Bugis menyebutnya dengan nama “simpolong tettong”. Baju atau pakaian yang digunakan adalah baju tokko’ (baju bodo). Untuk warna baju yang digunakan oleh kedua pengantin di Kabupaten Wajo khususnya di Kecamatan Keera terdapat tiga jenis warna baju yaitu warna merah, kuning, dan putih.4

Setelah semua keputusan disepakati, prosesi adat selanjutnya adalah matenre

dada’ yang dalam bahasa Bugis berbunyi “ada’ nonno ada’ menre natenre maneng”

memiliki makna bahwa seluruh keputusan yang telah disepakati bersama antara kedua belah pihak sudah mutlak tidak dapat diubah di kemudian hari. Dalam prosesi ini pun pihak keluarga laki-laki memberikan baju tokko (baju bodo) dan lipa sabbe

3Indo Asse (73 tahun), Tokoh Masyarakat Kecamatan Keera, Wawancara, Keera, 24 Juni 2019.

(sarung sutra) kepada calon pengantin perempuan sebagai simbol dari matenre dada’.5 Setelah prosesi ini selesai secara tradisional, kedua mempelai memasuki semacam tahap semi pemingitan yang dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah

arapo-rapong, setelah keduanya resmi bertunangan mereka tidak boleh sibuk bekerja

dan harus menyimpan tenaga dimasa transisi yang dipercaya sangat rentang terhadap hal-hal eksternal rohani maupun jasmani. Lagi pula, calon pengantin laki-laki dan perempuan yang telah bertunangan dibatasi pemunculannya di depan umum, karena masa itu dipercaya sebagai detik-detik penantian yang sangat peka terhadap kemungkinan terkena ancaman guna-guna atau ilmu hitam.

Hal-hal lain yang penulis kemukakan pada bagian ini adalah masalah undangan, sebab masalah inipun memakai tatanan adat. Hari ketujuh menjelang pelaksanaan akad nikah atau resepsi pernikahan, kedua belah pihak telah memulai menyebarkan undangan mereka. Ada dua cara yang biasa digunakan dalam mengundang tamu-tamunya, yaitu:

a. Undangan langsung secara lisan yang dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah madduppa’ (mengundang).

b. Undangan langsung secara tertulis yang dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah mattale’ undangeng (menyebar undangan).

Undangan yang secara lisan, biasanya dilakukan secara langsung oleh orang tua dari calon pengantin yang bersangkutan atau oleh keluarga terdekat, ditemani beberapa orang dari pihak keluarga terdekat pula. Jika madduppa’ dilakukan tepat pada tujuh hari menjelang akad nikah atau resepsi pernikahan maka disebut mappitu’

5Nurhawati (43 tahun), Tokoh Masyarakat Kecamatan Keera, Wawancara, Keera, 25 Juni 2019.

(bertujuh) artinya tujuh hari menjelang akad nikah atau resepsi pernikahan dan orang yang pergi pun terdiri dari tujuh orang yang berpakaian lengkap yaitu laki-laki mengenakan jas tutup dan perempuan mengenakan baju tokko’ (baju bodo) dan lipa’ sabbe’ (sarung sutera) dan memberikan sebatang rokok kepada tuan rumah. Dalam hal ini, undangan demikian bersifat lebih menghargai dan menghormati orang-orang yang diundangnya pun ditujukan kepada keluarga-keluarga terdekat, bangsawan, tokoh adat, dan tokoh masyarakat.

Undangan lainnya selain undangan lisan yang dikemukakan, ada pula undangan tertulis yang biasanya diantarkan oleh pemuda pemudi yang berpakaian lengkap laki-laki mengenakan jas tutup dan perempuan mengenakan baju tokko (baju

bodo) lengkap dengan sarung sutera. Mereka mulai mengantarkan undangan pada

tujuh hari hingga tiga hari menjelang akad nikah atau resepsi pernikahan dilangsungkan.

4. Prosesi pada malam menjelang pernikahan

Pada malam menjelang pernikahan dalam bahasa Bugis disebut pula dengan malam “tudang penni” ialah duduk bersama pada malam hari menjelang pernikahan. Pengertian sesungguhnya ialah duduk bermusyawarah bersama dimalam hari, pada malam tudang penni ini biasanya dimusyawarahkan tentang kelengkapan untuk menyempurnakan pelaksanaan pesta pernikahan, abellong-bellong, termasuk hal-hal yang nantinya dibutuhkan.

Pada malam tudang penni diadakan prosesi mappacci, kata “mappacci” berasal dari kata pacci yaitu daun pacar. Pacci dalam bahasa Bugis berarti bersih atau suci. Setelah mempelai pengantin duduk dipelaminan berbagai perlengkapan disiapkan di depannya dengan cara disusun dari bawah ke atas yaitu satu buah bantal

sebagai simbol mappakalebbi (penghormatan), tujuh lembar sarung sutera sebagai simbol harga diri, selembar pucuk daun pisang sebagai simbol kehidupan yang berkesinambungan, tujuh sampai sembilan daun nangka sebagai simbol harapan, beras sebagai simbol berkembang dengan baik, sebatang lilin yang dinyalakan sebagai simbol penerangan, daun pacar sebagai simbol kebersihan atau kesucian dan baki’ (tempat pacci yang terbuat dari logam) sebagai simbol penyatuan dua insan.6

Setelah semua perlengkapan siap, selanjutnya pembawa acara mengundang satu persatu kerabat dan beberapa tamu undangan untuk meletakkan atau mengusapkan pacci ketelapak tangan calon mempelai, adapun orang-orang yang diundang biasanya orang yang memiliki kedudukan sosial yang baik dan kehidupan rumah tangga yang bahagia, hal ini dimaksudkan agar calon mempelai kelak akan hidup seperti mereka.

Adapun tata cara pelaksanaan mappacci yaitu mula-mula orang yang telah ditunjuk mengambil sedikit daun pacci dari dalam baki’ kemudian meletakkan atau mengusapkannya pada kedua telapak tangan calon mempelai yang dimulai dari telapak tangan kanan ke telapak kiri yang disertai dengan baca-baca assalamakeng (doa-doa kesalamatan) agar semoga calon mempelai kelak dapat hidup bahagia, pada saat orang-orang tersebut meletakkan pacci, sesekali indo botting (inang pengantin) yang duduk disamping mempelai menghamburkan beberapa butir beras kepada calon mempelai maupun orang yang telah meletakkan pacci.

6Indo Asse (73 tahun), Tokoh Masyarakat Kecamatan Keera, Wawancara, Keera, 24 Juni 2019.

5. Prosesi pesta pernikahan (matagau)

Upacara akad nikah merupakan puncak acara dari keseluruhan acara yang dilaksanakan dalam rangkaian pernikahan. Orang Bugis menyebutnya dengan istilah

matagau yang artinya inti acara.

Secara garis besar, upacara atau resepsi pernikahan dibagi menjadi beberapa tahap yaitu:

a. Mengantara’ botting (mengantar pengantin)

Mengantara botting adalah mengantar mempelai laki-laki kerumah mempelai

perempuan untuk melaksanakan beberapa serangkaian kegiatan seperti akad nikah, mappasikarawa dan beberapa rangkaian kegiatan lainnya. Mempelai laki-laki diantar oleh pangantara botting (pengantar pengantin) tanpa kehadiran kedua orang tuanya, adapun orang-orang yang ikut dalam iring-iringan tersebut diantaranya indo’ botting, dua orang passa’pi (pendamping mempelai) yang terdiri dari anak laki-laki, beberapa kerabat dan orang-orang tua sebagai

Dokumen terkait