• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Metodologi Penelitian

5. Metode pengolahan dan analisis data

Peneliti telah melakukan klasifikasi terhadap hadis-hadis ibadah, dan mendapatkan sebanyak 50 hadis yang terkait. Hasil ini diperoleh dengan pendekatan redaksi matan hadis, dan tidak menafikan pendekatan maknanya, karena dalam beberapa kasus, misalnya ditemukan hadis yang menggunakan kata ‘s}alat’ yang tidak bisa diklasifikasi sebagai hadis shalat karena kata tersebut tidak berarti shalat melainkan berarti shalawat kepada Nabi saw.

Pengolahan selanjutnya dilakukan dengan mengamati kedekatan redaksional dari 50 hadis tersebut, yang dari sini diperoleh bahwa terdapat sejumlah hadis yang redaksinya hampir sama atau bahkan persis sama, sehingga dianggap hadis bersangkutan berulang, meski dengan jalur periwayatan yang berbeda. Dari proses ini ditemukan bahwa dianggap 18 hadis yang akan dilanjutkan ke analisis selanjutnya.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam analisis data secara sistematis dapat dirincikan sebagai berikut:

a. Proses pertama dari kajian masing-masing hadis adalah proses takhri>j, takhri>j dalam arti menelusuri hadis-hadis dari sumber aslinya. Penulis melakukan takhri>j sebagai proses recheck sekaligus penyempurna terhadap takhri>j yang dipaparkan oleh al-Madani>, sehingga hasil takhri>j al-Madani> pada fase ini sementara tidak digunakan. Peneliti mendahulukan kitab standar dalam menelusuri hadis-hadis, khususnya al-Kutub al-Tis‘ah, dan beberapa kitab sahih seperti S{ah}i>h} Ibn H{ibba>n, S{ah}i>h} Ibn Khuzaimah, dan al-Mustadrak ala al-H{a>kim. Maksudnya adalah bahwa peneliti hanya akan menggunakan kitab-kitab selain dari kitab-kitab tersebut jika hadis terkait tidak ditemukan dalam kitab-kitab standar yang disebutkan. Namun jika hadis terkait telah ditemukan dalam kitab standar, maka peneliti merasa cukup dan tidak menggunakan kitab yang lain.

b. Hadis yang telah ditakhri>j dirangkum seluruh jalur sanadnya dalam sebuah skema sanad, agar lebih mudah untuk mengetahui jalur-jalur riwayat yang terkait. Skema sanad akan dilampirkan pada bagian tertentu di akhir tesis ini. c. Adapun hadis yang tidak ditemukan sanadnya setelah penelusuran maksimal

di dalam berbagai kitab-kitab hadis, maka hadis bersangkutan disimpulkan la> as}la lahu> (tidak ada sumbernya/dasarnya). Penilaian demikian diambil dengan alasan bahwasanya hadis yang tidak memiliki sanad layak diklaim tidak memiliki dasar untuk disebut sebagai hadis.

d. Proses kajian selanjutnya adalah kajian terhadap sanad hadis. Dengan demikian, penelitian tidak akan dilanjutkan terhadap hadis-hadis yang tidak

ditemukan sanadnya, baik karena hadisnya sendiri yang tidak ditemukan dalam kitab hadis, ataupun hadisnya hanya terdapat dalam kitab yang tidak menyertakan sanad, misalnya kitab Musnad al-Firdaus karya al-Dailami>. e. Adapun hadis yang terdiri dari beberapa riwayat, sanad yang diteliti adalah

pilihan dari salah satu jalur periwayatan yang ada.

f. Penelitian pertama terhadap jalur riwayat yang telah dipilih adalah penelitian rija>l al-h}adi>s\, untuk mengetahui ketersambungan sanad dan kualitas periwayat. Untuk kepentingan itu pula, maka dikaji tentang s}i>gat yang digunakan masing-masing periwayat dalam periwayatannya.

g. Penelitian sanad hadis tertentu yang terdiri atas satu jalur riwayat saja, akan dihentikan dan tidak dilanjutkan sampai ke periwayat terakhir, jika mendapati periwayat yang disepakati ked}a‘ifannya. Karena peneliti tidak merasa ada kepentingan selanjutnya, dan sudah bisa mengambil kesimpulan sampai pada tahap tersebut. Demikian pula pada kasus yang sejak awal terindikasi mauqu>f, maqt}u>, atau ada keterangan dari penulis kitab bahwa hadis bersangkutan mursal atau maud}u>‘, dan tidak ada kemungkinan meningkat kualitasnya karena periwayatan yang berdiri sendiri.

h. Jika sanad hadis yang diteliti dinilai sebagai sanad sahih, maka jalur-jalur riwayat yang lain dianggap terwakili sehingga tidak perlu dikaji lagi. Adapun jika sanad yang diteliti disimpulkan berkualitas h}asan atau d}a‘i>f, maka akan dikaji secara singkat jalur yang lain untuk mencari kemungkinan terdukungnya sanad yang pertama. Pada bagian ini i‘tiba>r al-sanad dan pendekatan sya>hid dan muta>bi‘ akan turut menentukan kesimpulan akhir kualitas sebuah hadis.

i. Kesimpulan akhir dari penelitian sanad merupakan pertimbangan untuk melanjutkan ke penelitian matan. Bagi hadis yang disimpulkan sahih atau hasan saja yang akan dilanjutkan ke penelitian matan. Sedangkan hadis yang disimpulkan d}a‘i>f atau maud}u>‘ tidak dilanjutkan ke penelitian matan.

j. Hasil kajian sanad dan matan adalah pijakan dalam menentukan kehujjahan atau kelayakan sebuah hadis untuk diterima dan digunakan sebagai dalil pengamalan. Maka pada bagian kajian kehujjahan akan digunakan kaidah tersendiri yaitu kaidah kehujjahan hadis, khususnya terkait pengamalan hadis d}a‘i>f terkait fadhilah amal.

k. Setelah memaparkan kesimpulan kualitas dan kehujjahan masing-masing hadis, bagian selanjutnya adalah kesimpulan secara keseluruhan hadis-hadis tersebut, yang kemudian menjadi acuan dalam memberikan pandangan umum terhadap kualitas dan kehujjahan hadis qudsi, khususnya terkait ibadah mahdah dan hadis qudsi secara umum.

G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan didasari kepentingan untuk memenuhi beberapa tujuan berikut ini:

a. Untuk mengetahui kriteria atau standar identifikasi hadis qudsi yang digunakan oleh al-Madani> dalam kitabnya al-Ittih{a>fa>t al-Saniyyah fi> al-Ah}a>di>s\ al— Qudsiyyah.

b. Untuk mengetahui kualitas hadis-hadis qudsi, khususnya terkait ibadah, yaitu ibadah shalat, puasa, dan haji, yang terkait fadhilah amal, yaitu hadis-hadis yang sangat dibutuhkan oleh semua kalangan masyarakat muslim sebagai dalil

ibadah, baik di kalangan masyarakat awam sampai kalangan akademis. Hadis-hadis ibadah selalu menjadi bahan penting dalam berbagai forum keagamaan, baik formal ataupun non-formal, dan terlebih lagi dalam ceramah dan khutbah para dai dan khatib. Oleh karena itu sangat urgen mengetahui derajat hadis-hadis tersebut, dari sahih, h}asan, d}a‘i>f, ataupun maud}u>‘-nya. Sehingga masyarakat bisa selektif dalam menggunakan hadis sebagai dalil dalam beribadah.

c. Untuk mengetahui kehujjahan hadis-hadis ibadah dalam kitab Ittih}a>fa>t al-Saniyyah bi al-Ah}a>di>s\ al-Qudsiyyah. Kehujjahan hadis tidak serta merta diperoleh dari pengetahuan akan kualitas hadis, karena kehujjahan hadis ditentukan dengan kaidah tersendiri. Kehujjahan hadis adalah persoalan dapat tidaknya suatu hadis dijadikan dasar pemahaman dan pengamalan suatu ibadah. 2. Kegunaan penelitian

a. Kegunaan Teoretis

1) Penelitian ini akan menambah referensi dalam kajian hadis, khususnya terkait hadis qudsi yang notebene kurang mendapatkan perhatian untuk dikaji secara ilmiah. Dan dengan demikian, penelitian ini dapat menjadi sumbangsih akademis yang menghadirkan motivasi dalam upaya pengembangan kajian hadis, untuk terus meninjau dan menguji ulang kajian-kajian terdahulu yang terkadang sudah dianggap final.

2) Penelitian ini akan menguji eksistensi kitab Ittih}a>fa>t Saniyyah bi al-Ah}a>di>s\ al-Qudsiyyah sebagai referensi utama hadis qudsi, terkhusus hadis-hadis ibadah dalam berbagai kepentingan kajian keagamaan yang terkait.

b. Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu rujukan penting dalam pembelajaran dan pengamalan hadis, baik dalam konteks pembelajaran dan kajian formal maupun dalam dakwah dan ceramah-ceramah keagamaan. Hasil penelitian ini sangat dibutuhkan masyarakat umum, karena masyarakat wajib mengetahui kualitas dan status kehujjahan sebuah hadis sebelum digunakan sebagai dalil pemahaman dan pengamalan hadis agar terhindar dari hadis-hadis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Apatah lagi hadis yang dikaji di sini adalah hadis-hadis ibadah, yang notebene berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Dokumen terkait