• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Analisis Matriks Internal Factor Evaluation (IFE)

Matriks IFE mengklasifikasikan faktor-faktor internal menjadi kekuatan dan kelemahan perusahaan. Format matriks Internal Factor Evaluation dapat dilihat pada Tabel 4. Tahapan dalam mengidentifikasi faktor-faktor strategis internal dalam matriks IFE adalah sebagai berikut (David, 2009):

1. Membuat daftar faktor strategis internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan. 2. Memberikan bobot pada setiap faktor dari 0,0 (tidak penting) sampai 1,0 (paling

penting). Bobot itu mengindikasikan signifikasi relative dari suatu faktor terhadap keberhasilan perusahaan. Jumlah seluruh bobot harus sama dengan 1,0.

Teknik yang digunakan untuk menentukan bobot dari faktor internal dan eksternal adalah teknik Pairwise Comparison. Teknik ini membandingkan setiap variabel pada baris (horizontal) dengan variabel pada kolom (vertikal). Penentuan bobot setiap

variabel yang dibandingkan menggunakan skala 1, 2, dan 3. Skala yang digunakan menunjukkan:

1 = jika faktor strategis eksternal atau internal pada baris/horizontal kurang penting daripada faktor strategis eksternal dan internal pada kolom/vertikal,

2 = jika faktor strategis eksternal atau internal pada baris/horizontal sama penting dengan faktor strategis eksternal atau internal pada kolom/vertikal,

3 = jika faktor strategis eksternal atau internal pada baris/horizontal lebih penting daripada faktor strategis eksternal dan internal pada kolom/vertikal.

Adapun bentuk dari penilaian bobot dengan metode Pairwise Comparison

terdapat pada Tabel 3 (Kinnear dan Taylor, 1991).

Tabel 3 Penilaian bobot faktor strategis dengan metode Pairwise Comparison

Faktor strategis internal 1 2 …. Total Bobot

1 2

….

Total

Selanjutnya bobot setiap faktor strategis diperoleh dengan menentukan total nilai setiap faktor strategis terhadap jumlah keseluruhan faktor strategis dengan menggunakan rumus (Kinnear dan Taylor, 1991):

Keterangan:

Ai = bobot faktor strategis untuk faktor ke-i Xi = nilai faktor strategis untuk faktor ke-i

i = 1, 2, 3, …n

n = jumlah faktor strategis

3. Memberikan peringkat 1 sampai 4 pada setiap faktor untuk mengindikasikan apakah faktor tersebut sangat lemah (1), lemah (2), kuat (3), atau sangat kuat (4). Perhatikan bahwa kekuatan harus mendapat peringkat 3 atau 4 dan kelemahan harus mendapat peringkat 1 atau 2. Oleh karenanya, peringkat berbasis perusahaan, sementara bobot dilangkah 2 berbasis industri.

5. Menjumlahkan skor bobot untuk memperoleh total skor bobot. Nilai total skor bobot menunjukkan kekuatan internal perusahaan. Skor bobot tertinggi adalah 4, terendah adalah 1, dan rata-rata skor bobot 2,5. Skor >2,5 mencirikan organisasi yang lemah secara internal.

Tabel 4 Matriks Internal Factor Evaluation (IFE)

Faktor-faktor internal utama Bobot Peringkat Skor bobot

Kekuatan 1. 2. … Kelemahan 1. 2. … Total Sumber: David, 2009

Analisis Lingkungan Jauh

Menurut David (2009), lingkungan jauh (remote) dapat dibagi menjadi lima kategori besar: (1) kekuatan ekonomi; (2) kekuatan sosial, budaya, demografi, dan lingkungan; (3) kekuatan politik, pemerintah, dan hukum; (4) kekuatan teknologi. Perubahan dalam kekuatan eksternal mengakibatkan perubahan dalam permintaan konsumen, tipe produk yang dikembangkan, karakteristik dari strategi segmentasi pasar dan positioning, tipe jasa yang ditawarkan dan pilihan bisnis yang ingin diakuisisi atau dijual. Penilaian bobot lingkungan jauh dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Bobot lingkungan jauh

Parameter Tidak Berpengaruh (1) Lemah Berpengaruh (2) Berpengaruh (3) Kuat Berpengaruh (4) (1) Faktor Ekonomi

(2) Faktor Sosial, Budaya, Demografi dan Lingkungan (3) Faktor Pemerintah dan Hukum (4) Faktor Teknologi

Analisis Lingkungan Industri

Analisa lingkungan industri dari Porter (1995) bertujuan untuk mengetahui posisi perusahaan diantara pesaing. Penilaian bobot lingkungan industri dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Bobot lingkungan industri

Lingkungan Industri Tidak

Berpengaruh (1) Lemah Berpengaruh (2) Berpengaruh (3) Kuat Berpengaruh (4)

Ancaman Pendatang Baru a.Skala Ekonomi

b.Diferensiasi Penghalang Masuk

c.Kecukupan Modal

d.Akses ke Saluran Distribusi e.Mutu Produk Penghalang f.Peraturan Pemerintah g.Tindakan Penolakan yg Diperkirakan

h.Harga Penghalang Masuk i. Teknologi Hambatan Masuk j. Pengalaman sebagai hambatan Daya Tawar Pemasok

a. Kelompok Pemasok b. Produk Substitusi c. Pelanggan Penting d. Masukan Yang Penting e. Pemerintah

Daya Tawar Pembeli a. Kelompok Pelanggan b. Diferensiasi Produk c. Ancaman Integrasi Balik d. Mutu Produk

e. Informasi Pelanggan Ancaman Barang Pengganti Tingkat Rivalitas Persaingan a. Jumlah Kompetitor

b. Tingkat Pertumbuhan Industri c. Biaya Tetap yang Besar

Analisis lingkungan jauh dan lingkungan industri mengacu pada skala Likert 1-4 yaitu dengan memberi pembobotan skor dari 1 sampai dengan 4 pada setiap pilihan jawaban. Alasan peneliti menggunakan skala likert 1-4 adalah untuk menghilangkan jawaban ragu-ragu, karena jawaban tersebut dapat memberikan makna yang ganda, dan tidak menjelaskan jawaban responden yang sebenarnya secara pasti (Kriyantono, 2008).

Analisis Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE)

Matriks EFE mengklasifikasikan faktor-faktor eksternal menjadi peluang dan ancaman perusahaan. Format matriks External Factor Evaluation (EFE) dapat dilihat Tabel 7. Tahapan dalam mengidentifikasi faktor-faktor strategis eksternal dalam matriks EFE adalah sebagai berikut (David, 2009):

1. Membuat daftar faktor strategis eksternal yang menjadi peluang dan ancaman. 2. Memberikan bobot pada setiap faktor dari 0,0 (tidak penting) sampai 1,0 (paling

penting). Bobot itu mengindikasikan signifikasi relative dari suatu faktor terhadap keberhasilan perusahaan. Jumlah seluruh bobot harus = 1,0. Pembobotan dilakukan dengan metode pairwise comparison, seperti pembobotan faktor strategis internal. 3. Memberikan peringkat 1 sampai 4 pada setiap faktor, untuk menunjukan seberapa

efektif strategi perusahaan saat ini dalam merespon faktor-faktor tersebut, dimana 4 = responsnya sangat bagus, 3 = responsnya diatas rata-rata, 2 = responsnya rata- rata, dan 1 = respons dibawah rata-rata.

4. Mengalikan bobot dengan peringkat untuk memperoleh skor bobot.

5. Menjumlahkan skor bobot untuk memperoleh total skor bobot. Nilai total skor bobot menunjukkan bagaimana perusahaan tersebut merespons faktor-faktor strategis eksternalnya. Skor bobot tertinggi adalah 4, terendah adalah 1, dan rata- rata skor bobot 2,5. Skor >2,5 mencirikan organisasi yang lemah secara eksternal

Tabel 7 Matriks External Factor Evaluation (EFE)

Peluang 1. 2. … Ancaman 1. 2. … Total Sumber: David, 2009

Matriks Internal-Eksternal (I-E)

Matriks I-E menggunakan parameter yang meliputi parameter kekuatan internal dan pengaruh eksternal perusahaan yang masing-masing akan diidentifikasi ke dalam elemen eksternal dan internal melalui matriks Eksternal Factor Evolution

(EFE) dan Internal Factor Evolution (IFE). Tujuan penggunaan matriks I-E adalah untuk memperoleh strategi bisnis ditingkat perusahaan yang lebih detail. Matriks IE didasarkan pada dua dimensi kunci : total skor bobot IFE pada sumbu x total dan skor bobot EFE pada sumbu y. Format matriks IE dapat terlihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Format dasar matriks IE

S

kor b

obot t

otal

EFE

Skor bobot total IFE

Kuat 3,0-4,0 Sedang 2,0-2,99 Lemah 1,0-1,99

Tinggi 3,0-4,0 I II II

Sedang 2,0-2,99 IV V VI

Rendah 1,0-1,99 VII VIII IX

Matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats)

Matriks SWOT merupakan alat yang digunakan untuk mencocokkan faktor- faktor kunci internal dan eksternal yang berfokus untuk menciptakan strategi-strategi alternatif. Format matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel 9. Terdapat delapan langkah yang digunakan dalam penyusunan matriks SWOT, yaitu:

2. Menentukan faktor-faktor ancaman eksternal perusahaan 3. Menentukan faktor-faktor kekuatan internal perusahaan 4. Menentukan faktor-faktor kelemahan internal perusahaan

5. Mencocokkan kekuatan dengan peluang dan mencatat resultan (strategi S-O)

6. Mencocokkan kelemahan dengan peluang dan mencatat resultan (strategi W-O)

7. Mencocokkan kekuatan dengan ancaman dan mencatat resultan (strategi S-T)

8. Mencocokkan kelemahan dengan ancaman dan mencatat resultan (strategi W-T)

Tabel 9 Format dasar matriks SWOT Internal Eksternal Kekuatan (Strengths S) Kekuatan-kekuatan internal perusahaan. Kelemahan (Weaknesses W) Kelemahan-kelemahan internal perusahaan. Peluang (Opportunities O) Peluang-peluang eksternal perusahaan. Strategi SO

Gunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang.

Strategi WO

Atasi kelemahan dengan memanfaatkan peluang. Ancaman (Threats T) Ancaman-ancaman eksternal perusahaan. Strategi ST

Gunakan kekuatan untuk menghindari ancaman.

Strategi WT

Minimalkan kelemahan dan hindari ancaman. Sumber: David, 2009

QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix)

Tahapan terakhir dari penyusunan formulasi strategi yaitu menetapkan strategi prioritas melalui QSPM. Melalui QSPM akan diperoleh suatu strategi yang terbaik dari berbagai alternatif strategi yang direkomendasikan melalui matriks SWOT, karena mengungkapkan daya tarik relatif dari strategi alternatif. QSPM dirancang untuk menetapkan daya tarik relatif dari berbagai strategi alternatif yang layak. Format dasar matriks QSPM dapat dilihat pada Tabel 10. Menurut David (2009) langkah-langkah penyusunan strategi terpilih melalui QSPM adalah:

1. Mendaftar peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan. 2. Memberikan bobot untuk setiap faktor.

diimplementasikan.

4. Menetapkan skor kemenarikan relatif (Attractiveness Score/AS) untuk masing- masing strategi alternatif yang terpilih. Nilai AS adalah seberapa besar daya tarik relatif alternatif strategi dalam mengatasi faktor-faktor eksternal dan internal.

5. Menghitung Total Attractiveness Score (TAS) yang diperoleh dari perkalian

bobot dengan AS pada masing-masing baris. TAS menunjukkan relative

attractiveness dari masing-masing altematif strategi.

6. Menghitung jumlah Total Attractiveness Score, dengan cara menjumlahkan semua Total Attractiveness Score pada setiap kolom QSPM. Nilai TAS yang tertinggi menuniukkan bahwa strategi tersebut yang paling baik untuk diimplementasikan.

Tabel 10 Format dasar QSPM

Faktor-faktor utama Bobot

Alternatif Strategi

Strategi I Strategi II ….

AS TAS AS TAS AS TAS

Peluang …. Ancaman ….. Kekuatan …… Kelemahan ……. Total Sumber: David, 2009

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum

Kabupaten Bantul merupakan salah satu Kabupaten dari 5 Kabupaten/Kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang terletak di Pulau Jawa. Bagian utara berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Kulonprogo dan bagian selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia. Kabupaten Bantul terletak antara 07° 44' 04" - 08° 00' 27" Lintang Selatan dan 110° 12' 34" - 110° 31' 08" Bujur Timur. Peta Kabupaten Bantul terlihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Peta Kabupaten Bantul

Luas wilayah Kabupaten Bantul 508,85 Km2 (15,9% dari Luas wilayah Propinsi DIY) dengan topografi sebagai dataran rendah 14% dan lebih dari separonya (60%) daerah perbukitan yang kurang subur, secara garis besar terdiri dari : Bagian Barat, adalah daerah landai yang kurang serta perbukitan yang membujur dari Utara ke Selatan seluas 89,86 km2 (17,73 % dari seluruh wilayah). Bagian Tengah, adalah daerah datar dan landai merupakan daerah pertanian yang subur seluas 210.94 km2 (41,62 %). Bagian Timur, adalah daerah yang landai, miring dan terjal yang keadaannya masih lebih baik dari daerah bagian Barat, seluas 206,05 km2 (40,65%). Bagian Selatan, adalah sebenarnya merupakan bagian dari daerah bagian Tengah dengan keadaan alamnya yang berpasir dan sedikir berlagun, terbentang di Pantai Selatan dari Kecamatan Srandakan, Sanden dan Kretek. Kabupaten Bantul terdiri dari 17 Kecamatan, yaitu Kecamatan Srandakan, Sanden, Kretek, Pundong, Bambanglipuro, Pandak, Bantul, Jetis, Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan, Banguntapan, Sewon, Kasihan, Pajangan dan Sedayu dengan jumlah penduduk sekitar 800.000 jiwa atau sekitar 1.624 jiwa/km2.

Industri kulit merupakan salah satu industri yang terbukti mampu memberikan sumbangan pada nilai eksport Kabupaten Bantul dan juga memberikan kesempatan kerja dan menjadi gantungan sumber pendapatan bagi berbagai industri rumahan.

Dalam laporan tahunan “Bantul Dalam Angka 2010”, sektor industri kulit mampu

menyerap tenaga kerja 5.728 orang dalam berbagai skala unit usaha. Peran industri kulit sangat dirasakan dalam tata kehidupan masyarakat Kabupaten Bantul lantaran sebarannya yang hampir merata di seluruh wilayah, khususnya di Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul.

Kulit adalah lapisan luar badan yang melindungi badan atau tubuh hewan dari pengaruh-pengaruh luar, seperti panas, pengaruh yang bersifat mekanis, kimiawi, serta merupakan pengatur suhu badan. Pada saat hidup, kulit mempunyai fungsi antara lain sebagai indra perasa, tempat pengeluaran hasil pembakaran, sebagai pelindung dari kerusakan bakteri kulit, sebagai buffer terhadap benturan, sebagai

penyaring sinar matahari, serta sebagai alat pengatur suhu tubuh. Masing-masing kulit hewan memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu kulit antara lain kondisi geografi asal ternak, aktifitas ternak, kesehatan dan usia ternak. Kulit samak tidak hanya kuat namun juga tahan lama serta

lugas tetapi juga memiliki struktur berpori unik sehingga dapat “bernafas”, artinya

udara dan uap air dapat melalui jaringannya.

Pengerjaan kulit samak umumnya mudah; misalnya ia mudah dipotong, disambung, dijahit, diampelas, dicat, bahkan disepuh emas. Bila dipotong tepinya tidak terurai, yang mana merupakan sifat yang unggul untuk beberapa keperluan (Judiamidjojo, 1984). Kulit mentah dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kulit dari hewan besar (hides) seperti sapi, kerbau, kuda, serta kelompok kulit yang berasal dari hewan kecil (skins) seperti kambing, domba, dan kelinci. Definisi dan kriteria teknis jenis kulit terlihat pada tabel 11.

Tabel 11 Definisi dan kriteria teknis jenis kulit

Jenis kulit Definisi Kriteria Teknis

Kulit Mentah

Kulit yang diperoleh dari hasil pemotongan ternak (kerbau, sapi, domba dan kambing), dimana kulit

tersebut telah dipisahkan dari

seluruh bagian dagingnya, baik yang segar (green hide), yang dikeringkan (dried hide) maupun yang digarami (salted hide)

Berbulu dalam keadaan segar (freshed/green hides)

Berbulu dalam keadaan kering (dried hide)

Berbulu dalam keadaan awet garam basah (wet salterd)

Berbulu dalam keadaan awet garam kering (brain cured). Pickled Kulit Mentah yang sudah diproses

sampai pengasaman

Tidak berbulu

Dalam keadaan basah Derajat keasaman 3 Berwarna Putih

Wetblue Kulit mentah yang disamak sampai proses penyamakan krom (chrome), masih dalam keadaan basah dan belum di proses selanjutnya.

Berwarna biru

Dalam keadaan basah Derajat keasaman 3,5 - 4,0

Crust Kulit Hewan yang disamak masak (tanning) dan disamak ulang (re- tanning)/penyamakan kombinasi

yang baik yang mengalami

Untuk kulit natural crust

berwarna putih kebiruan

Untuk kulit dyed crust berwarna

pewarnaan (natural crust) dan belum mengalami penyempurnaan.

(dyestuff

Dalam keadaan kering (kadar air pailing tinggi 25%)

Sumber: Departemen Perdaganagan, 2010

Jenis kulit berdasarkan bagian tubuh hewan:

a. Bagian punggung: Bagian kulit yang letaknya ada pada punggung dan mempunyai jaringan struktur yang paling rapat luasnya 40% dari seluruh luas kulit.

b. Bagian leher: Bagian kulit agak tebal, sangat rapat dan terdapat beberapa kerutan. c. Bagian bahu: Bagian kulit lebih tipis, mutunya lebih baik, namun terdapat

kerutan yang dapat mengurangi mutu kulit.

d. Bagian perut dan paha: Struktur jaringan kurang rapat, tipis dan mulur setelah kering dan mutu kulit tidak homogen.

Dalam industri perkulitan dikenal dua pengelompokan kulit, yaitu:

a. Kulit yang belum mengalami pengolahan penyamakan dikenal dengan kulit perkamen atau kulit mentah, dapat digunakan sebagai bahan seni tatah sungging.

b. Kulit yang telah melalui proses pengolahan penyamakan kulit disebut kulit-jadi (kulit tersamak), digunakan sebagai bahan baku berbagai industri barang jadi kulit. Perbedaan kulit mentah dan kulit tersamak terangkum pada tabel 12.

Tabel 12 Perbedaan kulit mentah dan kulit tersamak

Jenis Kulit Mentah Kulit Tersamak

Bentuk lembaran belahan

Warna Seperti kulit aslinya Tergantung bahan penyamak

yang digunakan Kenampakan

sifat

Kering, kaku, keras, mudah busuk karena bakteri

Lemas, elastis, plastis, tidak mudah busuk, tidak mudah menjadi lem

Kulit yang bisa digunakan dalam pembuatan produk adalah kulit jadi, yaitu kulit yang sudah disamak atau diproses menggunakan bahan kimia dan nabati. Berat

kulit sapi, kambing dan kerbau sekitar 7-10% dari berat tubuh, secara ekonomis kulit memiliki harga sekitar 10-15% dari harga ternak. Kulit mempunyai sifat dan ciri yang unik, daya tahan dan nilai artistik yang tidak dimiliki oleh bahan lain. Industri penyamakan kulit adalah industri yang mengolah kulit mentah hewan menjadi kulit jadi yang siap digunakan untuk berbagai keperluan bagi industri barang jadi kulit seperti industri sepatu/sandal, tas, sarung tangan, sabuk, jaket dan sebagainya. Penyamakan dilakukan untuk mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh mikroorganisme. Kulit tersamak lebih tahan terhadap faktor-faktor yang dapat merusak kulit yaitu dengan memasukkan bahan penyamak ke dalam jaringan kulit yang berupa jaringan kolagen sehingga terbentuk ikatan kimia antara keduanya menjadikan lebih tahan terhadap faktor perusak. Zat penyamak bisa berupa penyamak nabati, sintetis, mineral dan penyamak minyak.

Dokumen terkait