• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. Tinjauan Pustaka

2.4.2 Metode Pengurangan Berat Sampel 19

Laju korosi seragam dapat diukur dengan menggunakan tes kupon korosi dengan penurunan berat sampel. Kupon pengujian korosi terutama dirancang untuk menyelidiki korosi seragam.

Praktek ini menjelaskan prosedur yang berlaku, yang meliputi persiapan spesimen, peralatan, kondisi pengujian, metode membersihkan spesimen, evaluasi hasil, perhitungan dan pelaporan laju korosi. Ekspresi laju korosi yang baik harus melibatkan :

i. unit yang umum

ii. perhitungan yang mudah dengan peluang minimum untuk kesalahan

iii. konversi yang tahan dalam beberapa tahun, iv. penetrasi, dan

v. bilangan bulat tanpa desimal yang rumit.

Laju korosi dapat ditentukan dalam berbagai cara dalam literatur, seperti berat persen kerugian, miligram per sentimeter, persegi per hari, dan gram per inci, persegi per jam. Namun mils per tahun adalah yang paling diinginkan untuk cara mengungkapkan laju korosi.

Ungkapan ini mudah dihitung dari penurunan berat badan dari logam atau spesimen paduan selama uji korosi. Konversi dari unit lain untuk mendapatkan mils per tahun diberikan pada Tabel 2.3.

Sesuai ASTM G31 menghitung laju korosi memerlukan beberapa bidang informasi dan beberapa asumsi:

1. penggunaan laju korosi menyiratkan bahwa semua kehilangan massa karena telah terkorosi seragam dan bukan karena korosi lokal.

2. penggunaan laju korosi juga menyiratkan bahwa materi belum internal diserang oleh desinifikasi atau korosi intergranular dan

3. serangan internal dapat dinyatakan sebagai laju korosi jika diinginkan.

Namun, dalam kasus seperti ini perhitungan tidak harus didasarkan pada penurunan berat badan (kecuali dalam tes kualifikasi seperti praktik A (262), yang biasanya kecil tapi pada microsections, yang menunjukkan kedalaman serangan.

Table 2. 3. Konfersi dari unit laju korosi lain untuk satuan mils per year Unit to be converted Multiplier

Inches per year 1000 Inches per month 12.1000 Millimeters per year 39.4 Micrometer per year 0.039 Milligrams per square

Decimeter per day (mdd) 1.44/density Grams per square meter per day 14.4/ density

Dengan asumsi bahwa korosi lokal atau internal yang tidak hadir, laju korosi rata-rata dapat dihitung dengan persamaan berikut:

Laju korosi = (K x W) / (A x T x D) ... (11)

dimana K = adalah konstanta,

T = sebagai waktu penghilangan berat,

W= hilangnya massa dalam g menjadi terdekat 1 mg, A= sebagai luas permukaan sampel,dan

D= sebagai kerapatan g/cm3.

Banyak unit yang berbeda yang digunakan untuk mengekspresikan laju korosi. Menggunakan unit untuk T, A, W dan D dari Tabel 2.2, laju korosi dapat dihitung

dalam berbagai unit dengan nilai yang sesuai K diberikan dalam Tabel 2.3 sebagai berikut :

Table.2.4. Unit Laju Korosi yang Disesuaikan dengan Nilai K

Unit yang Diinginkan Laju Korosi Konstanta (K) dalam Persamaan Laju Korosi

Mils per year (mpy) 3.45 x 106 Inches per year(ipy) 3.45 x 103 Inches per month (ipm) 2.87 x 102 Milllimeter per year (mm/y) 8.76 x 104 Micrometer per year (�m/y) 8.76 x 107 Picometres per second (pm/y) 2.78 x 106 Grams per square per hour (g/m2.h) 1.00 x 104 x DA Milligrams per square decimeter per

day (mdd)

2.40 x 106 x DA

Micrograms per square metre per second (�g/m2.s)

2.78 x 106 x DA

A

Density tidak diperlukan untuk menghitung laju korosi di unit-unit ini. karena dibatalkan oleh K konstan dalam persamaan laju korosi (Khatak, 2002).

2.5. Sifat – Sifat Logam Yang Terkandung Dalam Baja SS304 2.5.1. Logam Besi (Fe)

Besi yang murni adalah logam berwarna putih-perak yang kukuh dan liat. Ia melebur pada suhu 1535oC. Jarang terdapat besi komersial yang murni, biasanya besi mengandung sejumlah kecil karbida, slisida, fosfida, dan sulfida dari besi, serta sedikit grafit. Besi dapat larut dalam asam klorida encer atau pekat dan asam sulfat encer, yang menghasilkan garam – garam besi (II) dan gas Hidrogen.

Fe (s) + 2HCl(aq) Fe2+(aq) + Cl-(aq) + H2(g)

Asam sulfat yang pekat dan panas, menghasilkan ion-ion besi dan belerang dioksida.

2Fe(s) + 3H2SO4(aq) + 6H+(aq) 2Fe3+(aq) + 3SO2(g) + 6H2O(aq)

Dengan asam nitrat encer dingin, terbentuk ion besi(II) dan amonia

4Fe(s) + 10 H+(aq) + NO3-(aq) 4Fe2+(aq) + NH4+(aq) +3H2O(aq)

Asam nitrat pekat dingin, membuat besi menjadi pasif, dalam keadaan ini, ia tak bereaksi dengan asam nitrat encer dan tidak pula mendesak tembaga dari larutan air suatu garam tembaga. Asam nitrat 1+1 atau asam nitrat pekat yang panas melarutkan besi dengan membentuk gas nitrogen dan oksida dan ion logam besi(III) :

Fe(s) + HNO3(aq) + 3H+(aq) Fe3+(aq) + NO(g) + 2H2O(aq)

2.5.2. Logam Kromium (Cr)

Kromium adalah logam kristalin yang putih, tak begitu liat dan tak dapat ditempa. Ia melebur pada suhu 1765oC. Logam ini larut dalam asam klorida encer atau pekat. Jika tak terkena udara, akan terbentuk ion-ion kromium (II):

Cr(s) + 2H+(aq) Cr2+(aq) + H2(g)

Cr (s)+ 2HCl(aq) Cr2+(aq) + 2Cl-(aq) + H2(g)

Dengan adanya oksigen dari atmosfer, kromium sebagian atau seluruhnya menjadi teroksidasi kekeadaan tiga valensi:

Asam sulfat encer menyerang kromium perlahan-lahan, dengan membentuk hidrogen. Dalam asam sulfat pekat panas, kromium melarut dengan mudah, dimana ion – ion kromium (III) dan belerang dioksida terbentuk:

2Cr(s) + 6H2SO4(aq) 2Cr3+(aq) +3SO4-2(aq) + 3SO2(g) + 6H2O(aq)

Asam nitrat baik yang encer maupun yang pekat membuat kromium menjadi pasif, begitu pula asam sulfat pekat dingin dan air raja.

2.5.3. Logam Nikel (Ni)

Nikel adalah logam putih perak yang keras. Nikel bersifat liat, dapat ditempa dan sangat kukuh. Logam ini melebur pada suhu 1455OC dan sedikit bersifat magnetis.

Asam klorida encer maupun pekat dan asam sulfat encer, melarutkan nikel dengan membentuk hidrogen.

Ni(s) + 2H+(aq) Ni+(aq) + H2(g)

Ni(s) +2HCl(aq) Ni2+(aq) + 2Cl-(aq) + H2(g)

Reaksi – reaksi ini dipercepat jika larutan dipanaskan. Asam sulfat, panas, melarutkan nikel dengan membentuk belerang dioksida :

Ni(s) + H2SO4(aq) + 6H+(aq) 3Ni2+(aq) + SO2(g) + 4H2O(aq) (Vogel. 1985).

2.6. Asam Sulfat

Dari semua asam anorganik, asam sulfat (H2SO4) digunakan dalam volume terbesar dan umumnya dianggap menjadi salah satu bahan kimia yang paling penting dalam industri. Banyak bahan logam dan paduan yang terkorosi oleh asam sulfat karena pH yang rendah. Dalam rentang tengah asam sulfat pekat memiliki konsentrasi tertinggi dari ion H +, sehingga korosi yang kuat (0,5% H2SO4 dengan pH = 2.1, 5% H2SO4 dengan pH = 1.2, 50% H2SO4 dengan pH = 0,3). Tergantung pada konsentrasi dan suhu asam sulfat dapat berupa asam atau mengurangi asam pengoksidasi. Jejak kotoran, misalnya udara oksigen, Fe3+ garam, SO3 dll, benar-benar dapat mengubah karakter asam sulfat, mengubah mengurangi solusi dalam oksidasi.

Baja austenitik Cr-Ni baja mencapai ketahanan korosi mereka dengan pembentukan lapisan pasif permukaan mereka,. Lapisan ini juga dapat berkembang di bawah kondisi asam sulfat pengoksidasi, dan terdiri dari oksida besi dan kromium oksida, dengan dimasukkan sulfat dapat meningkatkan stabilitas. Pada asam tinggi laju alir di bawah kondisi berkurang. pembentukan lapisan pelindungnya hancur atau terhambat. Kadang-kadang, cukup banyak peningkatan korosi terkait dengan situasi ini ( Khatak, 2002).

2.7. Spektrofotometri Serapan Atom

Metode Spektrofotometri Serapan Atom pertama kali dikembangkan oleh Walsh, Alkamede, dan Melatz (1955) yang ditujukan untuk analisis renik dalam sampel yang dianalisis. Pada Spektrofotometri Serapan Atom terjadi penyerapan sumber radiasi (di luar nyala) oleh atom-atom netral dalam keadaan gas yang berada dalam nyala. Radiasi yang diserap oleh atom-atom netral dalam keadaan gas tadi biasanya radiasi sinar tampak atau ultraviolet (Mulja.1995)

2.7.1. Prinsip Dasar Spektroskopi Serapan Atom

Jika cahaya dengan panjang gelombang resonansi dilewatkan nyang mengandung atom-atom yang bersangkutan, maka sebagian cahaya itu diserap dan jauhnya penyerapan berbanding lurus dengan banyaknya atom keadaan dasar yang berada dalam nyala. Proses terbentuknya uap yang mengandung atom-atom dalam nyala, dapat diringkaskan sebagai berikut: bila suatu larutan yang mengandung senyawa yang cocok dari yang akan diselidiki itu dilewatkan kedalam nyala, terjadilah peristiwa berikut secara berurutan :

1. Penghilangan pelarut atau evaporasi yang meninggalkan residu padat. 2. Penguapan zat padat dilanjutkan denga disosiasi menjadi atom-atom

penyususn yang mula-mula akan berada dalam keadaan dasar. (Vogel.1995)

2.7.2. Gangguan pada Spektroskopi Serapan Atom

Gangguan diartikan sebagai suatu factor kimia atau fisika yang akan mempengaruhi jumlah atom pada anlit dalam keadaan dasar (ground state) sehingga akan menyebabkan bertambah atau berkurangnya bacaan nilai serapan atau unsur yang dianalisis.

Ada beberap faktor gangguan dalam menggunakan SSA :

1. Suhu yang sesuai, suhu gas pembakar harus sesuai dengan suhu unsur yang akan dianalisis

2. Konsentrasi sampel tidak boleh melebihi kesensitifan dari alat detector SSA. Ini akan menyebabkan gangguan terhadap garis spectrum dan mengakibatkan kerusakan pada alat detector SSA. 3. Pengaruh penguapan pelarut dan bahan larutan jangan sampai

menurunkan suhu nyala gas pembakar, ini akan menyebabkan bacaan nilai serapan atom menjadi rendah (Khopkar, 1990).

4. Laju aspirasi cuplikan ke dalam nyala. Ini tergantung pada tekanan udara, ukuran kapiler dan viskositas larutan.

5. Derajat dispersi atau atomisasi larutan; hanya tetesan lebih halus tersedot dalam nyala, sedangkan tetesan lebih besar turun dan keluar lewat pembuangan. Bagian tetesan halus tergantung dari tekanan

udara, suhu ‘nozzle’ tempat terjadinya atomisasi, dan tegangan

permukaan larutan.

6. Kedudukan berkas sinar dalam nyala. Populasi atom berubah terhadap tinggi nyala dengan cara yang rumit. Jika penguraian menjadi atom-atom lambat, populasi atom naik di bagian makin tinggi dalam nyala sampai dekat ujung nyala dan populasi atom berkurang ditempat nyala yang dingin. Jika penguraian berlangsung cepat, populasi atom sesuai dengan tinggi suhu nyala.

7. Pengaruh antar unsur, yang paling nyata disebabkan oleh reaksi kimia dalam nyala. Unsur yang dapat menyebabkan gangguan itu berasal dari larutan itu sendiri.

8. Gangguan pada pengerjaan sampel, yaitu terjadinya pencampuran bahan-bahan kimia lain.

2.7.3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)

Kelebihan yang dimiliki oleh metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), yaitu :

Menganalisis konsentrasi logam berat dalam sampel secara akurat karena konsentrasi yang terbaca pada alat SSA berdasarkan banyaknya sinar yang diserap yang berbanding lurus dengan kadar zat.

Menganalisis sampel sampai pada kadar rendah (‰), sedangkan pada metode

lain seperti volumetrik hanya dapat menganalisis pada kadar yang tinggi (%).

Analisis sampel dapat berlangsung lebih cepat.

Sedangkan kekurangan penggunaan metode SSA, yaitu :

 Hanya dapat menganalisis logam berat dalam bentuk atom-atom. SSA menganalisis logam berat dari atom-atom karena tidak berwarna.

Sampel yang dianalisis harus dalam suasana asam, sehingga semua sampel yang akan dianalisis harus dibuat dalam suasana asam dengan pH antara 2 sampai 3.

Biaya operasional lebih tinggi dan harga peralatan yang mahal.

2.8. Scanning Electron Microscopy

SEM merupakan suatu berkas insiden elektron yang sangat halus discan menyilangi permukaan sampel dalam sinkronisasi dengan berkas tersebut dalam tabung sinar katoda. Elektron – elektron yang terhambur digunakan untuk memproduksi sinyal yang memodulasi berkas dalam tabung sinar katoda, yang memproduksi suatu citra dengan kedalaman medan yang besar dan penampakan yang yang hampir tiga dimensi. Dalam penelitian morfologi permukaan SEM terbatas pemakaiannya, tetapi memberikan informasi yang bermanfaat mengenai topologi permukaan dengan resolusi sekitar 100 Ao. Aplikasi - aplikasi yang khas mencakup penelitian dispersi – dispersi pigmen dalam cat, pelepuhan atau peretakan koting, batas – batas fasa dalam polipaduan yang tak dapat dicampur, struktur sel busa - busa polimer, dan kerusakan pada bahan perekat (Steven,2001)

SEM dilakukan untuk menyelidiki struktur mikro permukaan material (geopolimer) termasuk porositas dan pembentukan retakan,dan antar muka (interrface) antar agregat – matriks. Salah satu jenis SEM yang banyak digunakan diberbagai Laboratorium adalah jenis Philips XL-30 baik dengan scondary electron detector maupun dengan backscattered electron detector (Subaer, 2008)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3. 1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat – Alat

- Beaker glass 250 mL pyrex

- Glass ukur 200 mL pyrex

- Labu takar 50 mL pyrex

- SSA Shimadzu AA-6300

- Neraca Analitis - - Botol Aquadest - - Corong pyrex 3.1.2. Bahan - H2SO4 1M - Aquabidest - Lempeng Baja SS 304 - Kertas pasir - Aseton

3.2. Prosedur Penelitian

3.2.1. Penghilangan Berat Baja SS 304

- Sampel baja SS 304 digosok dengan kertas saring, kemudian dicuci dengan aseton dan dibilas dengan aquabides, lalu dikeringkan dan ditimbang. Kemudian dimasukkkan kedalam beaker glass 250 mL dan direndam dengan larutan H2SO4 1M sebanyak 100 mL selama 10, 20, dan 30 hari.

3.2.2. Pembuatan Larutan Standar

Pembuatan larutan seri standar Besi (Fe)

- Pembuatan Larutan Standar Fe (besi) 100 mg/L

Sebanyak 5 mL larutan induk Fe (besi) 1000 mg/L dimasukkan kedalam labu takar 50 mL, lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda dan dihomogenkan.

- Pembuatan larutan standar 10 mg/L

Sebanyak 5 mL larutan Fe (besi) 100 mg/L dimasukkan kedalam labu takar 50 mL lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda dan dihomogenkan.

- Pembuatan Larutan Standart Fe ( besi ) 0,2; 0,4; 0,6 ; 0,8; 1,00 dan 2,00 mg/L

Sebanyak 1,00; 2,00; 3,00; 4,00; dan 5,00; mL larutan standar Fe (besi) 10 mg/L dimasukkan kedalam labu takar 50 mL lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda dan dihomogenkan.

Pembuatan larutan seri standar Cr (kromium) - Pembuatan Larutan Standar Cr (kromium)100 mg/L

Sebanyak 5 mL larutan induk Cr (kromium) 1000 mg/L dimasukkan kedalam labu takar 50 mL, lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda dan dihomogenkan.

- Pembuatan larutan standar 10 mg/L

Sebanyak 5 mL larutan Cr (kromium) 100 mg/L dimasukkan kedalam labu takar 50 mL lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda dan dihomogenkan.

- Pembuatan Larutan Standar Cr (kromium) 0,5; 1,0; 1,5 ; 2,0; dan 2,5 mg/L

Sebanyak 2,5; 5,0; 7,5; 10; dan 12,5mL larutan standar Cr (kromium) 10 mg/L dimasukkan kedalam labu takar 50 mL lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda dan dihomogenkan.

Pembuatan larutan standar Ni (Nikel)

- Pembuatan Larutan Standar Ni (Nikel) 100 mg/L

Sebanyak 5 mL larutan induk Ni (Nikel) 1000 mg/L dimasukkan kedalam labu takar 50 mL, lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda dan dihomogenkan.

- Pembuatan larutan standar 10 mg/L

Sebanyak 5 mL larutan Ni (Nikel) 100 mg/L dimasukkan kedalam labu takar 50 mL lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda dan dihomogenkan.

- Pembuatan Larutan Standar Ni (Nikel) 0,03 ; 0,05; 0,07; 0,10; dan 0,13 mg/L

Sebanyak 1,50; 2,50; 3,50; 5,00; dan 6,5 mL larutan standart Ni (Nikel) 10 mg/L dimasukkan kedalam labu takar 50 mL lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda dan dihomogenkan.

3.2.3. Karakterisasi dengan Analisis Spektrofotometri Serapan Atom

Penentuan kurva kalibrasi Fe (Besi)

Larutan seri standart logam Fe 0,0 mg/L diukur absorbansinya dengan menggunakan Spektroskopi Serapan Atom pada panjang gelombang 248,3 nm, perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali, dilakukan prosedur yang sama untuk larutan seri standar Fe 0,4; 0,6; 0,8; 1,0; dan 2,0 mg/L.

Penentuan kurva kalibrasi Cr (Kromium)

Larutan seri standar logam Cr 0,5 mg/L diukur absorbansinya dengan menggunakan Spektroskopi Serapan Atom pada panjang gelombang 357,9 nm, perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali, dilakukan prosedur yang sama untuk larutan seri standar 1,0; 1,5; 2,0; dan 2,5 mg/L.

Penentuan kurva kalibrasi Ni (Nikel)

Larutan seri standar Ni 0,03 mg/L diukur absorbansinya dengan menggunakan Spektroskopi Serapan Atom pada panjang gelombang 232,0 nm, perlakuan dilakukan sebnyak 3 kali. Dilakukan prosedur yang sama untuk larutan seri standart Ni 0,05; 0,07; 0,10; dan 0,13 mg/L.

3.2.4. Penentuan logam Baja SS 304 (Fe, Ni, dan Cr) yang terkorosi dalam larutan H2SO4 1M dalam waktu yang bervariasi.

Larutan bekas perendaman baja 10 hari disaring dengan kertas saring wheatmant. Diambil sebanyak 1 mL, dimasukkan kedalam labu takar 1000 mL dan diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Ditentukan kadar unsur Fe pada panjang gelombang 248,3 nm, kadar unsur Ni pada panjang gelombang 232,0 nm, dan kadar Cr pada panjang gelombang 357,9 nm dengan menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Dilakukan perlakuan yang sama untuk perendaman baja 20 dan 30 hari.

3.2.5. Analisa Morfologi Logam Baja dengan SEM (Scanning Electron

Microscopy)

Penggunaan SEM diawali dengan merekatkan sampel dengan stab yang terbuat dari logam spesimen palladium. Kemudian sampel dibersihkan dengan alat peniup, sampel di lapisi dengan emas dan palladium dalam mesin dionspater yang bertekanan 1492 x 10-2 atm. Sampel selanjutnya dimasukkan ke dalam ruangan yang khusus dan kemudian disinari dengan pancaran electron bertenaga 10 kV sehingga sampel mengeluarkan elektron sekunder dan elektron terpental yang dapat di deteksi dan detector scientor yang kemudian diperkuat dengan suatu rangkaian listrik yang menyebabkan timbulnya gambar CRT (Chatode Ray Tube). Pemotretan

dilakukan setelah memilih bagian tertentu dari objek (sampel) dan perbesaran yang diinginkan sehingga diperoleh foto yang baik dan jelas.

3.3. Pengolahan Data

Dalam penelitian ini data yang diperoleh dari penentuan kadar logam Fe, Ni, dan Cr dengan menggunakan Spektrofotometri Serapam Atom (SSA) masing- masing logam dihitung kecepatan korosinya dengan menggunakan rumus :

= � � Dimana : W = Berat logam yang hilang (g) D = Densitas Logam (g/L) A = Luas logam (cm2) T = waktu perendaman (jam) V = kecepatan korosi (mpy)

3.3. Bagan Penelitian

3.3.1. Perendaman Logam Baja SS 304 dalam Larutan H2SO4 1M

Dipotong berbentuk lempengan Digososk dengan kertas pasir Dicuci dengan aseton

Dibilas dengan aquabides Dikeringkan dan ditimbang

Dimasukkan kedalam beaker glass 250 mL

Ditambahkan larutan H2SO4 1M sebanyak 100 mL Direndam selama 10 hari

Diangkat baja hasil rendaman Dikeringkan dan ditimbang

Catatan : dilakukan perlakuan yang sama untuk perendaman logam 20, dan 30 hari

Baja SS 304

Baja SS 304 bersih

3.3.2. Pembuatan Larutan Seri standar dan Kurva Kalibrasi Ni (nikel) (SNI.6989.18.2009)

Dipipet sebanyak 5 mL larutan standart nikel dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda diaduk hingga homogen

diambil sebanyak 5 mL larutan seri standar nikel dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Diaduk hingga homogen

Diambil sebanyak 5 mL larutan seri standar nikel dan dimasukkkan kedalam labu taka 50 mL.

diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda diaduk hingga homogen

diambil sebanyak 0,0;5;10;15;20; dan25 mL larutan seri standar Nikel dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

diencerkan dengan aquabides diaduk hingga homogen

diukur absorbansinya dengan spektrofotometri serapan atom pada panjang gelombang 232,0 nm

Larutan seri standar Nikel (Ni) 1000

Larutan seri standar nikel 100 mg/L

Larutan seri standar nikel 10 mg/L

Larutan seri standar nikel 1 mg/L

Larutan seri standar nikel 0,03;0,05;0,07;0,0,10;dan

3.3.3. Pembuatan Larutan Seri standar dan Kurva Kalibrasi Fe (besi) (SNI.6989.4.2009)

Dipipet sebanyak 5 mL larutan standar besi dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda diaduk hingga homogen

Diambil sebanyak 5 mL larutan seri standar besi dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Diaduk hingga homogen

Diambil sebanyak 5 mL larutan seri standar besi dan dimasukkkan kedalam labu takar 50 mL.

diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda diaduk hingga homogen

diambil sebanyak 1,0; 2,0; 3,0; 4,0; dan5,0 mL larutan seri standar besi dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

diencerkan dengan aquabides diaduk hingga homogen

diukur absorbansinya dengan spektrofotometri serapan atom pada panjang gelombang 248,3 nm

Larutan seri standar besi (Fe) 1000 mg/L

Larutan seri standar besi 100 mg/L

Larutan seri standar besi 10 mg/L

Larutan seri standar besi 1 mg/L

Larutan seri standar besi 0,2;0,4;0,6;0,8;dan 1,0mg/L

3.3.4. Pembuatan Larutan Seri standar dan Kurva Kalibrasi Cr (Kromium) (SNI06.6989.17.2004)

Dipipet sebanyak 5 mL larutan standar krom dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda diaduk hingga homogen

diambil sebanyak 5 mL larutan seri standar krom dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Diaduk hingga homogen

Diambil sebanyak 5 mL larutan seri standar krom 10 mg/Ldan dimasukkkan kedalam labu taka 50 mL.

Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda Diaduk hingga homogen

Diambil sebanyak 2,5; 5,0; 7,5; 10,0; dan 12,5 mL larutan seri standar besi dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

Diencerkan dengan aquabides Diaduk hingga homogen

Diukur absorbansinya dengan spektrofotometri serapan atom pada panjang gelombang 357,9 nm

Larutan seri standar Krom (Cr) 1000

Larutan seri standar krom 100 mg/L

Larutan seri standar krom 10 mg/L

Larutan seri standar krom 1 mg/L

Larutan seri standar besi 0,5; 1,0; 1,5; 2,0; dan 2,5 mg/L

3.3.5. Penentuan logam (Ni ) dalam larutan bekas perendaman baja SS 304 10 Hari

Disaring dengan kertas saring whatmant no.42 Diukur pH hingga pH 2

Diambil sebanyak 1 mL

Dimasukkan kedalam labutakar 1000 mL Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda

Diukur absorbansi logam Ni pada Panjang gelombang 232,0 nm

3.3.6. Penentuan logam (Fe) dalam larutan bekas perendaman baja SS 304 10 hari

Disaring dengan kertas saring whatmant no.42 Diukur pH hingga pH 2

Diambil sebanyak 1 mL

Dimasukkan kedalam labutakar 1000 mL Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda

Diukur absorbansi logam besi pada Panjang gelombang 248,3 nm

Larutan bekas perendaman baja 10

Hasil

Hasil

3.3.7. Penentuan Kadar Logam Cr Pada Larutan Bekas Perendaman Baja SS 304 10 hari

Disaring dengan kertas saring whatmant no.42 Diukur pH hingga pH 2

Diambil sebanyak 1 mL

Dimasukkan kedalam labutakar 1000 mL Diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda

Diukur absorbansi logam krom pada panjang gelombang 357,9 nm

Catatan : Dilakukan perlakuan yang sama untuk larutan bekas perendama baja 20 dan 30 hari.

3.3.8. Analisis Permukaaan Logam dengan Alat Scanning Electron Microscopy (SEM)

Dianalisis permukaan logam dengan menggunakan alat SEM

Hasil

Larutan bekas perendaman baja 10

Hasil

Logam yang direndam selama 30 hari

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Konsentrasi logam (Fe, Cr dan Ni) yang terkandung dalam larutan bekas perendaman baja yang dianalisis dengan SSA

Untuk mengetahui berapa kadar logam ( Cr, Fe, dan Ni ) yang terkandung dalam larutan bekas perendaman Baja SS 304 dianalisis dengan menggunakan alat SSA, hasil analisis ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 4.1. konsentrasi logam yang terkandung dalam larutan bekas perendaman Baja SS 304

Waktu perendaman Konsentrasi Logam (mg/L)

Cr Fe Ni

0 hari - - -

10 hari 154 528 31

20 hari 902 1736 85

30 hari 1202 2069 85

4.1.2. Penentuan Kadar Logam dalam Satuan Gram (g)

Konsenterasi logam – logam diatas dapat diubah dalam satuan gram dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Massa logam = konsenterasi logam x volume larutan Dimana volume larutan = 100 mL = 0,1 L

kadar logam pada waktu perendaman 10 hari adalah

= 15,2 mg = 0,0152 gram

b. Logam Fe = 528 mg/L x 0,1 L

= 52,8 mg = 0,0528 gram

c. logam Ni = 31 mg/L x 0,1 L

= 3,1 mg = 0,0031 gram

Catatan : perhitungan yang sama dilakukan untuk kadar logam dalam perendaman 20 dan 30 hari.

Tabel 4.2. kadar logam yang terkandung dalam larutan bekas peendaman baja SS 304

Waktu perendaman Kadar Logam (gram)

Cr Fe Ni

0 hari - - -

10 hari 0,0154 0,0528 0,0031

20 Hari 0,0902 0,1736 0,0085

30 Hari 0,1202 0,2069 0,0085

4.1.3. Penentuan Laju Korosi Logam Cromium (Cr), Logam besi (Fe), dan Ni (Nikel) yang terkorosi dalam larutan H2SO4 ( asam sulfat)

Kadar logam yang hilang atau logam yang terkorosi yang diperoleh setelah

Dokumen terkait