• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN LITERATUR

C. Kompetensi

3. Metode Penilaian Kompetensi

Metode penilaian kompetensi kerja dikembangkan oleh staf Mc Beer dan perusahaannya yang menggunakan lima tahap untuk menghasilkan suatu model pekerjaan lima tahap itu adalah:

a. Menentukan ukuran tepat terhadap penampilan kerja dan cara menilai pekerjaan itu karena; tanpa ukuran tepat, tidak mungkin kinerja/penampilan kerja valid.

b. Analisis elemen pekerjaan yang dikembangkan dari konsep analisis pekerjaan; hasil dari analisis elemen pekerjaan adalah daftar terbobot dari karakteristik yang dirasakan/diterima manajer sebagai suatu yang penting dalam membedakan kinerja unggul disbanding rata-rata dan karakteristik yang disyaratkan oleh suatu pekerjaan.

c. Wawancara insiden kritis, hasil wawancara tersebut adalah deskripsi detail dari sejumlah insiden kritis pekerjaan yang mencatat perilaku, pemiiran, serta perasaan yang diwawancarai. Kejadian secara sistematik dikode dalam sejumlah karakteristik atau kompetensi. Kode karakteristik-karakteristik tersebut kemudian dikaitkan dengan kriteria kinerja.

d. Identifikasi dan administrasi tes serta ukuran yang dipilih untuk menilai sejumlah kompetensi. Kompetensi tertentu yang diuji secara empiric ditentukan melalui kode wawancara; jawaban tes dan ukuran dikaitkan dengan kriteria penampilan kerja; hasil dari tahap tiga dan empat adalah daftar kompetensi yang telah divalidasi; karakteristik tertentu yang telah ditunjuk dikaitkan dengan kinerja unggul dan efektif, sementara yang lain tidak. e. Integrasi dari hasil tahapan. Hasil dari aktivitas ini adalah model

kompetensi kerja yang didasarkan pada sejumlah karakteristik yang dinilai melalui sejumlah metodologi pengukuran.

Rancangan studi terbaik model kompetensi dengan menggunakan sampel, ada 6 (enam) tahap, sebagai berikut:28

a. Menetapkan kriteria kinerja efektif b. Mengidentifikasi kriteria sampel c. Mengumpulkan data

d. Analisis data dan pengembangan model kompetensi e. Validasi model kompetensi

f. Mempersiapkan penerapan model kompetensi.

28

Spencer LM & Signe Spencer, Competence at Wor, Model for Superior Performance (New York, 1993) hal. 63

5. Kompetensi Kepala Perpustakaan Sekolah

Sebagai seorang pemimpin diperpustakaan atau yang biasa disebut kepala perpustakaan, seseorang harus memiliki kompetensi di perpustakaan yang dipimpin. Hal ini untuk lebih terarah dan melancarkan kinerja di perpustakaan. Dalam hal ini kompetensi untuk kepala perpustakaan sekolah diantaranya :

a. Kompetensi manajerial, diantaranya: memimpin tenaga perpustakaan sekolah, merencanakan program perpustakaan sekolah, melaksanakan program perpustakaan sekolah, memantau pelaksanaan program perpustakaan sekolah, mengevaluasi program perpustakaan sekolah.

b. Kompetensi pengelolaan informasi, diantaranya: mengembangkan koleksi perpustakaan sekolah, mengorganisasi informasi, memberikan jasa dan sumber informasi, menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.

c. Kompetensi kependidikan, diantaranya: memiliki wawasan kependidikan, mengembangkan keterampilan memanfaatkan informasi, mempromosikan informasi, memberikan bimbingan literasi informasi.

d. Kompetensi kepribadian, diantaranya: memiliki integritas yang tinggi, memiliki etos kerja yang tinggi.

e. Kompetensi sosial, diantaranya: membangun hubungan sosial, membangun komunikasi.

f. Kompetensi pengembangan profesi, diantaranya: mengembangkan ilmu, menghayati etika profesi, menunjukan kebiasaan pembaca.29 Dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepala perpustakaan sekolah/madrasah yang melalui jalur tenaga kependidikan harus memenuhi syarat berkualitas serendah-rendahnya diploma empat (D4) atau sarjana (S1), memiliki sertifikat kompetensi pengelolaan perpustakaan sekolah/madrasah dari lembaga yang ditetapkan pemerintah dan masa kerja maksimal 3 (tiga) tahun

29 Republik Indonesia, “Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 25 tahun 2008 tentang standar tenaga perpustakaan madrasah/sekolah”. Bab 1, pasal 2.

D. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang berkaitan dengan judul penelitian ini diambil dari Judul Skripsi.

1. Skripsi berjudul: Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Di Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam Swasta Di Jakarta yang disusun oleh Saiful Lathif dan telah diujikan pada tanggal 26 Februari 1996. Tujuan penelitian ini adalah: untuk memperoleh gambaran tentang jumlah, komposisi dan kualifikasi SDM di perpustakaan tersebut. Bekal pendidikan apa yang telah diperoleh staf dan pengetahuan atau keahlian apa yang dibutuhkan dalam rangka pelatihan dan pengembangan tersebut. Dukungan lembaga induk terhadap kegiatan pelatihan dan pengembangan serta minat staf perpustakaan untuk mengikuti program-program tersebut. Upaya yang dilakukan dalam rangka mensiasati permasalahan yang timbul sehubungan dengan masalah jumlah dan kualitas SDM perpustakaan. Tipe penelitian ini adalah penelitian deskritif dan metode yang digunakan adalah penelitian survai. Penelitian ini mengambil 4 sampel Perpustakaan Perguruan tinggi Islam Swasta di Jakarta yaitu Perpustakaan Universitas Islam As Syafi’iyah (UIA), Perpustakaan Universitas YARSI, Perpustakaan Institut Sains dan Teknologi Al Kamal (ISTA), dan IKIP Muhammadiyah Jakarta (IKIP MJ). Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 25 orang staf di perpustakaan. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa jumlah staf masih sangat kurang, masih jauh dari

jumlah yang ideal. Komposisi dua kualifikasi staf masih jauh dari yang diharapkan. Bekal pendidikan yang diperoleh staf masih bertumpu pada kurikulum yang berpusat pada kepustakawanan tradisional. Pelatihan dengan metode di tempat kerja belum dilakukan dengan perencanaan dan pelaksanaan yang baik. Pelatihan dilaksanakan tergantung kebutuhan yang mendesak. Pengetahuan/keahlian yang dibutuhkan adalah manajemen perpustakaan dan komputer/otomasi perpustakaan, serta jaringan perpustakaan. Aktifitas yang dianggap penting dalam rangka pengembangan diri adalah berkunjung ke perpustakaan lain, menghadiri seminar tentang kepustakawanan, mengikuti kursus singkat kepustakawanan, diskusi dengan rekan kerja dan konsultasi. Dukungan lembaga induk cukup besar dalam bentuk dana untuk mengikuti pelatihan dan seminar-seminar, dukungan dalam bentuk waktu libur sulit diberikan mengingat kurangnya tenaga di perpustakaan. upaya yang dilakukan kepala perpustakaan diantaranya adalah dengan memotivasi karyawan agar mencintai pekerjaan dan mau meningkatkan pengetahuan. Upaya yang dilakukan staf di antaranya mengikuti pendidikan diploma perpustakaan pada Universitas Terbuka. Skripsi ini diperoleh melalui kunjungan langsung ke Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia.

2. Skripsi kedua disusun oleh Mardiyani yang telah diujikan pada tanggal 20 Juli 2010 dengan judul skripsi Kebutuhan Pelatihan Untuk Meningkatkan Kinerja Pustakawan di PT Indonesia Air Transport

TBK. Tujuan penelitian ini: untuk mengetahui mengapa pelatihan dibutuhkan oleh pustakawan dan pelatihan apa saja yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerjanya serta untuk mengidentifikasi kebijakan perusahan dan upaya yang dilakukan pimpinan dan perusahan dalam rangka peningkatkan pelatihan yang berpengaruh terhadap kinerja pustakawan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menyarankan bahwa perlunya pendidikan formal khusus bagi pustakawan dalam memahami fungsi manual-manual pesawat, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pemustakanya dan meningkatkan kinerjanya dalam pengelolaan manajemen manual pesawat dalam memenuhi kebutuhan pemustakanya. Karena fungsi Technical Publication sebagai salah satu sub divisi yang mendukung dalam perawatan pesawat dan berpengaruh terhadap keselamatan pesawat terbang. Skripsi ini diperoleh melalui kunjungan langsung ke Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia.

3. Skripsi ketiga disusun oleh Inayatul Ramadita dengan judul Analisis Kualitas Layanan Perpustakaan SMA Bakti Idhata dengan Metode LibQual+TM Program studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tujuan dari Penelitian ini yaitu: untuk mengetahui persepsi dan harapan siswa terhadap kualitas layanan perpustakaan SMA Bakti Idhata dari aspek akses informasi (access to information). Untuk mengetahui persepsi dan harapan siswa terhadap kualitas layanan perpustakaan SMA Bakti

Idhata dilihat dari sikap petugas dalam melayani (affect to service)

untuk mengetahui persepsi dan harapan siswa terhadap kualitas layanan perpustakaan SMA Bakti Idhata dilihat dari kemudahan pencarian informasi secara individual (personal control). Untuk mengetahui persepsi dan harapan siswa terhadap kualitas layanan perpustakaan SMA Bakti Idhata dilihat dari perpustakaan sebagai sebuah tempat (library as place). Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, angket, dan wawancara. Populasi penelitian ini adalah siswa SMA Bakti Idhata, dengan teknik

accidental sampling diambil sampel 25% dari kelas 1 dan 2. Teknik pengumpulan data menggunakan metode LibQual yang mengukur

gap/kesenjangan antara persepsi dan harapan pengguna terhadap layanan perpustakaan. Hasil penelitian, kualitas layanan perpustakaan SMA Bakti Idhata dari aspek sikap petugas dalam melayani pengguna

(affect to service) dan kemudahan pencarian informasi secara individu (personal control) dinilai sudah cukup baik dalam harapan minimal dan harapan sesungguhnya atau pengguna telah puas dengan kedua layanan tersebut. Namun, dari kedua aspek masih terdapat penilaian negatif seperti tidak tersedianya komputer sebagai sarana temu kembali informasi dan kurangnya pemahaman serta wawasan yang cukup pada pustakawan mengenai perpustakaan, dilihat dari aspek akses terhadap informasi (access to information) dan perpustakaan sebagai sebuah tempat (library as place) dinilai sudah cukup

terpenuhi atau pengguna puas pada harapan minimal, walaupun pengguna belum puas dengan harapan sesungguhnya karena adanya beberapa factor yaitu terbatasnya dana, tidak tersedianya fasilitas yang memadai bagi pengguna dan kurangnya apresiasi pihak yayasan sekolah terhadap perpustakaan.

4. Jurnal yang berjudul An analysis of the acceptance’s staffs of madrasa library on “senayan” – based library automation system using technology acceptance model (TAM), yang ditulis oleh Ade Abdul Hak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keefektifan dari sebuah sistem automasi perpustakaan terbuka pada program perkembangan sumber daya manusia untuk perpustakaan madrasah. Program ini dilaksanakan oleh Menteri Agama Republik Indonesaia yang bekerja sama dengan UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Makassar. Pendekatan yang digunakan adalah TAM, model yang didasarkan pada pembangunan, pengetahuan pada kemampuan, pandangan pada penggunaan, sikap terhadap perilaku, perilaku intensi, dan penggunaan yang aktual. Hasil penelitian, menunjukkan bahwa mean skor untuk semua pembangunan adalah 3 (tinggi) dari skor maksimal yang diperoleh 4 (sangat tinggi), kecuali pada penggunaan yang actual tetap rendah (2,3). Tes analisis mengindikasikan terdapat efek positif dan signifikan untuk masing-masing pembangunan, kecuali pandangan pada kegunaan ke sikap terhadap perilaku dengan nilai efek 11,9%. Selain itu, yang paling sering terjadi dalam pandangan penggunaan ke sikap terhadap perilaku dengan nilai efek

64,3. Oleh karena itu, kemudahan menjadi lebih penting daripada kegunaan dalam pelatihan untuk staf perpustakaan madrasah. Selain itu, ketentuan dari komputer setelah pelatihan juga diambil pertimbangan, jadi staf dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuan mereka secepatnya.

Metode dan pendekatan yang digunakan oleh ketiga skrispi dan satu hasil penelitian tersebut berbeda, skripsi pertama menggunakan survai, skripsi kedua dengan indikator kualitatif, dan skripsi ketiga dengan kuantitatif. Sedangkan hasil penelitian yang penulis ambil sebagai penelitian terdahulu menggunakan pendekatan penelitian TAM dan dianalisis menggunakan SPss versi 2.2. Ketiga skripsi dan satu jurnal tersebut dilakukan ditempat yang berbeda, pada skripsi pertama, tempat penelitian adalah perguruan tinggi, skripsi yang kedua adalah perusahaan, dan skripsi yang ketiga adalah Sekolah Menengah Atas, dan jurnal untuk kalangan pustakawan madrasah/sekolah. Menurut penulis, tema dari ketiga skripsi dan satu jurnal itu relevan dengan penelitian yang sedang penulis lakukan, menggunakan metode kuesoner dan tempat penelitian dilakukan di perpustakaan sekolah.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan sesuatu hal seperti apa adanya.30 Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, analisis dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada.31

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Ini adalah salah satu model menemukan kebenaran konsep, hubungan konsep-konsep melalui wilayah-wilayah yang luas dengan populasi tanpa atau menggunakan sampling dalam jumlah besar. Pendekatan kuantitatif ini suatu pendekatan penelitian secara primer menggunakan paradigma postpositivist dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (seperti pemikiran tentang sebab akibat, reduksi kepada variabel, hipotesis, dan pertanyaan spesifik, menggunakan pengukuran dan observasi, serta pengujian teori), menggunakan strategi penelitian seperti eksperimen dan survei yang memerlukan data statistik.32

30

Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian, (Jakarta : STIA-LAN Press, 1999), hal. 60.

31

Mardalis, Metode Penelitian (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hal. 26.

32

Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan : Kualitatif dan Kuantitatif, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 28.

B. Sumber Data 1. Data Primer

Data Primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh orang yang berkepentingan atau yang memakai data tersebut.33 Dalam penelitian ini, data primer ini bersumber dari responden langsung yang ditemui di lapangan (lokasi penelitian) dengan menyebarkan kuisioner kepada peserta pendidikan dan pelatihan program peningkatan kompetensi kepala perpustakaan madrasah.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung dari sumbernya. Data sekunder biasanya diambil dari dokumen-dokumen (laporan, karya tulis orang lain, koran, majalah) atau, seseorang mendapat informasi dari “orang lain”.34

Dalam penelitian ini, data sekunder berasal dari kepustakaan, yakni terdiri dari buku-buku, literatur-literatur, artikel dan dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan unit pengamatan atau tentang informasi yang diinginkan.35 Kasus-kasus tersebut dapat berupa orang, barang, binatang, hal atau peristiwa. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta diklat program sertifikasi calon kepala perpustakaan madrasah 2014, yang

33

Boediono, Teori Dan Aplikasi Statistika Dan Probabilitas (Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 2008). Cet. 4, hal. 7.

34

Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian, (Jakarta : STIA-LAN Press, 1999), hal. 86.

35

berada diwilayah Tangerang Selatan, dengan jumlah peserta 25 peserta dari jumlah keseluruhan peserta 142 orang.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.36 Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel (teknik sampling) Nonprobability sampling dengan sampling jenuh

.

Penulis menggunakan teknik sampling ini karena jumlah populasi sebanyak 25 orang. Sampling jenuh ialah teknik pengambilan sampel yang menggunakan seluruh populasi berjumlah relative kecil, misalnya berjumlah kurang dari 30. Istilah lain dari penarikan contoh jenuh adalah sensus; misalnya sensus penduduk desa, maka seluruh penduduk desa dijadikan sampel.37

Dalam penelitian ini, melihat jumlah populasi sebanyak 25 orang, maka semua anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Oleh karena itu, sampel yang diambil untuk penelitian ini sebanyak 25 orang.

D. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan penulis untuk mendapatkan informasi atau data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, yaitu:

36

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal. 174

37

1. Studi Pustaka (Library Research), dalam studi pustaka ini penulis melakukan dengan mempelajari buku-buku, dokumentasi dan artikel yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.

2. Penelitian Lapangan (Field Research), penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data secara langsung kelapangan melalui :

a. Observasi (Pengamatan)

Observasi yaitu pengamatan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian secara langsung ke lapangan kerja pelayanan perpustakaan.

b. Kuesioner atau Angket

Kuisioner atau angket adalah teknik pengumpulan data melalui formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada responden.

E. Teknik Pengolahan Data 1. Editing Data

Editing data merupakan kegiatan persiapan data sebelum dianalisis. Proses yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah meyakinkan agar data atau kuesioner yang telah diisi responden tidak mengandung kesalahan atau cacat.

2. Tabulasi Data

Tabulasi data adalah penyajian data dalam bentuk tabel atau daftar untuk memudahkan pengamatan dan evaluasi.38

38“Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online”, diakses pada 12 Januari 2016 dari

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data dan penyajian data dengan mengelompokkannya dalam suatu bentuk yang mudah dibaca dan interpretasi. Apabila data berguna untuk mereduksikan data menjadi wujud yang dapat dipahami dan ditafsir dengan cara tertentu hingga relasi masalah penelitian dapat ditelaah serta diuji.39

Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskrptif persentase. Deskriptif persentase diolah dengan menggunakan cara frekuensi dibagi dengan jumlah responden dikali 100 persen. Rumusnya adalah sebagai berikut:

P x 100% Keterangan:

P = Angka persentase untuk setiap kategori F = Frekuensi jawaban responden

N = Jumlah responden40

Sedangkan dalam menganalisis data kuesioner yang telah disebarkan kepada responden, penulis akan memberi bobot penilaian terhadap pertanyaan-pertanyaan yang disediakan. Dalam pemberian bobot penilaian penulis menggunakan metode skala likert. Skala likert digunakan untuk

39

Uber Silalahi, Metode Penelitian Sosial (Bandung: PT. Refika Aditama, 2009). Hal. 332.

40

mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomenal sosial.41

Jawaban dari setiap item instrument yang menggunakan sakala likert mempunyai jawaban dari sangat positif sampai dengan negative, yaitu sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju. Namun untuk menghindari responden memilih ragu-ragu, maka penulis hanya menggunakan 4 penilaian untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi. Untuk masing-masing penilaian tersebut, antara lain:

i. Sangat Setuju (SS) diberi nilai 4 ii. Setuju (S) diberi nilai 3

iii. Tidak Setuju (TS) diberi nilai 2

iv. Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 1

Langkah selanjutnya, dari setiap pertanyaan yang terdapat bobot penilaian dikalian dengan frekuensi jawaban dari responden, setelah mendapatkan nilai atau skor dilakukan penjumlahan total nilai atau skor yang diperoleh. Lalu hasil total nilai atau skor dibagi dengan jumlah kuesioner yang disebarkan untuk mendapatkan nilai skor rata-rata. Rumus dari nilai skor rata-rata sebagai berikut:

Keterangan:

(x bar atau x garis) = rata-rata x Ʃx = Jumlah seluruh nilai x

41

n = Jumlah seluruh nilai n42

Setelah mengetahui skor rata-rata dari tiap pernyataan , maka tahap berikutnya adalah menafsirkan skor rata. Untuk menafsirkan skor rata-rata, penulis menggunakan perhitungan skor skala interval. Untuk menentukan skala interval, yaitu dengan cara membagi selisih antara skor tertinggi dengan skor terendah. Rumus skala interval yaitu:

Skala Interval = a(m-n) : b} Keterangan :

a = Jumlah atribut m = Skor tertinggi n = Skor terendah

b = Jumlah penilaian yang ingin dibentuk atau diterapkan43

Jika skala penilaian yang ingin dibentuk berjumlah empat, dimana skor terendah adalah satu dan skor tertinggi adalah empat, maka dapat dihitung {1 (4-1) : 4 = 0,75. Jadi jarak antara setiap titik adalah 0,75 sehingga diperoleh kriteria penilaian sebagai berikut:44

Sangat baik 3,28 – 4,03 Baik 2,52 – 3,27 Tidak baik 1,76 – 2,51 Sangat tidak baik 1,00 – 1,75

42

Husaini Usman dan PurnomoSetiady Akbar, Pengantar Statistika (Jakarta: Bumi Aksara, 2088), hal. 89

43

Bilson Simamora, Panduan Riset Perilaku Konsumen, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001), hal. 202

44

G. Jadwal Penelitian

Tabel 1 Jadwal Penelitian

No Kegiatan Waktu

Feb Mar April Mei Juni Juli Agu Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar

1 Penyusunan Proposal 2 Pengajuan Proposal 3 Bimbingan Skripsi 4 Penelitian 5 Penyusunan Skripsi 6 Pengajuan Sidang 7 Sidang Skripsi

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Objek Penelitian 1. Latar Belakang Pelatihan

Kegiatan memajukan pendidikan di Indonesia telah dilakukan antara lain melalui peningkatan pendidikan yang diwujudkan dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pasal 1 menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta aktif mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat, bangsa dan negara.

Atas dasar alasan inilah tidak dapat dipungkiri bahwa manusia mutlak membutuhkan pendidikan, pendidikan berperan membantu manusia memahami makna di balik perubahan serta membantu manusia mengerti makna yang terkandung dalam nilai-nilai baru serta mampu merespon perubahan sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru, dengan demikian, masyarakat pendidikan menganggap bahwa tidak ada kehidupan tanpa pendidikan.

Pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik apabila guru dan siswa tidak didukung dengan perpustakaan yang memadai. perpustakaan adalah salah satu sarana pendidikan yang strategis yang akan ikut menentukan mutu hasil pendidikan. Perpustakaan merupakan pusat

sumber belajar sebagai prasyarat dari proses pembelajaran di madrasah. Selain itu, penerapan kurikulum berbasis kompetensi pengalaman belajar dan pembelajaran mandiri.

Sejalan dengan keinginan untuk mewujudkan sebuah perpustakaan madrasah sebagaimana disebutkan di atas, tentu harus ada kerjasama dan sinergi, termasuk apresiasi terhadap perpustakaan di antara pemerintah, komite madrasah, kepala madrasah, guru, dan pustakawan atau para pengelola perpustakaan. Sebagai bentu kepedulian pemerintah dalam pengembangan perpustakaan madrasah ini, saat ini telah terbit Standar Nasional Perpustakaan (SNP 007: 20011) tentang standar perpustakaan sekolah/madrasah mulai dari tingkat ibtidaiyah sampai alliyah yang meliputi standar koleksi, sarana prasarana, layanan, tenaga, penyelenggaraan, pengelolaan, pengorganisasian, bahan perpustakaan, anggaran, perawatan, kerjasama, dan integrasi dengan kurikulum. Standar ini berlaku pada perpustakaan sekolah/madrasah baik negeri maupun swasta.

Pada Peraturan Kementrian Pendidikan Nasional No 25 Tahun 2008 Pasal 2 menjelaskan secara tegas bahwa penyelenggara sekolah/madrasah wajib menerapkan standar tenaga perpustakaan sekolah/madrasah sebagaimana diatur dalam peraturan menteri ditetapkan, yaitu pada tanggal 2 Juni 2008.

Seiring dengan pentingnya keberadaan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran bagi para siswa dan guru di sebuah lembaga pendidikan, maka dipandang perlu sebuah lembaga untuk melaksanakan koordinasi

dan bertanggung jawab atas pengembangan kompetensi tenaga perpustakaan sekolah/madrasah. Dalam hal ini Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Madrasah Kemenag Republik Indonesia menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Tenaga Perpustakaan Madrasah.

2. Dasar Hukum Pelatihan

1) Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.

2) Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

3) Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, pasal 23 ayat 1: Setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan standar nasional pendidikan.

4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 42, ayat 2: Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan, ruang pendidikan, ruang tata usaha, dan ruang perpustakaan, atau tempat lain yang diperlukan untuk menunjang

Dokumen terkait