• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ada empat macam metode penyampaian lisan seperti pidato yang perlu diketahui, yaitu:

Maksud dan tujuan pembicaraan, kesempatan, atau pendengar atau pemirsa, ataupun waktu untuk persiapan dapat menentukan metode penyajian, atau sang pembicara sendiri dapat menentukan yang terbaik dari empat metode yang mungkin dipilih yaitu:

a). Penyampaian secara mendadak ( impromptu delivery)

Metode impromptu adalah metode penyampaian berdasarkan kebutuhan tahuaan dan kemahirannya. sesaat. Tidak ada persiapan sama sekali, pembicara secara serta merta berbicara berdasarkan pengetahuan dan kemahirannya. Kesanggupan dan kemampuannya menyampaikan lisan seperti pidato menurut metode ini sangat berguna dalam keadaan terdesak atau terpaksa.41 Kesanggupan dan kemampuan penyampaian lisan seperti pidato menurut metode ini sangat berguna dalam keadaan terdesak atau terpaksa, namun kegunaannya terbatas pada waktu yang tidak terduga itu saja. Pembicara menyampaikan pengetahuannya yang ada, dikaitkan dengan situasi dan kepentingan saat itu.42

b). Penyampaian tanpa persiapan (extemporaneous delivery)

Metode ekstemporan adalah metode berpidato dengan cara pembicara menuliskan pokok-pokok pikiran yang akan disampaikan.43 Uraian yang akan dibawakan dengan metode ini direncanakan dengan cermat dan dibuat catatan-catatan yang penting, yang sekaligus menjadi urutan bagi uraian itu. Kadang-kadang dipersiapkan konsep berupa naskah, namun tidak dihafal kata demi kata. Dalam penyampaian lisan seperti pidato, pembicara dengan bebas berbicara dan bebas pula memilih kata-katanya sendiri. Catatan dan konsep naskah yang dipersiapkannya hanya digunakan untuk mengingat urut-urutan topik pembicaraannya. Dengan metode ini pembicara dapat

41

Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 67. 42

Midar G Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara…, hlm. 65. 43

mengubah nada pembicaraannya sesuai dengan reaksi yang timbul pada para pendengar sementara pembicaraan berlangsung.44

c). Penyampaian dari naskah (delivery from manuscript)

Metode naskah adalah metode naskah yang benar-benar dipersiapkan dengan cermat. Pembicara menyusun naskah terlebih dahulu sebelum pidato.45 Pidato ini biasanya digunakan untuk acara-acara resmi.

pidato televisi dan radio. Metode ini sifatnya agak kaku, sebab bila tidak atau kurang melakukan latihan yang cukup, terjadi seolah-olah tidak ada hubungan antara pembicara dengan pendengar. Mata dan perhatian pembicara selalu ditujukan ke naskah, sehingga ia tidak bebas menatap pendengarnya. Pembicara harus dapat memberi tekanan dan variasi suara untuk menghidupkan pembicaraannya. Untuk itu pembicara perlu melakukan latihan yang intensif.46

d). Penyampaian dari ingatan (delivery from memory)

Metode ini merupakan kebalikan dari metode inpromtu. Pidato ini disampaikan dengan metode ini dipersiapkan dan ditulis secara lengkap lebih dahulu.47 Metode ini memerlukan konsentrasi yang kuat dalam penyampaiannya dari seorang pembicara kemudian dihafal kata demi kata. Ada pembicara yang berhasil dengan metode ini, namun ada juga yang tidak. Pembicara dengan menggunakan metode ini sering menjemukan dan tidak menarik, ada kecenderungan untuk berbicara cepat-cepat dan mengeluarkan kata-kata tanpa menghayati maknanya. Selain itu metode ini juga sering menyulitkan pembicara untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan reaksi-reaksi pendengar keti ka menyampaikan uraiannya.48

Cara manapun yang dipilih dalam berbicara dalam penyampaiannya, yang terpenting adalah bahwa usaha kita berhasil: komunikasi berjalan lancar. Oleh karena itu ada baiknya bila kita mengetahui pula bagaimana caranya mengevaluasi keterampilan berbicara diantaranya:

44

Midar G arsad mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara…, hlm. 66. 45

Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 68. 46

Midar G Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara…, hlm. 65. 47

. Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 67-68. 48

(1). Apakah bunyi-bunyi tersendiri (vokal, konsonan) diucapkan dengan tepat?

(2). Apakah pola pola intonasi, naik dan turunnya suara dan tekanan suku kata, memuaskan?

(3). Apakah ketetapan dan ketepatan ucapan mencerminkan bahwa sang pembicara tanpa referensi intrernal memahami makna yang dipergunakannnya?

(4). Apakah kata kata yang diucapkan itu dalam bentuk dan urutan yang tepat?

(5). Sejauh manakah” kewajaran yang tercermin bila seseorang berbicara? (Brook, 1964:252).49

Mengevaluasi keterampilan berbicara juga dapat dilakukan secara berbeda-beda pada setiap jenjangnya. Misalnya pada sekolah dasar, kemampuan menceritakan, berpidato, dan lain-lain dapat dijadikan dalam bentuk evaluasi. Seseorang dianggap memiliki kemampuan berbicara selama ia mampu berkomunikasi dengan lawan bicaranya.50

Dalam pengajaraan berbahasa Indonesia yaitu dalam keterampilan berbicara memiliki berbagai hal dalam menilai, baik dari pelafalan anak itu sendiri secara individual maupun secara berkemampuan yang telah diklasifikasikan dan telah ditentukan dalam pembelajarannya.

4). Strategi pengajaran keterampilan berbicara

Dalam strategi pengajaran Keterampilan berbicara memilki teknik atau pariasi dalam pembelajarannya yang bermacam-macam di antaranya dalam keterampilan:

a). Berbicara terpimpin, yaitu: frase dan kalimat, satuan paragraf, dan dialog.

b). Berbicara semi-terpimpin, yaitu: reproduksi cerita, cerita berantai( pengalaman diri, pengalaman hidup, pengalaman membaca, menyusun kalimat dalam pembicaraan, dan menyampaikan isi bacaan secara lisan.

49

Henry Guntur Tarigan, Berbicara Sebagai…, hlm. 24 – 26. 50

c). Berbicara bebas, yaitu: diskusi, drama, wawancara, berpidato, bermain peran(dalam drama)51

Selain strategi dalam berbicara juga memilki teknik, yang dimaksudkan di sini adalah cara-cara yang digunakan di dalam berbicara, meliputi:

1) Kemampuan menggunakan bahasa lisan dengan baik. Dalam hal ini seorang pembicara hendaknya memiliki kemampuan tata bahasa yang baik, Artikulasi yang jelas dan tidak cadel, intonasi yang menarik (tidak monoton), aksen yang tepat, dan tidak terlalu banyak menggunakan istilah yang tidak perlu.

2) Ekspresi (air muka) yang menarik, misalnya: tidak cemberut, tidak pucat, tidak merah, dan sebagainya. Ekspresi dalam berbicara sangat penting untuk memikat minat dengar atau rasa ingin tahu dari pendengar.

3) Stressing (redance), yaitu kemampuan seorang pembicara untuk memberikan penekanan pada masalah-masalah inti atau penting didalam pembicaraannya, misalnya dengan pengulangan-pengulangan yang seperlunya, atau dengan penekanan-penekanan tertentu dalam nada pembicaraan.

4) Kemampuan memberikan refreshing (penyegaran) dengan menyelipkan intermezo, yaitu dengan menyelingi pembicaraan dengan hal-hal lain yang berhubungan yang mengandung kelucuan, baik itu pengalaman sendiri atau sebuah anekdot, dengan tidak mengurangi nilai pembicaraan. Hal ini dimaksudkan agar pendengar tidak terlalu stress yang bisa menimbulkan kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti pembicaraan kita.

5) Kepribadian (personality). Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah disamping daya pesona atau kharismatik seseorang, juga meliputi nilai-nilai pribadi seorang pembicara, diantaranya: jujur, cerdik, berani,

51

bijaksana, berpandangan baik, percaya diri, tegas, tahu diri, tenang dan tenggang rasa.52

e. Ceramah

Ceramah adalah suatu cara keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan atau masalah secara lisan. Seperti halnya dalam pidato, dalam ceramah pun keterampilan alat utama dalam keterampilan berbicara.53.

Ceramah juga dapat diartikan bahwa pidato dihadapan para pendengar, mengenai suatu hal, pengetahuan, dan sebagainya. Piadat dan ceramah merupakan suatu sarana komunikasi yang berpungsi menyampaikan suatu informasi secara langsung, tetapi antar pidato dan ceramah memiliki beberapa perbedaan, yaitu pidato disampaikan untuk suatu tujuan yang penting sedangkan pada ceramah disampaikan sebagai pengajaran.54. Dalam ceramah memiliki beberapa ciri khas, yaitu:

1). Ada sesuatu yang dijelaskan atau diinformasikan untuk memperluas pengetahuan para pendengar, biasanya disampaikan kepada orang yang memiliki keahlian atau dianggap ahli dalam bidang atau disiplin ilmu tertentu.

2). Terdapat komunikasi dua arah antara pembicara dan pendengar, yaitu berupa dialog, tanya jawab, diskusi, dan sebaginya.

3). Dapat digunakan alat bantu untuk memperjelas uraian, seperti over head projector (OHP), Lembar peragaan, gambar, dan sebagainya.55

Ada respon dari pendengar mengenai materi yang disampaikan dalam ceramah. Selain memiliki ciri khas dalam ceramah, ceramah atau metode ceramah juga memiliki keunggulan.

52

Jumardas, “Kepribadian”, dari http://jurnardas.blogspot.com/2004/04/kepribadian.html, diakses pukul 15.32, 22 November 2010.

53

Midar G. Arsad Mukti, Pembinaan Kemampuan Berbicara…, hlm. 67. 54

Siti Sahara, dkk,, Keterampilan Berbahasa …, hlm. 63. 55

Dokumen terkait